Jimmy Zombie - 2

Yup, benar sekali. Meski kalimat bodoh itu tidak sengaja aku lontarkan namun Tim dan Scott masih tetap saling beradu pandang. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Bisa saja aku menghantamkan kepalaku ke kepala Tim, atau memberikan gigitan di lengan kekarnya. Walau gigitan kami tidak sekuat gigitan manusia serigala, paling tidak kami menggigit lebih keras daripada manusia.

“Scott! Tim!” sebuah suara lantang entah dari arah mana. Aku tidak bisa mengetahui persis, dan sepertinya kedua ‘teman’ baruku ini juga begitu. Aku sempat berpikir kalau ada seorang Esper, sebutan untuk orang  yang punya kemampuan paranormal, sedang berbicara ke dalam pikiran kami. Tapi ternyata tidak.

Perempuan berusia paruh baya itu berdiri sambil dengan tangan berdekap tangan. Memakai pakaian berwarna abu-abu gelap, pakaian formal seorang pekerja. Mungkin dia seorang guru atau mungkin kepala sekolah. Aku tidak mengenalnya. Meski aku sudah puluhan kali bersekolah, namun ini pertama kalinya aku bersekolah di sini.

Scott dan Tim sepertinya kenal betul dengan wanita itu, atau mungkin lebih tepatnya segan. Aku terkekeh dalam hati. Aku tidak perlu melakukan sesuatu yang bisa membuat aku menjadi terkenal. Yah, di sekolah menengah kamu akan menjadi sorotan karena menjadi yang terbaik, atau menjadi obyek bully terbaik.

Tim melepaskan genggaman tangannya, seiring dengan Scott yang menarik cengkeraman di tangan manusia serigala itu. Daniel tergopoh-gopoh menerobos teman-teman Tim, bergegas menarik lenganku yang terdiam.

“Selamat Pagi, Ms. Anna!” sapa Scott sambil berlalu. Sementara aku lirik, Tim dan teman-temannya langsung pergi menjauh dari Ms. Anna.

Daniel terus membawaku berlari, menuju aula utama sekolah. Tidak ada yang aku kenali di sekolah ini. Meski sudah banyak sekolah yang aku masuki, namun sekolah ini tegolong baru di kota. Walau begitu, tempat ini selalu menjadi favorit bagi penduduk kota ini. Yah, kecuali kami. Tidak ada zombie yang mau masuk sekolah yang penuh dengan remaja-remaja yang ingin menjadi keren.

Sepasang pintu biru pucat menanti di akhir koridor, entah sudah berapa jauh Daniel menarik lenganku. Kalau dilihat dari nafas Daniel, seperti lumayan jauh. Aku tidak bisa mengira karena kami zombie tidak mengenal yang namanya lelah atau kehabisan nafas. Satu lagi keuntungan menjadi seorang zombie.

Daniel mendorong pintu dengan bahu, setelah melepaskan tanganku. Sedikit keras, namun tidak membuat murid-murid baru yang sudah berada di dalam ruangan kaget. Aku tidak ingin kami menjadi pusat perhatian, dan Daniel juga mengetahui itu.

Di depan sana, beberapa pejabat sekolah sudah berada di atas sebuah panggung permanen setinggi satu meter. Satu buah mimbar kayu berwarna biru gelap diletakkan tepat di tengah panggung dengan sebuah mikropon kecil. Beberapa kursi lipat berjajar di bagian belakang panggung.

Aku segera mengambil earphone dari dalam tas. Meski ini baru pertama kali aku bersekolah di sini, aku yakin ceramah sambutan yang akan diberikan tidak jauh berbeda dengan sekolah-sekolahku dulu. Lagipula, aku berdandan ala anak emo. Pasti tidak ada yang akan protes kalau aku lebih memilih mendengarkan musik dari i-pod putih gading kesayanganku. Sementara aku lihat Daniel terlihat senang. Untuk pertama kalinya dia akan menjadi siswa sekolah menengah. Yeah, aku hanya tersenyum sinis. Tunggu sampai kamu berpuluh-puluh kali menjadi remaja, Daniel batinku.

***

Walaupun SMA ini adalah sekolah favorit, namun kota kecil tetaplah kota kecil. Tahun ini secara keseluruhan hanya ada kurang dari empat ratus murid, dan itu sudah termasuk dengan mereka-mereka yang sudah di drop-out ataupun tidak pernah menampakkan batang hidungnya namun masih terdaftar sebagai murid. Yeah, walaupun ini bisa jadi keuntungan bagiku karena lebih sedikit orang, lebih sedikit tingkat ke-populer-anku.

Daniel mengajakku ke kamar kecil setelah acara penyambutan selesai. Aku menunggu di depan wastafel, menatap bayangan diriku di depan cermin besar.  Aku menghembuskan nafas secara tidak sadar, beruntung tidak ada orang lain. Daniel juga sedang berada di dalam toilet.

 

Tidak ada yang aneh dengan wajahku, selain kulit yang tidak lagi segar dan pucat dengan pelupuk mata yang menghitam. Yah, kalau saja sedikit gemuk mungkin aku bisa dibilang mirip dengan Billi Joel-nya Green Day. Senyumku mengembang sedikit, mungkin jika aku manusia normal aku pasti akan mendapat tonjokan keras dari teman-temanku karena merasa mirip dengan seorang artis. Ya, kalau saja aku normal.

Suara siraman air di toilet terdengar, tidak lama Daniel keluar. Aku bergegas menjauh dari wastafel, meski wajah ini tidak lagi bisa dengan mudahnya menampakkan raut muka, namun aku berusaha agar Daniel tidak mendapati wajah meratapi-penderitaan-sebagai-seorang-zombie-ku.

“Jim …” ucap pelan Daniel pelan. Aku menghentikan langkah sesaat sebelum mendorong pintu kamar kecil, dan berbalik ke arah Daniel yang berada di belakang. Wajahnya menampakkan dia ingin mengatakan sesuatu yang serius.

“Ma-af,”  Daniel menundukkan wajah. Aku hapal dengan gerakan ini. Pasti ini sesuatu yang sangat penting dan berhubungan dengan aku. Aku hanya berdiam dan menunggu kalimat selanjutnya dari dia.

“A-ku lupa membawa bekal. Padalah tadi Mom sudah menyiapkannya untukku.” aku menangkap ada getaran dalam nada bicaranya. Aku yakin dia pasti takut dan menyesal.

Ya, mungkin bagi kalian lupa membawa bekal adalah sesuatu yang biasa saja. Sesuatu yang mungkin tidak perlu kalian ributkan. Mungkin hanya seperti saat kalian lupa membawa buku pelajaran, atau lupa membawa dompet.

Tidak bagi kami. Terutama bagi aku, ini sama saja seperti mendekatkan diri ke ujung jurang. Berlebihan? Bisa saja kalian menganggap ini berlebihan, tapi bagiku ini bukan masalah sepele. Aku memang bisa bertahan tidak makan selama beberapa lagipula aku sudah menghabiskan dua kotak sereal tadi pagi. Namun tidak bagi Daniel, dia sedikit punya masalah dengan perutnya. Jadi, dia harus makan teratur kalau tidak, dia bisa saja pingsan dan harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit.

Apa hubungannya Daniel yang lupa membawa bekal dengan aku? Yah, jika dilihat-lihat tidak ada hubungan langsung.  Singkatnya begini, Daniel tidak membawa bekal sama saja dengan Daniel harus membeli makan, dan tempat membeli makan adalah di kantin. Aku yakin kalian semua pasti tahu, kantin sekolah adalah miniatur kecil dari kesenjangan sosial yang ada di masyarakat. Walaupun bukan itu yang aku bahas, melainkan keramaian yang ada di sana. Keramaian adalah pantangan bagi kami kaum zombie, kecuali kalau kamu sedang berkumpul ramai dengan saudara sesame zombie. Itu tidak masalah.

Aku yakin Daniel bisa menatap pandangan tidak mengenakkan dari mataku. Dari seumur pertemanan kita, kamu harus memilih hari ini untuk kelupaan membawa bekal. Daniel! Ini hari pertama sekolah. Begitu arti tatapan mataku.

Daniel memonyongkan bibirnya sedikit, aku tidak melanjutkan lagi ‘pesan’ mataku. Pilihannya adalah Daniel pergi ke kantin sendirian, yang aku yakin sekali dia tidak mau. Atau aku berusaha menjadi invisible boy, dan berusaha menghilang dari radar semua orang.

Aku membalikkan badan, mendorong pintu dan keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai. Daniel bergegas mengejarku.

“Aku berani pergi sendirian.” bisik Daniel setelah menjajariku.

Aku menoleh sambil tersenyum.

“Tidak apa Daniel, selama puluhan tahun aku berhasil selamat dari sekolah menengah. Dan kali ini pun pasti tidak akan jauh berbeda. Satu kali ke kantin tentu tidak akan menyakitkan.” Aku berusaha menyemangati Daniel, atau sebenarnya aku sedang menyemangati diriku sendiri. Semoga saja kawanan manusia serigala itu tidak sedang berada di kantin.

Tepat di ujung pertigaan koridor, sepasang pintu senada pintu aula menanti. Jendela bundar dari kaca menghias di masing-masing pintu. Sepertinya tidak banyak orang yang sedang berada di kantin. Aku tidak melihat keramaian, atau mungkin jarakku masih terlalu jauh untuk bisa melihat ke bagian dalam.

Daniel mempercepat langkah, aku rasa dia sudah tidak tahan lagi. Dia mendorong pelan pintu kantin sebelah kanan. Aku melirik dari celah pintu yang dibuka Daniel. Benar saja, kantin ini adalah medan yang penuh ranjau bagiku. Meski besar, tapi sangat-sangat ramai. Entah kemana masa-masa dimana semua orang lebih memilih makan di taman, di meja dan bangku kayu di bawah pohon.

Aku termangu sementara Daniel bergegas menuju antrian. Lebih cepat dia mengantri, akan lebih baik. Namun menunggu di sini bukan ide yang bagus, dan di antara tiga pintu masuk menuju kantin, kenapa Tim dan kawan-kawannya harus memilih pintu yang sama.

“Selamat berjumpa lagi, bocah!” ucap Tim pelan sambil mencengkeram bahuku dari belakang.

Read previous post:  
72
points
(1497 words) posted by makkie 6 years 41 weeks ago
80
Tags: Cerita | Novel | fantasi | vampire | werewolf | zombie
Read next post:  
Writer hewan
hewan at Jimmy Zombie - 2 (6 years 37 weeks ago)
70

Si Jim-nya masih terasa lemah. Agak malas juga kalo lihat karakter utama yang di-bully. Yah... meskipun ceritanya memang bagus. Mungkin saya sudah bosan dengan karakter teraniaya gegara sinetron.
--
Akan saya lanjutkan baca ke episode tiga. Siapa tahu dia jadi zombie super
:*

Writer dansou
dansou at Jimmy Zombie - 2 (6 years 37 weeks ago)
100

Hum, hum, saya mulai kurang suka sama gaya narasinya Jim di sini. Hum, kurang asyik aja, sih, menurut saya. Masih sedikit agak kaku, tapi ini kayaknya masalah selera aja, sih.
.
Brb lanjuut~

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at Jimmy Zombie - 2 (6 years 38 weeks ago)
90

lanjutinlaah~ lanjutinnn~

Writer dindachan_camui
dindachan_camui at Jimmy Zombie - 2 (6 years 39 weeks ago)

wwuueeee.... kak makkie memang keren! meski masih byk typo sih... tp sumpah, ide ceritanya very good!
mantap!
lanjutkan kak! :D

Writer L. Filan
L. Filan at Jimmy Zombie - 2 (6 years 39 weeks ago)
90

Ada beberapa typo.
Lanjutannya ditunggu^^