Cerpen EAT 2011 - Wangi Laut dalam Daun Kering

Kehidupan itu benar-benar menyedihkan. Seindah apa pun Tuhan menciptakan manusia, wangi hati mereka tak pernah sama. Beberapa seperti aroma angin yang bertiup di padang rumput—samar, tapi menenangkan. Terkadang seperti wangi beberapa bunga. Tapi, kebanyakan laiknya bunga bangkai. Busuk bukan main.

Teman-temanku—kalau mereka bisa disebut teman—sering menganggapku aneh hanya karena hidungku yang terlalu sensitif. Seringkali aku menciumi bau-bauan padahal tak ada yang berbau di sekitar kami. Seringkali mereka kebingungan karena aku selalu merasa pening bila berada di antara kerumunan orang. Pada akhirnya, tak satu pun bertahan di dekatku. Semuanya menjauh dan meninggalkanku sendirian. Aku tak menyesal. Aku jauh lebih suka begitu.

Matahari hampir terbenam saat aku sampai di deretan pohon di belakang SMA-ku dulu. Hanya ada satu jenis pohon di sini. Aku tidak tahu namanya. Tapi, dedaunannya cepat kering dan saat masanya tiba, akan berguguran selayaknya hujan. Suasananya menjadi hangat setelahnya.

Kudatangi salah satu yang berbatang besar, meskipun bukan yang paling besar. Aku memilih pohon yang satu ini karena aku menyukainya. Ada ceruk di antara lekukan akar yang takkan terlihat kalau tidak diamati dengan baik. Tempat sempurna untuk menyembunyikan sesuatu.

Aku berjongkok, lantas merogoh ceruk itu. Banyak daun-daun kering yang melumuri sekitar lekukan akar itu. Aku menyibaknya, dan menarik sebuah buku tipis seukuran A6 yang kubuat sendiri dengan membendel setumpuk kertas buram hasil daur ulang. Lagi, kembali kutemukan sehelai daun kering di dalam bukuku. Dan di lembar tempat daun kering itu terselip, sebuah tulisan latin yang berantakan tertera oleh tinta biru pekat. Kali ini dia menggunakan drawing pen, rupanya. Tulisannya tebal, jadi ukurannya pasti 1,0.

Kita sepakat dalam satu hal. Kehidupan memang menyedihkan, malah cenderung busuk. Seperti manusia. Kebanyakan serigala berbulu domba. Dalam hati, siapa yang tahu? Apakah kamu pun akan bisa dengan tepat menerka bau hatiku?

Aku tersenyum. Kata-katanya sarkastik, tapi aku bisa merasakan aroma yang hangat dan lembut dari helai daun yang ia sisipkan. Itu adalah aroma laut, kesukaanku. Setelah bau-bau tak menyenangkan dan beraroma negatif yang kutemui tiap aku melewati kerumunan, daun kering darinya memberiku jeda yang menyenangkan.

Aku mendengus geli. Aku iseng menyimpan buku kecil di ceruk akar pohon ini, karena aku tak bisa menyimpannya di kamar kami—aku berbagi kamar dengan dua kakak perempuanku. Dan semua barang di dalam kamar kami tak pernah aman dari satu sama lain. Selama ini, tak pernah terpikir olehku bahwa keluh kesah yang kutuliskan pada buku kecil ini akan terbaca oleh orang lain. Yang lebih tak terduga, orang lain itu membalas tulisanku. Sudah lewat beberapa lama, aku mulai terbiasa menulis untuknya. Seperti halnya kali ini.

Kurasa aku bisa menerkanya. Aroma laut menguar dari daun kering. Hangat dan lembut. Mirip seperti hati Ibu Bumi, kalau kamu tahu maksudku. Kuyakin kamu pasti juga sama seperti itu. Ah, daun kering yang begitu kamu sukai itu … kenapa selalu kamu sisakan satu untukku?

Aku mengambil daun kering itu sebelum meletakkan buku kembali ke dalam ceruk. Aku pun tersenyum.

 

***

 

Makan malam merupakan waktu yang tak pernah kusukai. Enam orang termasuk aku berkumpul di satu meja. Semua membawa masalahnya masing-masing. Meski tak diucapkan, aku seketika tahu dari bau hati mereka. Dan itu memuakkan, terutama kalau sedang berhadapan dengan makanan.

Dulu, bertahun-tahun yang lalu, waktu pertama kali aku menyadari bahwa aku bisa merasai bau hati mereka, aku muntah. Siapa pun akan merasa begitu kalau membaui aroma sesangit kemenyan yang berbaur dengan wangi mawar. Hari itu marmut kesayangan salah satu kakakku meninggal. Sementara kakakku yang lain sedang jatuh cinta.

Tiba-tiba bau busuk memenuhi udara. Aku seketika menengadah. Mataku tepat menuju kakak lelakiku satu-satunya itu. Sorot matanya tak beda dari sorot mata orang-orang yang juga kubaui busuk. Kedengkian. Kebencian. Dendam. Apa yang sebenarnya sudah terjadi pada kakakku itu? Aku tak berani bertanya. Aku buru-buru meninggalkan meja. Selera makanku hilang. Siapa pun takkan tahan berada sedetik lebih lama bersama dengan bau sebusuk ini.

“Chi.” Suara ibuku menghentikanku. “Makanan kok nggak dihabiskan. Mubazir.”

Aku hanya menggeleng, lantas minta maaf. Aku tak tega memberikan alasan. Takut kakak lelakiku tersinggung. Lagi pula, mereka toh takkan percaya. Seperti yang sudah-sudah.

Aku masuk ke dalam kamar, mengambil daun kering yang tadi sore kuambil dari dalam buku, lalu memanjat tangga yang terpasang di dipan bertingkat dua kami. Kubuka jendela lebar-lebar dan berbaring miring. Angin malam perlahan masuk dan menyapaku lembut. Membawa rasa laut kepadaku. Sayang, rumah kami berada agak di tengah kota, membuatku gagal menyimak lagu ombak dari arah selatan. Aku harus puas hanya dengan aromanya.

Kupandangi lamat-lamat daun kering itu. Aku berencana melaminatingnya besok, lalu melubanginya untuk kukaitkan pada ikat rambutku. Aku seketika bangkit. Tidak. Kurasa yang satu ini tak perlu laminating. Aku sudah punya banyak.

Aku merogoh bawah bantalku, mengambil banyak daun kering yang sudah berlaminating. Sudah kulubangi dan kugunting. Lalu, kubuka ikatan kepangku. Kukaitkan dua di antaranya di ikat rambut warna hijau itu. Paduannya manis, membuat kedua sudut bibirku terangkat. Tipis.

Aku melipat tangan di bingkai jendela. Daguku menyusul sesudahnya. Kupejamkan mata, mencoba membau laut agak jauh di depan sana. Tak lama, bau itu menguat. Pekatnya bertambah drastis hingga cukup untuk memaksaku membeliak. Beradanya dekat. Aku yakin. Tanpa pikir panjang, aku melongok keluar jendela—perbuatan yang ceroboh mengingat aku berada di lantai dua tanpa beranda.

Sebayang hitam mengelebat di jalanan depan rumah. Aku mengernyit. Bulan sedang sembunyi di balik awan, memaksa bumi di bawahnya terlumur bayangan sekarat. Aku tak bisa melihat siapa dia. Tapi, sebayang hitam itu berjalan cepat sekali. Bau laut yang menguar darinya benar-benar menyenangkan. Aku sudah bilang bahwa itu adalah bau kesukaanku, kan? Senyumku merekah. Ini sudah lebih dari cukup untuk mengusir bau busuk hati kakak lelakiku. Aku akan bisa tidur tenang malam ini.

 

***

 

Daun kering pohon ini bagus. Awet untuk dijadikan pembatas buku. Kupilih yang terbaik buatmu. Selalu begitu, agar kamu ingat. Kamu bilang, hatiku berbau laut. Apa artinya buatmu?

Aku tersenyum. Bau laut sangat berarti untukku. Terakhir kali kucium—selain sebayang hitam yang melewati rumahku semalam—adalah mendiang nenekku. Beliau meninggal tiga tahun lampau, meninggalkan ikat rambut hijau yang berbau sama seperti beliau. Nenek tak pernah menistakan kehadiranku. Tak seperti semua yang meninggalkanku karena aku aneh.

Pemilik aroma laut selalu bisa melihatku saat aku tak terlihat, jawabanku untuknya.

Selang beberapa hari, tak kudapati tulisan darinya. Aku tak tahu apa yang terjadi. Kuharap bukan hal buruk. Entah bagaimana, perasaanku tidak enak. Terasa ada yang hilang. Ini sedikit berbeda dengan firasat buruk. Apakah kerinduan?

Aku berjalan gontai sore ini. Setiap hari aku terus menulis untuknya, tak sekali pun dibalas. Aku menghela cepat. Ketika kutengadahkan kepala, hujan daun kering menyambutku. Mau tak mau memaksaku tersenyum. Aku memejam dan membuka telapakku. Bisa kurasakan beberapa daun kering mendarat di sana. Aku membuka mata. Sambil tertawa kecil, kujatuhkan daun-daun kering dari telapak tanganku. Bau laut samar-samar menyertainya. Tawaku hilang.

Aku berlari menuju pohon dan mengambil bukuku. Aku tersenyum lega saat menemukan daun kering di sana. Juga tulisan latin berantakan darinya. Dia…, dia…, dia…. Aku bahkan tak tahu namanya.

Helai-helai keemasan meluruh deras. Mungkin akibat sinar jingga dari timur. Pertama kali aku datang sepagi ini. Mungkin karena ketaksabaran. Salahku sendiri. Dipaksa ikut acara keluarga. Biasanya mereka tak sudi memedulikanku. Tetap saja, tak bisa kutolak. Maaf. Apa kamu masih merasa tak terlihat? Rasanya aku ingin benar-benar bisa melihatmu.

P.S. Namaku Ru.

Aku tertegun. Di satu sisi, aku senang karena bisa tahu namanya. Di sisi lain, aku bimbang. Bukankah ini berarti ajakan untuk bertemu? Aku menggeleng pelan. Tidak mungkin.

Ru, terima kasih sudah memberi tahu namamu. Aku jadi benar-benar merasa memiliki teman. Kamu tahu? Saat ini, aku juga melihat helai-helai keemasan yang berguguran. Mungkin karena sinar jingga dari barat. Kita … selalu datang ke tempat yang sama. Tapi, waktunya tak pernah tepat. Mungkin kita tak berjodoh.

P.S. Namaku Chi.

Besoknya, di waktu yang sama, kudapati jawaban darinya. Aku hanya bisa membeku sesudahnya.

Waktu tak pernah mengatur jodoh. Itu hanya alasan rekaan. Kemauanlah yang mengatur jodoh. Apakah kamu punya kemauan itu, Chi?

 

***

 

Kuhentikan langkah sejenak di muka pelataran kosong di belakang SMA-ku dulu, mencoba menikmati angin kering yang dingin. Aku sudah lupa tanggal akhir-akhir ini. Baru saja teringat bahwa musim hujan sudah tiba. Pantaslah kalau siang ini teriknya bukan main. Tak lama lagi pasti hujan. Dan aku tak bawa payung. Sempurna.

Aku mendengus geli, menertawakan kecerobohanku sendiri. Biarlah.

Ah, bahkan sampai sekarang, aku belum memberikan jawaban pada pertanyaan Ru. Bukan karena aku tidak tahu jawabannya. Justru karena aku tahu, maka aku menjadi bimbang. Aneh, bukan? Orang lain akan bingung saat tidak bisa menemukan jawaban. Aku justru sebaliknya. Aku pun tahu apa yang hendak ia katakan. Tapi, ini terlalu cepat. Untukku, juga untuknya.

Kuhentak kakiku keras. Lantas menampar kedua pipi sendiri. Mungkin ini kebiasaan buruk. Apa boleh buat. Aku harus sadar, melamun di tempat seperti ini bukanlah hal bagus.

Begitu aku mencapai pohon, kuambil buku kecilku. Ada perasaan kecewa yang terlintas saat tak kulihat apa pun terselip. Bahkan juga tulisannya. Apakah tadi pagi ia tidak datang? Atau justru karena aku tak menuliskan jawaban apa pun, ia tak jadi menulis apa yang hendak ia tulis? Kemungkinan kedua lebih mungkin terjadi. Aku menghela panjang. Ini kesalahanku sendiri.

Aku sudah mengangkat pulpen, siap menulis. Tapi, tanganku terhenti. Apa yang harus kutulis?

Tanpa sadar, tanganku yang bebas meraih ikat rambut hijau yang tengah mengikat kepangku. Kedua daun kering berlaminating itu kuusap-usap lembut. Entah bagaimana, aroma laut langsung menyerbak begitu saja. Apakah laminating ini tak cukup kuat untuk menahan sisa-sisa aroma yang melekati kedua daun kering? Apa pun penyebabnya, aku tak terlalu peduli. Aku sudah mendapatkan kekuatan yang kubutuhkan untuk menulis apa yang benar-benar ingin kusampaikan.

Meski kemauan membuncah, bila Tuhan tak memberi kesempatan, hasil akhirnya akan tetap nol. Tapi, begitu pun tak apa. Nol adalah permulaan segala sesuatu, bukan?

Aku tersenyum. Itu jawaban yang cukup. Kuharap.

Aku meletakkan buku kecilku kembali ke dalam ceruk, lantas bangkit perlahan. Bau laut yang tadi kucium, membuat langkahku begitu ringan, sampai-sampai tak kusadari bahwa aku sudah berada di ujung pelataran kosong ini. Saat aku hendak keluar, aroma laut menguar pekat. Aku membeku saat seseorang melewatiku.

Sedetik…, dua detik…, bahkan sampai terasa selamanya…, aku tak sanggup bergerak. Saat kekuatanku kembali, aku berbalik. Mendapati punggung tinggi tegap lelaki itu, aku tersenyum. Tidak mungkin itu Ru. Ia selalu datang pagi-pagi, tak pernah mengingkari jadwalnya. Tak ada alasan baginya untuk datang lebih siang. Senyumku merekah. Aku senang ada orang lain yang memiliki bau hati yang begini menyenangkan selain Nenek dan Ru. Dan sebayang hitam yang lewat di depan rumahku tempo hari.

Kurasa, anggapanku salah. Dunia ini tak sebusuk yang terlihat. Masih ada bau laut yang langka. Mungkin tak hanya di negeri yang dipenuhi tikus busuk ini. Dunia ini sangat luas. Aku akan berusaha untuk mulai percaya. Bahwa ada banyak orang lain selain Ru di belahan dunia lain.

Untuk pertama kalinya, aku senang sudah keliru. Aku berpaling dari lelaki tinggi berambut ikal itu. Tapi, tak juga aku beranjak. Aroma hatinya amat menyenangkan. Aku ingin menikmatinya lebih lama.

Tak lama, matahari meredup. Aku menengadah. Awan kelabu berarak pelan, namun pasti. Aku masih tak beranjak saat gerimis mulai turun. Lagi, untuk pertama kalinya, aku senang karena tak membawa payung. Kutengadahkan telapakku, menerima dengan tulus air mata langit yang hangat dan lembut. Entah bagaimana, aroma laut menguat, membuatku mulai tertawa.

Aku benar-benar lega.

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
100

Narasi oke, ide bagus, penokohan keren. Nothing to do here *pake jetpack mengunjungi cerita selanjutnya :)

90

ka ao.. ps itu apa ya?

#kenademamkaao

ahahaha XD
p.s. itu post script
biasa dipake kalo ada catatan tambahan dalam sebuah pesan tertulis :)