Salvator Sorcerer : #6. Jebakan

Pulang sekolah, Brandon dan Nellie langsung menuju ke mansion Brandon. Begitu sampai di mansion, Brandon mengajak Nellie ke kamarnya. Steve yang saat itu menyambut kehadiran Brandon, juga di ajak.

“Kamarmu luas sekali,” puji Nellie ketika masuk ke kamar Brandon.

“Terima kasih,” balas Brandon singkat.

“Ada perlu apa, Brandon?” tanya Steve sambil menutup pintu kamar Brandon.

“Steve, kau ingat orang berjubah yang kuceritakan waktu itu?”

“Iya.”

“Dia muncul di mimpiku semalam, dan ini Nellie,” Brandon memperkenalkan, “Nellie, itu Steve.” Steve menundukkan kepalanya sedikit lalu tersenyum ke arah Nellie. Gadis itu membalas dengan senyuman juga. Brandon pun melanjutkan.

“Orang itu berniat merebut bola kristalku lagi, dan kali ini, ia akan menggunakan temanku sebagai umpannya!”

“Dan kemungkinan umpan itu adalah...,” Steve melirik Nellie.

“Iya, dia!” Brandon menunjuk gadis yang berdiri di sebelahnya.

“Lalu kau mau apa? Mengajaknya kemari karena kau pikir mansionmu aman?” tanya Steve.

“Tidak, aku berniat menunjukkan kekuatan bola kristal padanya,” Brandon buru-buru mengeluarkan bola kristal itu dari tasnya.

Tetapi Brandon terkejut ketika melihat bola kristal itu bersinar dengan sendirinya. Warna sinar itu merah kehitaman, seakan menandakan atsmofer ruangan itu. Brandon merasakan firasat tidak enak.

“Brandon, bola itu bersinar?” Nellie bertanya setengah terkejut.

“Ada yang aneh,” Brandon menoleh ke arah Steve. Laki-laki itu dilihatnya berdiri di depan pintu. Tangan kirinya mengunci pintu lalu muncul seringai di wajahnya.

“Kupikir siang ini aku cukup mengalihkan perhatianmu, ternyata malah dapat dua mangsa sekaligus,” ujarnya santai. Brandon langsung menarik lengan Nellie kebelakangnya.

“Apa?” Brandon terkejut.

“BOLIDAN!” Tiba-tiba Steve melepaskan beberapa bola api ke arahnya. Sejak kapan Steve bisa sihir?! Brandon segera memusatkan pikirannya, aura putih menyelimti tubuhnya dan bola kristal bereaksi. Sinar merah kehitaman berganti dengan warna biru. Lalu muncul lingkaran bersinar biru di lantai.

“Trogite!” serunya. Dari dalam lingkaran itu keluar pusaran air yang melenyapkan bola-bola api Steve.

Steve merapal mantra lagi, tetapi Brandon lebih cepat, “Acus glacies!” Ia mengeluarkan tembakan es dari lingkaran biru itu, Steve membalasnya dengan sambaran petir.

“Puetres!” pekiknya.

Brandon berniat melompat menghindar, tetapi ia teringat dengan Nellie, langsung diterjangnya Nellie dan mereka ambruk bersama. Petir mengenai dinding kamar Brandon dan menghancurkannya seketika.

“Nellie, pergi dari sini!” perintah Brandon.

“Tidak!” Nellie menolak. Brandon sadar ini bukan saatnya berdebat dengan Nellie, ia kembali bangkit dan segera merapal mantra. Aura putih yang menyelimutinya berubah menjadi warna warni.

Bola kristal itu melayang di tengah-tengah Brandon berdiri. Steve merasakan aura sihir yang kuat. Ia buru-buru menembakkan beberapa petir, bola api, hujan es, dan batu-batu ke arah Brandon.

Kedua tangan Brandon mengeluarkan api, disekelilingnya muncul 6 lingkaran dengan warna yang berbeda. Masing-masing berwarna merah, biru, hijau, ungu, coklat, dan perak. Kemudian keenam lingkaran itu berputar dan berubah menjadi pecahan partikel berwarna warni yang menayatu dengan kobaran api di kedua tangan Brandon. Brandon menyatukan kedua tangannya, bola warna warni yang ada di tangannya semakin membesar dan menyatu.

“Elefenum pila!” Brandon membidik bola warna warni itu ke serangan petir, bola api, hujan es, dan batu-batu Steve. Tiba-tiba semua serangan itu pecah menjadi partikel warna-warni dan terserap ke dalam bola. Steve menggeram kesal, ia pun merapal mantra berikutnya.

“Cervignis!” Steve memanggil rusa-rusa api dari lingkaran merah ciptaannya. Bersamaan dengan datangnya rusa api ciptaan Steve, Brandon menembakan bola itu dari tangannya. Tetapi rusa api Steve juga pecah menjadi partikel warna warni dan terserap ke dalam bola itu. Steve menghindar ke samping, namun bola itu mengejar dan menabrakkan dirinya dengan Steve.

Ledakan terjadi, Steve terpental beberapa meter ke belakang. Kamar Brandon hancur berantakan, begitu pun dengan bagian lantai 2 lainnya. Para pelayan yang mendengar keributan langsung bergerak ke sumber suara. Tetapi langkah mereka terhenti ketika seorang pria berkata tidak ada yang terjadi di atas sana. Ia bilang akan naik ke lantai atas dan melihat keadaan di sana. Para pelayan pun merasa lega dan kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.

Pria itu menyunggingkan senyum licik. Ia naik ke lantai 2 dan menemukan reruntuhan dinding yang jebol karena ledakan bola warna warni milik Brandon. Sebuah tangan muncul dari reruntuhan itu, Steve keluar susah payah dari himpitan batu-batu tersebut.

Sementara di dalam kamar, Brandon dan Nellie berniat keluar dari lubang yang Steve ciptakan. Namun Brandon segera berbalik ketika merasakan kekuatan sihir yang besar dari arah tempat Steve terpental.

“Kekuatan ini..,” Brandon terdiam di tempatnya. Ia benar-benar mengenali perasaan ketika kekuatan itu menyelimuti tubuhnya. Dingin dan gelap, begitu mencekam. Orang berjubah itu ada disini?!

“Nellie! Lari dari sini!” teriak Brandon.

“Bagaimana dengan..., Kyaaa!!!” sambaran petir dari langit mengenai Nellie. Gadis itu pingsan seketika.

“Nellie!” Brandon berniat mendekat ke arah Nellie, tetapi dari arah berlawanan muncul batu besar yang terbakar api. Brandon langsung menciptakan batu api yang sama dan menghantamkannya.

Ia melihat bayangan seseorang mendekat. Kekuatan milik orang berjubah itu pun semakin terasa kental. Ia yakin orang itulah yang menyerangnya enam tahun lalu. Tetapi siapa? Steve?

“Kau berkembang cukup jauh,” Larrent muncul dengan seringai licik. “Masih ingat denganku?”

Brandon terbelalak tidak percaya.

“La, -Larrent?” bicaranya terbata. “Lalu Steve?”

Dari belakang Brandon, Steve muncul. Ternyata setelah keluar dari himpitan batu, Steve memutar arah ke belakang dan menciptakan sambaran petir untuk Nellie, sementara Larrent menggantikan laki-laki itu berhadapan dengan Brandon.

“Dia muridku,” aku Larrent. Brandon merasa dikhianati. Lalu kenapa Steve mengajarinya menggunakan sihir?

“Aku tahu kau terkejut,” Larrent melanjutkan, seakan tahu apa yang Brandon pertanyakan, ia menjawab, “16 tahun yang lalu ketika aku mencari bola kristal di dunia manusia, aku bertemu dengan seorang anak miskin yang sangat menyukai sihir. Saat itu aku berpikir, bisakah anak itu kumanfaatkann? Kurasa tidak salah jika aku mencobanya. Kuberi ia ramuan khusus agar bisa menggunakan kekuatan sihir. Setelah itu, kulatih ia menggunakan sihir. Ternyata, ia kenal dekat dengan Salvator Sorcerer yang kucari. Aku pun memanfaatkannya. Seakan membantumu berlatih sihir, sebenarnya ia selalu mencari informasi dan perkembangan kemampuanmu.” Larrent tertawa kecil.

“Dia bukan temanmu, dia adalah musuhmu!”

Pikiran Brandon mulai kacau. Ia menyadari situasinya tidak menguntungkan. Steve yang selama ini berada di dekatnya, ternyata malah berbalik menjadi musuhnya. Sementara Larrent, Brandon tidak bisa berpikir dengan jernih. Perasaannya berkecamuk di dada.

“Larrent, kau orang yang...,” suara Brandon bergetar, tidak percaya dengan kenyataan didepannya.

“Aku orang yang muncul di hadapanmu enam tahun lalu! Dan aku juga orang yang telah membunuh Ralf, manajermu yang polos itu!” Tawa Larrent membahana. “Semalam aku sudah memberi peringatan padamu bukan? Tetapi malah kau bawa umpan itu sendiri! Bodoh!”

“Kau membunuh teman-temanku! Setelah kau memperalat Steve, kau mengancam temanku! Apa sebenarnya tujuanmu?!” Brandon marah. Napasnya tersengal-sengal karena terlalu banyak berteriak.

“Tujuanku adalah mendapatkan bola kristalmu,” Larrent menunjuk ke arah bola kristal yang melayang di tangan kiri Brandon. “Lalu aku akan membawamu ke Eternity dan akan kutunjukkan kepada semuanya, bahwa kami yang berhak menjadi Salvator Sorcerer! Bukan manusia!”

“Aku tidak mengerti apa tujuanmu itu! Yang kutahu adalah... kau sudah keterlaluan!” Bola kristal Brandon mengeluarkan sinar warna warni, di sekeliling Brandon seketika muncul lingkaran merah, biru, dan ungu. Larrent tersenyum tenang. Ketika Brandon menembakkan beberapa bola merah membara, Larrent langsung membalas dengan lingkaran air yang memadamkan bola api itu. Dan tiba-tiba dari belakang, Steve melamparkan batu besar ke arah Brandon.

Kepala Brandon terkena batu besar itu. Ia pun terjatuh ke lantai. Larrent memanfaatka kesempatan dengan menembakkan sambaran petir ke arah Brandon. Brandon yang jelas tidak siap merapal mantra, akhirnya terkena sambaran itu.

Setelah itu, semua menjadi gelap. Brandon jatuh tidak sadarkan diri.


.

.

Tbc...

Jangan lupa, koment dan kritiknya.. (_ _)

Read previous post:  
31
points
(2551 words) posted by raven_hill 6 years 36 weeks ago
62
Tags: Cerita | Cerita Pendek | petualangan | persahabatan fantasi pertarungan sihir
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

Lanjutkan ! :D