[Katalis Waktu] Fragmen 6 - Kemarahan Lan

“Jawab aku! Siapa kau?!” Lan bergegas menuju Zen dan mencengkeram sebelah lengannya. “Bagaimana kau bisa melakukan yang tadi—apa pun yang baru saja kaulakukan?!”

Zen bergeming. Tatapannya masih sekosong biasanya. Itu membuat darah memenuhi kepala Lan, membuatnya meledak seketika. “Apa yang kausembunyikan, Zen?”

Nulla segera berusaha menjauhkan Lan dari Zen, tapi ia seperti sedang mencoba memindahkan batu sebesar tubuh dengan tangan kosong. “Lan!”

Lan mengabaikan Nulla. Mata marahnya masih tertuju pada mata kosong Zen. Tak berkedip sejenak pun. Nulla terus mencoba melerai mereka, tapi Lan menepisnya, membuat Nulla nyaris menabrak dinding batu kalau saja Sua tidak menahan Nulla dari belakang.

Saat itulah beberapa sosok hitam muncul di antara mereka. Nulla dan Sua tepat waktu menghindari tebasan pedang yang terarah kepada mereka. Lan tak punya pilihan lain selain melupakan sejenak masalah kecil Zen dan menghunus belatinya kembali. Dilemparnya sebuah hingga mengenai salah satu penyerang mereka tepat di jantung. Lan melompat, menjadikan orang itu sebagai pijakan sebelum korbannya sempat menyentuh bebatuan. Dengan gerakan cepat, ia mencabut kembali belatinya, berputar di udara, lantas menebas dua orang sekaligus.

Begitu ia mendarat di batu yang cukup tinggi, ia bisa melihat bahwa penyerang mereka memang dua kali lipat dari yang tadi tertangkap matanya. Ia tahu tak perlu mengkhawatirkan Nulla dalam hal pertarungan fisik. Sementara Sua juga tidak selemah perkiraannya. Dan mengenai Zen, ia tak mau repot-repot mencemaskannya.

Baru Lan mau berkonsentrasi pada para penyerangnya, dua orang sudah melompat ke arahnya dengan pedang terhunus. Lan melompat mundur ke belakang, hingga pedang kedua penyerangnya beradu dengan udara kosong. Seseorang datang dari arah belakang, tapi Lan mendarat di bebatuan tepat waktu hingga bisa berputar dan sekali lagi melempar salah satu belatinya. Sosok itu terhenti di udara dan jatuh berdebam tak lama kemudian. Lan bergegas ke arahnya untuk mengambil belatinya kembali. Mau tak mau itu sedikit memperlambatnya, membuat penyerang yang lain mampu mengejar dan memojokkannya hingga tanpa sengaja punggungnya menabrak seseorang. Lan menoleh sekilas demi mendapati Nulla dengan pipi kiri tergores. Refleks, mereka beradu punggung.

“Seperti masa lalu, ya?” seru Nulla dengan seringai terhias di wajah.

“Kenapa kau selalu tampak senang di tengah-tengah situasi terjepit seperti ini?” sahut Lan sambil menendang seorang penyerang. Bukannya menjawab, Nulla hanya tertawa.

Dengan cepat, keduanya bertukar tempat. Selagi Lan bertahan dengan sepasang belatinya, Nulla menyerang hanya dengan mengandalkan kedua tangan dengan jemari saling mengatup, menjadikannya senjata tubuh yang mematikan bila mengenai titik vital tubuh manusia. Dan Lan tak pernah meragukan Nulla dalam hal menemukan titik vital itu, meski dalam pertarungan cepat sekalipun.

Keduanya bertukar tempat kembali. Bertahan dan menyerang, keduanya dilakukan bergantian. Selayaknya tarian maut, meski luka gores tak luput menghampiri mereka, kerugian yang diderita lawan jauh lebih parah.

Pertarungan mereka selesai, tapi suara pertarungan masih terdengar di sisi yang lain. Lan dan Nulla saling berpandangan. Belum sempat keduanya beranjak ke sana, Zen muncul dengan tas di gendongannya sobek di sana-sini, tapi tak sampai membuat isi di dalamnya berhamburan keluar. Tak terlihat segores pun luka di tubuh lelaki itu—tentu saja selain torehan luka-luka yang memang sudah menghiasi tubuhnya sejak awal. Mau tak mau, Lan menyatukan alis. Ada sedikit kelegaan melihat lelaki itu tak terluka, tapi mengetahui kenyataan bahwa keadaan dirinya sendiri lebih buruk dari keadaan Zen membuatnya sangat kesal.

Nulla yang cemas kalau-kalau emosi Lan menanjak lagi, segera mencengkeram tangan Lan dan membujuknya segera ke tempat satu-satunya orang yang masih bertarung. Mau tidak mau Lan menurut. Baru mau beranjak, suara pertarungan sudah berhenti. Keduanya berpandangan kembali. Masing-masing mengulum senyum.

“Sepertinya gadis selatan yang tadi kelihatan kehabisan tenaga itu masih bisa bertahan,” komentar Nulla sambil tetap bergegas menuju Sua. Lan yang berlari di sisinya tak menjawab, matanya tepat terpaku pada Zen yang berlari di depannya. Pandangannya penuh curiga.

Begitu mereka sampai di lokasi pertarungan, sosok-sosok hitam sudah bergelimpangan di hadapan Sua yang terduduk dengan mata membeliak. Ia tampak terkejut—bahkan cenderung terguncang. Tapi, bukan itu yang jadi perhatian Lan saat ini, melainkan sesosok manusia dengan mantel hitam yang baru saja melesat pergi dari tempat itu. Ia hendak mengejar, tapi seruan Sua menghentikannya. “Dia bukan musuh.”

Lan bergeming menatap Sua bingung. Sementara Nulla menghampiri Sua dan berlutut di sebelahnya. “Apa maksudmu? Kau mengenalnya?”

Sua menggeleng cepat. “Aku tidak tahu siapa dia. Tapi, kalau dia tidak menolongku tepat waktu, aku sudah mati sekarang. Ini salahku. Aku ceroboh karena menghabiskan tenaga lebih awal.”

“Kau lihat wajahnya? Tergantung gambaran yang akan kaujabarkan tentangnya, mungkin salah satu dari kami tahu siapa dia.”

“Aku hanya melihat punggungnya. Aku tidak tahu dia laki-laki atau perempuan. Yang jelas, dia lumayan bongsor.”

Nulla mendongak pada Lan. Matanya mengisyaratkan agar mereka segera menyingkir menuju tepi hutan dan beristirahat untuk mengobati luka. Lan mengerti.

 

***

 

“Menurutmu sosok hitam itu benar-benar bukan musuh?” bisik Nulla pada Lan sambil saling mengobati di pinggir telaga dekat Hutan Kabut.

Lan mengernyit saat satu-satunya salep miliknya habis. Ia lantas mengambil salep yang berada di tangan Nulla dan mencolek isinya. Dicengkeramnya tangan Nulla, lantas mengoles luka di balik pakaian yang tadi disobeknya dengan salep. Usapannya agak kasar, membuat Nulla mengerang kesakitan. “Hei, hati-hati!”

Lan hanya melirik tajam Nulla, tanpa mau repot-repot meminta maaf. “Tidak mungkin sesakit itu.” Lan lalu menyobek ujung mantelnya sendiri dan membalut lengan Nulla dengan sobekan mantel itu. “Untung lukanya tidak dalam, jadi pertolongan pertama pun sudah cukup.”

“Sudah cukup?” Nulla membeliak tak percaya. “Apa salahku? Kenapa kau kejam sekali padaku?”

Lan tak menjawab. Ia hanya menghantam lengan Nulla dengan tenaga minimal, tapi tetap lebih dari cukup untuk membuat Nulla mengaduh. “Jangan main-main lagi. Sana, obati Sua.”

Meski mendengus kesal, Nulla tidak beranjak. “Kau belum menjawabku.”

“Kau ingin mendengar jawaban apa dariku?”

Nulla tahu pasti kalau Lan balas bertanya begitu, pasti jawabannya rumit. Jadi, ia bungkam. Ia menghela napas sebentar, lalu bangkit dan berjalan menuju Sua yang juga sedang sibuk mengobati dirinya sendiri.

Lega melihat Nulla mulai membantu Sua, Lan mengalihkan pandangannya pada Zen yang memeriksa tas. Ia seketika bangkit dan menghampiri lelaki itu. Begitu sampai, ia memandang tajam lelaki itu.

Menyadari kehadiran seseorang, Zen menengadah. Matanya tetap kosong, membuat Lan seketika mengernyit. “Aku tahu kau tidak bisa menjawabku. Tapi, apa kau benar-benar tak punya cara untuk menyampaikan apa pun?”

Zen tak bereaksi pada ucapan Lan. Ia hanya kembali pada pekerjaannya.

“Nulla bilang kau buta huruf. Kau pikir aku akan mempercayainya? Orang yang memiliki kemampuan sepertimu tadi, tak mungkin tak mengenal satu huruf pun.”

Zen menghentikan pekerjaannya seketika. Selang beberapa saat, ia kembali memeriksa isi tas. Lan hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk menyamarkan kekesalan. “Siapa kau? Zen bukanlah nama aslimu, kan?”

Melihat Zen sama sekali tak bereaksi, membuat darah memenuhi kepala Lan. Tanpa pikir panjang, Lan mencengkeram baju Zen dan memaksanya berdiri. Ia menatap lurus kekosongan di mata Zen. Menyadari tak ada celah untuk memahami arti pandangan Zen, Lan semakin marah. “Brengsek! Kalau kau tak bisa bicara, cari cara untuk menjawabku!”

Sua yang melihat itu masih tetap bergeming sambil memperhatikan kejadian di depannya dengan pikiran yang masih menerawang ke kejadian di bukit batu. Sementara, Nulla bergegas untuk memisahkan mereka. “Lan, hentikan!”

Butuh waktu lama untuk memaksa Lan mundur. Begitu Nulla menempatkan dirinya di antara mereka berdua, ia seketika memarahi Lan. “Kau ini kenapa?! Apa masalahmu?!”

“Jangan ikut campur.”

Nulla membelalak tak percaya. “Apa?”

“Aku bilang, jangan ikut campur. Ini masalahku. Berapa kali harus kukatakan untuk berhenti mencampuri urusan orang lain?”

Sorot mata Nulla berkilat mengerikan, melebihi Lan. Lalu, tanpa bisa dihentikan, tangan kanan Nulla bergerak, mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi kiri Lan. Sambil mengusap darah di sudut bibirnya, Lan mengangkat wajahnya. Keduanya pun bersitatap saling menantang.

“Dengar baik-baik, Lan. Pertama, Zen adalah pegawaiku. Aku berhak mencampuri masalahnya. Kedua, dan yang paling penting. Kita berdua bukan orang lain. Apa kau tidak tahu bahwa hubungan kita selama ini sudah seperti saudara? Atau kau hanya pura-pura tidak tahu?”

Lan tak menjawab, tapi sorot matanya mulai melunak. Matanya berkilat bukan lagi oleh kemarahan. Nulla maju selangkah, tangan kanannya terangkat. Ia meletakkan telapaknya pada pipi kiri Lan, lalu mengusap perlahan bekas darah di ujung bibir Lan. “Apakah sakit?”

Lan menggeleng kecil. Ia tetap bungkam, dan matanya menolak tatapan Nulla.

“Kau tidak biasanya emosional begini. Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu marah pada Zen setelah ia mengunakan—apa pun tadi yang dia gunakan untuk melindungi kita?”

Lan menepis tangan Nulla perlahan. Ia kemudian beranjak menuju telaga, berhenti tepat di tepinya. Pandangannya tertuju pada cermin dirinya di genangan air raksasa itu. Air mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia seketika mengerjap untuk melenyapkannya. Lalu, ia melihat Nulla sudah berdiri di sisinya.

“Aku hanya tahu bahwa ada satu orang di dunia ini yang mampu menggunakan kemampuan yang tadi digunakan Zen,” kata Lan begitu suaranya kembali. “Setahuku, tidak ada orang lain lagi yang bisa.”

“Siapa?”

Lan berpaling pada Nulla, tatapannya sayu. “Kakakku.”

Nulla membelalak, terlalu terkejut untuk memikirkan apa pun. “Ka—kakak? Kalau begitu, Zen itu….”

Lan langsung menggeleng. “Aku melihat kakakku menjemput maut demi melindungi aku dan Yue. Dengan mata kepalaku sendiri. Mati ya mati. Aku takkan mau menemukan kenyataan Kakak hidup kembali kalau pada akhirnya harus melihatnya mati untuk yang kedua kalinya. Lagi pula, mereka tidak mirip sama sekali.”

“Mungkin saja ada orang lain yang bisa menggunakan kemampuan ini. Yah, walau aku tidak tahu apa itu tadi. Apa kau pikir tadi itu dia mengendalikan udara?”

“Tidak ada sesuatu yang seperti itu. Selain api dan es, elemen alam apa lagi yang bisa dikendalikan?”

“Itu benar,” kata Sua menimpali, membuat ketiga orang yang lain berpaling padanya. “Klan Arinaz dianugerahi berkah api. Sebaliknya, berkah es menaungi Klan Verellin. Tak ada lagi yang lain. Karena itulah, kedua klan itu digariskan untuk menjadi musuh abadi. Entah sampai kapan.”

“Aku tidak pernah mendengar itu,” sahut Lan.

Sua hanya mendengus geli. “Kau pasti bawahan yang benar-benar patuh kalau sampai-sampai tak mempertanyakan apa pun. Sayangnya, aku tidak sepatuh itu. Nona Zuri juga terlalu dekat denganku sampai-sampai tak tega menyembunyikan hal-hal seperti ini.”

“Elli pernah mengatakan hal-hal semacam ini padaku,” sambung Nulla. “Tapi, kalau itu benar, lalu apa yang dikendalikan Zen tadi?” Nulla segera menoleh pada Zen, yang dibalas dengan tatapan kosong yang sama. Nulla mengernyit, lalu berpaling pada Lan.

“Waktu,” kata Lan kemudian.

Nulla membulatkan matanya. Bahkan Sua juga ikut bingung mendengarnya. “Apa?” seru keduanya.

“Yang tadi dikendalikan Zen adalah waktu.”

 

Read previous post:  
58
points
(1879 words) posted by aocchi 7 years 9 weeks ago
72.5
Tags: Cerita | Novel | petualangan | fantasi | Katalis Waktu | lcdp | tragedi
Read next post:  
90

Makin seru. Agak mengernyit dengan penggunaan kata "bongsor" di pertengahan.

*lanjut~*

80

Ada beberapa paragraf yang perlu dibenahi. Ada kalimat yang ga sesuai di sana, ga sesuai dengan inti paragraf ^^
Di bagian-bagian sebelumnya ga ada lho...

Deskripsi pertarungan kurang...
Belum terasa ketegangan ^^

Yang terakhir, Si Zen ngendaliin waktu? Ehm, aku kok belum ngerasaini ya? Di chapter sebelumnya ama di sini aku ga ngerasain elemental waktu di sihirnya... Mungkin perlu ditambahin deskripsinya

Lanjut baca :D

80

Makin keren <3
Lanjut lagi, kak~

90

ah, apik sekali. aku baru tahu ada cerita ini setelah melihat gambar2 imutnya di pesbuk. ya untuk sementara aku baca dari depan dulu dan berhubg bukan tipe pria pembantai, aku komen dikit2 aje.

sankyuu, bang cyon XD
Err, dibantai juga gak apa2 kok :3

80

lanjuuuutttt...

100

Zen~
uh... justru karena dia tidak bisa bicara saya jadi makin suka~
.
Berpetualang bersama Nona Ries dan Gie~
.
Err... saya segalak itu kah? :/
.
.
.
ups...

ini yuu, ya? O.O
wkwkwk, kau di bayangan saya begitu #kabursebelumditendangkejurang

Yuu bukan ya? :v /plak!/
.
Hum... sepertinya... mirip? /bingung sendiri/
.
Btw, saya tokoh utama berarti ya? /ge-er/

Gie bikin klonengan? O.o

Saya bukan tipe orang yang hobi bikin klonengan :P
Dan dari carana menggunakan /xxx/ kan Yuu, pasti~
#komen ga penting

90

bikin penasaran!!!! di tunggu kelan jutannya ya kak!!!!

makasih XD

90

yah...
selalu dipotong pas panas2-nya =_=a
lanjuuut~

wkwkwk, ini pembalasan
kau kan juga selalu motong MRML pas panas2nya, kure =_=a