Salvator Sorcerer : #5. Teman

Brandon berada di sebuah ruang yang gelap dan suram. Tidak terlihat apa pun selain kegelapan. Ia mulai panik mencari apa pun yang bisa ia raih di sekelilingnya. Tubuhnya serasa melayang di ruang hampa, kedua kakinya sudah digerakkan, tetapi ia merasa tubuhnya tidak berpindah tempat. Tiba-tiba terdengar suara tawa membahana. Brandon seperti mengenali suara tawa itu.

“Kau masih bertahan hidup, bocah?” Percikan warna warni muncul di sekeliling Brandon. Percikan itu menyatu ke satu arah, saling melebur, lalu menyebar lagi. Percikan itu menciptakan gambar sosok yang Brandon kenali. Jubah hitamnya berkibar, tubuhnya tinggi dengan kulit pucat agak berkeriput.

“Kau...,” Brandon tercekat menyaksikan sosok yang muncul dihadapannya. Walau sudah 6 tahun berlalu, tidak ada yang berubah dari penampilan orang berjubah itu.

“Khahaha.. Lama tidak bertemu Sorcerer muda,” sapa orang berjubah itu. Brandon tidak membalas, tatapannya berubah menjadi tajam.

“Kau membuatku kembali ke Eternity tanpa membawa apa pun!” suara berat orang berjubah itu meninggi, “Hanya bola kristal Salvator Sorcerer yang bisa menggabungkan 8 elemen sekaligus untuk membuka portal Eternity, tanpa bola itu, aku membutuhkan waktu yang lama untuk kembali ke dunia manusia.”

“Salvator Sorcerer? Eternity?” Brandon mengernyitkan dahi. “Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti sama sekali!”

“Bwahahahaha! Kau tidak tahu apa itu Salvator?! Apa yang mereka lihat darimu sampai kau ditunjuk sebagai pewaris Sorcerer Genie!” orang berjubah itu kembali tertawa, Brandon tahu dirinya baru saja dihina, tetapi ia tidak melawan, apa yang dikatakannya benar.

“Aku kasihan padamu, Sorcerer Genie pasti tidak meninggalkan pesan apa pun untukmu sampai kau tidak menyadari tanggung jawabmu sebagai Salvator Eternity!” orang berjubah itu bersuara lagi. “Aku tidak akan memberitahumu, justru aku bisa memanfaatkan kebodohanmu untuk mengambil bola kristal itu lagi!”

Brandon menggeram kesal, aura putih mulai menyelubungi tubuhnya, ia siap melontarkan beberapa serangan sihir.

“Hahahaha! Percuma menyerangku! Sosok yang kau lihat di depanmu, hanyalah ilusi yang kukirim melalui telepati!” kata orang berjubah itu seakan bisa membaca pergerakan Brandon.

“Berisik!” Brandon tidak menghiraukan.

“BOLIDAN!” ia berseru sambil menembakkan beberapa bola api. Tetapi ketika mengenai tubuh orang berjubah itu, bola api Brandon menembusnya dan hilang tertelan kegelapan.

Brandon tertegun di posisinya. Aura putih di tubuhnya memudar. Wajahnya menyiratkan kemarahan, tetapi ia tidak melakukan apa pun terhadap orang orang berjubah itu.

“Aku hanya ingin menyampaikan keberadaanku sekarang,” kata orang berjubah itu lagi, “Saat ini aku berada di Spring Valley, serangan-serangan yang kau alami bukanlah suatu ketidaksengajaan, aku yang mengirim mereka! Dan kau harus berhati-hati, gadis berambut merah itu bisa menjadi umpan buatmu! Wahahahaha!” tiba-tiba sosok orang berjubah itu melebur dan meledak menjadi kembang-kembang api kecil.

“Nellie?” Brandon mendadak ingat dengan gadis itu. Orang yang menyerang mereka di sekolah pasti sudah memberitahu keberadaan Nellie. Rasa takut dan cemas menjalar seketika. Ia tidak bisa membayangkan nasib Nellie akan berakhir sama seperti Karl dan ketiga temannya.

“Tidak, jangan lagi,” suara Brandon bergetar, lututnya lemas dan ambruk seketika. Kepalanya menggeleng kuat-kuat menolak bayangan Nellie yang ketakutan dan menjerit minta tolong padanya. Bayangan Karl juga muncul di kepalanya, saat-saat terakhir ketika laki-laki itu terhisap ke dalam lubang yang ada di langit. “Hentikan...” 

“HENTIKAN!!”

_______________________________________________________________________

Brak! Brandon terjatuh dari kursi. Matanya mengerjap dengan cepat dan ia langsung berdiri. Perlahan ia mengontrol napasnya agar tenang. Wajahnya pucat dan keringat dingin membasahi bajunya. Setelah agak tenang, Brandon baru sadar kalau ia bermimpi. Orang berjubah hitam itu pasti memasuki mimpinya.

Ia tidak bisa berlama-lama dirumah, ia harus segera ke sekolah dan menemui Nellie. Gadis itu dalam bahaya. Dan yang lebih penting, bola kristal. Ia memutuskan untuk membawa bola kristal itu. Mengingat orang berjubah itu mengincar bola kristalnya, lebih baik kalau ia tidak meletakkannya dirumah agar keluarganya tidak diincar.

Brandon sedang mengenakan seragam ketika pintu kamarnya diketuk. Suara laki-laki terdengar dari luar memanggil namanya. Brandon segera melangkah ke arah pintu dan membukakannya.

“Selamat pagi Tuan Brandon,” sapa seorang pria.

“Selama pagi Larrent,” balas Brandon seraya masuk ke dalam kamarnya. Ia biarkan pintu kamarnya terbuka dan pria bernama Larrent itu masuk. Larrent adalah manager baru Brandon. Sebagian rambut pria itu sudah memutih, kulitnya pucat dan tubuhnya kurus tinggi. Manager Brandon yang sebelumnya, Ralf mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas. Tetapi Brandon tidak ambil pusing soal itu, karena Larrent segera dipekerjakan sebagai manager barunya.

“Aku hanya ingin memberitahumu,” kata Larrent, “Jadwal tur sudah kami siapkan dan kau bisa mengecek ke Steve.” Mata Larrent menjelajahi seisi ruang Brandon yang luas. Brandon hanya mengangguk sambil mengenakan sepatunya.

“Terima kasih Larrent, aku akan melihatnya nanti,” jawab Brandon. Ia meraih tasnya dan memasukkan bola kristal bening itu ke dalam tas.

“Tuan Brandon, kau suka sekali mengoleksi barang antik,” komen pria itu dengan nada merendahkan.

“Bola kristal ini?” Brandon langsung tahu barang apa yang Larrent maksud. “Ini pemberian nenekku, mana mungkin aku menganggapnya tidak berharga.”

“Maaf, aku tidak tahu,” Larrent menundukkan kepalanya.

“Ya, tidak masalah,” Brandon bangkit sambil mengenakan ranselnya. “Aku berangkat dulu.”

“Iya, berhatilah-hatilah, tuan Brandon.”

Brandon menghentikan langkahnya sesaat di depan pintu. Ia berbalik menatap Larrent. Ditatapnya mata pria itu. Entah mengapa, ia merasakan sesuatu. Tetapi tidak di anggapnya perasaan itu dan ia pun segera pergi meninggalkan kamarnya.

*******

Brandon mempercepat langkahnya menelusuri lantai 2. Begitu sampai di depan kelas Nellie, dicarinya gadis itu.

“Ada yang melihat Nellie?” tanyanya. Teman-teman Nellie terbelalak kaget, di pikiran mereka hanya satu saat itu, sejak kapan aktor terkenal Brandon berteman dengan si pembuat masalah Nellie?

“Dia belum datang,” jawab salah satu teman Nellie diikuti anggukan beberapa anak lain. Brandon mendecak kesal. Kemana ia? Apa ia tidak menyadari kalau dirinya dalam bahaya besar? Rutuk Brandon dalam hati. Tidak lama kemudian, orang yang Brandon cari tiba di depan kelasnya.

Nellie terkejut ketika mata teman-temannya beralih seketika ke arahnya. Beberapa anak perempuan jelas menyiratkan tatapan marah dan benci. Nellie tidak tahu darimana atsmofer mencekam itu berasal, sampai ia menemukan sosok Brandon berbalik ke arahnya.

“Nellie!” suara Brandon berdesis karena berusaha menahan keterkejutannya. Ia langsung menghampiri gadis itu dan mencengkram pundaknya kuat-kuat. Nellie agak merasa kesakitan.

“Aduh, ada apa?” tanya gadis itu tidak mengerti.

“Syukurlah kau baik-baik saja,” Brandon menghela napas lega. Ketegangan di wajahnya mereda. Tetapi Nellie belum menemukan jawabannya. Dan perlakuan Brandon semakin membuat mencekam atsmofer di sekitarnya. Para siswi berbisik sambil melihat ke arah mereka, Nellie tahu beberapa dari mereka adalah fans Brandon, dan ia rasa mereka tidak terima dengan perlakuan Brandon kepadanya.

“Lebih baik kita cari tempat yang agak aman,” Nellie berbisik, “kau tahu, aku merasakan aura membunuh dari para fansmu.” Brandon mengedarkan kepalanya ke sekeliling. Nellie benar, tatapan tidak suka dan benci jelas tergambar di wajah para penggemar Brandon.

“Baiklah, ayo!” Brandon langsung menarik lengan Nellie dan mengajaknya pergi.

*******

Brandon membawa Nellie ke taman belakang sekolah. Taman itu cukup luas dan banyak aneka bunga yang ditanam. Ditengah taman terdapat kolam air mancur dan beberapa bangku untuk beristirahat. Bagian tengah taman dihubungkan oleh empat jalan stapak dari arah yang berbeda. Dipinggir jalan stapak ditanami pohon-pohon dan terdapat beberapa bangku kayu. Para siswa SMA Spring Valley suka menghabiskan waktu di taman ini, karena selain sebagai jalur menuju ke gedung lain, taman ini cukup nyaman dijadikan sebagai tempat beristirahat.

Brandon dan Nellie duduk di salah satu bangku kayu yang ada di samping jalan stapak. Disekeliling mereka tidak terlalu banyak orang. Setelah memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka, Brandon langsung menceritakan tentang masa lalunya dan mimpi yang ia dapat semalam.

Nellie hanya terperangah mendengar cerita Brandon. Semuanya terdengar tidak masuk akal, tetapi mengingat kejadian yang mereka alami kemarin, Nellie tahu kalau Brandon tidak mengada-ada. Brandon bahkan mengeluarkan bola kristalnya dan menunjukkan ke Nellie.

“Ini bola kristal yang mereka incar?” tanya Nellie sambil menimang-nimang bola kristal itu.
"Iya,” Brandon menunduk lesu, “gara-gara benda itu, teman-temanku tewas dan sekarang nyawamu terancam.”

“Kau jangan khawatir,” Nellie tersenyum padanya, “aku tidak selemah itu!”

“Mereka memiliki kekuatan yang sama denganku,” wajah Brandon terlihat muram, “sedangkan kau... hanya manusia biasa.”

“Kau jangan meremehkanku, bukankah selain diriku kau juga harus mengkhawatirkan kedua temanmu yang tahu tentang kekuatanmu juga?”

Brandon mengangkat wajahnya. Ia teringat dengan Sessy dan Meenie. Nellie belum ia beritahu soal Meenie. “Kau benar, mereka berdua juga harus diberitahu,” Brandon menoleh ke arah Nellie. “Ayo kita temui mereka!”

“Emm.. yang satu itu Sessy, lalu satunya lagi...,”

“Meenie!”

“MEENIE?!” Nellie hampir terlonjak dari tempat duduk. Perempuan sinis sok manis itu adalah salah satu orang yang mengetahui kekuatan Brandon. Wajah Nellie kusut seketika. “Meenie.. si cheerleader itu?” tanyanya lagi. Brandon mengangguk semangat.

“Kau mengenalnya juga? Syukurlah, berarti aku sudah tidak perlu mengenalkanmu padanya.”

“Ya, memang tidak perlu, lagipula aku tidak menyukainya!” nada bicara Nellie meninggi. “Dia menyebalkan, jangan-jangan rahasiamu tersebar gara-gara dia!”

“Lho?” Brandon terlihat bingung. “Apa kau memiliki hubungan yang buruk dengannya?”

“Sangat buruk! Dia itu ratu yang ingin berkuasa dan semua orang seakan dia anggap budak! Masa harus menundukkan kepala jika lewat di depannya?! Dia pikir siapa dirinya?! Menyebalkan!” Nellie cemberut, kesal.

“Wah, wah, 6 tahun jarang bertemu sepertinya ia sudah berubah drastis ya,” Brandon menatap ke arah langit. “Dulu ia orang yang baik lho, ramah dan suka tersenyum. Masa sih ia bersikap kasar begitu?”

“Kalau ia tidak begitu mana mungkin aku membencinya!”

“Yah, kau belum mengenalnya saja, dia tidak seburuk yang kau pikirkan.”

“Aku meragukan itu.”

“Baiklah, ayo kita temui mereka berdua!” Brandon bangkit dari tempat duduk.

“Aku tidak mau bicara dengannya!” Nellie masih keras kepala.

“Kau tidak usah bicara, biar aku saja,” Brandon menjawab enteng. Akhirnya mau tidak mau Nellie ikut menemui kedua orang itu.

******

Brandon diberitahu Sessy kalau ia dan Meenie sedang berada di perpustakaan. Brandon dan Nellie pun bergegas ke tempat itu. Perpustakaan siang itu sepi senyap. Hanya segelintir orang yang berada di sana. Ruangan itu dicat kotak-kotak berwarna cokalat tua yang dipadu dengan coklat muda dan cream. Lantainya di alasi karpet bermotif kotak-kotak berwarna coklat dan putih. Rak berisi buku-buku berjajar sesuai jenisnya. Meja-meja panjang berderet di tengah ruangan, di samping kanan pintu masuk terdapat meja petugas perpus dan di sudut ruangan terdapat sofa, sebuah meja kecil dengan TV didepannya.

Brandon dan Nellie menemukan Sessy sedang membaca sebuah buku di deret meja nomor dua. Disampingnya duduk seorang perempuan yang sudah tidak asing lagi, rambut emasnya yang sebahu tersibak setiap gadis itu menoleh ke arah lain. Bibirnya yang berwarna kemerahan alami adalah ciri khasnya. Meenie, –Ia  adalah orang yang pertama kali menyadari kehadiran mereka.

Wajahnya berubah muram ketika melihat Nellie. Brandon langsung menghampiri meja kedua orang itu diikuti oleh Nellie yang langsung memasang tampang sebal. Sessy mengangkat wajahnya dari buku yang ia baca. Raut gembira Sessy menyambut kedatangan Brandon dan Nellie.

“Tumben kau ada perlu,” celetuk Meenie ketika Brandon dan Nellie duduk berhadapan dengan mereka.

“Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian berdua,” jawab Brandon.

“Apakah ini berhubungan dengan dia juga?” Meenie terlihat resah dengan kehadiran Nellie. Jangankan menatapnya, Meenie bahkan menunjuk Nellie hanya dengan sedikit gerakan dari kepalanya.

“Tentu saja,” jawab Nellie, kasar. “Kau tidak suka dengan kehadiranku?”

“Aku alergi,” Meenie menjawab acuh. Mendengar itu Nellie bangkit, tangannya menjulur ke arah Meenie. Brandon dan Sessy buru-buru menghentikannya.

“Sudahlah, Nellie!” Sessy berusaha menahan gerakan Nellie.

“Hentikan, kalau kalian ribut, aku tidak bisa menceritakan masalahku!” Brandon menyela keributan itu. Akhirnya Nellie bisa ditenangkan.

“Meenie, sudahlah, apa kau tidak lelah memusuhinya terus?” tanya Sessy. Meenie tidak menjawab, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Nellie diam saja, ia berusaha tidak memperdulikan keberadaan Meenie.

“Kalian tahu aku sudah lama tidak membicarkan ini,” ucap Brandon, serius. “Tentang kekuatanku dan kejadian 6 tahun lalu.” Ekspresi Sessy dan Meenie berubah seketika. Raut wajah mereka menjadi serius.

“Semalam aku bermimpi ditemui orang berjubah itu, dia bilang akan kembali merebut bola kristal milikku. Ia juga mengancam akan menjadikan temanku sebagai umpannya, mungkin kali ini akan jauh lebih banyak memakan korban,” suara Brandon merendah. “Orang yang mengetahui kejadian sebenarnya 6 tahun lalu adalah kalian berdua.”

“Aku tidak mau,” Meenie tiba-tiba berbicara, “aku tidak mau terlibat dengan hal-hal itu lagi! Aku tidak mau!”

“Aku juga tidak ingin kalian terlibat!” Brandon berteriak, emosi. “Kalian harus menjaga diri baik-baik, mereka bisa menyerang sewaktu-waktu, terutama ketika aku tidak ada di samping kalian!”

“Apakah tidak ada petunjuk yang kau dapatkan ketika orang itu masuk kedalam mimpimu?” tanya Sessy. “Petunjuk yang bisa membawa kita mengakhiri masalah ini, atau minimal alasan mengapa ia menginginkan bola kristalmu.”

Brandon diam, berpikir sejenak. Ia berusah mengingat-ingat perkataan orang berjubah itu.

“Dia mengatakan sesuatu tentang portal antara dunia manusia dan Eternity, portal itu sulit dibuka karena membutuhkan penggabungan 8 elemen,” Brandon berhenti sebentar, “Lalu ia menyebutkan Salvator Sorcerer, sepertinya ada hubungan dengan bola kristal ini. Lalu ia mengatakan sebuah nama yang tidak kukenal.”

“Nama siapa?” tanya Meenie.

“Sorcerer Genie,” Brandon menatap ke arah Meenie dan Sessy. “Pernah mendengar?”

Keduanya menggeleng bersamaan. Brandon maklum.

“Kami bisa membantumu mencarinya di Internet,” sahut Sessy. “Kau buat daftar apa yang harus kami cari, nanti akan kami carikan!”

“Baiklah,” Brandon menarik selembar kertas dari tempat yang ada di ujung meja dengan sebuah pena. Ia langung menuliskan 4 nama di kertas itu.

Eternity

Sorcerer Genie

Salvator Sorcerer

“Salvator Sorcerer?” Meenie membaca nama terakhir di daftar itu, dahinya berkerut karena bingung. “Kau tidak menyebutkannya tadi.”

“Orang itu sempat menyebutkan Salvator Sorcerer, aku juga tidak tahu apa maksudnya,” Brandon mengedikkan bahu. Ia lalu beralih ke arah Nellie yang sejak tadi diam.

“Lebih baik kau ikut ke mansionku nanti,” ajak Brandon. Nellie melotot kaget. Jelas ia menolak, tetapi Brandon langsung menambahkan, “Aku ingin kau melihat kekuatan bola kristal itu.”

Nellie berpikir sebentar.

“Baiklah, tapi hanya sebentar,” jawabnya pelan.

“Steve sudah kau beritahu?” tanya Sessy. Brandon menggeleng.

“Aku akan memberitahunya nanti,” kata Brandon.

“Steve? Orang yang kau anggap sebagai asisten itu?” tanya Nellie.

“Iya,” Brandon bangkit dari kursi. “Aku harus pergi sekarang, pelajaran akan dimulai sebentar lagi.” Meenie dan Sessy mengangguk mengerti. Brandon pun meninggalkan perpus bersama Nellie.

Dipersimpangan tangga, Brandon berniat naik ke lantai 3, tetapi Nellie tiba-tiba menahan lengannya dan membuat laki-laki itu terkejut. “Ada apa?” tanyanya seraya berbalik. Nellie menundukkan kepalanya, ia mengeluarkan suara pelan.

“Apa tidak apa-apa, aku berada di sisimu?”

“Tentu saja,” Brandon menjawab santai.

“Kau tahukan, teman-temanku menjulukiku si pembuat masalah, saat pertama kali kita bertemu pun aku sudah menciptakan masalah buatmu, kemudian di pertemuan kedua kita, dan mungkin sebentar lagi kau akan tertimpa masalah karena aku, jadi...,”

“Jangan bicara konyol,” Brandon mengangkat dagu Nellie, mata keduanya saling bertemu, Brandon menatap gadis itu lekat. “Aku tidak menganggapmu pembuat masalah, semua yang menimpaku memang sudah digariskan, aku bertemu denganmu juga pasti karena takdir.”

“Mengapa kau begitu yakin?”

Brandon tersenyum, lalu menjawab, “Karena kau adalah temanku.” Nellie merasa dadanya mencelos. Belum ada seorang pun yang  pernah mengatakan hal itu padanya. Belum ada seorang pun yang menganggapnya teman. Brandon adalah orang pertama yang mengakuinya. Rasa bahagia seketika memenuhi gadis itu. Ia membalas senyuman Brandon.

“Terima kasih.”

“Sama-sama,” balas Brandon. “Aku kekelas dulu ya.”

“Iya,” Nellie mengangguk, setelah Brandon naik ke lantai 3, ia pun meninggalkan persimpangan tangga dan menuju ke kelasnya.

******

 

 

Tbc...


Mohon koment bagi para pembaca... (_ _)
(segala jenis koment saiia terima) *maklum, penulis baru*

 

Read previous post:  
15
points
(2556 words) posted by raven_hill 6 years 36 weeks ago
50
Tags: Cerita | Cerita Pendek | petualangan | sihir fantasi persahabatan
Read next post:  
Writer FKR
FKR at Salvator Sorcerer : #5. Teman (6 years 35 weeks ago)
80

waa... turut membaca... :)

Writer FKR
FKR at Salvator Sorcerer : #5. Teman (6 years 35 weeks ago)
80

waa... turut membaca... :)

Writer lucia_queen
lucia_queen at Salvator Sorcerer : #5. Teman (6 years 36 weeks ago)
70

keakraban Brandon dan Nellie.. it's too fast...

Writer raven_hill
raven_hill at Salvator Sorcerer : #5. Teman (6 years 36 weeks ago)

Brandon is friendly person.. :D

Writer Math_King
Math_King at Salvator Sorcerer : #5. Teman (6 years 36 weeks ago)
80

wait a minute...
Rasa-rasanya ada yang aneh..
Bukannya keluarganya pergi ya.. kok disitu dibilang dia khawatir kalo bola itu mengancam keselamatan keluarganya di rumah...??

Writer raven_hill
raven_hill at Salvator Sorcerer : #5. Teman (6 years 36 weeks ago)

mwahahahaa... bener juga yaa..???
aku baru nyadar.. *gubrak* =_=