SKALA ABU: Hitam-Putih Keadilan (Pelajaran 3, bagian 1)

"PAK SYAMSU" (bagian satu)

 

 

“Taruh mejanya di sana, Panji!”

“Siap Pak Syamsu! Kalau sofa-sofa ini”

“Kamu dan Udin tolong berdua menggotongnya lalu taruh mengelilingi meja tadi!”

“SIAP!”

Hari itu hari Minggu. Sekolah libur. Panji sedang tidak banyak kerjaan, oleh karena itu dia dengan senang hati menerima tawaran untuk membantu pekerjaan Pak Syamsu. Dalam organisasi, Pak Syamsu bekerja sebagai seorang instruktur beladiri dan menembak. Sedangkan dalam sehari-hari, dia memiliki perusahan jasa kecil yang bergerak di bidang angkut barang.

Hari ini ada job untuk memindahkan perabotan rumah Pak Mahmudin, seorang anggota DPRD Bekasi, dari rumah lamanya di Babelan ke rumah barunya di Bulak Kapal. Siang datang, pekerjaan sudah terselesaikan dengan rapi jali. Panji dan kawan-kawan pun beristirahat melepas lelah.

“Tehnya, Panji? Udin?” tawar Pak Syamsyu.

“Terima kasih, Pak!” jawab Panji.

Syukran!” jawab Udin.

Udin, atau yang lebih akrab dipanggil oleh Panji sebagai Bang Udin, juga merupakan anggota organisasi. Dalam organisasi, Bang Udin bertugas sebagai petugas moral bagi anggota-anggota, serta mentor bahasa Arab. Dia sudah dapat gelar Lc[1] dari suatu universitas di Cairo. Namun, Bang Udin berkuliah lagi di Politeknik LP3i, jurusan informatika. Selain itu dia kerja serabutan menjadi guru ngaji dan semacamnya.

Di sini, hanya Panji dan Udin lah yang mengetahui pekerjaan Pak Syamsu di organisasi. Empat orang pegawai Pak Syamsu sisanya hanya mengenal Pak Syamsu sebagai pemilik jasa angkut barang.

“Terima kasih semuanya! Mari kita sholat berjama‘ah di masjid dekat sini!” ajak Pak Syamsu ke semua pegawainya.

“Baik Pak!!” jawab semuanya.

Setelah sholat Zhuhur berjama‘ah selesai, mereka duduk santai di pekarangan masjid.

Pak Syamsu pun membuka amplop tebal, bayaran kerja hari ini, sambil disaksikan semua pegawainya.

“Bayaran kerja dari Pak Mahmudin empat juta rupiah, kita bagi rata tujuh. Masing-masing dapat 550 ribu!” kata Pak Syamsu, tangannya dengan cekatan memberikan lembar-lembar uang ke pegawai-pegawainya.

“Sisanya ada 150 ribu, yang seratus nih kamu masukin ke kotak amal masjid, buat sedekah kita!” ujar Pak Syamsu kepada salah satu pegawainya yang bernama Amir.

“Lima puluh ribu sisanya... Udin, tolong kamu belikan ayam goreng dan nasi! Kita makan-makan!” seru Pak Syamsu riang, kali ini Bang Udin yang disuruh.

Mendengar kata dari bos mereka, para pegawai pun langsung menunjukan wajah gembira.

“Wah, asyik niih...!!”

“Pak Syamsu memang tau apa mau kita!”

Bang Udin dengan sigap mencari warung terdekat dengan harga miring. Tak butuh waktu lebih dari setengah jam, sudah tersedia belasan potong ayam goreng, belasan bungkus nasi putih, sekantong sambal, dan seteko air teh. Panji dan yang lain pun berpesta di pekarangan masjid dengan beralasan tikar.

Sebelum memulai menyantap hidangan, Pak Syamsu memimpin do‘a, yang lainnya tinggal mengamini. Do‘anya memang sedikit panjang, namun tak ada satu pun pegawai yang protes. Acara pun dimulai.

Sembari menikmati gurihnya ayam goreng, tak lupa Pak Syamsu menanyakan kondisi pegawainya satu per satu. Melalui perbincangan yang hangat, Panji mengetahui banyak hal. Pak Amir, sedang bergembira karena istrinya baru saja melahirkan sepasang anak kembar. Pak Yanto baru bersedih karena kucing kesayangannya meninggal, namun istrinya sudah membelikan kucing yang baru. Mas Bambang sebentar lagi akan diwisuda, dia kuliah di Unisma. Adapun Aa’ Asep, bulan depan akan melangsungkan pernikahannya dengan pujaaan hati yang sudah dicintainya sejak SMP. Panji dan Bang Udin pun menceritakan kondisi pribadi mereka, tentu saja seperlunya. Mereka tidak menceritakan kegiatan organisasi. Begitu pun Pak Syamsu.

Setelah pukul setengah tiga, keempat pegawai Pak Syamsu pun meminta izin untuk pulang. Tinggal lah mereka bertiga, Pak Syamsu, Bang Udin, dan Panji.

Situasi beranjak sepi. Tiba-tiba Bang Udin menanyakan hal serius kepada Pak Syamsu.

“Uang hasil kerja di organisasi harusnya udah cukup buat leha-leha, kenapa masih ngurusin kerjaan kecil begini, Pak Syamsu?”

Pak Syamsu terdiam sejenak, dia tersenyum. Kemudian dia menatap langit, lama. Setelah itu barulah dia menjawab pertanyaan Bang Udin.

“Din! Dan kamu juga, Panji! Prinsip saya adalah selalu memisahkan uang hasil kerja dari organisasi dengan uang untuk menafkahi anak istri... saya harap kamu berdua juga melakukan hal yang sama...” jawab Pak Syamsu dengan nada bicara yang halus.

“Kenapa harus repot-repot begitu?” tanya Bang Udin kembali.

“Harusnya kamu yang paling tahu, Din... kamu kan lulusan Cairo,” balas Pak Syamsu dengan sedikit menyindir, “Kita tidak boleh memberi makan anak istri dengan rezeki haram, ‘kan? Sedangkan uang dari organisasi kebanyakan uang hitam...”

Pak Syamsu berhenti sejenak, kemudian menatap Panji dan Bang Udin. Dia tersenyum, kemudian tertawa lebar.

“Hahahahaha...!! Orang jahat kok pusing mikirin uang halal haram?!” tawa Pak Syamsu lepas.

Mendengar itu, Panji dan Bang Udin pun ikut tertawa. Mereka bertiga akhirnya tertawa, menertawai moral mereka yang tidak jelas. Setelah puas tertawa, mereka pun berhenti.

Pak Syamsu kembali menyambung perkataannya, “Memang lucu... tapi begitulah seharusnya!”

“Baiklah! Mulai sekarang, saya juga akan memisahkan uang dari organisasi dengan uang hasil kerja halal!!” seru Bang Udin penuh semangat.

Panji belum dapat penghasilan dari organisasi namun dia pun berkata.

“Sama deh kalau gitu, saya juga nanti!”

Sepertinya Panji sudah mulai terbiasa dengan moral aneh di dalam organisasi sehingga dia tidak lagi berkata “Apa-apaan nih” seperti dalam permulaan cerita.

Mereka lalu tertawa lagi. Sebelum berpisah, Pak Syamsu mengatakan kepada Panji untuk datang ke markas besar Bekasi malam ini.

***

[Pukul 20:20, di dekat Kawasan Rawa Lumbu, Bekasi]

Beberapa kilometer di utara Kawasan Rawa Lumbu, berdiri sebuah gudang kecil. Kiri-kanannya terbentang kebun-kebun lebat yang tak terawat dengan penerangan yang minim sehingga membuat daerah itu terlihat rada angker.

Gadang kecil itu berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara barang-barang retur dari suatu perusahaan penerbitan kecil yang bernama Teliti Publishing. Di depang gerbang terdapat sebuah pos kecil Di dalamnya terlihat seorang security sedang santai berjaga sembari menikmati siaran Idol. Pos itu dijaga penuh 24 jam dengan pembagian shift jaga malam dan siang.

“Assalāmu ‘alaikum!” seorang pemuda berambut klimis menyapa penjaga itu.

“Oh, den Panji? Mangga, silahkan masuk! Sudah ditunggu di ‘bawah’ sama Pak Syamsu,” jawab penjaga itu ramah, logat Sundanya masih terasa.

“Ah, terima kasih,” balas Panji.

“Kenapa liwat pintu depan? Kan ada pintu rahasia di kebun, atuh?! Masuk dari pintu itu bisa langsung ke basement gudang.”

“Oh, gitu ya? Haha, praktis juga! Saya belum tau, maklum, baru 1-2 kali ke sini... waktu itu masuknya lewat pintu depan.”

“Yang liwat pintu depan biasana sih karyawan penerbit. Tapi silahkan aja, mangga, kalau mau turun dari tangga...”

“Kalau begitu saya permisi. Ini!”

Panji menyerahkan bungkus gorengan untuk penjaga itu. Raut muka si penjaga langsung cerah.

“Wah, lumayan nih buat temen begadang. Hatur nuhun[2], den Panji!”

Sawangsulna![3]

Penjaga berbadan tinggi itu kemudian mengambil kunci di dalam pos, setelah itu membuka pintu depan gudang kecil itu. Dia pun mempersilahkan Panji.

Panji melangkahkan kakinya, memasuki gudang.

Abdi[4] kunci dari luar, nyak?”

“Oh, silahkan! Punten[5] udah ngerepotin.”

Pintu pun ditutup, dikunci dari luar oleh si penjaga. Panji memperhatikan isi gudang itu. Hanya ada satu ruang berukuran tak lebih dari 50m2, penerangannya sederhana namun memadai. Ruangan itu dipenuhi tumpukan buku-buku berjumlah ratusan. Ada novel, komik, buku teks pelajaran, dan lain-lain. Semuanya adalah barang retur yang sudah ditarik dari peredaran, sesuai kebijaksanan distributor penerbit. Ayah Panji, yaitu Sigit Budiman, adalah salah satu pemilik dari perusahan penerbit Teliti Publishing. Oleh sebab itu Panji akrab dengan beberapa karyawan di sana. Adapun penjaga tadi adalah anggota ‘organisasi’ yang ditugaskan oleh para pemilik Teliti Publishing untuk menjaga gudang kecil itu. Sebagai catatan, para pemilik Teliti Publishing semuanya merupakan petinggi ‘organisasi’ cabang Bekasi. Sebagian besar karyawan mereka tidak tahu-menahu soal itu.

Setelah puas mengamati ruangan itu, Panji menuju ke salah satu sudutnya. Dia menggeser lemari kecil yang ada di sana. Setelah itu dia kemudian berjongkok, pandangannya mengamati lantai tempat lemari itu berada sebelumnya. Dicopotnya 4 buah ubin dan taadaa♪, pintu kecil yang terbuat dari kayu pun terlihat. Panji membuka pintu itu dan mendapati sebuah lorong kecil menurun, di salah satu sisinya menempel anak-anak tangga dari pipa besi.

Setelah menuruni lorong tangga sejauh sekitar 20 meter, Panji sampai di basement gudang itu. Meskipun sudah pernah sekali dua kali ke sini, Panji tetap terkagum dengan markas organisasi. Letaknya di bawah tanah, terdiri dari 3 lantai. Lantai B1 adalah aula yang luas, kira-kira sebesar setengah lapangan bola. Biasanya digunakan untuk tempat berlatih para anggotanya. Hari itu pun ramai seperti biasanya. Ada anggota-anggota yang sedang berlatih menembak, ada yang sparring bela diri, ada pula yang sibuk menempa diri dengan alat-alat fitness. Di salah satu sisi di lantai B1, terdapat ruang komando. Di sana sudah stand by beberapa operator organisasi dengan sejumlah komputer canggih. Di dinding terpasang monitor-monitor besar yang menampilkan gambar-gambar dari satelit. Fungsi ruang ini untuk memantau setiap sudut kota Bekasi.

Lantai B2 terdapat ruang-ruang dengan fungsi praktis seperti dapur, kamar mandi, perpustakaan, game center, musholla, serta taman bunga dan bengkel senjata. Adapun lantai B3 tidak seluas dua lantai di atasnya. Di lantai ini hanya ada dua ruangan. Salah satunya adalah ruang Pak Waluyo, boss organisasi cabang Bekasi. Ruang satunya lagi adalah sel tahanan, kosong belum berpenghuni.

Jumlah seluruh anggota organisasi cabang Bekasi, termasuk Panji, hanya sekitar 50 orang. Namun karena anggota-anggota dari markas besar Jakarta sering datang ber-silaturahīm, markas besar Bekasi selalu terlihat ramai.

Panji yang baru saja tiba, langsung disapa oleh anggota-anggota organisasi dengan hangat. Ayah Panji termasuk anggota elite organisasi, karena itu Panji pun sangat dihargai oleh sekian banyak anggota organisasi. Terlebih, sejak kecil Panji sudah disiapkan oleh orang tuanya untuk jadi yang terbaik di organisasi. Kiprahnya di organisasi sangat diharapkan, meskipun masih tergolong anggota muda.

“Panji, kamu sudah datang!” sapa Pak Syamsu dari kejauhan.

“Oh, Pak Syamsu, assalāmu ‘alaikum!” jawab Panji yang sedang asik bersalaman dengan beberapa anggota organisasi yang mengerubunginya.

“Tangkap ini!!” seru Pak Syamsu sambil melemparkan sesuatu ke arah Panji.

Dengan sigap Panji menangkap benda-benda yang dilemparkan Pak Syamsu. Satu ditangkap tangan kirinya, sementara satu lagi ditangkap tangan kanannya. Sekilas Panji melihat, kedua benda itu tidak lain adalah pistol. Tepatnya pistol model M1911, yang sudah dimodifikasi oleh organisasi sehingga mampu menembakan peluru ‘bajakan’. Maklum, pengiritan anggaran.

“Katanya Pak Sigit sudah mengajarimu menembak?” tanya Pak Syamsu dengan maksud mengetes kemampuan Panji.

Panji hanya tersenyum. Beberapa detik kemudian, seolah sudah saling mengerti, mereka berdua pun menuju salah satu sudut ruangan. Tempat anggota-anggota organisasi biasa latihan menembak. Salah seorang anggota organisasi menyerahkan headset untuk menahan bising tembakan pistol kepada Panji. Panji langsung memakainya.

Beberapa anggota organisasi yang sedang latihan menembak pun buru-buru menghentikan kegiatan mereka. Rupanya mereka sudah tidak sabar untuk melihat skill dari si anak emas.

Panji sudah berdiri di tempat menembak. Di jarak sekitar 20 meter di depannya, sudah tersedia papan target. Papan itu berbentuk siluet manusia dengan lingkaran-lingkaran target seperti yang biasa kita temui di tempat latihan menembak. Di kedua tangan Panji sudah ada pistol yang siap ‘berbicara’. Panji menarik nafas.

Sebelum dia menghembuskan nafasnya, Panji sudah mengarahkan pistol itu ke target. Terdengar 10 kali letusan tembakan dalam waktu kurang dari 3 detik. Pistol kiri dan kanannya masing-masing menembak sebanyak 5 kali. Semua anggota organisasi yang kebetulan memperhatikan berdecak kagum. Di daerah ‘kepala’ papan target itu terdapat 10 lubang bekas tembakan yang membentuk huruf ‘P’.

“Waw! Hebat sekali melihat anak muda 15 tahun sepertimu bisa menembak seakurat itu!” puji Pak Syamsu,”Bahkan kamu tidak memejamkan mata!”

“Yah, udah biasa soalnya...” jawab Panji merendah.

“Kalau begitu, mari kita latihan kanuragan[6] seperti biasa!” ajak Pak Syamsu.

“Baik, tolong ajari saya!” balas Panji dengan semangat.

Mereka pun menuju ke sudut lain ruangan. Beberapa anggota organisasi baru saja hendak mengikuti mereka untuk ‘menonton’ kalau saja instruktur latihan mereka tidak meneriaki mereka untuk kembali latihan.

Panji dan Pak Syamsu sudah berdiri saling berhadapan di suatu sudut ruangan yang biasa digunakan untuk sparring.

“Mari!” aba-aba dari Pak Syamsu agar Panji menyerangnya.

Panji langsung berlari cepat ke arah Pak Syamsu. Ketika sudah memasuki jangkauan serangnya, Panji pun melayangkan tendangan kirinya. Namun belum sempat kaki kiri Panji menyempurnakan lintasan geraknya, kaki kanan Pak Syamsu sudah menahan lajunya. Benturan kecil pun terjadi, kaki kiri Panji sedikit terdorong ke belakang. Panji tidak menghentikan serangannya. Kali ini dia melakukan tendangan sabit dengan kaki kanan, tapi lagi-lagi Pak Syamsu sudah menghentikan laju tendangan itu di tengah jalan, kali ini dengan kaki kiri.

Melihat dua serangannya dilumpuhkan dengan enteng, Panji pun refleks mundur satu loncatan ke belakang. Dia melihat Pak Syamsu tersenyum.

“Jangan melakukan serangan yang gampang dibaca!” ujarnya menasihati Panji.

Panji tersenyum. Dia kembali memulai serangannya. Didekatinya Pak Syamsu, kali ini perlahan-lahan dengan mengambil langkah-langkah kecil. Dalam sekejab, jarak mereka hanya terpaut setengah meter.

Panji melancarkan pukulan lurus dengan tangan kanan ke arah muka Pak Syamsu. Orang tua itu mengubah lintasan pukulan itu dengan menepisnya menggunakan siku kiri, sementara tangan kanannya sudah terkepal di samping pinggang kanannya. Sekejab, tangan kanan itu pun ‘menyapa’ wajah Panji dengan cepat. Untung saja Panji sempat menunduk menghindari ‘sapaan’ itu. Dari posisi setengah membungkuk itu, Panji mengencangkan kuda-kuda. Sejurus kemudian dua telapak tangannya sudah menghantam perut Pak Syamsu dengan keras. Sayangnya lawan sparring Panji itu sudah melindungi perutnya dengan kedua tangannya. Bagaimana pun, tenaga dari double palm strike itu mampu menghempaskan Pak Syamsu sejauh setengah meter ke belakang.

Panji melihat kesempatan. Dengan cepat kaki kirinya menopang lantai, pinggangnya berputar, dan kaki kanannya langsung menerjang dengan sebuah back kick. Pak Syamsu tidak sempat menahan tendangan yang diarahkan ke dadanya itu karena tangannya masih melidungi perutnya. Benturan pun terjadi. Pak Syamsu masih sempat untuk mengurangi energi benturan itu dengan melompat ke belakang, namun tubuhnya tetap terjatuh. Melihat itu Panji tersenyum karena mengira serangannya masuk. Sayangnya, dari posisi terjatuh itu Pak Syamsu sempat menyengkat kaki Panji dengan tendangan sapuan yang cepat.

Kedua kaki Panji kehilangan pijakannya di lantai, tubuh Panji akan terjatuh dengan posisi punggung menghantam lantai. Namun dengan lihai, Panji menahan jatuhnya menggunakan kedua tangannya. Momentum gerakan itu digunakannya untuk melakukan backspring ke belakang sehingga benturan dengan  lantai  terhindari. Panji pun hendak kembali memasang kuda-kudanya ketika dia menyadari Pak Syamsu sudah ada tepat di depannya. Pukulan straight sudah siap menghantam wajah Panji kalau saja dia tidak menyiapkan counter attack.

Dalam hitungan detik, Panji menangkap tangan lawan sparring-nya. Lalu dengan tenaga putaran dari seluruh tubuh, Panji melemparkan Pak Syamsu ke udara. Pak Syamsu terhempas. Namun di udara, dia pun berputar sebelum akhirnya mendarat di lantai dengan pendaratan sempurna.

Keduanya saling menatap dan tersenyum. Mereka pun mengakhiri sparring singkat itu.

“Gerakanmu sangat bagus, Panji! Dengan sedikit latihan lagi kamu sudah bisa melampaui ayahmu,” kata Pak Syamsu dengan sedikit terengah-engah.

Yah, mau tak mau kita harus selalu menempa diri,” jawab Panji dengan nafas yang lebih santai, “Berbeda sama para pembela keadilan yang udah memiliki kemampuan super sejak lahir...”

“Ini memang ironis,” timpal Pak Syamsu, “Kita mati-matian menempa otak dan tubuh kita, namun semua itu seolah tiada artinya dihadapan ‘kesaktian’ mereka...”

Panji pun teringat pengalaman menyedihkan yang dideritanya dulu, 5 tahun yang lalu. Waktu itu paman Panji, Taufik Budiman, tewas mengenaskan di tangan seorang pembela keadilan. Hari itu seharusnya jadi tamasya yang menyenangkan berdua dengan pamannya di pantai Kuta Bali. Tiba-tiba ada seorang pemuda Bali yang mengenali pamannya, dia pun langsung menyerang mereka berdua. Panji sempat melarikan diri atas paksaan pamannya, namun sang paman bernasib lain. Pemuda Bali yang ternyata anggota organisasi pembela keadilan itu tiba-tiba mengeluarkan ‘kesaktian’nya. Tsunami muncul secara tak terduga dan menyeret sang paman tanpa perlawanan. Malam harinya Panji hanya bisa menyaksikan dalam berita bahwa sang paman sudah tak bernyawa, tenggelam dimakan gelapnya laut.

Untung saja waktu itu ada anggota organisasi cabang Bali yang membantu Panji sehingga dia dapat lolos dari kejaran pemuda pembela keadilan itu. Sejak saat itu Panji bertekad untuk terus menempa dirinya agar mampu menghadapi para pembela keadilan yang tak kenal ampun.

Lamunan Panji buyar ketika tiba-tiba terdengar pengumuman dari loudspeaker.

[Perhatian semua anggota! Situasi mendesak!!]

Suara loudspeaker itu berasal dari operator di ruang komando.

Semua anggota pun menghentikan aktivitas mereka dan memperhatikan dengan seksama. Beberapa bahkan langsung menyiapkan senjata mereka seolah sudah bisa menebak situasi yang akan mereka hadapi. Panji dan Pak Syamsu tidak terburu-buru, mereka dengan tenang mendengarkan pengumuman itu.

Operator melanjutkan perkataannya.

[Telah terjadi baku tembak antara organisasi kita dengan gank pengedar narkoba di kawasan Kalimalang! Perintah dari boss, regu 1 sampai regu 5 segera ke lokasi untuk membantu regu 12 yang sedang terdesak!!]

[Regu lain pun diharap untuk meninggalkan markas dan kembali ke pos masing-masing untuk bersiaga!!]

Dengan cepat semua anggota yang berada di markas pun bergegas pergi. Masing-masing regu dipimpin oleh ketua regu, meninggalkan markas bawah tanah itu dari pintu rahasia di kebun. Pak Syamsu yang merupakan ketua regu 4 pun sigap, menyiapkan persenjataannya.

“Nah, kamu mau ikut Panji?” tanya Pak Syamsu ke pemuda di sampingnya.

“Tentu saja!” jawab Panji tanpa ragu.

“Kalau begitu kita pergi! Semua anggota regu 4, siap?!” seru Pak Syamsu ke bawahannya.

“SIIAP!!”

Baru saja seluruh regu 4 hendak pergi namun salah seorang operator di ruang komando menghampiri mereka dengan tergesa.

“Tu..tunggu, Pak Syamsu!” kata operator tadi yang ternyata seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.

“Ada apa?!” tanya Pak Syamsu.

“Khusus untuk regu 4, boss memerintahkan untuk menuju daerah jembatan di dekat tol timur... di sana juga terjadi baku tembak. Dari jaringan intel kita, kemungkinan besar di sana akan muncul ‘pembela keadilan’!!” kata operator wanita itu menjelaskan dalam satu tarikan napas.

“OK! Semua! Ayo ke tol timur!” seru Pak Syamsu lagi ketika telah memahami situasi yang terjadi.

“SIAAP!!!”

Regu 4 dibawah komando Pak Syamsu pun pergi meninggalkan markas. Di garasi rahasia sudah terparkir 5 motor bebek tanpa merek yang merupakan kendaraan khusus regu 4. Garasi rahasia itu tepat berada di belakang pintu di kebun. Tampak regu-regu lain pergi satu per satu dengan tangkas mengendarai masing-masing kendaraannya.

“Hmm... sepeda saya ada di luar gedung,” kata Panji.

“Kamu bonceng di Pak Syamsu aja! Naik motor lebih cepat daripada sepeda lagian!” timpal salah seorang anggota regu 4.

“Baiklah...”

Pak Syamsu memberikan salah satu helmnya ke Panji. Setelah memakainya, keduanya pun berangkat dengan motor Pak Syamsu. Di belakang mereka 4 motor menyusul beriringan. Regu 4 berjumlah sembilan orang ditambah Panji menjadi sepuluh. Selain Panji, semua anggota regu mengenakan baju satu tema, yaitu kemeja pantai. “Hahaha,” tawa Panji dalam hati ketika dia menyadari hal itu.

“Menghadapi sindikat pengedar narkoba bukan masalah... tapi jika polisi, apalagi para pembela keadilan sudah ikut campur...situasi bisa runyam!” bisik Pak Syamsu ke Panji yang sedang diboncengnya.

Meskipun dari luar tidak terlihat, di dalam sebenarnya Panji gemetar luar biasa. Bukan rahasia lagi kalau setiap personil ‘pembela keadilan’ memiliki kekuatan mengerikan. Brawn can beat brain[7]. Sepandai apapun trik yang digunakan untuk menghadapi mereka, mereka bisa mengatasinya hanya dengan kekuatan saja. Dan sebentar lagi Panji kemungkinan besar akan berurusan dengan para ‘pembela keadilan’ itu dan menghadapinya langsung.

***


[1] Lc = License

[2] Thank you!

[3] You’re welcome!

[4] I (used in polite conversation)

[5] Sorry! (used for asking forgiveness and/or permition)

[6] Martial art

[7] “Kekuatan otot bisa mengalahkan pemikiran.”

Read previous post:  
17
points
(3770 words) posted by hewan 6 years 48 weeks ago
56.6667
Tags: Cerita | Novel | komedi | hewan | HPK | naskah-peti-es | sue
Read next post: