Kemal Potter (Chapter 8 : Aku Berduel Dengan Seorang Parseltongue)

Aku berlari ke kantor kepala sekolah secepat mungkin. Aku harus melaporkan kalau pelahap maut menyamar menjadi Pak Narapati. 

Begitu sampai di depan pintu, kebetulan kepala sekolah sedang keluar. Dia terheran melihatku.

"Kenapa kau lari-lari begitu? Seperti melihat pelahap maut saja."

"Sebenarnya," aku sedikit terengah-engah, "Aku memang melihatnya. Dia menyamar jadi Pak Narapati!!"

Kepala sekolah secara mengejutkan tetap tenang. Dia mengelus-elus janggutnya sambil mengangguk-angguk. Aku bingung melihatnya. Saat itulah Pak Narapati datang. Sontak aku langsung menarik tongkat sihirku. Sebenarnya aku hampir tak tahu mantra untuk bertarung, tapi lumayanlah untuk menggertak.

Pak Narapati mengangkat tangannya, "Hei, hei, apa-apaan ini?"

"Diam! Aku sudah tahu kalau kau pelahap maut yang menyamar!!"

Pak Narapati bertukar pandangan dengan kepala sekolah. "Tenang dulu, biar bapak jelaskan. Bapak sebenarnya adalah mata-mata dari sekolah."

"Haha, alasan yang cukup bagus!" kataku menyindir, tapi aku jadi ragu juga, lalu aku melihat kepala sekolah.

"Benar, dia adalah mata-mata kita."

Kepala sekolah lalu membawaku dan Pak Narapati ke dalam kantor untuk menjelaskan. Ternyata pergerakan pelahap maut sudah meresahkan kepala sekolah sejak beberapa minggu ini. Makanya dia mengirim Pak Narapati yang ahli ilmu hitam untuk menjadi mata-mata. Pak Narapati sendiri dulunya adalah pelahap maut, tapi pensiun karena nikah. Kok bisa ya?

"Jadi karena itulah, aku memasukkan kembali Pak Narapati ke pelahap maut untuk mencari informasi. Dan untungnya mereka tidak curiga. Bahkan kupikir mereka lupa kalau Pak Narapati sudah pensiun."

Aku menunduk malu, "Maaf saya hampir menyerang anda."

"Tidak apa-apa," katanya, "bahkan tindakanmu tadi cukup bagus. Kita memang harus sigap terhadap orang yang kita curigai. Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan dengan kepala sekolah tentang hal itu."

"Ada informasi baru?"

"Tidak juga. Aku hanya tahu bahwa Gayus sedang berkeliling untuk mengumpulkan pasukan lagi. Karena itu aku ingin mengajukan satu permintaan terhadap kepala sekolah. Biarkan aku mengajarkan cara duel kepada murid."

"Duel?" aku yang merespon pertama kali. Sedangkan kepala sekolah masih mengelus jenggotnya dengan bijaksana. 

"Jika pelahap maut mulai bertindak, maka murid-murid juga harus bisa mempertahankan diri," kata Pak Narapati lagi.

Kepala sekolah berpikir sebentar, lalu mengangguk setuju.

Maka disinilah aku sekarang, berdiri dengan gugup di arena duel dua hari setelah pembicaraan itu. Aula dikosongkan dan dijadikan arena duel di bagian tengah. Sialnya, akulah yang dipanggil pertama kali untuk duel. Lawanku adalah laki-laki gemuk asrama Sule bernama Dudu. Orangnya terkenal aneh di sekolah ini. Tadinya aku tak percaya sampai suatu hari dia berkata padaku, "Aku sebenarnya bisa parseltongue."

Aku kaget, "Parseltongue? Hebat! Jadi kau bisa bicara dengan ular?"

"Bukan, aku bisa bicara dengan parsel. Benda itu banyak datang ke rumah saat lebaran, dan mereka memanggilku saat tengah malam."

Aku langsung menjauhinya. Ternyata benar, dia aneh.

Kami berdua kini berhadap-hadapan, sedangkan murid yang lain mengelilingi arena. Pak Narapati berdiri di dekat kami. "Keluarkan semua mantra bertarung yang kalian tahu. Tapi jika kelewatan, aku akan menghentikannya, mengerti?"

Kami mengangguk. "Mulai!!"

Bersamaan dengan itu aku menyerang duluan, "Expelliarmus!!"

Dudu menangkisnya dengan tenang. Diluar dugaan, dia jago bertahan. Berkali-kali aku menyerang, dia bertahan dengan mudah.

"Jangan asal menyerang!! Perhatikan keadaan dulu!" teriak Pak Narapati.

Dudu dengan tenang mendekat. Jujur saja, sikap tenangnya yang sangat jauh berbeda dengan sifat anehnya ini membuatku sedikit ciut. Perlahan jarak kami mengecil.

"Stupefy!" Dia menyerang!

Aku menghindar dengan susah payah dan langsung mengayunkan tongkat untuk melucuti tongkatnya. Berhasil!! Tongkatnya terlempar ke udara. Aku tersenyum penuh kemenangan. 

Lalu tiba-tiba dia meninjuku sampai aku terjatuh. Mulutku berdarah. Penyihir macam apa yang meninju saat duel sihir.

"Cukup!!" teriak Pak Narapati.

 

 

(Bersambung....ke entah kapan. Soalnya aku mau buat bukunya, hehe.)

Read previous post:  
75
points
(671 words) posted by kemalbarca 7 years 16 weeks ago
83.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | komedi | sihir
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

yah bersambung..

90

sisanya mu dibuat buku yah... kabari ya kalo dah terbit... :)

90

menarik.. ada acara pensiun gara-gara nikah segala.. ihihihiihi~