D 8, Trailler

Matahari belum tanggelam sempurna di ufuk barat. Bayangan tembok tinggi desa Trowulan menaungi pintu timur, tempat empat ksatria yang kini menuntun kudanya dengan perlahan memasuki gerbang desa. Penjagaan desa itu nampak sangat ketat setelah kerajaan Aresta menyebarkan berita ke seluruh dunia bahwa mereka ingin memperluas batas kerajaan dengan beberapa ksatria yang dikirim. Itulah tugas empat ksatria ini, dengan Narya sebagai pemimpin salah satu kelompok penakluk dari Aresta.

Setibanya di gerbang desa mereka ditemui beberapa ksatria penjaga desa.

“Tuan-tuan ini siapa dan dari mana?” kata seorang ksatria dengan syal warna merah.

“Maaf tuan, kami pengelana dari Aresta dan kami membutuhkan bekal untuk melanjutkan perjalanan. Tentu, bila diizinkan untuk bermalam di sini, kami akan sangat berterima kasih,” balas Narya. Sekilas, Narya melihat orang itu tersenyum.

“Tentu saja. Namun kami akan lebih menghargai anda semua jika tidak memanggil kami dengan panggilan ‘tuan’. Kami berempat semuanya wanita. Perkenalkan nama saya, Riri Haryati...”

“Aku Puspa Dyahtari...” kata ksatria bersyal warna coklat.

“Nirmala Falladi...” kata ksatria bersyal merah muda.

“Aku Diana Meddei, salam kenal,” kata ksatria dengan badan yang paling tinggi besar.

“Oh, maafkan saya, nona. Perawakan anda semua tidak menampakkan kalau anda wanita. Maafkan saya,” sahut Narya tersipu,”Perkenalkan saya Narya Mandana...”

“Warman Oryana...”

“Saya Andra Madradika...”

“... dan saya Ken Martadinata.”

Riri tertegun sejenak, sembari kemudian berkata,”Oh, baiklah. Silakan masuk!”

Narya, Warman, Andra, dan Ken menuntun kuda mereka menyusuri jalan di dalam benteng desa Trowulan. Nampak kesibukan yang biasa terjadi di sebuah desa perdagangan di sebuah negeri yang memiliki garis pantai seperti Kerajaan Wulansari yang menaungi desa ini. Perdagangan bahan makanan, pakaian, kuda, dan bahkan budak-budak, baik budak-budak pembantu maupun wanita-wanita pelacur yang memamerkan tubuhnya yang indah pada para pria yang mendatangi desa itu. Akan tetapi, ada hal yang jarang terlihat di desa bahkan negeri lain di dunia ini, desa itu nampak begitu bersih. Tiada sampah yang berserakan di jalanan. Selokan-selokan di kanan kiri jalan pun nampak jernih.

“Maaf, mengapa desa ini terlihat beda dengan desa lain di Wulansari?” tanya Warman.

“Beda? Tidak ada yang beda dengan desa yang lain kok,” sahut Nirmala.

“Pertama, ksatria penjaganya. Kalian semua wanita. Kedua, keteraturan ini. Tidak semua desa memiliki keteraturan dan ketertiban seperti yang kalian miliki lho,” balas Warman.

“Oh itu. Sebenarnya kami adalah daerah otonom dari Wulansari. Trowulan dan Girilunar membentuk persekutuan sendiri di bawah bendera Wulansari. Kemudian kami juga memiliki pimpinan suku sendiri dan dewan rakyat. Kalian tentu tahu bahwa Wulansari bukanlah seperti negeri-negeri lain di dunia ini. Kami menganut sistem demokrasi. Jadi dewan rakyatlah yang menentukan jalan pemerintahan. Suara kami didengarkan disini. Jadi, yang anda berempat lihat adalah hasil jerih payah seluruh bangsa Lunora. Semua terdistribusi secara merata ke seluruh warga tanpa terkecuali,” kata Riri.

“Tapi mengapa masih ada yang menjual diri?” tanya Andra.

“Menjual diri? Oh, wanita-wanita tadi? Mereka itu bukan warga kami. Meski warga kami ada yang menjajakan tubuhnya, biasanya itu gratis,” sahut Nirmala.

“G-g-gra-gratis?” sahut Warman terkejut.

Nirmala mengangguk. “Tapi kemudian pria itu akan menjadi  santapan anjing peliharaan desa Trowulan.”

“Jika tertangkap?” tanya Warman.

Puspa tersenyum nakal. “Mau mencoba?”

“He-heh?” Warman tergagap, saat Puspa menggerayanginya. Tapi kemudian menepuk pipi Warman dengan lembut.

“Para wanita di sini kebanyakan adalah ksatria. Para pria kami biasanya lebih mengurusi daerah luar. Jadi cari saja waktu yang tepat,” kata Puspa sambil kembali tersenyum nakal dan meninggalkan Warman.

Riri tertawa. “Meski banyak dari para wanita di desa ini yang berlaku sebagai ksatria, tapi banyak pula yang menjadi pencuri setelah berhasil menarik seorang pria dengan tubuhnya. Jadi, silakan kunci kamar kalian. Itu losmen untuk para pria,” kata Riri sambil menunjuk ke arah sebuah losmen yang agak tua di ujung jalan.

“Losmen untuk para pria? Khusus berarti?” tanya Ken.

Riri mengangguk. “Sederet bangunan itu adalah semuanya losmen dan penginapan. Disamping losmen pria yang kutunjuk itu adalah losmen wanita. Jangan coba-coba mencari masalah.”

“Tentu saja!” Narya buru-buru berkata sebelum didahului Warman, “Kami akan berangkat lagi saat matahari sepenggalah besok. Terima kasih atas bantuannya.”

Narya memberi hormat dan diikuti Warman, Ken, dan Andra. Riri, Puspa, Nirmala, dan Diana membalasnya dengan lembut. Kemudian, saling memisahkan diri.

 

“Warman! Jangan mencari masalah ya?!” kata Narya memperingati. Warman mengangguk perlahan. “Aku hanya ingin segera merebahkan tubuhku di atas kasur empuk!”

Warman segera berlari ke arah penginapan, diikuti Ken dan Andra, menarik kuda-kuda mereka. Narya hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan teman-temannya yang sangat beda dibandingkan saat di medan laga.

Dengan gontai, dia berjalan menuju penginapan bersama Kinom, kuda putih yang semenjak lulus dari akademi, dua tahun lalu, setia menemaninya kemanapun Narya pergi.

 

Terlihat teman-teman Narya sudah masuk ke dalam rumah tua yang dipakai unuk penginapan itu. Namun, tiba-tiba terdengar oleh Narya, yang kini hanya berjarak lima kaki dari pintu masuk. Suara keributan. Suara perkelahian.

“Dasar ksatria bodoh!” umpat Narya sembari bergegas menyimpulkan tali kekang Kinom pada tempat yang tersedia, di samping kuda Warman, Numar; kuda Andra, Julio; dan kuda Ken, Nimo. Kemudian dia masuk membawa barang-barangnya.

Terlihat di depan mata Narya, ketiga kawan karibnya tengah terlibat baku hantam dengan para perompak, pemerkosa, dan berbagai berandalan lain yang berkumpul di lobi penginapan sekaligus bar.

“Warman! Ken! Andra! Baru juga aku selesai ngomong! Kenapa dengan kuping kalian?!?!?!” teriak Narya. Semua manusia yang ada di lobi itu serentak berhenti melakukan kegiatan yang tengah mereka lakukan. Dan melayangkan tatapannya pada Narya yang telah meneriaki mereka di dalam lobi itu. Semua terdiam.

“Narya! Mereka bangsat! Negeri kita dihina habis-habisan oleh mereka!” kata Andra memecah keheningan.

“Benar!! Kita dihina! Aku tak terima!!” sambung Ken. Kemudian, seorang pria dengan topi mirip koboi, berbaju rumbai warna coklat, dan berkumis tipis, yang sedari tadi hanya diam di depan meja bartender saat ada pertikaian itu, berjalan mendekati Narya.

“Fianosa! Fredaster den Narya le Arestopia mediner rentos? Hundos na len doren majidas!” kata pria itu saat ada di depan Narya. Mata pria itu menatap tajam ke arah mata Narya.

“Apa yang anda katakan?” tanya Narya.

Pria tersebut tertawa. “Mengapa kalian mengaku sebagai bangsa penguasa jika bahasa Bangsa Darnis-Magician saja, kalian tidak bisa?! Payah!? Benar-benar bangsa yang payah!? Mengirim pasukan yang payah macam kalian!!!” Narya masih terdiam. Dia menunduk. Entah apa yang dipikirkan Narya, tapi dia hanya terdiam. Hanya mendengar ocehan pria yang mendatanginya.

“Maaf, kami datang kemari untuk beristirahat dan bukan untuk bertarung. Kami sudah berjanji pada nona-nona ksatria yang menjaga gerbang itu untuk tidak bebuat kerusakan di desa ini,” sahut Narya sambil melangkah meninggalkan pria yang mengejeknya.

“Ternyata selain bodoh, pengecut, kalian juga idiot! Bagaimana kalian percaya kalau pelacur-pelacur itu adalah ksatria kami? Heh!? Mana mungkin dan mana ada ksatria wanita?! Kalian memang bodoh, pengecut, dan ~ehm~ apa istilahnya, prajurit bodoh yang dikirim untuk misi yang bodoh pula.” Pria itu tertawa lagi. Tiba-tiba pedang melayang ke arah leher pria itu. Menembus diantara dua urat. Memisahkan kepala dan badan. Darah mengucur dari nadi-nadi yang seharusnya menyalurkan darah ke otak tapi sekarang putus. Badan pria yang cukup kekar itu berlutut dan mengelepar di atas lantai. Berselimut darah merah yang bercampur hitam.

Semua mata melotot tak percaya. Pria yang dianggap pimpinan berandalan mereka mati oleh seorang ksatria Aresta. Warman, Ken, dan Andra melepaskan genggamannya dari kerah pemuda yang berkelahi dengan mereka tadi. Menatap Narya yang kini menyarungkan pedangnya kembali.

“Narya, kalau marah, benar-benar mengerikan yah!” bisik Warman.

“Aku setuju. Karena itu, dia adalah satu-satunya figur pemimpin di kelompok kita,” balas Andra juga dalam bisikan.

 

“Warman! Ken! Andra! Kalian ingin beristirahat atau apa di sini? Jika ingin bertarung, kita keluar dari desa ini, malam ini juga!” tanya Narya dengan tatapan sadis. Warman, Ken, dan Andra melongo menatap Narya. Kemudian, Warman mengambil tas ranselnya yang dilemparkannya sebelum berkelahi dan datang menghampiri Narya.

“Kami ingin beristirahat. Semenjak tadi, niat kami begitu. Tapi mereka bangsat! Sekarang kita bisa istirahat!” Warman berlalu dari hadapan Narya dan menemui penjaga penginapan.

“Tolong berikan kami kamar. Kami tetap akan membayar kerusakan yang kami buat dan membayar tarif kamar sesuai ketentuan,” kata Warman pada kakek tua pemilik penginapan. Dengan gemetar, beliau berjalan mendatangi dinding yang dipenuhi dengan kunci.

“Anda berempat apakah menginginkan empat kamar masing-masing?” tanya kakek tua itu.

“Satu saja yang paling luas. Itu sudah cukup bagi kami. Tentu saja, tolong tambahkan pembaringan lagi ya?!” kata Narya. Warman menoleh. Ternyata ketiga temannya sudah berada di belakangnya lengkap dengan perlengkapannya.

“I-ini. Silakan. Satu malam lima Ferrel. Jika ditambah dengan ganti rugi, semua jadi 150 Ferrel,” kata kakek tua itu. Narya, Warman, Ken, dan Andra saling berpandangan.

“Ferrel?” tanya Warman.

Kakek itu mengangguk. “Ferrel, mata uang kami.”

“Maaf, kami tidak memiliki Ferrel, tapi –“ Warman mengeluarkan beberapa keping emas dari kantongnya.

“Kol-kold-koldes? Tentu saja!” kakek itu langsung merebut koin emas dari tangan Warman, dan menyerahkan kunci di tangan Warman.

“Ambil saja kembaliannya tapi berikan kami pelayanan terbaik. Dimulai dengan makan malam,” sahut Warman sambil tersenyum.

“Tentu saja, tuan-tuan semua. Silakan beristirahat dulu!”

Narya, Warman, Andra, dan Ken menuju ke kamar yang telah disiapkan untuk mereka bersama seorang pelayan wanita sebagai penunjuk jalan.

“Selamat beristirahat, tuan-tuan. Ini kamar anda. Semoga puas dengan pelayanan kami,” kata pelayan wanita itu sambil tersenyum. Warman dan Narya membalas senyum wanita tersebut. Dan setelah wanita iu pergi, mereka masuk ke dalam.

 

Mereka berempat berjalan beriringan memasuki kamar berukuran besar yang berisi dua tempat tidur, sebuah kamar mandi, dan sebuah bar.

“OK, aku mandi duluan yah,” kata Warman sambil lalu melenggang terus ke arah kamar mandi.

“Cepatlah, kami juga mau mandi,” balas Andra.

“Siap!”

Dan, malam itu adalah malam pertama mereka berempat tidur di bawah atap setelah berbulan-bulan tidur di bawah naungan langit.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at D 8, Trailler (7 years 20 weeks ago)
90

*diselamatkan dari serangan jantung* ceritanya? keren sih, cumak yaa.. enggak sreg aja kalau ksatrianya cewek semua -o-

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at D 8, Trailler (7 years 20 weeks ago)
100

dam dam dam
saya nggak dapet gambaran ini jaman apa dan negeri mana, Trowulan bikin saya inget sama Indonesia, tapi ternyata nama ras dan sukunya bener2 beda.

sekian...

Writer AwankoLosta
AwankoLosta at D 8, Trailler (7 years 20 weeks ago)

ini ada di suatu planet di luar sana... tapi dengan nama-nama yang sebisa mungkin kubikin agar nggak mirip novel terjemahan... :3