Tentang Kita

 

Kepada : Chris

 

 

“Apakah kita sepakat bahwa senja bukan hanya beberapa jingga langit sebelum matahari terbenam, atau seberapa riuh kendaraan berlalu-lalang di lepas pandangmu? Bukan pula seberapa banyak sudah kopi melewati kerongkongan, mengendap kesadaran pada dasar lambung, kita sebaiknya setuju,bahwa senja adalah suatu waktu yang kita tahu berharga, tanpa menunggunya menjadi setumpuk kenangan.” (Chris)

 

Sepertinya kita sudah mencapai batas di mana setiap kata tak lagi berubah menjadi nafas yang berhembus manis serupa syair seorang pecinta yang sedang sakau oleh serotonin di otak mereka. Kita lebih asyik menghabiskan waktu dengan segala hal ‘biasa’ ketimbang bermain perasaan dengan semua mendayunya.

 

Habis empat kalender masehi sejak perkenalan kita. Hmm, itu menurutmu. Kalau aku bilang hampir lima tahun kita mengeja malam di mana ada cetak namamu di setiap tengah cerita yang kutulis. Ada masa ketika kita hanya berbicara lewat jari yang terampil membungkam mulut-mulut kita.

 

Ada pula waktu mulut kita terbuka dan kita tertawa, lalu menangis. Ingatkah? Kemudian jeda meraja. Kita tak lagi bersuara dan tenggelam dalam diam. Namun kutahu, nama kita tak pernah terbawa angin.

 

Kau lelaki penuh daya pikir yang kadang tak dimengerti orang lain, begitu sederhana tapi rumit. Penuh teka-teki dan sangat mendalam. Serupa taman maze yang indah namun berliku.

 

Suatu pagi kudatang dengan segelas kopi dan sepiring roti. Memenuhi janjiku dulu kuakan sajikan apa yang kau mau ketika datang di kota langit merah ini. Pagi itu di tengah kita melempar sajak kuselipkan pertanyaan “Apa itu bahagia?”

 

“Kebahagiaan itu bisa sederhana saja, bagiku itu bisa dalam bentuk senyumanmu ketika suatu kali aku sanggupi untuk menyanyikan lagu untukmu, lainnya mengetahui dengan jujur bahwa kau menikmati puisi yang kutuliskan bagimu, bahkan yang paling sederhana kini: kau membalas pesan selamat pagi. Kebahagiaan seringkali sederhana’ kan? Maka aku tak perlu menunggu adanya kita untuk mengucap syukur. Tiap hari adalah karunia—tiap hari adalah kita. Selamat pagi, Cinta.” (Chris)

 

Ah, tak kubalas sapaan selamat pagimu. Aku hanya tersenyum dan segera saja kuhentak sajak membalasmu. Entah puisi atau selamat pagi yang terlambat kukirimkan ke depan halaman hatimu, yang kutahu bukan namaku yang jadi wacana dalam setiap kata-kata yang kau ucap kini.

 

“Cinta, tidak akan terlambat mengucapkan selamat pagi.” (Chris)

 

Kau bersikeras, lalu sedetik kemudian kau mengusap kepalaku, seakan hendak mengacak rambutku. Ah, entah kenapa, aku selalu suka jika kau melalukan itu. Ada perasaan nyaman yang tak terdefinisikan, seakan menebus empat tahun beratus sajak purba kita. Aku tersenyum, menjawab akhirnya.

 

Selamat pagi, Cinta. Ada rasa rindu sekaligus iri ketika kita menjadi asing pada masing-masing kita. Tapi seperti yang kau bilang, bahagia itu sederhana, serupa ketika kau lihat yang kau cintai tersenyum meskipun bukan karena dirimu.

 

Ada yang masuk di matamu, kukira, atau kau sedang menangis? Ah, tak mungkin. Aku tahu dirimu sejak dulu, tak akan dengan mudah menangis untuk urusan sepele. Namun, apa jeda yang kita bangun membuatku jadi tak mengenalmu sekarang? Entah. Yang kutahu aku bahagia dirimu masih di hadapanku kini. Bahkan dengan semua kata yang kau cipta kini, aku senang.

 

Matahari semakin beranjak naik, panas membakar kulit kita lembut. Kau seruput kopi yang tinggal beberapa senti dari ampasnya. Kau memandangku setelahnya, lalu melempar sajak terakhir di wajahku.

 

“Lip, Maafkan aku bila sampai kini tak ada yang mampu kusebut sebagai kata. Jauh di dalam hatimu, kau setuju—perjalananmu bukan tentang aku.” (Chris)

 

Sajak terakhirmu ampuh, wajahku panas entah mengapa, dan kali ini aku tak merasakan ada debu singgah di mataku, namun aku mengusap mataku yang tiba-tiba berair. Lidahku kelu, tak ada lagi sajak di piring untuk kulempar kembali sebagai balasan. Bahkan di saku pun tidak.

 

 

Kita sederhana, serupa lalu lalang pejalan kaki di trotoar

seperti setiap kendaraan yang melewati jalan raya

atau bahkan layaknya musim yang selalu akan berganti dan terus mewarnai bumi.

Itulah tentang kita.

 

 

Semarang, 30 September 2012

 

 

-------------------------------------------------------

Chi, kita sederhana.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Chiely
Chiely at Tentang Kita (6 years 39 weeks ago)
80

suka sama cara km merangkai kalimat :)

Writer olief
olief at Tentang Kita (6 years 38 weeks ago)

terima kasih :)

Writer suasti_was
suasti_was at Tentang Kita (6 years 40 weeks ago)
100

entah kenapa saya jatuh cinta pada cerpen ini....

Writer olief
olief at Tentang Kita (6 years 38 weeks ago)

terima kasih :)

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Tentang Kita (6 years 42 weeks ago)
100

Udah baca yang di efbe kayaknya :3
Manis

Writer olief
olief at Tentang Kita (6 years 41 weeks ago)

hueee.. udah baca di efbeee yakk kekkeke

makasih Atha :')

Writer villyca.valentine
villyca.valentine at Tentang Kita (6 years 42 weeks ago)
100

bentar....apa yang terjadi antara mbak olip dan om shinichi??apa yang kulewatkan selama 5 tahun ini???aarrhgghhh!!!!!
Someone please tell me!!!*tereak2 pake toa*
Ja-jadi ada apa diantara kalian?? Mesra kaya suami istri...mbak olief q direbut om shin...*mewek*

Writer olief
olief at Tentang Kita (6 years 41 weeks ago)

*jitak Ine*

sadar Ne.. sada!!

...
ehm ada apaa yakk~

ah aku masih jadi mbakmu.. hehehe

Writer souLYncher
souLYncher at Tentang Kita (6 years 43 weeks ago)
90

sedih...
jadi... itu bukan tentang aku ya...? :'( (lho..?!)
gak bisa komen, maaf. but nice, kk ^^
keep writing! tetap semangat ya!! ^o^/

Writer olief
olief at Tentang Kita (6 years 41 weeks ago)

hueee maap buat sedih yak~

Makasih Lync ~ hehe

Semangat~!

Writer hana genda
hana genda at Tentang Kita (6 years 43 weeks ago)
100

dalem...
menyentuh...
menghanyutkan... ^^

Writer olief
olief at Tentang Kita (6 years 41 weeks ago)

duh.. kayak sungai yak hehehe

Writer cumaYudha
cumaYudha at Tentang Kita (6 years 43 weeks ago)

prok! prok! prok!

Writer olief
olief at Tentang Kita (6 years 41 weeks ago)

ihhh tepuk pramuka yak > o,o

Writer Shinichi
Shinichi at Tentang Kita (6 years 43 weeks ago)
100

untukku: wajib 10!
ehehehe.

ini keren sih (objektif)
ahak hak hak
lanjut nulis lagi ya, Olip :D

hohohoho

Writer olief
olief at Tentang Kita (6 years 41 weeks ago)

hehehehe~ makasihh Chiiiiiiii~!!!!!

Writer niska
niska at Tentang Kita (6 years 43 weeks ago)
90

Nice! enak banget bacanya :) cuma agak terganggu dengan kalimat " ketimbang bermain perasaan dengan semua mendayunya". "mendayunya" tu apa ya? hehe.. maaf.. kosa kataku aga terbatas ^^

Writer olief
olief at Tentang Kita (6 years 41 weeks ago)

mendayu itu ehmm kayak apa ya.. mendayu-dayu gitu loh.. melow.. elegi~