Revolver (1)

Suatu malam, aku bermimpi mendengar ketukan ‘tok-tok-tok’, tiga kali, yang serupa dengan suara palu memaku. ‘Tok, tok, tok’. Statis dan kaku. Ya, aku bermimpi sedang tidur kemudian mimpi. Sebuah mimpi di alam mimpi. Maka, aku di dalam mimpi itu terbangun. Namun, ketukan itu telah berhenti.

Kupikir begitu, tapi tidak, ketukan itu tidak berhenti. ‘TOK, TOK, TOK’—malah, makin keras. Kali ini ‘tok-tok’-nya berkali-kali, bukan hanya tiga kali. Lama-lama temponya makin cepat. Ketukan itu berubah menjadi derapan; mengingatkanku pada sejumlah prajurit dalam barisan. Kupertajam pendengaran. Lalu, kuikuti sumber suara itu.

Nah, di situlah ternyata: suara itu berasal dari laci meja belajar. Keraguan sempat mengolokku saat hendak menarik laci itu. Aku takut ada tangan yang keluar dari dalam kemudian mencekikku sampai mati, meski kenyataannya aku sedang bermimpi. Namun, tak ada suara lagi dari situ. Kutunggu hingga beberapa saat, siapa tahu berbunyi lagi. Namun, aku tak sabar. Maka, kutarik pegangan laci tersebut.

Sebuah revolver Smith & Wesson Model 29 tergeletak di situ. Aku terkesiap. Tidak mungkin! Bagaimana bisa, barang ini ada di laci? Siapa yang meletakkan di situ? Siapa pemiliknya? Aku tak pernah memiliki senjata. Melihatnya secara langsung pun tak pernah. Aku hanya sering melihatnya di film-film koboi dan action. (Memoriku langsung terhubung dengan sosok Clint Eastwood di film Dirty Harry).

Aku mengambilnya. Senjata itu terasa hangat dalam genggaman tanganku. Revolver ini ringan ternyata. Kulihat kamar pelurunya. Hanya terisi satu dari 6 kamar yang ada—berarti satu nyawa yang akan mati di tangannya. Kuputar-putar silindernya seperti yang dilakukan Leonardo DiCaprio di film The Quick & The Dead. Ha! Ini menyenangkan.

Mimpi yang bermimpi itu berakhir. Aku terbangun. Entah mana yang lebih dulu: mimpiku atau kenyataan. Aku bangun karena merasa mendengar bunyi. Sebuah bunyi yang barusan kudengar. ‘Tok-tok-tok’, ‘tok-tok-tok’, begitu bunyinya. Di mana kudengar? Dalam mimpikah?

Ya. Dalam mimpi. Aku menunggu sampai ketukan berikutnya. Mungkin nanti akan berubah derapan, seperti dalam mimpi. Namun, aku tak sabar. Aku bergerak saja seperti robot otomatis yang dipencet tombolnya. Jantungku berdegub kencang, padahal selama ini aku memercayai bahwa mimpi hanya akan tinggal di alamnya sendiri.

Kamar berukuran kecil ini temaram. Sinar lampu neon dari luar menyorot terbagi-bagi melalui celah ventilasi di atas pintu. Hanya sinar itu yang menjagaku tetap berjalan tanpa menabrak perabotan. Baru setelah sampai di meja dan meraba-raba keberadaan lampu meja, terang mengitariku.

Laci itu baru separuh terhela, tapi aku sudah tahu bahwa revolver itu ada di sana. Dalam keremangan, sang revolver terlihat jemawa.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer deelaNErth
deelaNErth at Revolver (1) (4 years 36 weeks ago)
80

diksinya asyik :3 tegangnya kerasa

Writer Scorpion1d3x
Scorpion1d3x at Revolver (1) (7 years 19 weeks ago)
70

Ketika membaca ini aku terbayang-bayang salah satu chapternya xxxholic...

Writer b.heavirain
b.heavirain at Revolver (1) (7 years 19 weeks ago)

wahah.. baru tahu. saya bkn pembaca xxxholic tuh.

terima kasih sudah baca :)

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at Revolver (1) (7 years 19 weeks ago)
80

lanjutin yahh..:D seru nihh:D

Writer b.heavirain
b.heavirain at Revolver (1) (7 years 19 weeks ago)

makasih yah... sambungannya lagi disusun :D

Writer Putra Mahkota
Putra Mahkota at Revolver (1) (7 years 19 weeks ago)
80

wew menarik narasinya.Ada lanjutannya? ini masih awal-awal yak?

Writer b.heavirain
b.heavirain at Revolver (1) (7 years 19 weeks ago)

trima kasih. Ada, lanjutannya.
Yak, ini baru prolog.

Writer jarangadus
jarangadus at Revolver (1) (7 years 19 weeks ago)
70

Asikk nihh..menunggu lanjutannya ;)

Writer b.heavirain
b.heavirain at Revolver (1) (7 years 19 weeks ago)

makasih :D