Sheila - Gadis Batu Grafit

Nama:

Sheila

 

Umur:

21 tahun (tapi selalu berwujud anak perempuan umur 13 tahun)

 

Jenis kelamin:

Perempuan.

 

Asal:

Bumi. Indonesia di tahun 2114 Masehi.

 

Deskripsi fisik:

  • Bermata cokelat gelap, berwajah halus, berambut hitam panjang sepinggang dan selalu digerai.
  • Selalu mengenakan kemeja putih berompi cokelat, celana cokelat selutut, kaos kaki pendek, dan sepatu kets.
  • Selalu terlihat sedang mengunyah permen karet.

 

Kepribadian:

  • Sangat temperamental. Sedikit saja menyinggungnya, itu adalah deklarasi perang buatnya. Tapi, itu tidak membuatnya mudah dimanipulasi. Tipe orang yang determinasinya kuat.
  • Pemalas super akut. Tapi, sekalinya serius, tak ada yang bisa mengalahkan kerajinannya.
  • Easy-go-lucky. Terkesan cuek, tapi sebenarnya peduli dengan caranya sendiri. Tipe tsundere sejati.
  • Sama sekali bukan pemaaf, tapi juga bukan pendendam.
  • Tegas, kasar, tidak tahu sopan-santun, tapi bukannya tidak memahami alasan apa-apa yang terjadi padanya. Tipe orang yang bertindak dulu, berpikir nanti.

 

Biografi:

dituliskan dengan kehidupan sebelum turnamen

 

Kemampuan:

  • Cuma menang tenaga yang sangat besar karena tubuhnya yang merupakan tubuh robot di balik kulit manusianya.
  • Bisa mengeluarkan tembakan laser biru (yang mana sangat panas dan menghancurkan dibanding laser merah) dari kedua telapak tangannya.
  • Meski tubuhnya di-“mutilasi”, hal itu tidak berpengaruh baginya karena tubuhnya hanya rangkaian logam berbentuk fisik manusia.
  • Bisa mengeluarkan berbagai senjata tajam berkategori panjang dan tipis (pisau, pedang, pedang pendek, golok, tombak pendek, kunai, dll) dari kedua siku dan kedua lututnya. Termasuk master dalam semua beladiri tangan kosong atau yang melibatkan senjata tajam.

 

Kelemahan:

  • Dalam mode “Sheila”, ia hanya bisa mengeluarkan senjata tajam dari lututnya untuk bertarung (pun teknik beladirinya meskipun bagus tapi tidak sejago bila dalam mode Lunar, hanya menang tenaga saja). Kecepatannya juga standar manusia biasa.
  • Bila dalam mode “Lunar”, ia bisa menggunakan laser biru dan semua fungsi dalam tubuhnya. Masalahnya, Lunar sering dalam mode hibernasi untuk mengumpulkan energi. Dan sekalinya muncul untuk bertarung, hanya bisa maksimal 3 menit. Lain cerita kalau Lunar muncul tidak untuk bertarung.
  • Di belakang leher Sheila, ada sebuah lubang kecil yang bila ditusuk, akan mematikan tubuhnya. Dalam mode Lunar, bila terkena, ia akan kembali hibernasi tanpa bisa bereaksi apa pun. Dalam mode Sheila, bila terkena, ia seperti kena totok. Kesadaran masih ada, tapi benar-benar tak bisa bergerak. Karena itulah, sekali lubang sekecil jarum itu tertusuk, sudah pasti ia kalah. Makanya, ia selalu menggerai rambutnya.

 

Motivasi ikut turnamen:

Siang itu, seperti biasa aku menyelinap ke perpustakaan SMP. Menyembunyikan diri di atas rak buku yang tinggi di posisi paling jauh dari penjaga perpustakaan benar-benar menyenangkan. Aku bisa tiduran sepuasnya. Tapi, seperti biasa, bocah laki-laki berseragam biru-putih bernama Yudha itu selalu bisa menemukanku.

“Bolos kelas lagi?” tanyanya sambil memilih-milih buku yang aku yakin sudah dibacanya semua. “Tadi Pak Guru nyariin kamu, La. Nekat banget nggak ngumpulin tugas.”

“Bodo!” sahutku sekenanya. “Lagian buat apa sih masuk kelas segala. Toh, semua pengetahuan yang kubutuhin udah ada di memori Lunar.”

Menemukan buku yang ingin dibacanya, Yudha berhenti memilih dan mendongak padaku. “Lunar nggak bakal selamanya ada buat kamu, La. Nggak nyadar apa kalau dia sering banget lowbatt? Lagian, terakhir kali liat kalian ngobrol, kayak ngeliat orang gila lagi ngomong sendiri.”

Aku hanya mencibir.

“Pulang sekolah nanti, Ibu ingin laporan dari kamu. Soal pelajaran, sekolah, teman, dan macem-macemnya,” katanya lagi. “Juga perkembangan pencarianmu soal orang itu. Itu kan alasanmu minta ibuku buat masukin kamu ke sini?”

“Aku bahkan lupa dia cowok apa cewek. Ibumu bener-bener kelewatan minta laporanku hanya seminggu setelah aku masuk sekolah ini.”

Hening.

Tak berselang lama, aku merasa kehilangan keseimbangan, seolah ada seseorang yang menggoyahkan rak buku yang tengah kutempati. Yudha pun tampak kaget. Dari sikap tubuhnya, ia seperti sudah bersiap menangkapku kalau aku jatuh. Untungnya aku masih sempat berpegangan.

Aku pun mencari penyebabnya, dan menemukan seseorang yang memakai hoodie sedang berjongkok tepat di depanku. Wajah yang memakai topeng gas itu dilihat dari postur tubuhnya sepertinya pria. Sepertinya lho! Aku tidak benar-benar yakin. Siapa tahu dia ternyata wanita berdada rata.

“Kau ingin tahu di mana orang itu? Kau ingin tahu kebenaran di balik fakta bahwa kau belum mati?” tanya sosok itu tiba-tiba.

“OI! Sialan! Kamu siapa? Muncul dari mana? Datang-datang langsung ikut campur urusan orang!”

Sosok itu hanya terkekeh kecil. “Hmmm, aku memiliki banyak nama. Tapi, kau bisa memanggilku Sakaki Ko. Kalau diperbolehkan, aku ingin mengundangmu untuk berpartisipasi dalam sebuah acara.”

“Acara apa?” Kali ini Yudha yang bertanya. “Paman tiba-tiba muncul di atas rak buku dan secara pribadi mengundang seorang gadis kecil ... memangnya nggak takut dianggap lolicon?”

Paman? Jadi, dia pria? Yudha biasanya tidak pernah salah menilai orang. Jadi, pasti benar.

Setelah mendengar teguran Yudha, paman itu langsung tertawa.

“Acara yang menarik, tentunya,” jawabnya kemudian. “Acara untuk makhluk-makhluk spesial yang menginginkan terungkapnya kebenaran yang tengah mereka cari. Nah, Sheila, apakah kau adalah salah satu dari mereka?”

“Dari mana kamu tahu namaku?!”

Paman itu tak menjawab. Ia hanya menaruh sebuah buku kecil di depanku. “Semua peraturan dan penjelasan tentang acara itu ada di sini. Cukup panggil namaku bila kau tertarik mengikuti acara itu.” Setelah mengatakan itu, sebuah lubang hitam berputar di belakangnya. Ia pun memasukinya dan menghilang.

Aku lama melihat buku kecil itu. Sebuah tulisan yang ditulis dengan ukuran font yang besar segera menarik perhatianku. Bunyinya: Battle of Realms.  

 

Kehidupan sebelum turnamen:

Aku hanyalah seorang gadis kecil berumur 13 tahun yang hidup bahagia bersama orang tua, kakak-adik, dan kakek-nenekku di sebuah desa kecil di pinggir sungai yang mengalir dari puncak Gunung Merapi.

Awal tahun 2106, aku bertemu seorang bocah berumur 7 tahun—aku tidak ingat apakah dia laki-laki atau perempuan—yang sedang berlibur bersama keluarganya. Maklum, desa kami adalah desa wisata. Wajar jika orang kota ingin menghabiskan hari liburnya di desa kami.

Beberapa hari tinggal di rumahku, aku dan bocah itu menjadi cukup akrab. Sebelum pulang, bocah itu memberiku sebuah batu grafit. Ia bilang, itu bukan batu grafit biasa, ada begitu banyak harapan memenuhi batu itu. Jika aku menjaganya dengan baik, batu itu pun akan menjagaku. Aku tidak mengerti maksudnya, tapi tetap kulakukan sesuai kata-katanya. Entah kenapa.

Mei 2106, Gunung Merapi kembali meletus. Area rawan segera dievakuasi. Rumahku terletak di area aman. Seharusnya tidak akan apa-apa. Tapi, siapa sangka wedhus gembel bergerak cepat menyusuri wilayah sekitar sungai? Dan akhirnya mencapai desaku.

Aku tahu. Seharusnya tidak begini. Tapi, itulah yang terjadi. Tak seorang pun di desaku disisakan. Aku mati hari itu. Atau, seharusnya itulah yang terjadi. Seharusnya!

Beberapa lama kemudian—aku tidak tahu berapa jam, atau hari, atau bulan, atau tahun—barulah kusadari bahwa aku masih hidup. Tubuhku mungkin hancur, karena itukah nyawaku berpindah pada batu grafit yang diberikan bocah itu?

Jika aku menjaganya dengan baik, batu itu pun akan menjagaku.

Entah harus senang atau sedih. Entah harus bersyukur atau malah menyumpah-nyumpah. Aku tidak tahu lagi harus bereaksi bagaimana. Bertahun-tahun aku terpenjara dalam batu grafit itu. Masih hidup, tentunya. Hingga suatu hari, seseorang menemukanku dan membawaku ke sebuah laboratorium bawah tanah di tepi laut. Ya, aku bisa mendengar suara debur ombak yang menyenangkan. Di sana pulalah, aku bertemu Lunar untuk pertama kalinya. Juga bertemu ibu Yudha, orang pertama yang bisa terhubung pikirannya dengan pikiranku. Aku senang sekali mengetahuinya. Tapi, ibu Yudha tidak tinggal lama.

Ketika orang-orang itu mengambil energiku untuk mengalirkannya pada Lunar, robot itu—ya, Lunar memang berwujud manusia, tapi di dalam kulitnya itu adalah fisik robot—ternyata kelebihan energi hingga membuatnya mengamuk. Aku bisa merasakan kesakitan ketika ibu Yudha terbentur ke dinding terkena efek ledakan dari tabung yang melindungiku. Aku pun bisa merasakan penderitaannya ketika melihat Lunar meremukkan kedua lengan ayah Yudha ketika pria itu berusaha menyelamatkanku. Untungnya segalanya membaik. Lunar dimatikan. Dan ayah Yudha pulih total setelah operasi penanaman tangan robot.

Berbulan-bulan kemudian, aku memanfaatkan Lunar yang masih belum sepenuhnya mati—karena energiku pada fisiknya waktu itu rupanya masih belum habis. Ia pun berhasil menanamkan batu grafit ke dalam dirinya. Sejak itu, aku hidup dalam tubuh Lunar. Dan robot itu tidak akan mati, dengan catatan ia harus sering berhibernasi untuk menyalurkan energiku sedikit demi sedikit untuk menggerakkan tubuhnya. Tapi, ketika ia terbangun, biasanya kami akan mengobrol. Terkadang aku kesal karena dia yang selalu bertanya hal-hal kecil yang tentu saja tidak penting.

Yah, pokoknya setelah itu, kami kabur dari laboratorium bawah tanah itu dan pergi mendatangi ibu Yudha. Karena pikiranku dan pikiran ibu Yudha terhubung. Aku menyukai fakta itu. Dan setelah meyakinkannya bahwa aku hanya ingin bantuannya untuk mencari bocah yang memberiku batu grafit, dan janji bahwa aku takkan menyakiti siapa pun, ia setuju.

Saat itulah aku tahu bahwa aku berada di tahun 2114, delapan tahun sejak aku seharusnya mati. Bocah itu pastilah sudah SMP sekarang. Karena itulah aku menyusup ke sekolah Yudha. Ya, tentu saja setelah yakin bocah itu tak di sekolah itu, aku akan beralih ke sekolah lain. Terus begitu sampai kutemukan di mana bocah itu. Dan tentang bagaimana aku masih hidup, bagaimanapun caranya, akan kutemukan jawaban.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Distant_star
Distant_star at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 4 weeks ago)
100

Tsundere, tapi gambarnya malah tomboi

Writer Grande_Samael
Grande_Samael at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 21 weeks ago)
100

maap klo nantinya jadi OOC sheila ini. Hohoho

Writer redtailqueen
redtailqueen at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 24 weeks ago)
90

dia juga galak spt hazel ndre? x3

xentra at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 24 weeks ago)
100

uwoooh...
baru sadar
Sheila on 7!
:p

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 24 weeks ago)
100

Mechanical Tsundere wtf?!
-__-'

xentra at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 25 weeks ago)
100

Kemampuan Rafolt:
Rafolt Dimon memiliki tipe hara listrik, sehingga dia mampu memanipulasi ion elektron dan proton untuk kepentingannya sendiri, seperti menembakkan aliran listrik, bola listrik, petir dari langit, memiliki kecepatan setara kilat bahkan menghancurkan alat elektronik yang berjarak satu meter dari dirinya.

jangan dekat-dekat, ya? :p

Writer mira_hoshi
mira_hoshi at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 25 weeks ago)
100

Uooh, robot lagi~

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 25 weeks ago)
100

"Iiiiiih!!! Nyebelin banget sih! SEMUA CEWEK SOK MANIS BAKAL KUBUNUH! Pokoknya, Ray enggak boleh ngeliat dia! Ray CUMAN MILIK AKUUUU!!!" *entakentakkaki*
"....." *cemberut* *merhatiinLunardariatassampaibawah*
"Eh, tapi dia enggak terlalu manis, kok~? Aku jauh lebih manis hehe~" *kibaskibasrambut*
"Siap-siap kujadiin bubur manusia deh, ya, err... siapa namamu? Ah, aku lupa kalau aku enggak bisa baca, bodo ah. Yah, pokoknya KAMU deh, Si B-e-g-o~!" *siulsiulnyeretpemukulbaseball*

Writer Ivan Rampengan
Ivan Rampengan at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 25 weeks ago)
100

astaga Robot lagi. Berapa orang sih yang bakal kebal Virus sepanjang ini cerita!

Writer nereid
nereid at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 25 weeks ago)

hoo, ketauan nih kalau virusnya biologis :p

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 25 weeks ago)
100

uhh, preman ya ><

Writer field.cat
field.cat at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 25 weeks ago)
70

Saya pikir dia ini murni cewek, ngga taunya mendadak ngetwist kalo dia ini android... hadeh... bertarungnya hybrid yak... jauh deket dia makan... seru juga nih... :)
*membetulkan kacamata*

Writer Dedalu
Dedalu at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 25 weeks ago)
100

e-eh, a-anu, boleh pinjem rompi warna cokelatnya buat OC saia, ga? *digampar*

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 25 weeks ago)
100

Sip, kak Ao. Karakter ini ga bermasalah
*added*

Writer aocchi
aocchi at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 22 weeks ago)

sankyuu, sammy :3

Writer Ihsan Abdul Aziz
Ihsan Abdul Aziz at Sheila - Gadis Batu Grafit (2 years 25 weeks ago)
100

Dijamin seru nih kalau bisa bertarung dengan Red yang anak kuliahan. ^^;