[Slice of Life] Deoxyribonucleic Acid

 

Kurasa, tidak akan pernah ada manusia yang mengetahui akan menuju ke mana arah hidupnya.

Ketika aku berhasil melewati ujian masuk di jurusan impianku, arsitektur, kupikir hidupku sudah terencana. Pertama, aku harus menjaga nilai-nilaiku dan mengusahakan mendapat hasil maksimal di semua mata kuliah. Kemudian aku berencana lulus dengan predikat cum laude—yang berhasil kulaksanakan.

Aku selalu suka desain rumah-rumah kuno Eropa yang tersebar di kotaku. Rumah-rumah ini mungil, berjajar rapi di salah satu jalan kota. Mempercantik pemandangan dengan halaman depannya yang luas dan rimbun penuh bunga. Bentuk rumah ini tidak terlalu istimewa. Sangat sederhana, kalau boleh kubilang. Tidak ada pilar-pilar besar menjulang seperti Kuil Parthenon di Yunani, atau ukiran artistik maupun patung-patung berseni. Namun atapnya yang tinggi, jendela lebar tanpa kaca, dan tembok tebalnya memberi kesan sejuk di negara tropis yang cenderung panas ini.

Aku ingin sekali mencoba belajar membuat rumah-rumah seperti itu. Sebuah tempat tinggal sederhana yang enak dipandang dan tetap berdiri kokoh walaupun usianya sudah lewat satu abad. Karenanya, aku selalu menunggu kesempatan mendapat beasiswa untuk melanjutkan S2 di University of Cambridge—universitas di Inggris yang menyandang status sebagai universitas dengan jurusan arsitektur terbaik itu—sambil bekerja menjadi designer di salah satu biro arsitektur terkenal di kotaku.

Namun, mendadak aku lupa soal Cambridge dan impian tentang membangun rumah sejuk seabadku. Tepat ketika laki-laki yang memiliki tawa dan senyum yang sangat kusukai itu menunjukkan sebentuk cincin cantik dengan sepuhan emas putih padaku. Cincin yang sangat pas melingkar di jari manisku.

Waktu itu aku terlampau bahagia. Perasaanku bagai diterbangkan melewati tujuh lapisan langit. Sehingga dengan cepat mengangguk, takut kalau pria yang sangat-sangat-sangat kusayangi ini mendadak mengubah pikirannya dalam dua detik.

Saat itu, aku melupakan usahaku untuk meraih predikat cum laude, gelar S.Ars. di belakang namaku, dan juga cita-citaku. Tidak apa-apa, ini keputusanku. Sayangnya aku juga lupa, bahwa setiap keputusan itu pasti ada konsekuensinya.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa beberapa tahun kemudian aku memiliki sebuah pekerjaan baru. Pekerjaan yang membuatku rela meninggalkan dunia sketsa rumah yang sangat kucintai ini. Bahkan, aku tidak protes meskipun aku tidak dibayar sepeser pun. Padahal aku bekerja selama dua puluh empat jam penuh.

“Mama, Leo lapar.”

Aku mengangkat wajahku dari sketch book ukuran A4 yang seharian ini kutekuni, kemudian melihat anakku sedang berdiri di depan ruang kerja. Dia masih memakai seragam TK dan menggendong tas bergambar Lightning McQueen kesayangannya. Bibirnya mengerucut, wajahnya muram, dan sorot matanya memandangku memohon. Aku tersenyum geli dan langsung meninggalkan karyaku—sebuah desain rumah beratap miring yang menonjolkan tekstur bata dengan jendela tinggi—lalu menghampiri anak itu.

“Ganti baju dulu, sana,” ujarku sambil berjalan ke dapur. Bermaksud mengambilkan makan siang untuk Leo.

Bukannya pergi ke kamarnya seperti yang kuminta, anak itu malah mengekoriku ke dapur. “Mama masak apa?”

“Sayur sop,” jawabku sambil menyendok nasi dari magic com.

Leo mengernyit tidak suka. “Leo mau makan pakai sosis aja deh, Ma.”

“Iya, nanti Mama gorengin sosis juga,” kataku. Anak ini memang paling susah disuruh makan sayur. “Udah sana, ganti baju dulu.”

Sekarang anak itu melesat masuk ke kamarnya yang berada di seberang ruang kerja, sementara aku menuang minyak ke wajan dan menunggunya panas. Setelah menyiapkan makan siang untuk Leo, aku bermaksud meneruskan sketsa rumahku tadi. Aku memang masih bekerja sebagai arsitek, namun proyekku tidak sebanyak dulu. Mengurus seorang anak ternyata memakan banyak waktu dan energi.

“Mama! Leo pakai baju yang gambarnya kapal, ya!” teriak anak itu dari dalam kamar.

“Ya!” balasku. Aku heran juga. Leo sudah lima tahun, tetapi masih meminta ijinku untuk hal-hal sepele semacam itu.

“Mama! Bajunya pada jatuh, nih!” Leo berteriak lagi.

Aku menekan pelipisku, sambil menggeleng dan mendesah panjang. Aduh, tambah satu lagi deh pekerjaanku. Batinku gemas.

“Nanti Mama aja yang beresin!” sahutku. Tangan kiriku mematikan api kompor sementara yang lain dengan sigap meniriskan sosis dan meletakkannya ke atas piring. “Sini makan dulu!”

Leo berlari keluar kamar. Aku menangkap anak itu dan membetulkan kaosnya yang tertekuk ke dalam, juga celananya yang miring ke sana kemari. Aku mendudukkannya di kursi makan lalu meletakkan piring berisi nasi, sayur, dan sosis di hadapannya.

“Mama mau beresin bajumu,” kataku, lalu berjalan ke kamarnya.

Kamar itu sangat anak-anak. Aku membiarkan Leo memilih sendiri warna cat kamarnya ketika dia sudah pandai menggunakan krayon dan pastel. Pilihannya jatuh pada warna hijau muda. Alasannya sederhana saja; karena anak itu suka melon.

Dinding hijau muda itu dipenuhi poster berbagai macam kartun. Mulai dari film Cars kesukaannya, Kungfu Panda, juga serial Thomas and Friends. Mainan-mainan berada di keranjang besar di sudut kamar. Ranjang, rak buku, dan meja belajarnya terlihat rapi karena aku batu membereskannya tadi pagi—dan anakku itu belum sempat membuatnya berantakan lagi. Satu-satunya hal yang mengganggu pemandangan adalah baju-baju yang teregeletak di lantai depan lemari pakaian. Aku segera mengambil semuanya dan melipatnya kembali.

Kini aku mengernyit mendapati sepasang sepatu kotor yang berada di atas karpet ruang keluarga. Kebiasaan deh, anak itu selalu lupa menaruh sepatu di tempat semestinya. Aku meletakkan sepatu itu di rak dan berjalan ke dapur, untuk sekali lagi mengingatkan anakku.

“Leo, Mama kan setiap hari bilang. Kalau pulang sekolah sepatunya langsung ditaruh di rak depan dong,” kataku. Heran juga, karena aku tidak bosan-bosannya mengatakan kalimat yang sama setiap hari. “Itu kenapa wortel sama brokolinya nggak dimakan?”

Sosis dan nasi di piring Leo tinggal setengah, tapi anak itu menyingkirkan wortel dan brokoli ke pinggir piring. Sawi hijau dan kol juga mengalami nasib yang sama. Seharusnya aku ingat, Leo akan memilih-milih makanan yang dia suka kalau dibiarkan makan sendiri.

“Nggak enak,” katanya jujur kemudian meleletkan lidah. “Rasanya hoek, Ma.”

“Hoek gimana?” ujarku galak, kemudian mengambil piring di atas meja. “Sini Mama suapin.”

“Sambil nonton TV ya, Ma?” anak itu memohon.

Aku menggeleng tegas. “Nggak. Habisin ini semua dulu, baru nonton TV.”

“Ah, Mama!” Leo melorot di kursi makan sambil memasang muka cemberutnya yang paling jelek.

Aku memasang wajah galak lagi. Lalu dengan sabar menyuapi Leo sampai makanan di piring itu tandas. Setelah itu, Leo meminta susu kotak untuk diminum sambil menonton Thomas. Aku kembali ke ruang kerja. Namun pikiranku melayang ke arah tumpukan cucian. Aku harus ingat untuk membawanya ke laundry sore ini. Setelah itu aku harus menyiram tanaman, juga menyiapkan makan malam.

Yah, inilah pekerjaan baruku. Kupikir aneh juga. Aku yang meraih IPK 3.80 di semester pertama kuliah ini bekerja tak ada bedanya dengan TKI. Menyapu, mengepel, memasak, juga mengatur rumah agar tetap rapi. Aku cepat-cepat mengenyahkan itu dari pikiranku. Tidak, aku melakukan semua ini dengan senang hati. Berusaha menjadi ibu yang baik bagi keluarga kecilku. Menunjukkan kasih sayangku dengan mengurus mereka. Aku mendapat kesenangan tersendiri dari semua itu.

“Mama! Susunya tumpah!”

Tentu saja, kalau sedang kesal begini, aku harus berusaha mengingat apa bayaran yang kudapat dari melakukan semua hal ini.

*

Aku sedang mencincang bawang merah dan cabai untuk membuat nasi goreng, ketika seseorang tiba-tiba menutup mataku dengan kedua tangannya. Mendadak aroma parfum citrus yang bercampur keringat memenuhi rongga hidungku, menggantikan bau menyengat dari bawang dan cabai. Aku berhenti mengiris bawang dan terkekeh geli.

“Tebak siapa,” kata sebuah suara tepat di telinga kananku. Suara itu berat dan dalam—terasa seperti cokelat leleh—dan penuh nada menggoda.

“Mmm... Johnny Depp?” jawabku asal, menyebutkan nama aktor favoritku.

“Yak, betul sekali!” katanya sambil melepaskan tangan.

Aku tertawa lalu berbalik dan memukul bahunya. Erik, suamiku ini, selalu punya cara untuk membuatku tersenyum. Entah bagaimana, Erik selalu bisa meramaikan suasana dengan kata-kata ngaco atau sikap konyolnya.

“Tumben pulang sore,” kataku, menyadari ini baru pukul lima. Biasanya Erik baru tiba di rumah selepas maghrib.

“Kangen sama kamu,” ujarnya jahil sambil merangkul pinggangku. Aku tertawa lagi. Oke, dia juga bisa menghiburku dengan kata-kata gombalnya. “Masak apa?”

“Rahasia,” jawabku sok misterius.

“Bagus, aku belum pernah makan itu,” Erik menjawab dengan mimik muka serius. “Leo mana?”

“Tidur,” jawabku singkat. Aku sudah kembali sibuk dengan pisau dan bawang.

“Leo tidur siang?” Erik berkata, agak kaget. Dia juga tahu bahwa anak kami itu susah tidur, kecuali kalau sebelumnya sudah diajak jalan-jalan keliling kompleks naik mobil atau motor.

“Tadi dia nangis habis kumarahi, terus ketiduran,” ujarku. Ekspresi Erik seakan meminta keterangan lebih lanjut, jadi aku meneruskan, “Nggak tahu deh. Tadi desainku belum selesai, padahal besok pagi sudah harus kukirimkan sketsanya pada klien. Tugas rumah juga menumpuk. Leo seharian rewel lagi.”

“Kamu cuma kecapekan,” Erik berkata pengertian sambil memijat bahuku pelan. “Jadi Leo dibiarin tidur aja, nih?”

“Bangunin aja. Udah dari tadi kok tidurnya. Terus dimandikan, ya,” kataku. Sekilas, aku memandang Erik yang masih mengenakan baju kantor lengkap dengan dasinya. “Abis itu kamu juga mandi.”

Erik menatapku dengan pandangan aneh sambil mengangkat salah satu alisnya tinggi-tinggi. “Curang dong. Leo aja dimandikan, masa aku enggak?”

Aku memutar bola mata, gemas. “Mau kumandikan?” tanyaku. Erik menyunggingkan senyum jahil lagi, kemudian aku mengetuk wajan dengan ujung pisau. “Tapi pakai minyak panas. Mau?”

Erik spontan mundur beberapa langkah, diiringi gelak tawa yang selalu kusuka. “Dih, Tante, galak amat!” katanya. Masih tertawa, Erik meninggalkan dapur dan berteriak, “Leo! Mandi, yuk!”

*

“Mama...”

Saat itu aku sedang mencuci piring bekas makan malam. Leo berdiri di sampingku sambil berjinjit. Padahal biasanya jam segini anak itu lebih memilih berada di ruang keluarga, nonton national geographic sambil bertanya macam-macam pada papanya.

“Ya, Sayang?”

“Mama capek nggak? Leo bantuin, sini,” ujarnya.

Aku menatap anak itu. Mata hitam bulat yang dinaungi alis tebal itu memandangku dengan tulus. Secara fisik, anak ini sangat mirip ayahnya. Mata yang sama, alis yang sama, bentuk bibir, dan senyum yang sama. Dia seperti kloning Erik. Hanya saja hidung Leo itu lebih mirip denganku.

“Sebentar lagi selesai, kok. Kamu nonton TV sama Papa aja.”

“Nggak, ah. Leo mau nemenin Mama,” dia bersandar di kitchen set. Mendengar dia berkata seperti itu, mendadak hatiku dijalari perasaan hangat.

“Ma,” Leo berkata lagi, sambil mendongak menatapku. “Maaf, ya. Tadi Leo nakal sampai bikin Mama marah-marah. Maaf ya, Ma?”

Aku mematung. Setengah mati menahan tangis terharu. Aku merasa senang sekaligus bersalah. Kenapa aku tadi memarahi anak manis ini, sih?

“Mama masih marah, ya?” Leo terlihat sangat kecewa. “Maaf ya, Ma...”

“Nggak, kok,” jawabku, tersenyum. Aku mengeringkan tanganku yang basah dengan serbet dan berjongkok di depan Leo, kemudian menunjuk bibirku. “Cium Mama dulu dong.”

Leo merangkulkan lengannya di leherku dengan bersemangat dan menciumku sekilas. Aku menggelitik perutnya, membuat anak itu tergelak lantas kabur ke ruang keluarga. Ketika aku menyusulnya, Leo dan Erik sudah tiduran di karpet sambil menonton seekor singa yang mengejar rusa thompson.

“Mama, sini!” kata Leo sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya, menyuruhku duduk di sana. Aku menurut. “Ma, Leo pingin dipangku Mama. Boleh nggak?”

“Boleh,” kataku geli sambil merentangkan tangan. Leo langsung melompat senang ke pangkuanku.

“Papa juga mau, dong,” Erik menyandarkan kepalanya di bahuku, yang langsung disambut Leo dengan tangan mungilnya yang mendorong Erik menjauh.

“Nggak boleeeeh!” ujar Leo galak sambil merapatkan pelukannya. Dia bergelung nyaman diantara kedua lenganku. “Mama wangi, ya. Baunya kayak roti.”

Aku mengernyit dan menatap Erik. Kata-kata Leo barusan persis seperti yang sering diucapkan Erik ketika kami pacaran dulu. Erik menggeleng sambil menengadahkan telapak tangannya ke arahku, membela diri.

“Bukan aku yang ngajarin, lho,” katanya, tidak kalah heran juga. “Mungkin itu murni karena DNA.”

Kalau dipikir-pikir, Leo bukan hanya mirip secara fisik dengan Erik. Sifat mereka pun sama. Cara mereka merajuk, cara mereka meminta maaf, bahkan cara mereka menunjukkan rasa sayang mereka. Sekarang aku ingat mengapa aku dengan senang hati menjalani profesi ini. Mengapa aku tidak keberatan bangun pukul lima pagi setiap hari dan memasak sarapan untuk mereka. Semua ini tidak gratis. Cinta mereka, senyum dan tawa mereka, merupakan bayaran yang tidak terhingga.

“Leo tidur,” bisikku pelan pada Erik ketika aku menyadari Leo yang sangat tenang dalam pelukanku.

Erik menunduk dan mencium pipi Leo. “Ck, aku dikalahin anak umur lima tahun,” protesnya. “Ini sih namanya cinta segitiga.”

Aku tersenyum geli. Benar juga. Katanya wanita tidak seperti pria, mereka tidak bisa mencintai lebih dari satu pria dalam suatu waktu. Tapi saat ini, aku mencintai dua orang laki-laki. Erik dan Leo. Ah, maaf Erik, aku menduakanmu.

Sleep tight, son. We love you,” kataku sambil mencium puncak kepala Leo.

“Ngomong-ngomong,” kata Erik sambil menggaruk pelipis. Matanya masih menatap televisi yang kali ini menggambarkan suasana hutan hujan tropis Amazon. “Kalau aku mencintai Leo, berarti...”

“Apa?” aku mengerutkan kening penasaran.

Kali ini Erik menatapku lurus-lurus. Keningnya ikut mengerut, menampakkan ekspresi sangat serius. “Berarti... Aku pedofil dong?” katanya, berpikir keras. Erik kembali memperhatikan hutan hujan. Tapi sejurus kemudian kepalanya menoleh padaku lagi dengan cepat, menyadari sesuatu, “Udah gitu, homo pula!”

Yah, aku tidak bisa menjawab pertanyaan Erik karena aku sedang setengah mati berusaha menahan tawa.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

nice story, happy ending...
btw apa jawabannya mengapa kamu bikin crita beginian, hehehe...

hehe. belum tahu juga :p makasih sudah baca!

90

Aaah, aku suka banget! Suasana keluarga mudanya berasa banget. Meski si Ayah ini aneh juga, xixixi, masa cinta sama anak cowok sendiri sama dengan pedofil bin homo, ahaha :)). Ah, saya pengen bisa bikin yang kayak gini. >.<. Share more :)

hehe makasih banyak sudah baca :))

70

wuih!
saia suka nih cerita beginian.
trus ada balesan koment penulisna pulak soal referensi dr Chicken Soup. meski gak bnyak bukunya yg saia baca, tetep ini khas tulisan dlm negeri bukan impor. ehehehe.
btw, S.Ars itu gelar apa yak?
salam
dan kip nulis
ahak hak hak

ciee kak ichi main ke tulisanku :3
hihik iya. maksudku pakai POV 1 terus nyeritain tentang kehidupan mereka gitu, kakak ._.
sarjana arsitektur. bener nggak sih? cuma dapet di wikipedia sih kemarin ~_~
makasih, kakaaak~ :D

hwoo...
ahak hak hak
gpp. cuma mampir aja ke tulisan2 yg bukan fantasi, teenlit bgtu siy niat saia. ahak hak hak.
hwoo... jd, Sarjana Arsitek rupana. saia baru tau :D

80

slice of life gini emang udah spesialisasimu, ya. damai banget

spesialisasi? ._. mungkin karena akhir-akhir ini aku bacanya novel-novel romance, udah jarang baca fantasi :'| damai itu dalam arti bagus atau kurang bagus, kak? ._.
hehe makasih sudah mampir ya :)

*sigh*
Kehidupan sempurna ya? Dambaan setiap orang....

terlalu sempurna nggak, sih? ~_~ sebetulnya cuma pengen menampilkan profesi sebagai ibu pakai gaya bahasa kayak di buku Chicken Soup gitu :|
makasih banyak sudah baca, kak :D

100

nice story

thankyou ^^

100

Ahaha andai saya bisa seperti ini..

seperti ini bagaimana? :O terimakasih sudah mampir, kakak ^^