Kado Ulang Tahun

 

KADO ULANG TAHUN

Kue ulang tahunnya sudah jadi. Aku hanya perlu sedikit menghiasinya. Kuusir keponakan-keponakanku agar tidak mencomotnya.  Aku sudah menyisakan bagian kue yang boleh mereka makan tapi tidak dengan kue yang kuhias untuk ulang tahun ini. Tidak sampai saat syuting berakhir. Properti harus benar-benar kujaga.

Sayang sekali memang Kevin tidak akan bisa memakan kue buatanku ini. Padahal kue ini kubuat khusus untuknya. Hanya ini yang bisa kulakukan untuknya. Sekalipun kami tidak pernah bertemu.

“Kak, si Adi udah datang.”

Aku menoleh ke arah adikku. “Dia bawa siapa?”

“Nggak bawa siapa-siapa. Katanya si Fahri nggak bisa ikutan.”

“Trus yang lainnya gimana? Kita masih butuh pemain buat yang jadi si Mahend. Flush aja udah kakak ganti jadi Orriza karena kita punyanya cuma pemain cewek.”

 “Jadi gimana dong, Kak?”

“Bener-bener parah nih syuting. Pemain nggak ada. Gini aja deh, kakak ubah naskahnya. Si Adi emang ga cocok jadi Mahend. Lagian aktingnya kaku banget tapi kita nggak punya pilihan. Si Zeto pake kakaknya si Delis aja.”

“Devis? Zeto kan cowok.”

“Gampanglah. Si Zeto bilang gini aja. Gua Zeto tapi sebenarnya nama gua Zeti…”

Adik gua melengak. Tapi kita benar-benar nggak ada pilihan. Film indie keduaku ini benar-benar super darurat. Pemain asal comotan tanpa latihan. Tapi nggak mungkin dibatalin. Lagian kasihan sepupuku Akin. Dia udah berlatih sejak dua minggu yang lalu.

Kamipun segera pergi ke kios tempat kami kumpul. Kulihat Akin sedang bercengkrama dengan adik kelasku, Desi. Plis deh, haruskah selalu ada cinlok setiap kali aku bikin film indie? Mereka juga baru kenal kemarin. Kuabaikan mereka. Lalu aku segera bicara dengan Devis agar mau menjadi Zeto.

Devis bengong. “Aku main, Kak?”

Jelaslah dia kaget. Toh dia datang cuma buat nganter adiknya si Delis – sekalian nongkrong – tapi tiba-tiba ditodong main.

“Iya. Iya. Cepet latihan. Dialognya dikit kok.”

Aku langsung mengganti sebagian dialog Zeto, yang menjadi Zeti itu.

“Kak, bukannya Zeto tuh saya?” celetuk Adi.

“Kamu jadi Mahend aja…” Adi garuk-garuk kepala dan membuka-buka naskah. “Cepetan hapalin trus kita reading dan blocking sebelum take gambar.”

Kulirik Azis yang duduk di depan kios sambil merokok dengan kalem. “Zis, maaf yah, belum siap nih,” seruku lalu menghampirinya biar kami tidak perlu teriak-teriakan.

“Tenang aja, Bu. Oh ya, apa saya harus naik ke atas genting?”

Aku nyengir. Dengan bobot tubuh seperti itu, aku tidak yakin dia naik ke atas genting tanpa membuat remuk atap rumahku. Akin saja sudah memecahkan dua genting selama latihan.

“Kita bisa bidik dari jauh. Bidik dari puncak genting, biar saya saja yang pegang kameranya. Tunjukin aja mana yang harus dipencet.”

Dan kemudian saya tahu menjadi tukang kamera amatir itu tidak gampang.

“Kalau mau di zoom yang mana Zis? Puternya sampai mana? Kok jadi nggak fokus. Biar fokus yang mana? Aduh kok nggak nyala?”

Akhirnya Azispun merayap ke atas genting. Benar-benar merayap!!

“Susah ternyata. Goyang terus,” keluhnya.

“Zis, udah deh. Kamu satu shot aja yang di atas ini. Shot sebelah sana, saya saja yang pegang.”

Dan aku lupa bagaimana cara Azis turun waktu itu.

*****

Setelah aku selesai mengedit video. Tiga hari sampai seminggu kemudian, kalau tidak salah. Akupun duduk berdua dengan Kevin di pantai. Tentu saja pantai Hawaii di dunia Pico.

“Fil, gimana kalau Drift Club aja?”

“Vin, kenapa sih harus ganti nama klan? Linefol nggak jelek.”

“Gue lagi pengen ganti aja, Fil.”

Gemas aku kalau Kevin udah kayak gini. Semaunya sendiri. Seorang cewek mendekati kami. Minta props. Semacam sapaan di Pico agar bisa mendapatkan gummie – salah satu alat tukar dlm game ini. Kevin mengusirnya, seperti biasa. Lebih baik. Daripada bikin rusuh.

“Kan nggak semua member kita suka nge-drift.” Lu doang yang suka.

“Kalo Arrifol aja gimana?”

“Vin, kalo sering ganti nama tuh orang jadi nggak kenal sama klan kita. Kita kan udah pernah ganti nama sekali.”

“Iya sih.”

“Sebenernya gue punya alesan lain kenapa gue ga mau klan kita ganti nama.”

“Maksud lu?”

“Gue punya hadiah buat elu. Kita pindah ke fb aja deh.”

Aku segera membuka jendela facebook. Terlihat dialog chat kevin menyala.

Hadiah apa, Fil?

Aku segera mengetik. Ultahlah. Gpp dua hari lagi juga. Gue kasih aja sekarang.

Lalu kucopas link dari youtube ke dialog chat kevin.

http://www.youtube.com/watch?v=KILPcoPvr7g

Itu lu buka aja, ketikku.

Ok

Aku menghela napas. Harap-harap cemas dengan komentar anak itu. Bagaimanapun aku tahu, tidak ada sesuatu yang abadi. Pastilah klan Linefol akan bubar. Aku dan Kevin juga pasti bosan main ameba pico lalu kami kembali pada kehidupan masing-masing. Aku tidak mau hal itu terjadi. Sekalipun mungkin kami tidak akan pernah bertemu, tapi aku membuat kami bertemu dalam film indie itu. Youtube bisa menyimpan momen berharga kami itu.

Lalu komentar Kevinpun bermunculan.

Gila Fil, ini gw

Marahnya kayak gw

Gw haru nontonnya

Makasih

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer L. Filan
L. Filan at Kado Ulang Tahun (1 year 32 weeks ago)

kayaknya... krn itu proses pembuatan film indie-nya.

Writer neysa
neysa at Kado Ulang Tahun (1 year 32 weeks ago)
30

Nama Kevin dan game pico ..... :3

Writer L. Filan
L. Filan at Kado Ulang Tahun (1 year 32 weeks ago)

o.O?
Apa maksudnya?

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Kado Ulang Tahun (1 year 32 weeks ago)
90

akhirnya lebih ngeh setelah nonton filmnya haha. titip salam deh sama yang suka ngomong "ya sudahlah"....

Writer L. Filan
L. Filan at Kado Ulang Tahun (1 year 32 weeks ago)

Saya emang suka agak kesulitan kalo bikin cerita yg nonfiksi. Jadinya gaje. Kecuali kalo ambil idenya doang.