Ini Tentang Rasa

"Jakarta. Mungkin dari sebagian banyak orang akan setuju denganku.

Adalah kota dengan sejuta cerita. Bisa jadi malah lebih".

 

Sebelumnya saya minta ma'af jika sok-sok'an bicara tentang Jakarta. Menuliskan sebuah cerita berlatar belakang ibukota negeri ini. Kalau boleh dibilang sih, sebenarnya saya tak begitu lama tinggal di kota Jakarta. Pertengahan tahun 2002 usai piala Dunia di Korea-Jepang. Kembali ke kampung halaman tahun 2004 setelah perhelatan akbar Uero di Portugal usai. Praktis hanya berkisar dua tahun. Seumuran jagung boleh dibilang.

 

Dan yang paling menggelikan adalah cerita dimana saya tak pernah mencicipi tempat rekreasi yang ada di kota itu. Gimana sih bentuknya Taman mini, Ancol, Dufan, bagi saya hal yang paling menarik saat itu adalah tuntutan untuk terus bekerja. Maklumlah man, "saya cuma pekerja proyek, tanpa lembur gak ada duit lebih buat tambahan jajan, syukur-syukur kalau sedikit mujur bisa beli baju dan celana jean's baru". Pikir saya waktu itu. Jadi soal menghabiskan uang buat keperluan rekreasi adalah termasuk dalam kategori nomor 127 sekian. Entah menurut orang lain ini tepat atau enggak saya juga tak tahu. Bukankah setiap keputusan itu juga bersifat relatif man?

 

Datang ke Jakarta hanya dengan modal nekad. Seorang lulusan SMA dari kota kecil Madiun. Melakukan urbanisasi ke kota yang sepuluh kali lebih besar dari kampung halamannya. Tanpa bekal keterampilan, pengetahuan dan penguasaan ilmu teknologi yang memadai. Apa yang terjadi?

 

Ahh.. inikah Jakarta, inikah kemujuran saya. Seminggu bukan waktu yang terlalu lama untuk mengubah status saya jadi seorang pekerja. PT Jaya Marta Sentosa yang disingkat JMS. Perusahaan kontraktor yang bergerak di bidang elektrik dan mekanik membuka pintunya untuk saya. "Terimakasih Tuhan, do'a ku telah Engkau beri jawaban", gumamku lirih selepas sholat Dhuhur. Atas jasa pak Lek, paman, atau bahasa kerennya Om saya. Pada waktu itu dia menjadi salah satu security di Wisma Mulia. Gedung dengan 54 lantai terletak di jalan Gatot Subroto Jakarta Selatan. JMS mendapatkan tender atas pengerjaan sarana elektrik dan mekanik gedung tersebut. Secara otomatis butuh tenaga. Kebetulan Paklek saya kenal dengan kepala gudangnya, namanya Pak Edi. Orang Solo matanya sipit, maklum keturunan Tionghoa. Lumayan loyal pada rekan kerja terutama dengan rekan kerja yang posisinya berada di bawahnya. Termasuk saya. Tapi bicaranya kadang juga nyentil di telinga. Istilah nya Lambe Jenang* Bila tak cocok dengan apa yang pekerja lain lakukan.

 

(*)Sebuah julukan untuk orang yang paling sering membuka atau membicarakan aib orang lain.

 

Suatu kejadian pernah bikin saya sedikit sakit hati sih, "Yu nek awakmu gak gelem lembur awas tak omongne Paklek mu pak Ridwan lho, golek kerjo kuwi angel le, ojo gae aturan dewe" (Yu kalo gak mau lembur awas gue bilangin Om lu pak Ridwan, cari kerja itu susah, jangan bikin aturan sendiri lu). "Anjrit pake bawa-bawa nama Paklek gue. Lembur gak lembur kan hak setiap pekerja, toh kalo gak lembur kan juga gak dapet gaji tambahan? Gitu aja kok ribet". Begitu pikir saya saat itu. Hanya dalam hati saya mengumpatnya. Sebab bakalan panjang urusan kalu sampai saya nekad melafalkannya dengan suara yang nyaring. Apa jadinya jika persediaan uang saya habis, sisa gaji saya minggu ini habis. Dia lah yang punya hak kepada siapa saja memberikan kas bon untuk pekerja. Kalau dia marah. Gimana saya dapat sarana mudah pinjam uang dari kantor. Dan yang lebih membuat Pak Edi punya wewenang untuk memberikan kas bon. Sebab setiap hari sabtu dia lah yang membagi gaji pada kami.

 

Namun suatu ketika saya mendapatkan pelajaran berarti dalam dunia kerja. Omongan. Sentilan Edi ternyata ada benarnya. Ketika itu malam sekitar pukul 20.00 WIB saya duduk bersandar dinding menikmati kopi dalam wadah gelas plastik sisa air kemasan yang barusan saya habiskan. Antok salah seorang supervisor kami datang mendekati saya. Dia merupakan keponakan jauh dari pemilik JMS, Bapak Sardomo. Karena dia orang Solo maka kami pun biasa berdialog pakai bahasa Jawa. Seperti biasa masih dalam dialek Jawa nya yang beraksen halus itu, dia mulai mengungkapkan maksudnya menemui saya. Dia bilang, berpesan tanpa ada unsur menggurui. Lebih tepatnya saling berbagi tentang pengetahuan di bidang kerja. Intinya bahwa. Kerja secara regu atau kelompok adalah kebersamaan. Tidak lurus mengarah pada bagaimana kita bisa mendapatkan gaji yang banyak dan besar. Ini sangat berhubungan dengan saya yang sangat males untuk lembur sampai jam sepuluh malem. Kata dia. "Bukan masalah lembur itu ada tambahan dan nggak lembur itu nggak ada tambahan gaji. Ini menyangkut soal kebersamaan dalam bekerja. Tim itu harus kompak yu, lihat temen-temen kamu yang lembur. Coba kamu lihat semangat mereka. Bukan apa-apa sih, tujuan manusia untuk saling bekerja sama itu tak lain agar saling meringankan. Misal begini, ketika salah seorang kepala regu kehabisan ide dalam memecahkan masalah pekerjaan. Bukan tidak mungkin anak buah punya cara lain yang lebih bisa untuk mengatasi masalah itu. Dan itulah kenapa kita menganjurkan agar setiap perkerja bersedia bila diminta untuk lembur. Tujuannya agar kerja itu jadi lebih ringan. Kemarin-kemarin pas kamu sering tidak ikut lembur. Apakah kamu juga membayangkan bagaimana sebuah tim jika kehilangan satu anggotanya? Apakah tambah ringan atau tambah berat dalam bekerja?" Saya cuma diam saat Antok memaparkan penjelasan yang begitu panjang itu. Dan mulai berpikir jernih lalu terbukalah matahati saya, "bahwa dalam kondisi apapun kita selalu butuh rekan, teman, untuk saling berbagi dan bertukar ide untuk menyelesaikan masalah". Berarti selama ini saya, "tidak menghargai kerja keras temen-temen saya", sesaat setelah Antok meninggalkan saya. Mungkin dia tahu, bahwa saat itu saya butuh waktu untuk berpikir.

 

Saya beruntung punya banyak teman, dari Solo, Mojokerto, ada dari Lampung serta Medan. Dari Padeglang, Subang, Indramayu, Bandung Pati, dan yang paling jauh dari Kendari. Sekian banyak teman saya yang sampai sekarang masih saling kontak lewat HP adalah Wahid dari Solo. Serta jumadi asli kelahiran Pati.

 

Paling menyedot perhatian saya adalah teman-teman dari Lampung. Ada enam orang sebenarnya. Namun satu-persatu dari mereka dengan terpaksa pergi dan pulang kampung. Fendi karena sakit pada tenggorokan yang tak kunjung sembuh akhirnya memilih untuk meninggalkan kota Jakarta. Mungkin dia tak terbiasa dengan kondisi kota yang pola hidup masyarakatnya begitu ketat. Fendi stress mungkin.  Basori juga gitu. Bukan karena sakit, dia tak betah tinggal di Jakarta. Kata dia, "tak semudah dibayangkan hidup di kota ini". Ada lagi si Gepeng pemuda kerempeng yang sebelum berangkat ke Jakarta merupakan buruh perkebunan sawit ini malah lumayan kurangajar. Sebab dia pergi adalah karena tak mampu lagi membayar utang di warung. Salah sendiri habis terima gaji langsung bertarung judi kartu. Dua malam di bedeng. Akibatnya seperti itulah, warungnya Mamang jadi kena imbasnya. "Di ikhlasin ajalah Mang, bukan rejeki", kata saya waktu itu pada pemilik warung. Buka warung di kawasan bedeng proyek, memang butuh modal sepuluh kali lipat agar mampu bertahan. Di tengah terpaan angin yang lebih kenceng dari peuting beliung, yaitu utang para pekerja proyek. Gimana lagi, modal belum balik ada lagi yang menuliskan pundi-pundi utangnya. Tapi hidup harus tetap berjalan bukan?

 

Trisna lain lagi kasusnya. Akibat tidak ada kecocokan bayaran atas lembur semalam suntuknya. Menjadi pengontrol bahan bakar pada mesin genset yang ada di area basement dua Wisma Mulia jadi penyebab pengunduran dirinya. Saya tak tahu harus berada di pihak mana. Trisna beranggapan bahwa lembur itu jika melampaui jam sepuluh malam. Maka tarif pembayaran pada karyawan harus naik. Namun pihak PT tak mau memenuhi keinginan Trisna. Sebenarnya dalam kasus ini ada dua kemungkinan penyebab. Trisna lalai bernegoisasi dengan PT perkara upah dari awal penunjukkan dirinya atas pekerjaan tersebut.  Atau mungkin pihak PT sudah memberikan penjelasan mengenai sistem upah lemburan bagi Trisna. Namun entah sebab apa Trisna akhirnya jadi memutuskan diri untuk berhenti bekerja. Mungkin juga ada pihak yang mengomporinya. Agar dia keluar. Atau ada salah satu staf kantor yang punya masalah pribadi dengannya. Sebab dia juga tipe pembangkang. Satu hal yang selalu mengingatkan saya padanya. Sebuah buku catatan harian masih kosong ia berikan pada saya. "Buat menulis", pesan dia waktu itu pada saya. Sampai sekarang buku itu tetap tersimpan oleh saya. Sebenarnya foto dia juga ada namun entah sekarang foto itu hilang kaya'nya.

 

Namanya Mitro. Karena berasal dari kota Metro provinsi Lampung maka kita sering memanggilnya dengan julukan Metro. Asal tempat jadi namanya sekarang. Lucu juga sebab dia tak kembali ke Jakarta. Sehari sebelum dia berpamitan untuk pulang. Siang hari yang lalu dia kesetrum. Pas menyambung kabel. Penyambungan kabel memang kerap jadi penyebab kecelakaan kerja. Hampir semua kabel pada bagian yang bermuatan setrum pasti ada power nya. Tidak ada istilahnya power mati. Lha kok ndilalah tang yang di pakai Metro saat itu dalam keadaan bocor. Tidak dalam keadaan utuh pada pembungkus gagangnya. Terang saja pas mengkaitkan pada kabel warna hitam. Dreeeeeeeeeeeddddddddddddddddddd, kontan setrum langsung menjalar melalui gagang yang tersentuh oleh jari jemarinya. Yang namanya kekuatan listrik sedikit tersinggung dengan konduktor. Jadilah tenaga dahsyat mengalir. Mending kalau seketika itu juga bisa terlepas ini malah seakan menyedot tubuh si Metro. Sebelum pada akhirnya dia terpelanting dan jatuh dari tangga. Untung masig lumayan mujur tangga jatuh di depan temapt Metro terjatuh. Dia tak jadi kena imbas sebuah perbahasa lama, "sudah jatuh tertimpa tangga", sejak saat itu dia memutuskan untuk pulang dan tak kembali lagi ke Jakarta.

 

Masih berlatar belakang Jakarta. Setelah Antok memberikan saran dan nasehat pada saya. Hari-hari saya jadi sedikit tercerahkan. Saya akhirnya dengan rajin lembur. Dengan kosekuensi pulang malam. Sering nyampai di rumah kontrakan jam sebelas malam. Saya di Jakarta tinggal bersama di sebuah rumah kontrakan bersama Bulek dan sepupu saya. Akan saya ceritakan nanti tentang kehidupannya. Sekarang saya masih ingin berbagi tentang cerita selepas kerja.

 

Malam cerita ibukota berubah menjadi kerlip-kerlip lampu yang indah berderet. Dari atas gedung lamtai 54 Wisma Mulia. Saya memerhatikan kehidupan dan ke ingar bingarannya. Saya duduk di atas landasan helikopter gedung tersebut. Bersama rekan kerja namanya Agus, namun karena saking gemarnya makan batagor. Teman-teman sekampungnya memanggil dia Tagor. Secara kebetulan Zaini yang merupakan saudara dia adalah kepala regu kami. Jadilah nama Tagor tetap eksis di lingkungan kerja. Saya dan Tagor melihat pemandangan yang ada. Menyaksikan betapa sibuknya kota ini. Anak Jakarta asli itu juga heran dengan kotanya. "Bay, lu lihat di bawah sana indah kan, tapi apa elu juga tahu kegelisahan mereka tentang kemacetan yang tak ada ujungnya itu?" "Kalo gak macet bukan Jakarta Gor". Ringan saja saya menjawabnya. "Udahlah lu jangan berpikir macem-macem, sekarang kita nikmati pemandangan yang ada. Kita rasakan angin dan bayangin kita lagi bikin video klip di atas sini. Anggap kita grup band yang lagi punys hit's-hit's yang laris manis, asik gak?" Kata saya meneruskan. "Bisa aja lu Bay, tapi ide bagus juga sih", Tagor meneguk air yang tadi dia bawa dari gudang sebagai bekal lembur di ketinggian ini. Waktu itu kita lagi memasang kabel power buat penerangan landasan helikopter para kaum Ekspatriat.

 

Pulang malam. Hal biasa hidup di kota ini. Naik bis kota adalah makanan sehari-hari. Terjebak macet adalah hal yang terlalu basi untuk diperbincangkan. Hidup di Jakarta tak cuma butuh kepintaran tapi juga kesabaran dan ketabahan menerima segala hal dan nasib. Pencopet. Hah, sebuah sindikat yang nyaris tak pernah ada habisnya di kota ini. Suatu malam saat berada dalam bis kota PPD 46 saya hampir menendang seorang pencopet yang akan masuk melalui pintu belakang armada angkutan darat tersebut. Dari arah Grogol bis kota itu berhenti di halte Patra Jasa. Tempat biasa saya menunggu kedatangannya. Awal peristiwa sang kenek bilang berpesan pada penumpang lainnya termasuk saya, waktu memasuki area Pancoran. "Awas ada copet, dijaga barang bawaanya". Saya yang kebetulan berada di pintu tersebut menghalanginya masuk. Dengan cara mengangkat kaki yang kanan. Bukan sok jadi pahlawan namun ini muncul atas dasar emosi akibat kelelahan bekerja man. Dia si pencopet akhirnya urung memasuki bis kota yang kami tumpangi. Kami aman.

 

Tapi entah ini kesialan atau kebodohan saya. Hari sabtu sore harusnya jadi hari berbahagia buat saya akhirnya jadi hari tersumpek saya selama hidup di Jakarta. Siang habis terima gaji. Selang beberapa jam gaji itu raib. Disikat oleh gerombolan pencopet empat orang mengerumuni saya. Saat hendak turun di halte Ciliwung. Jalan MT. Haryono Jakarta Timur. Mereka membentuk setengah lingkaran. Ada mengalihkan perhatian menghalangi jalan saya. Lainnya sok mencoba memberi isyarat pada sopir bahwa ada yang mau turun di hate Ciliwung. Tanpa dinyana uang saya pun raib di tangan pencopet. Apakah ini balasan dari perbuatan saya tiga malam yang lalu. Mencegah seorang pencopet mengais rejeki waktu itu. Sebenarnya kalau dirunut kejadiannya saya sendiri juga salah dalam mengambil keputusan awal. Terbiasa menunggu angkutan dari halte Patra Jasa ini malah pindah haluan. Halte depan Kantor Pos jalan Kapten Tendean Mampang jadi pilihan. Waktu itu saya ingat sampai sekarang. Bis kota warna hijau bernomor 57. Jurusan Pulo Gadung - Blok M atau sebaliknya. Pengen cari suasana baru malah ketiban apes.

 

Kejanggalan itu baru terasa saat saya menaiki jembatan penyeberangan pas si atas halte Ciliwung. Ketika saya meraba-raba saku celana jean's biru gelap. Waktu itu masih ngetrend model Cutbray atau komprang bawah. Memang hari itu saya lupa bawa dompet karena terburu-buru. Saya yakin kalau seandainya dompet itu tidak ketinggalan pasti tidak begini apes nasib saya. Sebab saya pasti akan selalu menempatkan dompet pada saku depan sebelah kiri. Ini malah uang saya selipkan di saku belakang. Mungkin salah seorang dari gerombolan pencopet itu sekilas melihat ujung lembaran uangnya terselip. Maka dengan mudahnya. Seperti layaknya kucing mendapati tikus yang terjebak. Lalu oleh si penjebak langsung dibuka pintu jebakan itu pas si kucing siap menerkam. Jadilah nasib saya akhirnya bergantung pada belas kasihan teman, saudara, dan tetangga selama seminggu ke depan.

 

Banjirrrrrrrrrrrrrrrr.........................!"

 

Hampir tak pernah lepas dari bencana tahunan ini. Cawang kampung Pulo Kecamatan Kramat Jati Jakarta Timur. Banjir adalah kata yang jadi andalannya. Tapi selama hidup di kampung tersebut bersama Bulek dan sepupu saya Chorine banyak kesan yang teramat sayang untuk terlewatkan. Ada seorang teman. Almarhum Galuh, setiap malam nungguin saya di ujung tikungan jalan kecil gang kampung itu. Pemuda asli Betawi biasa nongkrong di depan toko kelontong Pak Karyo. Pedagang yang lumayan sukses menjadi wirausaha di kawasan banjir ini. Banjir air juga banjir rejeki. Galuh selalu menunggu bersama Hendra akrab disapa Miu'. Sekarang si Hendra atau Miu' ini lagi mendekam di sel Cipinang. Akibat ulah ibunya yang menyimpan ganja hampir satu kilogram di rumah kontrakannya. Kebetulan juga saat terjadi penggerebegan dia tinggal di sebelah Bulek saya. Saat itu Miu' enak-enaknya tidur. Sedangkan ibunya tak tahu kemana perginya meninggalkan Miu' tanpa pamit. Tapi dasar nasib kalau sudah kena virus keapesan. Polisi menggerebeg kamar kontrakan yang sudah jadi target lama mungkin. Miu' yang tak tahu menahu tentang keberadaan barang tersebut walau bagaimanapun dia tetap diciduk. Dan demi menjaga agar nama ibunya tetap aman dia rela jadi tersangka. Sebagai balas jasa anak terhadap budi sang ibu.

 

Galuh, semasa hidupnya selalu sharing tentang musik dengan saya. Tentang cita-cita dia bikin sebuah band. Hingga dia ngebet banget pengen ikutan audisi pencarian bakat di salah satu stasiun televisi swasta negeri ini. Dia pengidola Ariel Peterpan. Namun segalanya tak harus teraih, Sang Illahi berkehendak lain. Memanggilnya lebih cepat untuk segera menghadap ke hadirat Sang Khalik.

 

Kampung yang identik dengan banjir ini punya warna ketika bencana itu melanda. Mulai mengamankan harta benda hingga mengungsi saya anggap hal yang asing buat saya. Siapa bilang banjir selalu mendatangkan kemurungan. Lihatlah para penghuni kampung Pulo Cawang, anak-anak kecil asik bermain air ketika banjir berangsur turun. Di malam hari saat terasa kampung ini layaknya kota mati gerombolan pemuda membentuk kelompok asik menikmati minuman anggur. Menghangatkan tubuh. Biasanya yang tadi siang mengais pudi-pudi rejeki lewat jual jasa mengangkut barang. Dengan perahu gabus jadi sarananya. Selain mengangkut barang juga para orang tua yang tak mampu berjalan layaknya usia muda ketika banjir melanda. Lumayan dengan ongkos seirbu perak sekali tarik. Terkumpulah uang untuk menikmati suasana. Mengungsi di sebuah area pemakaman umum. Yang letaknya relatif lebuh tinggi.

 

Cawang kampung Pulo merupakan kawasan bekas rawa-rawa yang kering. Jadi tak menutup kemungkinan daratan tersebut jadi sasaran air di saat musim penghujan. Atau disaat sungai sudah tak mampu lagi menampung debit aliran air dari kota Bogor. Sungguh menggenaskan sebenarnya. Tapi apa mau dikata di kawasan tersebut orang sudah turun temurun menghuninya. Sebagai lahan mencari peruntungan dalam hidup ini.

 

Ahh Banjir saya jadi teringat Kartini. Gadis bertubuh langsing berambut lurus yang kini sudah jadi istri orang. Dulu sempat menggetarkan segenap isi sanubari saya. Andai saja saat itu Ole, pemuda asli Betawi itu. Tidak berkeinginan untuk kembali pada Kartini. Saya pasti dengan segera mengisi sebagian relung jiwanya. Ole itu temen akrab dengan saya. Dari cara dia menatap Kartini saya tahu dia punya rasa yang tak biasa. Ternyata mereka berdua, Ole dan Kartini sempat memagut kasih. Tapi Kartini tak sepenuh hati menerima Ole jadi sang Arjuna nya. Jadilah kisah cinta yang timpang. Bertepuk sebelah tangan. Seandainya saja dulu saya tak tahu tentang cerita itu. Nyali saya tak akan menciut untuk mengatakan, "Kartini gue pengen elu jadi bagian hidup gue", kalau suruh memilih mendingan saya tak pernah tahu tentang kisah Kartini dan Ole. Sehingga saya tak ada rasa canggung menungkapkan hal yang sebenarnya mendera kalbu ini.

 

Waktu tak akan pernah bisa kembali terulang. Rambutnya dan gelak rinai tawanya. Gaya dia bermain air. Kala banjir mulai berangsur reda adalah warna tersendiri. Adalah gambaran pelangi ketika menghadapi kelesuan. Langkah kakinya yang jenjang mungkin tinggal kenangan. Dan terakhir, saya cuma bisa menutup cerita ini dengan, Apakah "Ini Tentang Rasa" yang tak biasa....................

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer muras
muras at Ini Tentang Rasa (6 years 31 weeks ago)
60

normalnya kerja sehari 8 jam, selebihnya lembur dan harus dibayar. jakarta oh jakarta

Writer yuu_sara
yuu_sara at Ini Tentang Rasa (7 years 18 weeks ago)
70

kasian bgt tu orang, mau pulng kampung malah kesetrum..

kalo saran,kritik, dsb bkn keahlianku..
salam..

Writer nau
nau at Ini Tentang Rasa (7 years 18 weeks ago)
70

jakarta memang selalu punya cerita menarik, saya sudah lama tidak mengunjungi tempat itu, ah rindu rasanya dengan gemerlap dan hiruk-pikuknya :D

Writer nazokagi
nazokagi at Ini Tentang Rasa (7 years 18 weeks ago)
60

ini tetang rasa?
rasa yang bercerita?
cerita tentang rasa?
salam