[Katalis Waktu] Fragmen 13 - Demi Yang Terpenting

“Aku tidak pernah mengerti jalan pikirannya.” Ellial menghela panjang. “Sejak saat kami sampai di negeri timur, menemukan desa Lan yang hancur, dan membakarnya. Juga tentang alasan di balik semua tindakannya.”

“Zerua punya pertimbangan sendiri.” Nulla kemudian menjajari Ellial, dan turut menghela panjang. “Jangan terlalu curiga padanya. Satu yang kutahu soal dia. Apa pun yang dilakukannya, itu semua selalu demi kalian, adik-adiknya.”

“Justru karena hal itu aku menjadi semakin cemas. Semoga saja Zerua tidak menyentuhnya.”

“Menyentuhnya? Siapa?”

Tak lama, Nulla terdiam melihat kecemasan dalam mata Ellial. Tak pernah sebelumnya ia melihat sahabatnya itu memberinya ekspresi semacam itu. Lelaki itu tak pernah selama ini mendapatkan masalah berarti, jadi tak pernah menunjukkan tanda-tanda sedang mencemaskan sesuatu. Tapi, Ellial yang sekarang seperti orang lain bagi Nulla. Ia pun seketika menghela cepat. Satu-satunya “dia” yang mampu membuat Ellial seperti ini hanya satu orang. Dan Nulla tak pernah berharap sahabatnya itu akan sampai ke titik di mana ia tak bisa berbuat apa-apa. “Kau putus asa?”

“Tidak. Meskipun ingin, aku tetap tidak bisa.”

“Kau selalu seperti ini kalau berkaitan dengannya. Jangan memaksakan diri. Kau ingin dibenci olehnya?”

“Dibenci pun tak masalah. Asal bisa memperpanjang waktunya, akan kulakukan apa pun.”

“Apa pun? Termasuk membunuh dirimu sendiri?”

Nulla dan Ellial seketika terlonjak mendengar suara dingin itu. Keduanya segera berbalik demi menemukan seorang gadis bergaun putih tengah menatap mereka dengan pandangan kosong yang menusuk. Melihat gadis itu, wajah Nulla langsung cerah. Sebaliknya, Ellial tampak membeku di tempat.

“Fiana,” seru Nulla saat gadis itu menghampirinya. “Saat kaubilang akan segera menyusul, tak kusangka akan secepat ini. Urusanmu sudah selesai?”

Fiana mengangguk. “Selesai jauh lebih cepat dari dugaanku. Orang itu langsung mengiyakan begitu kujelaskan duduk perkaranya.”

“Kau berurusan dengan siapa, memangnya?” tanya Nulla kemudian.

“Bukan siapa-siapa.” Fiana kemudian menoleh pada Ellial yang segera saja membuang muka begitu mendapati mata tajam Fiana. “Kau betul-betul keras kepala. Cuci tanganmu dan menjauhlah dari masalah ini.”

Mendapatkan keberaniannya, Ellial menantang mata Fiana. “Apa yang akan kaulakukan kalau aku tidak mau?”

“Apa kau ingin kehilangan segalanya?”

“Aku sudah kehilangan banyak. Kehilangan lebih banyak lagi tak ada bedanya buatku.”

“Termasuk saudara-saudaramu? Termasuk kedua bawahanmu?”

Ellial bungkam. Jelas ada keraguan di matanya, meski sebentar. Fiana tak menyia-nyiakan kesempatan itu. “Kalau kau tak ingin mengorbankan mereka semua, berhentilah menentang takdir keluargamu. Apa kau lupa kalau kau hampir kehilangan Hazel? Siapa berikutnya?”

Tanpa menunggu jawaban Ellial, Fiana menjauhi mereka berdua dan berjalan lebih ke dalam hutan. Sejenak, Ellial mengangkat kakinya hendak mengikuti gadis itu, tapi terhenti sesaat kemudian. Ia ragu-ragu.

Nulla yang melihat sikap Ellial, langsung saja memukul kepala lelaki itu. Tak peduli meski ia harus diomeli sesudahnya. “Kau jangan bercanda, Elli. Kau mau ragu-ragu sekarang? Kau sudah sejauh ini.”

“Aku tahu!” balas Ellial dingin. Ia kemudian mengambil napas, dan beranjak perlahan. Lambat laun, langkahnya dipercepat. Ia berlari mengejar Fiana. Nulla mengikutinya.

Ada sebuah telaga kecil di tengah-tengah hutan itu. Di sanalah Nulla dan Ellial berhasil mengejar Fiana. Nulla mengernyit saat menyadari bahwa wanita berbaju putih itu masih saja membelakangi mereka. Lama berada dalam keadaan seperti itu, Ellial tak tahan untuk angkat bicara.

“Ini tidak akan berhasil.” Ellial terdiam sejenak, menunggu Fiana mencerna kata-katanya. Setelah lama gadis itu tak bereaksi, Ellial melanjutkan. “Menyingkirkanku ... kau pikir itu akan berhasil?”

“Apakah kau pun berpikir itu akan berhasil?” balas Fiana.

“Apa?”

Fiana berbalik. Senyum dan tatapannya dingin. Nulla menggigit bibir. Ia tak pernah menyukai ekspresi wajah semacam itu dari Fiana. Ia pun menoleh pada Ellial, dan seketika paham bahwa lelaki itu sama tidak sukanya.

“Apa yang sedang kauusahakan saat ini?” tanya Fiana, masih dengan nada dingin. “Mencoba menumbuhkan daun di pohon yang sudah mati? Apa kau ingin melawan arus waktu? Memulai permainan berbahaya seperti itu, butuh lebih dari nyawamu untuk mengakhirinya. Saat kau menyadari bahwa semua itu sia-sia, sudah terlalu terlambat untuk mengubah apa pun.”

“Aku tidak berniat mengubah apa pun. Lagi pula, ini nyawaku. Kalau pohon mati itu benar-benar bisa menumbuhkan daun kembali dengan nyawaku sebagai bayarannya, aku rela memberikannya. Saat ini, aku benar-benar sudah tidak peduli lagi pada hidupku.”

“Elli!” bentak Nulla kemudian. Ia betul-betul tak percaya lelaki itu mampu berkata semacam itu. “Apa yang kaupikirkan? Aku tak pernah menyangka kau akan bertindak hingga sejauh itu. Apa ini benar-benar setimpal?”

Ellial mengangguk pasti. Menghela napas pasrah, Nulla menoleh pada Fiana, memintanya mengatakan sesuatu yang bisa mengubah kekeras-kepalaan Ellial.

“Kau tak peduli, tapi aku peduli,” kata Fiana pada akhirnya.

“Kenapa kau peduli?”

“Karena saat ini, kau tengah melakukan hal yang sama padaku.”

Ketiganya terdiam lama. Akhirnya, Fiana memutar tubuh dan beranjak pergi dari hadapan kedua sahabatnya. Baru beberapa langkah, ia terhenti kembali. “Orang yang kaupedulikan nyawanya itu, bahkan tak menginginkanmu melakukan apa pun. Apa kau masih tak memahaminya?”

“Itu yang kaukatakan saat aku mengambil kekuatan api putih darimu beberapa tahun yang lalu. Kau juga bertanya, ‘apakah aku menyesal?’ Saat itu, aku hampir mati hingga tidak bisa memikirkan apa pun untuk menjawabmu.”

“Sekarang, apa kau menyesal?”

“Tidak. Karena aku melakukannya demi orang yang paling penting bagiku. Takkan pernah ada penyesalan, Fi.”

Fiana berbalik pada Ellial. Nulla seketika membeliak saat melihat Fiana menangis tanpa suara. Matanya terlihat sangat terluka. Nulla hendak ke sisi gadis itu, tapi entah kenapa kakinya tak mau berkompromi. Ia hanya bisa terpaku di tempat.

“Sekarang, aku yang menyesal,” ucap Fiana lirih. “Menyingkirlah, Elli. Biarkan aku membereskannya dengan tanganku sendiri.”

“Bagaimana caranya? Berduel hidup-mati melawan saudarimu itu? Aku tahu kau takkan pernah sanggup melukai Nala bahkan jika hanya seujung rambut pun. Lagi pula, separuh kekuatanmu sudah berpindah padaku.”

“Kalau memang ditakdirkan mati, aku akan mati. Kalau memang ditakdirkan hidup, aku akan hidup. Karena itu, aku akan tetap menghadapinya.”

Merasa pusing karena kedua sahabatnya terus saja berdebat soal hidup-mati, Nulla segera beranjak dan berdiri di antara mereka. “Sudah cukup! Mati, mati, dan mati! Apa tidak ada hal lain yang bisa kalian perdebatkan lagi?”

Tak menjawab, keduanya hanya membuang muka. Fiana kemudian mengusap air matanya dan berbalik pergi.

“Kau hendak ke mana?” tanya Nulla penasaran.

“Bukankah sudah kukatakan? Aku harus menemukan Nala.”

Tanpa membuang waktu, Ellial mendekati Fiana. “Kalau begitu, aku akan ikut denganmu.”

“Kau meremehkanku, Elli. Seorang diri, aku tetap bisa mengalahkannya.”

“Tapi, bisakah kau membunuhnya?”

Fiana terdiam. Dari mata gadis itu, Nulla seketika langsung tahu bahwa ia bimbang dengan dirinya sendiri. Mengikuti Ellial, ia pun mendekati mereka. “Kita pergi bersama. Kita bertiga.” Nulla segera mengernyit ketika menemukan tatapan membulat dari kedua sahabatnya itu. “Apa?! Kenapa kalian selalu menatapku seperti itu tiap kali aku mulai serius?”

“Karena kau jarang bisa bersikap begitu serius,” kata Ellial enteng. Lelaki itu bahkan tak perlu berpikir untuk bisa menjawab pertanyaan Nulla. Dan itu hanya membuat Nulla mendengus kesal.

Nulla kemudian mengalihkan perhatiannya pada Fiana, demi menemukan gadis itu hanya menggeleng pelan. “Fi!”

“Aku takkan lagi melibatkan siapa pun.”

“Sejak awal aku sudah terlibat,” balas Ellial dengan nada tinggi. “Nulla juga sejak awal sudah melibatkan diri dalam hal ini. Kau ingin berhadapan langsung dengan Nala, lalu apa? Siapa pun yang sanggup bertahan, toh tetap saja lelaki itu akan menghabisi kalian.” Teringat sesuatu, Ellial menoleh pada Nulla, memandangnya tajam. “Kau juga! Meski kau tahu duduk perkaranya, kau tetap saja membawa lelaki itu bersamamu.”

“Aku—” Nulla terbungkam. Ia tahu betul siapa lelaki yang dimaksud Ellial. Meski bukan ia yang membawanya, toh Zen akan tetap muncul di hadapan mereka bagaimanapun caranya. Itu yang dinamakan takdir. Tapi, ia hanya akan membuang-buang waktu menjelaskan hal itu pada seseorang yang bahkan mencoba menentang takdir yang menghadangnya.

“Jangan salahkan Nulla. Tentang Lu Jin, aku yang meminta Nulla untuk membebaskannya dari Liava.”

Itu berita baru bagi Ellial. Bukan hanya kaget, ia juga tampak tak senang dengan kenyataan itu. Ia pun menatap bergantian Fiana dan Nulla. Sangat terlihat rasa tidak percaya di matanya. Fiana membalasnya dengan pandangan dingin, sementara Nulla hanya membuang muka.

 

***

 

Bulan telah naik ketika Lan sampai di percabangan anak sungai. Sejak awal pencarian sampai saat ini, Lan tak pernah luput seinchi pun saat mencari jejak Yue. Karena itulah ia yakin bahwa Yue tidak ada di sekitar tempatnya mencari. Dan ketika sekarang Lan sampai di tempat ini, ia hanya bisa mengumpat. Ke arah mana Yue hanyut, ia tak tahu lagi. Ia benar-benar frustrasi sekarang. Tapi, tak ada yang bisa dilakukannya lagi kecuali istirahat. Tenaganya sudah terlalu banyak terkuras.

Zenlah yang menyiapkan api unggun untuk mereka. Karena tak ada gua atau semacamnya, mereka terpaksa bermalam di udara bebas, tanpa perlindungan apa pun kecuali mantel yang melekat di tubuh mereka.

Keheningan benar-benar menguasai tempat itu. Zen tak mungkin sanggup bicara. Sementara, Lan terlalu panik untuk bisa memulai obrolan, toh lelaki di hadapannya juga takkan mungkin bisa menjawab.

Zen bangkit dan pergi ke arah hutan setelah memberi kode pada Lan bahwa ia akan segera kembali. Lan tak menggubrisnya. Lelaki itu mau pergi ke mana pun juga bukan urusan Lan. Atau itulah yang pada awalnya ia pikirkan. Namun, seorang diri di tempat semacam ini di malam hari, justru membuat Lan semakin merasa depresi karena ketidak-tahuannya akan keberadaan Yue, atau bagaimana nasib adiknya itu. Jika saja ada Nulla di sampingnya sekarang, mungkin ia akan merasa lebih baik.

Lan menggeleng cepat. Bagaimana dirinya bisa memikirkan untuk meringankan bebannya sendiri sementara adiknya mungkin sudah menjemput maut? Akhirnya, ia hanya bisa mendengus marah. Bukan pada siapa pun, tapi pada dirinya sendiri. Bukankah ini semua kesalahannya karena memberi informasi yang salah pada Sua? Ia bahkan sempat mengancam akan membunuh gadis itu bila Yue ditemukan tak bernyawa. Bagaimana mungkin ia masih sempat menyalahkan orang lain atas kekeliruan yang dibuatnya sendiri?

Lan menengadah ketika Zen kembali, demi menemukan lelaki itu tengah menenteng kelinci malang yang sudah tak berkulit itu. Bahkan sudah ada batang kayu yang menusuknya secara kejam. Setelah duduk, Zen mengarahkan kelinci itu ke api. Baunya yang harum ketika matang, mau tak mau mengusik Lan juga. Saat daging itu diarahkan padanya, Lan hanya terbengong menatap Zen. Lelaki itu balas menatap Lan lembut. Ia masih menyodorkan daging itu. Ketika akhirnya Lan menerimanya, lelaki itu tersenyum simpul.

“Kau tidak makan?”

Zen mengambil sebatang ranting dari api unggun, lalu menggoreskan sesuatu di tanah. Lan langsung membacanya, dan seketika itu tertegun.

Kau dulu. Akan kumakan sisanya.

Tanpa bertanya lagi, Lan memakan daging kelinci itu dan menyisakan separuh. Langsung diserahkannya pada Zen. Lan kemudian menuju sungai dan minum dari sana.

Saat itulah, sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah kain hijau yang sudah sobek di sana-sini tersangkut di bebatuan dasar sungai. Yang membuatnya terkejut, adalah tanda segitiga di dalam lingkaran yang tersulam di kain itu. Lan ingat, ia sendiri yang menyulamnya untuk Yue. Ia langsung turun ke sungai dan mengambil kain itu. Ada bercak darah yang merembes di sana, walaupun samar karena sudah tercuci air sungai. Itu bisa saja bercak cairan lain, tapi darah yang dilihatnya di tebing tadi sudah lebih dari cukup untuknya berkesimpulan bahwa bercak di kain hijau itu adalah darah. Lan diserbu panik sekali lagi.

Zen yang melihat itu segera meletakkan daging kelinci yang belum dihabiskannya. Ia menghampiri Lan dan seketika menemukan sulaman itu. Ia tampak mengernyit, lalu menepuk pundak Lan. Gadis itu menoleh, ada tanda-tanda kepasrahan dalam matanya. Dahi Zen yang makin mengerut menandakan bahwa lelaki itu tak menyukai apa yang dilihatnya. Lelaki itu kemudian merebut kain hijau itu dari tangan Lan dan mencelupkannya kembali ke air.

Sudah pasti itu membuat Lan naik pitam. Tapi, sesuatu menghentikan kemarahannya. Di dalam air, tangan yang menggenggam kain hijau itu tampak bersinar. Ketika Lan melihat Zen tengah memejam rapat, ia langsung tahu bahwa lelaki itu sedang mengusahakan sesuatu. Entah apa.

Setelah membuka mata, Zen langsung bangkit dan menatap jauh ke arah hutan yang berada di antara percabangan anak sungai. Ia mengangkat tangannya, dan segera mengernyit setelah menyadari sesuatu entah apa. Lan hanya bisa menyatukan alis.

“Apa yang tadi kaulakukan?”

Zen kembali menuju api unggun dan meraih ranting yang tadi digunakannya untuk menulis.

Menjelajahi masa lalu.

Menjelajahi masa lalu? Apa hal seperti itu bisa terjadi? Lan hanya menggeleng bingung. Tapi, terhenti sesaat kemudian. Bukankah Zen adalah utusan waktu? Lan mengangguk paham, ini mungkin salah satu kemampuannya.

“Apa yang kaulihat?”

Yue. Diseret ke dalam hutan.

Zen kemudian menunjuk hutan yang tadi dilihatnya.

“Diseret?! Siapa yang melakukannya? Beraninya melakukan hal itu pada adikku!”

Seorang gadis cilik.

Lan masih tidak mengerti. Seorang gadis cilik? Kawan atau lawan? Tapi, tentu saja seorang gadis cilik tak mungkin bisa mengangkut seorang pemuda belasan tahun tanpa menyeretnya. Meskipun begitu, Lan menjadi semakin tidak tenang. Ketika akhirnya ia mengingat hal terpenting yang seharusnya ditanyakannya sejak pertama kali, Lan langsung menepuk dahinya. “Apakah Yue masih hidup?”

Sekarat.

Lan seketika membelalak dan bangkit. Sekarat? Mau tak mau ia merasa lega karena Yue masih hidup, tapi sekarat juga sama sekali tidak mengindikasikan bahwa Yue baik-baik saja. Matanya memanas seketika. Ingin rasanya ia menangis, tapi entah sejak kapan, Lan sudah lupa caranya.

Lan segera mengambil barang-barangnya dan hendak menyeberang sungai menuju hutan yang dimaksud. Tapi, tangannya langsung ditahan oleh Zen. “Apa yang kaulakukan?! Aku harus menjemput Yue saat ini juga.”

Zen hanya menggeleng. Ia kemudian menunjuk ke arah hutan, ke arah bulan, lalu mengarahkan telunjuknya ke depan lehernya sendiri. Dengan pelan, ia menggerakkan telunjuknya melintang. Lan langsung sadar apa maksudnya.

“Maksudmu, hutan itu sangat berbahaya di malam hari? Kita bisa terbunuh jika masuk sembarangan?”

Zen mengangguk. Ia kemudian menulis kembali di tanah. Tunggu matahari terbit.

“Aku tidak bisa menunggu selama itu. Adikku bisa saja sekarang sedang berada di ambang kematian.”

Orang mati takkan bisa menolongnya.

Lan hanya mampu menggigit bibir. Ia bukannya tidak mengerti apa yang coba disampaikan lelaki itu. Tapi, ia mana bisa tenang setelah mengetahui semua itu?

Perlahan, tangan Zen yang tidak memegang ranting meraih tangan Lan, yang langsung membuat gadis itu tersentak. Lan menengadah demi menemukan sebuah tatapan penuh keyakinan di hadapannya. Ia masih sangsi. Tapi, anggukan mantap yang mengiringi tatapan itu membuatnya teringat masa lalu. Ketika Lan sedang frustrasi seperti sekarang, Lu Jin selalu mampu membuatnya tenang kembali dengan cara yang sama seperti Zen. Mau tak mau, Lan mengangguk kecil, memaksakan dirinya untuk bersabar sebentar lagi.

 

Read previous post:  
48
points
(2647 words) posted by aocchi 7 years 3 weeks ago
68.5714
Tags: Cerita | Novel | petualangan | fantasi | Katalis Waktu | lcdp | tragedi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Ahhh setelah sekian lama akhirnya bisa baca lagi... Seru eyyy....

80

Ahhh setelah sekian lama akhirnya bisa baca lagi... Seru eyyy....

80

Wahahaha
Akhirnya yang baru muncul juga
Sip, sip
Kapan dilanjutin lagi?
^^

bakal saya lanjutin setelah FF2012 kelar Q_Q

100

aaaaaaa
aku ketinggalaaaaannnn

70

“Kau jangan bercanda, Elli. Kau mau
ragu-ragu sekarang? Kau sudah sejauh ini.”
[/br]
Yang jadi janggal ketika Ellial dipanggil Elli. Aku lebih suka kalo dipanggil El :D
Belum baca yang lain nih.
Oh iya, salam kenal ya. Saya terkesima sama grup lcpd :)

Wkwkwk, maaf maaf
soal panggilan ... memang sengaja saya bikin begitu ... itu kan panggilan kesayangan mereka (cuma mereka berdua yang manggil Ellial begitu) *plak

90

Jadi Zen bisa psychometry ya >.<
rasanya kok makin lama makin ruwet ya
masing2 karakter punya hubungan dan kepentingan sendiri2, sampai bingung
kayaknya perlu kamu bikinin bagan hubungan per tokoh juga deh, biar lebih mudah ngertinya. eh, tapi jadi sop iler y entar :p
lanjut aja deh

bagan hubungan per tokoh? ide bagus tuh ... tapi iya, bisa jadi sop iler :P

100

Akhirnyaaa~
.
Lanjutannya kapan, Bos?

bisa agak lama sih ... soalnya saya juga ngerjain proyek naskah lain #kabuuur