Jodohku, itu kamu ! (part 1)

 

Kutarik nafasku dalam-dalam. Terlihat samar-samar garis finish di depan mataku yang seolah memanggilku untuk segera datang menerjangnya. Suasana lapangan yang awalnya lumayan ramai, sekarang agak lengang karena beberapa pelari sudah menyerah di awal pertandingan. Sambil ter-engah kutolehkan wajahku melihat seseorang yang berada tepat di sebelahku. Ia ternyata juga sedang menatapku. Kami saling mendahului, saling melempar pandangan tajam, dan sama-sama tak ingin mengalah satu sama lain. Aku mendengus kesal. Ternyata nekat juga orang ini. Wajahnya sudah merah padam namun pandangannya tetap saja meremehkan.

Bisa kupastikan kini aku beberapa langkah lebih depan dibanding dirinya. Suatu hal yang tak pernah kusangka-sangka sebelumnya, orang itu tiba-tiba membaringkan tubuhnya di jalan dan enggan untuk kembali berlari. Aku menoleh bingung ke arahnya. Alisku mengerut meminta penjelasannya namun ia hanya diam saja. Yang jelas, aku bingung dan bisa kurasakan kaki ku tiba-tiba melemah dan kemudian ambruk. Aku berbaring di jalan sambil mengatur nafas ku yang tersengal-sengal. Tidak ada yang menang, dan tidak ada yang kalah , persis seperti kesepakatan kami berdua untuk tidak terlalu menjatuhkan satu sama lain di depan teman-teman.

Well sebenarnya ini adalah pertandingan untuk membuktikan bahwa perempuan juga bisa sehebat lelaki. Orang yang menantangku ini adalah seorang yang sangat keras kepala. Ia tak segan untuk mencemooh jika tidak bisa membuktikan sesuatu yang real di depan mukanya. Kali ini aku tersenyum puas. Setidaknya, untuk besok dan selanjutnya tidak akan ada lagi penghinaan atas nama gender. Kulihat teman-teman bersorak kecewa karena tak ada pemenang untuk kali ini. Mereka akhirnya bubar dan meninggalkan lapangan.

“Ka-u sudah pu-as Gerald ?” Ucapku berpaling ke arah belakang. Kulihat wajahnya penuh dengan peluh dan terlihat jelas bahwa ia sedikit menahan kekecewaan. Gerald menatapku kemudian memalingkan wajahanya. Ia tidak menjawab dan hanya melanjutkan tarikan nafasnya. Lengannya melipat di belakang kepala dan kembali berbaring. Wajahnya menatap lurus di dahan pohon yang kini mulai sedikit rapuh.

“Seperti ucapanku kemarin, aku akan mengalahkanmu” Sebenarnya aku kurang suka jika saat aku bicara, lawan bicara ku kurang memperhatikan. Namun apa boleh buat, kali ini Gerald lah yang aku hadapi. Satu-satunya musuh terbesarku saat ini. Kira-kira akan jadi seperti ini lah jika kami disatukan, pasti tidak akan cocok.
Kulihat raut mukanya terlihat agak kesal, namun akhirnya ia membuka suara. “Baiklah,. Apa yang kau mau dariku hah ?” Ucapnya tanpa menoleh sedikitpun.

“Tidak perlu! Yang jelas, aku tak akan memafkanmu jika kau menganggapku lemah lagi!” Ancamku garang lalu beranjak berdiri. Aku memang tidak ingin meminta apa-apa darinya. Bagiku, pergi sejauh-jauhnya dan tidak mempedulikannya lagi adalah satu-satunya cara yang kuinginkan saat ini. Ya, aku harap semenjak kejadian ini aku tak akan berjumpa lagi dengannya. Jujur saja jika lama-lama berada di dekatnya membuat darahku selalu naik, dan aku tak yakin bisa mengontrol di setiap emosi.

Kulangkahkan kakiku, ingin secepatnya menjauh darinya.
Satu langkah, dua langkah, tiga …
 “Nayla !” Panggil Gerald. Alisku sedikit berkerut, langkahku berhenti sejenak untuk memastikan apakah benar dia yang tengah memanggilku. Badanku tetap tidak berbalik. Suara itu menghilang, aku berbalik dan menatap mata Gerald dalam. Terlihat jelas ia sedikit frustasi dan Wajahnya persis seperti seseorang yang mau bunuh diri . Aku sedikit menahan tawa. Belum pernah melihatnya seperti ini.
 “Apa kau mau pulang sekarang? ” Gerald menghentikan ucapannya karena sedikit ragu. Ia menunduk sebentar. Lagi lagi alisku berkerut dibuatnya.

“Tentu saja. Aku tidak tahan berada di dekatmu. Memang Kenapa?” Aku bicara apa adanya. Tidak ada yang kututup-tutupi kali ini. Kulihat ia mendengus sebal dan tertawa tipis.
“Baiklah pergilah. Menjauhlah dariku!” Wajahnya Nampak sedikit emosi.
 Entah perasaanku saja atau tidak, yang jelas aku merasakan perubahan yang cukup besar pada ekspresi wajahnya saat awal menanyakanku dengan sekarang saat mengusirku menjauh. Apa peduliku? Memang ini yang kuinginkan. Aku menggelengkan kepalaku pelan. Geraldo Adya Utama, kau memang orang paling menyebalkan yang pernah kutemui !!

 

“Nayla?!” Sebuah suara yang terdengar sangat familiar di telingaku.

Aku menoleh ke belakang dan mendapati Ibram tengah melambai ke arahku dengan senyumnya yang lebar. Entah darimana, aku tiba-tiba merasa ada angin sejuk yang menerpa wajahku, jantungku berdenyut dengan cepat, dan darahku berdesir-desir . Bisa kupastikan saat ini wajahku pasti sudah merona merah. Kulirik Gerald sekilas, ia hanya diam.

“Wah kau sungguh hebat , Nay !” Lelaki itu tertawa padaku. Ibram adalah tetangga depan rumahku . Sebetulnya ia adalah sepupu Gerald, namun karena sifat mereka yang berlawanan aku cenderung lebih menganggapnya itu sebuah lelucon. Ibram mengahmpiriku , ia berdiri di depanku dan menyentuh puncak kepalaku. Tatapannya tak lepas dari mataku.

“Mengapa kakak ada di sini?” Aku menggamit jemarinya di atas kepalaku.

“Hanya kebetulan jalan-jalan. Kau pasti lelah kan?!” Ibram menoleh ke arah Gerald yang juga sama-sama berwajah kusut sepertiku.

“Kalian berlomba? Untuk apa?” Aku dan Gerald sama-sama terdiam. Ibram memandangiku dan Gerald secara bergantian. Kemudian ia menghampiri Gerald 

“Hei man ! Mengapa kau sungguh lemah! Ah aku tak percaya ini. Cepat bangunlah” Gerald hanya terdiam dan tersenyum lemah. menyediakan tangan untuk membantunya berdiri. Tinggi badan Gerald dan Ibram hampir sama. Gerald mengibaskan celananya yang kotor sambil melirikku.

“Terimakasih . Aku pulang dulu” Pamit Gerald datar. Terdengar sedikit nada kesal keluar dari mulutnya. Kutatap Ibram dan saling mengedikkan bahu. Gerald melempar pandangannya pada kami, setelah itu berlari menjauh . Hah dasar orang itu, sedikitpun tak pernah menghormati Ibram yang jelas-jelas lebih tua darinya. Ia mungkin saja merasa malu di depan Ibram karena aku berhasil mengalahkannya.

“Apa tadi pagi dia salah makan? Mengapa wajahanya seperti itu?” Ibram mengamati perubahan ekspresi wajahku.

“Entahlah” Aku tak begitu memusingkan sikap Gerald barusan . Menurutku hal tadi adalah biasa . Ia sering menampakkan sikap dinginnya di depanku.

“Dia memang sedikit mengkhawatirkan. Oiya, bagaimana kabar Nena?” Well, Ibram dan Nena memang seumuran. Jarangnya mereka bertemu justru membuat Ibram semakin sering menemuiku. Aku tak keberatan juga jika Ibram selalu menanyakan Nena setiap kami bertemu.

“Oh kak Nena. Dia sering pulang terlambat. Mungkin juga tugas di sekolahnya yang membuat ia selalu lembur dimalam hari” Aku dan Nena hanya terpaut 1 tahun.

“Benarkah? Baiklah, kapan-kapan aku akan mengunjunginya”

“Sebaiknya memang begitu ” Akhirnya kami pulang bersama.

 

……

 

Kurasakan seseorang menggoyang-goyangkan lenganku. 

“Nay? Bangun. Ada yang mencarimu di depan” Bisik Nena lirih. Aku mengerjapkan mataku. Memang siapa yang mencari?

“Siapa?” Alisku berkerut

“Entahlah. Sebaiknya cepat kau temui” Nena melemparkan tubuhnya di ranjangku dan mulai menikmati istirahatnya.

“Mengapa kau tidak tidur di kamarmu ?”

“Sepertinya lebih nyaman disini. Kamarku penuh dengan kertas yang belum kubereskan. Sudahlah cepat kau temui temanmu. Dia ada di bangku taman” Ucapan Nena tidak terlalu jelas karena matanya mulai sedikit terpejam. Ia tertidur.

Aku beringsut dan merapikan penampilanku. Dan menuju ke taman samping rumah. Kudapati seorang gadis sebaya denganku tengah memperhatikan sekeliling rumahku. Ia membelakangku. Aku mendekatinya, dan ia menoleh. Sepertinya aku tahu gadis ini. Dan kesan yang kudapat justru ingatan buruk untukku. Gadis itu memiliki sepasang mata yang besar, rambut pirang panjang, dan dagunya yang sedikit tegas.

“Hai Nay” Sapanya dengan tersenyum

“Bukankah kau..” Ucapanku terpotong

“Ya benar aku Jessica, sahabat Gerald. Senang bertemu denganmu 

“Ada perlu apa kau kemari?”

Jessica merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah benda yang tak bisa kuterka. Yang jelas, benda itu berbentuk hati warna kuning keemasan dan juga secarik kertas padat yang dibalut dengan pita warna merah muda di luarnya. Ia menyerahkan kepadaku masih dengan senyum nya. Aku menerima dan membacanya dalam hati.

“Undangan pesta ulang tahunmu ?” Alisku berkerut, Jessica mengangguk

“Iya. Ini untukmu Nayla !”

“Mengapa kau bisa mengundangku ? Sedangkan aku baru kenal kau hari ini”

“Karena kau adalah teman Gerald. Teman Gerald adalah temanku juga” Ujar Jessica , senyumnya mengembang.

“Kutunggu kedatanganmu” Jessica berbalik dan masuk ke mobil . Diam-diam kupandangi sosoknya dari belakang. Cantik dan menawan , itulah yang bisa kugambarkan dari seorang Jessica. Ia memiliki kulit yang putih, tinggi badan yang proporsional, wajah cantik serta memiliki pesona yang bisa meluluh lantahkan hati setiap lelaki . Mungkin hal inilah yang membuat Gerald nyaman berada di dekatnya.

Jessica memasuki mobil. Aku tak tahu siapa dibalik kemudi mobil itu. Yang jelas mobil itu telah terlanjur melesat pergi dengan cepat ketika aku mulai menyadari betapa bodohnya diriku. Bukankah Jessica sebenarnya menyadari bahwa aku dan Gerald tidak pernah akur? Bukan hanya tidak pernah akur, tapi kami adalah musuh. Nyata nyata ia menganggapku musuhnya dan nyata-nyata bahwa ia selalu membenciku. Lalu apa yang membuat Jessica berfikir bahwa aku adalah teman Gerald? . Tunggu dulu, ini mungkin sebuah kesalahan. Ya ini nyata adalah kesalahan!

 

 

Sudah kuputuskan untuk datang ke pesta Jessica. Aku merasa tidak enak karena dirinya sendirilah yang mengundangku kemari. Sayang sekali pilihan baju ku hanya terbatas. Lebih tepatnya hanya 1 karena yang lain sudah kekecilan. Satu-satunya gaun yang pas adalah gaun yang dibelikan ibu saat tanteku menikah tahun lalu, itupun juga sering kupakai saat ada event event di sekolah dan tentunya sudah sering dilihat oleh makhluk berengsek bernama Gerald itu.

Dari tadi aku hanya berputar putar di depan cermin kamarku. Beharap ada ibu peri yang tiba-tiba merubah gaun ku menjadi yang baru. Betapa senangnya diriku. Tapi Ah sial. Sepertinya aku harus memakai gaun itu lagi. Walapun keluargaku adalah keluarga yang cukup berada, namun dari kecil ibu sudah membiasakan diriku untuk hidup sederhana. Sesuatu yang bersifat kebutuhan tersier selalu kubeli dengan proses menabung karena ibu menginginkan aku untuk merasakan bagaimana susahnya cari uang. Kukira ibu belum berhasil karena terkadang aku masih suka minta uang tambanhan lagi.

Aku berjalan menuju lemari dan mengeluarkan gaun warna hitam dengan aksen yang sederhana. Aku kibas-kibaskan karena sedikit lusuh .

TOK TOK!!

Nena masuk ke kamarku dengan membawa sebuah kotak besar. 

“Ibu bilang kau akan ke pesta ya?” Kujawab dengan anggukan lemah sambil menempelkan gaun hitamku di tubuhku dan melihat pantulanku di cermin.

“Benarkah gaun ini masih cocok jika kupakai? Sayangnya sudah sering aku pakai”

Aku melemparkan tubuhku di ranjang. Nena menghampiriku. Samar-samar kulihat ia membuka kotak kardus yang tadi ia bawa. Ia mengeluarkan isinya, dan memandangku dengan jenaka.

“Oh aku harap isinya adalah sepatu kaca, kak” Ucapku tanpa memandang apa yang ia pegang. Aku masih berbaring menatap langit-langit kamar ketika Nena berdiri di depanku. Ia masih memandangiku sambil sedikit menggodaku.

“Benarkah sepatu kaca? Bagaimana jika di dalamnya adalah sebuah gaun ?” Aku seketika terlonjak. Memang hal inilah yang kuharapkan. Gaun selain milikku sendiri. Dan ternyata benar. Kakakku yang cantik ini sedang memegang gaun miliknya yang jarang ia pakai. Setahuku, Nena sangatlah pelit tentang maslah pinjam-meminjam gaun karena ia selalu merawat gaunnya dengan baik. Berbeda denganku , ia selalu berpesan pada pembantu rumah kami untuk berhati-hati saat mencuci gaunnya. Jika perlu ia rela tidak mencuci gaun itu asal serat nya tidak kusam.

Aku masih memandangi gaun yang dipegang oleh Nena.

“Apa kakak serius? Kau mau meminjamkannya untukku?”

Ini mungkin semacam antisipasi. Siapa tahu, setelah ini Nena meminta uang sewa padaku atas gaun yang kupinjam darinya.

“Tentu saja adikku. Apa kau tidak mau? Wah padahal aku jarang sekali menawarkan gaunku untuk dipinjam olehmu”

“Maksudmu? Kau benar-benar akan meminjamkannya untukku? Waaah terimakasih kak” Aku cepat-cepat memeluk Nena. Meski terkadang ia pelit, namun di saat seperti ini ia justru menjadi ibu peri penolongku 

“Cepatlah mandi. Mau kuantar?” Aku mengangguk dengan cepat dan segera berlari menuju kamar mandi.

“Thanks sist” Teriakku dari kejauhan. Nena yang kulihat hanya dapat melengos sambil melenggangkan tubuhnya pergi

….

Aku mengedarkan pandanganku. Sepuluh menit yang lalu aku baru keluar dari pintu rumah dan kemari diantar oleh Nena. Di dalam rumah ini, musik dari ayumi hamasaki mengalun merdu, tidak keras dan tidak juga pelan. Banyak sekali orang di sini yang kebanyakan dari kalangan menengah ke atas. . Aku jadi tak perlu memusingkan penampilanku karena kurasa aku sepadan dengan mereka. Meski kejadian beberapa minggu yang lalu telah menyayat hatiku. Kejadian yang mungkin saja tak akan kulupakan seumur hidupku.

Ya, siapa lagi kalau bukan Gerald. Makhluk sialan itu selalu saja mengejekku bahwa tubuhku lebih mirip papan cucian daripada tubuh seorang gadis. Gepeng dan abstrak ! Well, mungkin kalimat yang terakhir terdengar agak keterlaluan, namun memang inilah yang dikatakannya. Dan Gerald lah lelaki pertama yang menyadarinya dan mengatakannya dengan frontal di depan mukaku. Seolah tak ada beban, seolah ia tak takut mungkin saja karma akan jatuh padanya.

Pernah diriku berfikir dan berikrar, bahwa suatu saat seorang Gerald Adya Utama akan 10 ribu kali lebih menyesal telah mengatakannya kepadaku , bila perlu akan kubuat ia jatuh cinta padaku , tergila-gila padaku sampai ia sendiri kerepotan menahan perasaannya. Tentu saja itu hanya khayalanku saja.

Kulihat Jessica bersama dengan teman-temannya tengah mengobrol. Sesekali mereka tertawa, dan sesekali Jessica menggelengkan kepalanya karena sedang digoda oleh teman-temannya. Aku jadi sedikit ragu ingin menghampirinya.

Aku mendekati kerumunan Jessica, namun tiba-tiba nafasku sesak karena seseorang telah mebuatku kaget. Kemunculannya yang tiba-tiba ditambah dengan sosoknya yang baru saja kupikirkan. Siapa lagi. Ia Gerald !

Walaupun terbilang ia masih siswa sekolah menengah , namun penampilannya saat ini agak membuatku berfikir dalam melihat sisi lain dari dirinya. Ia memakai kemeja warna ungu kebiruan. Wajahnya sangat pas dengan gaya rambut yang agak sedikit berantakan . Sepertinya ia lelaki yang kurang suka berpenampilan mencolok.

“Kau datang” Ucapnya dengan menyesap orange jus nya. Mata nya melihat ke arah lain namun sikapnya tertuju padaku. Gelas orange jus itu akhirnya habis dan ia memanggil pelayan untuk minta segelas lagi.

“Jessica yang mengundangku. Kau jangan terlalu percaya diri” Aku membuang muka, bingung ingin melihat ke arah siapa. Jelas-jelas hari ini penampilannya sangat enak untuk dilihat, mengapa aku malah membuang muka? Well, ini semata-mata hanya ingin menunjukkan bahwa diriku tak bisa dipandang remeh olehnya.

“Ternyata kau bisa juga menjadi perempuan ya” Ucapnya masih tak mau memandang sosokku. Ia tertawa sekilas dan meletakkan gelas kosongnya yang ke-dua itu di atas meja lalu bersandar di dinding. Lelaki ini, kau sungguh kurang ajar. Tidakkah ia tahu sesensitif apa perasaan seorang gadis jika perkataannya seperti itu.

“Bukannya selama ini kau sadar aku perempuan. Makanya kau selalu mengejekku” Ucapku tak kalah sinis. Aku menatap kedua matanya yang kini berbalik ke arahku. Ia hanya memandangku dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa kuartikan.

“Heh Gerald, bisa kau berikan argument yang jelas, mengapa kau selalu saja benci melihatku? Bukankah lebih baik jika kau tidak menghampiriku kemari ? Mengapa kau sangat suka membuatku kesaaal hah??!” Hardikku, mataku berkilat menahan emosi. Feeling ku mengatakan banyak sepasang mata yang mengarah kemari, meski aku tak yakin suaraku bisa mengalahkan suara merdu ayumi hamasaki. Gerald menyentuh dahinya , seperti berfikir sekilas. Ia mendekatkan wajahnya pada telingaku. Aku sedikit mundur dan membuang muka. Cih! Mau apa dia !

“Maaf, tapi apa kau merasa bahwa aku membencimu ?” Matanya menatap dalam kedua mataku. Jleb! Nafasku terengah. Tidak sadar juga bahwa dadaku sudah naik turun dibuatnya

“Kau menjengkelkan ! Sikapmu itu selalu membuatku kesal !” Aku melengos dan hendak beranjak, namun niatku tak jadi saat tahu Jessica menghampiri kami bersama Ibram. Omaigat. Sejak kapan mereka berdua berdiri disitu ? Apa mereka melihat saat aku membentak pada Gerald ?

Aku melihat kearah Gerald. Berbeda denganku yang kebingungan , ia malah terlhat sangat santai . Ia mengepalkan jemari tangannya, dan berdeham padaku seolah menandakan bersikap-santailah-karena-ada-mereka. Jessica yang sebelumnya menyelipkan lengannya di lengan Ibram, kini berpindah dan bergelayut manja pada lengan Gerald. Apa Jessica dan Ibram saling mengenal ? Jantungku tiba-tiba berdenyut kencang memikirkan kedekatan mereka berdua.

“Hai Nay” Ibram mendekat ke arahku . Sambil tersenyum manis, ia menyentuh kepalaku. Ibram memang memiliki kebiasaan seperti ini setiap bertemu denganku.

Ekspresiku masih tetap sama. Tidak bisa dipaksakan sama sekali untuk bersikap biasa. Ini dikarenakan aku sudah bertemu dengan Geraldo dulu dibanding dengannya, ditambah lagi melihat bagaimana kedekatan Ibram dengan Jessica. Rasanya semua orang disini menjadi sekutu Gerald dan bersiap untuk menghancurkanku. Kulihat Ibram mengerutkan alisnya, menyadari bahwa suasana hatiku tidak terlalu baik.

“Apa sudah terjadi sesuatu?” Ibram berkata lirih padaku, bagiku ini lebih seperti sebuah bisikan yang menggelitik telingaku. Kugelengkan kepalaku pelan. Seperti tak puas dengan jawabanku yang hanya itu, Ibram beralih memandang ke arah Gerald. Aku yakin seratus persen bahwa Gerald tidak akan mempedulikanku, karena kini kulihat ia sibuk bersama Jessica.

“Tidak terjadi apa-apa, kakak” Ucapku agak mendongak memandang wajah Ibram yang lebih tinggi dariku. Kulihat ia memastikan lagi dengan mengerutkan alisnya seolah berkata ‘kau yakin?’ dan aku menjawabnya dengan anggukan kecil. Seketika itu juga Ibram mengembuskan nafasnya . Terdengar seperti hembusan nafas karena lega. Benarkah Ibram mengkhawatirkanku ?

Kulihat Jessica sedang tertawa bersama Gerald. Aku menatapnya sekilas , dan menghampirinya. Mereka berdua menatapku bersamaan dan saat itu juga menghentikan candaan mereka. Apapun itu, aku sama sekali tak peduli.

“Selamat ulang tahun Jessica, ini untukmu” Ucapku seraya menyerahkan sebuah kotak kecil berbalut kertas kado. Isinya adalah sebuah miniatur rumah terbuat dari akrilik yang dapat distel musiknya. Harga nya juga lumayan mahal, miniatur ini sangat popular akhir-akhir ini jadi kupikir setiap remaja akan menyukainya. 

Jessica membulatkan matanya dan menatap kotak pemberianku dengan wajah sumringah. “Terimakasih Nayla” Kulihat ia tersenyum ceria seraya menatap sosok di sebelahnya. Gerald tersenyum sekilas, namun senyumnya memudar saat memandang ke arahku. Kami bertatapan cukup lama, kuputuskan untuk terus menatapnya sampai ia sendiri yang menyerah. Dan benar, beberapa menit kemudian ia menundukkan wajahnya.

“Seharusnya kau tak perlu melakukan ini nay” Ucap Jessica masih berusaha basa-basi. Ia memandang Gerald dan membisikkan sesuatu. Terdengar lirih tapi aku bisa mendengarkannya sedikit.

“Kak, kau tak lupa dengan hadiahmu kan ? Tahun lalu aku meminta tas. Untuk tahun ini kau tak lupa kalungnya kan ?” Mataku seketika mendelik. Yang benar saja, bukannya Gerald masih anak sekolah yang uang sakunya masih diatur ibunya. Walaupun ia berasal dari keluarga kaya raya, aku tak yakin Tante Lia membiarkan anaknya boros seperti ini.

Kurasakan seseorang menepuk pundakku pelan. Kulihat Ibram mengerutkan alisnya.

“Sudah baikan?? Kau ingin apa? Biar kuambilkan” TawarIbram masih dengan gaya khasnya. Sebenarnya dari lubuk hatiku, aku ingin cepat-cepat enyah dari ruangan ini. Tapi aku juga menghargai kebaikan Ibram yang sekarang memilih menemaniku daripada bersama teman lain yang dikenalnya.

“Tidak perlu kak. Kalau kau mau, bisakah kita pergi ke depan ?” Ajakku padanya.

Setidaknya menghindar dari keberdaan Gerald bisa mengobati bad-mood ku saat ini meski tidak benar-benar pulang. Kulihat Ibram menyetujuinya dengan menganggukkan kepala sekilas. Namun saat kami berdua hendak beranjak, tiba-tiba lampu di ruangan mati, nyanyian merdu ayumi hamasaki juga lenyap.

Terdengar suara riuh tamu-tamu yang kebingungan sekaligus ketakutan. Bisa kurasakan badanku bergetar, aku memang sangat takut dengan kegelapan. Ibram yang tadinya berdiri disebelahku seakan hilang entah kemana. Keringatku berjatuhan meski sekarang kurasakan hawa yang sangat dingin. Sebuah suara MC menggema.

“Untuk para undangan diharap tenang. Sekarang ini adalah sesi permainan. Untuk setiap tamu undangan dapat melepas pegangannya dari temannya, dan diminta untuk berjalan ke arah manapun untuk mencari sepasang tangan dari orang lain dan mulai berpasangan. Waktu dimulai dari sekarang !” Terdengar bunyi peluit dan dibarengi oleh suara-suara seperti jeritan, canda tawa bahkan ada yang berteriak ‘jodohku, kemarilah kepelukanku’.

Aku tak bisa berfikir apapun, yang kupikirkan saat ini hanya pulang , pulang dan pulang. Kebetulan posisi ku sekarang agak jauh dari tempat utama, dan lebih dekat dengan pintu keluar karena awalnya aku memang ingin pergi ke teras. Tanganku meraba-raba udara, berharap tidak ada seorangpun yang menghempas tubuh kecilku.

Saat kudapat lima langkah maju, bisa kurasakan tanganku diraih oleh seseorang. Seseorang itu menggenggam jemariku dengan erat. Sebenarnya ada rasa nyaman yang meluap di hatiku, tapi Siapa dia?

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer cat
cat at Jodohku, itu kamu ! (part 1) (7 years 23 weeks ago)
70

Walau masih agak blom rapi tp aku menikmatinya.

Lanjuuut.

Writer sintia...A
sintia...A at Jodohku, itu kamu ! (part 1) (7 years 23 weeks ago)
90

wah,,
jempolku mendarat dicerita ini,,,hihihi,,
lanjutin ya,,,

Writer eydaal
eydaal at Jodohku, itu kamu ! (part 1) (7 years 24 weeks ago)
80

iya iya lanjutin...ahaha

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at Jodohku, itu kamu ! (part 1) (7 years 24 weeks ago)
90

lanjutin yah~ ;)

Writer Hadi_ku
Hadi_ku at Jodohku, itu kamu ! (part 1) (7 years 24 weeks ago)
90

Kereeeen,