Lili Putih yang Jatuh

Kamu menatapnya dari kejauhan. Sebuah rumah mungil yang dulu menjadi tempat bagimu berteduh ketika orangtuamu tiada. Kamu lihat pagar lapuknya masih tetap berdiri dalam posisi yang sama, kamu lihat semak belukar yang menghiasi setapak jalan. Masih setia menunggu---entah siapa---disana. Semuanya begitu ... Kamu rindukan.

kamu mulai ragu-ragu untuk mendekat, ketika jantungmu berkontraksi lebih cepat daripada yang biasanya. Kamu merasa gugup, tapi juga sangat antusias. Antusias karena panti asuhan di depanmu, rupanya masih tetap menjadi sebuah panti asuhan. Dan tidak ada yang berubah---satupun---dari mereka. Kamu sangat senang. Setelah dua puluh tahun lamanya kamu tinggalkan rumah kecilmu itu. Dan sekarang kamu telah kembali untuk satu tujuan.

Kamu menggenggam sebuah buket dibelakang punggungmu. Buket yang kamu tujukan untuk gadis kecil yang tidak bisa kamu lupakan ketika dulu kamu pergi jauh.

Masih dalam kaki yang terbaut diam, tak ayal pintu di depan rumah yang kamu perhatikan, terbuka secara perlahan. Wajah seorang wanita yang sangat kamu kenal muncul disana. Kamu ingin memanggilnya saat mata kalian belum saling bertemuan. Namun, sosok lelaki yang menyusul langkah wanita itu justru membuatmu bungkam. Surai cokelat soft dengan mata topaznya. Lelaki asing yang belum pernah kamu lihat sebelumnya. Mereka kelihatan bahagia---

Wanita itu menggendong seorang bayi, dengan beberapa anak kecil---yang kamu asumsikan sebagai anak asuhnya---mengikuti langkah gerak tubuh wanita itu dengan tawa renyah . Tapi bayinya...

Kamu tersentak saat kamu lihat dengan jelas bahwa pancaran mata lelaki asing disamping wanitamu begitu intens dan penuh afeksi. Ia bahkan mencium bayi kecil di tangan wanitamu. Sesaat, kamu bisa dengar percakapan kecil mereka tentang makan malam.

Ah--

Memang sial.

buket lilimu terjatuh, mewakilkan betapa matinya perasaanmu saat itu. Sebuah suara kerincingan kecil muncul saat cicin perak yang telah kamu sematkan di dalam buket sebelumnya, tergelinding jatuh, berpantulan di jalan beraspal. Mendengar suara yang kamu ciptakan, wanita itu kini menatap sosokmu. Ia yang tidak---atau mungkin belum---peka, memanggil namamu dari kejauhan. dan kamu hanya membalasnya dengan lambaian sejenak. Disertai senyum kaku yang dipaksakan.

Merasa tidak kuat, kamu tinggalkan tempat itu dengan segera. Meninggalkan wanita itu dengan suaminya. Meninggalkan wanita itu, dengan keluarganya. Meninggalkan sosok perempuan kuat sekaligus rapuh itu dalam sebuah tanda tanya yang besar. Begitu besar sebelum akhirnya wanita itu temukan benda kecil yang tergeletak di jalan beraspal. Benda kecil, yang sebelumnya kamu bawa untuk melamarnya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at Lili Putih yang Jatuh (1 year 50 weeks ago)
100

Senang karena menemukan cerpen lain yang mengangkat 2nd PoV

sijojoz at Lili Putih yang Jatuh (4 years 36 weeks ago)
70

suka yang pov nya pake kata ganti kedua. Pernah bikin satu dulu :D

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Lili Putih yang Jatuh (4 years 35 weeks ago)

ho oh xD ane juga, entah kenapa lebih cozy pake POV 2 daripada 1 dan 3 :D

Writer imreara
imreara at Lili Putih yang Jatuh (4 years 36 weeks ago)
80

Iya kaya film bisu. Eh dibikin film bisu pendek keren juga ya kayanya ._.

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Lili Putih yang Jatuh (4 years 35 weeks ago)

kalo dibikin film, durasinya paling ga sampe 3 menit. wahahaha XD

Writer Shinichi
Shinichi at Lili Putih yang Jatuh (4 years 36 weeks ago)
80

aaaah....
pendek amat!
lagi dong yaahh...? :D
saia ngerasa nonton film bisu, namun masih cukup bisa ngerasa feelnya.
kip nulis
ahak hak hak

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Lili Putih yang Jatuh (4 years 35 weeks ago)

Film bisu yang layarnya item-putih bukan ya? hahaha. makasih udah mampir :D

Writer amfoang timur
amfoang timur at Lili Putih yang Jatuh (4 years 36 weeks ago)
70

siip

Writer amfoang timur
amfoang timur at Lili Putih yang Jatuh (4 years 36 weeks ago)

siip..