Tentang Cinta

 

Sejak dulu, aku tidak percaya dengan yang namanya “cinta”.

 Itu benar. Sejak kecil, aku tumbuh tanpa kehadiran “cinta”. “Cinta” seperti terlalu malu untuk berteman denganku; ia akan bersembunyi dariku saat aku mencarinya, berlari jauh-jauh saat aku mendekatinya, dan melompat tinggi-tinggi saat aku berusaha menggapainya. Namun, “cinta” tidak begitu saja meninggalkanku. Sebagai gantinya, ia menyuruh salah satu temannya untuk datang kepadaku dan menjadi temanku. Pada awalnya, aku tidak tahu kenapa “cinta” menyuruh dirinya untuk menemaniku, tapi belakangan, aku tahu kenapa. “Cinta” tidak menginginkan dia menjadi temannya. Lebih tepatnya lagi, cinta membenci temannya itu.

Dan tahukah kau siapa nama kawan “cinta” itu? Benar. Namanya adalah “benci”.

Sejak kecil, aku sudah berteman dengan kebencian. Kedua orang tuaku selalu menebarkan kebencian itu di sekujur ruangan, membuat suasana rumah menjadi teramat suram. Yang mengherankan adalah aku dapat bertahan di antara suasana suram itu—selama tujuh belas tahun! Baik, mungkin tidak selama itu, tapi tetap saja merupakan suatu hal yang menakjubkan jika mengingat bagaimana aku bisa bergeming. Atau tidak peduli. Kurasa, yang kedua lebih tepat. Sudah terlalu banyak kebencian yang tercecer di tempat ini, sampai-sampai aku sudah tak lagi acuh terhadap keberadaannya.

Dan hingga kini, kebencian tetap menjadi teman dekatku. Aku tidak melihat cinta akan membuat gerakan untuk berteman denganku, jadi kenapa aku harus berteman dengannya?  Lagi pula, bukankah—seperti yang kubilang—aku tidak percaya dengan yang namanya cinta?

***

Hari ini adalah tanggal 14 Februari. Dan kau tahu apa artinya?

Beberapa orang menyebutnya hari kasih sayang. Hari cinta. Hari para kekasih. Saat ketika para cewek memberikan cokelat kepada cowok yang mereka suka—dan sebaliknya

Namun, aku lebih suka menyebutnya dengan hari penuh pamrih. Kenapa aku memberinya julukan seperti itu? Jawabannya jelas; tidak ada satu pun dari mereka yang—aku yakin—memberikan cokelat itu dengan dilandasi hati yang tulus. Jauh di dalam sanubari mereka, mereka pasti ingin agar orang yang mereka berikan cokelat menyukai mereka (atau setidaknya, menjadikan mereka pacar). Seperti halnya seorang cewek berambut kepang yang kulihat memberikan sebungkus cokelat kepada seorang cowok yang tak kukenal, yang di saat dan tempat lain kudapati meminta teman-temannya untuk mendoakan agar apa yang ia lakukan tadi dapat membuat cowok itu “melirik dirinya”.

Kau tahu, inilah kenapa aku tidak memercayai cinta. Tidak ada satu orang pun yang mengucapkan “Aku mencintaimu” dengan tulus. Selalu ada suatu timbal balik yang mereka inginkan—bahkan meskipun mereka tidak mengucapkannya! Tidak perlu menjadi jenius untuk menyadari hal itu, bukan?

Ah, cinta. Mendengarnya saja, aku sudah merasakan tubuhku bergetar. Bukan karena kedigdayaannya, melainkan karena ketidaktulusannya.

***

Sepulang sekolah, aku—sebagaimana pada hari-hari biasa—beranjak meninggalkan kelas. Ralat. Kalau hari-hari biasa, aku akan menyempatkan diri untuk ke kantin sekolah untuk meminum sesuatu, maka kali ini, aku memutuskan untuk cepat-cepat pulang saja. Aku sudah telalu muak melihat pemandangan penuh cinta yang bertebaran di sekolahku, jadi lebih baik aku pulang dan mengurung diri di kamar saja.

Dan pada saat itulah, pada saat aku melewati pintu kelas, mataku menangkap sesososk cewek tengah berdiri di balik pintu. Namun, tidak seperti halnya cewek-cewek lain yang kuketahui, tak ada seorang pun yang bersamanya. Hanya hal itulah yang membuatku tertarik, dan karena itu aku segera melanjutkan berjalan. Lagi pula, aku nyaris tidak pernah memedulikan siapa pun, kan?

“Taka.”

Eh?

Spontan, aku menoleh. Seseorang baru saja memanggil namaku, jadi wajar kalau aku melakukannya. Aku sendiri awalnya mencari-cari siapa yang memanggil namaku, sampai akhirnya aku sadar bahwa cewek itu—cewek yang sedari tadi berdiri di samping pintu sendirian itu—yang melakukannya. Awalnya, aku mau berlalu saja, tapi saat berpikir bahwa ia mungkin hendak mengatakan sesuatu yang penting seperti, semisal, ia ternyata berhutang kepadaku (yang aku ragukan akan terjadi, tapi, hei, siapa tahu saja aku lupa, kan?), aku memutuskan untuk berbalik. “Ada ap...?”

“I...ini! Terimalah!”

Cewek itu menjejalkan sesuatu tepat ke tanganku, dan sebelum aku sempat bereaksi, ia sudah mengambil langka seribu.

Aku sendiri hanya memandangi cewek itu seraya menggaruk-garuk kepala.

Apa...maksudnya itu? Sudahlah. Kurasa, lebih baik kalau aku melihat apa yang ia berikan kepadaku. Barang itu dibungkus oleh sesuatu berwarna putih—jadi kutebak, itu bukanlah uang atau semacamnya—dengan tekstur tipis yang ringan. Aku tidak tahu apa isinya, dan karena cewek yang memberinya tadi bertingkah mencurigakan, maka aku pun membuka pembungkusnya.

Dan, ternyata itu adalah sebuah cokelat.

Bodohnya aku. Ini hari Valentine, kan?

Aku memandang-mandangi cokelat itu. Kalau aku tidak salah, seorang cewek yang memberikan cokelat kepada seorang cowok memiliki arti cewek itu menyukai cowok itu, kan? Apa itu berarti, cewek tadi—yang bahkan rasanya belum pernah kulihat sebelumnya—menyukaiku?

Kalau iya, memang apa peduliku?

Aku memasukkan cokelat itu ke kantung. Bagiku, tidak ada yang namanya Hari Kasih Sayang, jadi cokelat ini, jujur saja, hanya cokelat biasa di mataku. Namun, bagi cewek siapa pun itu yang memberikannya, aku mengucapkan terima kasih. Hei, setidaknya, aku punya cemilan yang bisa kumakan dalam perjalanan ke rumah, kan?

***

Tanggal 15 Februari. Sebagaimana kemarin, atmosfer Valentine masih terasa.

Aku memperhatikan saat para gadis di kelasku sibuk menerka-nerka apakah ada pasangan baru yang tercipta setelah apa yang terjadi kemarin. Sementara itu, aku hanya mendengus. Gadis bodoh. Mereka pikir, cinta mereka akan terbalas hanya dengan memberikan sebuah cokelat? Aku pun lantas beranjak dari tempat dudukku, dan setelah memberikan  pandangan mengejek yang tersirat kepada tiga orang gadis yang sibuk membicarakan kemungkinan salah satu dari mereka akan berpacaran, aku melangkah menuju pintu kelas.

Dan pada saat itulah aku kembali mendapati cewek itu. Benar. Cewek itu—cewek yang kemarin memberikan sebungkus cokelat kepadaku—datang ke kelasku sepulang sekolah. Sebagaimana kemarin, ia kudapati hanya berdiri di pintu masuk, tanpa sekali pun berusaha membuka percakapan. Aku, tentu saja, kembali mengabaikan dirinya. Bahkan meskipun aku tahu kalau dia ke sini untuk menemuiku, aku tidak menyapanya. Lagi pula, dia membiarkan mulutnya terkunci, jadi kenapa aku harus membuka mulut? Untuk kedua kalinya, kami saling berpapasan satu sama lain, tanpa saling bersuara, tanpa saling menyapa.

Dan, percaya atau tidak,  hal yang sama terulang lagi keesokan harinya.

Gadis itu—yang baru kusadari memiliki poni di atas kening—kembali menghampiri kelasku setelah bel pulang berbunyi.  Aku lantas mengerling ke arah dirinya sejenak, dan aku langsung mendapati rona merah muncul di pipinya. Namun, sebagaimana yang ia lakukan kemarin, ia membisu. Bahkan meskipun aku menyempatkan diri untuk berhenti sejenak tatkala melirik kepadanya, ia tidak mengucapkan apa pun.

Cewek aneh. Sebenarnya, apa yang kauinginkan dariku?

Apa kamu tidak punya kesibukan lain selain berdiri di sana seperti orang bodoh, menanti aku akan menyapamu? Kutebak, kamu besok siang akan melakukan hal yang sama; berdiri di balik pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagaimana yang tiga hari ini kaulakukan!

***

Apa yang kemarin menjadi tebakanku benar-benar menjadi nyata hari ini.

Benar, gadis itu—yang kini kusadari mengenakan penjepit rambut berwarna putih—kembali berada di samping kelasku ketika bel pulang berbunyi. Sebagaimana kemarin, dia hanya mematung di balik pintu masuk, tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadaku. Dan, seperti yang bisa kalian duga, hal yang sama terulang keesokan harinya. Dan lusa. Dan keesokan hari setelah lusa. Selama nyaris dua minggu berturut-turut semenjak  Valentine berakhir, kudapati ia senantiasa melakukan hal itu; menanti di depan kelas bahkan meskipun aku tidak menyapanya. Tentu saja, sikapnya itu mau tak mau memantik rasa penasaran di diriku. Kenapa dia mau-maunya melakukan hal itu setiap hari? Memang siapa dirinya sebenarnya?

Siapa...dirinya...?

Entah kenapa, aku jadi terkesiap sendiri tatkala sadar dengan pertanyaan tersebut. Itu benar. Mengapa aku bisa-bisanya bertanya seperti itu? Apakah dengan demikian, aku sudah mulai tertarik kepadanya? Tentu, aku bukannya benci kepada cewek itu. Bahkan meskipun aku membawa kebencian bersamaku, aku tidak melihat alasan mengapa aku harus menunjukkan hal itu kepadanya. Lagi pula, dia tidak melakukan apa pun yang salah kepadaku, jadi kenapa aku harus membencinya? Sebaliknya, yang ia lakukan—kurasa—adalah memberikan perhatian kepadaku, meski aku tidak yakin ia melakukannya dengan cara yang tepat.

Apa itu karena dia mencintaiku? Ia memberikanku sebuah cokelat pada hari Valentine, bukan?

Kalau begitu, kalau ia memang benar-benar mencintaiku....

Sebesar itukah kekuatan cinta hingga dapat membuat dirinya mau melakukan hal yang sama berulang-ulang tanpa merasa bosan?

***

Sudahkah aku memberi tahukan dirimu, kalau aku tidak memercayai apa yang disebut dengan “cinta”? Kalau aku tidak salah ingat, aku telah melakukannya.

Itu benar. Bahkan hingga kini, aku tidak percaya dengan yang namanya cinta, Bahkan hingga sekarang, hingga aku berpacaran dengan gadis berambut pendek itu, aku tetap tidak percaya.

Akan tetapi ada satu hal baru yang aku percayai: ketiadaan benci. Selama ini, ternyata, aku terlalu sering menjadikan benci sahabat karibku. Kami menjadi cukup akrab setelah aku (akhirnya) menyapa gadis berponi-di-atas-alis itu pada suatu sore di penghujung Februari, dan setelah beberapa perbincangan kecil yang terjadi di antara aku dan dirinya, ia mengajariku satu hal: bahwa resep bahagia adalah ketiadaan benci. Menurutnya, kalau kamu hanya mencintai seseorang, maka kamu hanya akan memberikannya cinta semata, tetapi di suatu saat kamu bisa jadi membenci orang itu. Akan tetapi, hal yang berbeda akan terjadi apabila kamu tidak membenci seseorang. Jika kamu tidak membenci seseorang, maka kamu bukan hanya dapat mencintainya,  melainkan kamu juga dapat menyayanginya, melindunginya, dan juga menghargainya. Sekali lagi, bukan hanya keberadaan cinta. Namun, lebih dari itu, ketiadaan benci.

Kau tahu? Kurasa, aku memang tidak benar-benar percaya dengan cinta, meski—harus kuakui—kami berteman cukup baik sekarang.

 

***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer haruo_damon
haruo_damon at Tentang Cinta (6 years 30 weeks ago)
100

this... this.. this....
ah... saya tidak tahu mau komen apa. ceritanya terlalu meresap ke dalam diri saya.

Writer augina putri
augina putri at Tentang Cinta (6 years 30 weeks ago)
80

Ceritanya menarik. Namun, ada yang ingin saya tanyakan. Apakah benci itu muncul karena rasa cinta? atau benci itu untuk menutupi rasa cinta?

Writer herjuno
herjuno at Tentang Cinta (6 years 30 weeks ago)

Benci dan cinta itu seperti siang dan malam. Ketika semua perasaan di dunia adalah perasaan benci, maka tidak ada perasaan cinta. Ketika semua perasaan di dunia adalah perasaan cinta, maka tidak ada perasaan benci. Oleh sebab itu, keberadaan cinta tidak cukup, melainkan juga perlu ada ketiadaan benci.

Writer idserge
idserge at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)
80

benar gan cinta itu yang kita butuhkan agar sanggup berjuang saya suka judulnya sebab cintalah penghancur kejahatan

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)
90

Sebenarnya mau ngasih poin 10, tetapi...

-1 karena typo
-1 karena saya merasa bagian yang kebencian di rumah itu 'missing' (yang ini subjektif banget)

eh, tunggu, manisnya cerpen ini pada akhirnya membuat saya lupa tentang kebencian dalam rumah itu. Jadi...

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)

Luwes, seperti yang kuingat tentang karya-karyamu. Tidak membosankan untuk dibaca, dan memberi pesan moral yang bagus. Aku berharap cerita ini akan muncul di kompas suatu saat.

Tetapi (kata yang baku adalah 'tetapi', bukan 'tapi') aku merasa lebih enak kalau dijelaskan kebencian apa yang berterbaran di rumah Taka. Atau tidak dijelaskan, tetapi dinarasikan kalau Taka tidak mau mengingat itu.

Oh, ya, aku mau bertanya (serius ini cuma bertanya), bukannya cinta cinta dan cinta yang disebut di sini seharusnya memakai kutip satu, ya? Menurut feeling saya kok begitu.

Lalu ada typo:
sesososk
ia sudah mengambil langka seribu.

Terakhir, kalimat ini:
Apa...maksudnya itu?

Entah kenapa, aku lebih suka kalau menjadi begini:
Apa...maksudnya ini?

Writer herjuno
herjuno at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)

Haha, terima kasih. Seperti yang saya bilang, ini sebenarnya untuk lomba, jadi kuota katanya terbatas. Akibatnya, beberapa adegan harus di-skip (dan saya malas nambahin adegan baru lagi, haha).
,
Affirmative untuk typo, tapi untuk kalimat yang kaumaksud, sebenarnya lebih kepada kalimat bahasa Inggris "What...was that?". Mungkin ekspresi yang lebih tepat adalah: "Apa itu tadi barusan?"

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)

Sebenarnya terasa penulis, sih (kalimat ini selalu muncul ketika pengkritik mulai merasa kalah berdebat).

Hanya menurutku, kejadianya belum berlangsung lama, jadi enggak pantas pakai 'itu'.

Enggak takut dibajak Bang naruh cerpen sebagus ini di k.com?

Writer herjuno
herjuno at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)

Haha, ini mah nggak bagus. Cuma cerpen iseng aja kok. Lagian awalnya memang ini pengen ditaruh di Kekom, tapi kemudiaan di-remake buat lomba. Sepertinya, memang sudah takdirnya. :)
.
Btw, kalau mau lebih baku lagi, tetapi tidak bisa digunakan di awal kalimat, karena merupakan penyambung antarklausa. Kata sambung yang menunjukkan pertentangan antarkalimat adalah "namun" atau "akan tetapi".

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)

*angkat dua tangan*

Writer hewan
hewan at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)
80

Herjuno butuh cinta? ;)
--
Jadi ingat singkatan kalau 'benci' itu adalah 'benar-benar cinta' :v
Momen sweet-nya kenapa di-skip? Saat ketika akhirnya si aku menyapa gadis berponi, menurut saya itu klimaks yang penting. Yaitu ketika akhirnya si aku mendapatkan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Bukan begitu?
Itu menurut pendapat saya aja, sih...
--
salam

Writer herjuno
herjuno at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)

Soalnya ini aslinya buat lomba, dan kalau saya tambahin satu adegan lagi, entar jadi melebihi kuota :v

Writer niska
niska at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)
80

nice ^^ inti ceritanya ringan, tapi cukup bisa dinikmati ^^

Writer herjuno
herjuno at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)

Ringankah? Padahal, menurut saya ini cukup berat loh. Tapi syukur deh kalau justru pada suka, haha :D
.
Btw, saya baru nyadar kalau ternyata dikau termasuk senior di Kekom. #bows

Writer 14insa
14insa at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)
80

jujur sih, aku kurang terlalu suka dengan tema cinta yang terlalu bold (valentine dsj). walaupun tiap orang punya selera dan gaya penulisan masing-masing. cuma, aku tertarik dengan penulisan kerangkanya. bagus. ceritanya ngalir. typo itu cuma masalah teknis, semua orang bisa mengalaminya. overall, bagus.

mampir juga ya :p

Writer herjuno
herjuno at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)

Haha, terima kasih udah mampir, dan terima kasih atas apresiasinya. :D

Writer pratama_fariz
pratama_fariz at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)
80

Menikmati membacanya, kasih poin apresiasi saja hehe. Karena kalau menurutku biasanya cerita yang begini biasanya tergantung selera penulis dan aku suka :)

Writer midhadfarosi
midhadfarosi at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)
80

hemm ceritanya menarik, cuman mungkin ada beberapa typo saja. hehe

Writer herjuno
herjuno at Tentang Cinta (6 years 32 weeks ago)

Fixed! :D