Coklat Patah Hati

 

Sial! Hari ini benar-benar panas. Dan di sinilah aku, berusaha mencari suhu udara yang cukup nyaman di bangku taman ini. Tapi pohon meranggas yang menaungiku juga tak sanggup memberiku oksigen segar. Yaah, setidaknya bayangannya cukup menghalangi terik matahari. Dalam hitungan menit kesadaranku mulai melayang di alam mimpi, namun bunyi gemerisik dedaunan langsung membangunkanku.  

"Ah!" Seorang gadis berambut keriting muncul dari balik semak. Dia tampak terkejut melihatku. Sejenak gadis itu memandang berkeliling dengan kebingungan, lalu bergumam, "Maaf..."

"Hey, tunggu!" cegahku sebelum gadis itu pergi. "Kau di sini saja. Aku yang akan pergi," sahutku mengalah padanya.

Di luar dugaan gadis itu menggeleng. Aku merasa canggung ketika dia duduk di sampingku, berusaha mengacuhkannya saat gadis itu membuka tas besar anyamannya.

"Mau?" Tiba-tiba dia menyodorkan sekotak coklat dan setangkai mawar pink padaku. Aku menatapnya heran. Gadis yang aneh.

"Err... Terima kasih." Kuterima tawarannya hanya dengan alasan sopan santun. Baru kuingat kalau hari ini adalah hari kasih sayang.

"Sebenarnya aku baru saja dari rumah sakit..." gadis itu menunjuk gedung di seberang jalan, "...membagikan coklat dan bunga untuk pasien di sana. Sepertinya tahun ini aku membuat terlalu banyak. Mungkin sebaiknya aku pergi ke panti asuhan dan panti jompo juga." Dia tampak serius menghitung jumlah sisa coklat dan bunganya.

"Oh," hanya itu tanggapanku. Aku tak terlalu peduli dengan hari kasih sayang. Toh aku tak punya pacar untuk kuberi hadiah. Lagipula menurutku tak perlu hari spesial untuk menyatakan kasih sayang pada orang lain.

"Aku Sherly, siapa namamu?" Gadis berambut ikal itu mulai memperkenalkan dirinya.

"Geofan."

"Salam kenal. Tunggu, sepertinya namamu tak asing..." Sherly menatap wajahku cermat, mencoba ingat apakah dia pernah melihatku sebelumnya.

Dalam hati aku tertawa. Tentu saja dia pasti pernah mendengar namaku sebelumnya. Sampai empat tahun yang lalu aku adalah pemain drum dari band terkenal. Band kami sudah bubar. Satu-satunya hal yang orang ingat tentang band kami mungkin cuma si vokalis yang dipenjara karena terlibat kasus narkoba. Aku yang selalu mendapat posisi di belakang drum di atas panggung pasti sudah dilupakan semua orang.

"Aku ingat! Kau Geofan dari band Semesta!" jerit Sherly menjabat tanganku erat. Sungguh mengejutkan, dia pasti penggemar berat band kami.

"Yaah, begitulah..." jawabku agak canggung. Kuakui aku sedikit merindukan jeritan histeris dan sorakan pujian para fans di masa kejayaan kami dulu.   

"Aku sangat suka lagu-lagu kalian! Aku cinta kamu... Jangan kau meragu... Kita kan bersama selalu... lalalalaa..."

Aku hampir tak bisa menahan tawaku saat gadis itu mulai melantunkan lirik salah satu lagu andalan kami. Ternyata tak terlalu buruk walau dinyanyikan dengan nada suara perempuan. Tanpa sadar pergelangan tangan dan kakiku bergerak sesuai iramanya. Sherly menyanyikan seluruh lagu itu dengan tepat sampai tarikan vokal di akhirnya.

"Ah, maaf kalau suaraku jelek." Aku hanya tersenyum melihatnya tersipu. "Aku benar-benar suka lagu itu," ulangnya.

"Dan sekarang kau pasti membenci band kami," sahutku ironis.

"Tidak! Aku juga sangat suka semua personil band Semesta, dulu..." suaranya mengecil sampai menjadi bisikan. "Dulu aku sangat tergila-gila dengan lagu-lagu kalian. Musiknya agak keras tapi liriknya lembut dan manis. Setiap lagu kalian terasa seperti alunan cerita hidupku sendiri, dari pertemuan sampai perpisahan."

"Mantan pacarku adalah penggemar berat band Semesta. Kalian seperti dewa baginya. Dia meniru semua gaya dan penampilan kalian, dia bahkan mengikuti cara hidup penyanyinya. Lalu dia berubah jadi kasar, suka mempermainkan perempuan, juga mulai kecanduan obat terlarang. Tepat tiga tahun lalu, tanggal 14 Februari, dia meninggal karena overdosis." Cerita Sherly membuatku tak bisa mengatakan apapun. Tak pernah kukira band kami bisa memberikan pengaruh sebesar itu.

"Waktu itu aku sangat membenci kalian. Aku menyalahkan kalian karena membunuh pacarku. Kupikir kalian adalah band setan yang menghancurkan kehidupan setiap remaja penggemar kalian. Tapi sebesar apapun kebencianku pada kalian, aku tetap tak bisa membenci lagu-lagu yang kalian ciptakan. Aku tetap mencintai liriknya, musiknya, dan semua kenanganku bersama mantan pacarku dalam lagu-lagu itu." Gadis itu menunduk menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya. Entah kesedihan atau kemarahan yang sedang dirasakannya saat ini, mungkin juga campuran keduanya.

Beberapa menit kesunyian yang tak menyenangkan menguar di antara kami. Aku sungguh tak bisa mengatakan apapun untuk menghiburnya, membela diri, ataupun berterima kasih karena dia masih menyukai lagu kami. Perasaanku gugup dan tak tenang, seperti akan menghadapi hukuman mati.

"Maaf..." lirihku di puncak rasa bersalahku mewakili penyesalan atas dosa masa lalu band kami yang tidak pernah kami sadari sebelumnya.

Sekali lagi Sherly menggeleng. "Tidak, kematian pacarku bukan salah kalian. Hidupnya memang sulit. Aku juga bersalah karena tak berhasil menjauhkannya dari benda terlarang itu. Aku juga tak bisa balas dendam karena kalian sudah bubar dan vokalisnya sudah dipenjara. Yaah, karena lagu kalian bagus... Hanya karena aku suka lagu kalian dan demi ketenangan jiwa pacarku... anggap saja aku sudah memaafkan kalian," senyumnya langsung mengangkat beban berat di pundakku.

"Sekarang tiap tanggal 14 Februari aku mengenang pacarku dengan membagikan coklat dan bunga pada setiap pasien di rumah sakit tempatnya meninggal itu. Hanya dengan cara ini aku merasa tenang. Apalagi kini aku bertemu denganmu, personil band kesukaannya. Rasanya tadi seperti kembali ke masa lalu, saat aku menyanyikan lagu itu bersamanya." Syukurlah gadis itu sudah kembali ceria.

Namun keraguan kembali menghantuiku. Bagaimana kalau di luar sana masih ada remaja yang kesulitan karena pengaruh buruk dari band kami?

Seperti membaca keresahanku, Sherly menepuk punggungku keras. "Hey, tenanglah! Itu kan masa lalu. Daripada terus merasa bersalah, lebih baik kau bantu aku membagikan coklat dan bunga ini!" serunya riang.

"Ya... Benar." Itu memang ide yang bagus.

"Aku perlu lebih banyak coklat dan mawar. Bantu aku mencari sumbangan. Kalau perlu kau harus ngamen agar kita bisa beli coklat lagi. Lalu kau juga bisa menyanyikan lagu band Semesta untuk menghibur orang sakit, anak panti asuhan, dan kakek nenek di panti jompo!" Gadis itu sangat bersemangat menyusun rencana kami hari ini.

"Hey! Aku pemain drum, bukan penyanyi!" tawaku sambil protes.

"Tak masalah. Aku yang akan menyanyi, kau bisa main tamborin atau apalah. Hubungi personil band lainnya juga untuk membantu kita! Ayo, sekarang kita ambil semua persediaan coklat dan mawar di rumahku!" Agak tergesa Sherly menarik tanganku, genggamannya terasa lembut dan hangat.

Tak lupa kuselipkan kotak kecil berisi coklat dan mawar pink pemberiannya tadi ke saku kemejaku, cukup dekat dengan jantungku, setengah berharap makanan itu tak cepat mencair karena suhu tubuhku. Meskipun aku belum mencoba rasanya, aku yakin ini adalah hadiah hari kasih sayang termanis dalam hidupku.

 

 

Read previous post:  
53
points
(2042 words) posted by yellowmoon 6 years 18 weeks ago
75.7143
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan | kuliner | Pemburu Coklat | yellowmoon
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer may.eriska
may.eriska at Coklat Patah Hati (5 years 36 weeks ago)
90

good, chocolate of broken heart,,,,,I like this.

Writer yellowmoon
yellowmoon at Coklat Patah Hati (6 years 6 weeks ago)

begitulah, haha
salam ^__^

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Coklat Patah Hati (6 years 9 weeks ago)
100

Yellowmoon nongol lagi \(^o^)/
saya bingung nyabein apa, jadi kasi jejak aja ya ^^a
ah, jadi kepengen makan coklat :D

Writer yellowmoon
yellowmoon at Coklat Patah Hati (6 years 6 weeks ago)

terima kasih atas komentarnya

Writer dansou
dansou at Coklat Patah Hati (6 years 9 weeks ago)
100

Sebelas buat Kak Luke :V

Writer yellowmoon
yellowmoon at Coklat Patah Hati (6 years 6 weeks ago)

wogh, terima kasih ^__^a

Writer hnindhaprdp
hnindhaprdp at Coklat Patah Hati (6 years 9 weeks ago)
70

bagus eh ceritanya:D

Writer yellowmoon
yellowmoon at Coklat Patah Hati (6 years 6 weeks ago)

terima kasih

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at Coklat Patah Hati (6 years 9 weeks ago)
90

mantap :3
manis ceritanya spt cokelat, hehe

Writer yellowmoon
yellowmoon at Coklat Patah Hati (6 years 6 weeks ago)

haha, terima kasih ^__^

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Coklat Patah Hati (6 years 9 weeks ago)
90

spesial hari valentine...
saya suka ceritanya!
ada bumbu dari realita sekarang perihal menggunakan benda terlarang. ngiri deh ama yang bisa gabung-gabungin beginian.

Writer yellowmoon
yellowmoon at Coklat Patah Hati (6 years 6 weeks ago)

terima kasih ^__^