Four Of Your Kind : [ORDER]

Pagi ini aku terbangun dan menemukan mataku tidak ada lagi di tempatnya.

...

Untunglah bukan keduanya yang hilang, hanya sebelah saja...eh! Tidak, tidak! Seseorang normalnya harus bereaksi panik kalau mengalami situasi seperti ini!

Kehilangan sebuah mata... Sungguh, tak pernah kubayangkan hal ini akan terjadi padaku sebelumnya.

Aku kembali melihat pantulan diriku sendiri di cermin, yang tak mungkin berbohong karena rabaan tanganku mengatakan memang ada lubang di salah satu area wajahku. Lubang yang seharusnya terisi oleh sebuah bola mata sampai malam tadi.

Heran. Apa yang kulakukan semalam sampai bola mataku hilang seperti ini?

Aku tidak berkelahi dengan siapa-siapa semalam. Aku tidak membuka situs dewasa semalam. Aku juga tidak bertemu dengan mahluk dimensi lain atau semacamnya semalam. Jadi, apa alasannya aku bisa sampai kehilangan bola mataku?

.....

Berpikir seperti apapun, kurasa bola mata itu hilang saat aku tertidur. Kalau tidak, harusnya aku ingat apa yang terjadi. Bahkan tubuh ini tidak mengingat rasa nyeri sama sekali walau satu bagian darinya telah menghilang secara misterius. seperti ini.

Dan aku masih punya sebuah hari untuk dijalani. Tak mungkin aku berdiam diri satu tempat hanya karena bola mataku hilang.

Jadi aku mulai mengacak-acak kamarku sendiri untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa menutupi cacat di wajah ini. Kacamata hitam? Tidak, rasanya aneh pergi ke tempat kerja dengan memakai kacamata hitam. Topeng? Lebih aneh lagi. Eyepatch? Sial, aku tidak punya (harusnya kubeli untuk sekedar gaya).

Akhirnya kuputuskan untuk menyisir rambutku sampai menutupi sebelah wajah. Oh rambut panjang, akhirnya kau berguna juga setelah selama ini hanya menjadi bahan makian rekan-rekan kerja!

Setelah merasa tidak ada lagi yang aneh dengan penampilanku, aku pun berangkat karena jam sudah menunjukkan kalau dalam beberapa menit lagi aku akan sangat terlambat untuk pergi bekerja.

Ya, bekerja. Mereka yang tidak bekerja tidak akan hidup, bukan?

Sekalipun tidak punya satu mata, aku masih hidup. Dan itu berarti tidak ada alasan bagiku untuk tidak bekerja hari ini.

Atau setidaknya begitulah pikirku pagi itu.

*****

Dunia pasti sedang bercanda denganku.

Satu detik setelah aku menginjakkan kaki keluar dari kamarku, aku baru menyadari bahwa 'insiden bola mata' ini bukan sekedar masalah pribadi.

Ini masalah global.

Kulihat tetangga sebelah juga kehilangan bola mata. Kulihat anjing tetangga juga kehilangan bola mata. Bahkan kulihat semua orang yang mengantri di stasiun juga kehilangan bola mata mereka.

Harusnya aku menonton TV dulu saat bangun tadi.

Di antara keramaian yang selalu kuhadiri dalam kereta menuju tempat kerja, hari ini pastilah hari yang paling mengerikan. Bagaimana tidak, tak pernah muncul dalam pikiran atau bahkan mimpiku sebelumnya kalau aku akan melihat lautan mahluk hidup dengan satu mata yang saling memenuhi ruang sempit bernama gerbong kereta seperti pagi ini. Mengerikan, sungguh mengerikan.

Kalau ini bukan mimpi, berarti yang aneh memang bukan diriku sendiri, tapi dunia ini.

Kulihat semua orang kelihatan canggung satu sama lain. Ah, aku mengerti perasaan itu. Agaknya mereka sama-sama terkejut juga mengetahui insiden ini bukan dialami oleh mereka saja. Seperti mengetahui kalau di kelas ternyata bukan cuma kau seorang yang tidak mengerjakan PR.

Ah, itu mungkin perumpamaan yang salah. Tapi ya sudahlah.

Pagi itu kulalui dengan tenang, terlepas dari fakta dunia berhasil membuat mereka yang hidup di dalamnya bingung dengan menghilangkan sebelah bola mata semua mahluk hidup. Bahkan boleh kubilang pagi ini adalah pagi yang paling tenang dalam hidupku, karena sama sekali tidak ada keributan atau suara-suara yang biasanya bisa mengganggu pagi seseorang yang belum siap mengahadapi hari.

....

Sebentar.

Kenapa aku baru menyadarinya?

Pantas saja pagi ini terlalu tenang. Aku bahkan tidak bisa mendengar suara apapun.

Pantas saja semua orang terlihat bingung. Mereka sama sekali tidak berbicara satu sama lain.

Ada apa ini? Setelah kehilangan bola mata, komplikasi lebih lanjut yang dunia hadirkan pada kami adalah absennya suara dari kehidupan?

Aku mencoba berbicara, namun nihil. Tak ada bunyi yang keluar dari mulutku.

Aku mencoba memukul dinding gerbong. Tak ada bunyi yang ditangkap oleh telingaku.

Aneh.

Aneh.

Kalau suatu kejadian aneh diberi level 1 sampai 10, keanehan yang kualami saat ini pasti sudah kuberi angka 11.

Apa yang sedang terjadi di dunia ini?!

Hanya dalam satu hari, dunia yang berumur lebih dari triliunan hari kini mengalami perubahan yang baru kali ini terjadi.

Hebat. Aku jadi ingat peribahasa kalau perbuatan baik seseorang, sebanyak apapun itu, bisa terhapus di mata orang lain hanya karena satu perbuatan buruk.

Eh. Ini bukan saatnya memikirkan soal peribahasa! (Dan kurasa itu perumpamaan yang salah)

Aku menghela nafas panjang memikirkan apa yang akan terjadi saat hari ini berakhir.

Aku juga mulai meragukan apakah aku masih harus pergi bekerja bila keadaan dunia tengah sekacau ini.

....

Tapi berdiam diri juga tidak akan mendatangkan apa-apa. Kalau ini terjadi di seluruh dunia, pastilah ada segelintir orang yang tengah berusaha mencari jawaban atau setidaknya penjelasan dari fenomena absurd pagi ini.

Kuharap mereka segera memberitakan penjelasan dari kejadian pagi ini.

Kuharap mereka segera menemukan jawaban atas keanehan pagi ini.

Kuharap sih begitu.

*****

Dugaanku benar rupanya.

Kantor ditutup. Semua pekerjaan diliburkan hari ini.

Wajar, mengingat siapa yang tidak heran atau bahkan takut setelah mengetahui anomali dunia seperti ini?

Sekolah juga pasti diliburkan. Aku sempat heran kenapa stasiun masih beroperasi, tapi mungkin karena stasiun dan kereta zaman sekarang bekerja otomatis tanpa perlu ada yang mengoperasikannya.

Benar-benar fasilitas yang mandiri.

Sekarang, sampai kapan semua orang di dunia akan mengalami hal seperti ini?

Aku duduk terdiam di salah satu bangku taman yang kosong di dekat kantorku. Kulihat beberapa orang juga sama galaunya dengan diriku hari ini. Beberapa terdiam dengan wajah seperti orang mati, beberapa mulai melukai diri mereka sendiri untuk meyakinkan bahwa semua ini tidak nyata, dan beberapa terbaring begitu saja di sepanjang jalan seolah tak peduli kalau dunia akan berakhir hari ini.

Yah, kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana dunia ini bermula, jadi kurasa tidak aneh kalau kita juga tidak bisa menebak bagaimana dunia ini akan berakhir.

Untuk mengusir rasa kacau dan menghibur diriku sendiri, aku mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas pinggangku. Sebuah novel ringan, yang memang biasanya kubaca kalau ada waktu kosong seperti ini. Kalau dunia memang harus berakhir, setidaknya biarkan aku menjalani hari terakhir ini dengan damai.

.....

Begitulah pikirku, sampai aku membuka buku yang tadinya hendak kubaca.

Ya, tadinya. Karena kini aku sama sekali tidak mengerti apa yang tertulis di dalamnya.

Ribuan lambang, simbol, atau apalah namanya yang rasanya asing dari otakku tampak di setiap halaman demi halaman dari buku yang tengah kubuka. Mata yang hanya satu ini mengantarkan informasi tentang keganjilan yang kulihat ke otak, dan kelihatannya otak ini memang tidak menyimpan penjelasan soal identitas coretan abstrak yang ku'baca' saat ini.

Kulihat sampul buku novel ringan yang seingatku tidak pernah berubah sejak kubeli. Lalu kenapa sekarang buku ini jadi tidak terbaca?

....

Aku harus memastikannya.

Aku berkeliling dan melihat ke arah kantorku. Nama kantorku yang seharusnya tertera dengan jelas di depan pintu masuk kini tak bisa terbaca lagi. Pengumuman bahwa pekerjaan diliburkan juga digantikan dengan sesuatu yang kurasa tak bisa kuartikan.

Astaga.

Rupanya dunia ini mulai mengambil satu persatu apa yang selama ini telah hadir di dalamnya.

....tapi kenapa?

Mustahil meminta penjelasan dari orang lain dalam keadaan seperti ini. Semua cara komunikasi sudah hilang, selain melalui gerakan tubuh yang terkesan seperti bahasa primitif.

Gawat.

Kelihatannya dunia akan berakhir lebih cepat dari apa yang kukira.

*****

Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku akhirnya kembali ke dalam kamarku. Tempat di mana aku terbangun dan memulai hari yang aneh ini.

Sepanjang perjalanan pulang, kulihat semua orang mulai kehilangan kendali atas diri mereka masing-masing. Beberapa meloncat dari gedung, beberapa tertawa dan menangis tanpa suara, dan beberapa mulai berlaku seolah peradaban dan budaya tidak pernah ada.

Bagiku, semua ini tidak ada artinya lagi.

Mungkin pencipta dunia ini sengaja menyimpan kejutan seperti ini supaya tidak ada yang bisa melawan saat cerita dari dunia ini harus diakhiri.

Dan karena aku tidak terlalu peduli lagi, aku berbaring di atas kasurku dan mencoba menutup mata, berusaha untuk lari dari kenyataan ini menuju dunia mimpi.

....

Gagal.

Perutku meronta meminta diisi. Haha, aku baru sadar kalau aku memang belum makan apa-apa sejak pagi tadi. Mungkin aku memang tidak sengaja melupakannya. Mungkin semua kejadian ini membuatku merasa mengisi perut bukan aktivitas yang penting lagi untuk dijalani oleh seseorang.

Aaah, kalau memang Tuhan itu ada dan Dia yang mengambil semua yang hilang dari dunia pagi ini, kenapa Dia tidak sekalian mengambil rasa lapar? Atau 'kebingungan' dan 'ketakutan' misalnya, sehingga aku tidak perlu menyaksikan pertunjukan bernama 'keputusasaan' sepanjang hari ini.

Ah, ya sudahlah.

Kalau aku memejamkan mata ini, cepat atau lambat, aku pasti akan tertidur juga.

Sama seperti dunia ini. Kalau semua menutup mata, cepat atau lambat, tidak akan ada yang sadar saat semuanya berakhir, kan?

....

Semoga saja begitu.

*****

 

Read previous post:  
24
points
(1691 words) posted by Sam_Riilme 6 years 18 weeks ago
60
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | metafisika | dream diary | visual novel script
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer hewan
hewan at Four Of Your Kind : [ORDER] (5 years 43 weeks ago)
100

Menurut saya, Mas Sam, ini lebih tepat disebut Chaos... tapi, ya, Chaos dan Order adalah satu koin yg sama,,,jadinya nda jauh juga.

Writer nereid
nereid at Four Of Your Kind : [ORDER] (5 years 46 weeks ago)
100

what kind?

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Four Of Your Kind : [ORDER] (5 years 44 weeks ago)

Yeah, what kind are they? I wonder...

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at Four Of Your Kind : [ORDER] (5 years 46 weeks ago)
100

. . .
.
-gak tau mau komentar apa-

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Four Of Your Kind : [ORDER] (5 years 44 weeks ago)

>_<

Writer smith61
smith61 at Four Of Your Kind : [ORDER] (5 years 46 weeks ago)
80

Itu yang di dalam kurung kayaknya enggak perlu di dalam kurungin deh.

Yah bisa dinikmati.

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Four Of Your Kind : [ORDER] (5 years 44 weeks ago)

Ooh, buat saya apa yang saya kurungin selalu suatu kesengajaan yang perlu~

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at Four Of Your Kind : [ORDER] (5 years 46 weeks ago)
90

penasaran sama kalimat ini

beberapa mulai berlaku seolah peradaban dan budaya tidak pernah ada.

oh...dan ini ternyata simulasi, LOL

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Four Of Your Kind : [ORDER] (5 years 44 weeks ago)

Dalam satu kata : primitif