Jimmy Zombie - 3

 

Werewolf. Serigala jadi-jadian. Lycan. Manusia serigala. Banyak nama panggilan untuk makhluk-makhluk seperti Tim dan temannya ini. Namun kaum kami menamai mereka Wilkar,- dia yang terkutuk oleh darah serigala.Entah sejak kapan mereka berjalan bersama manusia normal, aku kurang mengetahui.Toh, aku juga tidak ingin mengetahui.Kapasitas memori otakku tidak perlu aku penuhi dengan hal-hal yang tidak begitu penting.Yah, mungkin bagi dziekan, para tetua kaum zombie, sejarah para Wilkar mempunyai manfaat untuk diketahui.

Banyak hal yang sering dilebih-lebihkan tentang para Wilkar. Yah, aku akui mereka memang kuat. Bagi yang tubuhnya berotot seperti Tim dan kawan-kawannya yang kebetulan para pemain Football kebanggaan sekolah ini. Setidaknya itulah tadi yang disampaikan oleh Kepala Sekolah. Tim adalah Kapten Football, sekaligus Gelandang terbaik di tingkat SMA.Tapi tidak semua Wilkar bertubuh kekar.Ya, tidak semua.Aku pernah melihat Wilkar yang perawakannya tidak jauh berbeda dengan aku.

Oke, kembali ke masalah manusia serigala. Banyak yang mengira mereka bisa berubah bentuk menjadi seekor serigala besar? Aku hanya bisa bilang waw. Apa kamu percaya dengan itu? Kalau iya, berarti kamu termakan oleh cerita-cerita sebelum tidur. Hei, realistis! Jika memang benar para Wilkar bisa berubah bentuk, tentu aku adalah zombie yang menu hariannya adalah otak dan daging.Otak dan daging, huh, entah kenapa para pendongeng memberikan kedua benda itu sebagai makanan favorit kami. Seandainya aku tahu siapa orangnya, pasti akan aku kunyah sampai mati karena pencemaran nama baik.

Para Wilkar memang berubah bentuk, tapi tidak se-ekstrem yang kalian bayangkan. Perubahan hanya terjadi pada otot-otot mereka yang membesar, bahkan satu cerita aku dengar pernah ada yang sampai membengkak. Kuping lancip, gigi taring, dan kuku-kuku tajam itu hanya imajinasi para penulis buku. Jangan bayangkan juga mereka berubah menjadi makhluk dua kaki dengan tubuh yang penuh bulu dan mempunyai moncong. Menurutku itu menjijikan.

Hmm, satu hal yang aku akui sangat keren dari para Wilkar adalah peningkatan kemampuan indera penciuman, penglihatan, dan pendengaran mereka. Jauh di atas manusia normal. Bahkan insting mereka benar-benar seperti seekor serigala. Jadi, serigala jadi-jadian yang asli hanyalah manusia yang tiba-tiba menjadi kekar, kuat, dan cepat. Tidak jauh berbeda dengan para pemakai steroid.Bukan makhluk yang bisa berubah menjadi serigala saat purnama ataupun cerita-cerita lainnya. Ah, heran kenapa terkadang mereka terlihat lebih keren di dalam cerita daripada kehidupan nyata.

Sayang, kemampuan berpikir mereka tidak mengalami peningkatan. Mungkin jika kemampuan otak mereka bisa membesar seperti otot-otot mereka, keadaan akan menjadi lebih baik. Tidak seperti empat kawanan yang dengan suka ria sedang menarik, atau tepatnya menggeretku menuju satu tempat di sekolah ini yang aku yakini pasti sepi. Yah, sepertinya jaman sekarang para remaja sangat suka dengan yang namanya penggencetan. Entah kapan dan siapa yang menemukan ide brilian ini, yang jelas hampir semua remaja di sekolah melakukannya.

Trend ini juga tidak lepas dari empat sekawan Tim, Greg, Paul, dan Brad.Aku hanya mengetahui Tim, yang lain hanya aku tahu dari cara mereka memanggil. Tidak sempat untuk berpikir siapa pemilik nama siapa. Mereka memegangku dari belakang, dan mendorong aku maju ke suatu tempat.Hanya Tim yang berjalan dengan angkuh di depanku dan tiga temannya.Aku yakin dia adalah pimpinan kawanan kecil Wilkar ini.Semua perintah yang dia katakan, tidak pernah dibantah oleh tiga lainnya.

Beberapa siswa lain hanya menatapku dengan berbagai pandangan, ada yang merasa iba, ada yang tertawa, ada juga pandangan yang merendahkan. Entah merendahkan aku yang lemah, atau kelakuan konyol Tim dan teman-temannya.Semoga saja pilihan yang kedua.

Yah, kemungkinan untuk menjadi siswa autis dan tidak disadari kehadirannya sepertinya akan berakhir dalam hitungan menit. Meskipun aku sudah menunduk agara tidak ada yang bisa melihat wajahku dengan jelas, namun sepertinya Tim tidak akan membawaku ke tempat yang sepi. Karena jalan yang kami lalui semakin ramai dengan para siswa.Ini bukan balas dendam berupa adu jotos, ini adalah balas dendam dengan mempermalukan aku di depan semua orang.

“Timothy Williams!”sebuah suara tegas terdengar sesaat sebelum Tim dan kawanannya membawaku menuju halaman di samping sekolah. Tempat yang memungkinkan semua orang bisa melihatku dipermalukan. Aku heran, kenapa Tim tidak mempermalukan aku di kantin saja. Toh, di sana juga banyak orang.

Tim berhenti begitu mendengar suara tadi, tiga temannya juga langsung berhenti. Aku masih menunduk, berusaha menyembunyikan diri. Seandainya aku seekor burung Onta, aku akan dengan mudah memasukkan kepalaku ke dalam tanah.

Aku tidak begitu mengerti, tapi seseorang berhasil membuat Tim berhenti. Dari suara yang memanggil, aku yakin itu suara perempuan. Aku teringat pada Ms. Anna Green, wanita yang menegur Tim dan Scott tadi pagi. Perempuan yang ternyata adalah Wakil Kepala Sekolah, tidak heran dua makhluk-bukan-manusia itu tidak berani melawan.

Suara langkah kaki mendekat dengan cepat menggaung di koridor.

“Gregory Sullivan, Paul Simmons, Bradley Wilson!” jelas sekali sang pemilik suara hafal dengan nama-nama setiap siswa di sekolah ini. Sungguh kemampuan yang menakutkan.

Aku merasakan cengkeraman-cengkeraman yang memegang kedua lenganku berkurang setelah nama-nama tadi terlontar dari mulut seorang yang aku kira adalah Ms. Anna.

Aku mendongak perlahan, namun yang aku dapati pertama kali bukanlah kaki jenjang seorang wanita dewasa dengan sepatu hak tinggi. Melainkan sepatu kets berwarna biru dengan paduan putih, dan jeans biru. Semakin aku menaikkan pandanganku, terlihat jelas pakaian yang dikenakan adalah pakaian remaja. Dan tentu saja, bukan Ms. Anna yang berdiri di depan kami.

Claire Hamilton, gadis berambut panjang hitam yang membuatku terpesona setiap kali melihat dia kini berhenti, dan berdiri tepat di depan kami. Baru kali ini aku bisa berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Claire. Ya, bagiku sepuluh kaki adalah jarak yang sangat dekat. Mungkin kalau lebih dekat lagi, aku tidak yakin bisa menahan rahangku untuk tidak menganga, dan meneteskan air liur, secara harfiah.

Aku seakan melupakan sekitar, menguatkan kuda-kuda untuk berdiri tegap. Menarik kasar tanganku dari cengkeraman tangan entah Greg, Paul, atau Brad. Heran, mereka juga tidak melakukan tindakan apa-apa. Seakan sama terpananya dengan aku.

Keheningan terjadi selama beberapa detik. Aku membenarkan jaket, dan merapikan rambutku. Kabel earphone terlepas dari iPod, beruntung masih mengait di jaketku. Aku bisa saja berjalan pelan, dan pergi dari tempat ini. Namun, aku masih ingin melihat Claire lebih lama. Sangat jarang kesempatan ini ada.

“Selamat siang, Mr. Jimmy Zakrzewski.” sapa Claire.

Aku yakin sekali mataku terbelalak. Claire tahu nama lengkapku, atau nama lengkap samaranku. Ah, tapi sepertinya tidak masalah bagi dia. Baru saja dia mengucapkan empat nama senior di sekolah ini secara lengkap. Aku tidak tahu ada hubungan apa di antara mereka. Demi bubur gandum dengan madu, aku sangat-sangat ingin mengetahui lebih banyak tentang Claire.

“Apa yang hendak kamu lakukan dengan murid baru ini?” tanya Claire sambil berkacak pinggang.

“Er, tidak ada Ms. Anna. Ka-kami hanya sedang bermain. Bukan begitu, um, Ji-Jim?” Tim tergagap sambil menoleh ke arahku dengan tatapan mengharap kerjasama.

Aku mengernyitkan dahi. Bukan karena si gagah Tim menjadi si gagap Tim, melainkan karena kata ‘Ms. Anna’ yang dia sebutkan. Apa dia sudah rabun atau gila? Aku semakin bingung. Pertama kenapa Claire bisa tahu tentang nama-nama lengkap kami. Kedua, bagaimana mungkin gadis yang berbadan lebih kecil dari Tim dan teman-temannya itu bisa dengan mudah membuat mereka gugup. Apalagi empat pemuda ini adalah Wilkar. Dan kenapa pula Tim memanggil Claire dengan sebutan ‘Ms. Anna.’?

Belum hilang kebingunganku, Claire melototkan mata. Memberi isyarat kepada Tim dan yang lain agar segera menjauh. Empat sekawan itu segera melangkah pergi, aku mendengar gerutuan kecil. Salah satu dari tiga orang yang berada di belakangku dengan sengaja menabrak punggung kiriku. Beruntung kuda-kudaku masih kuat.

Aku baru saja hendak bergegas melangkah menjauh setelah memeriksa barang-barangku. Barangkali ada yang hilang. Benar saja, iPod-ku tidak ada di mana-mana, tidak di saku jaket atau di kantung celana jeansku. Hanya earphone-nya saja yang tertinggal.

“Kehilangan sesuatu, Mr. Zakrzewski?” kata Claire sambil mendekat. Mengetahui aku sedang merogoh-rogoh semua saku yang ada di pakaian. Dia menjulurkan tangan, dengan sebuah iPod berwarna putih milikku.

“Ah, terima kasih!” kataku sambil mengambil iPod dari tangan Claire. Tangannya terasa lembut, atau mungkin hanya perasaanku saja yang membuatnya terasa berlebihan.

“Hati-hati dalam memilih teman di masa SMA ini, Jimmy.” nasihat Claire pelan. Entah kenapa dia berbicara dengan nada formal, sok dewasa dan berkuasa. Apa memang dia seperti ini aslinya? Yah, kamu tidak perlu mengatakan itu Claire. Aku sangat-sangat memilih dalam hal pertemanan.

“Baik Ms. Hamilton. Sekali lagi, terimakasih. Untuk hal dengan Tim tadi.” kataku sambil memasang earphone ke lubang keluaran audio iPad.

Claire yang sudah berbalik dan hendak berlalu, tiba-tiba menghentikan langkah dan kambli membalikkan badan. Menatapku dengan tatapan tajam.

“Kamu panggil aku apa tadi?” nada suaranya sekarang berubah menjadi nada seperti remaja umumnya.

“Ms. Hamilton. Ka-kamu Claire Hamilton kan?” aku sedikit panik. Akan aku gigit sampai mati diriku sendiri jika aku salah mengenali siapa nama asli Claire yang sebenarnya.

“C-claire. Si-. Apa kamu sebenarnya?!” Claire, atau entah siapa dia sebenarnya, terbelalak.

Segera dia menarik lenganku, sedikit kasar namun tidak sekasar para Wilkar tadi. Sampai pada koridor yang sepi, dia mendorong tubuhku masuk ke dalam ruang tempat peralatan kebersihan.

Gadis itu ikut masuk, segera menutup pintu. Gelap. Namun terang langsung datang. Tapi bukan dari lampu yang ada di dalam ruangan ini. Melainkan dari seberkas api kecil biru terang yang muncul dari tangan wanita yang aku kenal sebagai Claire.

“Katakan apa kamu sebenarnya?! Kenapa sihirku tidak berlaku padamu, Tuan Zakrzewski?!” kata gadis api itu pelan namun terasa sangat mengancam. Apalagi aku sangat yakin kalau api sihir itu tidak hanya digunakan sebagai penerang.

Read previous post:  
35
points
(1307 words) posted by makkie 6 years 39 weeks ago
70
Tags: Cerita | Novel | fantasi | vampire | werewolf | zombie
Read next post:  
Writer hewan
hewan at Jimmy Zombie - 3 (6 years 32 weeks ago)
90

Hmm ... ke-zombie-annya di sini kurang terekspos. Dan, zombie ternyata kebal sihir daripada werewolf?
-
Ada sejumlah typo,
-
Cerita di bagian ini mulai menarik. Memang sih, kesannya semua berkumpul terlalu cepat. Tapi akan saya coba saksikan cerita lanjutannya~

Writer Alto
Alto at Jimmy Zombie - 3 (6 years 37 weeks ago)
80

aku udh tertarik buat baca serial ini dari awal. menurut aku ga terlalu ribet kok. masih mudah dicerna.
terusss...
apalagi ya? oh, iya. update nya jgn lama2. lumutan nih nunggunya ^_^

Writer danove
danove at Jimmy Zombie - 3 (6 years 37 weeks ago)

Makhluknya banyak banget kyknya.. haha

Writer dansou
dansou at Jimmy Zombie - 3 (6 years 37 weeks ago)
100

Wuoh wuoh ini asyik banget, Om Makkie~
.
Lanjutin lanjutiN!

Writer cumaYudha
cumaYudha at Jimmy Zombie - 3 (6 years 37 weeks ago)
100

bener kata kak L.Filan ^_^ b
-
-
tapi Tags-nya kok aneh sih?

Writer L. Filan
L. Filan at Jimmy Zombie - 3 (6 years 37 weeks ago)

kayaknya 1 lagi itu si clair alias witch ^^
Sebenarnya Witch ga termasuk mahluk jadi2an kyk yg lainnya.

Writer cumaYudha
cumaYudha at Jimmy Zombie - 3 (6 years 37 weeks ago)

itu macam nenek sihir (STOP!!! penyakit lama jangan sampai kambuh! jangan ngobrol di Lapak Orang)

Writer L. Filan
L. Filan at Jimmy Zombie - 3 (6 years 37 weeks ago)
100

Hmmm mahluk apa lagi claire itu?
Terus terang, saya nggak terlalu suka tokoh2 yg terlalu beragam jenis dalam 1 cerita. Mudah-mudahan ga terlalu banyak dan hm... kalaupun ada, penulis bisa membawakannya dengan apik sehingga cerita ttp sederhana dan nggak ribet.
-
Sebenarnya zombie, vampire dan werewolf udah cukup buat saya. Tinggal karakter2nya aja.
-
Ditunggu lanjutannya.