Natal Kecil di Eldar

 

A Story by:

-K.A.Z_Violin-

 

 

 

 

ARAEN SYMBOL.png

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-Natal Kecil di Eldar-

 

Natal. Sebuah peristiwa singkat yang sangat meneduhkan bagi siapa pun. Tidak hanya untuk mereka yang disebut nasrani, natal adalah untuk semua orang. Tak peduli nasrani atau bukan. Karenanya, setiap tahun, natal selalu menjadi hal yang ditunggu-tunggu, terutama sekali oleh anak-anak kecil yang mengharapkan hadiah setelah menjadi anak baik. Setelah tidak nakal lagi.

Berbicara tentang natal, tak lengkap rasanya kalau tidak membicarakan salju. Yeah... natal dan salju berkaitan sangat erat, seolah tidak bisa dipisahkan, meski di berbagai negara banyak yang merayakan natal tanpa salju. Natal yang kurang indah bagiku.

Lalu, ada sebuah dongeng tentang natal. Sebuah dongeng singkat dari negeri yang sangat jauh dari negeri kita. Negeri itu bernama... Eldar. Tempat berbagai keajaiban terjadi, empat para makhluk-makhluk ajaib hidup. Di sana, ada sebagian kecil yang mengerti tentang natal. Memang tidak sepenuhnya mengerti, dan mereka juga bukan umat nasrani. Mereka hanya orang-orang yang tinggal di wilayah perbatasan, tempat kebudayaan antar dunia bertukar. Mereka mencintai kehangatan natal bersama keluarga, tak peduli seberapa dinginnya salju yang berjatuhan dari langit selama lebih dari sebulan. Negeri itu disebut... Negeri Para Pendongeng. Disebut begitu karena berbagai kisah-kisah besar yang datang dari dunia-dunia lain berasal dari sana.

Di sana, ada seorang gadis kecil. Umurnya kira-kira baru dua belas tahun. Dia adalah gadis periang yang sangat menyukai natal lebih dari siapa pun di negerinya. Dia selalu menghitung hari-hari sejak salju pertama turun, sampai akhirnya natal tiba. 25 Desember kalau di dunia kita. Entah tanggal berapa di Eldar. Gadis itu bernama Anastasia. Lengkapnya, Anastasia Berlinda Taroreh. Nama yang cukup aneh di negerinya. Kata orangtuanya, nama itu berasal dari nama-nama di dunia kita ini. Ingin tahu kisah Anastasia di natal kali ini? Ayo, kuceritakan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Eldar.jpg

 

 

        Natal Kecil di Eldar

-Seri Cerita Pendek Negeri Eldar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suatu hari, di Negeri Para Pendongeng. Satu hari sebelum natal.

Gadis berambut ikal sepunggung itu berjongkok di belakang rumahnya. Mata bundarnya menghitung setiap butir salju yang berjatuhan dari langit suram. Dia tak peduli seberapa dingin udara waktu itu, yang jelas dia sedang ingin menghitung salju seperti anak bodoh. Gadis yang memakai pakaian sangat tebal itu sudah dari dua jam lalu berjongkok di sana. Tidak memedulikan perintah mamanya yang menyuruh memasak.

“Tujuh ratus enam puluh delapan juta, tujuh ratus enam puluh sembilan juta, dan...” Anastasia namanya. Gadis itu berkali-kali kebingungan karena salju yang turun sangat banyak dan memusingkannya. Berkali-kali dia mulai menghitung dari satu lagi. Tapi itu sama sekali tidak membuatnya bosan.

“Anastasia Berlinda Taroreh, anak nakal! Kan sudah mama suruh masak dari tadi!” mendadak pintu di belakang Anastasia terbuka. Seorang wanita dengan wajah digalak-galakkan muncul sambil membawa seikat sayuran. Tapi, kedatangannya tidak diperhatikan Anastasia.

“Aduuuh, mengulang dari satu lagi!” maki Anastasia dengan kesal. Dia mengacak-acak rambutnya yang dipenuhi butiran salju.

“Berlinda!”

Barulah Anastasia sadar kehadiran wanita itu. Dia menoleh pelan-pelan ke belakang, lalu memamerkan cengiran lebarnya. “Eh, mama?”

Wajah galak wanita di depan pintu mendadak hilang. Digantikan wajah pasrah dan letih waktu melihat tingkah putrinya itu. “Sayang, ayo masuk! Dingin, kan?” katanya dengan suara lembut berbeda jauh sekali dari yang tadi.

Anastasia menggeleng. “Um!” katanya, menolak. “Aku mau menunggunya, ma!” gadis itu berdiri sambil menepuk-nepuk mantel tebalnya, lalu mendongak ke atas. “Dia berjanji akan datang. Natal ini pasti dia datang, kan, ma?”

“Dengar, sayang!” ibu Anastasia berjalan ke arah putrinya, lalu memegang wajah anaknya itu. Menatapnya dengan tatapan miris. “Mungkin dia tidak datang. Tidak mungkin datang sebelum perang berakhir, sayang!”

“Uh, tidak!” Anastasia mundur beberapa langkah dengan sebal. “Kakak sudah berjanji akan pulang, kok. Dia bilang sendiri padaku!” begitulah keadaan gadis itu sejak dua bulan terakhir. Kakaknya adalah seorang prajurit hebat yang harus ke medan perang, melawan bayang-bayang petang yang mencoba merenggut. Semenjak kakaknya pergi, gadis itu menjadi agak pendiam. Dia sangat menyayangi kakaknya, dan ingin segera bersama-sama lagi. Apalagi di hari natal yang selalu dinanti-nantikannya.

Ibu Anastasia mendesah lelah. Sudah tidak ada cara lagi agar putrinya itu tenang kalau keadaannya sampai begitu. “Berlinda, kakak sedang berjuang di negeri sana. Karena itu kita berdoa saja, ya! Supaya kakak bisa cepat selesai menjalankan tugasnya. Kita berdoa di depan pohon natal nanti malam. Berlinda kan suka natal.”

Tapi Anastasia menggeleng sambil mundur lagi. “Tidak mau. Kakak sudah berjanji mau pulang natal ini. Aku percaya, kok, ma. Kakak pasti pulang!” bantah gadis itu.

“Berlinda!”

“Kakak pasti pulang, ma!” Anastasia berlari menjauh, ke arah pagar. Dia melompati pagar itu, dan jatuh ke jalan setapak dengan agak kesakitan. Dia tidak peduli lagi dengan ibunya yang memangil-manggil.

“Sayang, kamu mau ke mana?”

Anastasia berdiri, lalu berlari dengan kesal ke depan sana. Dia menembus salju yang berjatuhan semakin deras, dan berserakan di tanah sangat banyak. Di depan sana ada belokan ke kiri. Anak itu langsung ke sana, dan karena tidak hati-hati, dia menabrak seseorang sangat keras.

“Aduh!”

Anastasia jatuh tersungkur, dan kejatuhan sayur-sayuran. Seseorang yang dia tabrak juga jatuh sambil merutuk-rutuk kesal. Apalagi sayurannya jadi berantakan.

“Dasar, liat-liat, dong!” kata seorang gadis seumuran dengan Anastasia. Dia memegangi pundaknya yang membentur tanah dengan keras.

“Ah, Veve, maaf!” Anastasia buru-buru berjongkok, dan memberesi sayuran yang berantakan. Di depannya, gadis yang dipanggil Veve berdiri dengan angkuh sambil menatap dengan mata mencemooh.

“Dasar. Makanya jangan memikirkan kakakmu yang bodoh itu terus. Kamu jadi menyedihkan sekali, tau?” maki Veve.

Anastasia yang tadi membereskan sayuran Veve, langsung diam. Dia sangat jengkel dengan ucapan teman di depannya itu. “Kakakku tidak bodoh!”

“Apanya yang tidak? Mau-maunya berperang membantu negeri lain yang jauh dari sini. Apa untungnya? Itu apalagi kalau bukan bodoh namanya?”

Anastasia berdiri dengan pelan-pelan. Dia menjatuhkan lagu semua sayuran di tangannya. “Kamu payah, ya, Vey. Tidak tau artinya perjuangan. Menyedihkan sekali kamu!” dia mendorong Veve dengan keras sampai temannya itu jatuh ke samping. Kemudian dia berjalan ke depan.

“Ah, dasar anak kasar. Pantas saja kalau nanti nasibmu sama seperti kakakmu. Akan menyedihkan!”

Anastasia sudah jauh dari Veve kalau saja tidak terpancing kata-kata itu. Dia berhenti, lalu berbalik. “Apa maksudmu? Apa maksudmu kakakku bernasib menyedihkan? Tau apa kamu, ha?”

“Kakakmu pasti sudah tidak berdaya sekarang.”

“Jaga mulutmu, Vey!”

Tapi bukannya takut, Veve malah tersenyum mengejek melihat ekspresi kesal Anastasia. “Liat saja nanti. Tidak akan pulang. Tidak mungkin natal ini. Tidak mungkin di natal kapan pun.”

“Ah!” Anastasia mendadak lemas mendengar kata-kata itu. Ada keraguan yang muncul sangat besar tentang janji kakaknya. Janji yang diucapkan dua bulan lalu, sebelum pergi berperang. Sebelum seorang penyihir berjubah hijau datang meminta kakaknya membantu. Untuk sesaat, Anastasia mengutuki penyihir berjubah hijau itu. Mengutuki kenapa dia mesti datang dan membawa kakaknya menuju bahaya.

“Lihat. Kau sadar akhirnya?”

Anastasia tidak peduli lagi dengan Veve. Dia masih gelisah tentang kakaknya. Apa yang sedang terjadi di luar sana? Apa yang sedang dilakukan kakaknya di medan perang sana? Apakah dia baik-baik saja?

“Menyedihkan! Dasar keluarga payah!” lalu, Veve berjalan menjauh dengan wajah mencemoohnya. Meninggalkan Anastasia yang masih terpaku di tempatnya.

Setelah beberapa saat, Anastasia mendongak ke atas. Mengamati banyak sekali salju yang berjatuhan dari langit. Banyak juga yang berjatuhan di wajahnya. Terasa sangat dingin, dan aneh. Biasanya dia suka. Tapi waktu itu dia seperti takut padanya. Pada salju-salju itu. Seperti ada rasa kehilangan yang sangat dalam saat dinginnya salju menimpa wajah lugunya.

“K-Kakak!” gumamnya pelan, lalu menundukkan kepalanya. Gadis itu memejamkan mata erat-erat karena kesal. Menyesali semua kejadian yang membuat kakaknya harus pergi. “KAKAK BODOH, CEPAT PULANG!!!!!!!!!!!”

Dia berteriak keras sekali, mencurahkan semua kekesalan yang dia alami. Berharap agar teriakan keras itu sampai pada kakaknya di manapun dia berada. Setidaknya agar kakaknya pulang natal ini. Setidaknya agar saat Anastasia membuka mata besok, kakaknya akan menyambut dengan senyuman hangat. Seperti natal-natal tahun lalu. Dia dan kakaknya sangat senang dan ceria. Bersama-sama membuka hadiah yang sangat banyak sambil tertawa-tawa. Kadang iri satu sama lain karena hadiah yang berbeda-beda. Kadang juga bertengkar, tapi itu semua jauh lebih baik ketimbang saat ini. Saat semua memori indah itu menjadi buruk, karena tidak bisa terulang lagi. Karenanya, dengan teriakan itu, Anastasia juga berharap agar semua memori itu dapat dirasakannya lagi. Menuntun kakaknya pulang.

 

 

Suatu hari, di Negeri Para Pendongeng. Dua bulan sebelum natal. Saat perpisahan.

 

Anastasia. Gadis kecil itu masih pulas tertidur di kamarnya yang hangat, di balik selimut tebalnya. Kamarnya sendiri berada di lantai dua, sangat dekat dengan jendela yang mengarah ke luar. Di luar sana masih sangat pagi, dan gelap. Lebih gelap lagi, karena sedang terjadi hujan deras. Bukan sekedar hujan deras, melainkan badai kencang. Pepohonan sampai merunduk-runduk diterjang angin yang sangat kencang itu.

Gelegar petir yang sangat keras muncul dari langit. Saking kerasnya menyambar, membuat Anastasia membuka mata ketakutan. Dia panik beberapa saat sambil menoleh ke sekeliling. Deru angin yang luar biasa kencang di luar sana membuatnya semakin takut. Gadis itu menggeliat gelisah ke kiri, ke arah jendela kaca yang menghadap langsung ke luar. Kaca jendelanya mengembun dan menjadi buram. Sekilas waktu melihat ke luar jendela, Anastasia melihat kilauan putih yang meliuk-liuk di udara. Karena penasaran, gadis itu mengusap-usap embun di kaca, lalu mengintip ke luar. Tak ada apa-apa. Hanya ada angin kencang yang bertiup membawa butir-butir hujan.

Lama menunggu sambil melirik ke sana-sini, Anastasia tidak melihat apa-apa. Tidak ada kilatan putih yang meliuk-liuk lagi. Sesaat dia berpikir hanya salah lihat, dan mau tidur lagi. Tetapi, mendadak wujud putih itu muncul lagi. Lebih jelas. Anastasia langsung terkejut melihatnya. Kobaran api putih menyilaukan yang berterbangan di langit, lalu menghujam lurus ke bawah. Tepat ke depan pintu rumahnya. Dari balik api putih ituah muncul sesosok pria tua berjubah serba hijau, memiliki rambut putih lurus sampai ke mata kaki yang berkilau-kilau menyala. Pria tua itu juga memakai topi kerucut panjang, dan tongkat kayu panjang. Terlihat seperti penyihir dari negeri-negeri jauh.

Karena penasaran, Anastasia menyikap selimut tebalnya, dan melompat dari ranjang. Dia buru-buru memakai sandal, kemudian berlari ke arah pintu. Gadis itu menuruni tangga kayu yang selalu berderap-derap saat diinjak. Ada rasa was-was sewaktu dia semakin dekat ke lantai satu. Beberapa saat kemudian dia berhenti setelah sampai di lantai satu. Hening. Hanya ada suara deru badai yang sangat keras di luar sana. Tapi tak lama kemudian, suara pintu yang terbuka. Membuat suara deru badai semakin keras, dan angin dingin bersama butir-butir hujan menembus ke dalam rumah. Hal itu disusul dengan suara pintu lain yang terbuka. Tampaknya orang-orang di rumah itu menyambut si tamu misterius.

Anastasia mengendap-endap di balik bayang-bayang. Berusaha mendekati pertemuan tanpa diketahui. Dia berhasil sembunyi di balik almari besar, dan sekilas melihat kedua orang tuanya, dan kakaknya terlibat perbincangan dengan si tamu misterius. Samar-samar gadis itu juga mendengar perbincangan mereka.

“Kenapa penyihir agung sepertimu sampai ke negeri ini, Oriash? Masalah apa yang membuatmu minta bantuan putraku?”

Anastasia yakin itu suara ayahnya, dan dari perbincangan itu menambah rasa terkejutnya.

Di depan sana, keempat orang saling menatap dengan serius. Seolah-olah berbicara melalui tatapan itu. Saat itulah mendadak si penyihir berbalik ke belakang dengan murung.

“Ini tentang perang besar yang akan berkecamuk di Negeri Besar Tenggara, Tuan Taroreh. Aku memerlukan bantuan dari ksatria-ksatria hebat di penjuru Eldar.” Penyihir itu menoleh sekilas ke arah pemuda berambut cepak, dan bertubuh tegap di belakang sana. “Kau, ksatria muda, aku meminta segenap kemampuanmu. Menjadi tumpuanku dalam melangkah ke depan, menembus badai tajam di negeri besar sana!”

Hening setelah itu. Membuat suara badai semakin keras. Ditambah lagi dengan hujan guntur yang menggelegar berkali-kali di langit sana.

Oriash berbalik ke arah keluarga itu sambil memegangi tongkatnya dengan dua tangan. Dia menunggu. Menunggu keputusan yang jawabannya sudah dia tebak. Dan... tak mungkin salah.

“Maka ayo berangkat!” kata si sulung dari keluarga itu. Dia menatap kedua orangtuanya dengan teguh. Kemudian, setelah mendapat persetujuan, dia berjalan mendekati Oriash si penyihir.

“K-Kakak!” Anastasia muncul dari persembunyiannya. Dia pelan-pelan berjalan mendekati orang-orang di depan sana. “Kakak mau ke mana? Natal sudah dekat, loh.” Anak itu berhenti di depan kakaknya. Di depan pintu yang setengah terbuka.

Tetapi, gadis itu hanya mendapat senyuman dari kakaknya. Tanpa kata. Berlanjut dengan tepukkan pelan di pundaknya.

Anastasia mulai cemas. Dia menatap heran ke arah si penyihir yang ada di samping kakaknya. Orangtua aneh yang tiba-tiba datang, dan mau membawa pergi kakaknya.

“Aku mengenal baik anak-anak seumurmu dulu, anakku. Mereka sangat tegar menghadapi berbagai rintangan. Satu di antaranya kau pasti mengenalnya. Yang sekarang dicaci-maki seluruh orang di Eldar. Padahal dia hanya ingin mendapatkan apa yang dulu dia berikan pada negeri ini. Pada negeri yang sama sekali asing baginya.” Oriash menatap Anastasia dengan tatapan teduhnya. Mencoba meyakinkan gadis itu kalau semuanya akan baik-baik saja.

“Si-Siapa yang kaumaksud?” tanya Anastasia keheranan.

 

Oriash berbalik, menghadap pintu. “Reila Vassal.” Dia berjalan ke depan menembus pintu, menembus badai yang sedang ganas-ganasnya. “Ayo, pemuda!”

“Ah, kakak!”

Kali ini Anastasia langsung menahan tangan kakaknya. Tidak mau melepaskannya. Setidaknya tidak sebelum mendapat penjelasan. “Sebentar lagi natal!”

“Adikku yang cengeng, natal masih dua bulan lagi. Kakak berjanji, pasti pulang tepat waktu.”

“Benar?” tanya Anastasia. “Benar, kakak akan pulang tepat waktu?”

“Demi semua yang kaucintai, adikku. Aku berjanji!”

Dan... hanya itu. Memang hanya dengan itu perpisahan itu berlangsung. Tanpa adegan tangis-tangisan yang menyayat hati. Tanpa adegan terlalu lama yang kadang membuat kita bosan. Yeah... itulah perpisahan mereka. Perpisahan yang dilandasi janji akan bertemu lagi. Perpisahan yang disempurnakan dengan kerelaan kedua pihak, meski rasa getir dari keduanya pasti sangat kuat. Perpisahan yang membuat mereka menjalani hari-hari yang berbeda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            Suatu hari, di Negeri Para Pendongeng. Malam natal.

 

Di malam hari salju turun sangat banyak. Semua orang berdiam diri di rumah masing, menikmati kebersamaan di malam natal. Ada banyak sekali boneka salju di depan rumah, buatan anak-anak tadi siang. Malam yang sangat dingin itu juga dilengkapi dengan lagu-lagu ceria khas natal. Mereka mengetahui adat itu dari dongeng-dongeng yang diceritakan orang tua dulu, dan dilanjutkan turun-temurun sampai sekarang.

Anastasia akhirnya mau masuk ke dalam setelah menunggu hampir setengah jam. Menunggu kakaknya yang berjanji akan pulang. Gadis itu berjalan ke depan pohon natal yang sangat indah, lalu berdoa di depannya. Doa yang selalu diucapkannya. Doa agar kakaknya segera kembali.

Waktu itu baru pukul delapan malam. Biasanya, malam natal di sana selalu berlangsung ramai. Setiap pukul setengah sepuluh, orang-orang desa akan berkumpul di luar rumah, di sebuah tempat yang sudah ditentukan, dan sudah dihias dengan bagus. Mereka menyanyi bersama sampai pagi. Juga saling tukar hadiah beramai-ramai. Yeah... begitulah natal di negeri dongeng itu.

Menjelang pukul setengah sepuluh, orang-orang sudah mulai meninggalkan rumah ke sebuah lapangan yang dihias. Paling hanya beberapa yang masih berdiam diri di rumah. Keluarga Anastasia adalah salah satu yang belum berangkat.

“Berlinda, ayo berangkat, sayang!” ibu Anastasia memakai syal tebal, dan sudah berdiri di depan pintu keluar. Menunggu putrinya yang masih berdiam diri di kamarnya.

Yang dipanggil tidak menjawab. Gadis itu hanya duduk diam di tepi ranjangnya. Menunggu. Menunggu agar semua doanya terkabul. Dia sudah memutuskan untuk tidak ikut pergi ke lapangan, dan menghabiskan malam di kamarnya.

“Sayang, ayo cepat!”

“Aku di rumah saja, ma! Tidak mau pergi.” Anastasia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Sangat kesal karena natal kali ini sangat menyedihkan baginya. Dia menutupi wajahnya dengan bantal, sambil bergumam-gumam kesal.

“Kakak bodoh! Kakak payah! Kakak pembohong!” maki gadis itu dengan kesal. Lalu, dia menyingkirkan bantal dari kepalanya. Rasanya sesak, apalagi dia mulai menangis. Di luar sana, angin bertiup sangat kencang, menerbangkan butir-butir salju sampai menabrak jendela kaca di luar kamar Anastasia.

Awalnya angin yang berhembus itu sewajar kebanyakan angin biasanya. Tetapi lama-lama, angin itu semakin aneh. Terkesan seperti menabrak-nabrak jendela kaca kamar Anastasia dengan paksa, dan berkali-kali. Seperti menggedor-gedor ingin masuk ke dalam kamar.

Anastasia terkaget sewaktu jendela kamarnya terbuka dengan keras. Membuat angin dingin dan beberapa butir salju masuk ke kamarnya. Gadis itu melompat dari ranjang, dan jatuh ke lantai. Waktu itulah butiran salju yang behembus ke kamarnya berputar-putar, dan mewujud menyerupai sosok wanita setengah bersinar.

“Anastasia?” tanya wanita salju yang terbang di udara itu. Dia melihat Anastasia yang terkejut melihat kedatangannya.

“Si-Siapa... kau?” tanya Anastasia tergagap-gagap.

Wanita itu tersenyum, kemudian terbang ke arah Anastasia. “Jangan takut, anakku! Mungkin kau kenal dengan penyihir yang memiliki rambut bersinar? Aku dikirimkan dia untukmu, sayang!”

“Pe-Penyihir? Maksudmu... yang membawa kakakku pergi?” tanya Anastasia sambil berdiri pelan-pelan.

Wanita itu tersenyum lagi. “Benar, sayang. Dan penyihir itu diminta secara langsung oleh kakakmu.”

“Benarkah?” Anastasia langsung berseri-seri. “Bagaimana keadaannya?”

“Aku kurang tahu, sayang. Aku hanya diminta menyampaikan pesannya padamu. Kau mau dengar?”

“Um!” Anastasia mengangguk.

“Ini adalah sebuah pesan yang dikatakan langsung oleh kakakmu. Lebih tepatnya adalah sebuah cerita singkat yang dilaluinya selama tidak ada di dekatmu. Dia sangat merindukanmu, sayang. Dan sangat menyesal tidak bisa pulang menemuimu. Tidak bisa bersama-sama denganmu melewati malam natal yang indah.” Wanita itu diam beberapa saat, kemudian mendekati Anastasia, sambil mengelus-elus rambut gadis itu. “Inilah pesan yang dia titipkan padaku...”

Lalu, wanita itu mulai bercerita. Panjang sekali. Kadang Anastasia terlihat gembira karena mendengar beberapa hal baik dan menyenangkan, kadang juga murung karena tidak bisa bertemu langsung dengan kakaknya itu. Biarpun begitu, dia tetap senang karena ada orang atau apapun nama wujud wanita salju itu yang datang, dan berbagi kisah dengannya. Kisah tentang kakaknya.

Inilah pesan yang dibawakan wanita itu...

 

 

 

 

            Suatu hari, di Negeri Para Pendongeng. Tentang Sebuah Pesan Singkat.

   Pagi itu sebenarnya terlalu dingin, Berlinda, adikku. Sebenarnya aku lebih memilih tetap di rumah, menemanimu menghitung salju pertama yang akan muncul. Tidak di sini. Tidak terlibat peperangan ini. Tapi... apa yang bisa kulakukan? Ini sudah menjadi tugasku, kan? Aku memang memilih menjadi seperti ini dari dulu. Maafkan kakak, ya!

Kakak hanya ingin menepati janji itu. Bahwa kakak akan pulang saat natal. Pasti saat ini kau sedang bergembira dengan teman-temanmu itu. Berlari-lari di antara salju yang berjatuhan dengan pelan. Atau kau justru... mengutuki kakak karena ingkar janji? Terserah. Kau memang berhak atas itu. Yang jelas... kakak sangat merindukanmu.

Di sini banyak hal besar terjadi, sayang. Lebih besar dari apa pun yang pernah kakak lihat di perang mana pun. Juga lebih mengerikan. Ada banyak sekali teman-teman yang terbunuh di depan kakak. Itu membuat kakak cemas. Takut kalau-kalau tidak bisa kembali ke rumah lagi.

Tapi kakak tidak menyesal sama sekali sudah pergi ke sini. Biar pun banyak sekali kesedihan, ketakutan, dan kengerian, tapi kakak bangga ikut serta di perang ini. Terutama sekali bangga sudah memilih kubu yang benar. Sangat sulit pada awalnya mengetahui yang mana yang benar. Setiap malam, kakak selalu berdoa agar kubu yang kakak pilih ini benar. Dan itu memang benar. Ada seseorang yang sangat kakak kagumi. Padahal umur kami kurang lebih sama. Dia... yang menjadi tokoh utama dalam pertempuran ini. Yang sudah mengelilingi negeri-negeri Eldar sejak usianya sama denganmu saat ini. Yang mendapat banyak cacian dari banyak sekali orang saat ini. Yang selalu dikutuk oleh setiap penyihir yang merasa sok bijak. Aku bangga dengan pemuda itu. Demi mencapai impiannya... dia sampai mencurahkan seluruh hidupnya. Impian yang sebenarnya direnggut oleh kita, orang-orang Eldar.

Kakak berharap, suatu saat kau bisa bertemu dengan pemuda ini. Mungkin kau bisa meniru tekad bajanya. Kakak juga berharap agar kau mempertahankan impianmu, seperti yang dilakukan pemuda itu. Ada banyak hal hebat yang akan terjadi saat kau memperjuangkan mimpimu. Hal-hal yang bahkan tidak berani kaubayangkan, adikku. Karenanya... kalau kakak kembali nanti, kau harus lebih kuat ya! Kau harus menjadi seorang gadis pemimpi yang siap melakukan segalanya demi menggapainya. Maksud kakak segalanya. Segalanya yang baik, dan tidak menyakiti orang lain.

Kakak tidak bilang kalau di sini menyenangkan, bukan? Kakak pernah terluka sangat parah sampai harus berbaring selama dua hari penuh. Juga berkali-kali terkena tebasan pedang. Sangat sakit, adikku. Kadang berpikir mau menyerah saja. Kelihatannya kalau menyerah semuanya menjadi sangat mudah. Memang rasanya semua itu lebih gampang kalau kita pasrah dan menerima nasib apa pun itu. Padahal, nasib itu harus kita perjuangkan. Bukan mutlak, dan semata-mata ada di tangan Tuhan. Kita diperbolehkan mengatur nasib kita sendiri. Karenanya kakak bertahan. Sesakit apa pun pedang yang menebas, akan kakak bayar dengan kesakitan yang lebih parah pada mereka. Demi mencapai kebahagiaan bersama. Demi mencapai kebahagiaan semua orang.

Natal ini kakak lalui tanpa salju, adikku. Di sini tidak ada salju. Banyak orang yang tidak peduli tentang natal di sini. Tapi kakak peduli. Setiap waktu, kakak selalu mengingatmu. Selalu merindukan saat-saat menjahilimu saat kau bangun tidur. Saat-saat membuat boneka salju yang sangat besar di depan rumah. Boneka paling besar di antara boneka salju lain yang dibuat anak-anak. Yang membuat mereka semua iri. Apalagi Veve. Dia pasti sangat kesal pada kita, kan?

Kau baik-baik saja di sana, ya! Kakak berjanji akan pulang begitu tugas ini selesai. Tapi mungkin masih lama. Kau juga jangan membenci Oriash lagi. Dia sangat baik. Kau pasti menyukainya kalau kau punya waktu lebih lama dengannya. Dia penuh keajaiban. Yang membuat anak-anak seusiamu tumbuh menjadi orang hebat di kemudian hari.

Dan, maaf sekali, ya! Maaf sekali kakak sudah menjadi pembohong. Maaf sekali kakak tidak bisa pulang natal ini. Kau baik-baik ya di sana!

-Merry Christmas-

 

 

 

Setelah mendengar kisah singkat yang disampaikan wanita salju itu, Anastasia terharu. Di satu sisi dia sangat sedih, dan memaki-maki kakaknya yang sudah membuatnya berharap sangat lama. Tapi, di sisi lain dia merasa senang, setidaknya kakaknya memberi kabar, dan memberikan pesan-pesan padanya. Itu sangat berarti bagi Anastasia. itu menjadi hadiah yang sangat istimewa di natal kali ini. Setelah itu, dia akan selalu menunggu kepulangan kakaknya dengan sabar.

Kemudian, si wanita salju hilang. Melebur menjadi hamburan salju yang terbawa angin. Anastasia pun mulai ceria. Dia buru-buru turun ke lantai satu, kemudian menemui ibunya yang nyaris menutup pintu rumah.

“Mama!” panggilnya, sampai-sampai ibunya menahan pintu. “Aku ikut, ya!”

Ibu gadis itu membuka pintu lebih lebar, lalu tersenyum senang melihat buah hatinya ceria lagi. “Kau sudah baikan?”

“Iya. Ada keajaiban di kamarku tadi. Keajaiban yang sangat ajaib.” Anastasia tersenyum-senyum senang.

“Oh, syukurlah. Kalau begitu ayo! Jangan lupa pakai syal tebalmu, ya!”

“Iya, ma!” Anastasia segera mengambil syal merah tebalnya, dan menyusul ibunya di luar rumah. Dia buru-buru memakai syal itu di lehernya. “Ayo, ma!”

Dan begitulah. Cerita singkat tentang natal yang tidak terlalu populer di negeri Eldar. Sebuah cerita singkat tentang penantian seorang adik terhadap kakaknya yang sedang berjuang di negeri jauh. Penantian menjemukan yang akhirnya terbalas dengan sedikit keajaiban kecil. Keajaiban kecil yang menyenangkan, dan sangat berkesan bagi sang adik.

Memang seperti itulah natal. Dengan segala macam keajaiban yang bisa terjadi, dan merubah hari-hari seseorang. Keajaiban yang terjadi pada siapa pun, tanpa terkecuali. Bahkan bagi mereka yang sangat jauh dari dunia kita, yang sangat sedikit mengetahui tentang adat-adat kita. Yang sangat mencintai peristiwa-peristiwa hangat di saat natal. Siapa pun mereka.

Karena itu... sekarang ayo kita ciptakan keajaiban itu. Jangan menunggunya datang sendiri. Buat keajaiban itu terjadi, agar memberikan kesan yang luarbiasa bagi kita.

-End-

Read previous post:  
0
points
(3 words) posted by Kazzak 6 years 45 weeks ago
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | Araena saga | Eldar
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer moefelixa
moefelixa at Natal Kecil di Eldar (6 years 31 weeks ago)
80

miracle happens when we believe and pray ^^
thanks for this nice story