Ex Entry FF2012 :

 

“...dan disinilah kita sekarang, dua ratus tahun kemudian, ditinggalkan oleh mereka yang berkuasa. “

 

Namaku Alkerdate, aku adalah seorang anggota dari Faleet, sebuah organisasi lingkungan yang kini telah berubah menjadi korporasi dan secara tidak langsung menjadi pusat pemerintahan sekarang ini.

 

Semua bermula hampir dua puluh tahun yang lalu, ketika pemerintah ‘baru menyadari’ dampak yang mereka buat dari hasil pertambangan mineral dan pertanian paksa telah membuat tempat ini menjadi bom waktu yang dapat meledak kapan saja.

 

Solusi mereka adalah meninggalkan kami, para buruh dan rakyat, begitu saja untuk mati disini.

 

“Keselamatan pemerintah adalah yang utama, kita tidak akan bisa selamat tanpa pemerintahan, tidak akan ada kalian tanpa pemerintahan.” Itu kata mereka, dan mereka mengatakannya berhari-hari setelah mereka mencampakkan kami begitu saja.

 

Beruntung, salah satu dari kelompok buruh berhasil menarik sebuah kapal pengawal dan menjatuhkannya kembali. Sekarang kami mengubah kapal jatuh itu menjadi pusat koloni dan pemerintahan sekarang. Secara tidak langsung, kami telah membangun sebuah pemerintahan baru.

 

Planet ini, tanah ini, diberi nama To’sol, yang berarti Setelah Bumi. Dan setelah mereka meninggalkan kami, kami memberi nama baru untuk tanah ini.

 

Sisa, sesuai namanya, dan kami beri pengartian baru yaitu harapan.

 

 

Planet ini dahulu kaya akan mineral tambang, bahkan tanah tandusnya masih dapat ditanam dengan berbagai macam tanaman. Semua tentang planet ini pada saat pertama begitu indah, tanah surga, tempat yang selalu disebut-sebut sebagai Halaman Tuhan. Kami dipanggil untuk mengolah tanah ini, kami mengira kami akan mengolah tanah ini menjadi tanah yang semakin indah, semakin kaya. Semua salah. Pemerintah menipu kami, penanaman paksa dilakukan, penambangan massal dilakukan. Semua dilakukan tanpa memperhatikan dampak terhadap tanah ini, mereka tidak peduli, mereka hanya peduli akan diri mereka sendiri.

 

Tidak butuh waktu lama untuk merusak planet sekecil ini, semenjak sistem teknologi sihir telah dimengerti dan dikembangkan secara gila-gilaan semua proses industri meningkat tajam, produksinya, juga dampak negatifnya.

 

Kebetulan, aku termasuk ke dalam tim pengembangan teknologi sihir yang sekarang digunakan hampir disetiap kesempatan. Kami menemukan bahwa sihir memiliki satu masalah besar yaitu efek negatif yang dihasilkannya. Sihir menghasilkan limbah, limbah yang mudah untuk dirapikan, namun sulit untuk menghilangkan dampak yang dihasilkan oleh limbah itu.

Bumi adalah contoh dari hasil kerusakan limbah itu.

Pemerintah meloloskan segala bentuk teknologi sihir semenjak sihir bisa digunakan, mereka tidak mau mendengarkan peringatan kami bahwa limbah sihir itu seperti virus udara yang menghasilkan kanker ganas. Apapun yang tersentuh oleh limbah itu akan segera rusak, membusuk, semua terjadi dengan cepat. Dan sialnya, setelah semua pengerusakan dan pembusukan itu terjadi, efek penyembuh dari sihir masuk begitu saja. Tanaman-tanaman kembali tumbuh, namun dengan bentuk yang mengerikan, buah yang dihasilkannya sama sekali tidak bisa diolah, disentuh pun tidak bisa.

Dan semua hewan yang terkena, sihir membuat mayat mereka kembali berdaging, daging busuk dan beracun yang tidak bisa disentuh oleh siapapun.

Semua yang mati kembali ‘dihidupkan’ oleh sihir secara otomatis, mengubah mayat-mayat menjadi tubuh-tubuh tidak berbentuk, sama sekali tidak bisa dikenali mayat apa sebelumnya.

 

Limbah sihir memang bisa dibuang, namun masalahnya, membuang sihir membutuhkan sihir dan limbahnya harus dibuang bersama dengan apapun yang telah disentuhnya.

Bayangkan apa yang terjadi dengan bumi.

 

Dua tahun setelah mereka meninggalkan kami, kami secara tidak sengaja menemukan cara untuk mengubah limbah sihir menjadi suatu sumber tenaga yang secara teori dapat digunakan untuk segala macam kebutuhan. Semua dengan dampak negatif yang dapat kami tangani, bahkan pada tingkat dampak tertingginya kami hanya membutuhkan sebuah wadah kecil untuk menampung dan melepasnya ke luar planet.

 

Dan kali ini, masalah kami jauh lebih besar dari yang sebelumnya. Kami membutuhkan bahan baku.

 

Kami harus memilih antara kehilangan tempat untuk tidur dan berlindung selama bertahun-tahun atau memilih untuk melakukan bunuh diri dengan meledakkan inti planet.

Kami memilih untuk kehilangan rumah kami.

 

“Perditi, lihat ini!” Hari itu aku menemukan sesuatu yang benar-benar membuat semua masalah kami akan tempat tinggal selesai. Hari itu aku secara tidak langsung telah membebaskan semua orang dari bangkai kapal ini, dan semua itu hanya karena satu masalah konyol.

 

Limbah sihir itu seperti tanaman kering yang hampir mati, beri air secukupnya secara terus menerus dan ia akan sehat kembali.

 

Dan itulah yang aku temukan, secara tidak sengaja aku melakukan sihir untuk membuat beberapa pot dan membuang limbahnya kedalam salah satu pot tanaman di halaman depan lab. Limbah yang berbentuk gumpalan lumpur itu mengendap diatas tanah yang baru saja aku siram dan setelah beberapa hari, kristal berlian muncul.

 

Sumber tenaga pertama untuk hampir segala hal semenjak seluruh teknologi dikembangkan dengan dasar teknologi sihir.

 

“Ini....ini benar-benar amat mengejutkan...” Perditi, pemimpin kami, bahkan tidak dapat berkata apa-apa. Kenyataan bahwa sihir adalah sesuatu yang organik terlalu mencenangkan bagi kami, juga suatu pukulan keras bagi kami yang melakukan penelitian dan pengembangan akan sihir.

 

Pukulan keras karena kami melupakan bahwa teknologi sihir menggunakan sistem yang mengenali tanda pengenal dari pemakainya, sistem identifikasi organik yang mengenali cairan tubuh manusia penggunannya. Lebih tepatnya, mengenali darah si pengguna.

 

Dan percobaan pertama kami adalah, menggunakan seorang pendonor darah untuk melakukan pemanggilan sihir pertama. Semua berjalan dengan amat lancar, dan produk sampingannya tidak terlalu merusak.

 

Lalu mengapa semua teknologi sihir sekarang menghasilkan dampak yang begitu merusak dan merugikan?

Semua karena desakan pemerintah yang memaksa agar teknologi ini dapat digunakan secara cepat dan massal. Dan solusi yang mereka inginkan adalah, sumber dari identifikasi organik yang digunakan berasal dari satu sumber besar yang tidak berbatas, mereka memaksa kami agar kami membangun sebuah pembangkit sihir.

 

Mereka memaksa kami membuat jantung raksasa, yang diciptakan dari...sebaiknya aku tidak menjelaskannya.

 

Kami melupakan pentingnya hubungan antara benda mati dan mahluk hidup sebagai konsep hukum dasar dari sistem teknologi ini. Kristal berlian sebagai benda mati, darah sebagai bagian dari mahluk hidup. Satukan keduanya dan kalian akan mendapatkan alat, sama halnya seperti pisau dan tangan manusia.

 

Ah, aku tahu, kalian tentu bertanya, mengapa penjelasanku melenceng dari menyiram tanaman menjadi darah manusia?

Itu karena mahluk hidup dan benda mati terhubung dengan air.

Air menciptakan kehidupan, air juga dapat menghancurkan kehidupan. Kalian tahu akan hal itu dengan baik, amat sangat baik.

Lalu apa hubungannya dengan air?

Seperti yang aku bilang, sihir itu organik. Dan semua yang organik selalunya membutuhkan air.

Tentu saja, segala bentuk sihir membutuhkan air.

Kalian mengerti kan?

 

 

Serangkaian percobaan pertama kami lakukan dalam waktu lima tahun penuh setelah penemuan konsep itu, segala macam percobaan berhasil dengan baik, tidak ada tanda-tanda komplikasi yang parah, tidak ada tanda-tanda efek negatif yang sama seperti teknologi sihir sebelumnya. Semua hasil yang kami dapat selama percobaan berujung kepada harapan tinggi akan apa yang dapat kami lakukan.

Yang kemudian jatuh hingga hampir kosong.

 

Entah bagaimana caranya, sekelompok orang pemerintahan berhasil mendarat di planet ini dan secara aktif dan tak terlihat merusak seluruh rangkaian percobaan dengan mencemari data-data aktual menjadi data-data palsu, sementara seluruh data asli yang kami butuhkan mereka ambil.

Yang secara tak sengaja juga kami hancurkan ketika kami menembak jatuh pesawat mereka.

 

“Jadi, bagaimana? Tanpa semua data itu kita tidak bisa menetapkan garis-garis minimum untuk segala faktor penentu antara gagal dan berhasil, juga antara aman dan tidak.” Pertemuan kali ini sudah tidak lagi dipenuhi oleh wajah-wajah bahagia, wajah-wajah antusias dan yakin akan segala perkembangan yang telah kami lakukan. Bahkan Perditi terlihat amat sangat tertekan.

“Percobaan ulang tidak mungkin kita lakukan, segala sumber mentah kita sudah pada batas tidak dapat lagi digunakan untuk apapun, kita tahu segala bahan yang tersisa itu kita sisakan sebagai jalan keluar dari semua ini. Tapi bukan untuk percobaan lagi.” Radara, peneliti bagian sumber daya kami angkat bicara, ia terkenal tidak suka banyak berbicara. Dan ketika ia bicara, itu berarti pertanda buruk.

“Dan teman-teman kita sudah benar-benar putus asa, yang menjaga mereka dari ledakan amarah dan bunuh diri hanyalah sebuah benang tipis keyakinan akan segala yang tengah kita lakukan.” Kini Foran angkat bicara, ia adalah salah satu sukarelawan dari teman-teman buruh kami dan juga perwakilan dari mereka.

“Alkerdate, kami butuh keputusanmu.”

Aku mengusap keningku, menatap selembar kertas penuh coretan tangan, penuh gambar. Seorang anak berumur empat tahun memberikannya padaku pagi ini. Ia sempat berkata padaku, “Kak, katanya sihir itu kayak tanaman kan? Kenapa ga kita buat kayak sawah aja, jadiin bibit, bajak lahannya, tanem, terus diemin, bisa kan??” yah, dasar anak-anak. Mereka selalu dapat memberikan solusi masalah besar dengan kata-kata ringan dan ceria, tanpa beban.

Terima kasih kepada mereka, kami menemukan jawabannya.

Yang aku lakukan hanyalah memberikan gambar anak itu, sekejap kemudian semua bergerak.

Kurang dari tiga hari kemudian, sebuah lahan sawah terbentang didepan bangkai kapal ini, dan semua orang bergerak bersama-sama dalam menciptakan sawah ini. Meskipun mereka tidak tahu bahwa kami, para peneliti, tidak yakin dengan hasil akhirnya.

“Lebih baik kita buat ‘benih’ sekarang, gunakan sihir untuk pengaturan sirkulasi air, kalian mengerti kan maksudku?” Aku menatap seluruh peneliti, termasuk Perditi. Mereka mengangguk, melepas jas lab mereka, menyingsingkan lengan baju dan celana panjang mereka dan turun menuju lahan hijau didepan sana.

Aku tersenyum, berbalik dan menatap lukisan besar yang kami pasang di pintu masuk utama ‘rumah’ kami ini.

Lukisan yang berasal dari negara bernama Indonesia, negara terakhir yang bertahan ketika Keberangkatan dimulai. Lukisan tentang kehidupan mereka, kebudayaan mereka, segala kebiasaan mereka. Lukisan yang sama dengan coretan tangan anak yang memberiku gambar sawah beberapa hari lalu.

 

Aku selalu bertanya, mengapa sebuah negara seperti Indonesia dapat bertahan dengan kebudayaan mereka yang terbilang primitif, bahkan Indonesia adalah satu-satunya negara yang memilih untuk tidak terlibat dan menggunakan teknologi sihir. Mungkin ketika itu mereka memang tidak memiliki dana, tapi sekarang aku dapat mengerti.

Mereka adalah negara yang baru saja pulih dari kerusakan internal, dan mereka tengah mengembangkan kembali segala bentuk kebudayaan mereka yang hilang semenjak keterpurukan mereka dimulai.

Kalian tahu Jepang? Banyak dari mereka melakukan bunuh diri ketika mereka tahu tidak ada satu orang Indonesia pun ikut dalam Keberangkatan, mereka malu kepada diri mereka sendiri. Bahkan kami, negara-negara besar, terkejut dengan keputusan negara yang hampir hancur lebur itu. Kini peninggalan mereka menjadi penyelamat kami.

Seperti yang selalu mereka bilang, lihatlah ke belakang dan kau akan menemukan jawabannya. Dan ‘belakang’ yang mereka maksud ternyata masa lalu.

 

“Alkerdate, semua berjalan dengan lancar, aku tidak pernah menyangka solusi terbaik ternyata dengan memperlakukan limbah sihir sebagai benih untuk ditanam kembali. Ini juga membenarkan bahwa sihir itu benar-benar organik dan seharusnya diperlakukan secara organik!” Perditi datang kepadaku hari itu, kini pakaiannya penuh dengan noda lumpur, bahkan wajahnya pun masih terlihat sisa-sisa lumpur. Aku hanya tersenyum.

“kini yang harus kita lakukan adalah mencoba hasil panennya besok. Apakah kita tahu cara mengolah benih-benih itu?” Perditi terdiam mendengar pertanyaanku, wajahnya berubah menjadi muram.

“Mungkin..mungkin kita bisa mencari jawabannya dari lukisan itu!” Perditi berlari setelah berbicara, ia benar-benar panik. Aku hanya bisa tersenyum simpul. Kali ini jawaban tidak datang semudah itu.

Aku beranjak dari kursiku, berjalan perlahan menuju lukisan besar itu, menatap Perditi yang tengah putus asa mencari-cari jawaban. Ia tidak dapat menemukannya, yang lukisan itu ceritakan hanyalah aktivitas berladang, tidak ada cerita mengenai proses pengolahan makanan, tidak ada cerita lainnya.

Perditi meraba-raba lukisan itu, wajahnya penuh dengan keputus-asaan.

“A-aku yakin jawabannya ada disini! Pasti ada disini!” Air mata mulai mengalir, jatuh dipipinya, suaranya bergetar. Aku mendatanginya, menggenggam pundaknya.

“Maaf, Perditi, kali ini jawaban tidak datang semudah itu.” Tangisnya meledak, ia jatuh berlutut, meraung, memukul-mukul lantai logam.

“Maafkan aku teman, mungkin memang bukan jalan kita untuk dapat menyelesaikan semua ini.” Aku tersenyum pahit, sementara orang-orang mulai berkumpul di sekeliling kami. Aku menarik Perditi berdiri, membawanya menuju lab.

“Tenangkan dirimu di sini, aku harus pergi sejenak.”

Aku meninggalkan Perditi, ada beberapa hal yang harus aku lakukan.

 

Seminggu berlalu, aku masih belum dapat menemukan apa yang aku cari. Seharusnya aku sudah menemukannya sekarang, apakah aku harus kembali dengan tangan kosong?

Aku melihat arlojiku, sudah terlalu lama aku pergi, segala perbekalan juga sudah menipis. Sedangkan aku masih belum dapat menemukan yang aku cari.

Apa aku harus menyerah begitu saja?

Apa aku harus pasrah? Menerima segala nasib tanpa berusaha untuk terakhir kali?

Ah, semua ini memang terlalu berat, aku bahkan tidak lagi yakin apa aku masih bisa berdiri tegak seraya berkata dengan tegas, “Aku yakin.”

Tuhan, baru kali ini aku memanggil nama itu, nama yang selalunya kami tolak keberadaannya. Nama yang selalu kami kesampingkan, keberadaan yang tidak pernah ada dalam segala bahasan kami.

Karena segala yang berhubungan dengan tuhan bagi kami selalunya tidak logis.

Dan semenjak teknologi sihir berkembang pesat, keberadaan itu semakin tidak kami gubris, bahkan kami sangat yakin bahwa apa yang kami sebut tuhan itu hanyalah rekayasa.

Dan kini, aku memanggil namanya.

Bahkan aku sendiri tertawa ketika nama itu aku sebut.

Aku, yang menepis mentah-mentah konsep Pencipta, kini beralih kepadanya. Kepada-Nya.

Tidak perlu seorang ahli spiritual, aku sendiri tahu bahwa apa yang aku lakukan kini sudah tidak lagi berguna.

Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba.

 

Tuhan, jika kau mendengarku, pertama-tama aku ingin memohon maaf telah mengganggu-Mu.

Aku juga memohon maaf karena aku baru berpaling kepada-Mu pada saat terakhirku, bukan dari waktu-waktu aku muda, bukan dari waktu-waktu lalu.

Lagi, aku memohon maaf karena selama ini aku menolak akan keberadaan-Mu, aku hanya tidak dapat melihat dari sisi logika akan semua keberadaan-Mu.

Mereka bilang, diri-Mu ada dimana-mana, terkandung dalam segala bentuk alam semesta.

Kami telah melakukan banyak sekali percobaan dan penelitian, namun kami tidak pernah menemukan data imliah maupun perhitungan yang menunjukkan bahwa diri-Mu benar-benar ada disana, disekeliling kami, seperti yang mereka bilang.

Dan ketika kami menemukan dan mengembangkan sihir, kami semakin yakin bahwa apa yang dulu dikatakan seorang ilmuwan tentang keberadaan manusia adalah kebetulan, itu benar. Kami semakin yakin bahwa kami adalah bagian dari evolusi, dan kami berdiri sendiri, tidak ada campur tangan pihak yang mereka sebut sebagai supranatural.

Kami tidak pernah sadar bahwa semua itu memang seharusnya terjadi, semua memang perbuatan Engkau.

Kami, tidak, aku lupa tentang satu hal. Dan seharusnya aku tahu tentang hal ini dari dulu.

Semua tidak akan terjadi tanpa seseorang yang memberi ijin agar semua terjadi.

Dan aku juga ingat perkataan mereka, Barang siapa mengusik tentang keberadaan Tuhan, selamanya ia akan buta.

Kini aku mengerti. Kami terlalu sombong. Aku, terlalu sombong.

Segalanya terjadi memang karena ijin-Mu. Bahkan ketidak-mampuan kami dalam menemukan bukti akan keberadaan-Mu memang berasal dari ijin-Mu.

Kau telah mengijinkan alam agar mereka menyembunyikan segala bentuk tentang keberadaan-Mu. Kau mengijinkan kami untuk tidak percaya kepada-Mu.

Awalnya, aku tidak percaya bahwa kau begitu kejam.

Namun aku ingat, Kau adalah Tuhan.

Pencipta, Pengatur, Segalanya.

Dan sama seperti seluruh pencipta, Kau bisa melakukan apa saja terhadap ciptaanmu.

Termasuk menyiksa dan menghancurkannya.

Dan tidak ada yang bisa menyangkal semua perbuatan-Mu, karena Kau sang Pencipta.

Aku sadar sekarang. Jika bukan karena ijin-Mu, bahkan debu pun tidak akan pernah ada.

Dan segala perjalanan kami tidak akan pernah terjadi jika bukan karena ijin-Mu.

 

Kini, aku memohon kepadamu.

Aku memohon ampunanmu, aku memohon ijin-Mu agar alam semesta dapat memaafkanku atas segala perbuatanku.

Untuk yang pertama kalinya, dan mungkin, terakhir kalinya.

Aku mohon agar segala yang telah kami lalui, segala yang telah kami lakukan, semua membuahkan hasil yang manis.

Kemudian, aku ingin agar Engkau mau menunjukkan diri-Mu barang sedikit saja. Agar mereka percaya bahwa, tanpa campur tangan-Mu, segalanya tidak akan pernah terjadi.

 

Aku mungkin tidak bisa menjanjikan apapun kepada-Mu.

Namun aku bisa menawarkan satu hal.

Apabila Kau mengabulkan segala maaf dan permohonanku, Kau dapat mengambil nyawaku-bukan, nyawa yang Engkau pinjamkan kepadaku.

 

Demi perjuangan mereka, aku rela.

Aku mohon, Tuhan, dengarkanlah.

 

Ah, sepertinya Tuhan memang sudah tidak mau lagi mendengarkanku.

Aku masih disini.

Masih didalam lubang yang aku gali demi menemukan sebuah lukisan.

Lukisan yang bahkan aku sendiri tidak begitu yakin akan memberikan jawaban.

Sepertinya memang sudah jalannya seperti ini.

 

Apa itu?

Siapa yang memanggilku?

Apakah itu kalian? Perditi? Radara? Foran? Semua?

Ah, maafkan aku, aku gagal, aku telah mengecewakan kalian.

...

Tunggu, apa ini?

Be-benarkah ini terjadi?

Aku tidak percaya...

Mereka telah berhasil menemukan cara untuk mengolah makanan dengan tangan mereka sendiri...

Semua karena pengorbananmu.

Apa? Siapa itu?

Mereka tahu kau melakukan pencarian seorang diri.

I-itukah Engkau, Tuhan?

Lihatlah apa yang kau berikan kepada mereka.

Tidak, ini bukan karena perbuatanku, semua ini tidak akan terjadi tanpa ijin-Mu.

Dan semua ini tidak akan terjadi jika kau tidak berusaha.

...

Lihatlah wajah bahagia mereka.

Lihat semua senyum dan tawa mereka, dengarkan.

Lihat apa yang telah mereka buat untuk mengenangmu.

Tidak mungkin... ini tidak seharusnya!

Kau pantas mendapatkannya.

Ta-tapi, mereka akan menyembah patung itu, bukan Engkau!

Lihatlah lebih dekat.

Lihat apa yang mereka simpan dibalik kotak kaca itu.

Bacalah.

Dan pulanglah, Aku ingin kau berada disisiku bersama dengan orang-orang yang sejajar denganmu.

 

Sebuah lukisan kecil tersimpan dalam kotak kaca didepan patung seorang pria berjanggut. Sebuah lukisan yang bercerita tentang orang-orang yang mengolah benih-benih menjadi makanan. Sebuah lukisan dimana terdapat orang-orang tengah memproses benih-benih bernama padi.

Dan proses akhirnya, merupakan proses yang paling dasar dalam kehidupan.

Proses yang sama agar tanaman dapat tumbuh.

Proses yang sama agar mahluk hidup dapat bertahan hidup.

Ternyata, teknologi sihir adalah sebuah teknologi yang begitu sederhana.

Teknologi yang mengingatkan kami, mengajarkan kami bahwa tanpa air, mahluk hidup akan mati.

Kini semua mengerti, teknologi sihir hanyalah sebuah teknologi yang membuat kami dapat melakukan hal-hal yang tidak bisa kami lakukan sebelumnya.

Dan mereka memberi kami imbalan berbagai macam kebutuhan agar kami dapat bertahan hidup. Agar mahluk hidup dapat bertahan hidup.

Kini kami tidak lagi mengerti apa itu sihir, tidak setelah Engkau menunjukkan kami maksud sesungguhnya rencana-Mu mengijinkan sihir untuk ada.

Ternyata, Engkau mengijinkan itu semua agar kami dapat melihat dampak dari keputusan-keputusan egois kami. Dan juga melihat dampak-dampak positif dari keputusan-keputusan baik kami.

Ya, dengan sihir kami bisa melakukan apapun, menciptakan apapun. Dan Engkau mengijinkan semua itu agar kami sadar, bahkan dengan kekuatan sebesar itu kami tidak ada apa-apanya.

Dan maksud sesungguhnya dari rencana-Mu adalah, bahwa kekuasaanmu tidak dapat diganggu gugat.

 

Kami mengerti.

Apa kami akan menggunakan sihir lagi?

Kami memutuskan untuk tidak melakukannya jika tidak benar-benar genting.

 

“Jadi, inti dari semua yang telah terjadi adalah ini.”

“Begitulah, Perditi.”

“Aku benar-benar tidak percaya, ternyata kita begitu buta dan bodoh.”

“Jika saja kita mengetahui ini dari dulu, Perditi.”

“Ya, jika saja begitu, jika saja sejak dulu kita sadar bahwa sihir merupakan bentuk paling dasar dari segala bentuk hubungan antar mahluk alam.”

“Dan sihir sebenarnya bukan nama yang pantas.”

“Bukan, aku sendiri tidak tahu sebutan yang tepat, Alkerdate.”

“Mungkin lebih tepat jika disebut, Keyakinan?”

“Ah, benar, itu terdengar lebih tepat. Sesuai.”

“Sudah waktunya, Perditi, mari?”

“Baiklah, tuntun aku menuju jalan-Nya, temanku.”

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis Rendi
Rendi at Ex Entry FF2012 : (7 years 5 weeks ago)
80

ini ga di post buat FF?

Penulis AndravaMagnus
AndravaMagnus at Ex Entry FF2012 : (7 years 5 weeks ago)

tidaaaaaaaaaaaaaak