SKALA ABU: Hitam-Putih Keadilan (Pelajaran 3, bagian 2)

"PAK SYAMSU" (bagian dua)

 

 

Malam itu mendung, hujan turun rintik-rintik. Jalanan sepi dari manusia. Lima motor regu 4 maju lincah membelah jalanan Bekasi Timur. Mereka melaju beriringan dengan formasi 1-2-2. Dari jauh terdengar bunyi letusan senjata api bersahut-sahutan. Namun regu 4 tidak menju ke tempat asal bunyi itu. Tujuan mereka tempat lain.

Di kawasan Kalimalang, dekat kampus UNISMA, sudah jadi medan perang. Penduduk setempat tak berani mendekat, takut terkena peluru nyasar. Baku tembak itu terjadi lantaran konflik antara sindikat pengedar narkoba yang tidak suka dengan dominasi organisasi kejahatan di Bekasi. Organisasi kejahatan berprinsip untuk tidak menghancurkan generasi muda, lawan mereka adalah pemerintahan. Mengedarkan narkoba hanya untuk mencari profit sangat bertentangan dengan prinsip itu. Bagaimana pun sindikat itu tetap bandel, akhirnya konflik bersenjata pun tak terhindari.

Puluhan pria sangar berpakaian preman – mereka adalah anggota sindikat – menembaki musuh mereka dengan senapan mesin. Lawannya adalah 9 orang anggota organisasi. Sudah jatuh korban dari masing-masing pihak. Polisi belum datang. Anggota organisasi hanya bisa pasrah bertahan karena kalah persenjataan. Mereka menunggu bala bantuan yang sebentar lagi tiba.

***

Di tempat lain, daerah tol timur Bekasi juga menjadi medan ‘jual beli peluru panas’ meskipun skalanya jauh lebih kecil daripada yang terjadi di kawasan UNISMA. Biarpun demikian, pertikaian di tempat ini jauh lebih penting. Alasannya adalah di pemimpin sindikat pengedar narkoba, si ‘Anak Malang’, terlibat langsung dalam baku tembak. Posisi ‘Anak Malang’ sangat penting sebab merupakan rantai jaringan pengedar di Asia Tenggara. Ini adalah kesempatan untuk menghabisinya.

Setelah beberapa menit melaju, regu 4 akhirnya bisa mendengar suara konflik senjata di lokasi tujuan mereka. Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam terbang di atas iringan motor mereka, mendahului tiba di lokasi.

“Di..dia si ‘Pelempar Pisau’!! Gawaat!!!” teriak salah seorang anggota regu 4 yang berada tepat di belakang motor Pak Syamsu dan Panji.

“Kita harus lekas ke lokasi!! Anggota kita dalam bahaya!!!” sahut Pak Syamsu dengan nada sangat panik.

Motor mereka pun melaju sekencang-kencangnya. Satu atau dua menit lagi mereka akan tiba di lokasi. Firasat buruk mulai muncul di benak mereka ketika bunyi adu tembak menghilang, suasana jadi hening. Benar saja! Sesampainya di sana mereka hanya menyaksikan mimpi buruk.

Semua anggota organisasi dan sindikat pengedar di sana sudah tergeletak tiada bernyawa. Titik-titik vital tubuh mereka sudah ditembus pisau maut. Cukup satu tancapan pisau di leher atau di dada untuk menghabisi nyawa seseorang.

Seorang pria gemuk tampak ketakutan setengah mati, berlutut memohon ampun kepada seorang pria berkuncir yang sedang menghunus pisau-pisau kecil. Pria gemuk itu tidak lain adalah si ‘Anak Malang’, pemimpin sindikat. Sang pria berkuncir hanya tersenyum kecut, pandangan matanya penuh hinaan seperti sedang melihat ‘babi’.

“Am..ampuni saya..!!! Kamu mau uang..”

DUUAAAKK!!!!!

Belum sempat si ‘Anak Malang’ meneruskan perkataannya, sebuah tendangan telak mendarat di dagunya. Tubuh bongsornya pun terpental ke udara setinggi semeter akibat tendangan keras itu. Seketika, dalam waktu sekejab sewaktu tubuh si  ‘Anak Malang’ masih berada di udara, pria berkuncir itu langsung menghujam  kedua dada si ‘Anak Malang’ dengan pisau, di masing-masing tangannya.Tikaman dari atas itu begitu kuat sehingga tubuh bongsor itu menghantam tanah dengan suara keras.

Darah segar pun mengalir dari dada si ‘Anak Malang’. Lemak di dadanya tidak mampu melindungi titik vitalnya. Nyawanya pun melayang.

Pria berkuncir itu pun tersenyum puas lalu tertawa keras. Panji, Pak Syamsu, dan anggota regu 4, terlambat datang untuk menyelamatkan rekan mereka. Mereka hanya bisa menyaksikan kengerian saat pria berkuncir membantai pemimpin sindikat. Kini tujuan mereka datang ke tempat ini sudah tidak ada, bahkan si ‘Anak Malang’ sudah lebih dahulu ‘dibereskan’ seorang ‘pembela keadilan’. Kini mereka hanya bisa berharap ada peluang untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dari tangan pria berkuncir alias si ‘Pelempar Pisau’.

Si ‘Pelempar Pisau’ menoleh ke samping kirinya. Rupanya dia telah menyadari kedatangan regu 4.

“Khehkhekhe... Ada lagi penjahat lainnya!” seringainya menyeramkan, “Penjahat pantas MATI!!” pandangan Si ‘Pelempar Pisau’ tertuju tajam ke arah regu 4 yang hanya terpaut jarak 10 meter saja.

“TEMBAAK!!!” buru-buru Pak Syamsu mengomando anak buahnya.

DOR!! DORR!

DOR!!! DOORR!!!

Seluruh anggota regu 4 pun menembakkan pistol mereka ke arah pria berkuncir.

Namun mereka tidak memercayai apa yang mereka saksikan. Dengan mudah pria berkuncir itu menghindari seluruh terjangan peluru itu. Sesekali bahkan dia menepis peluru dengan ayunan kecil dari pisaunya. Bahkan Panji, yang di markas tadi telah menunjukkan kebolehannya menembak, tak bisa berbuat banyak. Dia tidak menyangka bahwa tembakan jitunya tak ada artinya di hadapan si ‘Pelempar Pisau’.

Si ‘Pelempar Pisau’ lalu melemparkan dua pisaunya dengan sangat cepat. Sedetik, pisau itu sudah menancap di leher dua anggota regu 4, mereka langsung ambruk. Mati. Anggota regu 4 yang lain sangat terkejut, kembali mereka menembakkan seluruh peluru yang mereka punya. Sayangnya tak adasatu peluru pun yang bisa mengenai tubuh si ‘Pelempar Pisau’. Kecepatan geraknya sangat irrasional. Tiba-tiba dua pisau meluncur kembali. Kali ini mendarat tepat menembus jantung dua anggota regu 4 yang lain.

Menyaksikan peluru mereka tidak berarti apa-apa, empat orang anggota yang tersisa, selain Panji dan Pak Syamsu, pun menerjang si ‘Pelempar Pisau’. Mereka mencoba menghadapinya dari jarak dekat. Meskipun sama-sama menggunakan pisau, kemampuan tempur regu 4 jauh di bawah si ‘Pelempar Pisau’. Semua terjangan mereka dapat ditangkis dengan mudah sementara tikaman maut dari si ‘Pelempar Pisau’ tak bisa mereka hindari. Satu persatu mereka pun tumbang tak bernyawa. Darah-darah segar mengalir menghiasi sunyi malam. Dalam waktu kurang dari dua menit, delapan orang anggota regu 4 pun menjemput maut. Tinggal tersisa Panji dan Pak Syamsu saja. Mereka berdiri tegang, tubuh mereka tak berhenti gemetar.

Dengan santai si ‘Pelempar Pisau’ berjalan lambat mendekati mereka berdua. Setiap langkahnya seolah menandakan semakin dekatnya diri mereka dengan ajal.

“Aku punya prinsip ga akan membunuh dua orang dengan satu pisau yang sama!” tiba-tiba si ‘Pelempar Pisau’ memulai pembicaraan.

Panji dan Pak Syamsu tidak menjawab.

“Sekarang, 30 pisau yang kubawa sudah terpakai semua! Kalian tahu artinya?!!” lanjut si ‘Pelempar Pisau’ sembari mendekati dua mangsanya perlahan-lahan.

“Terpaksa aku bunuh kalian dengan tangan kosong!!” teriaknya mengintimidasi.

Segera setelah teriakan itu, si ‘Pelempar Pisau’ maju menerjang ke arah Pak Syamsu dan Panji. Mereka pun langsung memasang kuda-kuda. Meskipun kemampuan kanuragan mereka sangat baik, mereka tidak tahu sejauh mana kemampuan mereka bisa bertahan menghadapi kemampuan super si ‘Pelempar Pisau’. Serangan pembuka diluncurkan oleh pria berkuncir itu.

Tendangan kanan cepat langsung mengarah ke kepala Pak Syamsu. Rupanya Pak Syamsu lah yang pertama diincar. Dengan sigap Pak Syamsu menepis tendangan itu dengan sikut kirinya. Namun serangan demi serangan bertubi-tubi dilancarkan lawannya. Pak Syamsu tak sempat membalas. Dia hanya bisa menepis ataupun menahan serangan-serangan si ‘Pelempar Pisau’. Pak Syamsu tampak kewalahan.

“Sial, serangan-serangannya cepat dan berbobot!! Untuk bertahan saja aku harus setengah mati!” batin Pak Syamsu. Sembari bertahan dari serbuan itu, Pak Syamsu melirik ke arah Panji.

Panji pun menangkap maksud lirikan itu. Pak Syamsu butuh bantuan! Dengan cepat Panji menyerang punggung si ‘Pelempar Pisau’ yang kosong tanpa penjagaan. Dengan kekuatan penuh Panji menendangnya.

DUUUAKK!!!

Meskipun terdengar suara benturan keras, si ‘Pelempar Pisau’ hanya berkata “Aduh” dengan ringan saja. Seolah tidak merasakan sakit yang berarti. Panji pun terbengong tidak percaya.

“Kamu mau buru-buru mati ya, BOCAH?!!” teriak si ‘Pelempar Pisau’ sambil memalingkan wajahnya ke belakang.

Dia pun mengelus-elus punggungnya sambil menatap tajam ke Panji.

Refleks Panji pun melompat mundur beberapa langkah, kembali bersiaga. Sementara itu Pak Syamsu masih terengah-engah, mendekati Panji.

“Bodoh! Kenapa kamu tidak lari?!!” tanya Pak Syamsu membuat Panji bingung.

“Eh?!”

“Sudah kukasih isyarat tadi, kan? Aku akan mengulur waktu, kamu larilah!!” bentak Pak Syamsu.

Panji pun menyadari. Rupanya dia salah mengartikan lirikan mata Pak Syamsu. Namun karena sudah terlanjur, dia pun berkata.

“Maaf, saya ga bisa kabur gitu aja ninggalin rekan yang dalam bahaya...”

Pak Syamsu menggeleng.

“Kamu masih muda, jangan sampai mati sia-sia di sini!”

“Saya ga niat mati sekarang, kita mungkin bisa menghadapi orang itu kalau berdua...”

Tiba-tiba sebuah tendangan keras menghantam dada Pak Syamsu, menyebabkan dia terpental ke belakang. Si ‘Pelempar Pisau’ rupanya menginterupsi. Panji kaget. Fatal akibatnya mengobrol ketika sedang ada lawan sangat berbahaya di depan mata. Pak Syamsu jatuh terguling, dari mulutnya darah memuncrat.

Kini, Panji dan si ‘Pelempar Pisau’ berhadapan satu lawan satu. Pak Syamsu mencoba untuk bangkit namun tubuhnya terasa berat.

Pertarungan maut pun dimulai. Gerakan si ‘Pelempar Pisau’ memang sangat cepat namun dia sangat sembrono sehingga Panji dapat memasukkan beberapa pukulan dan tendangan telak. Namun seperti tadi, serangan telak itu seolah tak berarti apa-apa. Sementara itu satu pukulan dari si ‘Pelempar Pisau’, meskipun sudah ditahan, hempasannya mampu membuat Panji sempoyongan.

Pak Syamsu akhirnya bangkit. Dengan badan masih terhuyung-huyung dia membantu Panji. Kali ini si ‘Pelempar Pisau’ harus berhadapan dengan dua orang. Entah karena sangat mempercayai kekuatan tubuhnya, akibatnya serangan si ‘Pelempar Pisau’ sangat sembrono. Seperti tanpa pertahanan. Dengan pisau, gerakannya sangat berbahaya. Namun tanpa pisau, gerakannya seolah tumpul. Buas namun tidak terkontrol. Panji dan Pak Syamsu, berbekal kemampuan kanuragan mereka, sedikit demi sedikit mampu mengatasi serangan-serangan si ‘Pelempar Pisau’. Adapun serangan mereka, meskipun kecil, namun selalu masuk menembus pertahanan si ‘Pelempar Pisau’.

Kali ini si ‘Pelempar Pisau’ kerepotan. Emosinya meledak, mengakibatkan gerakannya semakin tumpul. Meskipun begitu, Pak Syamsu dan Panji belum bisa merobohkan tubuh supernya.

“Gawat ini, Panji! Badannya kuat sekali!” bisik Pak Syamsu.

“Saya punya taktik untuk menjatuhkannya, tapi butuh sedikit persiapan.” Balas Panji.

Keduanya berbisik sembari tetap meladeni serangan-serangan buas dari si ‘Pelempar Pisau’.

Tiba-tiba Panji berlari menjauhi pertempuran. Dia memancing si ‘Pelempar Pisau’ untuk mengejarnya. Dengan sedikit provokasi menggunakan jari tengah, dengan mudah si ‘Pelempar Pisau’ tersulut. Dia tidak menghiraukan Pak Syamsu, langsung berlari sangat cepat menerjang Panji. Sementara itu Panji sudah siap dengan jurusnya.

Sambil berlari kencang menerjang, pukulan berang dihempaskan si ‘Pelempar Pisau’. Ayunannya sangat lebar. Itulah yang diincar Panji.

Panji memanfaatkan tenaga lawannya untuk menghancurkannya. Aliran tenaga yang sangat besar yang berasal dari momentum lari dan terjangan pukulan itu dimanfaatkan Panji. Dengan fokus, Panji berhasil menangkap pukulan lawannya. Dengan gerakan ringan dan cepat, dialirkanlah tenaga si ‘Pelempar Pisau’. Dengan jurus Sumi Otoshi[1] dari Aikido, terlemparlah tubuh si ‘Pelempar Pisau’. Dia terlontar dengan posisi kepala di bawah. Benturan pun sangat keras. Kali ini jelas bahwa si ‘Pelempar Pisau’ sangat kesakitan.

“UAAAAARGHH!!!!!!” teriaknya memekik.

Mungkin karena posisi jatuhnya yang salah, atau karena tenaganya berlebihan, tangan kanannya patah. Sambil berteriak memaki-maki, tubuhnya meronta-ronta. Bergulingan ke kanan-kiri sambil menahan tangan kanannya yang terluka. Panji terengah-engah, sedikit terkejut. Dia tak menyangka jurusnya bisa berhasil. Namun memang mau tak mau jurusnya harus berhasil. Kalau energi besar tadi tidak dialirkan dengan sempurna, bisa-bisa dirinyalah yang terluka parah. Dia hanya menatap lawannya yang tengah meraung-raung.

Pak Syamsu buru-buru mendekatinya.

“Sedang apa kamu, Panji?! Cepat habisi dia!! Pria berkuncir itu sangat berbahaya!!! Dia telah menghabisi banyak nyawa anggota kita!!!” seru Pak Syamsu panik.

“Ta..tapi..” jawab Panji ragu.

“Sudahlah, biar aku saja!” sanggah Pak Syamsu.

Pak Syamsu kemudian mengambil pistol yang tergeletak di dekatnya. Dia menghampiri si ‘Pelempar Pisau’ yang masih meronta-ronta di tanah. Pak Syamsu berdiri tepat di sampingnya. Mengarahkan moncong pistolnya ke kepala lawannya.

“Sebenarnya ‘keadilan’ itu apa?? Apa yang kalian bela, wahai ‘pembela keadilan’?” tanya Pak Syamsu beretorika, memberi perkataan terakhir sebelum menghabisi ‘pembela keadilan’ yang sedang tersungkur.

Ditariknya pelatuk pistol itu.

Namun tidak terjadi apa-apa. Tidak ada bunyi letusan pistol. Tidak ada lontaran peluru. Tidak ada serbuk mesiu yang terlempar. Pistol itu kosong.

Pak Syamsu sedikit terkejut, dia lengah.

Sialnya, di dekat posisi si ‘Pelempar Pisau’ terbaring, ada mayat dengan pisau yang masih tertancap di dadanya. Dengan cepat si ‘Pelempar Pisau’ mencabut pisau itu dengan tangan kirinya. Dalam sekejab dilemparkannya pisau itu ke arah dada Pak Syamsu.

Pak Syamsu bereaksi meskipun sedikit terlambat. Dia mencoba menghindar namun pisau itu lebih cepat. Pisau itu pun menancap di perut pria tua itu, memang sasarannya sedikit meleset namun tetap saja fatal. Pak Syamsu jatuh terduduk.

“Pak Syamsuu!!!” Panji berteriak histeris menghampiri rekannya.

Sementara itu si ‘Pelempar Pisau’ bangkit dengan sempoyongan. Dia kemudian menuju mayat-mayat lainnya untuk mengambil kembali pisaunya.

“Ga bunuh dua orang dengan satu pisau, bullshit!!! Buat apa pake prinsip buat lawan penjahat!!!” teriaknya.

Panji pun kesal. Dia salah karena mengharapkan prinsip fairplay dari seorang ‘pembela keadilan’. Dengan singkat Panji berpikir manakah yang harus diprioritaskan. Menghabisi musuhnya atau menolong rekannya. Tidak butuh waktu lama bagi Panji untuk memutuskan. Dia memilih untuk menyelamatkan nyawa Pak Syamsu.

“Tenanglah, Pak! Di dekat sini ada Rumah Sakit Mitra Keluarga! Kita masih sempat!!” kata Panji cemas.

“...”

Pak Syamsu tidak menjawab apa-apa. Tubuhnya gemetar luar biasa. Keringat dingin terus mengalir. Jantungnya berdetak sangat cepat. Dia sadar, kondisinya sangat kritis.

Panji bertindak dengan cepat, dibopongnya badan Pak Syamsu. Dia pun menuju motor mereka yang tergeletak beberapa meter dari sana. Saat Panji hendak mendirikan motor, tiba-tiba sebuah pisau terbang cepat menujunya. Dengan sigap ditendangnya pisau itu sehingga pisau itu terhempas. Dari kejauhan tampak si ‘Pelempar Pisau’ sudah siap dengan belasan pisau lainnya. Tubuhnya masih sempoyongan tapi tatapan matanya tetap ganas. Tangan kanannya patah sehingga dia hanya bisa melempar pisau dengan tangan kirinya. Hal ini memberi sedikit waktu untuk Panji.

Sambil menghindari atau menepis lemparan-lemparan pisau musuhnya, dia pun menghidupkan motornya, menaikinya. Dengan hati-hati diletakkannya Pak Syamsu di belakangnya. Posisinya dikondisikan agar pisau tidak semakin menancap di perut. Dengan satu putaran gas, motor pun melaju meninggalkan medan pertempuran berdarah. Pisau-pisau masih terbang mengincar mereka, namun semuanya hanya mengenai angin saja.

Panji semakin jauh dari si ‘Pelempar Pisau’ perlahan-lahan hilang dari pandangannya.

“SIAAL!! SIAALAAAANN!!! Lu pikir bisa kabur?!! Gua bisa terbang pake sepatu ini!!!”

Si ‘Pelempar Pisau’ kemudian menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Sepatu yang dipakainya adalah sepatu canggih yang dimiliki setiap ‘pembela keadilan’ yang seharusnya bisa membuat orang yang memakainya terbang dengan mudah di udara. Namun berkali-kali dihentakan pun, sepatu itu tidak merespon. Tidak ada bunyi WHUUSH sebagaimana seharusnya. Sepertinya sepatu itu rusak. Mungkin sewaktu terbentur keras tadi.

“SS...SIAAAALLAAN!!!!! SEPATU ga GUNAA!!!!!” teriaknya penuh emosi.

Andai saja si ‘Pelempar Pisau’ punya ‘kesaktian’ untuk menghidupkan orang mati, pastilah dia sudah menggunakannya untuk menghidupkan semua mayat yang bergelimpangan di sekitarnya. Untuk dibunuh kembali sebagai pelampiasan emosinya tentunya. Dia sangat-sangat kesal.

***

[Tengah Malam, di jalan menuju Rumah Sakit Mitra Keluarga]

Panji belum memiliki SIM untuk mengendarai motor, namun dia tidak memerdulikan hal itu. Saat ini nyawa rekannya jauh lebih penting. Motor itu melaju kencang menerobos hujan.

“Pa...Panji... dengar..kan per..moho..nan ... ter..a khir..ku...” kata Pak Syamsu terbata.

“Tidak!!!! Tidak ada permohonan terakhir!!! Rumah Sakit sudah dekat! Jangan ngomong macem-macem!!” balas Panji panik.

Namun Pak Syamsu tidak mengindahkan Panji, dia tetap meneruskan perkataannya.

“U..uangku yang da..ri organisasi, masukkan k..ke kas organisasi... uang halal..ku untuk keluarga..suruh si Udin mengatur pe..pembagian wa..warisan secara Islami.. di..dia ngerti soal itu...”

“Dibilangin jangan ngomong macem-macem! Sebentar lagi kita sampai!!” Panji semakin panik, dia tidak mau menerima kenyataan bahwa rekannya sedang meregang nyawa.

“Pi..pisau ini ada lambang ‘pembela keadilan’nya.. Rumah Sakit tak akan mau nerima pa..pasien.. penjahat... Pi..pisau ini bukti je..jelas..’

Pak Syamsu kemudian memegang pisau yang menancap di perutnya.

“Kalau kamu memba..waku ke rumah sa..kit, pisau ini jadi bukti kalau ka..mu ju..juga penjahat..”

“Hei, hei, Pak Syamsu, kamu mau apa??! Hentikan!!”

Dengan tenaga terakhirnya, Pak Syamsu pun mencabut pisau itu dari perutnya. Kemudian dia melempar pisau itu jauh-jauh.

Darah pun mengalir deras dari perut pria tua itu.

“Tiidaaaaaak!!!!” teriak Panji.

Sebagian besar penyebab kematian pada luka tusukan adalah akibat hilangnya darah dalam jumlah besar. Andai saja Pak Syamsu tidak mencabut pisau itu mungkin dia masih bisa tertolong. Tapi sebagai gantinya, Panji yang menolongnya, akan ditangkap karena menolong penjahat yang telah ‘diadili’ oleh para ‘pembela keadilan’. Pak Syamsu memilih untuk tidak diselamatkan.

***

[Tengah Malam, Rumah Sakit Mitra Keluarga]

Dengan tergesa-gesa Panji memarkir motornya. Digotongnya Pak Syamsu ke dalam rumah sakit. Dibukanya pintu depan rumah sakit dengan kencang, mengagetkan beberapa perawat dan dokter yang sedang jaga malam di sana. Darah dari bekas luka tusukan membasahi tubuh keduanya. Melihat itu dokter dan perawat yang ada di sana langsung menghampiri.

Namun ketika mereka memeriksa tanda-tanda vital pria dengan luka di perut, segeralah mereka mengetahui bahwa sang pria sudah tidak bernyawa. Nafasnya tidak ada, denyutnya hilang, jantungnya tidak berdetak.

Kaki Panji pun lemas seketika. Dia terjatuh dengan posisi berlutut. Kedua tangannya menggenggam, menghantam lantai rumah sakit. Air matanya mengalir.

“Sebenarnya apa ‘keadilan’ itu?? Apa yang kalian bela, wahai para ‘pembela keadilan’?!”

Dalam hati Panji terus mengulangi pertanyaan retoris yang didengarnya tadi dari Pak Syamsu.


[1] Sumi = sudut/pojok Otoshi = bantingan

Read previous post:  
0
points
(3151 words) posted by hewan 6 years 46 weeks ago
Tags: Cerita | Novel | kehidupan | hewan | HPK | naskah-peti-es | sue | superhero
Read next post:  
Be the first person to continue this post