Ahli Kucing dan Kucing - CH.1 - Speed and Delay

Seorang pria berjalan sendirian di tengah-tengah keramaian desa yang kecil tidak jauh dari dataran Le Plato. Dia mengenakan celana panjang cokelat yang terbuat dari kulit kerbau dan juga sebuah kemeja putih berlengan panjang yang warnanya sudah agak memudar dengan bagian lengan digulung setinggi siku. Kemeja tersebut dilapisi oleh rompi yang terbuat dari bahan yang sama dengan celananya. Rambutnya yang ikal dan panjang dibiarkan tergerai dan bergerak-gerak tertiup angin. Sementara di bahu kanannya bertengger dengan nyaman seekor kucing hitam yang masih remaja. Dia juga membawa sebuah tas kulit di bahu kirinya.

“Porselen, sutera… Porselen…” seorang wanita separuh baya berteriak-teriak menawarkan dagangannya kepada setiap orang yang melintas di depannya. “Kau mau beli porselen, Nak?”

Pria tersebut menoleh sebentar ke arah wanita itu dan kemudian kembali memandangi sebuah perkamen usang bergambar sesuatu yang terlihat seperti peta. Beberapa menit kemudian, pria tersebut menghampiri wanita pedagang.

“Maaf, Nyonya, aku tidak sedang berbelanja. Ini adalah desa persinggahanku hari ini,” pria tersebut tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Ah, aku ingin bertanya, di manakah aku dapat menemukan tempat ini? Sepertinya jalan yang kulalui sudah berubah dari peta yang tergambar di sini.”

Wanita tersebut menghentikan teriakannya dan memandangi perkamen yang ditunjukkan oleh pria tersebut.

“Hoo, ya… ya… ya… Desa Le Plato ini memang baru berumur dua puluh tahun. Wajar saja bila tidak ada di dalam peta yang sepertinya sudah berumur lebih dari seratus tahun ini. Dari mana kau mendapatkannya, Nak? Bagaimana bila dijual saja padaku?” Wanita itu melihat sisi keantikkan dari perkamen yang ditunjukkan oleh pria itu.

“Ah, tidak! Sebetulnya aku hanya ingin tahu, apakah aku sudah berada di jalur yang benar untuk menuju Le Chateau de Phantasm?”

Wanita tersebut mencibir. “Jadi, kau tidak tertarik untuk menjualnya? Padahal itu antik sekali, mungkin aku bisa membayarmu seribu keeping.”

Pria tersebut hanya tertawa bingung. “Tidak! Tidak! Peta ini benar-benar penting untukku. Tanpa ini bagaimana bisa aku menemukan Le Chateau de Phantasm.”

“Benar juga…” Wanita tersebut mengusap-usap pipinya. “Haaah, baiklaaaaah, aku akan memberitahumu. Untuk mencapai Le Chateau de Phantasm, kau sudah melewati jalur yang benar. Tapi, setelah ini kau akan melewati beberapa kota lain.”

“Be-benarkah? Waaah, syukurlah kalau begitu. Aku jadi lega,” pria tersebut tersenyum riang. Kucing hitam yang ada di bahunya pun mengeong pelan menyatakan kegembiraannya. “Kita pasti berhasil, sampai ke sana, Kanokuro!”

Pria tersebut kembali menatap sang wanita.

“Nyonya, apakah kau punya air? Aku ingin membelinya kalau boleh,” ujar pria tersebut.

“Ya, ada, Nak, ada…” wanita tersebut kembali bersemangat. Pria itu segera menyodorkan tempat minumnya yang sudah kosong. Tak lama kemudian botol kosong itu sudah terisi penuh kembali oleh air minum. “Ini, Nak!”

“Huwaaa, terima kasih banyak. Jadi berapa yang harus kubayarkan?”

“Sebetulnya tidak perlu membayar, Nak… Kalau hanya air aku mempunyai persediaan yang sangat banyak di sini.”

“Ah, tidak apa-apa, Nyonya. Kau kan sudah membantuku. Kalau begitu terimalah ini, anggap saja ini keberkahan yang diberikan dewa untuk Nyonya,” pria tersebut memberikan empat ratus keping.

“Te-terima kasih, Nak! Kalau boleh tahu, kalian ini siapa? Dan kenapa mencari Le Chateau de Phantasm? Padahal sudah bertahun-tahun tak pernah ada pengembara yang mencari tempat tersebut karena bahaya yang harus ditempuh sepanjang perjalanan.”

“Oh ya. Kalau begitu izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Field. Field Catavell, dan ini kucing kesayanganku, Kanokuro. Aku adalah seorang Ahli Perkucingan yang sedang mengembara mencari pengalaman.”

Kanokuro mengeong lagi seolah-olah memberi salam kepada sang wanita pedagang.

“Hoo, Ahli Perkucingan? Itu semacam profesi?” wanita tersebut bertanya bingung.

“Yap, Ahli Perkucingan adalah julukan untuk orang yang mencintai kucing dan mengerti banyak hal tentang kucing. Tak ada kucing yang tak bisa kujinakkan, dan sepertinya hanya Ahli Perkucinganlah yang dapat mengerti isyarat-isyarat kucing,” jelas Field.

“Kalau begitu kau bisa berbicara dengan kucing?” tanya wanita itu sambil matanya menatap ke arah Kanokuro.

“Tentu saja aku tidak bisa,” Field menanggapinya dengan tertawa lepas. Wanita itu pun tertawa. “Baiklah, Nyonya, kalau tidak keberatan, aku akan undur diri. Terima kasih atas bantuannya, ya.”

Wanita itu hanya mengangguk semangat. Field pun melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan wanita tersebut.

“Hampir saja ya, Kanokuro, untuk aku tidak sampai keceplosan.”

“Hahaha… akhirnya kau bisa mengurangi sifat cerobohmu itu, Field,” Kanokuro mengeong, tapi setiap meongannya terdengar seperti bahasa manusia bagi Field.

Cukup lama mereka berjalan hingga akhirnya mereka mencapai pintu perbatasan untuk keluar dari Le Plato. Belum sempat Field menghela napas lega, mendadak terdengar suara teriakan dari kejauhan. Teriakan seorang wanita.

“Hentikan! Tolong hentikan pencuri itu!”

Field mencari-cari sumber suara dan kemudian tanpa sengaja menabrak seorang pria bertubuh besar yang sedang berlari dengan tergesa-gesa. Field terjatuh dalam posisi duduk.

“Hei, Bodoh! Kenapa tidak kau hentikan dia?” bentak wanita tersebut.

“Maaf, Nona! Aku tidak melihatnya tadi, jadi dia pencurinya?” Field segera bangkit dari posisi jatuhnya. Kanokuro melompat turun dari bahu Field dan menapakkan keempat kakinya langsung ke permukaan tanah.

“Iya! Dia pencurinya! Aku mohon siapa saja tolong hentikan dia! Dia mencuri tasku yang berharga.”

“Tenanglah, Nona… Tenanglah… Aku akan membantumu,” Field mencoba menenangkan wanita itu. “Tunggu di sini, ya!”

Field segera mengangkat Kanokuro dengan tangannya dan kemudian berlari kencang kea rah yang dilalui oleh pencuri tersebut.

“Kanokuro, kau kejar dia ya! Aku akan melakukan sesuatu dari atas,” ujar Field sambil melepaskan Kanokuro dari pegangannya. Kanokuro hanya membalasnya dengan meong pelan yang menyatakan bahwa dia mengerti. Field segera melompati salah satu dinding bangunan yang ada di sana dan berlari dengan cara menitinya. Dia bisa melihat arah tujuan sang pencuri dari atas dinding.

“Ah, ke sana!” Field segera melompat turun dan berlari menyusuri gang sempit yang akan membawanya menuju tempat si pencuri dalam waktu yang lebih singkat. Field menabrak seorang pria yang lewat dihadapannya. “Ah! Maaf, Tuan! Maafkan saya! Ada pencuri di depan sana…” Field tak menghentikan larinya. Pria tersebut hanya menatap Field sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tak lama kemudian, Field berhasil sampai di ujung gang dan melihat pencuri tersebut sedang berlari ke arahnya. Kanokon tepat di belakang pencuri tersebut. Larinya sangat kencang. Jauh lebih kencang daripada kucing-kucing seumurannya. Field segera menghadang pencuri tersebut dan melancarkan sebuah pukulan yang kena telak. Membuat pencuri tersebut terdiam beberapa saat di hadapan Field.

“Er, kau baru saja memukulku?” tanya pencuri itu.

“Y-ya! Dan seharusnya sekarang kau terpental. Tapi kenapa tidak?” tanya Field.

“Hahahahahaha… Pukulan macam apa itu? Terasa saja tidak?” pencuri itu tertawa terbahak-bahak, dan kemudian mendorong Field hingga terjatuh menabrak dinding.

“Auuuhhh!” Field memegangi bahunya. “Kanokuro, sekarang!!”

Mendadak Kanokuro berlari secepat kilat. Melangkah ke dinding bangunan dan berlari pada bidang vertikal hingga akhirnya dia berhasil berada beberapa langkah di depan sang pencuri. Sekejap Kanokuro menghentakkan kakinya ke samping dan menerkam wajah pencuri tersebut. Dia mencakar-cakarnya dengan cepat hingga pencuri itu berhenti berlari menahan sakit.

“Hahahaha… bagus, Kanokuro!” teriak Field girang. Kanokuro melompat turun dari wajah sang pencuri dan berlari kembali menghampiri Field. Field hanya merentangkan tangannya ke depan seolah hendak meraih sesuatu. Sementara sang pencuri yang sedang sibuk mengusap-ngusap wajahnya yang luka-luka mendadak berjengit kaget ketika sesuatu membuatnya terpental jauh ke belakang dengan sangat kencang.

“Huwaaaaaaaaaaaa!! Apa-apaan ini!!” pencuri itu panik. Tubuhnya melesat cepat menuju ke arah Field. Sekejap saja, Field berhasil merebut tas yang dibawa oleh pencuri tersebut, sementara si pencuri masih terus terpental hingga akhirnya menghantam dinding bangunan di ujung jalan dengan sangat keras.

“Yak, dapat!” Field tersenyum dan kemudian bangkit berdiri. “Kau berhasil Kanokuro, sepertinya dia akan menderita selama beberapa hari. Itu pun kalau bekas cakaranmu bisa hilang.”

“Hahaha… Biasa saja Field. Cakaranku belum sekuat itu,” jawab Kanokuro sambil memanjat naik ke bahu Field.

“Si-siapa kau? Apa yang terjadi padaku? Mendadak terpental jauh seperti itu, dan…” pencuri tersebut membelalak menatap Kanokuro di bahu Field. “Apa-apaan kucing itu! Kucing setan!”

Field menendang wajah pencuri tersebut dengan keras. “Enak saja! Kucing berwajah manis begini kau sebut kucing setan? Mau kuhajar lagi ya?”

Si pencuri menutupi wajahnya ketakutan.

“Biar kusebutkan siapa kami! Namaku Field Catavell, 16 tahun, dan ini adalah Kanokuro, dia berumur 8 bulan, dan dia BUKAN Kucing Setan! Aku adalah seorang Ahli Perkucingan pemilik kekuatan Delay dan Speed. Ah, maksudku Kanokuro yang memiliki kekuatan Speed,” jelas Field.

“De-delay?”

“Iya, itulah mengapa kau terpental secara mendadak seperti tadi, itu adalah Delay. Pukulanku memberikan efek nyata padamu setelah lewat lima detik,” Field mengusap-usap bulu Kanokuro. Kanokuro mengeluarkan suara getaran seperti sedang mendengkur. “Dan Speed tentu saja, yang dimiliki Kanokuro. Dia bisa berlari hingga kecepatan kilat dan menyerangmu secara tiba-tiba dari sudut manapun yang mungkin tak kau perkirakan sebelumnya. Sayangnya dia masih masa pertumbuhan, jadi belum sekuat itu.”

Pencuri itu termenung untuk beberapa saat menatap Field dan Kanokuro yang ada di depannya. Tak lama kemudian dia pun bangkit dan bersujud di hadapan mereka.

“Aku mohon, maafkanlah aku! Jangan hukum aku Tuan Field!”

“Asalkan kau berjanji tak akan mengulangi perbuatanmu, aku tidak akan membawamu ke pusat pemerintahan desa Le Plato ini.”

“Baiklah! Baiklah, Tuan! Aku berjanji!”

Field menatap pencuri tersebut sambil berpikir sejenak.

“Hei, katakana padaku satu hal!”

“A-apa, Tuan? Katakan saja, aku pasti menjawabnya.”

“Sepertinya kau bukan orang Le Plato ya? Buktinya bisa sampai tidak tahu ada jalan pintas di sini yang membuatku dapat menghentikanmu… Katakan, kau berasal dari mana?” Field berjongkok di hadapan pencuri itu.

“Aku dari de Futura, Tuan! Kurang lebih empat puluh kilometer dari sini.”

Field mengeluarkan lagi perkamen tuanya. “Apa kau tau di mana Le Chateau de Phantasm?”

“I-iya tahu! Aku tahu… Eh, tapi apa yang Tuan inginkan dariku? Jangan bilang aku harus mengantar Tuan ke sana!”

“Wah, pintar kau sudah menebaknya sendiri dengan tepat.”

“A-aku tidak mau Tuan! Aku tidak mau!”

Field hanya menunjukkan tas yang sebelumnya dicuri olehnya sebagai isyarat ancaman. Wajahnya berseri-seri dan tersenyum jahil.

“Aaaaaah… Ba-baiklah, Tuan! Aku mengerti… aku mengerti… aku akan mengantar Tuan sampe ke Le Chateau de Phantasm.”

“Nah, begitu!” Field tersenyum, kali ini terlihat lebih natural. “Jadi, siapa namamu?”

“A-aku… Aku Yriad…”

“Baiklah, Yriad… Mohon bantuannya, ya!”

 

Field memberikan isyarat pada Yriad untuk tetap diam di tempatnya dan tidak pergi ke mana pun. Field tidak merasa khawatir karena sudah meninggalkan dia bersama dengan Kanokuro. Sepertinya tipuan Field pada Yriad mengenai Kanokuro yang mampu berubah menjadi kucing raksasa telah membuatnya ketakutan untuk berbuat macam-macam.

Tak lama, wanita yang menjadi korban pencurian itu datang menghampiri Field.

“Ah, Tuan, terima kasih…” isak wanita itu saat menerima tasnya kembali. Dia hendak mengeluarkan beberapa keping dari tasnya, namun Field segera menolaknya dan langsung pergi begitu saja.

 

“Nah, Yriad! Kira-kira berapa lama kita akan sampai ke sana?”

“Sekitar tiga hari mungkin, bila kita meminimalkan waktu istirahat,” jawab Yriad. “Ta-tapi jalan ke sana sangat berbahaya, Tuan! Aku tak mau mengambil re—“

Field memotong kata-kata Yriad dengan senyumnya yang sadis. “Nah, baiklah, Kanokuro! Dalam tiga hari kita pasti sampai ke Le Chateau de Phantasm!”

Kanokuro membalas dengan meong pelan yang bersemangat. Perjalanan panjang menuju Le Chateau de Phantasm pun dimulai.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Saya suka ceritanya. Asik pembawaannya. Wow kekuatan speed and delay, keren, hahaha.
.
Field kan bukan orang Le Plato juga, kok dia tau ada jalan pintasnya ya :O pencurinya aja gatau, hehehe.

70

Kok kayanya cepet banget ya si Field percaya sama Yriad?
.
Btw, ngeliat ini, saya jadi tertarik bikin cerita kehidupan si Penjual Kaos Kaki Keliling sebelum dan setelah ia sampai di LCDP...

Cepet percaya? Orang si Field memerintah Yriad buat mandu di ke LCDP... lagian Yriad kan ketakutan gitu ngeliat kemampuan Field... :D

80

Salut, keren, alurx asik, mengalir dan dipahami. Idex jg unik. Di tunggu ya kelanjutanx. Wait, dikastil aku sama seperti dirimu, tp beda sikit. Km bs ngerti bhs kucing, klw aq mengerti bahsa tanaman, hihihi.

80

Hoah~~ saya juga pengen bikin gini :3
btw btw,, ini keren,, kekuatan Delaynya kocak XD