BoR Match D-3 : Sheila vs Greed Haze (Versi Sheila)

Gelap.

Pekat.

Yang tampak oleh Sheila saat ini hanyalah hitam. Sama seperti pemandangan ketika batu grafit sialan itu masih mengurungnya. Hanya saja, bukankah masa-masa kegelapan itu sudah lewat? Bukankah Lunar ada bersamanya sekarang? Ngomong-ngomong, kenapa ia tak merasakan kesadaran Lunar sama sekali?

Sheila panik. Ada yang tidak beres. Segalanya terasa salah.

“Kakak! Kakak!”

Suara itu terdengar jauh. Sayup. Dan familiar.

Sheila berbalik, masih hitam. Tentu saja. Tapi, suara itu semakin kuat di telinganya.

“Ini namanya Terranit. Batu bumi.”

Seorang bocah laki-laki berumur tujuh tahun muncul di hadapannya begitu saja. Sheila tidak sempat terkejut. Waktu untuk itu sudah lenyap bersama pukauannya sendiri akan cahaya yang berpendar di sekeliling bocah itu. Seperti bintang. Tak butuh sumber cahaya untuk bocah itu bisa tampak oleh mata. Untuk apa? Bocah itulah sumber cahayanya.

Karena itulah Sheila mulai bisa melihat tangannya sendiri. Mulai bisa merasakan tangannya sendiri. Tunggu, ada yang salah.

Sheila saling menghantamkan kedua tangannya. Sakiiit.

“Ambillah. Terranit akan menjaga Kakak.”

Sheila bersikeras memaksa otaknya berpikir bahwa ia tidak gila. Lalu, apa yang ada di hadapannya ini? Kilasan masa lalu? Tetapi kenapa bocah itu terasa begitu nyata?

Tanpa sadar, tangannya bergerak mengambil batu itu. Membuat dirinya sendiri terkejut. Tetapi batu itu sudah terlanjur berganti kepemilikan. Sheila tidak bisa membalik kenyataan itu. Bukannya tidak mau, tapi tidak sanggup. Entah bagaimana ia merasa tangannya seperti dilem dengan batu itu.

Keterkejutannya belum hilang ketika bocah itu berbalik. Hanya punggung yang tersisa. Yang kemudian membesar menjadi milik seorang lelaki. Masih belasan tahun, Sheila yakin itu.

Dan sebelum ia sadar siapa orang itu, batu grafit di tangannya menghilang. Tergantikan kekakuan yang selama ini membuatnya terlalu terbiasa. Tubuh Lunar.

“Kebenaran akan mendatangimu tanpa dicari. Cepat atau lambat. Dan nggak perlu mengumpat, Sheila.”

Bicara apa laki-laki itu? Sheila mengernyit. Ia ingin marah. Membentak. Mengumpat. Tapi ia tak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Ia tak bisa mengendalikan mulutnya sendiri. Seolah kata-kata laki-laki itu berubah menjadi perintah yang harus ditaatinya tanpa protes.

“Siapa?”

Menyedihkan. Pada akhirnya hanya itu yang meluncur keluar dari bibir Sheila.

Laki-laki itu tersenyum. Rambut hitamnya yang pendek terayun ringan saat laki-laki itu menoleh sedikit, sedemikian rupa hingga Sheila masih belum bisa melihat wajah yang melatarbelakangi senyum itu.

Yang terjadi berikutnya mengacaukan segalanya.

Sebuah suara keras. Memekakkan, dan diikuti telinganya yang berdengung menyakitkan.

Saat membuka mata, ia mulai menangkap warna. Berkelebatan cepat. Setelah mengerjap-ngerjap, barulah sebuah ruangan tampak di hadapannya. Ruangan yang beberapa lama ini menjadi tempat singgahnya. Café Battle of Realms.

Memaksakan kesadarannya muncul, Sheila memelototi sebuah portal menuju dimensi entah di mana. Dan seorang perempuan bersayap hitam dengan kimononya—tanpa bicara, hanya isyarat—menunjuk dengan jempolnya ke arah portal itu. Orang terakhir baru saja melewatinya, sesosok pria berjubah-tudung.

Sheila orang terakhir. Dan semua salah laki-laki misterius yang tiba-tiba muncul dalam mimpinya. Ah ya, ia akhirnya sadar bahwa tadi itu hanya mimpi. Walau terasa lebih nyata daripada realita.

Mendengus kesal, Sheila merogoh permen karet dari dalam saku dan mengunyahnya. Perasaan buruknya entah bagaimana langsung menghilang. Akhirnya ia melangkahkan kaki menuju portal dengan malas-malasan. Oh, yang benar saja. Tak bisakah siapa pun perempuan bersayap hitam itu memberikan waktu sedikit baginya untuk meneruskan tidur? Semenit juga tak masalah. Tapi, senyum tajam perempuan itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaannya.

Tanpa ba-bi-bu lagi, Sheila memasuki portal.

 

***

 

Sheila hanya terbengong menatap pasir sepanjang mata memandang. Lalu ia mendongak menatap matahari yang menyengat. Membuatnya terpaksa memicingkan mata.

“Brengsek,” gumamnya kesal sambil terus mengunyah permen karet. “Setelah Zeppelin, got bawah tanah, sekarang padang pasir di antah-berantah?” Tangannya mengepal tanpa sadar. “Tempat pertandingan nggak mungkin bakal tambah buruk lagi kan?”

Berhati-hatilah, Sheila.

“Hmm?” Hanya itu tanggapan Sheila. Tanpa menanyakan maksud peringatan Lunar, ia langsung tahu apa. Atau siapa.  

Sheila pun memelototi pria berjubah-tudung tepat di hadapannya. Ia mengenalinya sebagai pria yang memasuki portal tepat sebelum ia sendiri masuk. Pria itu balas menatap menyelidik.

Sheila tidak hafal wajah-wajah peserta turnamen, selain Ligaya tentu saja. Selama di café, bukankah ia hanya menghabiskan waktu untuk tidur? Jadi bisa dikatakan bahwa pria di depannya ini orang asing. Dan aneh. Dengan warna kulit yang sangat pucat. Sheila tak pernah melihat warna kulit seseorang yang sepucat itu. Tapi, ia tak peduli. Toh, seperti pertarungan sebelumnya, ia tinggal menghabisi pria itu dan cepat-cepat menyelesaikan pertandingan.

“Jangan terburu-buru.”

Sheila dan pria itu menoleh serentak ke arah suara di kejauhan. Tempat perempuan bersayap hitam melayang secara aneh. Yah, posisi bersila secara terbalik tidak bisa dikatakan normal, bukan? Bahkan sayapnya tak terlihat sedang dikibaskan.

“Halo, aku wasit pertandingan kalian kali ini. Panggil saja [Spa]. Hmm, langsung saja ya. Apa kalian tahu kalau kita sekarang sedang berada di Gurun Sahara?”

Ya ampun, tempat antah-berantah seperti ini punya nama? Mendengus kesal, Sheila meniup balon permen karetnya.

“Nah, akan kujelaskan aturan pertandingan kali ini. Apa kalian lihat apa yang ada di atas kepala kalian?”

Tanpa disuruh dua kali, Sheila mendongak demi menemukan sebuah bujur sangkar yang panjang berwarna hijau melayang di atas kepalanya. Ia mengernyit seketika. Ini tidak seperti yang ia pikirkan, bukan?

Bar HP.

“Benda hijau itu punya nama?!”

Kau tidak ingat, Sheila? Bukankah bar HP sering muncul di layar PSP hologram milik Master Yudha?

Sheila membenci game. Dan ia tak pernah peduli dengan apa pun istilah-istilah dalam game. Daripada harus menekan tombol-tombol merepotkan, menghajar orang dengan tangan sendiri lebih memuaskan. Dan lebih terasa geregetnya. Tapi, ia tak mungkin mengabaikannya saat ini. Bar HP muncul di atas kepalanya tidak mungkin tanpa alasan bagus.

“Setiap mendapat luka atau serangan, bar HP akan berkurang sedikit demi sedikit.” [Spa] mulai menjelaskan. “Kalian bisa menang saat bar HP lawan kosong atau lawan menyerah. Oh ya, kali ini dilarang saling bunuh.”

Sheila melotot tajam pada [Spa]. Lalu pada pria berjubah-hitam. Lalu ke sekeliling. Tatapannya kemudian kembali pada [Spa]. “Wasit brengsek! Di tempat luas dan nggak ada apa-apa kayak gini enggak boleh saling bunuh?! Ribet banget!”

“Lho? Makin ribet bukannya akan makin menantang. Dan itu menyenangkan, bukan? Oh, dan satu lagi. Tak ada batas waktu. Terserah mau bertarung sampai kapan. Tapi tebakanku, sebelum matahari terbenam, pertarungan ini sudah akan berakhir. Ya sudah, selamat bersenang-senang, ya. Pertarungan antara Greed Haze dan Sheila … dimulai!”

Sesudah mengatakan itu, [Spa] menghilang tiba-tiba.

“Hei, Oom Aneh, berhenti senyam-senyum, napa? Kayak oom-oom mesum aja.”

Greed memang tersenyum. Dan tanpa bisa melihat seperti apa wajah pria itu, membuat Sheila membenci senyum yang baru saja dikatainya mesum itu. Membuatnya teringat sosok laki-laki dalam mimpinya tadi.

Haiyah, itu tidak sopan. Master Yudha pernah mengatakan bahwa dalam sebuah pertarungan sekalipun, lawan tetap harus dihormati.

“Diem aja deh, Lun. Omonganku nggak pernah digubris, malah celotehan si Bocah Sialan itu yang kamu inget-inget.”

Master Yudha kan selalu mengajari saya banyak hal. Seperti kamu, Sheila.

“Jangan samain aku sama Monyet Gebleg itu!”

Tapi—

Sheila mengabaikan Lunar. Membicarakan Yudha entah kenapa selalu berhasil membuatnya ingin menghancurkan sesuatu.

Sheila tak membuang waktu lagi. Ia melompat segesit mungkin ke arah Greed. Memanfaatkan keterkejutan pria itu, Sheila menyarangkan tendangannya tepat mengenai kepala Greed. Atau itulah yang dipikirkannya sebelum sadar bahwa kakinya tengah beradu dengan udara kosong. Bahkan gelombang angin kencang hasil dari tendangan Sheila pun tak mengenai Greed. Saat Sheila sadar apa yang terjadi, Greed sudah berdiri cukup jauh dari Sheila.

Damn! Dia cepet!”

Tentu saja. Menurut data yang berhasil saya kumpulkan, Greed Haze bisa berubah menjadi bayangan. Serangan fisik tak mempan padanya. Apalagi matahari sedang terik.

“Dasar lawan yang ngerepotin!”

Ya, bahkan meski tanpa penjelasan dari Lunar, Sheila mulai bisa melihat fakta itu. Greed yang berdiri membelakangi matahari makin membuat sosoknya diliputi kegelapan. Perlahan tapi pasti, bayangannya membesar. Atau bahkan ia sendirilah bayangan itu. Sheila mulai waswas.

Dalam situasi seperti ini, kau tidak bisa gegabah, Sheila. Bersabarlah sedikit.

“Aku buruk dalam bersabar.”

Tapi, Sheila—

Sekali lagi mengabaikan Lunar, Sheila dengan cepat menyambar sepasang wakizashi dari lututnya. Ia berlari dengan cepat menuju Greed, tapi tak secepat kehendaknya. Dalam hati, Sheila mengumpat. Pasir membuat gerakannya jadi lambat. Hal itu dimanfaatkan oleh Greed.

Belum separuh jarak dicapai Sheila, tubuh Greed menghilang. Sheila seketika menghentikan lajunya. Di mana? Di mana pria itu?

Atas!

Sheila melompat mundur, tapi sekelebat hitam itu sudah mengenai sebelah tangan Sheila yang digunakan sebagai tameng. Kulit artificialnya robek, memperlihatkan logam perak di baliknya. Sheila membeliak seketika. Bagaimanapun, ia tahu pasti bahwa meski itu adalah kulit buatan, tapi material pembuatnya sangat bagus dan tidak mudah robek. Terutama mengingat bahwa tubuh Lunar itu diciptakan untuk tujuan militer. Tetapi satu serang Greed berhasil merusaknya?!

Belum selesai keterkejutan Sheila, Greed menyerang kembali. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sheila sudah kehilangan hitungan. Serangan bertubi-tubi yang tak mampu dihindarinya secepat apa pun ia bergerak itu membuatnya berantakan.

Sheila!

“Jangan menyela. Enggak liat kalo aku lagi mati-matian bertahan?!”

Bar HP-mu!

Sheila mengumpat. Tanpa melihatnya pun Sheila sudah tahu bahwa bar HP-nya sudah berkurang. Ia hanya belum tahu seberapa banyak. Dan kekesalannya bertambah saat bar HP Greed masih utuh.

Serangan pendek dan cepat dari arah depan membuat Sheila berguling. Tanpa sadar bahwa ia berada di sisi gurun yang menurun. Ia pun jatuh menggelinding. Pasir di jalur menggelindingnya pun berjatuhan menimpanya.

Kita terkubur.

“CEREWET!”

Dalam sekali gerakan, Sheila bangkit dengan cepat hingga membuat pasir-pasir bertebaran. Ia mendongak, demi menemukan siluet Greed tengah berdiri di permukaan pasir yang lebih tinggi. Senyum pria itu semakin lebar. Dan mengerikan, sekaligus meremehkan. Tanpa sadar kedua tangan Sheila mengepal. Sepasang wakizashi yang bahkan belum sempat digunakan sudah menghilang entah ke mana. Mungkin terjatuh dan terbenam saat ia tadi berguling-guling di pasir.

Tiba-tiba, Greed terbang menuju Sheila. Dalam bentuk bayangan. Dan muncul pula dengan tiba-tiba di depan Sheila. Jarak mereka hanya sehembusan napas. Tapi bukan itu yang membuat Sheila kaget setengah mati.

Sekarang, berada di hadapannya, dirinya yang seorang lagi. Wajah, tubuh, dan ekspresi yang benar-benar sama sepertinya. Refleksnya yang bagus menyelamatkannya dari serangan dadakan itu. Ia melompat mundur dan seketika mengeluarkan sebuah pedang raksasa dari lututnya. Demi menangkis katana yang disarangkan copy-an dirinya tepat ke leher.

TRANG!

Benturan dua baja kualitas bagus itu menciptakan gelombang angin kencang yang menghempaskan keduanya ke arah yang berlawanan. Memaksa mereka terpisah. Memaksa mereka terlempar. Keduanya berhasil berguling, lalu bangkit dengan mulus.

“PENGECUT! Beraninya ngopi kekuatan sama fisikku! Bertarung dengan jantan, Sialan!”

Sheila yang seorang lagi—atau Greed—tidak menanggapi. Ia hanya tertawa.

“Brengsek! Dia ngeremehin aku!”

Sheila, bar HP-nya Greed.

“Hah? Kenapa sama—”

Sheila membelalak melihat benda hijau di atas kepala Greed sudah mulai berkurang. Walaupun hanya sedikit sekali. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Sheila tersenyum penuh kemenangan. Ada cara untuk mengalahkan makhluk peng-copy itu!

“Bagus.”

Baru Sheila hendak bergerak untuk menyerang, entah bagaimana tubuhnya terasa sangat berat. Seolah ada ribuan tangan yang menahan kakinya. Dengan ekspresi horor, ia menunduk ke arah kakinya.

Tidak ada apa-apa. Tapi, kenapa ia tidak bisa menggerakkan kaki sejengkal pun?

Bayangan.

Sheila langsung mengerti maksud kata-kata Lunar. Ia lupa. Ia memiliki bayangan. Dan yang dihadapinya saat ini adalah makhluk bayangan. Dengan semua kemampuan aneh Greed, Sheila takkan heran jika salah satunya adalah kemampuan mengendalikan bayangan. Atau apa pun itu namanya.

Yang membuat Sheila terkejut kemudian, “tangan-tangan” yang tadi hanya bersifat kata perumpamaan, kini telah berubah menjadi nyata. Ribuan bayangan tangan keluar dari bayangannya sendiri, mencengkeram kaki Sheila dengan amat kuat. Hanya masalah waktu sampai seluruh tubuhnya ikut tercengkam. Dan tak sedetik pun Sheila berniat untuk menyia-nyiakannya.

Ia berusaha berontak. Meronta. Menggunakan segenap kekuatannya.

Sia-sia.

Tangan-tangan itu menariknya. Masuk ke dalam bayangannya sendiri. Sheila masih bisa melihat copy dirinya berjalan mendekat sambil tersenyum mengerikan. Sheila masih bisa mendengar—untuk pertama kalinya—kata-kata dari siluet di hadapannya.

“Seluruh kekuatan dan pengetahuanmu ... semuanya akan menjadi milikku.”

Gelap. Kemudian hening.

 

***

 

Pekat.

Hitam di mana-mana. Seperti saat batu grafit sialan itu masih mengurungnya. Meski sudah membuka mata lebar-lebar, tak satu pun warna tertangkap oleh Sheila. Lagi? Ia tak percaya akan mengalami situasi yang sama seperti ini. Untuk kedua kalinya. Dan ia berharap—untuk pertama kalinya—bahwa sekarang ia tengah bermimpi.

Merasakan sependar cahaya dari arah belakang, Sheila berbalik. Kali ini bukan bocah 7 tahun. Kali ini sebuah pintu. Raksasa. Bahkan meskipun ia mendongak sekalipun, sisi bagian atasnya tak terlihat.

Tak lama, pintu itu terbuka kecil. Jadi, Sheila mendorongnya agar terbuka lebih lebar. Padahal ia tak menggunakan kekuatan sama sekali, tapi pintu raksasa itu terdorong pelan dan mulai terbuka. Penuh. Meskipun tangan Sheila sudah tak melakukan dorongan lagi.

Begitu banyak kilasan.

Gambaran keluarga bahagia: seorang gadis awal belasan dengan rambut dikepang dua tengah memijit seorang wanita paruh baya. Seorang pria yang tampak sedikit lebih tua dari wanita itu berjalan mendekat. Bercanda. Saling memukul sayang. Menepuk kepala. Memeluk.

Perlahan kehangatan hadir di hati Sheila. Kehangatan yang lama ia rindukan.

Kilasan berganti. Sesosok bocah 7 tahun. Tangan yang terulur menerima sodoran sebuah batu hitam dari si Bocah. Senyum si Bocah.

Lalu berganti lagi. Suara gemuruh. Memekakkan, mengerikan, membuat telinga Sheila kesakitan. Kemudian awan tebal bergulung-gulung. Panas. Semuanya meleleh. Terbakar. Lebur.

Sheila membeliak. Tidak! Ia takkan membiarkan semuanya berakhir seperti itu! Tidak bisa!

Cepat, Sheila bergerak ke arah pintu. Rasanya sakit. Amat sakit. Tapi ia tak peduli.

Belum sempat kakinya melewati batas pintu, sesosok tangan mendekapnya dari belakang. Sesosok tangan yang kuat. Lalu sebuah suara mengiringinya. Suara yang bergetar—mungkin panik, atau ketakutan—tapi terdengar begitu nyaman di telinga Sheila.

“Kamu ingin mati? Nggak akan kuijinin. Enggak sekarang, Sheila.”

Suara yang sangat familiar.

Tidak. Bukan suara laki-laki yang tadi muncul dalam mimpinya. Bukan suara Lunar. Bukan pula suara si Bocah. Di mana ia pernah mendengarnya?

“Kamu denger aku? Kamu harus pulang. Jangan bikin aku nunggu sia-sia.”

Pulang?

Sheila membelalak lebar. Ia ingat sekarang. Refleks ia melepaskan diri dari tangan itu dan berbalik. Ia terkejut. Bukan hanya karena sosok itu ada di hadapannya sekarang, melainkan juga karena wajah pucat dan panik Sheila tercermin dalam mata jernih yang menyiratkan ketakutan di depannya.

Kesadaran menerpa Sheila begitu saja. “Ngapain kamu di sini? Dan gimana bisa—”

Sosok bocah awal belasan tahun itu langsung membekap mulut Sheila. “Jangan bicara. Sekarang cuma ‘aku’ yang bisa bantu kamu keluar dari sini.”

Sheila menatap horor bocah di hadapannya. Bagaimana mungkin ahli mekaniknya itu bisa tersasar ke tengah-tengah pertandingan Battle of Realms? Belum lagi, ini di mana?

“Kamu ada di dimensi kegelapan.” Pertanyaan di benak Sheila seolah bisa dibaca bocah itu. “Greed bisa denger kamu, tapi nggak bisa denger aku. Jadi, bicara lewat benakmu.”

Kenapa?

“Itu nggak penting. Sekarang denger baik-baik. Kalau kamu mau keluar dari sini, kamu harus ngorbanin sesuatu. Itu ongkos buat ngelewatin pintu yang satu lagi.”

Pintu yang satu lagi?

“Ada di balik pintu yang tadi mau kamu lewati.”

Aku mesti ngorbanin apa?

Bocah itu terdiam.

Yud?

“Aku,” katanya pada akhirnya. “Ingatan soal aku.”

Enggak!

“Kamu harus milih satu ingatan buat dikorbanin. Dan itu harus penting. Bahkan yang terpenting.”

Yang terpenting? Sheila mulai tak mengerti. Bukankah ingatan terpentingnya adalah sesosok bocah 7 tahun yang memberinya batu grafit sialan itu?

“Orang biasa nggak bakal bisa ngeluarin ingatan apa pun di dimensi ini. Tapi batu grafitmu itu sekali lagi nyelametin kamu. Dan cuma ingatan terpentingmu yang bisa keluar di situasi gawat kayak gini, Sheila.” Bocah itu lalu tersenyum. “Kamu yang milih aku.”

Tanpa menunggu reaksi dari Sheila, bocah itu berjalan melewati pintu raksasa dan lenyap ke dalamnya. Ketika kesadaran mulai menerjang Sheila, ia sudah terlalu terlambat. Sebuah cahaya menyilaukan memancar sebentar. Tapi sudah lebih dari cukup untuk membuat mata siapa pun buta jika tidak memicing.

Saat membuka mata, segalanya berubah putih. Dan sebuah pintu ukuran normal muncul tepat di hadapan Sheila. Refleks, tangannya meraih pintu itu. Tapi diurungkannya sesaat kemudian. Ia ragu. Rasanya dadanya amat sakit. Tepat di tempat batu grafit yang tertanam dalam tubuh yang ditumpanginya.

Ada yang hilang.

Sesuatu yang besar. Dan Sheila tidak tahu apa.

Ia bahkan tidak ingat bagaimana bisa berada di tempat serba putih itu. Yang ia tahu, ia harus memasuki pintu itu. Instingnya bilang begitu. Dan itulah yang dilakukannya.

Setelah memasukinya, pintu yang sama putihnya dengan sekeliling pun menutup. Tak lama, pintu itu menghilang.

 

***

 

Hal pertama yang dilihat Sheila ketika membuka mata adalah ... silau. Lagi-lagi ia berada di alam yang aneh, sekaligus begitu familiar untuknya. Benak Lunar.

Lunar?

“Kau sudah terjaga, Sheila? Apa yang terjadi?”

Sheila terdiam. Ia juga tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Tapi sesosok bayangan hitam tepat di hadapannya seolah menamparnya agar tersadar kembali menuju realita. Sosok itu. Greed. Tapi juga bukan Greed.

Sheila kemudian menyapu sekitar. Ada begitu banyak cermin di sekitar Greed. Pria itu—atau sosok itu?—seolah berada di dalam bola kaca transparan. Entah bagaimana tadi Lunar berhasil memerangkap Greed ke dalam bola kaca itu. Tidak. Belum sepenuhnya terperangkap. Masih ada beberapa celah yang bisa ditembus. Dan hal itu disadari Greed. Begitu pula Lunar.

Lunar mengarahkan tangannya ke puncak bola kaca. Dari tangannya, melesat cermin-cermin kecil dengan kecepatan tinggi. Berlomba dengan kecepatan Greed, cermin-cermin kecil itu perlahan menutup semua celah yang ada. Kali ini Greed benar-benar terperangkap.

Tapi, yang menarik perhatian Sheila, beberapa cermin berwarna hitam. Apa maksudnya itu?

Lun, aku nggak ngerti. Apa gunanya ngurung dia di bola kaca?

“Apa kau tahu, Sheila? Bayangan adalah suatu keadaan untuk mengungkapkan ketiadaan cahaya. Benda memiliki bayangan karena di wilayah benda yang membayang itu tidak diketemukan cahaya. Nah, apa yang terjadi saat cahaya datang dari segala arah?”

Benda itu nggak punya bayangan? Bayangan itu bakal hilang?

“Tepat sekali. Cermin tempat saya mengurung Greed itu masing-masing saling memantulkan cahaya dari satu sumber cahaya yang tak pernah berakhir.”

Matahari?

“Ya.”

Terus yang item-item itu apa?

“Apakah kau lupa peraturan pertandingan kali ini? Tidak boleh membunuh. Melenyapkan Greed sama saja dengan membunuh, bukan? Yang hitam-hitam itu, akan memungkinkan wujud Greed tidak lenyap sepenuhnya.”

Sheila mengerti. Dan ketika dilihatnya bar HP makhluk bayangan itu semakin merosot, Sheila tersenyum puas. Yah, wilayah pertarungan otak seperti ini memang keahlian Lunar.

“Nah, Tuan Greed, apakah kau tak ingin menyerah? Saya benar-benar tak ingin membuat Tuan lenyap.”

Goblog banget sih. Habisin aja dia. Asal bar HP-nya kosong, dia belum tentu mati. Lagian, udah berapa lama kamu ngegantiin aku, Lun?

“Hmm, dua menit?”

Dan masih sempet-sempetnya kamu ngasih ampun?! Habisi dia!

“Tapi—”

Enggak ada tapi. Kalau kamu berubah lagi jadi aku, gimana?

Lunar terdiam. Tak berselang lama, Lunar mengarahkan jari telunjuknya ke bola kaca. Sebuah laser biru keluar dari jemari itu, tepat mengarah ke cermin hitam sambil ia terus mengontrol energinya. Cermin hitam lambat laun berubah transparan, membuat bar HP Greed semakin merosot tajam.

Dan ketika bar HP itu benar-benar kosong, Lunar menurunkan tangan. Tepat sebelum Greed lenyap seluruhnya. Tepat bersamaan dengan kemunculan [Spa] kembali.

“Baiklah. Pemenangnya sudah jelas, kan? Ayo, sekarang waktunya kembali ke cafe.”

 

***

 

“Lun, kenapa tadi kamu nggak ikut terhisap ke dimensi kegelapan?” tanya Sheila setelah ia mengingat semunya, tentu selain bagian terpenting yang sudah dijadikannya ongkos untuk keluar dari dimensi aneh itu.

Karena saya bukan jiwa. Juga tidak memiliki memori. Yang saya miliki adalah data. Sesuatu yang berhubungan dengan program komputer, bukan pengetahuan dari otak manusia. Dimensi memori dan dimensi data terletak pada jalur yang terpisah. Dan dimensi kegelapan tidak dapat meraup keduanya.

“Dan dimensi aneh itu milih aku?”

Ya.

Sheila terdiam.

Ingatanmu sudah kembali semua, bukan?

“Ya, udah.” Tetapi Sheila tidak yakin. “Mungkin.”

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

hooo duelnya seru ini.. keren2.

100

Plot ceritanya seru. Battle awalnya seru. Tapi endingnya terburu2 banget. Hahahahaha.
.
Tapi yang saya suka di sini meski si Greed nya ga ngomong sedikit pun, tapi dia ga berkesan kayak tempelan. Seolah-olah 'seperti inilah Greed seharusnya'.

sejak jaman jebot saya memang selalu bermasalah sama ending *jedot2in kepala ke tembok*