[Katalis Waktu] Fragmen 12 - Perpecahan

Pondok kecil di bantaran sungai itu tampak belum lama ditinggalkan. Meskipun ada banyak bekas debu, tapi tak setebal kalau tempat itu ditinggalkan selama bertahun-tahun. Bahkan tak ada sarang laba-laba yang tersisa, apalagi laba-labanya. Tepatnya, bahkan tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Semua makhluk yang ada di sekeliling pondok itu telah tak bernyawa: kelinci…, kucing hutan…, burung-burung.… Seolah kematian mendatangi mereka dengan terlampau cepat sampai-sampai tak satu pun sempat melarikan diri.

Sua hanya berjengit melihat kondisi itu. Tapi, ia sungguh penasaran. Bagaimana manusia bisa mempertahankan nyawanya, sementara para binatang mati seketika bahkan sebelum mereka sadari? Kekuatan apa yang ada di pondok itu? Ia seolah berada di dimensi lain. Perasaannya semakin berat, walaupun dampaknya tak sehebat Hutan Kabut. Apakah karena hawa hangat yang terasa di tempat itu?

Sua menelengkan wajahnya pada Zuri. “Nona, kenapa kita masih baik-baik saja, padahal para binatang saja telah meregang nyawa? Apakah hawa hangat ini penyebabnya?”

Perlahan, Zuri mengangguk pasti. Ia tak bicara lagi meskipun Sua terus menanyakan penyebab kenapa bisa seperti itu. Ia lalu menarik Sua memasuki pondok.

Isi pondok itu lebih kecil dari kelihatannya, mungkin karena dinding kayunya yang ternyata sangat tebal. Tak ada apa pun di sana, kecuali sebuah rak yang memenuhi sisi belakang pondok. Lacinya telah terbuka semua—akibat ulah Sou dan Eusal yang pertama datang—mempertontonkan isinya yang ternyata hanya gulungan-gulungan kertas dengan tulisan tangan yang sangat rapi. Saat Zuri hendak masuk ke tengah ruangan, lantai di bawahnya bergerak. Refleks, Sua bergerak cepat melindungi nonanya, dan segera menghela lega saat melihat Sou keluar dari lubang di lantai itu, diikuti Eusal yang masih memperhatikan kertas putih yang dipegangnya. Sua bisa melihat bahwa isi kertas itu adalah lukisan.

Sou yang melihat kedua gadis selatan di hadapannya langsung menaikkan alis. “Kenapa baru sampai? Kupikir kalian tersesat atau apa.”

Sua dan Zuri refleks bertukar pandang. Seingat mereka, bunyi pertarungan sebelumnya cukup keras untuk bisa terdengar dari pondok ini. Kenapa lelaki itu masih bertanya? Sua maju selangkah, lantas bertanya, “Kalian tak mendengar keributan tak jauh dari sini, tadi?”

“Keributan apa?” tanya Eusal. “Dari tadi, tempat ini hening sekali.”

“Tapi, tadi—”

“Sudah, daripada meributkan hal tak penting, coba lihat ini.”

Meski agak kesal karena Eusal memotong perkataannya, kertas bergambar lukisan seorang wanita itu segera mengalihkan Sua dari rasa sebalnya. Ia seketika mengernyit. Wanita dalam lukisan itu mirip sekali dengan Fiana, meskipun pakaiannya tidak putih. Bahkan pakaian dan jubah yang dikenakan wanita itu sama persis dengan yang dikenakan wanita misterius yang telah menyerang nonanya.

“Kenapa Fiana mengenakan pakaian itu?”

“Fiana?” tanya Eusal bingung. “Namanya bukan Fiana.” Ia lantas mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah tulisan di bagian paling bawah lukisan itu. “Lihat! Namanya Nala. Nala Arinaz.”

Sua membeku. Arinaz? Apakah maksudnya ... Fiana itu nama samaran? Kenapa ia mencoba mencelakai nonanya? Tapi, sifat Fiana dan orang yang tadi menyerang Zuri jelas terlihat bertolak belakang. Ia seketika menoleh pada Zuri, meminta jawaban.

“Benar, namanya Nala,” kata Zuri kemudian. “Tapi, dia bukan Fiana.”

“Tapi, mereka sangat mirip.”

“Itu karena mereka saudari kembar, Sua.”

Sua diam, membiarkan nonanya melanjutkan.

“Mereka berdua adalah putri Paman Azuar. Dengan kata lain, kami bersaudara.”

“Tuan Azuar? Yang kabarnya diusir dari klan lebih dari 20 tahun yang lalu? Bagaimana—”

“Aku tidak tahu. Aku hanya tahu Paman menikahi seseorang yang tak seharusnya dinikahinya. Entah bagaimana, Nala pergi dari negeri ini menyeberang ke negeri kita bertahun-tahun lalu. Dia berhasil bertahan tanpa ketahuan. Tapi, sekitar tiga tahun lalu, dia ditemukan. Karena menganggapnya aib, keluargaku menghabisinya. Aku tidak ikut karena sedang bersamamu di perbatasan, ingat?”

Setelah melihat anggukan kecil Sua, Zuri melanjutkan, “Kita pulang tepat waktu untuk melihat jasadnya dikuburkan. Ah, lebih tepatnya aku yang melihatnya. Maafkan aku karena tidak memberitahumu. Ibu melarangku. Sebenarnya, beberapa kali aku bertemu dengannya tanpa tahu identitasnya yang sebenarnya. Aku baru tahu siapa dia saat mendengar cerita dari Ibu dan melihat sendiri tubuh yang akan dimasukkan ke dalam tanah.”

“Tapi, bagaimana dia bisa ada di sini sekarang?”

Zuri menggeleng cepat. “Tapi, sekarang aku jadi tahu bagaimana orang-orang itu bisa sakit. Nala punya aura aneh yang bisa mengakibatkan udara menjadi sangat berat. Kalau dia kehilangan kendali, dia bisa membunuh siapa saja dengan aura itu. Aku sempat membantunya mengendalikan aura anehnya itu. Tak kusangka, dia akan menggunakannya untuk sesuatu seperti ini.” Zuri mendongak pada Sua. “Bakar pondok ini, Sua. Meski pemiliknya sudah pergi, aura kematian itu masih akan menguar dari pondok ini. Begitu pondok ini lenyap, takkan ada korban lagi.”

“Tapi Nona, aku tak merasakan aura apa pun keluar dari tubuh Nala tadi.”

“Dia sudah menguasai pengendalian itu secara sempurna. Dia bisa menyembunyikannya, atau menguarkannya sekehendak hatinya.”

“Lalu, kenapa kita masih baik-baik saja meskipun berkeliaran di hutan timur?”

“Berkah api mengalir dalam tubuh Nala, yang juga mengalir dalam tubuh kita.” Zuri kemudian memalingkan wajah pada Eusal. “Kau juga memilikinya, kan? Sama seperti Sua, meski bukan lewat jalur keturunan utama, salah satu pendahulumu pastilah anggota Klan Api.”

Eusal mengangguk. “Kakek dari kakekku.” Wajahnya kemudian ditelengkan pada Sou. “Tapi, aku tak tahu apakah hal yang sama juga berlaku padanya.”

Kedua gadis itu turut pula memandangi Sou yang masih saja bungkam. Ia hanya bersedekap sambil memejam, lalu tersenyum penuh arti. Sama sekali tak berkeinginan untuk menjawab.

 

***

 

“Lan!” Nulla berlari ke arah Lan dengan senyum lega. Begitu wajah Ellial terjangkau pandangannya, ia hanya melengos. “Elli,” katanya dingin.

Ellial tak menyahut. Yang dilakukannya kemudian hanya membuat hampir semua orang di tempat itu terkejut, terutama Nulla. Ellial mencengkeram lengan Nulla, lalu menyeret dan memojokkannya di pohon terdekat. “Kau tahu sesuatu, kan?” sergah Ellial, tanpa sengaja meremas lengan Nulla, membuat gadis itu meringis kesakitan.

Refleks, Miluen yang berdiri paling dekat dengan mereka segera meraih Ellial dan mendorongnya menjauhi Nulla. “Apa masalahmu—”

“Jangan ikut campur, Mil.”

Kata-kata dingin Ellial membuat keduanya saling menatap tajam. Nulla yang mencium gelagat tidak bagus dari interaksi mereka berdua segera meraih lengan Miluen, memintanya mundur. Setelah pergulatan tatapan di antara mereka, akhirnya Miluen menyerah. Nulla maju selangkah. “Apa yang terjadi?”

Pertanyaan itu sudah cukup untuk mengalihkan perhatian Ellial pada Nulla. “Soal Fi, dan soal dia!” Ellial mengarahkan telunjuknya pada Zen. Tak lama, diturunkan tangannya kembali. “Apa yang kaurencanakan? Selama kita tak bertemu, rupanya kegiatanmu sangat banyak, ya? Membelinya dari orang-orang Liava, mempekerjakannya, lalu membawanya menemui Fi? Kau tahu siapa dia.”

“Oh, aku tidak tahu, Elli. Curiga, ya. Tapi, tahu?” Nulla menggeleng pelan. “Aku baru merasa yakin setelah kami disergap dalam perjalanan menuju Hutan Kabut. Tapi ... baguslah, paling tidak Zen menurutiku untuk memberitahumu semuanya.”

“Termasuk kesepakatan antara dia dan Fi?”

“Kesepakatan apa?”

Wajah marah Ellial menghilang. Ia bingung. “Kau tidak tahu?”

Refleks, keduanya menoleh pada Zen. Lelaki itu bergeming, pandangannya menerawang ke angkasa. Tampak tak terpengaruh oleh mata-mata yang menatapnya tajam bercampur bingung.

Nulla kemudian mengalihkan perhatiannya pada Ellial kembali. “Katakan, apa yang kaulihat?”

Ellial tak menjawab. Ia menjauhi Nulla, lantas menghampiri pohon terdekat. Di batangnya, ia membenturkan dahinya dengan sangat keras. Lan yang melihat itu langsung menghampirinya, tapi seketika tertahan oleh Nulla. Melihat gelengan kepala Nulla, Lan seketika urung.

Masih menempelkan dahi di pohon, Ellial berkata dengan nada kesal, lebih pada dirinya sendiri, “Gadis gila! Apa yang dia lakukan? Susah payah aku menjauhkannya dari masalah, tapi dia justru makin dalam terjun dalam masalah itu hanya demi menyingkirkanku agar tidak ikut campur.”

“Apa yang terjadi?” kata Nulla kemudian.

Ellial menegakkan tubuh, lantas berbalik. Dahinya terasa perih karena lecet, tapi ia tak peduli. “Fi bilang akan membereskan kekacauan dengan tangannya sendiri. Syaratnya, Utusan Waktu tidak boleh menyentuh siapa pun.” Ellial kemudian teringat perbuatan Zen pada wanita bergaun merah-hitam tadi, lantas menambahkan, “Tapi, kurasa Nala tak dimasukkan dalam kesepakatan mereka.”

“Nala? Yang kaukejar tadi itu, Nala?” tanya Nulla dengan mata membulat. “Dia benar-benar masih hidup. Sudah kuduga.”

“Kau tahu?”

“Tidak. Aku menebak.”

Keduanya terdiam.

Saat dilihatnya situasi sudah terlihat tak setegang tadi, Lan menghampiri Ellial, lantas mengusap dahi majikannya dengan sesobek kain mantel yang sudah dibasahi dengan air Sungai Luminar dari kantong airnya. Refleks, Ellial berpaling pada Lan. Mata hijaunya terlihat sayu. Ia ingat betul reaksi terguncang Lan saat melihat Hazel terluka karenanya. “Kau pasti menyimpan begitu banyak pertanyaan, ya?”

Lan menggeleng pelan. “Begitu banyak hal yang terjadi. Kurasa, pertanyaan itu bisa menunggu.”

Ellial meraih tangan Lan dan menurunkannya. “Aku tidak bisa lagi menerima kebaikan seperti ini darimu. Biasakanlah.”

Lan menarik tangannya dari genggaman Ellial, lantas memandang tajam majikannya itu. “Ini bukan kebaikan, Tuan. Ini kewajiban. Tuan seharusnya juga belajar membiasakan diri.” 

Ellial tak bisa menjawab, membuat Nulla mendengus geli. Tak peduli meski lelaki itu beralih memandang tajam padanya.

Tak lama, terdengar suara gelak tawa kecil tak jauh dari mereka. Tak ayal, semua orang menoleh ke sumber suara. Hanya Zen yang tak terpengaruh.

Regina berdiri menyandar pada sebuah pohon, masih tergelak sembari membungkuk kecil dan memegangi perutnya. Begitu puas, ia membenarkan sikap berdirinya. “Ah, melihat ekpresi wajahmu, Ellial. Kutebak wanita itu berhasil kabur, ya?”

Ellial melangkah mendekati Regina, mata mereka tak lepas dari satu sama lain. “Apakah semua itu pantas ditertawakan?”

“Tentu saja. Seorang esflar palsu yang menggabungkan kekuatan dengan Utusan Waktu, tapi tak mampu mengatasi seorang wanita. Kalian lengah, atau sesuatu melemahkan kalian?”

Meski merasa terganggu dengan pertanyaan itu, Lan tetap maju menuju Regina dengan alis menyatu. “Esflar?”

“Seseorang yang memiliki dua energi murni dalam dirinya.” Regina mendengus lagi, lalu berpaling pada Ellial. “Sayangnya, seharusnya kau tidak punya hak memiliki Api Putih. Wanita itu masih hidup sampai sekarang, tak peduli sekeras apa usaha Klan Arinaz memunahkannya, bukankah semua itu akibat keegoisanmu, Ellial?”

“Aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan.”

“Tidak,” sahut Regina dingin. “Kau melakukan apa yang ingin kaulakukan. Kalau kau sungguh pintar, kau seharusnya tahu di mana letak perbedaannya.”

“Dua nyawa akan melayang kalau aku tak melakukannya!”

“Dua nyawa yang seharusnya tidak pernah ada!” Regina maju sampai jarak keduanya tak sampai selangkah. Ada kilatan gelap yang penuh peringatan dari matanya. “Apakah perasaanmu padanya sebesar itu? Daripada kehilangannya, kau lebih suka menumbalkan seisi dunia ini? Apa ini setimpal?”

“Sebelum jatuh korban, akan kuakhiri semua ini, bagaimanapun caranya.”

“Sebelum jatuh korban?” Regina tertawa lagi, lalu kembali serius tak lama kemudian. “Demi para Roh! Lihat ke dalam bangunan itu! Hadapi kenyataan, Ellial! Korban sudah jatuh, dan tidak hanya satu-dua orang. Energi negatif mulai menyebar, tidak hanya di utara. Timur yang paling parah sejak musnahnya Klan Lu. Kau sendiri tahu penyebab Klan Lu musnah, kan?”

Ellial bungkam. Tapi, mata hijau yang agak bergetar itu membuat Lan yakin bahwa tuannya itu tahu sesuatu. Bahkan, Zen yang sejak tadi tak bereaksi, seketika mengarahkan pandangan pada Ellial. Lu Jin masih terlampau kecil saat peristiwa itu terjadi. Ingatan yang tersampaikan pada Zen pun menjadi tersamar dan tidak tersisa banyak.

Miluen menoleh pada Nulla dengan pandangan bertanya. Gadis itu diam. Bukan lantaran tidak tahu, melainkan karena ia tahu bahwa jawaban yang dinantikan orang-orang di tempat itu tak seharusnya keluar dari mulutnya.

Seorang lelaki belasan tahun—pelayan yang membawakan mantel putih gading Regina—berlari tergopoh-gopoh menuju majikannya, tak ayal memudarkan atmosfer tegang yang sempat memenuhi tempat itu.

“Mereka sudah kembali, Nona.”

Regina mengernyit pada pelayannya itu. “Azkan, apa kau tak lihat situasinya, hah? Kami sedang bicara. Berani sekali kau menginterupsi.”

“Tapi, Nona bilang aku harus melapor kalau mereka kembali, apa pun yang terjadi.” Azkan ragu sejenak. “Err, apa pun yang terjadi itu ... termasuk kali ini, kan, Nona?”

Melihat mata membulat yang terlihat memohon itu, Regina hanya menghela panjang. Diurungkannya niat untuk marah. Sejenak ia kesal, mengetahui kenyataan bahwa ia tak pernah bisa marah pada pelayan yang sudah mengabdi padanya bahkan sebelum bisa mengingat apa pun itu. Sejenak kemudian, temperamennya sudah kembali normal, seolah perdebatannya dengan Ellial tadi tak pernah terjadi. Regina berbalik, lantas berjalan cepat menyambut empat orang yang muncul dari arah timur.

“Sou, kalian terlalu lama. Matahari sudah turun jauh, tahu tidak?”

“Maaf,” sahut Sou sambil menyengir seperti biasa. “Kami harus membereskan beberapa masalah dulu sebelum kembali.”

“Apa yang kaudapat?”

“Tidak banyak. Hanya soal tempat tinggal wanita esflar itu selama beberapa bulan ini. Pondok itu adalah rumah lamanya sebelum dia pergi ke selatan. Aku ceroboh. Harusnya aku memeriksanya sejak dulu.”

Mengabaikan percakapan dua orang itu, Zuri menghampiri Ellial. “Nala?”

Ellial hanya menggeleng, membuat Zuri langsung menghela panjang. Seolah teringat sesuatu yang tidak menyenangkan, wajah Zuri berubah pucat. Ia kemudian menengadah pada Ellial. “Kau ingat bawahan Lehen yang terus mengikutiku sejak kemarin, Ellial? Bocah laki-laki itu?”

“Ada apa dengannya?”

“Terjadi kesalahpahaman. Tanpa sengaja dia berhadapan dengan Sua. Nala menghadangku, aku tak tahu apa yang terjadi. Setelah Sua kembali, dan kau mengejar Nala, aku baru tahu tahu kalau bocah itu jatuh dari tebing dan hanyut di sungai. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kemungkinan hidupnya kecil, tapi bukan berarti tidak ada.”

Ellial seketika pucat pasi. Tanpa sadar, ia menoleh pada Lan yang sedang memandanginya bingung. Pertanyaan yang meluncur dari bibir bawahannya itu seketika membuatnya mematung.

“Bocah lelaki apa? Si—siapa yang kalian maksud?”

“Lan,” sahut Ellial lemah.

“Jangan membuatku takut, Tuan. Siapa yang kalian maksud?”

Karena Ellial hanya bungkam, Zuri yang menggantikannya menjawab. “Kalau aku tidak salah, bocah itu memperkenalkan dirinya dengan nama Yue.” Saat memperhatikan Lan sekali lagi, baru Zuri menyadari sesuatu. “Ah, dia juga orang timur sepertimu.”

Lan membeku. Tangannya yang gemetar dengan susah payah mengepal. Matanya yang membelalak, membengkak karena marah dan sedih dalam waktu bersamaan. Ia menggigit bibir bawahnya. Sembari menguatkan diri, ia menengadah pada Sua. “Bagaimana dia jatuh?”

“Bagaimana? Itu ... angin hasil benturan kekuatan kami menghempaskannya jatuh dari tebing.”

“Hanya itu? Sua, saat aku bilang bahwa dia lebih hebat dariku, aku tidak membual. Dia tidak akan jatuh semudah itu. Apa yang kaulupakan? Katakan semuanya!”

Meski masih tak mengerti kenapa gadis di hadapannya itu tampak marah, Sua tetap berusaha mengingat. “Sepertinya, aku melihat darah di dinding tebing seberang. Mungkin kepalanya terbentur hingga membuatnya tidak sadar.”

Kata “darah” membuat Lan kalap. Ia pasti sudah menerjang Sua kalau saja tidak ditahan Ellial dan Nulla yang segera berlari menujunya.

“Ada apa denganmu, Lan? Kenapa kau jadi begini marah?”

Sambil menahan kemarahan, Lan menjawab, “Yue adalah adikku. Apa itu jawaban yang cukup untukmu?”

Sesaat, Sua tampak sangat terkejut. Sesaat kemudian, ia yang berbalik marah. “Lalu apa? Kau menyalahkanku? Kalau saja kau tidak bilang bahwa dia datang untuk membunuh nonaku, aku akan lebih berhati-hati.”

“Tuan tertuaku yang memberitahuku. Bawahan mana yang tak akan percaya?!”

Ellial dan Nulla yang memegangi Lan hanya bisa bertukar pandang, lantas menoleh pada Lan bersamaan. “Kakak yang memberitahumu semua itu?!” seru Ellial tak percaya. “Kakakku?!”

Karena keterkejutan mereka, tanpa sadar pegangan mereka melemah. Lan tak menyia-nyiakannya. Ia memburu Sua, tapi seketika terhenti. Ia menoleh pada orang yang mencengkeram sebelah lengannya, menatapnya tajam.

“Kau lupa yang sudah kita bicarakan, Lan?” Regina menatap gadis itu lembut. “Tentang pengampunan?”

“Aku hanya manusia biasa, Nona.” Meskipun mengatakan itu, perlahan Lan mulai tenang. Entah kenapa, pandangan mata lembut Regina seketika meredakan amarahnya.

Melihat emosi Lan sudah tak meledak-ledak lagi, Regina melepaskannya.

Lan menghampiri Sua, kali ini lebih tenang. Walaupun begitu, matanya masih berkilat kejam. “Kalau aku menemukan Yue hanya tinggal jasadnya saja, aku berjanji akan membuatmu membayarnya dengan nyawa.”

Lan berbalik, lantas menghadap Ellial seolah minta izin.

“Pergilah. Tapi, aku tidak bisa menemanimu.”

Lan mengangguk, lalu bergegas pergi menuju timur.

Nulla memandang sedih punggung Lan yang menjauh dengan cepat. Tak lama, ia menangkap sepasang mata hitam legam menatapnya ragu. Ia seketika tersenyum.

“Akan kuawasi Ellial. Takkan kubiarkan dia kabur ke mana pun lagi. Sebagai gantinya, tolong jaga Lan.”

Lelaki timur itu mengangguk kecil—ungkapan kepatuhan yang berbaur dengan rasa terima kasih karena dibiarkan mencari seorang lagi bocah lelaki dari ingatan Lu Jin, yang mau tak mau membuatnya terikat. Tanpa menunggu lagi, ia mengejar Lan sampai tebing yang tadi dimaksud Sua.

Lan yang menyadari kehadirannya, segera menoleh. Bukan tatapan kosong milik Zen yang tertangkap oleh Lan, melainkan tatapan lembut Lu Jin yang tersisa pada mata hitam legam itu. Saat itu juga, Lan tahu kenapa lelaki penuh luka itu menyusulnya. Ini semua demi Yue. Adik kesayangannya. Juga adik kesayangan Lu Jin.

Keduanya saling mengangguk, lantas bergegas pergi mengikuti arus Sungai Luminar. 

 

Read previous post:  
43
points
(2846 words) posted by aocchi 7 years 5 weeks ago
71.6667
Tags: Cerita | Novel | petualangan | fantasi | Katalis Waktu | lcdp | tragedi
Read next post:  
60

bagus :)

70

Nah, karena ini bagian terakhir yang bisa kubaca sekarang, kurasa aku bakalan ngasih komen keseluruhanku di sini aja, kak Dya. <3
.
Kupikir cerita ini beneran layak diikutin. Salah satu sebabnya yaaa soal narasimu yang bagus, tapi itu bukan berita baru. Alasan lain, karakter-karakternya menarik. Walau itu juga diimbangin sama jumlahnya yang menurutku sangat banyak (bukan berarti aku nyalahin jumlah member LCDP yang nampaknya jadi inspirasi itu--lol XD), sehingga aku merasa engga semua karakter di sini terolah dengan baik. Meskipun ga parah-parah banget, beberapa relasi antar karakter juga masih terkesan kayak chemistry yang datangnya tiba-tiba, misalnya antara Regina dan Lan, kalo aku diminta ngambil contoh dari yang paling baru. Banyaknya karakter juga menurutku jadi salah satu alasan kenapa konfliknya masih kerasa agak ngebingungin buatku. Apalagi nampaknya konflik-konflik dalam cerita ini justru terjadi karena relasi mereka.
.
Menurutku sih, mungkin dikau bisa coba memelankan sedikit laju pembukaan-pembukaan informasi yang bakal nentuin perkembangan cerita, apalagi kalo kau ngebuka itu dalam sebuah dialog. Lalu mungkin kau bisa fokus pada sudut pandang satu orang aja dalam satu potongan adegan--atau lebih bagus lagi kalo kau bisa ngeberlakuin ini tiap satu chapter, meskipun nampaknya POV yang kaupakai POV 3 tidak terbatas. Tapi itu cuma saranku. :v
.
Dan aku nemu satu "wajah poker" lagi di sini. :v
.
Kasih kabar aku kalau kau sudah ngelanjutin ini lagi ya~

80

Aku sudah menduga kalau itu Yue
Hahahaha
.
.
Aku ga bisa ngasih banyak saran sih, maaf. Saranku sih di bagian penceritaan masa lalu Nala agak diperbaiki. Bagian 'menganggapnya aib, keluargaku menghabisinya' nah, gimana kalau diubah 'menganggapnya aib, keluargaku berusaha menghabisinya'. Kalo di kalimat sebelumnya, aku membayangkan Nala sudah mati dan yang muncul di chapter sebelumnya itu zombie.
^^

80

good... continue...

2550

emm.. tentang regina dan pelayannya.. yg masih kecil saat mengabdi itu pelayannya ato reginanxa? kalo ga salah regina 19 kan? pelayannya belasan.. asumsiku si 17 ke bawah,. tanya itu aja..
berarti, yg sudah mengabdi saat blum ingat apa2 ìtu pelayannya kan? Bukan reginanya yg blum ingat apa2..

salam.. maap banyak tanyanya.. hehe

yang masih kecil pelayannya
kata2 saya ambigu ya? *pundung di pojokan bareng sion*

yang 'jari telunjukkan' belum diedit..?

yang 'jari telunjukkan' belum diedit..?

argh, saya onlen liwad hp, belom bisa ngedit T_T

100

poinnya lenyap..

kak aoo...!!!
sampe ga ya, teriakanku??

yue....:-(

kupikir reginanya ngeselin. ternyata baik ya..

kakanya ellial sepertinya.. mencurigakan..

kak, ada yg salah ketik menurutq..
ia lantas mengarahkan jari telunjukkan ke sebuah tulisan di bagian paling bawah lukisan itu. -》telunjukkan?? hehe.. itu aja.

mau tanya boleh? titik tiga itu fungsinya apa si? sama, yang strip panjang.. kadang kan ada tulisan yang diapit strip itu. nah, itu apa jg diucapkan tokoh, seandainya ada di kal. langsung?
terima kasih sebelumnya..

lanjutnya jgn lamalama...

punya fb? mau saya masukin ke kelas kepenulisan online? di sana banyak ilmu yg bermanfaat. dibimbing oleh senior2 yg gak asing lagi di media. gratis kok. :)

maumaumau...
fb ku Yusriest Yus Riest

makasi ya,.

90

Kok di akhir saya agak pengen nangis ya? uh ... Yueeeee~ :'(