Aku dan Dia

            Siapa aku? Ah, tadinya siapa aku itu tidak penting. Pada awalnya aku bukan siapa-siapa, hanya satu dari sekian banyak karyawan di perusahaan ini. Aku seorang wanita yang baru menginjak usia dua puluh tiga tahun lalu, masih anak bawang dalam dunia kerja. Aku sering melakukan kesalahan, dan berakibat dimarahi oleh atasan. Aku bukan tipe orang yang suka mengeluh, aku sadar bahwa aku salah, jadi aku terima semua caci maki dari pria berperut buncit menyebalkan itu, atau omelan para rekan kerjaku. Tapi...

Tapi dia tidak bisa menerimanya...

            Aku tahu ada yang salah dengan diri aku semenjak kecil dulu. Ketika aku tidak tahan lagi diganggu oleh anak-anak berandalan atau diomeli guru, dia selalu muncul. Kapan dan bagaimana caranya dia muncul, aku tidak pernah tahu, bahkan menyadari keberadaannya. Hingga suatu hari, aku tidak dapat mengendalikan tubuhku, semuanya serba hitam. Hal terakhir yang aku ingat adalah, anak-anak berandalan itu menganggu aku lagi, dan aku ingin membalas mereka, namun tidak memiliki kekuatan. Seandainya aku punya kekuatan untuk membuat mereka merasakan lebih dari apa yang telah aku rasakan selama ini... Itulah pikiran terakhirku, waktu itu... Begitu aku membuka mata, sosok anak-anak berandal yang sering mengganggu telah terkapar di tanah, dalam kondisi mengenaskan. Nafasku tidak beraturan, jantungku berdebar sekencang-kencangnya, mulut serta mataku terbuka lebar. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku, dan aku merasa seperti tengah menggenggam sesuatu, sebuah besi panjang yang karatan, berlumuran darah. Aku pun melepaskan besi tersebut, mencengkram kepala, lalu lari ketakutan. Waktu itu, aku berpikir bahwa ada sebuah kesalahan, atau itu hanya salah satu dari lelucon yang mereka buat untuk menakutiku.

            Sesampainya di rumah, aku menatap pantulan diriku di cermin. Penuh luka serta darah yang mulai mengering. Wajahku pucat pasi, serta dipenuhi peluh selain darah. Mungkin aku tadi terjatuh, begitu batinku waktu itu. Esok harinya, orang tua para berandalan itu mengatakan bahwa anak mereka masuk rumah sakit, dipukuli oleh anak-anak berandal lainnya yang lebih tua dari mereka. Sebab, tidak mungkin seorang anak SD kelas 3 mampu – nyaris membunuh – anak SD kelas 5, bahkan ada dua orang yang tidak terselamatkan. Ditambah terdapat sebuah besi disana. Aku mendengarkan cerita dari guru dengan kepala tertunduk, ngeri dan ketakutan sendiri. Bagaimana jika memang aku yang melakukannya? Kala itu, aku kira hanya aku yang berkuasa atas tubuhku. Aku belum kenal dia, tapi itulah pertama kalinya dia muncul. Paling tidak, dia bilang begitu. Tapi, aku percaya dia, sebab dia selalu menolongku. Meski terkadang setelah menolongku, dia selalu memberikan masalah yang terkadang tidak bisa aku selesaikan.

            Dia kembali muncul saat aku kelas 5 SD. Ada seorang guru mesum yang suka menggrayangi tubuh murid-muridnya – baik laki-laki atau yang perempuan. Waktu itu, aku ingat, aku berada di lantai dengan posisi terlentang, seragamku sudah compang-camping. Kami berada di gudang peralatan olahraga waktu itu, sore hari. Tidak akan pernah aku lupakan wajahnya yang menjijikan, air liur yang menetes, matanya yang membesar, mulutnya yang terbuka lebar seoalh siap melahap mangsa tidak berdaya dihadapannya. Aku berteriak kencang, berharap ada yang mendengar, dan dia menjawab. Aku bisa mendengar suaranya yang menyuruhku tenang, dan menyerahkan segalanya kepada dia. Seperti waktu itu, semua disekitarku kembali gelap. Dan saat semua kembali seperti sedia kala, sosok guru mesum itu terbaring dengan sebuah luka besar dibelakang kepalanya, mengeluarkan darah anyir. Darah yang sama yang masih menetes dari tanganku, dari sebuah batu bata yang aku genggam erat. Nafasku tersengal-sengal tanpa sebab, tanpa pikir panjang, aku langsung kabur dari sana setelah mengambil barang-barang milikku dan membuang batu bata terkutuk itu.

            Malam harinya, aku tidak bisa tidur. Hanya duduk termenung di kasur ukuran single milikku dengan sebuah selimut menutupi tubuhku hingga ke kepala. Menggigil, tubuhku terasa dingin, padahal malam itu suhu mencapai 35 derajat celcius di Jakarta. Aku ketakutan, kepada apa, entah aku tidak tahu. Apa kepada dia? Atau diriku? Tapi, aku belum mengenal dia dengan baik waktu itu. Yang aku mengenai dia hanya bahwa dia adalah seseorang yang selalu membantuku bila aku sedang kesulitan. Jadi seharusnya, sosok dia tidak mengerikan. Ya, tidak mengerikan, seandainya dia tidak membunuh semua orang itu...

            Aku kira dia tidak akan muncul lagi, namun aku salah. Dia terus muncul, terus membunuh... Sekarang, bukan hanya orang yang mengangguku saja yang dia bunuh. Siapa pun, tidak pandang bulu. Siapa pun yang ‘beruntung’ dia lihat, akan menjadi patner untuk memuaskan nafsunya. Cara membunuhnya pun semakin membaik, semakin mengeluarkan banyak darah, semakin melantunkan banyak jeritan serta teriakan kesakitan para korban. Membuat seringai sadis dibibir tipis ini mengembang semakin lebar, mata ini semakin kelam dan penuh dengan misteri. Serta menumbuhkan rasa kepuasaan tersendiri, yang tidak pernah muncul, tidak pernah aku rasakan, tidak akan mungkin aku miliki jika dia tidak melakukan pembunuhan. Awalnya aku merasa gila, jijik dan terhina karena menikmati setiap pembunuhan yang dia lakukan, memohon agar dia melakukannya lagi. Menyuguhkan pembunuhan yang berbeda tiap kalinya.

Aku sudah kehilangan akal sehatku dihari saat aku, memohon kepadanya untuk membunuh seorang sahabatku di SMA. Padahal dia anak yang baik, ah, sayang, dunia kehilangan satu sumber daya manusia yang baik hanya karena seorang gadis kecanduan melihat sebuah pembunuhan... Semasa SMA aku begitu menerima dia dengan terbuka, aku merasa beruntung bisa memiliki dia. Sebab hanya dia, yang mengerti keinginanku. Cara dia menyiksa, membunuh, semua sesuai dengan keinginanku. Dia selalu berhasil membuatku merasa puas, merasa bahagia. Aku sungguh menyesal saat SMP dulu tidak pernah merasakan hal ini... Aku sudah minta maaf kepada dia, dia memaafkanku. Namun sebagai gantinya, aku harus mengizinkan dia untuk membunuh lebih banyak. Aku tidak peduli, toh, memang itu yang aku inginkan. Melihat dia melakukan pembunuhan, demi memuaskanku...

Semasa kuliah, aku dan dia sempat menjauh. Aku marah kepadanya waktu itu karena menghajar cowok yang aku taksir sampai-sampai pria itu masuk rumah sakit selama enam bulan. Aku mulai mengenal orang lain – sebab menunggu cowok itu keluar dari rumah sakit, pasti bakalan lama – dan aku tidak bisa menunggu selama itu – yang bisa membuatku bahagia. Aku pun berpacaran dengannya selama setahun, aku senang. Namun salah satu sudut hati ini merindukan sesuatu. Sesuatu, yang hanya bisa diberikan oleh dia. Dia mengerti dan paham bagaimana caranya memuaskanku tanpa harus menyentuh tubuh ini, seperti pria brengsek yang aku pikir berbeda dari pria-pria lainnya. Hah, ternyata pada akhirnya para pria hanya akan mengincar tubuh saja. Tapi paling tidak, aku harus berterima kasih kepada si brengsek itu, sebab karena nafsu bejatnya, dia kembali lagi kepadaku... Yah, walau aku harus mengasihaninya karena wajah tampannya di’cubit’ oleh dia menggunakan tang... Serta jari-jari kurang ajar yang menyentuh tubuhku tanpa izin juga sudah lepas dari tempatnya.

Ah, aku pikir aku tidak akan pernah puas dengan pembunuhan yang dilakukan oleh dia. Tapi aku pernah merasa bosan. Dia sempat marah dan berjanji akan menyuguhkan pembunuhan yang benar-benar dapat memuaskan batinku. Namun aku katakan kepadanya baik-baik, bahwa aku sudah lelah melihat pembunuhan. Dia marah, lalu pergi begitu saja, sama seperti ketika aku menemukan orang lain yang bisa membuatku bahagia. Aku sempat panik, sebab selama ini, hanya dia yang selalu menolongku jika aku dalam kesulitan. Siapa nanti yang akan menolongku saat aku dalam bahaya? Aku sempat menyesali keputusanku, tapi mau bagaimana lagi...

Dulu, aku memuja dia. Sebab dia dapat melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan. Aku bersyukur memiliki dia. Ah, aku nyaris lupa, aku memanggil dia dengan nama – ah, apa itu penting? Biarlah hanya aku yang tahu nama dia, kalian tidak perlu tahu! Tetapi semakin lama, aku semakin muak. Dia hanya memikirkan pembunuhan dan pembunuhan tiap kalinya. Sampai detik ini juga aku heran dengan caranya hingga tidak tertangkap. Rasa muakku berubah menjadi benci, ketika – entah bagaimana caranya – dia berhasil mengendalikan tubuhku selama sebulan. Ketika aku masuk kantor, orang-orang kantorku menyapa dan meminta oleh-oleh kepadaku. Aku, tentu saja bingung, memangnya kapan aku pergi? Dan apa kalian bisa menebak, apa yang dia lakukan menggunakan tubuhku selama sebulan itu?  Tidur dengan setiap pria yang berani membayar mahal, dan setelah puas, dia membunuh mereka. Menjijikan! Kenapa dulu aku pernah merasa bahagia setiap kali aku melihat dia membunuh? Apa karena dia telah semena-mena menjajakan diriku kepada pria hidung belang? Aku benci, aku marah, aku jijik, bukan kepada dia saja, tetapi juga kepada diriku sendiri...

Untungnya si bodoh itu tidak sampai membuatku hamil. Jika sampai ia, mungkin aku akan membunuh bayi itu menggunakan tangan serta alam sadarku sendiri. Aku sudah pernah katakan, bukan, bahwa dia selalu muncul ketika aku butuh pertolongan? Seperti ksatria berkuda putih yang datang menolong sang puteri dalam dongeng. Aku pikir, kali ini, dia tidak akan membunuh lagi. Aku kira, dia juga bisa bosan dengan pembunuhan seperti diriku. Nyatanya tidak... Masih ada korban lagi yang jatuh...

Dan yang terakhir, adalah bosku. Aku akui, aku memang benci – SANGAT MEMBENCI bosku. Tetapi bukan berarti aku berhak untuk mengambil nyawanya. Tapi dia berkata lain... Biasanya aku seperti penonton setiap kali dia membunuh. Hanya saja, aku bisa merasakan adrenalinnya. Tetapi kali ini, saat dia membunuh bosku, aku seperti berasa diposisinya, seolah akulah pelakunya. Sebab, semua itu terasa nyata, lebih nyata dari biasanya. Amarah yang bergejolak dalam tubuh, darah yang mendidih, rasa muak dan jijik kepada bosku, dan juga, perasaan untuk membunuhnya, menghabisi nyawanya yang lebih rendah dari serangga. Aku lepas kendali ketika tangannya mulai menggrayangi tubuhku. Aku juga bodoh, kenapa aku mau pergi bersamanya ke luar kota tanpa ada orang lain yang mengetahui hal ini?

Aku menyeringai saat aku menghantam kepala bosku menggunakan asbak kesayangannya hingga pecah, asbak yang katanya, lebih berharga daripada diriku. Perasaan aneh yang selama ini tersembunyi menyeruak keluar, aku bahagia, setiap kali melihat tetes darah dari wajahnya. Tapi pria ini tidak layak jika hanya mati karena hantaman sebuah asbak. Apa yang dia lakukan terhadap karyawannya, dia harus merasakan rasa sakit yang lebih dibandingkan rasa sakit yang dia buat terhadap anak buahnya. Jadi, aku mulai mempraktikan semua yang pernah aku lihat.

Aku mengikat tangan serta kakinya, menyumpal mulutnya menggunakan sapu tangan. Aku mengambil ikat pinggangnya, lalu mulai mencambuk tubuh tua bangka itu sambil sesekali tertawa bahagia. Cambukan yang aku lancarkan sampai membuat kulitnya terkelupas, wangi darah yang sangat aku rindukan menyerbak keluar. Walau darah itu darah dari tua bangka bejat itu, aku tidak peduli, rasa hausku akan darah hilang sudah. Ada jeruk nipis diatas meja, tua bangka ini memang suka minum jeruk nipis sebelum tidur. Aku memotongnya, kemudian meneteskannya ke luka cambukan, dia menjerit kesakitan. Ya! Teriak lagi, teriak sampai pita suaramu putus! Ada gunting, jadi kalian bisa menebak bukan, apa yang akan aku lakukan dengan gunting tersebut? Mencabut jari kurang ajar yang telah menyentuh puluhan bahkan ratusan karyawan wanitanya. Ketika aku akan mencabut jari manisnya, ada cincin pernikahannya terpasang disana, aku melepaskannya, kemudian memasukannya ke dalam mulutnya, memaksanya agar dia menelannya. Suasana sepi, setelah itu. Ah, rupanya dia sudah mati. Tua bangka brengsek, dia bahkan belum berhasil membuatku puas!

Sekarang aku mengerti, betapa dia sangat menyukai membunuh. Membunuh itu nikmat, ketika kau yang menjadi ‘Tuhan’ dihadapan korbanmu, ketika kau yang menuntukan hidup dan matinya. Mendengar suara memohonnya yang mungkin tidak pernah ia perdengarkan kepada orang lain, jeritan pilu tiap kali dia tersiksa, serta eluhan panjang saat nyawanya keluar dari tubuh. Simponi yang indah...

            Aku tapi belum puas, aku jadi ketagihan membunuh karena dia. Aku menatap pantulan diriku dicermin, begitu mengerikan, menjijikan, tetapi begitu terlihat sangat terpuaskan. Aku menyeringai.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer pandusaksono
pandusaksono at Aku dan Dia (8 weeks 5 days ago)
90

wah, kepribadian ganda ya. entah kenapa rasanya menyeramkan tapi sekaligus "seksi"
=P

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at Aku dan Dia (8 weeks 2 days ago)

Wah, seksi? Seksi di bagian manany yah?

Writer pandusaksono
pandusaksono at Aku dan Dia (8 weeks 2 days ago)

entahlah. aku sering merasa kalau perempuan yang saiko itu entah bagaimana "seksi".

*padahal kalo ketemu 1 bisa lari terbirit-birit ane.*

Writer Monox D. I-Fly
Monox D. I-Fly at Aku dan Dia (16 weeks 5 days ago)

Somehow aku jadi mikir kalau ini Alternate Story dari manga Yu-Gi-Oh! seandainya Millennium Puzzle jatuh ke tangan yang salah... >.< ._. XS

Writer oleleole
oleleole at Aku dan Dia (1 year 33 weeks ago)
100

Serem banget, kak.. terutama pas bagian nyiksa bosnya itu.. Deskripsinya tergambarkan jelas sekali di kepala saya.. :O

Writer L. Filan
L. Filan at Aku dan Dia (1 year 33 weeks ago)
60

saiko -_-

Writer Ichsan.Leonhart
Ichsan.Leonhart at Aku dan Dia (1 year 33 weeks ago)
90

ada typo nih -> seoalh = seolah?
.
btw, tokoh utamanya sado nih, agak sempet bingung juga dengan penjelasan si "DIA" apakah alter ego, ataukah manusia lain yang bisa merasuki sang tokoh utama.
XD

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at Aku dan Dia (1 year 33 weeks ago)

Wah, makasih, nanti saia perbaiki :)

Heheheh,iy,emang mau bikin karakter sado,belum menjiwai untuk yg masokis.

Sebetulny "DIA" itu alter ego "AKU". Apa penjelasan soal "DIA" itu gak menunjukan kalo dy alter ego yah?

Writer danove
danove at Aku dan Dia (1 year 33 weeks ago)

Sadis banget ya.. haha

Writer nathalie
nathalie at Aku dan Dia (1 year 33 weeks ago)

Aduh serem