Cermin_4

Kiki terdiam. Entah apa yang kini dia pikirkan. Senang karena pertanyaannya selama ini terjawab dan dia tak perlu lagi mengejarku dengan pertanyaan – pertanyaan yang sama setiap melihatku dan Virny berduaan. Atau mungkin marah, karena dia selama ini selalu mengaku kalau dia juga tertarik pada Virny. Entahlah. Aku bukan pembaca pikiran seperti Profesor Charles Xavier di film X-Men. Kami berdua masih terdiam. Kutatap sahabatku dengan dalam. Bibirnya perlahan berubah dari melengkung ke bawah menjadi melengkung ke atas. Wajahnya juga semula mengerut dan gelap saat mendengar pengakuanku, berubah cerah.

“Naaa, gitu dong! Itu jawaban yang selama ini selalu ditungguin Virny,” sahutnya sambil tergelak.

“Heh? Apa maksudmu, Ki?”

“Aku dapat info dari mata-mata yang dekat dengan Virny. Sebenernya gadis itu nungguin kamu buat nyatain perasaan padanya. Oleh karena itu, cowok-cowok yang nembak dia, semuanya ditolak. Itu karena KAMU-lah yang ada di hatinya.”

Aku meresapi kata “kamu” yang ditekankan oleh Kiki.

“Jangan-jangan dari cewek yang nyamperin kita tadi ya?”

“Rahasia,” kata Kiki.

“Dia cewek kamu ya?”

Aku terus mengejarnya dengan kata-kata.

“Nanti kamu tahu sendiri,” Kiki tertawa, “Eh, itu kekasihmu datang!”

Aku menoleh ke arah Virny yang menghampiri kami bersama Julia.

“Arif, jadi kita ke rumah sakit?” tanya Virny.

“Yab. Kiki, Julia, kalian mau ikut?”

Kiki menatap Julia dengan lekat. Kulihat Julia mengangguk perlahan.

“Aku dan Julia ikut juga. Eh, bukannya kamu mau menginterogasi Juwita?”

“Oh, ya! Aku hampir lupa. Untung saja kamu ingetin, Ki!”

Kulihat jam tangan kekuningan yang melingkar di pergelangan tanganku. Tinggal setengah jam lagi.

“So? Apa keputusanmu, Arif?” tanya Kiki.

“Ok, kita ke mie ayam Pak Haris dulu deh, sambil nunggu Juwita.”

“Ditraktir?” goda Kiki sambil melihat ke arahku dan Virny. Aku sadar akan tatapannya. Mungkin wajahku bersemu.

“Eh? Bayar sendiri-sendiri, enak aja,” balasku.

“Iya,,iya,,, nggak usah pake blushing gitu,” sahut Kiki sambil terkikik bersama Julia. Virny hanya terdiam menatap tingkah dua teman kami yang ajaib.

Kami pergi ke kantin tempat biasa kami berkumpul. Baik hanya aku, Kiki, dan Didit juga kadang bersama Virny dan Clarissa, pacar Didit. Ternyata Didit dan Clarissa juga ada di sana. Kami berenam membuang waktu bersama sambil menanti Juwita keluar dari kelasnya.

***

“Jangan ikut campur urusan orang tua, Rif!” bisik Juni sambil terus menahan badanku yang memberontak.

“Tapi, mereka MUNGKIN membunuh orang tuaku, Jun!” kataku histeris. Entah kenapa aku menguatkan kata itu.

“Aku tahu. Kita berdua sama-sama mendengarnya. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita masih anak kecil, Rif!” bisik Juni lagi.

“Kamu tidak tahu keadaanku, Jun!”

“Ssst... diamlah! Aku tak akan melepaskanmu hingga orang-orang jahat itu pergi.”

Tangannya yang kuat terus memegangiku. “Aku membencimu, Jun!”

Orang-orang berjas hitam keluar dari dalam rumahku. Lima orang. Aku cuma mengamati ciri-cirinya. Seorang botak dan berkaca mata. Sepertinya dia pemimpin dari kawanan itu. Kemudian, yang dua yang lain, lebih muda dari si Botak, aku pernah melihat mereka berdua di televisi, dan mereka mengaku teman ayah di Dewan saat mereka datang ke rumah kami di hari-hari sebelumnya. Yang dua sisanya, aku tidak begitu mengenal mereka. Badan mereka kelihatan besar dan kekar dari setelan jas yang mereka kenakan, mungkin pengawal dari si Botak; tangannya masuk ke dalam setelannya, seperti memasukkan sesuatu. Kusipitkan mataku saat melihat mereka masuk dalam mobil Alpard hitam yang tadi pagi mereka gunakan saat datang. Dan pergi begitu saja seperti tidak ada yang terjadi. Menghilang di balik tikungan jalan.

Juni melepaskan ikatan lengannya di badanku, sembari tersenyum dia berkata,”Sudah aman, sekarang terserah kamu mau apa.”

Kudorong tubuhnya sekuat tenaga hingga dia terjungkal. Aku berlari pulang. Dalam hati aku berdoa semoga tidak ada hal yang buruk terjadi. Aku terus berkomat-kamit, memohon pada Tuhan atas keselamatan orang tua dan adikku. Namun, doaku tak terkabul. Mata kecilku melihat ayah terduduk di atas sofa, cairan merah kental mengalir dari dahi antara kedua matanya. Keadaan ibu dan Rista, adikku yang masih berumur lima tahun, tidak jauh berbeda. Mereka terbaring di atas lantai keramik yang aslinya putih berubah menjadi kemerahan.

***

“Arif? Kenapa nangis?” tanya Virny. Didit, Clarissa, Kiki, dan Julia menatapku dengan lekat.

“EH? Masa sih?” Aku tergugup. Kuusap pipiku. Ternyata basah.

“Ah, kamu dari dulu, kalo bengong kok mesti nangis sih?” kata Virny sambil mengambil sapu tangan dari tas dan mengusap wajahku. Aku terdiam. Tak mampu berkata apa-apa. Hanya meresapi detak jantung yang menguat. Menahan desiran darah yang mengalir semakin cepat. Wajahku memanas.

“Kenapa wajahmu memerah, Rif?” tanya Virny. Kurasakan hembusan nafasnya. Kuhirup parfum yang dipakainya tadi waktu berangkat. Tubuhnya condong seakan menekan tubuhku. Belum pernah Virny sedekat itu denganku.

“Eh? Itu, Juwita udah keluar dari kelas. Didit, Kiki, tolong dicegat,” sahutku. Didit dan Kiki lepas dari ikatan pandangan ke arahku.

“Aah, dasar Arif!” keluh Kiki. Namun, mereka berdua segera berlari menghampiri Juwita. Gadis itu sedang membenarkan kaca matanya saat Kiki mengajaknya berbicara. Tangannya kemudian membenarkan jaket jeans merah yang membalut tubuhnya yang ramping, sembari berjalan ke arah kami bersama Kiki dan Didit. Rambutnya yang mengembang di atas pundaknya bergetar, seirama dengan dadanya yang bergerak naik turun.

“Terima kasih, Virny. Itu tiket VIP kamu biar bisa bebas dari semua tuduhan yang dijatuhkan padamu.”

“Oh, terima kasih. Maaf, merepotkanmu, Arif.”

Aku tersenyum. “Tenang saja. Kamu sahabat aku sejak kecil. Mana mungkin aku akan biarkan kamu dalam masalah?”

Kemudian, aku beranjak dari tempat dudukku. Kutemui Juwita dan menanyainya berbagai hal dalam posisi berdiri berjarak dua puluh langkah dari tempat Virny, Lidia, dan Julia duduk. Sesekali aku melirik ke arah Virny saat wanita bermuka bulat yang ada di depanku kini menyebut namanya. Kiki dan Didit sesekali juga menimpali pertanyaan di saat aku sedikit melupakan pertanyaan yang telah aku bayangkan. Setelah cukup lelah berdiri dan kurasakan semua jawaban telah kucatat dalam otakku, otak Didit, dan otak Kiki, aku membiarkan Juwita pergi. Kami kembali menghampiri ketiga gadis yang setia duduk menanti kami.

“OK, sekarang kita pergi ke rumah sakit. Udah keburu sore nih,” sahutku saat dekat dengan mereka.

“Pake mobilku aja, Rif. Biar cepet. Apalagi, si Kiki kan nggak bawa helm cadangan. Bisa kena tilang kalo nekat mboncengin Julia,” usul Didit. Aku mengiyakan. Kemudian kami pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut dari Nia.

***

Kuberanikan mendekati jasad ayah. Tapi aku tak berani meninggalkan sidik jari di badan beliau. Semenjak kecil, aku sudah ketagihan dengan segala macam cerita detektif. Jadi, aku tahu apa yang saat ini aku tidak boleh dilakukan dan harus dilakukan. Otak kecilku berputar. Berusaha mencari tahu siapa pria-pria yang tadi mendatangi ayah. Kupandangi jasad ayah. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kulihat tangan kanan ayah seperti menggenggam sesuatu.

Kubuka perlahan genggaman beliau. Sebuah gumpalan kertas dan kunci terjatuh dari telapak tangan beliau. Kuambil kertas dan kunci itu. Dan kurapikan kertas yang kusut itu, dan mulai membacanya. Nampaknya itu tulisan itu dibuat oleh ayah karena sudah merasakan ujung hidupnya sudah datang.

Anakku yang tersayang, Arif. Mungkin saat kamu membaca tulisan ini, ayah sudah tidak bisa lagi menemanimu bermain di kala siang dan mengajarimu belajar di saat malam. Namun, janganlah kamu bersedih, ayah sudah tahu hal ini pasti akan terjadi pada diri ayah sejak ayah mengambil keputusan untuk bekerja di dunia politik, sehingga ayah meninggalkan sebuah peninggalan untukmu, ibumu dan adikmu, Riska.

Peninggalan ini merupakan harta berharga keluarga ayah sejak berabad tahun silam. Sebuah cermin tembaga biasa yang hanya akan berfungsi pada orang-orang yang dipercayai untuk menerimanya. Mungkin kamu tak percaya akan hal itu. Tapi itulah kenyataannya. Cermin itu yang kamu pilih saat ayah dan ibu mengadakan ulang tahunmu yang pertama. Semenjak itu, ayah percaya kamu adalah seorang yang istimewa, maka dari itu, ayah serahkan peninggalan ini padamu bersama sedikit tabungan yang telah ayah sisihkan semenjak ayah memulai karir.

Jadilah anak yang kuat, nak.  Engkau  adalah tongkat bagi ayah dan ibu di saat kami mulai lemah. Dirimu adalah lentera yang akan menerangi jalan kami berdua di saat mata kami telah merabun. Kamu adalah selimut yang akan menghangatkan kami berdua di saat kami melenguh kedinginan. Itulah harapan kami, orang tuamu yang menyayangimu. Kemudian, jadilah pemimpin yang adil, bijaksana, arif, dan selalu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Bukankah itu sama seperti dalam film detektif yang biasa kamu tonton setiap minggu?

Terakhir, ayah titip ibumu dan adikmu, Riska. Tolong jaga adikmu dari orang yang mengganggunya dan pilihkan dia jodoh yang baik. Peluk sayang dan hangat dari ayahmu.

 

Tak terasa air mata mengalir dari ujung mataku menuju dagu melalui pipi. Kugenggam erat surat di tanganku dan kupeluk dengan kuat. Aku mengangguk pada diriku sendiri. Aku telah berjanji pada diriku sendiri di hadapan jasad kedua orang tua dan adikku untuk tetap kuat. Tegar menghadapi ujian yang diberikan padaku. Namun, di dalam hatiku, aku hancur. Aku juga berjanji untuk membalas semua perlakuan orang-orang laknat itu pada keluargaku. Sejak dari paling bawah hingga mereka. Tak tersisa. Tidak satupun. Aku akan mengajari mereka bagaimana merasakan rasa sakit yang kini aku rasakan. Aku ingin menimpakan pada mereka rasa sakit yang dialami oleh keluargaku saat mereka meregang nyawa.

Aku bangkit dari posisiku. Beranjak menuju ruang kerja ayah yang selama ini aku dilarang untuk memasukinya. Kubuka laci menggunakan kunci yang ditinggalkan ayah. Nampak sebuah cermin tangan. Cukup tua. Cermin itu telah berwarna kekuningan, dibingkai dalam bingkai kayu pohon oak dengan ukiran dua elang dibagian atas, dua ekor harimau di bagian bawah, dan dua ekor ular yang melilit cabang tanaman bunga dandelion dan bunga aster yang menghubungkan kedua bagian bingkai itu; dengan pegangan yang sudah agak lapuk. Kupandangi cermin itu. Dia menampakkan bayangan seseorang dengan tatapan mata yang sayu, pipi yang cekung, rambut kemerahan yang acak-acakan. Namun, bibirnya nampak melengkung menghadap bumi. Memaksaku untuk ikut tersenyum.

Aku ingin terus memandangi cermin itu. Namun, sayang sirine mobil terdengar dari luar. Nampaknya, Juni dan teman-teman sepermainanku telah menepon polisi. Aku segera bergegas mengambil berkas yang juga tertumpuk di bawah cermin itu dan menyimpannya dalam tas ransel yang biasa kubawa saat sekolah. Kemudian keluar lewat pintu belakang tanpa membuat kecurigaan. Sepertinya kebiasaanku menonton film detektif setiap pekan sedikit membantuku dalam hal ini. Tapi, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk bercanda. Aku harus melakukan cara ini untuk mengeluarkan berkas dan cermin tua itu dari dalam rumah agar polisi tidak bisa menemukan benda-benda itu.

Aku bukanlah tipe penipu. Ayah dan ibu selalu marah jika aku berbohong. Juga kata mereka, aku tak pandai berbohong. Ada yang nampak berbeda pada raut mukaku jika aku berbohong. Itu kata mereka. Jadi, setiap aku berbohong, aku justru dimarahi oleh beliau berdua, meski hal itu aku lakukan untuk membela diri. Oleh karena itu, aku harus menghindar dari polisi. Orang tua dan adikku sudah tewas di tangan kelompok orang-orang rakus. Aku harus membalas perlakuan mereka dulu. Atau kalau tidak nyawaku yang akan menjadi taruhannya.

***

Rumah Sakit Harapan Jaya berdiri megah di hadapan kami. Setelah memarkirkan mobil di tempat yang disediakan, kami segera menuju ruang IGD untuk menemui keluarga Nia, yang telah duduk dengan bingung di depan ruangan IGD, saat kami sampai di tempat itu.

Kami melihat keluarga Nia telah duduk berderet dengan teman-teman sekelas Nia. Seorang wanita yang separuh baya, seorang gadis manis berambut sebahu, seorang pria muda bercukur cepak, dan dua gadis seumuranku dengan model rambut bermacam-macam ala Korea dan Jepang, dengan raut wajah yang sayu, berbaris rapi di atas kursi yang disediakan di depan ruangan. Namun, saat kami datang, wajah dua gadis yang mengenal Virny nampak berubah. Air mukanya menjadi lebih serius dan beranjak dari duduknya.

“Heh! Mau apa kamu kesini?! Pengen nyiksa Nia lagi, HAH!” sosor salah satu gadis berkaos biru muda dan berambut hitam mengkilat yang digerai menutupi lehernya.

“Maaf, kami ke sini mau nyelesaiin masalah bukannya bikin masalah,” sahutku menengahi, menjauhkan gadis itu dari Virny.

“Ooh, jadi ini ya, cowok yang selama ini jadi pelindungnya Virny?” balas seorang gadis lain yang logat daerah Sulawesi dengan sinis kepadaku.

Kutatap tajam ke arah mata gadis yang mengatakan hal itu. Dia juga membalas dengan tatapan sinis.

“Sudah, sudah, jangan bertengkar di sini, adik-adik,” di belakang dua gadis itu terdengar seorang pria berkata dengan gaya bicara yang kharismatik. Dua gadis itu menyingkir dan muncul sesosok pria yang kuharap tak akan berjumpa lagi dengannya. Wajah yang selalu dihiasi senyuman kharismatik yang tidak ingin kutemui lagi seumur hidupku. Akan tetapi, sosok itu muncul dihadapanku lagi setelah dua belas tahun. Teman bisnis sekaligus sahabat ayahku yang telah membuat semuanya memburuk. Ternyata pria itu juga ayah dari Nia yang diserang oleh seseorang yang kini belum diketahui rimbanya.


 

Read previous post:  
30
points
(2120 words) posted by AwankoLosta 7 years 32 weeks ago
60
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | apa ajalah | Le Château de Phantasm | romansa
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer auldrey_chan
auldrey_chan at Cermin_4 (7 years 23 weeks ago)

bukannya cwe yg ikut dikantin tuh clarissa, julia ma virny
tpi knp pas menginterogasi juwita ada kalimat ;

kutemui juwita dan menanyainya berbagai hal dalam posisi berdiri berjarak 20 langkah dari tempat virny, lidia dan julia duduk.

bukannya dr tdi clarisa virny ma julia
knp tb2 ada lidia?

Writer AwankoLosta
AwankoLosta at Cermin_4 (7 years 23 weeks ago)

hoho.... ceweknya Didit itu namanya Clarissa Lidiawati... di cerita sebelumnya ada kok... :3

Writer riddigeuleuh
riddigeuleuh at Cermin_4 (7 years 25 weeks ago)
60

mending pas bagian MUNGKIN mereka membunuh orangtuaku, bagusnya huruf kapital aja semua, ini ekspresi marah kan?

Writer AwankoLosta
AwankoLosta at Cermin_4 (7 years 25 weeks ago)

marah, kalut, panik, dsb..dsb.... hmmm, ok... makasih... *editing in progress*

*salam sastra dari AwankoLosta*

Writer q_rizhaq
q_rizhaq at Cermin_4 (7 years 25 weeks ago)

kiki???..waah sama dengan namaku:)

Writer AwankoLosta
AwankoLosta at Cermin_4 (7 years 25 weeks ago)

hahahaha.... namanya sama yah? rizki juga? aseeek.... :3

*salam sastra dari AwankoLosta*