Saat Disunat

Salah satu fase yang harus dilalui semua laki-laki adalah sunat. Bisa dibilang jika belum sunat maka belum menjadi laki-laki sejati. Katanya habis sunat, maka titit seseorang laki-laki akan mulai membesar, yang gak pernah kutahu apa hubungannya sama kulit yang dipotong.

Akhirnya perintah untuk sunat datang kepadaku, tepatnya ketika aku masih kelas 3 SD. Saat itu abangku, Bang Akbar, dan abang sepupuku, Bang Yardhi, akan disunat bareng. Biar sekalian, aku juga disuruh sunat. Aku gak tahu kenapa aku harus sekalian. Mungkin ada paket kali ya, dua sunat bonus satu.

Waktunya pun ditetapkan, yaitu saat kami libur semester. Dokternya adalah saudara kami sendiri supaya lebih murah (emang gak mau rugi banget). Tempatnya di rumah nenek kami.

Hari-hari menjelang sunat itu horror banget. Aku takut banget mengetahui bahwa tititku tersayang ini akan dipotong. Kesannya sadis banget. Aku yang masih polos banget itu juga takut kalau dalam sunat akan terjadi pertumpahan darah yang mengerikan kayak di film-film perang.

Satu per satu orang mencoba menenangkanku. Kebanyakan dari mereka bilang kalau sunat itu gak sakit, kayak digigit semut doang. Aku pernah digigit semut hitam yang gede di jariku, dan itu sakit banget, gimana lagi di titit. Malah suatu hari ada yang bilang kalau sunat itu kayak digigit semut, tapi sekarung. Maka makin stress lah aku.

Sehari sebelum sunat, aku sambil mandi mengucapkan salam perpisahan pada tititku, seakan-akan sunat adalah memotong titit seluruhnya. Aku masih sangat takut.

Di hari H, keadaan makin horror. Waktu dokternya datang, kami bertiga langsung lari sembunyi di kamar mandi.

Ibuku datang untuk menanyakan siapa yang mau disunat duluan. Sontak kami langsung saling menunjuk. Kami malah sempat berantem karena gak ada yang mau ngalah. Maka ibuku dengan tegas memilih salah satu dari kami, yaitu Bang Akbar. Abangku ini, yang masih kelas 4 sd, berontak sambil nangis. Dia dibawa ke kamar tempat eksekusi (serem banget ya).

Aku mendengar dari luar. Abangku nangis-nangis teriak keras banget di dalam. Bahkan beberapa orang tua masuk untuk menahannya agar tidak terlalu goyang. Gile lah, aku yang ngeliatnya langsung berpikir, aku belum mau mati!

Aku langsung masuk ke kamar, sembunyi di bawah selimut.

Tangisan di kamar eksekusi berhenti. Nyawaku terancam lagi.

Ibuku masuk ke kamar, dan hanya aku satu-satunya yang tersisa untuk disunat di kamar itu. Bang Yardhi entah lari kemana.

"Ayo Nak, bentar aja kok," kata ibuku coba membujukku.

"GAK MAU! GAK MAU!!" Aku nangis-nangis di pojokan kamar. Suasananya aku kayak seseorang yang akan dibunuh.

Akhirnya dengan sedikit paksaan aku diseret masuk ke kamar. Disana udah ada dua dokter menunggu. Aku disuruh melepas celana dan memakai sarung, lalu disuruh berbaring di tempat tidur. Ibuku juga ada disana buat jaga-jaga kalau tiba-tiba aku berontak. Mataku pun ditutup pake kain, persis kayak kurban mau disembelih.

Aku merasakan sarungku dinaikkan ke atas, dan tiba-tiba aku merasakan sakit yang amat sangat di tititku. Itu saat aku disuntik. Jelas aja aku langsung teriak.

"AAHH SAKIT SAKIT!!"

Ibuku menahan badanku agar tak terlalu goyang, lalu kayaknya tititku disuntik lagi beberapa kali. Setelah itu gak tau apa lagi terjadi. Gak ada sakit lagi, walaupun aku masih nangis ketakutan. Aku coba ngintip apa yang terjadi dengan tititku. Waktu kulihat, tititku lagi berdarah karena habis dipotong. Tapi karena pengaruh obat bius, aku gak merasakan sakit.

"MA, ITU DARAH KAN? DARAH!!"

Maka aku nangis lagi. Heboh lah, padahal gak sakit lagi. Setelah 15 menit penuh dengan tangisan dan teriakan, sunat itu pun selesai. Aku resmi jadi laki-laki sejati, walaupun masih 3 sd.

Hari-hari selanjutnya aktifitasku hanyalah di tempat tidur sambil memakai sarung. Katanya jangan terlalu banyak gerak agar jahitannya gak lepas. Kukira itu hanya gurauan, ternyata bener aja. Waktu itu pernah Bang Akbar jalan-jalan keluar karena bosan. Dan gak lama kemudian, ada darah netes-netes ke lantai. Hiii serem.

Selama masa penyembuhan juga, aku sedikit merasakan jadi cewek. Maksudnya adalah aku kencing harus jongkok supaya perbannya gak kena-kena. Dan aku juga gak mandi sekitar seminggu pertama penyembuhan. Kebiasaan males mandi ini terus terbawa sampai kuliah sekarang.

Enaknya adalah, minta apa aja biasanya dikabulin. Mau buku? Tinggal minta aja, langsung dibeliin. Mau makan? Tinggal minta aja, langsung dibuatin. Mau kawin? Tinggal minta aja, langsung dijodohin (eh?)

Tapi sakit ini belum berakhir. Masih ada tahap melepas perban yang berarti perban yang nempel kuat di titit itu harus dilepas. Dan itu sakit euy. Aku malah basahin pakai air supaya enak lepasnya walaupun agak lama. Proses melepaskan perban itu aja menghabiskan waktu sehari.

Setelah itu aku bisa pamer sama teman-temanku karena duluan sunat. Tingkat kekerenanku naik satu level. Sekaran aku pun masih bisa pamer sama saudara-saudaraku karena di keluarga besarku akulah yang paling muda saat disunat. Adikku yang sekarang SMA dulu disunat saat kelas 5. Adikku yang paling kecil malah belum sunat padahal udah mau kelas 6. Tiap disuruh ibuku supaya bujuk adikku itu agar mau sunat, biasanya aku cuek aja dan bilang, "Ah, entar juga putus sendiri."

"Emangnya ekor cicak!!" kata ibuku sewot.

Begitulah, fase menyeramkan itu telah lewat. Dan oh ya, tititku emang tambah besar (promosi).

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shelly Fw
Shelly Fw at Saat Disunat (1 year 41 weeks ago)

Astaga =O

Writer littleuniquefroggy
littleuniquefroggy at Saat Disunat (1 year 41 weeks ago)
80

ya ampun -__- kalimat terakhirnya itu loh -_-

Writer sungaimeriam
sungaimeriam at Saat Disunat (2 years 8 weeks ago)
100

Hahahahaha jdi ingat msa lalu

Writer diorisnotgucci
diorisnotgucci at Saat Disunat (2 years 8 weeks ago)
80

LOL! Punchline-nya nonjok abes.

Writer Fuyuko Fukumitsu
Fuyuko Fukumitsu at Saat Disunat (2 years 9 weeks ago)
90

hahaha ternyata serem jadi cowok , brrr --
sunat oh sunat
wkakakk

Writer dansou
dansou at Saat Disunat (2 years 10 weeks ago)
100

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHH!!! Saya masih bisa merasakan rasa sakit itu setiap kali bayanginnya

Writer kemalbarca
kemalbarca at Saat Disunat (2 years 8 weeks ago)

aku mengerti perasaanmu nak

Writer zenocta
zenocta at Saat Disunat (2 years 10 weeks ago)
70

qkqkqkqk... promosinya bikin ngakak...

Writer SR_2127
SR_2127 at Saat Disunat (2 years 10 weeks ago)
100

wahahaha... jadi ketawa abis baca ini...
Adek aku juga belum disunat, apa nanti dia bakal nangis juga ya?

Writer AwankoLosta
AwankoLosta at Saat Disunat (2 years 10 weeks ago)

wkwkwkwkwkwkwk.... epic... ^^

kenapa promosi? yang komen pertama cewek pula... :lol:

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at Saat Disunat (2 years 10 weeks ago)

aa... saya juga ga tauu~ >.<

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at Saat Disunat (2 years 10 weeks ago)

kalimatnya terakhirnya bikin shock.. (_'_)