Terdampar Di KFC

 

Februari lalu, aku dari Bandung pergi ke Padang. Tak lain dan tak bukan adalah untuk menunaikan tugas pacaran dengan Iis yang sudah lama tertunda. Ya, sejak aku nembak dia lewat handphone setahun setengah yang lalu, akhirnya kami kesempatan ketemu juga.

Oh indahnya dunia saat itu, semuanya keliatan manis. Bahkan bapak-bapak berjanggut dengan kepala botak yang duduk disebelahku jadi kelihatan macho. Aku menggumamkan semua lagu cinta yang aku tahu, dari lagi jatuh cinta-nya Titiek Puspa sampai lagu sik asik-nya Ayu Ting Ting.

Aku sudah membayangkan saat kita ketemu di bandara nanti. Waktu aku keluar, Iis sedang menantiku dari jauh. Kami lihat-lihatan agak lama, lalu saling menghampiri dengan berlari.

“Kemaaallll!!”

“Iiiiissss!!”

Lalu kami berpelukan. Asoi.

Tapi harapan hanyalah harapan. Kata yang pertama dia bilang waktu aku sampai di Padang adalah, “Maaf Mud, hujan deras kali, aku baru mau gerak kesana” lewat handphone. Maka aku nunggu dia selama satu jam di bandara. Gak romantis sama sekali.

Emang sih hujannya lebat banget. Aku tadi sempat takut waktu pesawatnya mau mendarat, takut landasannya licin dan pesawatnya kepeleset, lalu dengan sialnya aku mati karena ketimpa pantat si bapak macho yang duduk di sebelahku. Untunglah tak terjadi apa-apa.

“Mud, aku udah di bandara, kau dimana?”

Aku pun kasih tahu tempatku duduk. Dia ngelambai-lambai ke arahku. Akhirnya, kami ketemu juga.

Sulit mengatakan bagaimana perasaanku saat melihat dia lagi. Padahal kukira setelah beberapa tahun gak ketemu, kami akan sedikit canggung di awal, tapi terpujilah Allah yang membuat Iis sebagai orang heboh sehingga dengan cepat kami akrab, seperti layaknya pacar yang selalu ketemu.

Di Padang, aku tidur di tempat temannya Iis. Namanya Hamid. Waktu pertama kali dia kasih lihat kamarnya, dia bilang, “Sori ya berantakan.”

“Ah gak papa.”

Ternyata emang berantakan.

Yaah, Einstein pernah berkata “Kamar cowok itu pasti berantakan” dan teori itu diterima oleh seluruh dunia (ngasal).

Malam itu juga, aku dan Iis pergi ngedate untuk pertama kalinya. Indahnya hidup ini. Kesabaranku akhirnya menuaikan hasil (terdengar lagu ‘Eye of The Tiger’).

Dengan bermodal motor hasil pinjaman, kami berkelana mengarungi kota Padang. Ternyata Padang itu kotanya masih gak terlalu modern dibandingin Jakarta atau Bandung, tapi menurutku malah enak. Jalanannya pun gak terlalu ramai,

Atas usul Iis, kami pergi ke pantai karena katanya banyak orang pacaran disana. Padahal entah apa yang mau dilihat. Lautnya kan gelap banget, hampir gak kelihatan sama sekali. Kenapa pula tempat kayak gini bisa romantis?

“Kan bisa gelap-gelapan Mud,” kata Iis. Yee, kalau gitu pacaran aja waktu mati lampu, kan gelap juga.

Karena kami adalah sepasang kekasih yang high class, kami jelas menghindari tempat-tempat yang terkenal untuk berbuat mesum. Kami akhirnya berhenti di salah satu pinggir pantai, duduk-duduk aja sambil ngeliat ombak dan ngobrol. Romantis.

Sayangnya pengamen diciptakan tidak peka terhadap situasi. Mereka menghampiri satu persatu pasangan disitu, nyanyi tanpa diminta dan terus disitu sampai dikasih uang. Aku jadi ngerasa keganngu. Makanya tiap dia mendekat, kami langsung pindah tempat. Maka malam pertama kami pacaran berakhir dengan kejar-kejaran sama pengamen.

Waktu ngantar dia pulang, aku agak dilema. Aku ini termasuk golongan orang sesat,  maksudnya golongan orang yang dikit-dikit tersesat. Tapi aku agak gengsi nanya jalan sama Iis, nanti dikira cowok yang gak tau arah lagi (padahal emang). Untunglah sampai tujuan dengan selamat, walaupun nanya arah di beberapa belokan. Hehe.

Sesuai rencana, besoknya kami pergi ke Bukittinggi. Kata Iis, kesananya naik travel selama dua jam. Kami ke tempat travel dengan menggunakan angkot. Disinilah aku sadar brutalnya ngkot-angkot padang.

Selama ini aku dengar kalau angkot padang itu penampilannya keren, dan itu emang bener. Angkotnya keren-keren, dengan cat yang mulus-mulus, tapi supirnya itu lhoo, ganas banget bawanya. Ngegas tiba-tiba, terus ngerem dengan sama mendadaknya. Kayak lagi naik Bom Bom Car. Ini sih bodo amat sama angkotnya keren atau enggak, aku cuma mau selamat. Alhasil aku yang sebenarnya kurang beriman, bisa hapal surat Al-Baqarah di dalam angkot itu.

Akhirnya sampai di tempat travel. Kendaraannya agak penuh. Kami duduk di paling belakang. Panas banget lah. Mana sempit lagi. Kukira travelnya itu mirip-mirip travel yang dipakai dari Bandung ke Jakarta, ternyata beda banget. Satu per satu penumpang turun selama perjalanan. Tempat duduk yang tadinya sempit di belakang hanya milik kami berdua sekarang. Dia menaruh kepalanya di bahuku. Hehe, kapan lagi bisa kayak gini.

Kami agak lelet dari jadwal semula, tapi gak papalah, masih ada 3 jam untuk jalan-jalan sebelum balik ke Padang.

Setelah makan, kami langsung bergegas ke kebun binatang. Harga tiketnya 5 ribu satu orang, wah lumayan murah.

“Aku aja yang bayarin ya,” kataku, pacar yang dermawan.

Kebun binatangnya cukup bagus. Binatangnya lumayan banyak. Burung-burungnya juga bagus-bagus, walaupun yang paling bagus tetap burungku (eh?). Tentu saja sebagai orang pacaran, kami melihat-lihat sambil pegangan tangan. Hehe.

“Lihat tuh Mud. Monyetnya lucu!!”

Lucu? Monyet dengan sikap malasnya dan bulu yang banyak itu lucu? Hmm, gak heran dia mau pacaran sama aku.

Yang agak aneh adalah, di kebun binatang itu ada patung meriam. Jangan-jangan waktu jaman Bukittinggi menjadi ibukota darurat saat agresi Belanda, kebun binatang ini adalah benteng.

“Tangkap si Pitung!!” teriak komandan Belanda. (Btw, kenapa si Pitung ada di Bukittinggi?)

“Serang para penjajah itu!!” kata para pahlawan. Mereka melepaskan para singa dan harimau, lalu berlari di samping mereka. “Merdeka atau mati!! Auuooo!! Ahh, singa ini gigit kakiku!!”

“Mud, ada Beruang,” kata-kata Iis membuyarkan lamunanku,”Manis banget ya?”

Aku mau bilang, “Ah, dirimu lebih manis kok” tapi takut disangka terlalu sering bergaul dengan om-om. Beruang yang ditunjuknya itu adalah Beruang Madu. Wajar aja kalau kelihatan manis, makanannya aja madu.

Emang kalau lagi seneng tuh, waktu jadi berjalan cepat banget. Sudah saatnya kami pulang atau kami bisa kemalaman sampai di Padang nanti. Di perjalanan ke travel, kami melewati pasar survenir. Dan jika cewek melihat itu, maka sangat sulit untuk menahannya agar tak belanja.

“Nanti kemalaman lho.”

“Bentar aja. Mau beli oleh-oleh buat Reni,” kata Iis. Reni adalah teman sekamarnya, yang juga temanku dulu saat SMA.

Maka dia pun mulai menawar satu per satu barang. Tahulah gimana cewek belanja. Muter sana muter sini, tawar sana tawar sini. Kenapa sih cewek gak pernah bisa sesimpel cowok belanja. Lihat, suka, beli.

Akhirnya dia memutuskan beli sebuah gantungan kunci anyaman berbentuk kipas. Tapi setelah beli pun, masih aja mikir, “Kayaknya bagusan yang bentuk kapal tadi Mud.” Ya ampun. Iis pun beli dua-duanya.

Kami sampai ke tempat travel jam 6. Kalau langsung gerak, kami akan sampai di Padang jam 8, yang berarti selamat karena masih ada angkot.

“Ayo Dek, langsung gerak nih,” kata abang supirnya. Kami pun langsung naik aja. Yang kami gak tahu, supir angkot dan travel adalah salah satu pemberi harapan palsu paling banyak. Jangankan langsung gerak, kami masih nunggu sekitar sejam lagi sampai tuh travel jalan. Dan itupun di tengah jalan masih sering berhenti buat cari penumpang.

Iis udah mulai-mulai cemas selama perjalanan. Dia takut sampai Padang kemalaman dan gak ada angkot lagi.

“Gak papa. Masih ada kok.” Aku berkali-kali meyakinkannya. Sebenarnya aku sendiri udah gak yakin, tapi aku cuma gak mau ngeliat dia was-was kayak gitu terus.

Kekhawatiran Iis terbukti. Kami sampai di Padang jam setengah 10. Jalanan udah sepi banget. Kami tunggu terus, tapi angkot tak kunjung lewat lagi. Aku menyarankan untuk naik taksi atau ojek, tapi dia gak mau. Malahan dia banyak diem. Kurasa Iis capek dan kesel sama sikap supir travel tadi.

Setelah yakin tak ada angkot lagi, kami masuk ke dalam KFC yang buka selama 24 jam. Sepertinya kami harus menunggu semalaman disana. Iis kelihatan sedih banget. Dia lalu pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. Aku jujur aja gak ngerasa terlalu masalah gak tidur semalaman, toh di Bandung juga sering, tapi Iis kan beda. Dia hampir gak pernah gak tidur sama sekali kayak gini. Makanya aku tahu dia bener-bener gak suka sama keadaan sekarang.

Keluar dari kamar mandi, dia senyum. Dipaksakan kurasa, cuma supaya dia gak terlihat sedih terus. Sekarang jadi aku yang gantian merasa sedih, merasa bersalah tepatnya.

“Is, nanti kalau lapar, pesan makan aja ya. Biar aku yang bayar.”

Aku langsung menyesali kata-kataku. Aah, kenapa pula aku jadi sok gentleman di saat melarat begini?

Iis senyum-senyum aja. Lalu kami ngobrol hal-hal lain, pokoknya apapun yang bisa melupakan masalah kami saat ini.

Hari pun makin malam. Setelah makan (paket yang paling murah tentunya), Iis pun mencoba tidur. Kepalanya dia taruh di meja beralaskan tas dan jaket. Kasian aku lihatnya, dia kelihatan capek banget. Aku memang pengen menghabiskan malam bareng dia, tapi gak kayak gini juga sih.

Setelah berkali-kali terbangun, akhirnya Iis bisa tertidur cukup lama. Tinggallah aku sendiri, kayak orang bodoh bengong sendirian ditemani coca-cola. KFC itu ternyata masih terus ramai walaupun udah lewat tengah malam, yang membuatku bersyukur karena hal terakhir yang kuinginkan adalah suasana yang sepi.

Di TV, diputarlah video musik. Bagus, pikirku, paling gak ada hiburan. Tapi aku salah. Yang diputar ternyata adalah video musik dari penyanyi muda lokal, yang lagunya pakai bahasa padang. Bahasa padang yang kutahu cuma ‘Tambuaah Cieekk!!’ yang biasanya diteriakkan di restoran Padang. Lagipula video musiknya aneh. Penyanyi muda ini diiringi penari latar yang menari shuffle hampir di semua lagunya. Aneh banget.

Supaya otakku gak rusak ngeliat kombinasi aneh di video itu, aku melihat-lihat koran yang disediakan KFC. Untunglah ada koran bola disitu. Aku bisa cukup lama menghabiskan waktu membacanya.

Sekitar jam 3 lewat, Iis terbangun lagi. Kali ini dia gak kembali tidur. Kami pindah ke tempat yang lebih nyaman, lalu mengambil satu majalah untuk membacanya bersama-sama. Mood Iis udah membaik karena tidur sebentar, walaupun aku yakin tidurnya pasti gak nyaman. Yang penting dia udah lumayan ceria lagi.

Menjelang pagi, KFC pun mulai kosong. Iis mengajakku untuk keluar dari situ karena gak mau jadi orang yang terakhir disana. Kami berjalan untuk menunggu angkot lagi.

Beberapa lama kemudian, hujan turun. Gerimis aja. Sebagai cowok yang keren, aku pun melepas jaketku dan memakaikan kepada Iis. Begitulah yang sering kulihat di sinetron. Walaupun di sinetron si cowok gak bersin-bersin karena kedinginan.

Kami berjalan-jalan sebentar. Jalanan masih sepi. Langit juga masih gelap.

Tiba-tiba Iis menggandeng tanganku.

“Mud, nari yuk.”

Dia lalu mempratekkan satu persatu langkahnya. Aku yang seumur hidup hanya bisa menari tarian pemanggil hujan ini mengikutinya dengan gerakan yang sangat kaku.

Maka disinilah kami sekarang. Di pinggir jalan, menari di bawah gerimis hujan. Biasanya aku akan sangat malu melakukan hal seperti itu, tapi aku sedang tak peduli. Aku tak peduli mau seaneh apapun gerakan tariannya. Aku tak peduli jika tiba-tiba ada orang yang melihatku melakukannya. Aku bahkan tak peduli pada fakta bahwa aku kedinginan. Karena saat itu, aku hanya ingin membuatnya senang setelah satu malam yang melelahkan. Dan kurasa berhasil. Bahkan di kegelapan malam, Iis pasti tahu aku sedang melihatnya tersenyum.

Read previous post:  
71
points
(2604 words) posted by kemalbarca 7 years 23 weeks ago
78.8889
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | agak komedi | kisah nyata
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer augina putri
augina putri at Terdampar Di KFC (6 years 38 weeks ago)
80

so sweet dan bikin ngakak. Ceritanya bagus. :)

Writer Ichsan.Leonhart
Ichsan.Leonhart at Terdampar Di KFC (6 years 40 weeks ago)
80

Sukses buat ane terkekeh-kekeh
:D

Btw, ini pengalaman nyata ya?
X3

Writer littleuniquefroggy
littleuniquefroggy at Terdampar Di KFC (6 years 45 weeks ago)
90

ngakak abis. amazing

Writer DeMEter
DeMEter at Terdampar Di KFC (6 years 46 weeks ago)

Narasi asik, karakter asik, penulisan rapi, komedi dapet, romance dapet. Perfek deh pokoknya! Suka suka suka XD

Writer simple_mind
simple_mind at Terdampar Di KFC (6 years 47 weeks ago)
40

Ah romantis....dan lucu! HAHAHA

Writer wawardahasanah
wawardahasanah at Terdampar Di KFC (7 years 3 weeks ago)
80

lucu, romantis! saya sukaa

Writer Silversword
Silversword at Terdampar Di KFC (7 years 3 weeks ago)
70

lucu tapi romantis, atau romantis tapi lucu yah XDD

Writer Door_Knocker
Door_Knocker at Terdampar Di KFC (7 years 3 weeks ago)
90

Ini salah satu cerita terkonyol yang pernah kubaca dua bulanan ini
HAHAHAHAHA

sijojoz at Terdampar Di KFC (7 years 3 weeks ago)

Yang agak aneh adalah, di kebun binatang itu ada patung meriam. Jangan-jangan waktu jaman Bukittinggi menjadi ibukota darurat saat agresi Belanda, kebun binatang ini adalah benteng.

“Tangkap si Pitung!!” teriak komandan Belanda. (Btw, kenapa si Pitung ada di Bukittinggi?)

“Serang para penjajah itu!!” kata para pahlawan. Mereka melepaskan para singa dan harimau, lalu berlari di samping mereka. “Merdeka atau mati!! Auuooo!! Ahh, singa ini gigit kakiku!!”

paling lucu, sumpah

Writer Bin_Muhibbuddin
Bin_Muhibbuddin at Terdampar Di KFC (7 years 3 weeks ago)

suka makan KFC ya, rugilah jauh-jauh ke Padang coba yang dicari bebek sambal ijo yang di ngarai apa tu sihanok ya

Writer joyce_natalia
joyce_natalia at Terdampar Di KFC (7 years 3 weeks ago)
50

Lucu...keren

Writer Ai_Uparina
Ai_Uparina at Terdampar Di KFC (7 years 3 weeks ago)
40

Awalnya sedikit bertele, tapi buat ngakak.
:)