Salvator Sorcerer : #3. Masa Lalu part. 1

Limousin hitam yang dinaiki oleh Brandon dan Nellie sudah memasuki perumahan Spring Valley. Sejak tadi mereka berdua saling diam. Baik Brandon mau pun Nellie sama-sama tidak tau apa yang terjadi. Siapa mereka dan apa mau mereka. Kenapa mereka menyerang Brandon. Tetapi Nellie tidak tahan diam berlama-lama, ia pun akhirnya memulai pembicaraan.

“Apa ini pertama kalinya kau diserang?” Nellie bertanya pelan.

“Iya,” Brandon menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.

“Apa yang kira-kira mereka inginkan darimu?”

“Entahlah, mungkin kekuatanku.”

“Selain Sessy, adakah orang lain yang mengetahui kemampuanmu?”

“Ada,” Brandon mengalihkan pandangannya dari jendela, ia menatap Nellie lekat,  “asistenku dan seorang temanku yang keberadaannya tidak kuketahui saat ini.”

“Apa maksudmu kau tidak mengetahui keberadaannya, ia bisa saja membocorkan tentang dirimu!”

“Tidak, itu lebih tidak mungkin,” Brandon menggeleng, wajahnya terlihat ragu.

“Kenapa?”

“Dia sudah tewas.”

“Tewas?” Nellie terkejut. Ia menundukkan kepalanya dan berucap pelan, “Maaf, aku tidak tahu.”

“Tidak apa-apa,” kata Brandon, “sama sepertimu dan Sessy, ia adalah orang yang bisa kupercaya.”

“Lalu asistenmu?”

“Kalau dia...,” Brandon terlihat berpikir, “aku tidak pernah mencurigainya karena ia yang menemaniku berlatih menggunakan sihir selama ini, dia juga orang yang baik.”

“Semua orang bisa berakting menjadi baik, bahkan aktor terburuk pun bisa melakukannya,” Nellie menatap Brandon tajam, “kau harus mengawasinya.”

“Aku tidak enak mencurigainya, ia sudah tinggal bersamaku sejak kecil walau kami tidak ada hubungan darah,” Brandon menghela napas, lelah. Kepalanya pusing memikirkan semua itu.

“Baiklah kita bicarakan lagi besok atau kapan-kapan, kalau kau mau,” tawar Nellie. Brandon mengangguk, ia tersenyum kecil lalu merebahkan kepalanya. Nellie pun kembali memperhatikan jalanan.

“Hei, aku mau tanya,” Nellie mengeluarkan suara lagi, “Darimana kau mempelajari mantra-mantra itu?"

“Dari sebuah benda.”

“Benda? Seperti buku mantra?”

Brandon menggeleng. Wajahnya terlihat malas menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Nellie maklum, mungkin akan lebih baik kalau ia tanyakan besok.

“Itu rumahku!” Nellie menunjuk ke sebuah rumah bertingkat. Rumah itu dipagari dan terdapat taman kecil didepannya. Sebuah pohon mapple berdiri kokoh dipojok kanan rumahnya. Nellie turun dari limousin, sebelum masuk ke rumah, ia sempat melambaikan tangannya ke arah Brandon.

Brandon membalas lambaian tangannya, setelah itu Nellie masuk ke dalam rumah dan limousin Brandon meninggalkan perumahan Spring Valley.

 

*******

 

Brandon sampai di mansionnya. Ia turun dari limousin dan masuk ke dalam. Pintu dibukakan oleh dua pelayannya. Brandon langsung menyerahkan tas dan blazernya kepada pelayan lain yang menghampirinya.         

“Hari ini kau pulang sangat larut,” Brandon disambut oleh asistennya, Steve. Laki-laki itu tersenyum ramah, rambutnya hitam pendek, matanya agak sipit, tubuhnya lebih tinggi sedikit dari Brandon dan kulitnya agak kecoklatan.

“Banyak yang terjadi hari ini,” ucap Brandon, lemah.

“Orang tuamu menitip pesan, mereka dan adik-adikmu pergi mengunjungi nenekmu di Chicago sampai minggu depan,” ucap Steve. Brandon hanya menganggukkan kepalanya. Ia sudah sangat lelah, tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar. “Dengar, aku sangat lelah, pastikan tidak ada seorang pun yang mengganggu istirahatku malam ini,” pinta Brandon kepada Steve.

“Oh iya, bilang kepada ibu, aku tidak usah dibawakan oleh-oleh, soalnya nenek suka memberiku barang-barang aneh.” Brandon tertawa kecil, mengingat ketika 6 tahun lalu ia mengunjungi beliau dan diberi oleh-oleh bola kristal. Dan bukan sembarang bola kristal. Bola itu yang menyebabkan ia memiliki kekuatan sihir.

Dan tentu hal itu ia rahasiakan dari keluarganya. 

“Baiklah, aku akan sampaikan kepada ibumu,” kata Steve, patuh. Brandon mengangguk lalu pergi ke kamarnya.

 

******

 

Kamar Brandon merupakan kamar utama, letaknya di lantai 2 dan kamar itu sangat luas. Brandon tidak langsung merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur. Pertama, ia pastikan kamarnya terkunci rapat. Kemudian, ia pergi ke bagian timur kamarnya. Disana terdapat rak-rak buku dan sebuah meja kerja. Brandon mendekati salah satu rak, ia teliti dengan cermat buku-buku yang ada disana. Sampai di sebuah buku bersampul merah, ia tiba-tiba menarik setengah bagian buku itu, dan rak buku berputar ke dalam. Ternyata rak itu adalah pintu dari sebuah ruang.

Brandon masuk ke dalam sambil menyalakan lampu gudang itu. Sebuah ruang rahasia yang ia gunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang berharganya. Seperti bola yang ia gunakan waktu kecil, sepeda tuanya, dan benda-benda lain. Dan di antara semua itu, ada sebuah benda yang amat keramat bagi Brandon.

Matanya tertuju pada sebuah kotak kayu berukuran sedang yang ada di tumpukan teratas barang-barangnya. Pelan-pelan di ambilnya kotak kayu itu. Sambil melangkah keluar, ia bersihkan debu-debu yang menyelimuti sekujur tubuh kotak itu.

Ketika sampai diluar, ia kembalikan buku merah itu ke posisinya semula, seketika rak buku berputar kedepan dan menutup gudang rahasianya. Brandon duduk di atas meja kerjanya. Perlahan, ia buka kotak kayu itu. Terdapat sebuah bola kristal bening dan beberapa buku di dalamnya. Brandon mengeluarkan bola kristalnya, lalu ditutup kembali kotak kayu itu. 

Brandon menimang-nimang bola kristal yang berukuran telapak tangan laki-laki dewasa itu. “Apa mereka menginginkan bola kristal ini?” ucapnya, pelan.

Bola kristal itu adalah pemberian neneknya ketika ia berkunjung ke rumah beliau 6 tahun lalu. Saat itu, Brandon belum memiliki kekuatan sihir. Grandma Laine –nenek Brandon, menemukan bola kristal itu di ladang jagungnya jauh di Amerika Barat. Ia kira bola kristal itu harta peninggalan zaman dahulu makanya ia bawa pulang. Tetapi seiring berjalannya waktu, ia mulai melupakan bola kristal itu. Dan ketika Brandon berkunjung ke rumahnya di Chicago, ia berikan bola kristal itu sebagai oleh-oleh untuknya.

Bola kristal itu memberikannya kekuatan sihir. Awalnya ia tidak bisa mengontrol kekuatan sihir tersebut, tetapi lama-kelamaan, ia sering mendengar bisikan dari dalam bola kristal itu. Bisikan mantra. Ia hafal mantra itu satu per satu, dan sekarang ia sudah hampir bisa mengontrol kekuatan sihirnya dengan baik.

Tetapi serangan orang-orang berjubah itu, sebenarnya ia sedikit menyesal karena sudah berbohong kepada Nellie. Sebenarnya orang-orang itu pernah menyerang Brandon ketika ia masih SMP. Dan bersamaan dengan itu, nyawa temannya yang tidak bersalah harus terenggut karenanya.

Tidak, mungkin belum tewas. Ia memang tidak tahu keberadaan temannya saat ini, tapi itu bukan berarti ia tewas. Siapa tahu ia masih hidup dan tinggal di suatu tempat yang Brandon tidak ketahui.

 “Karl, apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu?”

Suara Brandon terdengar pilu, ia membayangkan kembali kejadian di hari itu. 6 tahun yang lalu di SMP Spring Valley. Lahir seorang Sorcerer dan munculnya orang-orang berjubah hitam yang mengincarnya.

******          

            6 tahun yang lalu, SMP Spring Valley.

Seorang laki-laki kecil berlari menyusuri koridor kelas-kelas, beberapa kali tubuhnya menghantam orang-orang yang sedang berjalan di koridor itu, “Ma, maaf..,” ucapnya gugup lalu kembali berlari. Jauh di belakang, beberapa anak yang bertubuh lebih besar darinya berlari mengejar.

“Tangkap si pendek itu!” seru anak yang bertubuh paling besar.

“Sial, larinya cepat sekali!” yang bertubuh paling kurus mulai kelelahan.

“Argh! Sudahlah! Pulang sekolah nanti kita cegat dia!” sela laki-laki yang bertubuh paling atletis. Ketiga temannya yang lain menyetujui. Mereka pun berhenti mengejar lalu pergi ke kantin.

Brandon menarik napas, lega. Orang-orang itu sudah berhenti mengejarnya. Sejak masuk SMP, Brandon memang sering dijahili oleh anak-anak nakal. Karena tubuhnya kecil dan pemalu, ia mudah dipermainkan oleh mereka. Tetapi hari ini, Brandon melawan dan melarikan diri. Itu sebabnya ia dikejar oleh anak-anak itu.

Sebuah tepukan hangat mendarat di pundak Brandon, laki-laki itu tersentak kaget dan berbalik. “Kau dijahili oleh mereka lagi?” Sessy bertanya sambil berkacak pinggang, wajahnya terlihat sebal. Brandon mengangguk pelan, gadis itu pun meledak marah.

“Kenapa tidak kau laporkan? Kalau begini terus kau yang akan menderita!”

“A, aku tidak berani...,” Brandon menjawab malu.

“Apa yang kau takutkan dari kebenaran? Kalau kau diam terus, adanya kau mati sebelum lulus!” Sessy mengontrol napasnya, ia lelah juga berbicara dengan nada tinggi terus menerus.

“Sudahlah, lebih baik aku diam saja,” Brandon bulat dengan keputusannya. Sessy hanya geleng-geleng kepala. Memang sulit membujuk Brandon melakukan hal itu. Brandon bukannya tidak berani, ia hanya tidak ingin anak-anak yang mengerjainya itu terkena hukuman berat lalu dikeluarkan dari sekolah. Brandon tahu benar keadaan keluarga Karl –anak yang bertubuh atletis tadi, membeli keperluan sehari-hari saja keluarga mereka sulit. Walau nakal, Karl sering bekerja sambil sepulang sekolah. Karena hal itu, Brandon tidak tega melaporkan mereka.

Brandon dan Sessy masuk ke ruang klub, disana sudah ada perempuan berambut pirang yang menyambut kehadiran mereka dengan senyum manis.

“Hai, Meenie,” sapa Brandon pada gadis itu.

“Hai juga,” balas Meenie, “hari ini aku ingin bergabung dengan klub Jurnalistik, kalian tidak berkeberatan kan?”

“Tentu tidak, kehadiranmu akan membuat tugas kami menjadi lebih ringan,” Sessy setuju. Ia dan Brandon duduk di meja yang sama dengan gadis itu.

“Iya, dan semakin meramaikan klub ini!” Brandon menambahkan, antusias.

“Terima kasih,” Meenie tersenyum senang. Gelak tawa pun membahana di ruang berukuran sedang itu.

Sessy, Meenie, dan Brandon berasal dari SMP yang sama. Walau sebelumnya Sessy berada di SD yang berbeda dengan mereka, tetapi gadis itu mudah beradapatasi dengan lingkungan baru dan seketika mendapat banyak teman. Tetapi yang ia anggap akrab adalah Brandon dan Meenie.

Sessy dan Meenie mengeluarkan kantong bekal mereka. Daripada ke kantin, mereka memang lebih sering makan bersama di ruang klub. Biasanya ruang klub Jurnalistik cukup ramai, tapi hari itu hanya ada mereka bertiga karena anggota yang lain sedang meliput kegiatan sekolah. Brandon dan Sessy tidak ikut serta karena mereka di bagian promosi, sedangkan Meenie baru bergabung hari itu.

“Brandon, kau tidak makan?” tanya Meenie sembari mengeluarkan sandwichnya.

“Oh, iya,” Brandon buru-buru meraih tasnya. Ternyata kantong bekalnya terhimpit di bagian bawah tas, mau tidak mau ia keluarkan satu persatu barangnya agar bisa mengeluarkan kantong bekal itu.

Buku-buku, alat tulis, dan sebuah bola kristal ia letakkan di atas meja. Terakhir ia mengeluarkan kantong bekalnya dan benda-benda yang lain ia masukkan kembali ke dalam tas.

“Eit, tunggu dulu! Bolanya jangan!” Sessy segera menyetop Brandon yang hendak memasukkan bola kristalnya.

“Buat apa?” tanya Brandon, tidak mengerti.

“Bolanya unik,” Sessy meraih bola kristal itu dari tangan Brandon. “Beli dimana?” Ia mengamati kaca bola kristal yang bening. Walau pun tembus pandang, ia merasa seperti ada partikel-partikel yang melayang di dalam bola itu.

“Pemberian nenekku, liburan musim panas kemarin,” jawab Brandon.

“Nenekmu suka mengoleksi bola kristal?” Meenie terkejut.

“Owh, bukan, nenekku menemukan bola kristal itu di ladang jagung kami, karena aku suka ia berikan kepadaku.”

“Apa yang membuatmu tertarik?” tanya Meenie lagi, sepertinya ia tidak terlalu tertarik dengan bola kristal itu.

“Entahlah, ketika aku menyentuhnya...,” Brandon berhenti berbicara. Ia ambil lagi bola kristal itu dari tangan Sessy. “..perhatikan ini.” Ucapnya seraya memegang bola kristal itu dengan kedua tangannya. Sessy dan Meenie pun memperhatikan dengan seksama.

Brandon memejamkan kedua matanya. Ia membayangkan suatu ruang yang gelap di pikirannya, lalu muncul setitik cahaya yang semakin lama membesar dan menerangi kegelapan itu. Perlahan rasa hangat menyelimuti tubuhnya.

Ia tidak menyadari bahwa tubuhnya sudah diselimuti aura putih pucat. Sessy dan Meenie terperangah tidak percaya, Brandon perlahan melepaskan genggaman bola kristal dari kedua tangannya dan bola kristal itu melayang di udara. Permukaan bola kristal mengeluarkan sinar keperakan, bagian dalamnya yang semula bening kini bercahaya.

Brandon membuka kedua matanya, bersamaan dengan itu aura putih yang menyelimuti tubuhnya menghilang dan sinar bola kristal meredup. Brandon pun meraih bola kristalnya kembali.

“Bagaimana?” tanya Brandon, Meenie dan Sessy masih terkaget-kaget.

“Ne, nenekmu tahu soal itu?” suara Sessy bergetar.

“Tidak, aku tidak mau penyakit jantungnya kumat karena melihatku melakukan hal barusan,” jawab Brandon setengah tertawa. “Waktu pertama kali ia memberiku bola kristal, aku merasakan sekelilingku hangat dan tiba-tiba bola kristal itu sudah melayang, hahaha... aku kaget sekali waktu itu.”

“Begitu pun kami,” timpal Meenie, “Lalu apa yang terjadi kalau kau biarkan bola itu melayang terus?”

“Aku belum mencoba sejauh itu,” Brandon mengedikkan bahunya. Ia meletakan bola kristalnya di atas meja.

“Coba aku yang melakukannya,” Sessy meraih bola kristal itu. Ia pun melakukan hal yang sama seperti yang Brandon lakukan. Lama mereka menunggu, tetapi bola kristal itu tidak menunjukkan perubahan apa pun.

“Tidak terjadi apa-apa,” Meenie mengomentari. “Lebih baik kau hentikan.”

Sessy membuka kedua matanya, kecewa. Tetapi dibalik itu, ia merasa menemukan sesuatu yang luar biasa. Brandon bukanlah manusia biasa, itu yang ia pikirkan.

“Kau pernah menyelidiki silsilah keluargamu?” tanya Sessy sambil menyerahkan bola kristal itu ke Brandon. “Siapa tahu kau keturunan pahlawan super.”

“Hahaha...,” Brandon merasa aneh mendengar dugaan yang Sessy lontarkan. “Tidak, aku tahu silsilah keluargaku dan tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki kekuatan super atau kebal terhadap peluru.”

“Lalu kenapa bola itu hanya bereaksi padamu?”

“Itu yang masih menjadi pertanyaanku.”

“Nenekmu pernah mencobanya? Diakan yang menemukan.”

Brandon menggeleng, “Tidak bereaksi juga, itu sebabnya kuminta bola kristal itu.”

“Tidak ada yang namanya kebetulan Brandon,” kata Sessy, serius. “Bola kristal itu sepertinya memang ditakdirkan untukmu.”

“Kau terlalu banyak baca komik,” Brandon mengibaskan tangannya, menolak argumen Sessy.

“Kenapa tidak kau cari tahu?” Meenie menyela. “Keberadaan bola kristal itu maksudku, mungkin ini teknologi baru ciptaan manusia?”

“Aku sudah mencari di internet, tetapi tidak ada satu pun artikel yang membahas kemampuan bola kristal ini,” Brandon tertunduk memandang bola kristal bening itu. “Oh iya, hal ini hanya menjadi rahasia kita bertiga saja, oke?”

“Oke!” Meenie dan Sessy mengacungkan jempol mereka. Brandon tersenyum lega lalu memasukkan bola kristal itu kembali ke dalam tas.       

KRIING! Bel masuk berbunyi, Brandon segera meraih tasnya dan beranjak dari kursi. “Aku harus ke kelas sekarang!” pamit Brandon.

“Hei, Brandon,” panggilan Sessy menghentikan langkah laki-laki itu. Ia menoleh seraya bertanya, “ada apa?”

“Sekedar saran untukmu, lebih baik kau tinggalkan bola kristal itu dirumah, bahaya kalau Karl dan teman-temannya mengerjaimu dan mengambil bola kristal itu!”

“Baiklah!” Brandon mengangguk, lalu keluar dari ruang klub. Mereka pun segera ke kelas masing-masing.

 

 

Tbc... (_ _)

Read previous post:  
50
points
(2480 words) posted by raven_hill 6 years 38 weeks ago
62.5
Tags: Cerita | Cerita Pendek | petualangan | sihir fantasi
Read next post:  
80

aaaa... flashback ya..

yup.. :D

80

O.O
what could I say?

avada kedavra....

70

magic.. >_<

it's magic... *lagu india* :D

50

agak kurang seru critanya ...
mungkin karena menceritakan masa lalu..

tapi tetep semangat yaa..

Hehe iya.. tadinya masa lalu pt 1 ma pt 2 mau digabung.. cuman takutnya kepanjangan.. yg baca jadi bosen.. makanya dipotong dua part.. :D
btw, thankks..