[Katalis Waktu] Fragmen 9 - Pertemuan di Bantaran Sungai

Di tebing curam yang tak bisa dibilang sempit, dengan hutan pinus yang mulai terasa basah karena hawa dingin sebagai latar belakangnya, Nulla meringkuk memeluk kaki di tepi tebing. Pandangannya tepat tertuju pada ribuan cahaya redup di bawah sana yang terbelah oleh pita panjang berkelok yang tampak hitam meski jutaan pelita di langit begitu cemerlang. Pita itu adalah Sungai Luminar. Mengingat sungai itu, Nulla hanya mengesah panjang.

Di dalam gua tak jauh dari Nulla, dua orang gadis tengah sama-sama meringkuk menghadapi api unggun. Sua hanya memain-mainkan satu-satunya ranting yang masih tersisa karena saking bosannya. Sementara, Lan tak jenuh memandangi punggung Nulla. Tatapannya dingin yang berbalut kelembutan. Tak ayal, kedua alisnya menyatu.

Sua menengadah pada Lan. Menyadari gadis itu masih saja bergeming, ia mengernyit. Dilihatnya sebentar ranting di genggamannya, lantas mengarahkannya pada Lan, tak peduli meskipun ranting itu baru saja menyentuh api. Sodokan keras disertai hawa panas yang tiba-tiba menjalari tubuh melalui lengan kirinya, membuat Lan tersentak. Tak ada suara erangan, tapi wajah meringis itu lebih dari cukup untuk mengindikasikan bahwa gadis itu merasa kaget sekaligus sakit. Sembari mengusap-usap lengan, Lan memberikan pandangan menusuk pada Sua.

“Salahmu sendiri melamun,” kata Sua tanpa rasa bersalah. Ia kembali memain-mainkan ranting ke dalam api unggun. “Melamun di malam dingin seperti ini, bisa-bisa kau kerasukan roh dan mulai bertingkah yang tidak-tidak.”

“Bukankah barusan itu kau bertingkah yang tidak-tidak?”

“Cih! Aku hanya merasa bosan.” Sua menggeser tubuhnya mendekati Lan. Ia bisa menebak bahwa gadis itu akan menyingkir lagi seperti saat kali pertama mereka bertemu. Tapi, Lan tidak beranjak. Senang bercampur kaget, Sua tersenyum, lantas mengambil tempat tepat di sisi Lan. Mereka tak berjarak sekarang. Lan tak mencoba menyingkir karena kehangatan api unggun memang tak cukup untuk mengalahkan dinginnya malam itu. Ia membutuhkan kehangatan yang lain.

“Kalau kau memang tak melamun, kau pasti sedang memperhatikan sesuatu. Memangnya apa yang kaulihat, Lan?”

Lan tak menjawab. Maka, Sua mengikuti arah pandangan Lan dan mendapati punggung Nulla yang bergerak-gerak canggung. Sua berpaling kembali pada Lan. “Dia kenapa?”

“Aku berani bertaruh dia sedang menatap Sungai Luminar.”

“Ada apa dengan sungai itu?”

Lan terdiam sejenak, lantas menghela perlahan. “Sungai itu mengingatkannya pada seseorang.” Jeda sebentar, Lan kemudian mendengus geli. “Dia pasti kalut sekali sekarang. Bahkan melebihi kekalutannya pada kekacauan yang dibuatnya 7 tahun lalu.”

“Oh ya? Aku tak percaya seseorang setangguh Nulla bisa seperti itu karena seseorang. Siapa orang itu? Musuhnya?”

Lan menggeleng pelan. “Hubungan mereka rumit.”

“Rumit seperti apa?”

Lan berpaling pada Sua. Melihat mata kelabu yang tengah berbinar itu, Lan tahu gadis itu takkan berhenti bertanya jika tak ia jawab. Lan seketika mencibir. Yue juga seperti itu. Keingintahuan bocah itu melebihi ketakutannya sendiri. Tanpa sadar, tatapan Lan melunak. Ia tersenyum tipis. Kelembutan mulai terasa saat mata keduanya bertemu. “Orang itu pernah menyelamatkannya 7 tahun lalu saat Nulla terhanyut di Sungai Luminar dengan luka cukup parah. Kami terpencar waktu itu, jadi aku tak tahu cerita detilnya. Yang kutahu, waktu itu, orang itu belum tahu perbuatan Nulla pada kotanya saat dia memutuskan untuk menolong. Bahkan, setelah itu Nulla pergi tanpa pamit. Kau pikir, apa yang akan terjadi kalau mereka bertemu nanti di Kissen?”

“Aku tidak tahu,” sahut Sua. “Yang pasti, kalau aku jadi orang itu, aku pasti akan merasa dikhianati. Dan kalau aku jadi Nulla, aku takkan begitu bodoh menampakkan diri di depan orang itu.”

Lan tak bisa bereaksi lain kecuali tertawa. Sua hanya melihatnya dengan mata membulat. Itu pun tak bertahan lama. Sesaat berikutnya, ia ikut tertawa. “Kau tahu, Lan? Ini pertama kalinya aku melihatmu tertawa lepas. Kau jadi kelihatan lebih cantik. Serius, kau harus lebih banyak tertawa lagi kelak.”

Tawa Lan seketika berhenti mendengar kata-kata Sua. Gadis berambut pendek itu cepat-cepat memasang wajah pokernya kembali, tak ingin jatuh wibawa di depan Sua. Ia lantas berdeham dengan kening mengerut. Suasana hati Lan berubah drastis. Dan diperparah dengan kehadiran Zen di pintu masuk gua. Lelaki itu baru saja tiba dari arah hutan. Kedua lengannya memeluk ranting-ranting kering yang bisa ia temukan di udara sedingin itu.

Zen segera mengambil duduk memunggungi pintu gua, tepat di hadapan Lan. Tak menyadari tatapan tajam dari mata coklat di hadapannya, lelaki itu perlahan memasukkan dua atau tiga ranting ke dalam api unggun, demi menjaganya tetap menyala. Sua yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Lan, hanya mengesah pendek. Hebat, hanya karena kehadiran seorang Zen, atmosfer di sekitar mereka bisa dengan cepat berubah berat.

Lan yang tak pernah melepaskan pandangan tajamnya dari Zen, mau tak mau menjadi kelabakan saat lelaki itu mengangkat wajah. Lan terlambat berpaling, membuat keduanya lagi-lagi bersitatap. Mata hangat Zen melumerkan dingin di mata Lan tanpa gadis itu kehendaki. Kehangatan yang sama seperti mata Lu Jin. Lan ingin menolak itu. Mereka bukan orang yang sama, bagaimana mungkin bisa memiliki kehangatan yang sama? Tapi, sekeras apa pun benaknya menyangkal, hatinya—yang mulai dirambati kehangatan tatapan lelaki itu—mengkhianatinya. Lan kembali sulit berpaling. Sekalinya bisa, ia segera bangkit dan meninggalkan gua.

Di luar, Lan memaksa udara dingin masuk ke paru-parunya, memaksa lenyap kehangatan di dadanya. Setelah berdiam sejenak, ia berjalan mendekati Nulla dan duduk di sisinya. Ditatapnya lentera bulat di langit, sementara Nulla masih saja menunduk pada Sungai Luminar.

“Kenapa kau menghindarinya?”

Meski Nulla mengatakannya dengan suara lirih seperti hantu, Lan tidak terkejut. Ia sudah bisa menduganya. “Suaramu sudah parau begitu, kenapa kau tidak masuk? Kalau kau jatuh sakit dan ditolong lagi olehnya, bagaimana?”

Nulla menoleh pada Lan yang sedang memandanginya dingin. “Sejak kapan kau begitu suka mengalihkan topik pembicaraan? Aku sedang bicara tentang kau dan Zen. Kenapa kau menghindarinya?”

“Aku tidak menghindarinya.”

“Kau menghindarinya!” tegas Nulla. “Apakah tanpa sadar perasaanmu pada kakakmu punya pengaruh pada sudut pandangmu tentang Zen?”

“Kau ini bicara apa? Perasaan apa?”

“Dari reaksimu, dan dari apa yang dikatakan Fiana, perasaan kakak-adik antara kau dan Lu Jin sangatlah tidak wajar. Apa kau tidak menyadarinya?”

Lan terdiam. Kata-kata Nulla barusan seketika saja menghujam jantungnya. Nulla benar. Lan tak sadar. Lebih tepatnya, Lan tak ingin menyadarinya. Janji masa lalu di antara mereka bertiga terlalu kuat untuk dilanggar. Sumpah sebagai saudara sampai mati takkan pernah teringkari. Tak peduli apa pun perasaan yang terlibat di antara mereka. Paling tidak, itulah yang diyakini Lan. “Daripada bicara tentang hal itu, aku ingin tahu pembicaraan kalian, Nulla.”

“Kau bicara apa?”

“Sebelum kita pergi dari Kota Mati, kau bicara empat mata dengan Fiana, kan? Apa yang kalian bicarakan? Juga, bukankah kita ke sana untuk membawanya serta? Apa yang membuatnya menolak ajakanmu?”

“Satu-satu, Lan.”

“Apa?”

“Pertanyaanmu itu,” jawab Nulla ketus. “Kau ini … kebiasaan. Selalu saja menanyakan banyak hal secara bertubi-tubi.” Nulla berhenti sejenak untuk mengambil napas. “Aku memang ke sana demi membujuknya ikut kita. Kau tahu sendiri bahwa Fiana-lah satu-satunya orang yang akan didengarkan Ellial. Sayangnya, Fi punya keperluan lain yang mendesak. Aku tidak tahu apa, tapi dia bilang mungkin akan menyusul.”

“Mungkin,” ulang Lan.

“Ya, mungkin.” Nulla mengesah panjang. “Artinya bisa ya, bisa tidak. Kau sendiri tahu bagaimana Fiana.”

Lan menggeleng cepat. “Aku tidak tahu, Nulla. Aku tak pernah bisa dekat dengan gadis itu. Selama bertahun-tahun, di antara kalian bertiga, hanya pada Fiana, aku tak pernah bisa benar-benar bergaul.”

“Itu karena kau selalu menjaga jarak darinya.”

“Itu karena dia selalu menjaga jarak dari semua orang,” koreksi Lan.

“Tidak padaku dan Elli.”

Lan melengos. Tentu saja tidak. Mereka bertiga sudah bersama-sama sejak kecil. Mana mungkin Fiana menjaga jarak. Ya, bahkan penginapan yang dibangun ketiganya pun dinamai dengan gabungan nama mereka. Lan mendengus getir. Bagaimana mereka bertiga bisa terpencar-pencar seperti ini sekarang? Ia refleks berpaling pada Nulla. “Kau tidak apa-apa?”

“Apanya?”

“Kalian bertiga jadi seperti ini sekarang.”

Nulla memutar tubuh pada Lan. Matanya membulat sekarang. “Apa ini? Kau barusan mencemaskanku?”

“Aneh?”

Nulla terdiam sejenak, tampak sedikit terkejut. Ia seketika menggamit lengan Lan dan menyandarkan kepalanya ke bahu gadis itu. “Tidak aneh. Tentu saja tidak aneh.”

Merespon reaksi itu, Lan seketika meraih kepala Nulla dengan tangannya yang bebas dan memaksanya menjauh, tapi Nulla bergeming. “Angkat kepalamu. Singkirkan dari bahuku.”

“Tidak mau. Malam ini dingin sekali. Memeluk lenganmu seperti ini, bisa menghangatkan kita berdua.”

“Salah sendiri kau tidak mau masuk ke dalam gua. Kau ingin membeku di sini, hah?”

“Kebekuan ini bisa menjernihkan kekalutan kita.”

“Yang kalut itu kau. Aku, tidak.”

“Kalau tidak kalut, kenapa kau menyingkir dari gua? Kau tahu, Lan? Siapa pun yang mengenalmu, takkan pernah menyangka bahwa kehadiran seorang laki-laki bisa mempengaruhimu sampai seperti ini. Ellial pasti akan kaget sekali melihatmu seperti ini.”

Lan tidak menjawab. Ia juga sudah tidak mau repot-repot lagi menyingkirkan Nulla, karena akan sia-sia. Ia seketika memalingkan wajah ke atas, kembali menikmati jutaan pelita kecil yang terhampar dengan indah di langit Kissen. Dadanya kembali terasa hangat, kali ini bukan karena mata Zen. Refleks, ia tersenyum.

 

***

 

Jalanan Kissen tampak lengang saat mereka berempat memasuki kota itu selepas matahari terbit. Nulla—yang sebelumnya tak lupa melesakkan kepalanya ke dalam tudung mantel—hanya melongo saja melihat kota kecil yang tampak sangat rapi itu. Keadaannya sudah berbanding terbalik dengan terakhir kali ia mengunjungi tempat itu. Ia menoleh pada Lan yang juga tampak terkejut meski ekspresinya datar-datar saja.

“Kota ini sudah pulih,” kata Nulla dengan senyum lebar di wajah. Lan hanya mengangguk saja. Menyadari ekspresi tak senang itu, Nulla menyodok lengan Lan dengan sikunya, yang segera dibalas dengan tatapan tajam.

“Kali ini, apa masalahmu?”

“Kenapa wajahmu seperti itu?”

Lan menggeleng cepat. “Tidak ada masalah dengan wajahku.”

Nulla menghela pendek. Tak lama, ia melirik pada Zen yang hanya berjarak dua langkah di belakang Lan. Matanya tampak menekuni jalanan. Nulla lalu berpaling pada Sua yang juga menyadari kecanggungan yang sama. Keduanya bertukar pandang, lantas sama-sama mengesah panjang.

Matahari telah naik setombak saat mereka mencapai tepi Sungai Luminar. Sungai itu membelah Kissen demi mengalirkan isinya menuju Mevara. Jadi, dengan mengikuti jalurnya saja, sudah akan membuat mereka sampai ke Mevara tanpa perlu berurusan dengan kerumitan tata kota Kissen. Tepi sungai pun merupakan tempat yang jarang dikunjungi penduduk, kecuali untuk keperluan tertentu seperti mengambil air. Takkan banyak orang yang akan mereka temui. Dengan kata lain, takkan banyak masalah yang akan terjadi. Setidaknya, itulah yang mereka pikirkan. Namun, mereka lupa bahwa sudah 7 tahun mereka tak mendatangi tempat itu. Sudah terlalu banyak hal yang berubah. Nyatanya, sekarang ini, sungai merupakan daerah Kissen yang paling rawan masalah.

Kawasan sekitar sungai sebagian besar tertutupi oleh hutan kecil, tempat yang sempurna untuk menyembunyikan diri. Tak hanya bagi empat orang yang ingin menuju Mevara tanpa menarik perhatian, tapi juga bagi orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dari para pelancong tanpa hambatan berarti.

Baru saja mereka selesai beristirahat untuk minum dan mengisi kantong-kantong air, telinga Lan seketika menangkap suara-suara aneh dari balik hutan. Dari banyak sisi, dan ia yakin suara itu tidak berasal dari para binatang. Refleks, ia menyiagakan diri. Begitu pula Nulla dan Zen. Sementara, Sua hanya mengeluh cepat. “Oh, tidak lagi.”

Serangan pertama datang, dan Sua sudah bersiap-siap dengan jentikan jarinya. Belum sempat ia membuat api, Lan sudah menahan tangannya dan menariknya melompat menghindari tombak pendek yang langsung menancap di bekas tempat Sua berdiri.

“Apa yang kaulakukan, Lan?”

“Aku yang seharusnya bertanya begitu. Apa yang kaulakukan? Apa kau tak sadar kita sedang berada di hutan? Jangan gunakan api!”

“Apa maksud….” Sua terbungkam oleh pemahamannya sendiri. Hutan. Dengan kata lain, benda yang mudah terbakar. Menggunakan api, sama saja dengan bunuh diri. Ia seketika mengumpat. Terpaksa ia menggunakan tangan kosong.

Keempatnya beradu punggung sekarang, menghadapi tujuh orang lelaki yang meskipun berpenampilan berantakan, tapi cukup siaga dalam sikap menyerang.

Seseorang di antara ketujuh orang itu maju dengan senyum terkembang di wajahnya yang terlihat ramah. Ia sangat jangkung, dengan sebuah sarung senjata—bentuknya sama persis dengan tombak pendek yang tadi dilempar ke arah Sua—tersampir di punggungnya. Penampilannya pun lebih bersih dari yang lain. “Wah, wah,” katanya sambil tertawa renyah. “Siapa sangka bantaran sungai ini bakal kedatangan tiga gadis cantik. Sungguh suatu kehormatan bagi kami.” Lelaki itu membungkukkan badan sedikit dengan tangan kanan terlipat di depan tubuhnya, lantas kembali menegakkan sikap berdirinya sambil menatap Sua tepat di depannya. “Nah, Nona manis yang memiliki mata kelabu indah, bisa tolong kaukembalikan tombakku?”

Refleks, Sua menatap tombak pendek yang tertancap dalam jangkauan tangannya. Begitu pula Lan. Mereka bertukar pandang sebentar, lantas saling mengangguk. Sua mencabut tombak itu dan berjalan perlahan hingga hanya berjarak tiga langkah dari lelaki itu. Ia seketika mengangkat tangannya, mengarahkan ujung tombak itu tepat di depan leher lekaki jangkung di depannya. Lelaki itu bergeming, masih tersenyum. Saat teman-temannya hendak maju karena perbuatan Sua barusan, lelaki itu langsung mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkan agar tak ada yang bergerak. Mereka tak bisa bereaksi lain kecuali menurut. Sepertinya lelaki itulah pemimpin mereka.

“Kuberi saran yang bagus, Nona.” Lelaki jangkung itu tersenyum lebih lebar dari sebelumnya, yang dibalas dengan cibiran oleh Sua. “Lebih baik jangan bermain-main dengan tombakku jika tak terbiasa menggunakannya.”

“Kau benar,” sahut Sua dengan tenang. “Aku lebih suka menggunakan tangan kosong. Tapi, Tuan—siapa pun namamu—bukankah tombak pendek seperti ini adalah senjata yang biasa digunakan perempuan? Atau kau memang bukan laki-laki?”

Lelaki itu hanya mendengus geli oleh karena ejekan itu. Ia lantas mengusap hidungnya sendiri, tak terlihat marah sama sekali. “Ah, lancangnya aku. Izinkan aku memperkenalkan diri. Aku biasa dipanggil Sou.”

Tak memedulikan nama mereka yang hampir mirip itu, Sua menggerakkan tangan dengan cepat tanpa peringatan. Tapi, jarak ujung tombak dengan leher Sou tak terlihat mulai mendekat ataupun menjauh. Sua berdecak kesal begitu tahu Sou bergerak mundur dengan gerakan mulus mengimbangi gerakannya, tak mencoba melompat mundur atau apa pun untuk memperlebar jarak. Saat itu juga Sua tahu bahwa lelaki itu sengaja.

Sua berhenti, lelaki itu pun berhenti. Sua menarik tangannya, lantas menggerakkannya melintang menuju kepala Sou. Lelaki itu merendahkan tubuhnya tepat waktu. Sebelum Sua menyadarinya, tangan kanan Sou telah menggenggam tangan Sua yang memegang gagang tombak. Dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, Sou meraih tangan Sua yang bebas dan menjepitnya di antara tubuh mereka. Sementara tangan satunya ditarik, membuat bilah tombak berbalik mengarah pada leher Sua. Kalau orang-orang tak tahu kejadian sebenarnya, akan terkesan bahwa lelaki itu tengah memeluk Sua dari belakang.

Sou mendekatkan bibirnya pada telinga Sua, lantas berbisik, “Wah, kau sengaja, ya, membuatku memelukmu begini, Nona?”

Sua naik pitam, tak pernah sebelumnya ada laki-laki yang begini kurang ajar padanya. Ia melengkungkan tubuhnya ke depan, membuat kepalanya condong ke belakang—nyaris menabrak wajah Sou kalau saja lelaki itu tak menghindar tepat waktu. Kedua tangannya terlepas, dengan tombak pendek masih tergenggam. Dengan gesit, Sua merendahkan tubuh sembari memutar, berusaha menyambar kaki Sou. Tapi, lelaki itu lebih cepat. Ia melompat mundur. Sua tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dilemparnya tombak pendek menuju Sou yang masih berada di udara. Senyum yang tadi sempat terbersit di wajah Sua seketika menghilang. Matanya membelalak saat melihat bahwa Sou menggunakan tombak yang melesat sebagai tumpuan tangannya untuk bersalto di udara, lantas mendarat dengan mulus di tanah. Diiringi suara tancapan tombak pada akar yang mencuat dari sebuah pohon. Kalau kemampuannya tidak tinggi, lelaki itu takkan bisa melakukan salto semacam itu. Tak ayal, Sua mengumpat kesal.

Lan yang sedari tadi memperhatikan perkelahian keduanya hanya terdiam. Di sebelahnya, Nulla mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Laki-laki itu punya kemampuan. Kurasa, badannya sama lenturnya seperti badanmu, Lan.”

Tanpa menunggu protes Lan, Nulla maju selangkah menghadapi Sou yang sudah berdiri tegak. “Tuan,” panggilnya dengan suara yang agak dibuat-buat supaya terdengar merdu. “Aku tahu tujuan orang-orang seperti kalian. Tapi, sayang sekali kami bukan pelancong kaya yang bisa dijarah. Bisakah Tuan membiarkan kami lewat?”

Bukannya balas menjawab, Sou hanya tertawa. “Kau pikir kami adalah kelompok perampok yang sering berkeliaran di bantaran sungai, Nona?”

“Kalau begitu, siapa kalian? Kenapa mengganggu perjalanan kami?” bentak Sua ketus, matanya masih berapi-api karena tersinggung.

Satu-dua orang yang lain hendak maju membantu, tapi kembali ditahan Sou. Ia menatap Sua sebentar, menghadapi mata kelabu yang terlihat marah. Ia kemudian berpaling pada Nulla. “Beberapa bulan terakhir ini, ada orang-orang mencurigakan yang berkeliaran di bantaran sungai. Rumor mengatakan bahwa mereka melakukan perbuatan berbahaya.”

“Kau pikir kami adalah orang-orang semacam itu?”

“Yah, kalau dilihat dari perawakan dan penampilan, kalian termasuk perpaduan yang cukup aneh. Seorang wanita yang membalut nyaris seluruh tubuh dengan mantel hitam di cuaca secerah ini, dua orang timur—salah satunya seperti habis dikeroyok,” katanya sambil melirik luka-luka di wajah Zen. Kemudian, ia berpaling pada Sua yang masih memandang marah padanya. Ia refleks tersenyum manis. “Juga, seorang gadis selatan yang manis.”

“Tindakan berbahaya apa?! Memangnya apa yang kaupikir bisa dilakukan tiga orang gadis dan seorang laki-laki yang tadi kaubilang seperti habis dikeroyok? Lagi pula, memangnya kalian ini apa? Pasukan keamanan tak resmi?”

Sou hanya mendengus geli mendengar cercahan Sua. “Kalau begitu, ini kesalahpahaman. Maafkan kami. Tapi, apa yang dilakukan pelancong biasa seperti kalian di bantaran Sungai Luminar? Apa kalian tidak tahu bahaya tempat ini?”

“Kami hendak ke Mevara. Sungai adalah jalur terdekat menuju ke sana. Lagi pula, terakhir kali aku datang ke sini, sungai adalah tempat yang paling aman. Bahkan, aku sempat ditolong seorang asisten tabib yang—”

Nulla terbungkam. Mengingat orang itu selalu berhasil membuat kekalutannya muncul. Sou yang menyadari sikap Nulla hanya berusaha mengabaikannya. Toh, itu bukan urusannya. Ia tersenyum kembali. “Benarkah? Kapan itu? Lebih dari 5 tahun yang lalu? Karena dalam lima tahun terakhir ini, bantaran sungai sangat berbahaya. Terutama bagi tiga gadis cantik seperti kalian.”

“Kami bisa mengatasinya,” sahut Lan cepat. “Sekarang, bisakah kalian membiarkan kami lewat?”

“Sayangnya tidak bisa.”

Lan dan Sua segera bersiaga kembali mendengar jawaban itu. Sou yang menyadari itu seketika mengangkat kedua tangannya, mengisyaratkan bahwa maksud kata-katanya tidak seperti yang mereka pikirkan.

“Tunggu sebentar. Maksudku, bantaran sungai sangat berbahaya. Aku tadi bilang bahwa ada orang-orang yang melakukan aktivitas berbahaya, bukan? Kalau kalian menyusuri bantaran sungai lebih ke sana lagi,” katanya sambil menunjuk arah menuju Mevara, “kalian akan menemukan energi aneh yang sangat berat. Hawanya seperti kematian, kalau kalian tahu maksudku.”

Hawa kematian. Cukup dua kata itu saja sudah membuat ketiga gadis itu mengernyit. Mereka tak membutuhkan pengalaman lain seperti saat di Hutan Kabut. Hanya Zen yang tak bereaksi pada kata-kata itu.

“Kau punya saran tentang jalan yang bisa dilewati selain lewat kota?”

“Tak ada jalan yang lebih aman daripada lewat kota saat ini.”

Nulla dan Lan bertukar pandang. Benar. Mungkin kota adalah jalur paling aman, tapi tidak bagi mereka berdua. Sua yang tahu pikiran dua gadis itu berjalan menghampiri mereka sambil melirik tajam pada Sou. “Tak punya usul jalan lain?” tanyanya, masih terdengar ketus.

Belum sempat Sou menjawab, seseorang yang berpenampilan lebih bersih darinya datang dari arah hutan seberang kota. Ia mengenakan mantel cokelat kusam dengan tudung yang terpasang, membuat wajahnya tak terlalu jelas terlihat. Ia segera mendatangi Sou dan berkata padanya, “Kita kedatangan tambahan orang dari Mevara. Lima orang. Dua orang tabib muda, dua orang gadis—salah satunya putri bungsu Keluarga Reabel—dan seorang pelayan. Kau sebaiknya kembali.”

“Kaubilang, putri bungsu Keluarga Reabel?” tanyanya. Ekspresi wajahnya tidak secerah tadi. “Kenapa dia yang diutus Tabib Fida? Nona Regina bahkan bukan seorang tabib.”

Orang itu hanya mengangkat bahu, tanda bahwa ia juga tak mengerti. “Kau kembali saja. Urusan patroli wilayah bantaran sungai, biar kuambil alih.”

Begitu Sou mengangguk, orang itu mengambil alih kepemimpinan dan membawa keenam orang yang lain menuju ke arah Mevara. Hanya tersisa lima orang sekarang, termasuk Zen dan ketiga gadis itu.

“Kalian sebaiknya ikut aku. Kalau kalian ingin ke Mevara tanpa lewat kota, hutan merupakan satu-satunya akses yang cukup aman saat ini.”

Tanpa menunggu keempatnya setuju, Sou mencabut tombak pendek dari akar pohon dan memasukkannya ke sarungnya. Ia lantas berjalan masuk ke hutan. Nulla yang hendak mengikuti Sou, tertahan oleh tangan Lan. “Kau yakin dia bisa dipercaya?”

“Kaudengar apa yang mereka bicarakan tadi, Lan? Mereka sepertinya mengumpulkan tabib, apalagi ada seorang anggota Keluarga Reabel yang ikut.”

“Apa hubungannya itu dengan urusan kita?” tanya Sua bingung.

“Kau ingat tentang kediaman keluarga tabib yang hendak kita tuju?”

Sua mengangguk cepat. Mana mungkin dia lupa.

“Nama keluarga itu adalah Reabel,” jawab Nulla penuh arti. “Gadis itu bernama Regina, kalau aku tak salah dengar. Regina Reabel, tuan putri yang dikenal sebagai tempat bertukarnya segala informasi yang keluar-masuk Mevara. Ah, tentu saja dia belum bisa menandingiku. Tapi, tetap saja, kita mungkin bisa mendapatkan informasi darinya. Lagi pula, kurasa Sou itu bukan orang jahat. Mungkin dia sedang menolong orang-orang sakit, mungkin para korban perampok bantaran sungai,” tebak Nulla. Ia kemudian berpaling pada Sua. “Menurutmu, Sou itu bagaimana? Sepertinya dia menyukaimu.”

“Menurutku, dia tak lebih dari sekadar laki-laki brengsek.”

Meskipun mengatakan itu, Sua tetap berjalan ke arah hutan, mengikuti lelaki yang tadi dikatakannya brengsek. Tiga yang lain pun mengekornya. Mereka tak punya pilihan lain.

 

Read previous post:  
46
points
(2139 words) posted by aocchi 7 years 7 weeks ago
76.6667
Tags: Cerita | Novel | petualangan | fantasi | Katalis Waktu | lcdp | tragedi
Read next post:  

Menurutku dialog-dialognya si Sua masih bisa dibikin lebih manis lagi, supaya karakternya juga makin kebentuk.

Entah kenapa mendadak aku mikir.... rasanya dari awal cerita ini menyimpan banyak hints shoujo-ai. Atau mungkin pikiranku aja yang ke arah sana. :v

Hooo. Ada juga hints DanLing di sini. XD

*lanjut*

80

Banyak karakter ^^
*padahal sendirinya punya karakter berjibun*

Lumayan seru
Lanjut

80

terasa kurang seru :( tapi lanjut laaahhh... sepertinya bakal panjang banget ini ceritanya yaaa...

80

Saya OOC untuk pertama kalinya! *eh *salah
pacenya kayaknya lambat banget :v, pas bagian Sua vs Sou juga, rasanya reaksi Sua kelamaan gitu =3=
Akhirnya ada kabar dari tabib sekeluarga :D

90

pas disebutin kalo nama penginapannya Nulla adalah gabungan dari nama Nulla, Fiana, dan elli, entah kenapa saya langsung kepikiran Nullify >.<
padahal pas ngecek lagi ke fragment 4 ternyata bukan yak :P
.
baca komennya yuu... wkwkwk...
emang sih, itu dandy apa rea?
terus juga rasanya agak lambat di bagian awal

nullify *ngakak gelindingan*
ahahaha, dandy apa rere, hayo? *plak*
bagian awalnya lambat ya? sengaja
saya ngos-ngosan juga kalau nulis dengan pace cepet mulu
pengen bermain2 dengan deskripsi setting atau deskripsi suasana ... kayaknya gak terlalu berhasil ya -_-a

80

Kurang seru. -_-
.
Itu dandy apa om rea sih?

biarin, bagian ini sengaja saya bikin slowdown *plak*
ahahaha, dulu kan womanizer itu predikatnya dandy sebelum sekarang dia tobat #kabursebelumditendangdandy
ngomong2, saya mau bikin rere jadi sedikit lebih alim #kabuuur

Rea dandy = putra yg ditukar /plak!/
.
kok yg fokusnya kerasa tetep Lan, Zen, dan Nulla ya? Jangan2 Sou cuman iseng dimasukin dalam plot? hihihi.

jiah, baru pengenalan karakter masa' udah langsung dikasih peran penting ... nanti juga masa emasnya sou di cerita ini bakal muncul *plak*
tenang aja, dia gak bakal jadi karakter yang cuma numpang lewat kok :3