La Mer-Part 1

 

Aku terkekeh sembari menuangkan bir ke dalam gelas kecil sebelum seorang wanita setengah baya dengan pernak-pernik emas mengangkatnya dan menenggaknya dengan liar. Fwala! dia sudah mabuk pikirku. Wanita dengan dandanan tebal dan mengerikan itu tertawa dan aku hanya bisa mengikutinya sembari menambahkan bir ke dalam gelasnya. Wanita yang sudah beraroma bir di seluruh tubuhnya itu merangkulkan lengannya ke pundakku dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Senyuman yang mampu membuat wanita tua sekalipun luluh karena ketampananku. Oh, ini bukanlah adegan narsis seorang pemuda dua puluh tahun, tuan dan nyonya, tapi kenyataan yang tak terbantahkan. 
 
Namun tak semua orang tampan itu selalu bernasib baik dan itulah yang terjadi padaku ketika bibir merah merona berbau alkohol itu melumat bibirku dengan ganas. Nah, aku hanya bisa melayaninya sejenak sebelum aku berbisik padanya untuk berhenti karena kami sedang ada di bar dan bukanlah tempat yang tepat untuk melakukan hal seperti ini. Haha… dan itu bekerja dengan baik seperti aku melakukannya pada semua wanita setengah baya yang lain. Tch, wanita tua memang gampang diperalat, terlebih yang kesepian dan senang mencari kesenangan di luar. 
 
Nah nah, jika kalian berpikir aku lelaki bayaran, kalian salah, aku hanyalah seorang pemuda dengan penghasilan terbatas dan bergantung pada quest gulid dan di sinilah aku sekarang, dalam bar sembari mengumbar ketampanan dan bujuk rayu pada mangsaku kali ini, Madame Luxon de Valios. Awalnya kukira dia mangsa yang sulit tapi ternyata mudah, lebih gampang merayunya ketimbang merayu gadis sebayaku.
 
“Nah, Madame, bagaimana kalau kita mulai pembicaraan yang lebih intim,” ucapku sembari menuangkan lagi bir dalam gelas kecilnya, harus kuakui untuk membuatnya mabuk adalah pekerjaan yang sulit, yeah butuh lima botol bir dengan kadar alkohol yang tinggi baru si tua bangka ini mabuk, tche, menghabiskan uangku saja. Di saat aku kesal setengah mati karena aku sedang punya masalah keuangan, dia terkekeh, menurutku malah mirip dengan suara anjing kudisan yang merana tapi apa dayaku? Aku hanya mengikutinya seperti tengah tergila-gila padanya, kemudian Madame yang terhormat itu membelai pipiku dan memainkan rambut pirangku yang disisir sesuai selera wanita jalang ini—oh tentu saja aku mengetahui tipe laki-laki yang disukainya, banyak riset sebelum aku melakukan rencanaku ini.
 
“Yah, terserah padamu, manis,” ujarnya kembali hendak mendaratkan ciuman mengerikannya padaku yang kemudian aku hentikan dengan menangkap dagunya dengan jari telunjuk dan jempol kananku. Dalam posisi seperti ini, biasanya senyuman mematikanku akan membuat semua gadis mabuk kepayang dan itulah yang terjadi sekarang. Si tua Luxon hanya bisa bersemu sembari cegukan.
 
“Aku dengar beberapa hari ini… ada lelaki tua bangka yang berani menyentuhmu, nona,” nona—cih, dia sudah mirip dengan bison yang kelewat gemuk menurutku, “Dan aku sama sekali tak suka akan hal itu,” ujarku sembari memasang wajah sedih, dengan bantuan pengaruh alkohol semua ini menjadi lebih mudah karena Luxon mulai terlihat merasa bersalah, dan ini yang kuinginkan.
 
“Aku tak tahu apa hubunganmu dengan Sir Dennis Fluterchen,” ujarku sembari menempelkan jari telunjukku ke bibirnya yang menjijkkan, membantu Si Tua Luxon merasa lebih baik untuk sejenak setelah dia mencoba untuk mengeluarkan sebuah pembenaran atau pembelaan, “Karena kudengar dia tengah melakukan sesuatu yang… yang buruk, sayangku,” dan sekaranglah waktu yang tepat untuk mendapatakn informasi, “Tapi aku tak tahu masalah yang buruk ini, dan aku sama sekali tak ingin sesuatu yang lebih buruk menimpamu,” masih aku kembali menuangkan bir ke dalam gelas dan ku masukkan obat tidur di dalamnya.
 
“Nah, katakanlah… dia tengah melakukan sesuatu yang ilegal, dan aku perlu tahu di mana dia bersembunyi… eits, kau boleh minum lagi setelah menjawab pertanyaanku, manis,” aku menjauhkan gelas bir darinya.
 
 
“Pulau La Mer,” ucapnya setengah sadar setelah ada jeda yang lama sebelum dia mulai bicara namun kuyakin dia berkata yang sebenarnya, wanita mabuk itu mudah diperalat dan selalu jujur, “Dia membawa satu kereta kuda emas dari Ernest dan akan-hiccup-melakukan transaksi di atas Panggung La Mer,” oh, ternyata yang diselundupkan itu adalah emas dan informasi itu datang lebih mudah daripada bayanganku, yeah bahkan aku sudah tahu tempat transaksinya. Yep yep! Urusanku sudah selesai dan ketika aku memberikan gelas bir pada wanita tua gembrot itu, dalam hitungan detik wajah berbedak tebal itu menghantam meja bar dengan suara debum keras. 
 
“Selamat malam, sayang, senang berbisnis denganmu,” ucapku seraya melenggang ke kasir membayar bir yang dihabiskan wanita terhormat itu, yeah balas jasa karena telah memberikan informasi yang begitu berharga.
 
***
 
Na’as adalah saat dimana kau harus menyeberangi lautan dan baru sadar kalau kau sama sekali tak punya uang sepeser pun. Cih, na’as akan berubah menjadi celaka dua belas ketika gerombolan tukang pukul Madame Luxon berbondong dengan pedang, gada, dan senjata berat lain yang dapat menghancurkan tengkorakku dengan satu kali ayunan mematikan. Oh, dear… kau benar-benar tak ingin melepaskanku eh dasar jalang busuk.
 
Suasana pelabuhan Ernest tidak begitu baik, terlebih karena beberapa minggu lalu ada badai yang cukup besar, membuat beberapa perahu nelayan terbalik dan belum dibenarkan hingga saat ini. Langit kelabu menyambutku dengan senang hati ditambah lagi saat aku melongok ke arah laut, di sana seperti tengah ada badai petir yang menyambar-nyambar dan hal ini akan menyulitkanku untuk pergi.
 
Yeah badai petir yang berada di jalur menuju Pulau La Mer sepertinya sudah menjadi alasan yang cukup bagi para pelaut untuk tidur di rumah masing-masing hari ini. Tapi aku butuh sekarang, terlebih ada segerombolan gila tengah mencariku dan ingin melumatku sampai gepeng. Setidaknya… kalau rencanaku berhasil, nantinya Si Tua Luxon dan gerombolannya akan ditangkap kemudian dihukum oleh kerajaan, lalu imbasnya padaku? Aku bisa ongkang-ongkangan kaki dengan santai tanpa rasa takut dilumatkan di jalanan Ernest, kota pelabuhan.
 
 
Na’ah di saat aku memikirkan sesuatu yang bagus, sepertinya keberuntunganku tidak mulus hari ini. 
 
Aku hanya bisa tersenyum sembari merentangkan ke dua tanganku, “Oh, well… helo saudaraku,” ucapku dengan suara agak bergetar, yeah dapat kurasakan getar itu menjalar ke seluruh tubuhku, tapi aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini, “Sepertinya ada masalah di sini eh?” tanyaku bersahabat, setidaknya aku masih menjaga jarak walau aku merentangkan tangan ingin berpelukan, oh tentu saja aku tak ingin masuk ke dalam rangkulan tukang pukul dengan otot seperti balon yang ditiup maksimal itu, bisa remuk tubuhku. Gigil mulai bertambah ketika kusadari jumlah tukang pukul berbadab kekar itu lebih dari perkiraanku, yeah… ada empat, lima… ah… setengah lusin dengan senjata mengerikan yang bervariasi. Aku tak bisa menyebutkan satu persatu, yang pasti kalau terkena hantaman senjata itu aku akan mati. Habis perkara. 
 
Sepertinya usaha berbaik-baik tidak dapat mengulur sedikit waktu untukku untuk berpikir bagaimana cara menghindari orang berotot gempal itu ketika sebuah aunan pedang panjang yang terlihat tajam mengenai ujung rambut hitamku. Yeah aku bisa melihat helaiannya jatuh di depan mataku.
 
“Ow ow, bang sabar bang,” ujarku sembari mengangkat kedua tanganku, memberikan isyarat untuk berhenti, tapi tukang pukul tak bisa diajak kompromi. Lagi-lagi serangan datang dari seorang yang bertubuh gendut dengan gada mengerikan yang berhasil menghancurkan jalanan pelabuhan. Dapat kudengar langkah menjauh dari beberapa nelayan yang tadi ada di dekatku. “Tidak kah kita bisa sedikit berkompromi?” tanyaku setengah berharap, yeah aku tak suka kekerasan terlebih karena aku tak terlalu bisa bela diri, senjataku satu-satunya ya hanya ketampananku saja yang pasti tidak akan mempan bagi sekumpulan lelaki dengan badan penuh otot.
 
“Yeah bisa saja, nak,” ujar salah seorang dari kumpulan itu, “Setelah kau rata dengan tanah,” uh oke, itu artinya tidak kan?
 
“Hng… oke deh kalau begitu,” ujarku sambil menepuk kedua tanganku dan tersenyum ala pelayan bar sebelum aku mengambil langkah seribu, oh… iya aku punya satu kemampuan lagi yang tak akan kalah dari siapapun, kecepatan lariku melebihi pencuri profesional, dan sering kugunakan untuk lari dari masalah. Yeah, seperti sekarang ini. Tapi sayangnya… kecepatan lari tukang pukul itu luar biasa, aku hanya bisa mengumpat berkali-kali dan menjatuhkan beberapa barel penamung air hujan hingga kecepatan lari tukang pukul itu berkurang. 
 
Ah… sial, di saat begini hujan malah turun cukup deras, dapat kurasakan… iya dapat kurasakan kalau aku sedikit tersengat seperti kejut-kejut aneh. Sepertinya petir menjalar di air hujan ini, entahlah sekarang masih terasa seperti gigitan semut. Aku berlari menuju gang sempit agar mereka tak dapat mengejarku secara bergerombol, setidaknya mereka harus masuk satu persatu dengan tubuh gempal berotot itu kan?
 
Cukup lama aku berlari dan… akhirnya, iya aku berakhir dengan begitu klise. Jalan buntu.
 
Klise, klise, klise! 
 
Aku mengumpat dalam kekesalanku sendiri, kenapa orang sepertiku yang biasanya beruntung kini sial sekali, sepertinya dulu aku bisa menghindari kematian dengan mudah, dan sekarang? Aku seperti tikus yang dipojokkan dan pemangsaku tinggal menginjakku seperti sampah tak berguna. Dan merekalah pemangsaku, tukang pukul berbadan besar dan kuat. Begitu mengerikan dalam derasnya hujan hari ini dengan begitu anehnya aku dapat melihat darahku mengalir di genangan air beberapa menit lagi, ah… sepertinya aku benar-benar akan mati.
 
“A—ha! Sepertinya Si Tampan sedang tersudut, eh?” suara nyaring berasal dari atas, dan saat kutelengkan kepalaku, dapat kulihat dia di sana. Ugh, menyebalkan seperti biasanya. Tapi nampaknya nyawaku akan terselamatkan… semoga.
 
“Well sepertinya rubah kecil kita masih bertahan hidup sampai sekarang eh, Iris?”
“Heee… kau menyebut namaku, bukankah sudah kubilang kalau aku tak suka namaku disebut-sebut?”
“Oke baiklah, sepertinya aku tahu maksudmu membuntutiku dan sepertinya aku tak dapat menolak tawaranmu eh?”
“Tawaran apa Tuan Tampan?” tanyanya dengan suara melengking, yeah… aku tahu kenapa gerak-geriknya seperti akan membantuku. Karena tujuannya sama denganku.
“Sudahlah, karena tujuan kita sama, kenapa tidak aku tolong aku eh manis?”
 
“Haa… baik baik, kau memang tak dapat diandalkan,” ujarnya sebelum dia melompat dari atas atap jalan buntu dan kini gadis bersurai kemerahan yang diikat tinggi sebahu itu berdiri dengan posisi sempurna di hadapan setengah lusin lelaki yang tingginya mungkin dua kali lipat dari si gadis berperawakan sedang itu.
 
Nah, sepertinya aku tak bisa mengharapkan pertarungan yang sengit karena dalam beberapa detik saja, semua tukang pukul itu tumbang dengan suara debuman yang cukup keras. Ah, sebuah kemapuan yang mengerikan untuk seorang gadis, tapi dia kan bukan gadis biasa.
 
“Nah, nah… nona assasin,” ujarku ketika berjalan mendekatinya sebelum sebilah belati terhunus di leherku, “Liar seperti biasa eh, Iris,” aku sengaja mengucap namanya, sembari menunggu reaksi si gadis bermata hijau zamrud itu mengeluarkan komentar. Dan akhirnya yang dapat kulihat hanyalah gadis assasin yang menghela napas sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
 
“Karena kita punya tujuan yang sama, kenapa kita tidak bergabung dalam tim?” sebuah ajakan yang  cukup menggiurkan karena aku bisa mendapatkan seorang pengawal handal seperti gadis bersurai merah ini. Tapi ajakan membentuk grup dari seorang Iris Cloverfiled adalah sesuatu yang langka… kecuali…
 
“Ah… kau khawatir dengan medan yang akan kau tempuh di Pulau La Mer eh, Nona Assasin?” dan seringai jahil terukir diwajahku yang basah karena hujan dan Iris Cloverfiled memasang wajah cemberut.
 
“Ya… ya, kau tahu aku medan kita nanti akan penuh dengan air, air, dan air, yeah kuharap kau tidak memasang wajah menyebalkan itu,” ujarnya dengan gusar, “Oh baiklah, kau menang, aku memang butuh bantuanmu tapi kurasa kau juga akan butuh kemampuanku, terlebih lagi kau kan lemah,” ukh… pernyataannya yang satu itu menusuk hingga jauh di relung hatiku yang terdalam. Tapi bukan Nash Lofferdo namaku kalau tidak bisa menyembunyikan emosi.
 
“Baik, keuntungan dibagi dua,” aku mengangkat tangan kananku mengajaknya bersalaman.
“Enam puluh—empat puluh,” tawarnya sebelum menjabat tanganku. 
“Empat puluh lima—lima puluh lima, dan itu tawaran terakhir,” ucapku sambil menyalami tangannya tanpa persetujuan, namun akhirnya dia setuju juga.
“Nah… apa sepertinya kita harus berenang dari sini ke Pulau La Mer eh?”
“Kau mengejekku ya Nash?” tanyanya dengan wajah masam, “Kita pakai kapalku—maksudku kapal temanku.”
“Padahal akan lebih menarik melihatmu megap-megap seperti ikan kehabisan napas di laut nanti, manis,” ujarku sembari terkekeh, tentu saja aku berhenti ketika bilah pisau itu kembali bersarang di permukaan leherku. “Ah, tak bisa diajak bercanda seperti biasa.”
“Ini bukan candaan Nash,” dapat kudengar suaranya meninggi, “Kau tahu betapa malunya aku meminta bantuan mesin pencium wanita sepertimu eh?” ukh sekali lagi kata-katanya menusuk harga diriku hingga berkeping-keping (walau itulah kenyataannya).
 
“Kau tahu,” ujarnya sembari menjauhkan mata belati dari leherku, “Sebuah kecacatan bagi seorang Assassin karena tidak bisa berenang dan bergantung pada manusia sepertimu,” ujarnya dengan nada nelangsa dan aku tak dapat menyembunyikan seringaiku yang membuat Iris makin cemberut.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer zenocta
zenocta at La Mer-Part 1 (6 years 39 weeks ago)
80

terlalu nginggris memang,, tapi nginggrisnya jadi goyah dengan kata "bang".. hahhahaha..
tapi ceritanya bagus,, saya suka.. :)

Writer Yafeth
Yafeth at La Mer-Part 1 (6 years 39 weeks ago)
80

Cara bertutur dalam cerita ini menarik, sayang terasa seperti terlalu nginggris. Hiccup bisa ditulis hiks saja. Dan beberapa dialog lain juga terlalu berasa terlalu Inggria. Tetapi cara mengalirkan ceritanya sudah bagus, sudah punya bentuk dan menarik perhatian.

Sekian dari saya :)