Jimmy Zombie - 1

Terserah bagi kalian untuk percaya ada tidaknya vampir, manusia serigala, dan mahluk-makhluk yang kamu kira hanya rekaan pembuat cerita. Tapi jika kamu mau mengetahui kebenarannya, makhluk-makhluk dalam cerita horor itu benar-benar ada. Kenapa aku sangat yakin sekali dengan ini? Sebab aku salah satu bagian dari mereka, ya, aku bagian dari mereka. Sayangnya aku tidak semenarik para vampir, atau maskulin seperti para manusia serigala.

Yup, aku bukan kelompok mereka. Tapi aku adalah makhluk yang kalian pandang sebelah mata dan menjijikan. Aku adalah seorang yang kalian sebut sebagai yang-tidak-bisa-mati’, dan percaya atau tidak, aku hidup di antara kalian para manusia. Dan mungkin, aku adalah tetangga, teman, atau bahkan kekasih salah satu dari kalian. Namaku adalah Jimmy, dan aku adalah seorang zombie!

Zombie tidak bisa menulis? Wah, itu salah besar teman. Banyak cerita yang salah tentang kami, seperti yang mungkin ditayangkan di film, ditulis di novel, atau apapun yang tersebar di masyarakat.  Hmm, daripada aku menjelaskan ini.

Oke, aku katakan apa yang aku ingat saja secara acak. Otak kami sudah tidak bisa berfungsi layaknya manusia normal, jadi aku tidak bisa berpikir terlalu keras.

Hmm, mari kita lihat. Ah iya, makanan. Kalian pasti menduga kami memakan cacing, bangkai, atau daging. Ugh, itu menjijikan sekali. Perlu aku tegaskan, itu tidak benar. Setidaknya aku dan orang-orang yang aku kenal tidak melakukan itu. Kami makan, namun hanya yang sangat mudah di cerna, sereal atau bubur untuk bayi. Yah, tubuh kami tidak sanggup untuk melakukan proses pelumatan makanan seperti saat kami hidup.

Tunggu sebentar, aku harus membenahi pakaianku dulu. Sekolahku tinggal beberapa meter lagi.

“Jim!” seorang remaja berumur enam belas tahun memanggilku. Meskipun kami satu kelas, tapi aku tidak akan memanggilnya sebaya. Umurku, jauh-jauh-jauh di atas Daniel, remaja yang memanggilku.

Aku hanya menoleh dan mengangguk. Bukan karena aku tidak bersemangat, tapi menjadi remaja berumur tujuh belas tahun entah sudah berapa puluh kali membuatku sedikit kehilangan emosi, atau aku pikir aku masih punya sedikit emosi di dalam tubuh ini.

Daniel, sudah menjadi temanku sejak dia masih duduk di kelas delapan. Tidak ada yang spesial tentang dia, seperti bocah yang tidak menonjol lainnya. Tapi, di antara manusia lainnya di sekolah  ini, hanya Daniel yang mengetahui kalau aku adalah zombie. Yup, dia tahu betul bahwa aku bukan manusia. Bukan karena dia mempunyai kemampuan penyelidik, atau cenayang. Ayah Daniel, Bernie adalah kenalan kaum kami. Atau lebih tepatnya, kami adalah pelanggan Bernie.

Menjadi zombie adalah sesuatu yang sangat-sangat mahal. Tidak seperti para pengisap darah, kaum zombie tidak mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri. Kami tetap menua, bukan, menua bukan kata yang tepat. Membusuk! Ya, membusuk adalah kata yang tepat.

Pembusukan atau kejadian tidak menyenangkan lain seperti tangan atau kaki putus, luka yang dalam, atau hal-hal yang serupa dengan itu adalah musibah bagi kaum zombie. Bukan karena kami akan tewas atau apa, tapi karena kami harus memperbaiki diri kami. Benar, memperbaiki. Tidak berbeda jika motor atau mobilmu penyok atau penyok, kami harus membawa tubuh kami ke bengkel untuk mengganti suku cadang anggota badan atau ke body shop hanya untuk sekedar mempercantik tampilan luar kami.

Nah, Bernie adalah seorang penjual suku cadang yang cukup terkenal dikalangan para zombie. Entah darimana dia mendapatkan anggota tubuh manusia itu, yang jelas dia orang yang handal dalam memasang ulang anggota tubuh. Tidak diragukan lagi kualitas pemasangan oleh Bernie. Meski suku cadang yang dia jual tidak selalu bermutu bagus. Paling tidak, para zombie menyukai sentuhan tangannya dalam mereparasi tubuh.

Waktu itu, aku baru saja mengalami kecelakaan yang mengakibatkan aku kehilangan sepasang kaki. Aku pun pergi ke bengkel Bernie, dan sialnya, saat itu Daniel sedang dilatih oleh Bernie untuk menjadi pengganti dia kelak. Daniel yang mengenaliku karena kami berada di satu kelas, terdiam saat menatap ayahnya memasang sepasang kaki untukku.

Beruntung, Daniel sudah mendapat didikan dari ayahnya untuk tidak menceritakan kepada siapapun tentang para zombie, atau pekerjaan sampingan Bernie ini. Walau begitu, Daniel sering mempermainkanku dengan mengancam akan mengatakan kepada semua bahwa aku adalah seorang zombie.

Bisa saja aku mengelak dengan cara pindah dari tempat ini, tapi aku terlanjur menyukai tempat ini. Lagipula, aku baru saja mengganti suku cadangku dengan tubuh dan wajah baru. Akan menghabiskan banyak biaya untuk pindah ke kota lain hanya untuk ancaman seorang Daniel. Yah, paling tidak karena aku dan dia sering dianggap tidak pernah ada oleh teman-teman satu sekolah kami, aku merasa sedikit aman. Daniel juga akan berpikir puluhan kali sebelum mengatakan hal yang bisa membuat dia semakin dianggap aneh oleh yang lain.

Baiklah, ini adalah hari pertama kami menjadi murid baru di high school. Kata orang, hari pertama menjadi murid SMU adalah hari yang paling penting. Karena ini akan menandakan kamu akan dikenal sebagai apa sampai akhir hidupmu di sekolah ini. Apakah akan menjadi golongan kaum pesolek, tukang pamer pekakas mahal dan bermerek, golongan penggaet, bocah-bocah steroid, atau para kutu buku. Di sinilah para remaja membuat lingkaran kelompok mereka masing-masing.

Yah, selama tiga belas kali aku menjadi siswa SMU, tidak ada kesulitan. Ke-tidak-terkenalan-ku merupakan senjata ampuh, selain karena memang aku berusaha untuk tidak menonjol dan menyendiri.  Tubuhku yang bisa dibilang sedikit kecil, penampilan yang lusuh, kulit terlihat dekil, agak bau, muka pucat dengan garis hitam di bawah mata, bisa dibilang adalah alat penghilang alami jika kamu sedang berada di masa SMU. Tapi kali ini, aku merasa tahun-tahun di masa SMU akan berbeda. Bukan karena aku kembali menjadi teman satu sekolah dengan Daniel, melainkan karena kali ini para kaum bukan-manusia yang lain entah sengaja atau tidak sengaja, ikut meramaikan menjadi murid tahun pertama di sekolah ini.

Aku hanya bisa memaksa otak untuk memikirkan rencana agar tidak tersangkut-paut dengan apapun yang akan terjadi dengan kumpulan makhluk-makhluk itu. Walau firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu hal yang membuatku akan sangat menyesal karena aku membatalkan niat untuk meninggalkan kota ini.

Yah, aku tidak tahu apakah pilihanku ini benar atau tidak. Alasanku untuk tetap bertahan selama beberapa tahun di kota ini adalah Claire, gadis berambut pirang yang sangat supel. Meskipun dia termasuk dari keluarga yang berada, gadis riang bertubuh semampai itu telah membuat jantung kembali berdegup. Yah, mungkin kali mengira aku berlebihan dengan mengatakan jantungku kembali berdetak. Tapi, perasaan yang disebut cinta ini datang begitu saja. Kalau para penghisap-darah, dan para manusia-serigala bisa merasakan cinta, kenapa kami kaum zombie tidak?

Daniel menyenggol lenganku pelan, terkadang dia harus mengurangi kekuatannya. Dia sangat takut jika aku menjadi rusak karena hal itu. Padahal tubuh kami masih bisa menahan jika hanya sekedar pukulan atau tendangan, dan hei, bahkan kami tidak merasakan sakit.

Aku melirik Daniel, pandangan matanya mengarah ke satu titik. Aku mengikuti dan, sebuah desiran kecil melewati rongga dada. Seakan saat jantung kamu berhenti kemudian ada yang melakukan CPR dan jantungmu kembali berdetak.

Claire Hamilton, gadis yang sejak dua tahun lalu pindah ke kota ini dan satu kelas dengan aku dan Daniel saat SMP. Sekarang, dia satu sekolah dengan kami. Atau tepatnya aku memaksakan diri untuk satu sekolah yang sama dengannya.

Saking terpesona dengan kedatangan Claire, aku tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya di dekat pintu masuk.

“Ah, maaf.” aku reflek berucap, salah satu cara untuk menghindari masalah lebih lanjut.

“Maaf?” pemuda itu segera membalikkan badan.

“Wah..wah..wah, lihat ini. Anak baru. Santapan yang lezat di hari pertama sekolah.” ucap pemuda yang bertubuh lebih besar dariku dan Daniel itu. Aku rasa dia adalah senior di sekolah ini. Hah, kalau saja menjadi makhluk lain bukan hal menakutkan, akan aku tunjukkan surat tanda kelahiranku.

Teman-temannya tertawa, firasatku tidak enak. Daniel berusaha menarik lenganku untuk bergegas masuk. Tapi sepasang tangan kekar menahan pundakku. Pemuda itu mendekatkan wajahnya ke wajahku kemudian berkata pelan, “Masih ada lima belas menit sebelum upacara penyambutan. Mari kita bermain sebentar, adik kecil.”

Entah kenapa aku merasa bergidik, bukan karena aku takut akan di sakiti. Tapi aku merasa, bocah ini juga bukan manusia. Aku mendengar sedikit eraman saat dia berbicara. Aku sangat yakin kalau orang ini adalah werewolf.

Segera saja dia menarik jaket biru usangku dan bergegas membawaku entah kemana. Teman-temannya mengikuti, aku lirik salah satunya mengancam Daniel agar tidak mengikuti. Tiba-tiba, sebuah cengkraman kuat mendarat di salah satu tangan di pemuda yang menarikku.

“Hentikan, Tim. Dia sudah meminta maaf.” kata pemuda yang baru saja datang.

Pemuda yang di panggil Tim terdiam, menatap sang penolongku.

“Hei, Scott. Masih berlagak menjadi seorang penyelamat?” balas Tim. Mereka berdua saling menatap tajam satu sama lain. Mereka hanya berpandangan tanpa ada kata-kata selama dua detik, namun bagiku terasa seperti dua jam. Teman-teman Tim mendekat, dan aku mendengar lebih banyak eraman.  Scott hanya seorang diri, namun dia tidak merasa takut akan hal ini.

Dan wow, aku merasakan hawa aneh yang menakutkan muncul dari kedua orang itu. Kali ini sesuatu yang tidak aku bayangkan terjadi. Scott juga bukan manusia, bola matanya yang berwarna coklat terang tiba-tiba berubah menjadi merah pekat seperti darah. Scott adalah seorang vampire.

Aduh, sepertinya ini tidak akan berhenti hanya dengan perkataan, “Maaf, aku harus pergi ke toilet.”

###

Read previous post:  
Read next post:  
Writer dansou
dansou at Jimmy Zombie - 1 (6 years 37 weeks ago)
100

Ini... asyik, Om Makkie >_<
.
Idenya unik. Saya suka zombie, werewolf, dan vampir yang dijadiin satu. Cuma saya kurang paham sama konsep zombie yang dipakai om Makkie di sini, jadi kayaknya lebih dijelasin lagi, sih: kenapa dia bisa mikir, kenapa dia bisa sekolah, bla bla bla semacam itu.
.
Brb lanjut ke chapter berikutnya ~

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at Jimmy Zombie - 1 (6 years 38 weeks ago)
90

seru-seru~ pembawaannya bikin terbawa suasana

Writer L. Filan
L. Filan at Jimmy Zombie - 1 (6 years 39 weeks ago)
100

Bagus ^^
Idenya segar.

Writer kemalbarca
kemalbarca at Jimmy Zombie - 1 (6 years 40 weeks ago)
90

wah ini keren, ide ceritanya bener2 gak kebayang
lanjutkan ya!

Writer honey43
honey43 at Jimmy Zombie - 1 (6 years 41 weeks ago)
80

Wah, menarik ceritanya, terlepas dari cerita2 zombie yang suka menggigit untuk menularkan virus zombienya.
Saya merasa zombie disini tidak seseram zombie2 yang ada, tapi karena ceritanya baru mulai, saya hanya bisa berspekulasi seperti itu, entah akan dikembangkan menjadi cerita seperti apa? saya akan tunggu kelanjutannya.

Writer villyca.valentine
villyca.valentine at Jimmy Zombie - 1 (6 years 41 weeks ago)
80

ke-kenapa tokoh utamanya gak vampir aja??#nawar...maklum saya maniak vampir#

Lagi perjalanan mencari cerita vampir yg bagus nich...kl ada, mau donk....minta link nya...hehehe~

Writer hewan
hewan at Jimmy Zombie - 1 (6 years 40 weeks ago)

:v

Writer hewan
hewan at Jimmy Zombie - 1 (6 years 41 weeks ago)
90

Saya suka dengan nuansa ceritanya. Gaya narasinya enak, meskipun masih ada beberapa kalimat yang kurang efektif. Tapi yah... itu hanya persoalan penempatan tanda baca saja.
--
Soal isi cerita, saya terkagum. Memang, selama ini zombie selalu jadi makhluk kegelapan yang underdog, jika disandingkan dengan makhluk kegelapan lain yang kerap ditonjolkan keperkasaannya. Namun, bukan berarti nda ada zombie yang super~
Di sejumlah game pun, banyak terdapat yang seperti itu--zombie super.
--
Nah, saya menantikan perkembangan si Jimmbie ini. Apakah dia akan jadi zombie yang kuat, ataukah tidak...
----
Ayo lanjutkan, Om Makkie (y)
Salam
-Hewan

Writer sabbath
sabbath at Jimmy Zombie - 1 (6 years 41 weeks ago)
90

Hebat.. ini keren..
zombie, vampir, dan werewolf dalam satu sekolah..
dan ini cerita yang baru banget tentang zombie :D
lanjutkan!
.
masih ada typo, makkie san.. ;)