Battle of Realm N2: Fourway Fight Tiny-Galaxy (Runeheart)

 

Battle of Realms

Nominate

(Fourway Fight)

-From The Beginning-

Runeheart Vassal

 

Rune berdiri menghadap pintu bercahaya putih menyilaukan di depannya. Rasanya ada energi kuat yang menerpanya sampai-sampai jubah Eldernya berkibar-kibar dengan hebat.

“Haih… tegang, Nak?” seseorang muncul di belakang Rune, dan menepuk-nepuk kepala bocah itu.

“Ehg?” Rune kaget, lalu menoleh ke belakang. Dia melihat Yunus yang menyambut dengan senyuman khasnya. Tidak hanya Yunus, ada juga Redina dan Demetria di belakang Yunus.

“Bisa tegang juga kau?” kata Demetria sambil bersedekap, dan menyandar pada sebuah tiang putih.

“Enak saja!” bantah Rune sambil memanyunkan bibirnya. “Siapa yang tegang?”

“Lalu apa namanya ini?” Redina maju ke arah Rune, lalu meraba dada bocah itu yang berdebar-debar sangat keras. Hal itu membuat Rune menundukkan kepalanya dengan wajah merah.

“Aku cuman…”

“Apa?” Tanya Yunus.

“Ah, tidak apa-apa. Sudah ya, aku masuk dulu. Biar langsung menang!” Rune menepis semua rasa gelisahnya, lalu mengadu kedua tinjunya penuh semangat. Wajahnya menyeringai seperti biasanya. Kemudian dia berbalik menghadap pintu bercahaya lagi.

“Hah, dasar kau, Rune.” Kata Demetria.

“Ingat, Rune. Kami di sini mendukungmu. Termasuk aku tentunya.” Kata Yunus dengan suara meneduhkan. Dia menepuk-nepuk pundak Rune penuh pengertian.

“Pasti. Aku pasti menang. Lagipula cumin melawan tiga orang, kan? Sepuluh orang pun kuterima.” Balas Rune sambil pamer cengiran lebar pada ketiga teman di belakangnya.

“Kita berjumpa di pertarungan berikutnya, Rune!” kata Yunus.

“Kalau begitu kalian harus menang di pertandingan awal ini.” Giliran demetria yang menepuk bahu Rune.

“Pasti, teman-teman. Aku pasti bisa.” Kemudian Rune membiarkan dirinya masuk menembus pintu bercahaya di depannya. Tubuhnya tenggelam dalam balutan cahaya warna putih yang menyilaukan.

*-*-*-*

Tiny Galaxy…

Aneh, kenapa aku jadi ragu?

Kenapa kebenaran yang kucari-cari seperti… tidak penting lagi?

Apa karena aku sudah bisa menebaknya?

Apa benar aku sudah menebaknya?

Di mana kau, Vandhir?

Di mana kau,… kakak?

Di antara kegelapan yang menghampar di depan Rune, sekilas terlihat punggung seseorang yang sangat gagah dan tampak bercahaya. Punggung itu perlahan menjauh, dan hilang dalam kegelapan.

“Ah?” Rune membuka matanya sambil mengerjap-ngerjap. Dia panik beberapa saat karena setelah sekian lama dia belum juga bisa melihat. Awalnya bocah itu mengira kalau dia sudah buta, tapi dia baru ingat kalau stage pertarungan empat arahnya ada di luar angkasa. Jadi dia mengira kalau sudah terlempar di luar angkasa. Cuman di mana bintang-bintangnya?

Tubuh Rune melesat cepat ke bawah yang tak berdasar. Atau setidaknya seperti itulah menurutnya. Walaupaun aneh, tapi memang ada angin yang berkelebat ke atas menyikap jubah Eldernya.

Setelah beberapa saat, tubuh bocah itu berhenti mendadak, dan rasanya tubuhnya pelan-pelan berdiri tegak di tempat hitam total itu.

“Eh, hey, di mana aku?” kata Rune penasaran. Suaranya menggema ke mana-mana, dan lama-lama mengecil samapi hilang. “Eh, dasar tempat menyebalkan!” dia membakar tangannya sampai api berkobar-kobar, tapi tetap tak terlihat apa-apa selain warna api dan kehitaman total.

“HOE, KAUS KAKI BUSUK, ATAU SIAPA LAH, MANA LAWAN-LAWANKU, WOY?” dia melompat-lompat sebal tapi tidak sampai ke mana-mana. Waktu itulah sebuah getaran hebat muncul dan mengguncang seisi tempat hitam itu. Hal itu membuat Rune terkejut bukan main, lalu menoleh ke mana-mana. Dia tambah terkejut waktu melihat kilatan-kilatan warna-warni yang bermunculan di mana-mana.

Cahaya-cahaya itu melintas dari udara kosong dan saling bertubrukan satu sama lain, menciptakan ledakan-ledakan dahsyat yang menggelegar. Lama-kelamaan, semua tempat di sana berubah dari hitam total menjadi merah kehitaman yang sangat mencekam, seperti warna matahari sore hari. Semua ledakan yang terjadi itu mewarnai udara kosong sehingga berwarna api.

Rune mulai panik saat ledakan berkali-kali itu muncul di sekitarnya. Awalnya dia mengira itu adalah serangan dari salah satu musuhnya yang bisa mengendalikan api, tapi dia ragu ada orang yang bisa menciptakan ledakan dahsyat bertubi-tubi itu, terlebih ketika seluruh ledakan di sana meluncur jauh ke depan dan berpusat pada satu titik. Keseluruhan ledakan itu menabrakkan diri mereka secara bertubi-tubi sampai tercipta lempengan api yang meledak-ledak di pusat ledakan sana. Lempengan api itu bergejolak hebat dan seolah melumat habis udara dingin di seluruh tempat itu. Seluruh tempat mendadak berubah panas total, bahkan Rune sampai bermandikan keringat karena hal itu.

Di pusat ledakan, tercipta spiral api keemasan yang berputar-putar. Lama-kelamaan spiral itu mampu memutar serpihan-serpihan debu ledakan di sekitarnya sampai memperlebar diameternya. Sangat terang dan meliuk-liuk dengan indah kalau saja Rune tidak merasa kepanasan bukan main waktu melihat proses berputar-putarnya spiral di depan sana.

“Uh, sial. Tempat apa ini? Apa aku datang terlalu awal ya?” dia menggeram penuh tenaga sampai-sampai aura merah di tubuhnya berkobar-kobar. Entah apa yang dipikirkannya waktu itu, tapi dia terus mengobarkan aura panas di tubuhnya. “Heh, lihat saja seberapa panas kau!”

Dia menatap lurus ke arah spiral yang berputar-putar seperti gasing di depan sana. Matanya menunjukkan ejekkan. “Haih, Puting Beliung Naga!”

Bocah itu berteriak sekuat tenaga, lalu mengentakkan seluruh tenaganya melalui juluran tangan ke depan. Detik berikutnya raungan naga yang sangat keras tercipta beriringan dengan ledakan api beruntun ke depan sana. Api itu meliuk-liuk tak beraturan, dan menyambar apapun yang menghalangi lajunya. Serangan itu kali ini jauh lebih besar daripada sebelum-sebelumnya, mungkin karena tahapan bocah itu yang telah mencapai titik Eldernya.

Namun, beberapa saat sebelum serangan dahsyat Rune menerjang spiral yang meliuk-liuk dan semakin besar itu, terlebih dahulu spiral itu meledak sangat dahsyat. Ledakannya menggelegar keras dan menghancurkan apapun yang ada di tempat itu. Alhasil serangan Rune tadi tenggelam, dan terlumat habis-habisan oleh ledakan yang mengguncang alam semesta kosong itu.

Rune sendiri terpental habis-habisan ke belakang, menembus segala macam partikel yang secara ajaib bermunculan. Rasa panas sudah tak tertahankan lagi, seperti di neraka. Di mana-mana hanya ada ledakan dan warna api yang meluap-luap membakar segalanya, dan itu semua tak luput membakar bocah yang terpental jauh ke belakang itu.

“Si-Siallllllll!” Rune mengerang kesakitan, lalu mengentakkan tubuhnya sekuat tenaga. “DARATAN- eh?” baru saja bocah itu akan mengeluarkan jurus pamungkasnya ketika mendadak seluruh api ledakan berputar sangat cepat, dan menghilang. Menyisakan butir-butir bercahaya yang menghampar di mana-mana, disambungkan oleh kabut-kabut biru-putih yang sangat indah. Di depan sana, jauh di depan sana di tempat tadi spiral berputar-putar, sekarang ada sebuah bola merah membara yang meletup-letupkan lidah api.

“Ah,” Rune terjatuh lemas ke sebuah asteroid kecil yang melintas. Dia jatuh dengan pelan, kemudian mencoba berdiri sambil menatap alam semesta yang baru saja tercipta itu. Dia terbelalak kaget melihat betapa hebatnya dunia itu. Penuh kerlap-kerlip biru-putih-merah di mana-mana, dan yang lebih aneh dia bisa bernapas di tempat itu.

“Selamat datang, di tiny galaxy, petarung!”

“Eh, suara itu?” Rune menoleh ke belakang waktu mendengar suara bergema yang indah itu. Dia langsung terkejut begitu melihat serangkaian cahaya indah sekali yang membentuk sosok wanita cantik di atas sana. “K-Kau siapa?”

“Aku… yang menciptakan tempat ini baru saja…” jawab serangkaian cahaya itu.

“D-Dewi?” Tanya Rune tak percaya.

“Terserah apa panggilanmu, tapi petarung, aku hanya akan memperingatkanmu kalau tempat ini sangat labil.”

“Labil?” Rune hanya mengulangi perkataan terakhir wanita cahaya di atas sana.

“Benar, anak kecil. Aku hanya menciptakan tempat ini untuk sementara waktu. Karena kau yang pertama datang, aku memperingatkanmu kalau hanya dalam beberapa menit tempat ini akan hancur lagi.”

“Hey, hey… tidak bisa begitu. Aku harus bertarung di sini, kau tahu. Battle of Realms.”

“Itu urusanmu. Tugasku hanya menciptakan, dan menghancurkan tempat ini. Galaksi ini hanya latihan bagiku untuk menciptakan alam semesta yang sesungguhnya.”

“Itu urusanmu!” teriak Rune keras-keras. “Tak peduli kau mau menghancurkannya lagi atau apalah itu, yang jelas aku harus bertarung habis-habisan di sini. Kalau mau hancurkan, setelah pertandinganku selesai!”

“Bagaimana kalau aku menolak?”

“Itu bukan urusanku.” Rune mengadu tinjunya sampai sebuah ledakan api kecil tercipta. “Sebaiknya kau jangan mengganggu pertarunganku… atau!”

“Atau apa?”

Rune menyeringai penuh makna. “Kuhancurkan tempat ini!”

Wajah yang terlukis dari perpaduan sinar warna-warni di atas terlihat kebingungan. “Eh, bukannya aku yang tadi mengancam akan menghancurkan tempat ini?”

“Aku saja, deh!” balas Rune. “kalau begitu bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Dasar. Tentu saja tentang penghancuran tempat ini?”

“Begini saja. Apa kau bisa melakukannya untukku? Dengan pertarunganmu itu?”

“Melakukan apa?”

“Heh, kau kira apa yang sedang kita bicarakan?”

“Oh, kau memintaku menghancurkan tempat ini?” Rune menggaruk-garuk kepalanya kebingungan. “BAGAIMANA CARANYA?”

“KATAMU TADI KAU BISA MENGHANCURKAN TEMPAT INI!” sosok bercahaya itu menyambar Rune dengan tamparan kerasnya sampai-sampai bocah itu terpental jauh sekali menembus puluhan asteroid.

“KYAAAAAAAA!!!!” akhirnya Rune berhenti setelah menabrak sebongkah asteroid kecil, lalu buru-buru bangun. “APA-APAAN KAU?” makinya keras-keras.

“Eh, hehe… maaf!” kata sosok itu, dan berusaha tampil anggun lagi. “Nah, petarung, karena kau menggembar-nggemborkan kau bisa menghancurkan tempat ini, maka silahkan bertarung sesuka hatimu. Tapi, aku minta agar kau menghancurkan tempat ini selama pertarunganmu. Kau bisa?”

“Kenapa harus?” Tanya Rune sambil memijiti pundaknya yang pegal-pegal.

“Karena tempat ini memang harus hancur, bocah!” sosok itu menahan sebalnya.

“Oh, oke. Asal boleh bertarung di sini, akan kulakukan!” Rune mengangguk mantab, lalu mengepalkan tinjunya.

“Ingat, bintang merah raksasa itu adalah kuncinya. Bintang itu sangat rapuh, dan dari ledakannya, semua tempat di sini akan hancur. Termasuk kau sendiri.” Lalu sosok itu melebur menjadi ribuan butir cahaya yang pecah ke segala arah.

“Ah?” Rune merasa sangat silau dengan butir-butir sinar itu. Kemudian mendadak kepalanya menjadi pusing bukan main. Semuanya terasa berputar-putar di matanya, dan gelap sama sekali. Seperti tadi.

*-*-*-*

Read previous post:  
80
points
(5538 words) posted by Sam_Riilme 6 years 44 weeks ago
88.8889
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | Battle of Realms | N2 | Ronde Turnamen
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

berapi2 spt biasanya kak x3
percakapan spa-rune bagian awal krasa g penting sih kak, karakter peserta yg lain jg jd sama smua dgn rune, suka teriak2 dan saling ngejek xD
skor B

80

Battle meledak-ledak emang jadi ciri khasmu ya... Dan Keliatannya di sinipun itu ga berubah. Mungkin setting Tiny Galaxy emang paling memungkinakn buat battle all-out ya?
.
Tapi sayangnya, lawanmu juga melakukan hal yang serupa (frontal battle), dan dibanding mereka, milikmu malah kurang terlihat menampilkan sesuatu yang 'lebih'. Mungkin senada juga dengan dua komen di bawah soal overdeskripsi dan minimnya penggalian karakter lawan. Efeknya cerita jadi terasa 'biasa', bahkan mungkin terasa 'kurang'
.
Skor : B

100

uyeee, battle Rune yg pertama sy selesekan bacanya.. 'w')~
.
dan battleya.. gilak!!! berkobar-kobar, meledak-ledak, meluap-luap.. membara!!!
.
...
itu aja sih.. gak ada yg spesial, tapi akhirnya Rune jadi keren! XD
.
Mllit, Crimson, n Karin ooc parah
.
Crimson kayak Rune kw 1, Karin kw 2, sdang Mliit kw 3 -.-
.
intinya sifat mereka semua sama gituh.. mana Crimson gak ngomong sendiri, mana sifat ngocehnya Karin n benda2 ajaibnya juga gk keluar, trus mana sifat heroik Mliit yg penuh keberanian..
.
dan lagi gak ada ceritanya! cuma ledek2an n adu sengak..
.
ukh, skor C klo st penilaiannya kyak liga dulu
.
maapkan sayaa..
.
btw dedlen nya masih lama, kenapa buru2 gini si kan bisa mpelajari lawan lebih jauh..
.
tp gk tau si kalo Kaz udh gak minat sma BoR .__.

100

anjir... battle yang penuh dengan gelegar membara maha dahsyat.
.
battlenya over deskripsi banget nih istilahnya. cuman yang saya heran kenapa deskripsi detailnya malah nyeritain ledakan demi ledakan galaxy itu. tapi sebenernya pas berantem juga detil si, tapi gimana ya, rasanya gerakannya banyak banget tapi dikompres gitu jadi bingung bacanya.
.
tapi adegan yang paling saya suka itu pas awal2 waktu Rune ngobrol ma temen bloknya, so sweet~
.
btw bagian akhirnya kurang paham, kapan lawan-lawannya dikalahin, tahu2 udapada sekarat semua...