Padam

 

Bukan jalur pendakian yang mudah, mengingat tanah tinggi ini cukup curam, namun setimpal dengan apa yang akan terjadi berikutnya.

 

Seratus lima puluh orang, jumlah yang sama persis dengan jumlah kami. Dengan pengecualian segala bentuk kelebihan ada pada kami, amunisi, posisi taktis, pertahanan, makanan, logistik bahkan senjata.

 

Hari ini begitu cerah, angin hanya menghembus pelan, jarak pandang begitu jauh dan jelas. Dan dari sini, segala pergerakan mereka terlihat.

 

Seragam biru.

 

Sudah lebih dari satu minggu ini kami mengawasi pergerakan mereka, mulai dari ketika mereka mencapai titik yang dinamakan Tazewell, sayang tempat itu sudah ditinggalkan. Tempat kami berada sekarang merupakan tempat bernama Stasiun Ben, terletak tepat setelah bukaan tempat tinggi dimana kami berpijak sekarang.

 

Entah mengapa mereka memilih jalan memutar, melewati sungai kecil yang membatasi Tazewell dengan tempat kami, namun satu yang pasti, mereka telah menjerumuskan diri mereka lebih dalam lagi. Mereka bergerak, datang untuk mati. Sayang, padahal jika mereka mau, mereka bisa saja membawa kayu-kayu dari Tazewell dan membuat barikade di dekat kami, walaupun jelas masih kalah, setidaknya mereka bisa selamat lebih lama.

 

Dan jalan keluar yang paling logis untuk mereka adalah, menunggu unit artileri, dasar pemimpin unit muda, terlalu bersemangat untuk mendapatkan nama dan pamor.

 

Mereka berputar, mengikuti aliran sungai ke arah barat, berputar melalui celah di ujung sana. Dan mereka bergerak dalam satu kesatuan padat, bukan pilihan tepat.

 

Kami membagi diri kami kedalam tiga unit terpisah, dua unit menempati tempat tinggi, tepat di mulut celah jalan utama menuju Stasiun, sedangkan satu unit kami tempatkan di Stasiun, terlindungi oleh barikade kantung-kantung pasir dan lumpur, juga barikade kayu.

 

Kami dapat dengan jelas melihat wajah-wajah kelelahan, wajah-wajah penuh keraguan ketika mereka melihat segala persiapan kami, padahal yang kami lakukan hanya menunggu. Mereka sendiri yang membuat diri mereka ragu, mereka sendiri yang memilih untuk menjalani jalan yang berat.

 

Pemimpin unit kami mulai memberikan perintah, dengan sangat tenang, raut muka yang amat sangat tenang. Namun kami sadar, dibalik raut muka yang amat tenang itu ia merasa sedih dengan apa yang ia lihat, begitu pula dengan kami.

 

Kami tidak dapat menutup kenyataan bahwa sebentar lagi kami akan membantai mereka, sebentar lagi mereka akan kalah tanpa banyak perlawanan berarti, tanpa kemajuan berarti. Tapi tetap saja, mereka adalah musuh kami.

 

Letupan terdengar, salah satu dari mereka membuka serangan, kami masih menunggu, menunggu untuk membuat kematian mereka menjadi lebih singkat.

 

Mereka mulai berlari, entah itu keberanian atau murni karena mereka tahu hanya ada satu jalan untuk mereka.

 

Pemimpin kami mengayunkan pedangnya, kami melepas serangan.

 

 

Pedang-pedang terangkat, teriakan-teriakan memastikan bahwa tidak ada satupun dari mereka yang masih hidup, bahkan tidak ada satupun yang selamat.

 

Pemimpin kami memeriksa arloji, ia mendesah pelan.

 

“Kita atau mereka.” Hanya itu yang ia katakan.

 

Kurang dari satu jam semua ini berlangsung, satu-satunya kerugian terbesar kami hanyalah kerusakan alat telegram kami.

 

Dan tiba-tiba, Tazewell memiliki lahan penuh kuburan yang baru.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer redtailqueen
redtailqueen at Padam (6 years 26 weeks ago)
90

perang :o
pake enter+shift aja kak biar spasinya g tlalu lebar :3

Writer anggra_t
anggra_t at Padam (6 years 27 weeks ago)
70

Lumayan jelas.
Tapi pemotongan paragrafnya masih bisa diperbaiki lagi tuh, seng.

Writer smith61
smith61 at Padam (6 years 27 weeks ago)
100

lol

Writer yasinta vitra
yasinta vitra at Padam (6 years 27 weeks ago)

spasinya jauh bgt ya