Salvator Sorcerer : #4. Masa Lalu part. 2

Brandon, Meenie, dan Sessy pulang sekolah bersama. Kebetulan rumah mereka satu kompleks dan tidak jauh jaraknya. Langit siang itu terlihat mendung, awan gelap memayungi langkah-langkah kecil mereka. Angin berhembus lumayan kencang, daun-daun dari pohon oak di sepanjang jalan berguguran terkena terpaan angin.

Tidak tampak aktivitas seorang pun siang itu. Udara benar-benar dingin, membuat Sessy dan Brandon merapatkan mantel mereka. Sementara Meenie menyesal karena hari itu ia mengenakan T-shirt tipis yang dilapisi sweaterpink tipis. Ia seharusnya memperhatikan ramalan cuaca.

“Padahal tadi sebelum pulang langit terlihat cerah,” protes Meenie.

“Itukan tadi, sekarang sudah beda,” Sessy lagi malas menanggapi keluhan Meenie yang tiada henti. Gadis itu menatap langit yang semakin gelap. Tetapi matanya menangkap sesuatu yang aneh. 4 ekor burung gagak terbang mengitari mereka. Brandon yang menangkap gelagat Sessy langsung bertanya.

“Ada apa?”

“Apa kau tidak merasa kita sedang diikuti kawanan gagak?” Sessy menatap Brandon heran. Laki-laki itu pun mengadahkan kepalanya ke langit. Sessy benar, ada 4 ekor gagak yang terbang mengitari mereka. Namun belum sempat menanggapi pertanyaan Sessy, Brandon dikejutkan oleh suara kasar yang memanggilnya dari arah belakang.

“Hey, PENDEK!!” Itu Karl, ia dan ketiga anak buahnya mengejar Brandon dari belakang menaiki sepeda.

“Celaka, mereka masih mengejarku!” Brandon buru-buru berlari, Sessy dan Meenie pun terpaksa ikut dibelakangnya. Namun kecepatan mereka jelas kalah, dalam hitungan menit keempat sepeda Karl dan teman-temannya sudah mengepung mereka.

“Heh, heh... kau sudah tidak bisa kabur lagi,” Karl menyeringai ganas. Meenie, Brandon, dan Sessy merapatkan tubuh masing-masing, mereka terpojok. Karl dan ketiga anak buahnya –John yang bertubuh paling besar, Benefith yang paling kurus, dan Eider yang paling tinggi, ketiganya turun dari sepeda dan berjalan mendekati mereka.

 “Kau harus diberi pelajaran hari ini, Tuan Realsteen,” Karl mengepalkan tinjunya, Brandon langsung memasang posisi melindungi Meenie dan Sessy. “Tarik dua perempuan itu dan jauhkan mereka! Kita hanya perlu dengan si pendek ini!” perintah Karl, garang. John dan Eider langsung menarik lengan Meenie dan Sessy.

 “Argh! Lepaskan!”Sessy berteriak marah, ia meronta dan berkali-kali melayangkan tinjunya dengan susah payah.

 “Jangan sentuh aku!” Meenie berusaha melawan tarikan dari John. Sementara itu, Karl sudah menarik kerah baju Brandon dan mengangkat tinjunya.

“Hentikan Karl,” tiba-tiba Brandon mengeluarkan suaranya, matanya berkaca-kaca menatap laki-laki itu, “Aku tahu kau orang baik, kumohon hentikan.” Karl terhenyak mendengar ucapan Brandon. Wajahnya sedikit melunak.

 “Aku tahu kau sering mengambil kerja sambilan di Windy’s Night, awalnya aku tidak percaya kau bekerja sebagai pelayan kafe, padahal sehari-hari kau sering menjahili aku dan anak-anak lain, tetapi ternyata kau bisa tersenyum ramah juga kepada orang-orang.” Brandon tersenyum tulus. Karl jadi merasa tidak enak. Ia tidak menyangka Brandon tahu tentang pekerjaannya, tetapi karena itu ia menyadari, kalau seandainya ia memukul Brandon dan menyebabkan kekacauan, ia bisa dipecat. Ditahannya pukulan itu. Perlahan ia kendurkan cengkramannya. John, Eider, Benefith, Sessy dan Meenie dibuat terkejut oleh adegan tersebut.

“Terima kasih, Karl,” Brandon lega karena laki-laki itu sudah melepaskannya. Karl pun memberi perintah kepada John dan Eider untuk menjauhi Meenie dan Sessy. Keduanya menurut. Meenie dan Sessy masih dibuat terkagum-kagum oleh tindakan Brandon. Hanya dengan ucapan, ia bisa membuat Karl –si brandal sekolah, mengurungkan niatnya dan melepaskan mereka.

 “Ayo pergi!” Karl berbalik, ketiga anak buahnya buru-buru mengikuti. Tetapi Brandon tiba-tiba merasakan bahaya datang. Terdengar suara lecutan keras dari langit, Brandon mengadahkan kepalanya dan ia melihat lidah petir yang menyambar ke arah Karl. Buru-buru ia melompat dan menubruk tubuh Karl agar terhindar dari petir itu.

Ledakan terjadi ketika petir itu menabrak tanah. Meenie dan Sessy berteriak kaget, sementara John, Benefith, dan Eider memburu ke arah Karl dan Brandon yang tersungkur tidak jauh dari lokasi ledakan itu.

 “Karl!” John memanggil pimpinannya. Karl bangkit hampir bersamaan dengan Brandon. Keduanya sempoyongan karena terjatuh cukup keras. Namun ketegangan tidak henti sampai disitu.

Keempat gagak yang terbang di atas mereka tiba-tiba melesat turun, perlahan tubuh mereka diselimuti gelap lalu berubah menjadi siluet empat sosok manusia. Keempat orang itu mendarat di tanah, siluet perlahan berubah menjadi bentuk jubah yang membungkus tubuh keempat orang tersebut. Kulit mereka pucat, jubah mereka berwarna gelap, dan nyaris tidak terasa hawa kehidupan dari mereka.

Meenie dan Sessy beringsut mundur, keduanya sampai terjatuh ke tanah karena salah seorang berjubah itu mendekat ke arah mereka. Sementara sosok yang berjubah paling besar mendatangi John, Benefith, dan Eider. Saking takutnya, mereka bertiga sampai tidak bisa bergerak. Dua orang berjubah lainnya mengepung Karl dan Brandon.

 “Siapa mereka?” suara Karl terdengar gemetar ketakutan. Brandon hanya melotot ngeri saat menyaksikan orang berjubah yang paling tinggi mengeluarkan sinar dari kedua tangannya. Sinar itu membentang seperti tali lalu mengikat tubuh Eider, Benefith dan John. Ia mengucapkan kata-kata aneh dari mulutnya, sejurus kemudian, ketiga orang itu di aliri listrik dan ketiganya menjerit-jerit kesakitan.

 “HENTIKAN!” Karl berseru marah. Ia nekat berlari menerjang orang berjubah yang paling tinggi itu. Hanya dengan hentakan kecil, tubuh Karl langsung terpelanting ke tanah.

 “Kyaaa!!” terdengar jeritan Meenie. Brandon refleks menoleh ke tempat kedua gadis itu. Orang berjubah yang ada disana mengeluarkan kobaran api yang menyelimuti pergelangan tangannya. Ia tembakkan beberapa bola api ke arah Sessy dan Meenie. Kedua gadis itu pontang-panting menghindari serangan orang tersebut.

Wajah Brandon menjadi pias. Benefith, Eider, dan John sudah tidak sadarkan diri. Ketiganya tergeletak begitu saja di tanah. Tubuh mereka bertiga kusam dan agak kehitaman, tercium bau gosong yang menyengat. Brandon sampai menitikkan air matanya, ia merasa takut dan tidak berdaya.

 “Siapa kalian?! Mau apa kalian?!” jeritnya marah. Ia bangkit dari posisi duduk. Matanya memandang tajam kepada orang-orang berjubah itu. Orang yang berjubah paling tinggi beralih ke arah Brandon. Berbeda dengan ketiga orang berjubah lainnya, wajah orang itu ditutup oleh topeng perak, dan ia berbicara.

 “Kau bawa bola kristal itu?” suaranya terdengar berat dan parau. Brandon langsung tahu apa yang orang itu inginkan. Ia mengangguk.

 “A, aku akan berikan, asal ka, kau lepaskan ka-mi,” ucap Brandon, terbata-bata. Kakinya gemetar ketika orang itu berdiri hanya berjarak 1 meter darinya. Rasa dingin dan mencekam menjalar cepat di tubuhnya. Ia menggigil. Orang itu menjulurkan tangannya yang pucat dan berkeriput. “Berikan padaku!”

Brandon menurut, cepat-cepat ia bongkar tasnya dan ia keluarkan bola kristal bening itu. Tanpa ragu, ia berikan bola kristal itu.

 “Hahahahaa..!!” tiba-tiba orang berjubah tinggi besar itu tertawa membahana. Brandon terkejut dibuatnya. Tatapan matanya yang licik dan dingin beradu dengan Brandon. “Bunuh mereka semua!” Perintahnya, kejam.

 “TIDAK!!” Brandon berusaha meraih bola kristal itu lagi, tetapi orang itu hanya mengayunkan lengannya pelan dan membuat Brandon terlempar ke belakang. “Urusanku sudah selesai disini, sekarang aku akan kembali ke duniaku!”

Ia melayangkan bola kristal itu di depannya. Lalu ia rapalkan mantra yang cukup panjang. Beberapa lama kemudian, muncul retakan di langit. Retakan itu semakin lebar dan meluas. Sampai kemudian, muncul sinar dari retakan itu. Tanah-tanah dan dedaunan yang berserakan di sekeliling mereka terangkat kelangit, seakan terhisap oleh lubang itu.

Tubuh orang itu pun melayang kelangit, Benefith, Eider, dan John yang sudah tidak bernyawa ikut melayang ke langit. Sementara, ketiga orang berjubah lainnya mengumpulkan Karl, Meenie, dan Sessy di satu tempat. Karl yang baru tersadar dari pingsannya, terkejut karena merasakan hawa panas yang luar biasa. Mereka bertiga dikepung oleh kobaran api. Ketiga orang berjubah itu mengambil jarak, masing-masing dari mereka merapalkan mantra, lalu muncul sinar keunguan di ujung jari mereka. Sinar itu makin terang lalu berubah menjadi percikan petir.

Brandon yang melihat keadaan ketiga temannya dalam bahaya langsung bangkit dan susah payah berlari ke sana.

“Hen..tikan..,” suaranya terdengar parau, ia sudah tidak memiliki cukup tenaga. Langkahnya terasa berat, tetapi matanya masih bisa melihat jelas ketiga orang berjubah itu melontarkan petir ke arah tiga temannya. Rasa takut dan cemas menyelimuti hatinya. Teriakan Meenie dan Sessy menggema di telinganya. Kali ini ia merasakan sakit di dadanya. Ini gara-gara aku! Mereka jadi begini gara-gara aku!

 “AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN MEREKA MATI!”

Muncul sinar terang dari permukaan tempat Brandon berpijak. Tiba-tiba bola kristal yang ada pada orang berjubah itu bersinar terang. Seakan tahu pemiliknya, bola kristal itu melesat kembali ke arah Brandon. Sambaran petir yang mengarah ke Sessy, Meenie, dan Karl terhenti oleh tameng yang terbuat dari tanah. Brandon muncul dengan bola kristal melayang di tangan kirinya.

Bola kristal itu mengeluarkan sinar kemerahan, sejurus kemudian dari langit berjatuhan batu-batu yang terbakar api membara. Salah seorang berjubah itu tertimpa batu dan seketika terbakar. Menyadari situasi yang mulai berbahaya, kedua orang berjubah yang tersisa melontarkan berbagai serangan ke arah Brandon.

Bola-bola api, es dan sambaran petir melayang ke arahnya. Bola kristal yang melayang di tangan kri Brandon berganti warna dengan cepat dari kemerahan menjadi biru lalu menjadi coklat, kemudian perak, dan yang terakhir hijau. Bersamaan dengan perubahan serangan itu, muncul 3 lingkaran berwarna di depan Brandon.

Lingkaran yang biru melontarkan pusaran air yang seketika memadamkan bola-bola api, lingkaran yang coklat melemparkan bola-bola batu dan saling berhantaman dengan bola-bola es, lingkaran yang perak mengeluarkan pusaran angin yang menghalau sambaran petir, terakhir muncul lingkaran hijau di bawah kaki kedua orang berjubah itu.

Muncul sulur-sulur tanaman dari lingkaran hijau itu, dengan cepat tubuh kedua orang berjubah itu terlilit oleh sulur tanaman tersebut. Dalam posisi terkunci, mereka sulit melepaskan serangan seperti tadi.

Brandon mengakhirnya dengan serangan lontaran naga api yang menyulut tubuh kedua orang itu. Dari atas langit, meluncur burung api dengan jumlah puluhan, Brandon langsung menduga pelakunya orang berjubah yang tinggi itu.

Dengan cepat ia bayangkan naga besar dari air, bersamaan dengan itu bola kristal berubah warna menjadi biru, lalu muncul lingkaran bersinar yang menjurus ke arah langit, dari dalam lingkaran itu muncul naga air besar yang seketika melahap burung-burung api tersebut.

Memanfaatkan serangan naga air barusan, orang berjubah yang terakhir melontarkan petir yang maha dahsyat ke arah mereka. Petir itu semakin besar dan kuat karena menghantam naga air milik Brandon. Hujan petir seketika jatuh ke arah mereka.

Bola kristal Brandon berubah warna menjadi keperakan, muncul lingkaran bersinar besar di atas mereka berempat, lalu berhembuslah angin kencang yang seketika menerbangkan mereka. Petir-petir menghantam ke permukaan tanah, menciptakan ledakan dan kehancuran di sekeliling mereka. Permukaan tanah berlubang-lubang, pohon-pohon tumbang dan terbakar.

“Kekuatan bola kristal memang menakjubkan,” puji orang berjubah itu. Brandon hanya menatap sengit orang itu, sedikit lagi ia akan mencapai lubang yang ada di langit.

“Pergilah dan jangan kembali!!” Lingkaran bersinar keperakan muncul lagi, kali ini keluar hembusan angin yang kuat dan menerbangkan orang berjubah itu. Orang itu tertawa terbahak-bahak, Brandon merasa ada yang tidak beres.

“Terima kasih atas hembusan anginnya,” ucap orang itu. “Aku pinjam satu temanmu untuk menemaniku di Eternity!”  Brandon terhenyak, ia baru sadar kalau ketiga temannya ikut terlontar ke udara, di edarkan pandangannya ke sekeliling. Meenie dan Sessy melayang tidak jauh darinya, tetapi Karl?

Wajah Brandon memucat, Karl sudah hampir mencapai lubang tersebut. Karl meronta-ronta, tubuhnya seakan tidak bisa melawan tarikan lubang tersebut. “Karl!!” Brandon berteriak memanggil, tetapi Karl hanya menatap Brandon putus asa. Ia menggeleng dan tersenyum lemah. Walau tidak mengucapkan sepatah kata pun, Brandon tahu ia berusaha menyampaikan perpisahan.

 “TUNGGU!” Brandon panik, ia tidak bisa memikirkan satu pun cara untuk menutup lubang itu. Namun sudah terlambat, tubuh Karl sudah tertelan ke dalam lubang bersama dengan orang berjubah itu. “KARL!!!!!”

Perlahan lubang itu menutup kembali, Brandon, Meenie dan Sessy kembali mendarat ke permukaan. Sehilangnya lubang itu, mendung di langit juga berkurang. Brandon terduduk lemas, ia menjambak rambutnya sendiri lalu menangis keras-keras.

Meenie dan Sessy datang menghiburnya. Brandon merasa sedih dan marah. Ia tidak bisa menolong Karl, bahkan John, Benefith, dan Eider tewas. Sessy dan Meenie terkena terkena luka bakar dan ia sendirilah yang menyebabkan semua itu terjadi.

Bola kristal bening yang ia minta dari neneknya, ternyata membawa bencana. Mereka seharusnya tidak mati! Akulah seharusnya yang orang itu bawa! Brandon tidak henti menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu.

 “Sudahlah Brandon, tidak ada yang tahu kalau bola kristal itu yang mereka inginkan,” Sessy berusaha menenangkan Brandon yang masih terguncang hebat, walau ia sendiri masih merasa takut dan tidak percaya. Sedangkan Meenie sudah menangis sejak tadi, ia merangkul Brandon yang terduduk lemas di atas rumput.

Awan gelap yang menyelimuti langit perlahan menghilang. Meenie dan Sessy buru-buru menyeret Brandon dari tempat itu. Tidak lama, para penduduk di perumahan itu keluar dan menemukan bekas pertarungan mereka. Tetapi anehnya, mereka tidak menyadari kalau kekacauan di tempat itu disebabkan oleh penyihir. Mereka malah mengira tanah-tanah yang hancur berlubang, pepohonan yang tumbang dan terbakar disebabkan badai yang ganas.

Sessy dan Meenie memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang menyadari kejadian sebenarnya. Setelah benar-benar yakin, mereka keluar dari tempat persembunyian dan kembali ke rumah masing-masing. Orang-orang menganggap itu sebagai bencana alam biasa, Brandon, Meenie, dan Sessy berjanji merahasiakan semua kejadian pada hari itu.

Sementara itu, polisi menyelidiki keberadaan Benefith, Eider, John, dan Karl yang hari itu menghilang. Namun mereka tidak berhasil menemukannya. Brandon tidak mungkin menjelaskan kebenaran yang terjadi, orang-orang akan menganggap ia gila.

Sejak kejadian itu, Brandon menghabiskan waktunya dengan mengurung diri di kamar. Ia izin sekolah selama seminggu. Beberapa hari ia mendapat mimpi buruk dan kejadian hari itu terulang kembali di kepalanya. Brandon berusaha menganggap semuanya tidak terjadi, tetapi bola kristal itu kerap kali bersinar dan melantunkan ucapan-ucapan asing di telinga Brandon.

Pernah suatu hari Brandon melafalkan suara yang bola kristal itu pernah keluarkan. Tiba-tiba muncul lingkaran biru di depannya dan keluar semburan air dari lingkaran itu. Brandon termangu heran.

 “Apa itu, mantra?” Brandon mempraktekkan sekali lagi. Kali ini ia mengucapkan kalimat yang berbeda. Muncul lingkaran perak disebelah lingkaran biru itu, lalu berputar pusaran angin kecil di atasnya. Brandon berdecak kagum. Ia semakin tertarik mempraktekkan satu per satu mantra yang ia sudah ingat. Akhirnya ia bisa menggunakan sihir dengan kemampuannya sendiri.

Seminggu berlalu dan Brandon kembali ke sekolah. Ia sudah berbeda dengan Brandon yang dulu. Langkahnya lebih tegap dan percaya diri, ia tidak menundukkan kepala atau malu-malu lagi. Sessy dan Meenie agak heran melihat perubahan pada laki-laki itu.

Kepercayaan diri membawa Brandon ke casting di sebuah agen periklanan. Ternyata ia terpilih. Sedikit demi sedikit ia menjadi terkenal dan populer. Hingga satu tahun kemudian, ia benar-benar menjadi aktor sebuah film. Bahkan karena suaranya yang merdu, ia ditawari menjadi penyanyi.

Tetapi Brandon tidak pernah membeberkan tentang dirinya kepada siapa pun. Hanya Sessy dan Meenie yang tahu.

“Hai, aku Steve,” laki-laki bermata sipit itu memperkenalkan diri.

“Brandon,” balasnya sambil menyalami Steve.

“Terima kasih atas tawaran pekerjaannya,” ucap Steve. “Sebagai asisten aku akan berusaha keras.”

“Santai saja, pekerjaanmu tidak seberat manajer, paling hanya menemaniku bermain di studio atau yah –sesuatu yang menyenangkan, aku tidak suka melakukan hal-hal yang terlalu serius,” Brandon tersenyum.

“Oke!”

Steve adalah sepupu Brandon. Ia dikirim oleh orang tuanya untuk bekerja di tempat Brandon. Usianya sebaya dengan Brandon, dan ia orang yang menyenangkan. Mereka cepat akrab dan Steve tahu kalau Brandon adalah seorang Sorcerer.

Dia tidak sengaja menyaksikan Brandon berlatih sihir, dan Brandon tidak bisa mengelak. Tetapi Steve berjanji tidak akan menceritakan hal itu pada siapa pun. Ia bahkan membantu Brandon berlatih dengan berjaga-jaga disekelilingnya. Brandon tidak merasa keberatan, ia justru tertolong karena ada yang mau mengawasinya.

Dan sejak saat itulah, kehidupan Brandon sebagai Sorcerer, dimulai.

 

 

Tbc......

Read previous post:  
28
points
(2313 words) posted by raven_hill 6 years 38 weeks ago
56
Tags: Cerita | Cerita Pendek | petualangan | sihir fantasi persahabatan
Read next post:  
80

nextt????

70

>_<