[Katalis Waktu] Fragmen 11 - Karma Dua Saudari

Dua kelebat bayangan berlarian di sela-sela pepohonan dengan kecepatan tinggi. Putih mengejar hitam. Beberapa kali mereka berhenti hanya untuk bertahan dan menyerang dari jarak jauh. Api menyerang es, es menahan api. Hingga membuat pepohonan yang mereka lewati berasap karena benturan panas dan beku. Terus begitu hingga sosok hitam itu terhenti oleh tebing. Ia melirik ngeri aliran Sungai Luminar yang mulai deras dan menyempit di bawah sana. Kalau tadi ia tak berhenti tepat waktu, sungai itu pasti sudah jadi tempat pemakamannya sekarang.

“Tak bisa kabur lagi, eh?”

Sosok hitam itu berbalik, demi menemukan gadis selatan berambut panjang yang tengah menatapnya kejam dengan posisi siap menyerang.

“Tunggu,” kata sosok hitam itu sambil mengangkat tangan. Dari suaranya, sosok itu adalah laki-laki. “Aku harus menjelaskan—”

“Jangan banyak omong!”

Bersamaan dengan bentakan itu, Sua kembali membuat api. Kemarahan membuat apinya makin besar dan panas, yang segera saja diarahkan pada sosok hitam itu.

Lelaki berbaju serba hitam itu mengerang kesal. Gadis di hadapannya ini rupanya bukan tipe yang bisa diajak bicara kalau darahnya telah mencapai ubun-ubun. Ia tak punya pilihan selain menyiapkan kuda-kudanya sendiri. Ia mengibas tangan kirinya, menebarkan serpihan bunga es dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya. Dalam sekejap, bunga-bunga es itu mengeras dan menebal, membentuk sebuah dinding transparan tak beraturan yang menahan api Sua. Saat panas dan dingin bertemu, api dan es lenyap, digantikan angin kencang yang menghempaskan keduanya ke arah berlainan, sama seperti saat tadi mereka bertarung sambil berlari. Sayangnya, lelaki serba hitam itu lupa bahwa ia tengah berada di tepi tebing. Angin kencang itu menghempasnya ke arah tebing di seberang sungai, tapi tak cukup kuat untuk membuatnya mendarat di tanah. Ia pun membentur dinding tebing. Darah tampak mengucur dari belakang kepalanya. Mungkin itulah yang membuatnya tak sadarkan diri. Tentu ia tak berhenti di sana. Gaya gravitasi dengan cepat menariknya jatuh. Dalam sesaat, ia menghilang di balik derasnya arus Sungai Luminar.

Sua yang tergeletak sehabis membentur batang pohon segera bangkit dan berlari menuju tebing. Musuhnya telah jatuh, mungkin sudah mati sekarang. Tapi, entah kenapa perasaannya berubah tidak enak. Ia tak pernah menyukai perasaan seperti itu, membuatnya merasa seperti telah melewatkan sesuatu. Barusan ia sudah bertindak benar, kan? Toh, ia melakukan itu demi melindungi nonanya.

Sua meyakinkan dirinya sendiri. “Aku tidak melakukan kesalahan. Ini pasti bukan apa-apa.”

Sua berbalik pergi dari tebing tak lama kemudian. Beberapa langkah berjalan, ia lantas mempercepat laju. Bagaimana kalau musuh tidak hanya satu? Bagaimana kalau nonanya masih berada dalam bahaya? Tiba-tiba, Sua merasa bodoh.

 

***

 

Di belahan lain hutan timur, dua orang wanita—satu berpakaian biru langit, satu berpakaian merah-hitam—tengah bersitatap saling menantang.

“Kau ini sebenarnya apa?” Zuri menyatukan kedua alisnya. “Kau seharusnya sudah mati. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat kau dikuburkan.”

“Apakah orang yang sudah mati bisa berdiri tegak di hadapanmu, Sayang?” Wanita itu tersenyum. “Kau mungkin tidak tahu. Atau mereka yang tidak tahu. Di dunia ini, hanya satu orang yang bisa membunuhku. Sayangnya, hampir separuh energinya telah berpindah tubuh. Bahkan dia pun takkan pernah bisa mengalahkanku lagi sekarang.”

“Apa yang kauinginkan dariku?” Zuri langsung menuju titik persoalan.

Wanita itu tertawa. Suara gelaknya meski terdengar merdu, entah kenapa membuat kuduk Zuri menegak. “Zuri Sayang, serendah itukah kau menilaiku? Aku hanya ingin memberikan peringatan. Kurang baik apa aku ini?”

“Peringatan?”

Wanita itu berjalan perlahan menuju Zuri. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya tepat di depan wajah Zuri, lalu menyeringai lebih lebar. “Tampaknya, kau tidak benar-benar tahu apa yang sedang kauhadapi. Utusan Waktu bahkan tidak sepadan untuk dijadikan perbandingan. Sebab, dia bukan siapa-siapa.”

“Siapa yang kaumaksud?”

Sambil tersenyum dingin, wanita itu bergerak mundur perlahan. Ketika tangannya terangkat, saat itulah Zuri tahu ia harus menyingkir. Terlambat, bunga-bunga es yang kali ini merambat melalui udara terlalu cepat untuk bisa dihindari. Sesaat sebelum bunga-bunga es itu mengenainya, seseorang mencengkeram tangannya dan menariknya mundur. Sementara itu, dari sisi samping, api berwarna merah darah yang sangat besar melelehkan bunga-bunga es itu.

Sua datang dengan cepat menuju wanita itu. Energi api, sebanding dengan kemarahan. Semakin kalap seseorang, semakin besar api yang dihasilkan. Itulah yang terjadi pada Sua. Seharusnya sekarang energinya sudah habis. Tapi, keberadaan nonanya membuatnya kuat.

Wanita berjubah merah itu melenting ke atas tepat saat Sua menembakkan apinya di tempat tadinya ia berdiri. Wanita itu mendarat dengan mulus di dahan pohon terdekat. Sua seketika bangkit dan hendak menyerang lagi, tapi seruan Zuri menghentikannya.

“Tindakan yang sangat tepat, Sayang,” kata wanita itu pada Zuri. “Kau tahu bawahan kesayanganmu itu takkan pernah bisa mengalahkanku.”

Wanita itu lantas mengalihkan perhatiannya pada lelaki tegap berambut coklat berantakan yang tadi menarik tangan Zuri untuk menghindari bunga-bunga es. Lelaki itu bukan Sou, bukan pula Eusal. Senyum wanita itu lenyap seketika. “Wah, si Biang Onar rupanya bukanlah pengecut. Kupikir kau tengah bersembunyi entah di mana lantaran takut keberadaanmu ketahuan. Ternyata, diam-diam kau mengikuti Zuri, ya? Hebat, aku bahkan sampai tak menyadari hawa keberadaanmu.”

Zuri yang terjatuh karena tarikan lelaki itu hanya sanggup menengadah dengan tatapan tak percaya. Lelaki berambut berantakan itu tengah mengulurkan tangan padanya. Mata hijaunya menatap lembut.

Zuri menerima uluran tangan itu. Begitu sikap berdirinya telah tegap, ia bertanya pada lelaki itu, “Apa dia benar, Ellial? Kau terus mengikutiku sejak dari Kediaman Reabel?”

Ellial mendengus geli. “Kau tak berharap aku akan melepaskanmu ke tempat wanita itu bersarang, kan? Tapi…,” katanya sambil menoleh pada Sua yang tengah menatapnya curiga, “kau akan baik-baik saja sekarang.”

Wanita itu tertawa lagi, membuat ketiga orang yang berdiri di tanah segera menoleh padanya. Dengan santai, ia mengangkat sebelah tangannya, seolah ingin mengisyaratkan kepergiannya. “Baiklah, Tuan dan Nona. Aku permisi.”

Wanita itu pun melompat di antara dahan pepohonan menjauhi arah sungai. Ellial segera bergerak cepat mengejar wanita itu. Saat ia mencapai Sua, ia berpaling sejenak tanpa berhenti, “Jangan sekali-kali kau meninggalkan sisi nonamu lagi. Terutama selama aku belum kembali.”

Setelah Ellial menghilang di antara pepohonan, Zuri menghampiri Sua. “Di mana bocah itu?”

“Siapa maksud Nona?”

“Bocah laki-laki yang tadi kaukejar.”

“Jatuh dari tebing, lalu terseret arus. Kemungkinan hidupnya kurasa kecil.”

“APA?!” Zuri membelalak tak percaya. Ia lantas mengumpat samar. “Kalau bukan karena terhalang wanita itu, aku sudah akan berhasil mencegahmu, Sua.”

Sua kebingungan. Seingatnya, sosok hitam itu adalah musuh. Bagaimana nonanya bisa tampak secemas ini? “Aku tak mengerti.”

“Bocah itu diutus bukan untuk membunuhku.”

“Tapi, temanku bilang, sasarannya adalah kau, Nona.”

“Benar. Sasarannya adalah aku, tapi bukan untuk dibunuh. Dia datang untuk melindungiku.”

Sua memutar otak. Bukankah orang yang mengutus sosok hitam itu adalah pimpinan Klan Verellin? Satu-satunya alasan yang terpikir adalah tentang percobaan pembunuhan. Siapa yang menyangka bahwa misi dari utusan klan yang melangkah di atas garis kematian itu adalah untuk melindungi, bukan membunuh? Bahkan, Lan yang merupakan orang dalam Klan Verellin pun bisa saja salah paham tentang misi sosok hitam itu yang sebenarnya. Sua tahu ia tak bisa menyalahkan Lan karena salah informasi. Ia sekarang mengerti arti dari perasaan tak enak yang muncul setelah sosok hitam itu jatuh dari tebing dan menghilang di balik arus deras sungai. Ia memang melakukan kesalahan karena tak membiarkan sosok hitam itu menjelaskan apa pun padanya. Tapi, ia tak punya waktu untuk menyesal. Ia seketika menengadah pada Zuri. “Nona, kenapa Lehen Verellin ingin melindungimu?”

Zuri tak menjawab. Tapi, semburat merah yang tampak samar di wajahnya sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya. Seketika, percakapannya dengan Fiana terngiang kembali di benak Sua.

“Api Putih melambangkan kehidupan. Es Hitam melambangkan kematian. Sama seperti cahaya dan kegelapan, keduanya takkan ada tanpa satu sama lain. Keduanya ada untuk saling melengkapi, tapi bukan untuk saling membaur.”

“Saling membaur? Apa maksudmu?”

“Pembauran perasaan.” Fiana mondar-mandir kembali. Senyuman dan sorot matanya tampak sayu. “Kita menamainya cinta.”

Sua hanya mampu terperangah sesudahnya. Jadi, orang itu adalah Lehen Verellin, bukan Ellial Verellin. Ia hendak menanyakan pada nonanya, memastikan kebenarannya. Tapi, ia kehabisan kata-kata. Toh, jawaban sudah terpampang jelas di hadapannya, tanpa perlu ditanyakan lagi.

 

***                                                          

 

“Kenapa Nona tidak membantu?”

Suara datar Lan membuat Regina memutar tubuh padanya. Ia tersenyum kemudian. “Aku bukan tabib, Lan. Merawat orang sakit juga bukan keahlianku. Kau ingin tahu apa keahlianku?”

Lan tak menjawab. Tapi, matanya menampakkan tanda-tanda keingintahuan.

“Mematahkan tulang orang,” sahut Regina dengan mimik wajah serius. “Dengan begitu, ibuku bisa terus menyambung tulang orang. Ibu takkan kekurangan pekerjaan.”

Meski tahu itu hanya candaan, Lan tetap mendengus. Kalau ditanya, Lan juga akan menjawab hal yang serupa.

“Kenapa? Kau tak percaya?”

“Aku percaya, Nona,” jawabnya cepat-cepat.

“Ekspresi wajahmu mengatakan hal yang sebaliknya.”

Senyum Lan hilang. Apakah wajahnya bisa segitu mudahnya terbaca? Biasanya Lan sangat ahli memasang wajah poker. Kenapa tiba-tiba gadis di dekatnya itu bisa dengan mudah mengobrak-abrik tabirnya? Lan pun tidak mengerti.

“Lalu, Nona ada keperluan apa hingga ikut ke sini?” Melihat kedua alis Regina yang terangkat, Lan buru-buru menambahkan, “Tentu saja, kalau aku boleh tahu.”

“Penyelidikan.”

Lan mengernyit. Bukankah rombongan yang menyelidiki hutan timur telah berangkat sejak tadi? “Kenapa Nona tidak ikut ke hutan timur, kalau begitu?”

Regina tertawa kecil. “Hal yang sedang kuselidiki lebih besar dari peristiwa aneh di hutan timur, meskipun memang berkaitan. Tapi, kurasa sebentar lagi akan terjadi sesuatu. Makanya aku tidak pergi.”

“Terjadi sesuatu?”

Saat itu, Lan merasakan sesuatu yang aneh. Sensasinya seperti kalau diterpa angin dingin dan panas secara bersamaan. Tengkuknya meremang tanpa dikehendakinya. Ia menatap Regina yang tampaknya juga menyadari hal itu. Saat ia mengalihkan pandangan ke arah Nulla dan Miluen di bangunan utama, sesuatu segera menarik perhatiannya. Dinding kayu bangunan itu basah tiba-tiba, lantas muncul serpihan-serpihan hitam yang membekukan bangunan. Lan menengadah seketika.

Seorang wanita bergaun merah-hitam sedang melompat ke atap bangunan utama. Jubah merahnya melambai-lambai seiring gerakannya. Begitu mengambil napas sejenak, ia kembali melompat menuju dahan pohon terdekat dan terus bergerak menjauh. Saat itulah dari arah belakang, Zen berlari melewati Lan menuju arah pergi wanita itu. Belum sempat Lan terkejut, sosok lain menyusul, tampak sedang mengejar wanita berjubah merah itu.

Lan membeliak saat mengetahui siapa sosok itu. Mata mereka bertemu saat sosok itu bersalto menuju atap bangunan utama. Sebelum mendarat di atap, lelaki bermata hijau itu melemparkan sesuatu kepada Lan. Refleks, Lan menangkapnya demi menemukan sebuah kantong hitam yang tebal. Ia membukanya dan langsung membelalak saat melihat banyak sekali jarum panjang di dalam kantong itu. Benda yang Lan tahu pasti adalah miliknya yang sempat disita beberapa bulan sebelum Ellial meninggalkan kediaman Klan Verellin. Ia seketika paham apa yang dikehendaki majikannya itu.

“Apa itu?”

Pertanyaan Regina membuyarkan pikirannya. Lan seketika menoleh dan memberi tatapan serius pada gadis itu. “Aku pergi sebentar, Nona.”

Lan menyelipkan kantong itu di sabuknya, lantas berlari mengikuti Ellial yang sudah lebih dulu meninggalkan bangunan utama. Cegahan Nulla tak digubrisnya. Tuannya sedang membutuhkannya sekarang. Semua pertanyaan yang ada di benaknya untuk tuannya itu bisa menunggu.

Suara keras tak jauh darinya semakin membuat Lan bergegas. Saat ia mencapai sumber suara, tanah lapang menantinya. Bukan benar-benar tanah lapang, terlihat begitu karena beberapa pohon yang tumbang, meloloskan cahaya matahari semakin banyak ke area yang cukup luas itu. Lan yakin, pohon-pohon tumbang itulah sumber dari suara keras tadi.

Tiga orang berdiri di sana, saling berhadapan satu sama lain. Lan mengernyit. Pertarungan tiga arah? Dengan Ellial dan Zen tidak berada di pihak yang sama? Apa yang sebenarnya terjadi?

Perlahan, Zen mengangkat tangannya. Di tengah-tengah mereka, udara bergejolak. Gelombangnya melebar, membentuk semacam bola besar berupa udara yang terdistorsi. Saat gelombang itu membentur tanah, dalam sekejap tanah menghitam dan rumput liar di sekitarnya membusuk.

Zen mengarahkan tangannya kepada sang Wanita, membuat bola transparan itu bergerak ke arah wanita itu. Wanita itu menghindar, tapi Zen tak kalah cepat. Ia mengarahkan bola transparan itu ke arah mana pun wanita itu menghindar, tapi tak pernah sedikit pun mengenai sasarannya. Yang ada hanyalah pepohonan dan tetumbuhan yang mati tiap bola transparan itu meleset dari sasarannya.

Tak menyia-nyiakan kesempatan, Ellial memberi tanda pada Lan untuk menghentikan gerakan wanita itu. Lan mengangguk. Jadi, apa pada akhirnya kedua lelaki itu berada di pihak yang sama? Lan menggeleng. Ia tak punya waktu untuk memikirkan semua itu.

Ia melompat ke arah si Wanita sembari menghindari bola transparan. Dengan kecepatan tinggi, ia menyambar beberapa jarum dari dalam kantong dan melemparnya ke wanita itu. Di saat yang sama, gelombang api dan es—putih dan hitam—menghantam wanita itu tanpa sempat ia melenting menghindar. Jarum-jarum yang dilemparkan Lan memantul balik ke arahnya dengan cepat. Lan terkesiap. Ia merendahkan tubuhnya tepat waktu saat jarum-jarum itu melewatinya dan menancap di batang pohon, membuat batang pohon itu membeku seketika. Benar. Jika Yue bisa membuat esnya sendiri dengan tangan kosong, Lan membutuhkan jarum-jarum itu untuk membekukan sesuatu. Belati tak cukup tipis untuk melakukannya.

Saat Lan menengadah, gelombang api dan es yang tadi diluncurkan Ellial lenyap tak berbekas, tergantikan dinding es hitam yang bersumber dari tangan wanita itu. Dari sana jugalah, muncul api putih yang langsung menyambar Lan. Api itu tidak panas, sama seperti perasaan yang diterimanya saat Ellial mengobatinya di reruntuhan desanya. Tapi, bertahun-tahun dilatih oleh Hazel di lingkungan beku, membuat Lan kesakitan. Api dan es punya sifat yang bertolak belakang. Meski tidak panas, tapi sesuatu yang menyerangnya saat ini tetap saja api, dan diniatkan untuk menyerang, bukan mengobati. Lan terdorong cepat, tepat ke arah bola transparan Zen.

Ellial mengabaikan sang Wanita, lalu berlari cepat ke arah Lan. Gadis itu tertangkap tepat waktu. Di saat bersamaan, Zen menangkupkan tangannya, membuat bola transparan itu menghilang dalam sekejap mata.

Wanita itu tertawa. Es hitam dari tangannya sudah lenyap sekarang. Tak lama, tawanya terhenti, terganti oleh seringai dingin yang terkesan merendahkan. “Wah, siapa sangka seorang perempuan bisa membuat kalian berdua menjadi lemah? Bahkan aku, juga takkan menduganya. Kupikir kelemahanmu hanya saudariku, Ellial.”

Lan terbatuk-batuk sebentar, lalu mendongak pada Ellial. “Saudari?”

Ellial tak menjawab. Ia hanya membantu Lan berdiri. Ia kemudian berjalan beberapa langkah mendekati wanita itu. Mata hijaunya berkilat penuh kemarahan. “Kau masih berani menyebutnya ‘saudari’? Setelah kau mencoba membunuhnya?”

Wanita itu berdecak dengan jari telunjuk digerakkan berirama. “Apa kau tidak tahu? Kenapa aku tidak mati saat seluruh anggota Klan Arinaz bergabung untuk melenyapkanku? Takdir sudah menggariskan bahwa yang bisa membunuhku hanyalah saudariku. Kami sudah jelas akan saling bunuh. Melenyapkan, atau dilenyapkan, bukankah itu aturan dunia ini? Itu adalah karma yang harus kami tanggung karena dosa kami.”

“Dosa apa?”

“Apa saudariku tidak memberitahumu? Kami adalah sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini. Dosa kami adalah keberadaan kami.”

“Keberadaan adalah berkah, bukan dosa. Lagi pula, Fiana sangat menyayangimu. Tak pernah muncul setitik pun niat di benaknya untuk mencelakaimu.”

“Karena itulah, aku selalu bilang bahwa dia sangat naif. Kau juga ternyata tak ada bedanya.”

Lan semakin tidak mengerti. Ia pikir mungkin tadi salah dengar. Kenapa nama Fiana ikut terlibat dalam masalah ini? Ia berjalan hingga sampai sisi Ellial. “Fiana? Tuan bilang, Fiana?”

Ellial menoleh pada Lan. “Wanita itu adalah saudari kembar Fiana.”

Lan sempat ragu dengan telinganya sendiri. Tapi, gerakan tangan wanita berjubah merah yang sedang menurunkan tudungnya itu membuat Lan yakin bahwa ia tak salah dengar. Di hadapannya sekarang, tampak Fiana berdiri santai. Tapi, ia bukanlah Fiana bermata dingin yang pernah ia kenal. Mata wanita itu tampak berapi-api. Senyumnya pun tampak dingin, tapi lebih cenderung liar, bukan kalem seperti Fiana.

Lan membuka mulut, tapi belum sempat ia mengatakan apa pun, sebuah bola transparan melewatinya menuju wanita itu. Lan seketika memutar tubuh demi menemukan Zen yang tengah mengangkat tangannya.

Wanita itu melompat lagi. Di udara, ia membuat dinding es hitam yang sangat besar, kali ini disertai api putih di sekeliling tubuhnya—mungkin untuk melindungi dirinya sendiri. Semua itu pasti membutuhkan energi yang sangat besar, tapi wanita itu tak tampak kelelahan sama sekali. Ia menggerakkan esnya mengepung bola transparan itu. Tak cukup lama, tapi cukup untuk menahannya, memberikan sedikit waktu hingga ia bisa pergi tanpa halangan lagi.

Zen kembali mengatupkan tangannya. Dahinya berkerut, tanda ia tak menyukai apa yang baru saja terjadi.

Kali ini Ellial tidak lagi mengejar wanita itu. Ia berpaling pada Zen dengan ekspresi serius. Lan kenal betul ekspresi macam itu. Artinya, tuannya itu tengah merasa terganggu dengan suatu hal. Dan fakta bahwa ia berjalan mendekati Zen tak membuat hati Lan tenang.

“Kenapa kau hanya menyerangnya? Bukankah kau punya urusan yang sama pentingnya denganku?”

Zen menatap kosong pada Ellial. Perlahan, ia mengangkat tangannya, menyentuh dahi Ellial. Ellial tak melawan. Tampaknya, lelaki berambut berantakan itu sudah tahu apa yang hendak Zen lakukan. Ellial hanya memejam.

Lan pun tahu apa yang hendak dilakukan Zen. Tapi, bagaimanapun itu tetap membuatnya mengernyit. Saat mentransfer ingatan padanya, Zen menempelkan dahinya. Saat itu Lan tak bereaksi karena dipikirnya Zen hanya bisa melakukan dengan cara itu. Tapi, tampaknya ia salah.

Setelah Zen menurunkan tangannya, Ellial membuka mata. Ia membelalak sebentar, lantas menunduk perlahan. Meski begitu, Lan masih bisa melihat sorot mata Ellial yang terlihat sayu, juga tampak terluka. Apa yang sebenarnya dilihat tuannya itu? Lan memalingkan wajah pada Zen, tapi lelaki penuh luka itu hanya menggeleng pelan padanya. Perbuatan yang sama sekali tidak dimengerti Lan.

 

Read previous post:  
39
points
(2952 words) posted by aocchi 7 years 4 weeks ago
65
Tags: Cerita | Novel | petualangan | fantasi | Katalis Waktu | lcdp | tragedi
Read next post:  
80

*lanjut*

70

Berasap karena tumbukan es dan api? Kenapa ga meledak karena perubahan suhu mendadak? ^^
.
.
Bagian ini keren, sudah menyelipkan berbagai macam pertanyaan buat menghadapi chapter-chapter selanjutnya.
^^
Lanjut!

80

meski ada bagian yang kurang gw pahami (menaruh diri pada posisi Lan) tapi gw tetep penasaran.. hehehe...

100

dgn sgt sukses tertipu.. kupikir itu saudaranya zuri. ga taunya fiana..
*gelenggeleng*

yue gmn?
lanjutanya cepetan yah.. #maksa

*ikutangelenggeleng*
nasibnya yue? hi~mi~tsu~ #kabuuur

lanjutannya? just wait this weekend ... nanana~ *pergi dengan keren**eh?

100

Argh! Saya penasaran! Penasaraaaan!!
.
Segera post lanjutannya Bos Meooong! DX

bwahahahaha #kabuuur