[Katalis Waktu] Fragmen 8 - Tangan Kanan Waktu

“Bisakah kalian menjelaskan padaku apa arti semua ini?” Sua bergantian menatap Fiana dan Nulla bingung. Tanpa sadar ia berdiri. “Utusan Waktu itu apa? Apa hubungannya dengan lambang klan kami?”

“Api Putih milik Klan Arinaz dan Es Hitam milik Klan Verellin.” Fiana tersenyum getir, lantas berdiri dan mondar-mandir ruangan dengan langkah pelan. “Bagaimana keduanya bisa menjadi musuh abadi? Aku sangat ingin tahu.”

“Kau tak menjawab pertanyaanku.”

Protes Sua menghentikan langkah Fiana. Wanita itu menoleh dan tersenyum lembut. “Aku sedang menjawab pertanyaanmu.”

Sua tidak bicara lagi. Ia menunggu wanita bergaun putih itu untuk melanjutkan.

“Sejatinya, kedua energi murni itu berasal dari pangkal yang sama, bernama waktu. Keduanya diwariskan secara terpisah kepada dua keluarga agar tercipta keseimbangan. Jika keseimbangan itu runtuh, tugas Utusan Waktu-lah untuk memperbaikinya.”

“Keseimbangan apa?”

“Api Putih melambangkan kehidupan. Es Hitam melambangkan kematian. Sama seperti cahaya dan kegelapan, keduanya takkan ada tanpa satu sama lain. Keduanya ada untuk saling melengkapi, tapi bukan untuk saling membaur.”

“Saling membaur? Apa maksudmu?”

“Pembauran perasaan.” Fiana mondar-mandir kembali. Senyuman dan sorot matanya tampak sayu. “Kita menamainya cinta.”

Sua hanya terperangah. Ia kemudian menoleh pada Nulla meminta kepastian, yang segera dibalas dengan helaan panjang. Benak Sua bergerilya menelisik setiap kemungkinan yang bisa ia pikirkan tentang masalah yang menjerat nonanya. Benarkah semua itu berkaitan dengan cinta? Yang benar saja, Sua takkan mau mempercayai hal semacam itu. Sua menengadah kembali kepada Fiana. “Apa ini masuk akal? Apa kau mencoba mengatakan bahwa Nona Zuri terjerat masalah emosional seperti itu?”

“Apa pun yang melibatkan kekuatan kehidupan dan kematian, tidak pernah masuk akal.”

“Kalau begitu, siapa? Kepada siapa nonaku menaruh perasaan? Apakah laki-laki bernama Ellial itu?”

Baik Fiana, maupun Nulla, tak menjawab. Keduanya hanya saling bertukar pandang, lantas membuang napas cukup lama. Reaksi itu tak memuaskan Sua. Gadis itu seketika melotot dengan kedua bibir dimajukan. Tanda ia sedang menuntut jawaban. “Kenapa kalian diam saja? Ini benar-benar tidak masuk akal.”

 

***

 

Secara fisik dan jiwa, mereka bukan orang yang sama. Tapi, bisa kukatakan padamu, Lan. Zen memiliki kekuatan, kesadaran, dan ingatan Lu Jin.

Seraya kata-kata itu terngiang-ngiang di benak Lan, ia berjalan mendekati Hutan Kabut, tempat sesosok punggung berada tegap di sana. Lan berjalan amat pelan. Kesunyian tempat itu begitu pekat, membuatnya bahkan mampu mendengar degupan jantungnya sendiri. Matanya yang bergetar, tak lepas sesaat pun dari sesosok punggung lebar di depannya. Pada jarak setombak dari lelaki itu, Lan berhenti. Ia seketika menunduk.

“Bagaimana kakakku meninggal?”

Lan mengangkat tangan untuk menutup mulutnya sendiri. Tanpa disadari, pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Saat Zen memutar tubuh ke arahnya, Lan menengadah. Entah bagaimana, ia merasa lega tidak lagi menemukan kekosongan di dalam mata hitam legam lelaki itu. Tapi, ia tetap merasa tidak tenang. Sebab, sorot mata yang menatapnya tanpa berkedip itu tak terbaca. Rasanya seperti menatap lautan dari ketinggian. Kalau tidak berhati-hati, bisa terjatuh ke dalamnya begitu saja oleh kekuatan lautan itu sendiri.

Selang beberapa lama, akhirnya Lan mampu mengerjap sekali, lantas memalingkan wajahnya ke dalam hutan. Ia merasakan kematian dari sana, tapi ia tak peduli. Lebih baik begitu daripada menatap langsung mata itu.

“Apakah kakakku mengalami kesakitan saat itu?”

Zen maju selangkah, lantas meraih tangan kanan Lan dan membaringkan telapaknya hingga menghadap ke atas. Di sana, ia menggambar wajah yang tengah tersenyum dengan jari telunjuknya. Lan mengangkat wajahnya. Ia masih belum bisa membaca arti tatapan Zen, tapi Lan tahu mata itu menyorot tajam padanya bukannya tanpa makna.

“Jadi, kakakku tersenyum? Apa dia bahagia?”

Tidak mengangguk, tidak pula menggeleng, Zen melepaskan tangan Lan, lalu maju lebih dekat. Tatapan yang masih tak terbaca olehnya itu membuat Lan waswas. Refleks, ia mundur perlahan menjauhi Zen. Tak butuh waktu lama untuk Lan menyadari bahwa lelaki itu mengimbangi langkahnya. Lan terhenti tiba-tiba. Punggungnya baru saja mengenai sebuah pohon. Lan seketika menunduk demi menemukan sepatu lusuh Zen sudah hampir tak berjarak dengan sepatunya sendiri.

Udara hangat menyapu dahi Lan perlahan. Tanpa mendongak, Lan tahu bahwa wajah lelaki itu tepat terarah padanya, mungkin jaraknya hanya satu kepalan tangan. Atmosfer beku bercampur hangat berlesakan di antara mereka. Sama seperti atmosfer yang selalu timbul tiap kali Lan merasakan hawa keberadaan Lu Jin. Karena itulah, meskipun bisa, Lan tak ingin menyingkir. Kerinduan pada sosok kakaknya terlalu besar untuk bisa diabaikan.

Lan memberanikan diri menengadah. Ia tak peduli pada wajah yang berhias beberapa torehan luka yang saat ini tengah mendekat ke wajahnya. Perhatian Lan sudah tersita oleh sorot misterius yang begitu menusuk matanya itu. Dalam posisi seperti itu, setiap wanita hanya akan memikirkan satu kemungkinan tentang apa yang akan dilakukan lelaki di hadapannya. Seharusnya tindakan kurang ajar itu sejak tadi sudah berhasil membuat Lan mencabut belatinya, tapi ternyata tidak. Lan tak merasakan tanda bahaya sama sekali. Jantungnya memang berdetak lebih cepat dari biasa, tapi tak ada hubungannya dengan firasat buruk. Ini sesuatu yang lain, yang lebih mirip seperti perasaan hangat yang biasa ia rasakan bersama Lu Jin dan Yue di masa lalu. Mungkin lebih. Refleks, Lan memejam.

Sebuah sapuan hangat menyentuh kening Lan pelan. Kasar dan lebar. Lan langsung tahu bahwa itu adalah dahi Zen. Tak terlalu lama, rekaman-rekaman kejadian menyerbu benaknya. Lan tahu semua kilasan itu berasal dari masa lalu karena seuntai senyum Lu Jin yang kerap menghiasi gambaran-gambaran itu. Tak terkecuali Lu Jin yang masih di usia pertengahan belasan tahun, yang kala itu sedang berada di ambang kematian.

Lan mengenali tempat itu. Desa yang sudah ditinggalinya bersama Lu Jin dan Yue selama lima tahun. Kebersamaan yang singkat, tapi lebih bermakna dari segalanya. Lu Jin tampak di hadapannya. Seperti gambaran Zen pada telapak tangannya, pemuda itu tengah tersenyum lembut, tak memedulikan darah yang telah mengalir dari sudut bibirnya. Lan sadar, pemuda itu menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng untuk melindungi dirinya dan Yue. Hanya sesaat, lantas senyum itu lenyap bersama dengan tubuh Lu Jin yang memudar bersama angin, dalam arti sebenarnya. Sebuah cahaya putih menguar dari tubuh Lu Jin yang mulai lenyap. Tak lama, cahaya itu melesat pergi menjauhi desa yang sudah hancur itu.

Adegan berganti ke tempat yang tak dikenali Lan—sebuah hutan pinus yang memutih oleh salju. Seorang anak laki-laki awal belasan tahun tengah berjalan terseok sambil memeluk diri dengan mantel tipis yang membalut tubuh kurusnya. Wajah dan tubuhnya penuh luka. Mata hitam sipitnya nyaris tak mampu lagi terbuka untuk melihat jalan. Ia bergegas, tak peduli meski sekujur tubuhnya menggigil hebat dengan napas yang berat karena udara beku.

Dengan cepat, sebuah cahaya putih melesat ke arahnya. Saat anak laki-laki itu menyadari apa yang terjadi, semuanya sudah terlambat. Cahaya itu merasuki tubuhnya, menyiksa benak, hati, dan jiwanya dengan kilasan ingatan yang bukan miliknya. Dengan pintas kesadaran yang bukan miliknya. Dengan kecepatan yang tak terbayangkan, sebuah kekuatan aneh merasuki setiap inchi tubuhnya. Kekuatan itu terlalu besar untuk diemban tubuh kecilnya yang kurus, hingga membuatnya tak bisa bereaksi lain kecuali menyalurkan tiap kesakitan yang dideritanya dalam bentuk jeritan yang menggema ke sepenjuru hutan. Tak lama, ia roboh tak sadarkan diri.

Dalam waktu singkat, dua orang pria bertubuh bongsor mendekat, lantas salah satunya menggendong anak lelaki itu di bahu. Ketiganya kembali ke tempat tadinya mereka berasal—sebuah pertambangan di lereng satu-satunya gunung kawasan itu. Lalu, semuanya kembali gelap.

Lan membuka mata, bersamaan dengan dahi Zen yang mulai menjauh. Meski begitu, Lan masih bisa merasakan napas hangat lelaki itu secara berirama menerpa wajahnya. Mereka kemudian bersitatap. Lama, dengan pemahaman yang mulai saling menjalin.

Zen mundur selangkah, lantas berbalik dan berjalan menjauhi Lan. Terkejut dengan reaksi itu, Lan berjalan cepat mengejarnya, lalu mengulurkan tangan untuk meraih bagian belakang mantel Zen, memaksa lelaki itu berhenti. Mereka lama berada dalam posisi itu. Keheningan yang disertai hawa kematian di sekitar mereka sudah lebih dari cukup untuk menyiksa batin Lan.

Begitu menemukan suaranya, Lan berucap lirih, “Anak laki-laki itu … apakah kau?”

Pertanyaan retoris. Meski Zen tak bereaksi, Lan sudah tahu jawabannya.

“Saat ingatan itu ditanamkan, apakah sesakit itu? Apakah kau membenci kakakku karena itu? Apakah kau membenciku karena berada dalam ingatan itu?”

Kali ini Zen tak lagi bergeming. Ia berbalik pelan, lalu diam, seolah menunggu Lan untuk memastikan sendiri dengan matanya. Tapi, gadis itu masih tertunduk. Akhirnya, tanpa membuang waktu, Zen mengarahkan jemarinya pada wajah Lan. Ia lalu mengusap lembut hidung Lan dengan amat perlahan. Saat Lan menengadah, Zen menolak tatapan Lan dan berbalik pergi.

Lan tidak mengejar Zen kali ini. Usapan barusan membuatnya teringat masa lalu. Lu Jin selalu melakukan itu tiap kali Lan bertanya apakah ia melakukan kesalahan atau tidak. Tanpa bicara, kakaknya selalu berhasil menyampaikan pesan bahwa ia tak pernah mengartikan usapan itu sebagai “ya”. Lan pun tahu, itu juga yang dimaksud Zen. Lelaki itu tidak membenci kakaknya, ataupun dirinya. Walaupun Lan tidak yakin apakah jawaban yang sama berlaku untuk pertanyaan yang pertama.

 

***

 

Sua buru-buru mengejar Nulla yang hendak kembali ke bangunan tempat mereka tadi beristirahat. Ia tahu wanita itu hendak beres-beres, berhubung tak lama lagi mereka segera meninggalkan tempat itu. Belum sampai di muka pintu, tangan Nulla telah terjamah Sua. Nulla seketika berbalik, lantas mendengus cepat begitu tahu siapa yang baru saja menghentikannya. “Jangan pertanyaan itu lagi.”

“Fiana tidak mau menjawabku. Apa kau pun juga akan mendiamkanku?”

Nulla diam. Ia hanya tersenyum lemah sambil mengangkat tangan meraih pipi kiri Sua. Diusapnya pipi itu dengan jempolnya perlahan. Sua membiarkannya. Ia terlalu penasaran untuk merasa terganggu.

“Praduga tanpa diimbangi bukti yang nyata sangatlah berbahaya. Kami hanya bisa menebak. Tapi, hati orang siapa yang tahu? Nanti kau bisa menanyakannya sendiri saat bertemu.”

Sua tahu kata-kata Nulla tidak salah. Tapi, ia juga ingin mendengar penilaian wanita muda di hadapannya itu. “Hanya praduga kecil tak masalah untukku.”

“Tidak apa-apa bagimu, apa-apa bagi kami.”

“Tapi—”

Sua seketika bungkam saat menyadari perhatian Nulla tidak lagi terarah padanya. Wajah di hadapannya itu sekarang tampak cemas. Ia langsung mengikuti arah pandangan Nulla, demi menemukan Lan yang tengah berjalan lambat sekali menuju mereka. Sua mengangkat sebelah alisnya. Apa yang terjadi?

Saat Nulla bergegas menjemput Lan, Sua mengikutinya. Dan sekarang, ia bisa melihat lebih jelas mimik wajah gadis berambut pendek itu. Mukanya tampak lusuh dan matanya hampir bengkak. Ia seperti ingin menangis, tapi ditahannya mati-matian.

“Ada apa?” tanya Nulla cemas.

Lan hanya menggeleng-geleng pelan.

“Mana Zen?”

“Pergi,” jawabnya singkat.

“Apa maksudmu ‘pergi’?” Kali ini Sua yang bertanya.

“Aku tidak tahu. Dia terus saja berjalan masuk ke hutan.”

“Untuk apa dia ke sana? Ada jalan kecil yang lebih aman di belakang Kota Mati ini.”

“Tak perlu mencemaskannya.” Suara lembut yang dingin itu mengejutkan mereka bertiga. Fiana tengah berjalan menuju mereka. Namun, tak tampak selengkung senyum pun di wajahnya. Ditatapnya ketiga gadis di depannya dengan tenang, tapi juga tajam. “Zen hanya sedang melacak jejak.”

“Kenapa harus masuk ke hutan?” tanya Sua.

Fiana diam. Ia hanya mengalihkan pandangan pada Nulla. Fiana mulai membuka mulut, tak memedulikan gelengan Nulla yang menyuruhnya tak menjawab. “Keberadaanku menghalanginya.”

“Apa? Kenapa?”

Fiana kali ini benar-benar tak menjawab, maka Lan mengganti pertanyaannya. “Siapa yang dia lacak? Zuri Arinaz?”

“Bukan. Dia sedang melacak Ellial.”

“Tuan Ellial? Tapi, bukankah yang kita cari—”

“Melacak Elli jauh lebih mudah, Lan. Ketakseimbangan energi di dalam tubuh Elli sudah begitu kacaunya. Jadi, lebih mudah dideteksi oleh Zen.” Nulla berhenti sejenak untuk mengambil napas. “Si Bodoh itu … salahnya sendiri karena nekat menyusupkan energi Api Putih ke dalam tubuhnya bahkan sebelum dia genap sepuluh tahun. Pertama, dia nyaris mati gara-gara itu. Kedua, sekarang energi dalam tubuhnya jadi sangat kacau.”

Lan sadar, energi Api Putih itulah yang dulu menyelamatkan dia dan Yue. Energi itu pulalah yang disebut-sebut Zerua sebagai energi terkutuk. Apakah karena mereka pewaris energi Es Hitam, maka energi selain warisan klan dianggap terkutuk? Lan tidak mau memikirkan itu. Ia mendengus getir. Sungguh ironis, energi milik Ellial yang dulu menyelamatkan dua anak kecil yang kemudian mengabdi padanya, sekarang malah berbalik digunakan untuk menemukannya.

Setelah berselang agak lama, Zen kembali kepada keempat orang yang menunggunya. Begitu sampai, ia menjulurkan telapak tangannya dan menggambarinya dengan jemari dari tangannya yang lain—sebuah jajar genjang dengan sebentuk tetesan air di tengahnya. Kecuali Sua, tiga orang yang lain hanya saling bertukar pandang.

“Tidak mungkin,” kata Nulla kemudian. “Dia tidak akan diterima di sana.”

“Aku rasa tidak begitu. Pemilik Api Putih ada bersamanya, mereka takkan punya pilihan lain.” Lan seketika menoleh pada Fiana. “Benar, kan?”

Senyum tipis kembali terhias di wajah Fiana saat ia mengangguk kecil.

“Sebentar,” sela Sua, membuat keempatnya menoleh padanya. “Apa ada seseorang yang bisa menjelaskan apa yang terjadi padaku? Nonaku ada di mana sekarang?”

“Lambang itu adalah milik sebuah keluarga penyembuh yang terkenal seantero negeri-negeri utara. Mereka tinggal di kota kecil bernama Mevara.” Nulla kemudian mengerutkan kening, kecemasan tampak kembali di wajahnya. “Ya ampun, itu kan dekat sekali dengan Kissen.”

“Tidak hanya dekat.” Lan melipat tangan, lalu menghela panjang. “Kita juga harus melewatinya untuk mencapai Mevara.”

“Perlukah kita menyamar, Lan?”

Lan mendengus kesal sambil melirik Nulla tajam. “Kau yang harusnya menyamar, bukan aku. Kau yang sudah menghancurkan kota kecil itu, bukan aku. Ingat?”

 

Read previous post:  
47
points
(2223 words) posted by aocchi 7 years 8 weeks ago
67.1429
Tags: Cerita | Novel | petualangan | fantasi | Katalis Waktu | lcdp | tragedi
Read next post:  
90

Hoo, iya, emang keju kok. Tapi karena kak Dya yang bikin, kejunya terasa sangat sangat enak, jadi jangan khawatir. <3 <-- *baca komen si kak june*

Aku jadi ingat belum bilang begini, tapi bahkan setelah sampai sini, soal karakternya si Fiana masih belum gitu jelas buatku.

*lanjut*

90

Eksekusi di bagian flashback mantap!
^^

Pada bagian akhir dialognya rada kurang enak...
Entah mengapa, rasanya ada yang miss di situ...

Lanjut baca!

90

makin seruuuuu..... lanjut lanjut...

*gigit meja*
*eh*

keju itu apaan ya??
zen tu alat pelacak yg mantabs ya,.
#maap komen ga jelas..

#aqmaublajarni
“Tapi―” ga plu pake koma ya.. trus mksudnya apa? bedanya ma titik 3 apa?
“Apa?” tanyaku. nah tanyaku-nya pake kapital ga?

maap, malah tanya ga jelas..

100

uhuk!
bos meong... uh...

adaapainiadaapa?
bener kan ada yang salah Q_Q

Lupakan yg itu.
.
Btw, tadinya kan Lan galau gitu tuh? Kok tau2 mendadak kayak gak ada apa2? Tadinya saya kira pas Zen balik Lan bakalan agak gimana gitu mengingat apa yg terjadi sebelumnya.

gyaaa, lupa nyantumin bagian itu X(
oke, bahan editing
akhirnya ada cabe <3

90

eng... jadi adegan ini yang kamu cemaskan jadi keju ya?
buat saya nggak keju ah, nanggung malah. kuraaaang!
*plaaak!*
*mulai kena serangan gatel gara2 inget cerita sendiri*
.
lanjuuut <3

gyahahahaha, sengaja saya bikin nanggung, biar yang baca pengen gigit meja *plak
tapitapitapi ... yaaaay, ternyata gak kejuuu *gelindingan seneng*