Novel Kolaborasi: Klub Misteri [Penampakan]

“Yo, Saito-kun, kau kenapa? Sakit?” tanya teman sebangkuku, Keita, saat melihat dahiku menempel di meja.

 

Aku menoleh ke arahnya yang telah memakai seragam olahraga biru-putih Aizawa High School. Sebisa mungkin kuperlihatkan senyum ramah untuknya, tapi mungkin lebih terlihat sebagai senyum yang dipaksakan.

 

“Tidak…aku tidak sakit. Hanya sedikit mengantuk,” jawabku seraya menahan kantuk yang membebani kelopak mataku. Terang saja, semalaman aku tidak bisa tidur. Memikirkan Tsuciya-san dan kecerobohanku membiarkan catatan observasiku di tangannya. “Kurasa aku tidak akan ke lapangan,” lanjutku kemudian.

 

“Kau yakin? Tidak mau kuantar ke UKS?”

 

“Ukh, tidak. Tidak perlu, Keita.”

 

“Baiklah, aku akan meninggalkanmu,” pemuda bertubuh kekar itu bersama yang lainnya meninggalkanku sendirian di dalam kelas.

 

Sendirian?

 

Beberapa detik kemudian kulongokkan kepalaku ke jendela dan menemukan semua teman sekelasku tengah berlari mengelilingi lapangan. Beberapa gadis terengah-engah berlari di belakang, sementara para laki-laki berlomba dengan semangat. Sayangnya aku benci olahraga.

 

Tapi, bukan itu yang terpenting saat ini.

 

Kuedarkan pandanganku ke penjuru kelas, hingga yakin tidak ada orang lain selain aku di dalam kelas. Perlahan, tapi pasti, aku menuju tempat duduk Tsuciya-san yang terletak beberapa bangku dari tempat dudukku yang berada di dekat jendela.

 

Apa tidak apa-apa?

 

Ah, tidak apa-apa. Mengambil milik sendiri kan nggak masalah.

 

Tanganku menggeledah tas merah bercorak abstrak milik Tsuciya-san. Merogoh setiap kantung yang dipunya tas itu, tapi tidak ada! Argh! Dia tidak membawanya?

 

“Kamu cari apa?” Sepotong suara anak kecil terdengar di telingaku. A-apa, bukankah aku, tidak, hanya aku yang berada di kelas ini, kan?

 

Mataku beralih, dan menatap tak percaya pada sosok hantu gadis kecil yang duduk di kursi Tsuciya-san. Hantu? Iya, dia hantu, dengan tubuh biru transparan tertimpa cahaya, apalagi kalau bukan hantu namanya?

 

Ada hantu di sekolah ini? Siapapun, tolong aku!

 

“Kamu cari ini, Saito-kun?” Di-dia tahu namaku? Dan itu, yang dipegangnya itu membuatku kian terperangah, buku kecil observasiku!

 

Satu langkah kakiku bergerak mundur. Mulutku terbuka, tak bisa mengeluarkan kata. Kenapa aku ini? Teriak, Bodoh!

 

Senyum hantu gadis kecil itu mengembang, menimbulkan kengerian tersendiri yang membuatku makin merinding. Sial! Dia terbang melayang ke arahku, pula. Bagaimana ini?

 

“Tidaaak!” jeritku saat aku jatuh akibat terantuk kaki meja. Sedangkan hantu gadis kecil itu telah berada di atasku, lantas mengecup pipiku.

 

“Rin! Apa yang kaulakukan?!” Seorang gadis berambut violet menghampiriku. Aku tersenyum ke arahnya sebelum akhirnya aku jatuh pingsan.

---

 

“Ka-kamu tidak apa-apa kan, Kirishima-kun?” Butuh beberapa kali mataku berkedip untuk mengenali gadis berambut violet yang tadi bertanya, Tsuciya-san. Dirinya tengah duduk di kursi samping tempatku berbaring dengan raut muka khawatir. Ah, memang seharusnya aku tidak berbuat lancing menggeledah isi tas orang lain. Payah!

 

“Yo, maaf, Saito-kun. Aku yang menggotongmu ke sini, salahmu juga tidak mau kuantar ke UKS tadi,” ujar Keita yang berdiri di sebelah Tsuciya-san. Dengan raut muka yang sama dengan Tsuciya-san: khawatir.

 

“Aku tidak apa-apa kok,” ujarku dengan sebisa mungkin tersenyum untuk meredam kekhawatiran mereka.

 

Tsuciya-san menoleh kea rah Keita, lalu berkata dengan nada ceria, “Bisakah kamu tinggalkan kami sebentar, berdua, Keita-kun? Ada yang ingin aku bicarakan.”

 

“Baiklah…tak masalah.” Keita lalu berbalik dan meninggalkan kami di ruang UKS. Dan kini hanya tinggal aku dan Tsuciya-san di dalam ruangan berdinding putih ini.

 

Matanya memandangku, lalu menunduk menatap lantai UKS. Apa yang mau Tsuciya-san katakan? Tidak. Apa dia… membenciku?

 

“A-aku tahu apa yang Kirishima-kun cari,” katanya memulai, ekspresinya berbeda jauh saat berbicara dengan Keita tadi. “Tapi, maaf, aku tidak bisa memberikannya sekarang.”

 

“A-apa?” Sepotong kata tanya meluncur bersamaan dengan rasa kecewa. Ah, ini semua gara-gara aku ketemu hantu itu, dan pingsan setelah dikecup olehnya, lalu ditolong seorang gadis pula. Apa yang bisa dibanggakan dari kejadian tersebut? Memalukan.

 

“Kami membutuhkan bantuan Kirishima-kun, jadi-”

 

“Apa kamu membacanya?”

 

“Eh? Apa?” Tatapannya langsung tertuju padaku.

 

“Apa Tsuciya-san membaca catatan observasiku?” tanyaku sekali lagi dengan lebih jelas. Pipinya bersemu merah. Ah, dia sudah membacanya! Gawat.

 

“A-aku belum membacanya kok!” jawabnya sok tegas, kentara sekali kalau dia berbohong. Aku harus mencatatnya, tapi… di mana?

 

“Belum? Benarkah? Ah, kau belum selesai membacanya ya, Tsuciya-san?” tanyaku menggoda, membuat wajahnya berubah warna jadi merah padam.

 

“Ah! Tidak! Pokoknya tidak! Aku tidak membacanya.”

 

“Ah, bohong dosa, lho.”

 

“Terserah Kirishima-kun saja! Pokoknya kami membutuhkan bantuanmu, dan-“

 

“Dan~?”

 

“Aaaah~ Jangan menatapku seperti itu!” Dia memalingkan wajah merah padamnya dan kemudian bangkit berdiri. Lantas kakinya melangkah menuju pintu keluar, lalu berhenti tepat di depan pintu. “Kami tunggu Kirishima-kun di halaman belakang sekolah saat istirahat, besok pagi.”

 

Aku hanya diam, bergeming hingga Tsuciya-san memutuskan membuka pintu keluar. Mataku terbelalak saat Tsuciya-san melangkah keluar dan disambut oleh Akita, Yukimura, dan Natsumi. Tapi bukan mereka bertiga yang membuatku kaget.

 

Hantu gadis kecil itu melayang sambil melambai-lambaikan tangannya ke arahku dengan senyum lebar.

 

Seakan jantungku berhenti berdetak menyaksikan penampakan makhluk itu untuk kedua-kalinya.

 

Untunglah Keita segera menutup pintu kamar UKS dan menghampiriku, sedikit membuatku bernafas lega.

 

“Yo, Saito, kamu beruntung sekali!” ujarnya girang.

 

“Beruntung? Pingsan karena dikecup hantu dan ditolong seorang gadis kau anggap beruntung?”

 

“Eh? Dikecup hantu?” tanya Keita, tak percaya. Tentu saja tak percaya, aku saja yang mengalami hal tersebut masih tak bisa mempercayainya. “Ah, paling tidak Hina-chan tadi memberikan napas buatan untukmu. Seharusnya kau bersyukur, Saito!”

 

Napas buatan? Di bibir?

 

Aku harus memasukkannya ke dalam catatan observasiku! Tapi, Tsuciya-san tidak mau mengembalikannya. Haruskah aku menemuinya di halaman belakang sekolah saat istirahat besok?

Read previous post:  
14
points
(4931 words) posted by tsukiya_arai 6 years 47 weeks ago
46.6667
Tags: Cerita | Cerita Pendek | teenlit | fantasi | kolaborasi | misteri
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

Kok ane ngebayangin hantunya sebagai hantu cantik ya..

Boleh kenalan dong ma hantunya ♫
:D

80

heheheh.....

https://www.facebook.com/dian.septiari

member kekom bukan yah? kok gak di post di lanjutan?

heheheheheheheh

hayooooh lanjuuuu! *kompor2in*
rencananya mw dijadiin buku or ebook?

ngikut aja... xxixixixix

hayooooh lanjuuuu! *kompor2in*
rencananya mw dijadiin buku or ebook?

80

hayooooh lanjuuuu! *kompor2in*
rencananya mw dijadiin buku or ebook?

sorry y, coment tumpuk2. opera mini payah

rerima kasih Demet :D

we~mbak demeter ada di sini tapi nggak ada di saya :3

btw, komen saya udah di grup ya riu~

80

heheheheh....