Resident Evil : Memories of the Lost City

#1. Beginning

Kling-kling

Bunyi lonceng kecil terdengar saat pintu dibuka. Terdengar agak menggelikan bagi Claire, sebab sudah lama ia tidak mendengar bunyi itu di cafe. Matanya berkeliling sejenak, mengamati suasana cafe ini. Warna cokelat mendominasi dekorasinya, terlihat cukup menarik dengan desain interiornya yang apik. Sayangnya, tempat ini sepi, tanpa pengunjung. Bahkan pelayannya pun tak ada. Hanya terdengar suara sayup dari televisi yang dibiarkan menyala.

Mungkin pemiliknya sedang keluar? Batinnya. Tak ambil pusing, Claire berjalan dengan tenang dan mengambil tempat duduk di dekat jendela. Setelah berdiam beberapa saat, ia mengambil ponsel di sakunya. Memanggil nomor yang sama untuk ke sekian kalinya.

"Ayolah Chris.. Angkat teleponku.."

Panggilan itu kembali hanya menjadi missed call. Tak ada nada sambung, apalagi jawaban. Claire menggeleng, sebelumnya Chris tak pernah menghilangkan jejak seperti ini. Sebagai seorang polisi -atau mungkin kini lebih tepat disebut pasukan khusus- ia tahu ada kesibukan dimana Chris takkan bisa menghubunginya. Tapi kali ini berbeda, ada firasatnya mengatakan sesuatu, dan apapun itu bukanlah yang baik.

Chris Redfield, adalah kakaknya yang sering mengajarinya seni bela diri tangan kosong. Ia dan Chris hanya terpahut 3 tahun. Jika Chris -yang kini tergabung dalam S.T.A.R.S (Special Tactic And Rescue Service) dibawah naungan R.P.D (Racoon Police Departement)- adalah 'good boy' di keluarga mereka, Claire adalah sisi sebaliknya. 'The Bad Girl', mungkin istilahnya. Meskipun terbilang sebagai gadis cerdas, sesungguhnya Claire berjiwa petualang dan pemberontak. Claire sangat aktif dalam berbagai ekspedisi baik di dalam maupun diluar kampusnya. Hiking, rafting, diving, semua yang berbau petualangan selalu menyenangkan baginya. Karena hobinya ini, tak aneh bila berbagai tempat di luar Amerika sudah ia lalui. Namun yang tak diduga, ia ternyata juga aktif dalam salah satu genk motor. Bahkan termasuk anggota yang disegani. Dalam genk motor inilah ia belajar kehidupan jalanan dan mengasah kemampuan bela dirinya.

Meskipun bertentangan bagai air dan minyak, Claire sangat dekat dengan Chris. Chris sangat bangga memiliki adik yang pemberani -atau serampangan- namun cerdas dan Claire sangat mengagumi memiliki kakak dengan karier militer yang melesat bak anak panah. Keduanya saling melengkapi.

Tak mengherankan, putus kontak dengan Chris membawanya kemari. Kota Racoon, dimana jantung organisasi S.T.A.R.S berada. Ia ingin bertemu, atau setidaknya bisa mendapatkan kabar mengenai keberadaan kakaknya.

Claire mengirim pesan singkat, memberitahukan keberadaannya di kota ini pada Chris. Dengan harapan setidaknya nanti ia akan mencoba menghubungi.

- - -

"Astaga.."

Leon berlari ke tengah jalan. Menghampiri sesosok pria yang tergeletak di tengah jalan.

"Hei, kau tidak apa-apa??"

Tak ada jawaban. Leon membalikkan tubuh itu dan tersentak mendapati apa yang dilihatnya. Bau anyir darah menyeruak di udara. Pria itu melotot dengan mulut menganga yang mengeluarkan darah. Ekspresi wajah itu seakan jiwanya dicabut dengan paksa. Seluruh tubuh pria penuh luka seperti cabikan hewan buas. Dari luka-luka menganga itulah darah merah pekat yang mulai menghitam mengalir dengan bebas. Leon memeriksa pergelangan tangan dan leher pria itu. Tak ada denyut. Ia sudah mati. Dan dari panas tubuhnya, ia yakin kejadiannya belum lama.

Satu hal yang jelas adalah, pria ini bukan korban tabrak lari.

'Mayat di hari pertamamu bekerja, hebat sekali Leon'. Batinnya. Entah ia harus merasa senang atau bingung. Tapi logisnya adalah, tak ada yang merasa senang bertemu mayat. Jadi lebih baik ia hanya merasa bingung -dengan sedikit ketakutan.

Leon mengambil radionya, mencoba menghubungi kantor pusat untuk apa yang ia temukan.

"Bravo pada HQ, masuk..". Ucapnya berkali-kali. Namun tetap tak ada tanggapan.

'Kemana semua orang?' Tanyanya pada diri sendiri. Sangat aneh jika tidak ada yang stand by di radio.

Eh?

Matanya seperti menangkap gerakan dari ujung jari pria di hadapannya. Tak mungkin? Dia masih hidup?

"Hei, kau baik-baik saja, pak?" Tanyanya lagi, menepuk pria itu.

Detik selanjutnya pria itu bangkit menjulurkan tangannya. Mencoba meraih wajah Leon. Leon terkejut dan mundur beberapa langkah hingga hampir terjatuh. Pria itu hidup? Tidak.. Ia tidak hidup. Mata itu kosong, hanya putih, dengan darah mengalir di sudutnya. Mulutnya menganga mengalirkan darah yang metes bak air liur. Ia merangkak mendekati Leon, hingga membentuk garis darah di lantai. Pria itu menggeram seperti memanggil Leon, dengan suara seperti mayat hidup di film horor murahan.

Mayat hidup??

Leon menjauh. Semakin pria itu mendekatinya, Leon semakin mengambil jarak. Ia memperingatkan pria itu untuk tak mendekat namun tetap ia menyeret tubuhnya demi mendekati Leon.
Tidak mungkin. Pria ini sudah mati. Mengapa ia bisa bergerak?

Suara erangan serupa terdengar di belakangnya. Membuat bulu kuduknya meremang. Seketika ia berbalik.

Tiga pria dengan ekspresi yang sama -mata melotot dan mulut penuh darah yang menanga- berjalan ke arahnya dengan langkah terseok-seok. Menjulurkan tangan dengan ekspresi kelaparan -siap memakan apapun.

"Makhluk apa ini??" Pekik Leon. Tepat sebelum pria yang merangkak itu meraih bagian belakang sepatu bootnya. Mengarahkan gigi-giginya untuk menggigit apapun yang bisa ia raih.

---

Gadis itu melirik jam, resah, mengapa sejak tadi hanya ada dia di cafe ini? Batinnya mulai merasa tak nyaman.

"Hello?? Ada orang di sini??"

Hening. Tak ada jawaban

"Hello??"

Claire berjalan kearah mesin kasir. Mencoba menengok ke dalam, sepi.

BRAAKK!!

Sesuatu tiba-tiba terjatuh dari pintu di depannya, membuat Claire terlonjak. Jantungnya berdebar-debar karena terkejut. Apa itu?

Claire bisa saja membuat pilihan untuk pergi dari tempat itu. Namun keingin tahuannya mengalahkan ketakutannya. Ia berjalan ke arah sumber suara. Ia terkejut ketika bunyi itu berasal dari sesosok tubuh yang tergeletak di dapur. Amis darah menguap di ruangan itu.

Tubuh itu terbaring dengan luka menganga di lehernya, memperlihatkan daging disana yang diwarnai merah darah.

Ma.. Mayat?? Claire menutup mulut. Pemandangan di dapur itu membuatnya mual. Apa ini??

Ia berjalan mundur. Bergegas keluar dari cafe itu dan naik di atas motornya. Namun ia hanya menemukan sesuatu yang lebih buruk.

Sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi. Truk kontainer yang kemungkinan besar berisi bahan bakar. Tetapi truk itu nampak aneh, oleng dan melaju bagai dikemudi sopir mabuk. Semakin lama dia semakin mendekat, namun tak ada tanda-tanda ia mengurangi kecepatannya. Sementara Claire hanya mematung di atas motornya.

Jarak truk itu hanya tinggal beberapa meter dari Claire, dan dari balik kacanya ia bisa melihat.

Pengemudi truk itu tampak tak sadarkan diri. Tergolek menghadap langit dengan mata melotot. Mabuk atau tidur, ia tak peduli. Satu hal yang pasti, mobil itu melaju ke arahnya, dan pasti akan tiba dalam beberapa detik.

Dugaannya tepat, tak butuh waktu lama hingga bunyi hantaman yang keras memenuhi udara. Sangat keras hingga membuat telinga sakit. Truk itu menabrak motor Claire, menyerempet dinding toko, dan terseret beberapa meter sebelum akhirnya menabrak dinding pembatas jalan. Pecahan kaca berhamburan. Bunyi besi dan beton beradu keras. Bunga api timbul dari dekat kemudi.

Hal yang terjadi selanjutnya adalah ledakan besar memekakkan telinga. Asap tinggi membumbung dan api yang membara dari truk. Menjalari daerah sekitarnya. Menandakan dimulainya kekacauan di kota ini.

* * *
(To Be Cont)
* * *

Badau, 12 Okt 2012

Read previous post:  
35
points
(606 words) posted by phantom27 6 years 33 weeks ago
70
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | Adaptasi Game | horror | petualangan
Read next post:  
90

Mantaph! Aku suka bagian container nabrak! Hehehe,
Coba kalo mobil tangki CPO ato truk TBS!
*loh?
Pada ada yg ganjil an, '...merangkak mendekati Leon, hingga membentuk garis darah di lantai.' Bukanny mayatny di jalan ya??

Hahaha, Ntar kalo settingnya di Riau atau Kalteng baru truknya jd truk CPO

80

Niiice....
storylinenya agak berbeda dengan yang di game ya? Leon dan Claire gak ketemu?

Thks \(´▽`)/

Iya, ketemunya mau saya buat mengikuti versi Darkside Chronicles.
Di episode depan yaa, hehehe..

100

*ambil rocket launcher*
Btw ada salah tuch...kalo telp cm jd missed call ttp ada nada sambung...

*pinjam tongkat Harry Potter

Oh iya, :P
Salah, hihihi... Maksud saya ngga ada nada sambung gitu. Mati. Namanya missed call bkn ya?

100

hahaha, jadi jg ngelanjutin RE mu Dan..

Mengulang sesuatu yg hilang dan terhapus. Kasihan.

Hahaha iya nnuliss ri awal lg.
Baggus kali I'd barumu. Daftarkan charaku di roleplay dongg

90

Poin for myself, hehehe..

Not perfect, but this is the second part.
Ok. Semoga bisa diterima.. Hope you'll like it