Giok Empat Musim - 2 - Tujuan Baru

Makhluk itu bergerak cepat mendekatiku. Meskipun tubuhnya kecil, tapi tatapannya yang menusuk tak ayal membuatku ngeri sendiri. Pun aura yang meliputinya begitu pekat sampai membuatku bergidik.

Terdengar suara gedoran kecil di pintu, mengalihkan perhatianku dan makhluk itu. “Apakah Nona sudah tidur? Xiao Hong ingin membantu membereskan barang.”

Aku panik sekarang. Kalau kuizinkan Xiao Hong masuk, apa yang akan dilakukan makhluk ini padanya?

“A—aku sedang membereskan barang. Sebentar lagi selesai, kau tak perlu membantu,” seruku pada akhirnya.

“Tapi, kamar Nona terlihat begitu gelap. Biar Xiao Hong masuk bawakan lilin, ya?”

“Eh, tunggu—”

Belum sempat aku mengatakan apa pun, pintu telah terbuka. Sinar dari luar membuatku segera membelalak begitu mengetahui apa yang sedang kuhadapi. Makhluk yang tadi menghadangku rupanya adalah seekor kucing berbulu putih. Kalau boleh kukatakan, kucing itu cantik sekali. Meskipun sinar matanya tampak mengancam, tapi pencinta binatang mana pun akan langsung jatuh cinta padanya.

“Nona sedang apa di sana? Katanya membereskan barang, tapi kulihat Nona masih belum berkemas—”

Xiao Hong membelalak sambil menghampiriku. Matanya tepat tertuju pada kucing putih itu. Wajahnya seketika tampak cerah melihat kucing itu. Kalau saja tadi ia tahu bagaimana kucing itu muncul, ia takkan sesenang itu.

Saat Xiao Hong mendekati kucing itu dan hendak meraihnya, kucing itu menegakkan ekor dan seluruh bulunya. Sikapnya yang mengancam membuat Xiao Hong mundur, lalu segera menengadah kepadaku. “Dia tersesat, Nona?”

Pertanyaan itu melegakanku. Aku langsung mengangguk. “Tak perlu kauurusi. Kautaruh saja lilinnya di meja. Soal berkemas, barang-barangku tak banyak. Aku bisa melakukannya dalam sekejap.”

“Perlu kubawakan makanan dan air untuknya?”

“I—iya. Daging atau apa pun.”

Setelah mendengarku mengatakan itu, Xiao Hong meletakkan lilin di meja dan mengambil lilin yang tadi dijatuhkan kucing putih itu. Ia kemudian keluar dari kamarku. Aku seketika lega karena kucing itu tak berbuat yang aneh-aneh pada Xiao Hong.

“Keputusan bagus. Akan sangat merepotkan bila dia tetap di sini.”

Aku membeliak seketika. Suara ringan seperti anak-anak itu datang entah dari mana. Aku memandang sekeliling takut-takut. Apakah pendengaranku mulai kacau? Apakah yang bicara baru saja itu adalah hantu?

“Nona Kecil, aku bisa merasakan bahwa kau bukan pendampingku. Dapat dari mana giok ini?”

Kata “giok” sudah lebih dari cukup untuk membuatku berpaling ke arah tempat tidur—tempat tadi Giok Musim Gugur yang kulemparkan berada. Tapi, giok itu sekarang telah berada di antara gigitan kucing putih itu. Kucing itu pun melompat ke meja, lalu meletakkan dengan hati-hati giok itu di sana.

“Nona Kecil, apakah pertanyaan itu terlampau sulit untuk dijawab?”

Aku hanya bisa terperangah. Melihat mulut kucing itu yang bergerak-gerak, aku mengerti dari mana asal suara ringan itu. “Ka—kau! Kau bisa bicara.”

“Lancang! Tentu saja aku bisa bicara. Kau pikir kau sedang berhadapan dengan siapa?”

“Ta—tapi, kucing tak seharusnya bisa bicara.”

Kucing itu kembali menegakkan ekor. Mata marahnya membuatku bergidik. “Kucing?! Lancang sekali kau menyebutku kucing! Aku adalah Yang Mulia Bai Hu, sang Penjaga Barat Yang Agung! Siapa dirimu berani menyebutku kucing?!”

Entah bagaimana, kemarahan kucing yang menyebut dirinya Bai Hu itu terkesan lucu, sehingga seketika menyurutkan ketakutanku. Aku pun hati-hati mendekat dan duduk di bangku tepat di hadapannya. Mengamatinya dari dekat, kucing itu betul-betul cantik. Kalau saja tidak mengingat bagaimana dia muncul, aku sudah akan memeluknya sekarang. “Tapi, saat ini kau benar-benar sedang berbentuk kucing, seperti apa pun kau menurutmu.”

“Ini hanya wujud sementaraku. Jikalau kau tahu seperti apa bentuk asliku, kau pasti akan segera mendekam ketakutan. Apa kau tak pernah mendengar nama besar Bai Hu ini, Nona Kecil?”

Aku teringat kembali pada bayangan harimau putih yang muncul sesaat sebelum cahaya giok itu menghilang. Apakah wujud asli yang dimaksud kucing putih ini adalah bayangan tadi? Refleks, aku memundurkan bangku menjauh darinya. Meskipun bentuknya kucing, tapi siapa yang tahu kalau dia punya kekuatan tersembunyi yang bisa mencelakakanku?

“B—Bai Hu? Maaf, tapi aku tidak pernah dengar.”

Untuk sesaat, kupikir kucing yang mengaku bernama Bai Hu itu akan marah dan menerjangku. Tapi, ternyata ia hanya menghela napas sambil menggeleng-geleng pelan. “Dasar manusia.”

Ketukan kembali terdengar, dan Xiao Hong masuk sambil membawa baki berisi daging dan air. Setelah meletakkan di meja, ia pun keluar.

Ragu-ragu, kusodorkan baki itu padanya. “Ayo makanlah. Makhluk seperti apa pun dirimu, pasti membutuhkan makanan, bukan?”

Bai Hu awalnya menolak, tapi bau daging menyusup masuk ke hidungnya, membuatnya tak bisa berpaling dari hidangan di hadapannya. Akhirnya, disantapnya daging itu hingga tak bersisa. Lalu, dihabiskan pula air di samping mangkuk daging yang telah kosong.

“Aku menghargaimu, Nona Kecil, karena sudah menjamu Bai Hu ini. Nah, sekarang jawablah pertanyaanku. Dari mana kaudapatkan giok ini?”

“Giok itu adalah warisan Ibuku.”

“Siapa nama ibumu?”

“Lin Hua.”

“Marganya Lin? Kau juga tadi bilang bahwa giok ini adalah warisan? Bagaimana giok ini bisa jatuh ke tangan Keluarga Lin?”

Aku menggeleng cepat. “Ibu hanya berpesan padaku untuk menjaga giok itu dengan nyawaku. Aku tak mengerti maksudnya.”

Bai Hu tampak berpikir keras, mau tak mau membuatku turut berpikir. Ketika kemudian ia menyelesaikan apa pun yang tengah bergelut di benaknya, ia menegakkan tubuhnya, membuatku kaget hingga nyaris terjungkal kalau tak segera berpegangan pada meja.

“Tak peduli bagaimana giok ini bisa berakhir di Keluarga Lin, sekarang ini ada masalah yang lebih genting,” katanya kemudian. “Nona Kecil, karena kau yang memiliki giok ini, kau harus bertanggung jawab. Bantu aku menemukan seseorang.”

Alisku menyatu. Membantunya menemukan seseorang? Aku saja sedang bersiap pergi menemui seseorang, bagaimana dia berpikir aku harus memikirkan hal yang lain? Dan kenapa pula aku harus bertanggung jawab? Bukan salahku jika Giok Musim Gugur berakhir di tanganku saat ini.

“Si—siapa yang ingin kautemukan? Kurasa tanpa bantuanku sekalipun, Tuan Bai Hu yang Agung akan bisa menemukan sendiri orang itu.”

“Nona Kecil, jangan mencoba membuatku terkesan dengan jilatanmu.” Meskipun mengatakan itu, hidungnya terangkat juga, membuatku berpikir bahwa dia sebenarnya senang saat mendengarku menyebutnya “Bai Hu yang Agung”. Sembari memutari meja, Bai Hu melanjutkan, “Benar. Dengan nama besarku ini, dalam sekejap aku bisa menemukan orang itu. Tapi, karena kekuatanku yang sesungguhnya masih tersegel dalam tubuh kecil ini, aku kehilangan kemampuan mendeteksi keberadaan pendampingku itu kalau terlalu jauh darinya.”

“Bagaimana aku bisa tahu orang itu berada di mana?”

Bai Hu tergelak. “Tentu saja kau takkan tahu, Nona Kecil. Tapi, Bai Hu ini tahu.” Setelah diam sejenak, ia kembali memutari meja. “Kita ada di mana sekarang?”

“Jiangling.”

“Jiangling itu daerah selatan, bukan?”

Aku mengangguk pelan.

“Jadi, karena itu aku merasakan hawa panas?” Bai Hu tersenyum puas. “Nona Kecil, kita beruntung. Kauhantarlah aku dahulu ke Pegunungan Heng. Sudah waktunya membangunkannya.”

Aku langsung berdiri sambil membelalak padanya, membuat bangku yang kududuki terjungkal. “Pegunungan? Tapi, aku hendak ke utara, besok.”

“Ke utara? Waktunya tepat sekali. Nanyue1 di selatan, Beiyue2 di utara. Langit betul-betul membantuku.”

Aku tak terlalu mengerti apa maksudnya, tapi aku diam. Terlalu ragu dan agak takut menanyakannya. Kurasa, jawaban yang akan kuterima sama sekali tidak akan mengenakkan.

“Ah, aku sampai lupa. Nona Kecil, siapa namamu?”

“Han—ah, tidak, maksudku Lin. Lin Xia Fang.”

“Nona Lin—ah, aku tak perlu memanggilmu sebegitu resmi, kan?” Setelah aku mengangguk, ia melanjutkan. “Xia Fang, Bai Hu ini sebenarnya tak perlu menanyakan kesediaanmu, tapi itu akan menyalahi etika jika memintamu melakukan sesuatu yang tak kaukehendaki. Apa kau mau mampir ke selatan sebelum pergi ke tujuanmu di utara?”

Aku sangat ingin mengatakan tidak dan bersegera mungkin ke utara untuk menyelesaikan urusanku. Tapi, entah karena kekuatannya, entah karena aku merasa terikat dengan giok warisan Ibu, aku mengangguk. Dan ketika kulihat senyum kemenangan di wajah Bai Hu, aku mulai merasa sudah membuat keputusan yang berbahaya.

***

Pagi hari sebelum berangkat, reaksi Kak Yuan Li sama persis seperti Xiao Hong saat melihat Bai Hu. “Fang’er, kucing secantik ini kautemukan di mana?”

Aku tidak menanggapinya. Aku juga tidak melirik Bai Hu yang pastilah dengan susah payah menahan amarah karena sekali lagi disebut kucing. Yang kulakukan hanyalah pamit kepada Paman dan Kak Mei Ling. Dari sudut mataku, kulihat Xiao Hong melambaikan tangan dengan wajah memelas. Ia memang sangat bersemangat sewaktu Paman menawariku membawanya, walaupun segera kutolak. Aku tak merasa bersalah karena memang perjalanan yang kutempuh bukannya tanpa bahaya. Aku hanya tidak ingin hal buruk menimpa Xiao Hong.

Setelah kami berangkat ke arah selatan, aku menceritakan segalanya kepada Kak Yuan Li. Ia hanya mengangguk-angguk sambil sesekali melirik Bai Hu yang berjalan di depan kami. Aku betul-betul tak tahu apa yang dipikirkannya.

Matahari telah tinggi ketika kami sampai di batas kota Jiangling. Sebelum keluar kota, Kak Yuan Li mengajakku istirahat dan makan di sebuah kedai. Ia sengaja mengambil tempat di lantai dua karena ada satu meja dekat beranda yang kosong dan lumayan terpencil dari meja-meja lain—mungkin agar pembicaraan kami tak terdengar pengunjung lain, mengingat ada kucing yang bisa bicara di antara kami. Aku pun tidak membantah. Kak Yuan Li juga memang selalu suka mengamati jalanan, entah apa penyebabnya.

Ia segera memanggil pelayan dan memesan empat jenis makanan yang membuatku mengangkat alis. “Kak Yuan Li, apa Kakak tidak terlampau banyak memesan makanan? Kurasa dua jenis juga sudah cukup.”

Ia lalu menggeleng. “Mungkin kita takkan istirahat dulu sampai keluar Hubei. Apa kau ingin kehilangan tenaga di tengah perjalanan?”

Pertanyaan itu membungkamku. Aku memang tahu bahwa Kak Yuan Li pernah ke Pegunungan Song di Henan tanpa kuda. Keadaan yang sama dengan kami sekarang, hanya saja ke selatan, membuatku yakin bahwa kakakku itu tahu apa yang dilakukannya. Tapi, tetap saja aku ragu bisa menghabiskan makanan sebanyak itu. Dan ketika pelayan menghidangkan makanan di hadapan kami, keraguanku berubah menjadi kepastian. Aku memang takkan bisa menghabiskan semua ini. Tapi, tetap saja kuambil sumpit dan mulai makan sebanyak yang kubisa.

“Tadi, kau bilang Pegunungan Heng, Fang’er? Di bagian mana kita akan mencari di pegunungan yang luas itu?” tanyanya setelah menghabiskan beberapa suap. Seolah mengingat sesuatu yang tak mengenakkan, wajah Kak Yuan Li memucat. “Lagi pula, bukankah itu berarti kita harus menyeberangi Changjiang3 dulu?”

Mengetahui alasan wajah pucat Kak Yuan Li, Aku hanya menghela panjang. Kakakku itu memang selalu mencemaskan perairan yang luas. Sepertinya karena trauma masa kecil yang tak ingin diceritakannya padaku.

Aku kemudian menoleh pada Bai Hu yang tengah sibuk menyantap daging di atas meja. “Kaudengar pertanyaan Kakak.”

Bai Hu menghentikan kegiatannya, lalu menengadah padaku. “Puncak Zhurong, itu tujuan kita. Dan ya, tentu saja harus menyeberangi Changjiang dahulu.”

“Puncak Zhurong?” Kak Yuan Li berhenti sejenak, tampak tengah berpikir keras. Ia kemudian menoleh kembali kepada Bai Hu. “Apa yang hendak kaubangunkan di sana?”

“Teman lama,” katanya singkat. “Makhluk yang sama sepertiku. Kita hanya harus menemukan Giok Musim Panas dan orang yang tepat untuk membangunkannya.”

“Aku tidak mengerti. Apa maksudmu dengan orang yang tepat?” tanyaku bingung.

“Xia Fang, kau ingat dengan kata-kataku mengenai manusia pendamping? Makhluk seperti kami, selain unsur yang menciptakan unsur kami, hanya manusia pendamping yang bisa membangkitkan kami.”

“Aku bukan pendampingmu, jadi apa semalam kau bangkit karena unsur yang menciptakan unsurmu?”

Bai Hu mengangguk.

“Berdasarkan teori lima elemen Wu Xing, musim gugur memiliki unsur logam. Logam dihasilkan dari tanah.” Seolah memahami sesuatu, Kak Yuan Li meletakkan sumpitnya dan perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Bai Hu. “Tanah adalah unsur pergantian musim. Pusat dari lima elemen. Jadi, apakah yang membangkitkanmu….”

Sekali lagi Bai Hu mengangguk. “Huang Long, sang Penjaga Tengah, juga pemimpin kami berempat. Ketika dia bangkit, kami satu per satu akan menampakkan diri di dunia manusia ini. Beberapa waktu setelah kebangkitannya, periode musim akan sedikit kacau, yin dan yang saling bersaing menguatkan diri, dan makhluk-makhluk seperti kami—arwah, siluman, hantu, spirit—akan mendapatkan kekuatan baru.”

“Bukankah simbol Penjaga Tengah adalah Tao yang melambangkan keseimbangan yin dan yang? Kalau kebangkitannya hanya menimbulkan kekacauan dalam keseimbangan itu, untuk apa dia bangkit?”

“Pertanyaan yang bagus. Bocah, tampaknya kau sangat memahami prinsip lima elemen.” Bai Hu tersenyum, lantas menghela panjang. “Sebenarnya, aku pun tak tahu apa penyebabnya. Karena itulah, satu-satunya cara hanyalah bertanya langsung. Tapi sayang, tanpa ketiga kawanku, aku sendirian takkan mampu mendeteksi keberadaan Huang Long. Dan posisi kawanku yang paling dekat dari Jiangling adalah Changjiang.” Bai Hu berhenti sejenak sembari menatap kami berdua bergantian. “Sekarang, kutanya sekali lagi. Apa kalian masih ingin melanjutkan pencarian ini?”

Aku dan Kak Yuan Li bertukar pandang, lalu saling tersenyum. Sesaat berikutnya, kami mengangguk pada Bai Hu.

“Kurasa, urusanku di Bianjing bisa menunggu. Toh, sekalian nanti kita akan ke utara juga, kan?”

Dengan anggukan kecil Bai Hu, pembicaraan kami berakhir siang itu. Setelah menghabiskan santap siang, kami segera bergegas keluar. Sementara aku dan Kak Yuan Li mengambil rute jalan, Bai Hu memilih rute atap—seperti selayaknya para kucing. Di jalanan yang ramai, entah kenapa aku merasa diikuti. Langkahnya sangat ringan, ilmu meringankan tubuhnya pasti lumayan. Kupercepat langkah, ia ikut mempercepat. Kuperlambat langkah, ia ikut memperlambat. Aku kemudian menarik Kak Yuan Li untuk berhenti dan menggamit lengannya menuju pinggir jalan sambil melihat-lihat apa yang dijajakan para penjual di sana.

Tanganku terus merambahi hiasan rambut yang dijual di tempat itu, sementara mataku masih diam-diam terpaku pada bayangan si Penguntit. Kuambil sebuah hiasan berbentuk burung vermilion dan pura-pura mengamatinya, sementara orang itu—siapa pun dia—tak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang. Mungkin dia hanya ingin mengawasi.

“Fang’er, kau menyukai hiasan itu?”

Pertanyaan itu menyentakku, membuatku langsung berpaling pada Kak Yuan Li. Sewaktu aku melirik ke arah orang itu, dia tetap di sana. Menghela napas sebentar, aku kemudian menaruh hiasan itu kembali di tempatnya semula.

“Kenapa kautaruh lagi? Kalau suka, ambil saja.” Kak Yuan Li kemudian berpaling pada si Penjual. “Paman, hiasan tadi berapa harganya?”

“Kakak, tidak perlu.”

Tanpa mengindahkan laranganku, Kak Yuan Li mengambil hiasan itu dan seketika membayarnya. Aku hanya bisa mendengus saat ia menyerahkannya kepadaku. “Harusnya tidak perlu.”

“Kau jarang sekali menunjukkan ketertarikan pada benda-benda seperti itu. Bagaimana mungkin aku diam saja saat kau ingin memilikinya? Lagi pula, warnanya merah. Cocok dengan garis-garis merah di pakaian putihmu itu, kan?”

Aku hanya menatap pasrah hiasan di tanganku itu. Seandainya Kak Yuan Li tahu kenapa aku memegangnya begitu lama, ia takkan buru-buru membelikannya.

“Tapi, benar-benar kebetulan. Kau mengambil hiasan rambut berbentuk burung vermilion. Giok Musim Gugur saja berbentuk kepala harimau, mungkinkah Giok Musim Panas berbentuk seperti itu?”

Aku pun mengamati hiasan rambut itu. Meskipun berwarna merah, tapi ini bukan giok. Tentu saja, bukankah Giok Musim Panas ada di Puncak Zhurong?

Berhati-hati, aku kembali melirik ke arah bayangan yang mengikuti kami. Aku kemudian menengadah pada Bai Hu di atap bangunan terdekat. Dari sorot matanya, aku tahu ia juga menyadari bahwa ada yang menguntit kami. Seketika ia menggeleng, dan aku paham kode itu: tunggu sampai keluar dari gerbang kota. Aku langsung mengangguk.

——————————————————

1. Nanyue: nama lain untuk Pegunungan Heng di selatan

2. Beiyue: nama lain untuk Pegunungan Heng di utara (Hengshan selatan dan Hengshan utara ditulis dengan huruf berbeda, tapi dengan bunyi yang sama)

3. Changjiang: nama mandarin untuk Sungai Yangtze

Read previous post:  
26
points
(1564 words) posted by aocchi 6 years 40 weeks ago
65
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | fantasi | Giok Empat Musim | wuxia
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

bagusss. lanjutannya mana?

100

seru :)

Writer hewan
hewan at Giok Empat Musim - 2 - Tujuan Baru (6 years 39 weeks ago)
80

Jika Bai Hu berwujud kucing, bagaimana dengan ketiga kawannya dan bos mereka? Saya bisa sedikit membayangkan... :D
--
Tapi saya salut. Trivia seperti yang termuat dalam kisah ini memang sentuhan yang tepat untuk Wuxia.

90

Aaaaaa!! Kucing yang bisa bicaraaaa!!<3<3<3 Entah knapa ini bikin saya inget nyanko sensei si kucing di anime natsume yuujinchou. Sama2 makhluk kuat yang tersegel dalam wujud seekor kucing imut dan menjalankan sebuah misi bersama seorang manusia.

Tapi ini hanya perasaan saya aja atau memang kak ao sengaja nggak membuatnya kaya emosi seperti yang part 1 kah? Imo, terkesan terburu2 jadi agak hambar.

Overall saya sukaaaaaa banget, dan konsepnya: d(o___<)b
secara pribadi, saya juga <3<3<3 karena wujudnya kucing <=pecinta kucing sejati

Writer hirumi
hirumi at Giok Empat Musim - 2 - Tujuan Baru (6 years 40 weeks ago)

Waah mbaknya pemain pro ya? Minta review tulisan gua donk...