Anak Anjing Paulino

Bayangkan kau hidup di sebuah kota rapuh yang penduduknya terbelah menjadi dua belah pihak yang saling bermusuhan; sebuah hembusan angin sepoi yang tak bersahaja bisa saja meruntuhkan menara perdamaian dengan mudahnya. Bayangkan seorang yang kau sayangi berusaha untuk menciptakan sebuah piramida keamanan, ketentaraman, dan kedamaian dari butir-butiran pasir nan liar; terlalu lemah mewujudkan gagasannya. Bayangkan impian orang yang kau sayangi itu melekat jelas di benakmu; kau rela berdiri gagah di depannya untuk menuntunnya mencapai apa yang ia impikan.

Kini, coba bayangkan dirimu tak lebih dari seekor anak anjing, yang tinggal di sebuah kota antah berantah, dimana para manusia terlampau kikir untuk berbagi kehidupan dengan makhluk lain; sayangnya kawan, kaulah makhluk lain itu.

Maka kau akan memahami bagaimana perasaan Krovenoe. Bersama ketiga kakaknya ia berusaha menjadi malaikat pelindung dari seorang imigran di Wardten City, Paulino Punzio.

Cerita berawal ketika Paulino menemukan empat bayi anjing dan memilih untuk menampung mereka sebelum orang lain yang memilih untuk membunuh mereka. Benar, kawan. Di kota ini makanan tak terlalu melimpah untuk dimasukkan ke dalam semua perut. Dan bagi mereka yang hidupnya tak terlalu berharga, lebih baik bersiap untuk berpulang ke sisinya. Sebab rasa ego manusia terhadap hidup makhluk lain di Wardten City, sungguh terlalu.

Dan beberapa waktu kemudian...

***

Tubuh mungil Krovenoe langsung bergetar mengusir peluh-peluh air yang menggerogotinya tepat setelah ia muncul dari sebuah celah di dinding. Menyadari kemunculan adik bungsunya, Bimchi langsung menyambutnya dengan perasaan cemas. Anak anjing betina itu sangat menghawatirkan kondisi Krovenoe yang terlalu lama mengintai, apalagi di tengah hujan begini. Tak mungkin Krovenoe terus berada di luar, kecuali ada sesuatu yang menarik minatnya sewaktu ia mengintai majikannya. Namun Krovenoe tahu batasannya, jika hujan turun, ia harus segera berada di rumah. Kecuali ia terpaksa untuk melanjutkan pengintaiannya karena beberapa hal penting yang sangat mendesak.

"Di luar hujan," sambut Bimchi, tak ingin berbasa-basi. "Mengapa kau tidak langsung pulang saja?" cemasnya.

Krovenoe tertegun sesaat. Kemudian ia menggeleng sambil berjalan pelan ke arah mangkuk yang berisi air susu. "Bicara nanti, panggil Blech dan Zech dulu," ujarnya setelah ia selesai menjilati susu di mangkuk.

Bimchi tak mengangguk, namun ia menuruti perkataan Krovenoe.

Beberapa menit kemudian Zech dan Blech sudah berada di ruangan itu. Bimchi hanya berdiri di sudut ruangan, sebab jika menyangkut tentang tugas yang sedemikian penting ini, ia tak memiliki hak sama sekali untuk angkat bicara. Bimchi bukanlah pejuang seperti ketiga saudaranya, jenis kelamin merupakan benturan baginya.

"Apa yang menghambatmu di luar?" tanya Zech.

Krovenoe melirik Bimchi sebelum ia menjawab, "aku melihat Tuan Paulino pergi bersama orang asing."

Mendengar jawaban Krovenoe Blech hanya mengangguk misterius. Tak ada dari ketiga adiknya yang mengetahui pikirannya saat itu.

"Bukankah itu bagus?" ujar Zech, mendekati Bimchi yang sama riangnya dengan dirinya. "Kini kerja keras Tuan Paulino membuahkan hasil."

Krovenoe tersenyum. Hanya sesaat, sebab senyuman itu pudar ketika ia melihat gelengan Blech yang sudah jelas menandakan bahwa ia tak setuju.

"Terlalu mencurigakan," sahut Blech. "Terlalu mencurigakan untuk pergi di tengah-tengah hujan begini. Terlalu lebat untuk berpergian, seharusnya mereka menunggu hingga hujan reda, kecuali jika salah satu dari mereka tak ingin diikuti."

Krovenoe bingung. Kebingungannya bertambah ketika ia mendapati wajah Zech yang berubah pucat. Sepertinya Zech mengerti apa yang dimaksud oleh Blech.

Blech memandang Krovenoe. Sorotan matanya jelas dan tajam. "Kau kehilangan jejak mereka, iyakan?" ujarnya dengan nada mendakwa.

Krovenoe mengangguk pelan. Ia takut untuk menjawab, namun ia tahu ia harus melakukannya. "Hujannya sangat deras. Kabutnya terlalu tebal dan aku kehilangan bau mereka."

Mendengar jawaban Krovenoe, Zech langsung mendesis geram. Sudah ia duga adik bungsunya tak akan bisa melakukan pekerjaan yang seharusnya ia lakukan dengan becus.

Mendapati situasi yang sangat berbahaya bagi Tuannya, Blech berusaha untuk tetap tenang. "Dengar, Krovenoe. Jawab pertanyaanku. Apa kau mengikuti mereka cukup lama?"

"Separuh perjalanan," jawab Krovenoe mantap. Jika separuh perjalanan yang ia maksud, maka bisa dipastikan ia sudah mengintai cukup lama.

Blech mengangguk paham. "Apa kau merasa mereka memiliki tujuan yang jelas?"

Krovenoe berpikir sesaat. "Kurasa tidak. Sebab sebelum aku kehilangan jejak mereka aku sempat mengenali sebuah tempat yang mereka lalui. Bisa kupastikan mereka berputar-putar tanpa ada tujuan yang jelas."

Blech mengangguk kembali. Kini makin misterius anggukannya. "Kurasa sudah jelas bukan? Kita masih memiliki waktu. Sepertinya orang asing itu bukanlah seseorang yang Zech sebut-sebut mengincar nyawa Tuan Paulino."

Bimchi dan Krovenoe tersentak ketika mendengar ucapan Blech. Ada seseorang yang mengincar nyawa Tuan Paulino? Mengapa Blech dan Zech tak memberitahukan kedua adik mereka? Sesaat kemudian Krovenoe mulai paham, bukan hanya Tuan Paulino yang Blech khawatirkan, melainkan kedua adiknya yang akan terguncang ketika mendengar fakta itu.

Krovenoe berusaha tenang walau rasa cemas mengguncang tubuhnya terus menerus. Otaknya kian galau memikirkan keselamatan Tuannya.

"Kau tak apa, Krove?" tanya Blech yang menyadari guncangan batin yang dialami Krovenoe.

Krovenoe tertegun. Ia melirik wajah pucat Bimchi yang tengah ditenangkan oleh Zech. "Aku? Aku tak apa-apa."

Untuk sesaat Blech tak bergeming. Meneliti wajah pucat Krovenoe dibalik bulunya yang hitam mengkilap karena basah. "Baguslah. Kau mengerti aku tak bisa menugaskanmu untuk misi di luar, bukan?"

Krovenoe mengangguk. Ia telah mengecewakan kedua kakaknya dan tanggung jawab mengawasi Tuannya telah dicabut oleh kakak tertuanya.

"Namun aku masih mengharapkan informasi darimu malam ini," tambah Blech. "Jangan kecewakan aku kali ini, Krove. Ini penting sekali."

Krovenoe mengangguk. Ia berjalan ke arah bantalan tidurnya ketika Blech mempersilahkannya untuk tidur dan mengistirahatkan tubuh lelahnya.

***

Sebuah guncangan lembut membangungkan Krovenoe dari tidurnya. Ia terbangun walau malas membuka matanya. Saat itu juga suara anak anjing betina lembut langsung menyambutnya dari tidur.

"Bangunlah, Krove!."

Krovenoe mengintip lewat kelopak matanya yang mulai terbuka sedikit. Gelap sekali malam itu. Cahaya rembulan merembes dari ventilasi udara, namun itu tak cukup untuk mengusir kegelapan ini.

"Ayolah, Krovenoe. Tuan Paulino sudah datang!"

Krovenoe membuka lebar matanya. Ia langsung menoleh ke asal suara.

"Tuan sudah datang?"

Bimchi mengangguk. "Sebentar lagi ia tiba."

Krovenoe langsung membangkitkan tubuhnya. Perasaan cemas mengguyur seluruh tubuhnya ketika ia meluruskan tulang-tulangnya. Tanpa basa-basi lagi ia berlarian menuju pintu rumah, menunggu di situ, dan sebuah sosok pria jangkung muncul tepat setelah pintu terbuka.

"Tahan di situ, anak manis," Paulino berlutut. "Aku punya sesuatu untukmu."

Genggaman tangan kanan Paulino yang masih basah membuka. Seekor kupu-kupu langsung lepas landas dari telapak tangan Paulino. Insting kekanak-kanakan Krovenoe langsung menyambar adrenalinnya, memaksanya untuk mengejar kupu-kupu yang sudah terbang dengan ketinggian setengah dinding rumah itu. Paulino tersenyum melihat tingkah anak anjingnya.

Paulino bangkit dan berjalan ke arah sebuah meja. Blech yang mengintip dari bantalan tidurnya sedikit merasa lega ketika melihat Tuannya menaruh sekantong kresek penuh dengan makanan untuk beberapa hari ke depan di meja tersebut—membuktikan bahwa tak ada hal buruk yang terjadi padanya, sebab ia tetap kosisten pada jadwal hariannya.

Paulino tertegun sebelum mengengok ke arah Krovenoe, yang tengah termenung menatap kupu-kupu yang telah lepas dari jangakauannya. Paulino tersenyum seraya memanggil Krovenoe dengan lembut.

Mendengar suara tuannya Krovenoe langsung berbalik dan berlari riang ke arah Tuannya. Ia langsung melompat ke arah dekapan Paulino, dan pria jangkung itu menangkapnya dengan lembut.

Paulino berjalan ke arah sofa usang yang sudah tak nyaman lagi untuk diduduki, namun sofa bagi seorang imigran adalah barang mewah. Pria itu adalah pria kesepian, namun tidak jika bersama dengan anak anjingnya. Krovenoe, anak anjing termuda merupakan kesayangannya, dan setiap ia pulang usai menjalankan misinya sendiri, ia selalu mencurahkan perasaannya dan pengalamannya selama sehari ia berpergian. Hal ini dapat dimanfaatkan Krovenoe untuk menggali informasi selagi salah satu dari para anak anjing itu tak dapat merauk informasi yang cukup saat mereka mengintai.

"Hari yang melelahkan, bukan?" ujar Paulino basa-basi.

Krovenoe menggonggong setuju, sebab ia merasa demikian.

Anak anjing itu mengibas ekornya ketika tangan lembut Paulino mengelus kepalanya. Pria jangkung itu tertawa kecil ketika Krovenoe merasa nyaman dalam pangkuannya.

"Kau tahu, Krove, walaupun hari ini sangat melelahkan, namun tak ada yang bisa menggantikan hari ini," mata Paulino berkilat ketika mengatakan hal itu. "Tak ada yang bisa menggantinya, Krove ... tak ada."

Krovenoe menatap dalam wajah Paulino dari sebuah cermin di depannya. Cermin itu, selalu memantulkan pancaran wajah ceria Tuannya. Namun sekarang ia melihat sesuatu yang bertentangan. Aliran air mata mengalir membasahi pipi pria jangkung itu, samar isak tangisnya terdengar di setiap tarikan nafasnya.

"Aku berhasil, Krove. Aku berhasil..." ujarnya sembari menguapkan rasa harunya. Suaranya bergetar bukan main ketika ia berkata. "Kalian akan aman mulai besok, kujamin itu," lanjutnya lirih.

Krovenoe tak tahu harus gembira atau sedih. Ia gembira, sebab Tuannya telah berhasil melaksanakan impiannya. Ia sedih, sebab bisa saja mereka tak akan bertemu lagi keesokan harinya. Dalam hatinya ia berseru, mengangis sejadi-jadinya dalam dekapan Tuannya. Namun hukum alam tak akan pernah membiarkannya dua makhuk berbeda menyatukan perasaan. Ada batasan menjadi seekor anjing yang harus dipatuhi oleh siapapun, termasuk anak anjing sepertinya.

***

Lama ketiga anak anjing itu menunggu sang kakak sulung menimbang-nimbang. Malam itu malam yang hening, namun tak dapat mengalahkan keheningan keempat anak anjing itu.

"Kita harus menghubungi Ibu Peri," ujar Blech memecah keheningan.

Ketiga adiknya terkejut. Mereka tak menyangka Blech akan melontarkan nama itu. Ibu peri—meminta pertolongannya sama saja menyiapkan tumpukan kayu untuk membuat peti mati sendiri. Pilihan terakhir untuk mencari jalan keluar.

Blech berjalan ke tengah ruangan untuk memulai ritual memanggil ibu peri. Tak ada yang bisa menghalanginya, bahkan Zech yang sama sekali tak menyukai keputusan kakaknya ini. Ia memang berpikir pesimis terhadap orang asing yang bertemu dengan Tuannya siang tadi, namun bukan ini yang ia harapkan.

Sebuah kilatan cahaya menyelebat tepat setelah Blech menyelesaikan mantra ritualnya. Cahaya putih yang begitu anggun, tersirat mara bahaya di dalamnya. Dan di sanalah muncul Ibu Peri, tubuhnya kecil dengan sayap mungil mengepak-kepak agar  tubuhnya tetap melayang di udara. Ia mengenakan gaun biru berkerlapan. Senyumnya yang ramah membelai orang disekitarnya dengan bulu lembut, namun keempat anak anjing itu tahu bagaimana sifat ibu peri yang asli. Tak bisa dipercaya.

“Mengapa kalian memanggilku?” tanya Ibu Peri.

“Kami membutuhkan bantuanmu, Ibu Peri,” ujar Blech.

“Hmmm,” Ibu peri menopang dagunya, berpura-pura berpikir. “Sudah lama tak ada yang meminta bantuanku. Yang terakhir adalah seorang manusia, dan ia bukanlah seseorang yang dapat memegang janjinya. Oh ya, bantuan apa yang kalian minta, anak-anak manis?”

Blech memandangi ketiga adiknya secara bergantian sebelum membuka mulutnya kembali. “Kami tak akan membuat permintaan sebelum kau memberitahu kami peraturannya.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer widhyyana
widhyyana at Anak Anjing Paulino (34 weeks 12 hours ago)

ijin baca gan

Writer lindsaylov
lindsaylov at Anak Anjing Paulino (5 years 19 weeks ago)

Salam kenal. Ceritanya bagus. Aq suka. Baru tahu kalo ibu peri juga ada yg kejam...hehehe.

Writer NodiX
NodiX at Anak Anjing Paulino (5 years 19 weeks ago)

salam kenal juga

sebenernya tokoh ibu peri terinspirasi dari ibu peri yang ada di shrek (antagonisnya di film tu)

Writer kupretist
kupretist at Anak Anjing Paulino (5 years 19 weeks ago)
50

Cinta platonik seekor anjing, gitu ya temanya?

Writer NodiX
NodiX at Anak Anjing Paulino (5 years 19 weeks ago)

kurang lebih seperti itu