EVENT HoR : Say With Flower : Taman Bunga Jam Sembilan Pagi. (Bunga : Moss Rose Mix/Bunga Jam sembilan Pagi) - GGG

 

Kalian pasti akan mengatakan aku gila. Karena tidak ada orang waras yang menolak menghabiskan liburan gratis ke Singapore bersama kekasihnya. Apalagi kemudian memilih menghabiskan malam pergantian tahun di sebuah kota kecil. Yang paling parahnya lagi, di taman yang sepi.

 

Semua berawal dari putusnya hubunganku dengan Dina beberapa hari yang lalu. Terlalu sibuk mengejar deadline novel penerbit, sehingga membuat aku melupakan janjiku pada Dina. Dia tidak bisa lagi menolerir.  Demi kisah romantis nan indah pada sebuah novel aku mengabaikannya.

 

Tapi penerbit juga akan memecatku, bila novel tidak siap pada waktu yang telah disepakati. Kupilih penerbit dibanding Dina. Karena biasanya dia akan memaafkan sikapku. Dina tahu betapa besar cita-citaku menjadi penulis profesional. Namun setelah itu, aku menyesalinya. Karena dia benar-benar marah dan  memutuskanku hanya lewat sms.

 

#Dun, kejar saja mimpimu menjadi penulis best seller. Tapi ingat, aku tidak akan pernah membeli novel yang ditulis oleh pria yang tidak memperhatikan perasaan pacarnya#

 

==

 

Lalu, bagaimana bisa aku berada di kota Pontianak, Ibu kota provinsi Kalimantan barat ini?

 

Putus cinta mengacaukan akal sehat. Sehingga saat Kepala redaksi mengikut sertakan aku dalam event penulis di pulau Kalimantan, aku langsung menerimanya. Aku ingin menyepi, menenangkan hati. Setelah tidak ada satu pun panggilan telepon dan sms yang dibalas Dina.

 

Kufokuskan pikiran pada acara ini. Menurut jadwal, tujuan pertama adalah toko buku Bumi wacana di kota Pontianak dengan penjualan terbesar tahun ini. Acara dimulai dengan talkshow dan diskusi. Setelah itu dilanjutkan dengan bedah buku, novelku salah satunya.

 

Terpaksa kupasang wajah tersenyum. Terutama ketika pertanyaan menyangkut perihal kisah cintaku di dunia nyata. Apakah seindah cerita novelku? Aku hanya diam. Tersenyum.

 

“Dadun, acara hari ini sudah kelar. Mau ikutan keliling kota atau ada rencana lain?” tanya Mas Irwan.

“Aku istirahat di hotel aja deh, Mas,” sahutku sambil membereskan laptop dan beberapa buku dari stand.

 

Mataku menyapu setiap sudut toko buku tersebut. Aku tersenyum saat melihat novelku terpajang di bagian best seller. Setidaknya tidak sia-sia menguras keringat dan waktu.

 

==

 

Kamar hotel yang disewa Mas Irwan  tidak terlalu besar, cukup untuk kami berdua. Sementara beberapa rekan lain menempati kamar berukuran lebih besar. Hotel Gardenia terletak di jalan utama menuju bandar udara. Hotel yang sudah berdiri cukup lama dan memiliki kesan tenang dan sejuk.

 

Setelah mandi lalu berganti pakaian, perutku terasa lapar. Awalnya aku tergoda untuk makan di restoran dengan live music. Namun berpuluh-puluh notification di Facebook serta foto-foto liburan Dina menghentikanku. Alhasil aku memesan makan malam lewat jasa layanan kamar hotel.

 

Sambil menunggu, aku membalas email serta komentar teman-teman. Tiba-tiba sekilas bayangan terlihat ketika ekor mataku melirik ke jendela, di samping meja laptop. Di luar jendela nampak seorang gadis berkulit putih di taman yang terletak di sebelah hotel. Gadis itu menatap terus menerus seakan aku alien. Karena penasaran aku melangkahkan kaki keluar kamar, berlari menuju taman yang kini kosong tanpa sosok si gadis manis.

 

“Mas.” Aku dikejutkan oleh seorang pelayan hotel yang menepuk pundakku.

“Ada apa?”

“Mas sedang ngapain yah di sini?” tanya dia dengan senyum ramah khas seorang pelayan.

“Menikmati langit malam,” jawabku asal.

 

“Sebaiknya jangan sendirian kalau malam-malam gini,”

“Kenapa? Sering terjadi kasus kriminal?” tanyaku cemas. Seluk beluk kota ini belum begitu kuketahui. Walau sering mendengar ceritanya dari Cat, teman sesama penulis di situs www.kemudian.com.

 

“Bukan. Hanya saja tidak ada yang berani mendekati taman jam sembilan itu kalau sudah malam,” ucap pelayan itu lagi.

“Taman jam sembilan?”

“Ye, taman tuh namanya taman jam sembilan. Karena semuanya bunganya, bunga jam sembilan pagi,” sahut seorang wanita yang mengendong anak berusia kira-kira dua tahun.

“Kok hanya ditanami bunga jam sembilan?” tanyaku penasaran.

“Dun, bukan ditanami. Tapi tumbuh dengan sendirinya dan tidak bisa di musnahkan!” wanita itu menekankan setiap patah kata yang keluar dari mulutnya. Cengiran lebarnya membuat aku menyadari bahwa senyum itu pernah kulihat.

“Kok tahu namaku? Ternyata aku cukup terkenal yak,” ucapku ke-pede-an.

 

“Uh, narsis bin lebay dirimu Dun, Dun. Panggil Om Dadun nak,” ucapnya pada bocah kecil yang kukenali sebagai Kenz.

“Cat!” teriakku tak percaya. Dia menepati janjinya untuk membawa si kecil Kenz mengunjungiku setelah suaminya pulang kerja. Sudah lama aku ingin bertemu Kenz. Sampai saat ini fotonya dengan Lovaskeptika masih kupakai untuk foto profil di kemudian.com.

 

Cat mentraktir makan malam. Bahkan sudah kulupakan pesanaan nasi cap cay saat menyetujui usul Cat. kami mengobrol di restoran hingga menjelang pukul sepuluh malam. Cat pamit karena Kenz mulai mengantuk.

 

“Jangan penasaran dengan taman itu. Tapi kau boleh lihat, tepat jam sembilan pagi bunga kecil aneka warna akan menghiasi taman itu dengan sangat indah,” ucap Cat. Mulutnya memang sangat cerewet.

 

==

 

Jika Cat tidak memberikan peringatan, tentunya rasa penasaran ini tidak terlalu besar. Hingga membawaku berada di depan taman tersebut saat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Pintu pagar taman terbuat dari bambu-bambu yang disusun dengan sederhana dan unik, kubuka perlahan.

 

Aku yakin tadi melihat amoy manis di sini. Amoy adalah sebutan gadis dari etnis tiong hua. Sering terdengar berita mengenai amoy yang menikah ke luar negeri. Cat sering bercanda mengenai komoditi ekspor yang paling laris adalah amoy.

 

Pusing tiba-tiba menyerang. Tubuhku semakin lemas. Saat pegangan tangan pada pagar bambu terlepas, sebuah jemari yang lembut membantuku masuk lalu duduk di kursi taman. “Pusing?” tanyanya. Dan aku yakin dia adalah gadis yang kulihat tadi.

“Aku ambilkan air dulu, yah.” Tak berapa lama dia datang dengan sebuah gelas di tangan. Air putih itu membuat aku lebih baik.

“Terima kasih.”

 

Aku terkejut saat memandang ke sekeliling. Malam masih pekat, namun saat ini aku tidak berada di taman melainkan sebuah kebun sayur.

“Di mana ini?” tanyaku ketakutan. Astaga! Apakah aku dibawa ke ruang dimensi lain? Ditarik roh halus? Sahabatku mengatakan kota Pontianak masih terkenal dengan hawa mistisnya. Dan menyarankan aku membawa beberapa jimat dari pamannya. Tapi untuk ukuran anak muda gaul dari Bandung, mempercayai tahayul bagiku adalah hal yang sia-sia.

 

 

“Kebon sayok Pak Hulu,” jawabnya lembut.

“Aku seharusnya tidak boleh berada di sini,” teriakku. Dia mengisyaratkan agar aku mengecilkan suara.

“Hati-hati, Pak Hulu akan marah besar kalau tahu kamu di sini.” Gadis itu membantuku berdiri.

 

“Siapa kamu?” tanyaku dengan cemas.

“Sun, teman bermainmu sejak kecil. Walau sekarang tidak lagi.” Ada rasa rindu yang dalam tersirat pada ucapannya.

“Kita? Bermain? Kamu kenal aku?” tanyaku kesal. Kalau ini adalah mimpi maka aku harus segera bangun.

“Kamu lucu! Siapa yang tidak kenal dengan Yusuf, putra pertama Pak Hulu. Calon penerus Tuan Besar,” sahut Sun.

 

“Kalau aku adalah Yusuf, anak tuan tanah. Maka kamu pasti adalah pacarku?” aku terlanjur masuk dalam dunia yang aneh. Jadi mengapa tidak sekalin bermain-main di dalamnya saja pikirku.

“Bang Yusuf, kita tidak bisa bersama! Aku sudah dipinang oleh ayahmu,” ucapnya sedih. Aku terkejut.

 

“Kalau aku katakan bahwa aku bukan Yusuf. Dan aku tidak tahu siapa dirimu, kau mau menunjukkan jalan pulang ke duniaku?” tanyaku dengan hati-hati.

 

“Kamu bukan Yusuf? Lalu ke manakah Yusufku? Dia berjanji akan menemuiku di sini,” tiba-tiba dia menatapku aneh. “Di mana dia? Mengapa dia tidak datang menemuiku?” tanyanya sedih. Airmata membanjiri wajah. Aku mencoba menyeka air matanya, namun sia-sia. Baru saja hendak memegang tangannya, tubuhku terasa seperti diguncang dengan hebat.

 

“Dun!” suara yang kukenal.

“Mas!” suara pelayan itu, pikirku.

“Dadun!” teriakkan Cat membangunkanku dari mimpi aneh.

 

“Ngapain kau tidur di bangku taman? Kayak nggak disewain kamar aja!” ucap Mas Irwan dengan ekspresi tak percaya. Leher dan badanku pegal. Ternyata hari sudah pagi dan saat menyapukan pandangan ke sekeliling aku merasa takjub. Hamparan bunga-bunga kecil aneka warna menghiasi taman itu. Aku segera merogoh saku celana panjang untuk mengambil telepon genggam. Sekedar memastikan jam berapa.

 

“Jam sembilan, tidak perlu kau cek lagi. Bunga jam sembilan akan mekar dengan sempurna pada saat jam sembilan pagi, indah bukan,” ucap Cat sebelum aku sempat menekan tombol telepon genggam.

“Sangat indah.” Aku menyetujui perkataan Cat.

“Meski hanya seperti bunga rumput yang kecil, lemah juga tidak menarik. Tapi saat mekar dan memenuhi taman, maka tampak indah. Satu lagi, bunga jam sembilan atau sun plant dalam bahasa inggrisnya ini memiliki khasiat yang bagus,” timpal Cat.

 

“Yah, nanti aku akan tanya sama paman Google mengenai bunga jam sembilan. Sekarang aku mau tidur dulu, ngatuk,” sahutku menghentikan celoteh Cat sambil meregangkan otot-otot badan yang sakit setelah tidur semalaman di kursi bambu.

“Kau mengabaikan peringatanku,” ucap Cat kesal sebelum aku memasuki lobi hotel. Kenz berlari memeluk mamanya dan mulai mengoceh tentang berenang. Rupanya Rudy membawa Kenz ke kolam renang yang terletak di bagian belakang hotel.

 

==

 

“Jangan kau dekati lagi taman jam sembilan!” Peringatan Cat terus terdengar di telingaku. Tapi entah mengapa sore ini kembali aku menatap taman itu dengan penasaran. Apalagi setelah mengetahui cerita yang beredar mengenai taman bunga jam sembilan.

 

Aku menyalakan laptop dan meng-klik lambang MS Word yang nampak di desktop. Tulisanku kalini berjudulnya – Legenda taman bunga jam sembilan pagi. Kembali kubuka ingatan di otak. Cerita tentang asal usul taman jam sembilan pagi itu.

 

Menurut cerita Cat dan beberapa pelayan hotel, seorang amoy yang mencintai putra majikannya meninggal dengan tragis di sana. Mereka tidak tahu nama gadis itu. Gadis itu adalah putri dari sepasang suami istri yang mengadu nasib menjadi penambang emas di sungai kapuas. Keluarga mereka di datangkan dari Cina daratan untuk menjadi pekerja. Selain gaji yang cukup mengiurkan, para pekerja dari dataran Cina tersebut juga melarikan diri dari himpitan perekonomian serta wabah di negaranya.

 

“Sudah enam tahun mereka bekerja pada Tuan Tanah. Dan gadis bunga jam sembilan pagi itu selalu menjadi teman bermain anak tuan tanah yang terkenal menyebalkan. Ternyata perasaan saling suka muncul di antara mereka. Berita kedekatan keduanya menimbulkan hal yang tidak sedap. Tuan tanah ternyata menginginkan gadis itu juga.” Aku mengingat kembali cerita dari Cat

 

Menurut Tuan Tanah, darah bangsawan akan tercemar bila menikahi gadis keturunan yang miskin. Telah diatur pernikahan putranya dengan putri dari kerabat kaya raya dari tanah Jawa. Rencana itu tidak boleh gagal.

 

Pemuda mengatakan akan membawa sang gadis pergi ke tempat jauh. Mereka berjanji bertemu di tempat yang sekarang menjadi taman setiap pagi. Hanya saja sang pemuda selalu saja mengulur waktu. Tiap hari mereka bertemu, tapi tiap hari pula pemuda itu menyatakan belum siap. Dan gadis itu kembali mengantungkan harapan serta menanti kekasihnya setiap pagi.

 

Hingga akhirnya rencana mereka tercium oleh tuan tanah. Tuan tanah mengirim anaknya ke luar pulau untuk dinikahkan secepatnya. Sementara sang gadis masih menunggu.

 

Aku menghentikan jariku yang sedang mengetik legenda taman bunga jam sembilan pagi itu di MS Word. Cerita legenda ini bisa menjadi salah satu referensi untuk novelku.

 

Entah mengapa langit kembali gelap, padahal baru sepuluh menit yang lalu matahari bersinar terang. Cuaca panas terik di kota Khatulistiwa ini memang sangat berat. Kulitku kering dan keringat terus mengucur dari tubuh akibat sengatan matahari. Mungkinkah langit saat ini pertanda akan turun hujan lebat.

 

Kembali kepalaku terasa berat dengan mata berkunang-kunang. Dalam keadaan setengah sadar, kulihat Sun berlari menembus rimbun semak-semak. “Tangkap dia!” teriakkan seorang pria mengejutkanku. Dua orang pria berbadan besar menarik tangan Sun kasar. Mengikatnya pada sebuah pohon kelapa lalu menebar kayu bakar dan sabut kelapa kering disekeliling. Minyak disiramkan pada tubuh Sun.

 

Gemeretak suara kayu bakar dan sabut yang termakan api semakin kuat. Setelah api membesar, kedua orang itu pergi dengan tawa kemenangan. “Harus melakukan sesuatu,” batinku.

 

Tapi kakiku kaku. Hanya dapat mematung melihat Sun menangis. Saat api berkobar menjilat tubuh Sun, baru dapat kakiku bergerak. “Kamu menepati janjimu Yusuf. Kamu datang saat bunga itu mekar,” ucapnya sambil menatap sebuah bunga kecil di dalam pot yang tergeletak hancur di dekat petak sayur bayam.

 

“Apakah kamu akan membawaku pergi saat ini?” tanyanya penuh harap.

“Tidak perlu hidup mewah. Jangan kumpulkan emas lagi untuk biaya hidup kita, Yusuf. Kita bisa bekerja nanti,” ucapnya sambil tersenyum.

 “Aku akan mencari bantuan. Memadamkan api ini,” ucapku lagi.

 

“Apakah gadis yang dijodohkan ayahmu telah memikat hatimu?” tanya Sun lirih. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Kembali kepalaku tertunduk lemas.

“Bila memang itu pilihanmu, pergilah Yusuf. Aku bahagia bila kamu bahagia.” Sun tersenyum lagi.

 

“Kita padamkan api dulu. Baru kita cari Yusuf-mu yang tidak menepati janji itu,” rutuk Dudun kesal.

“Tidak perlu. Api ini sudah lama padam berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hanya aku yang terus menunggu, menanti dirimu pada saat yang kita janjikan. Setiap pagi ketika bunga kembang tabuh delapan yang  kamu berikan mekar, maka kita akan bertemu di kebun sayur ini. Bersenda gurau sesaat kemudian kembali menjadi orang asing lagi. Aku tahu pasti kita tidak akan pernah bersama. Namun menunggumu seperti bunga kembang tabuh delapan yang setia mekar setiap pagi adalah janjiku padamu,” ucap Sun.

 

“Setidaknya janji itu akan terus kulakukan. Menunggumu setiap hari, sepanjang musim hingga kamu melupakanku lagi.”

“Dia telah mengkhianati dirimu.”Dadun mengambil beberapa karung yg telah dicelupkan ke air untuk memadamkan api, namun  sia-sia.

 

“Aku bukan Yusuf,” sahutku.

“Kamu adalah Yusuf. Meski bukan Yusufku lagi. Kembalilah kepada dia yang menantikanmu, kita sudah berakhir. Api menghanguskan tubuhku, namun tidak cinta dan janjiku padamu.” Sun semakin samar dalam pandangan mata dan dalam sekejap sinar hangat menerpa wajahku.

“Setiap pagi aku akan di sini menantimu.” Sun tersenyum lalu menutup matanya.

 

Aku berteriak histeris saat melihat Sun hangus dimakan api. Tanganku berusaha memadamkan api, tidak peduli apakah panas itu bisa membakar kulit atau tidak. Namun sia-sia. “Sun! Sun!” teriakku.

 

Terbangun di meja dengan laptop menyala dan ruangan masih sepi. Keringat mengalir deras. “Sun, mengapa kau menarikku?”

“Apakah karena aku tidak pernah menepati janji pada kekasihku?”

“Sun, aku ingin bertemu lagi denganmu.” Aku mengambil sebotol minuman dingin dan meneguknya cepat.

 

 “Kenapa mukamu pucat?”  Mas Irwan memasuki kamar, “Mimpi buruk?”

“Makanya tidur tuh di kasur!” ucapnya sambil tertawa.

“Besok pagi jam sembilan kita ke bandara,” ucap Mas Irwan sambil merebahkan badan di atas spring bed single.

 

“Tadi aku ketemu si Cat di lobi. Katanya mau ngajak kamu keliling Pontianak.” Mas Irwan langsung terlelap setelah menyampaikan informasi tadi.

Aku berganti pakaian dan mengecek ponsel. Ada sepuluh sms masuk, dan semuanya dari Cat. “Dasar mahluk tidak sabaran,” omelku.

 

“Sudah hampir satu jam aku di sini. Ampe berlumut rasanya.” Cat memasang tampang seram. Padahal kalau tidak marah pun matanya sudah sangat mirip kucing garong.

“Maafkan aku Emak Cat,” Kenz tersenyum saat aku mengoda mamanya.

“Ayo aku bawa kamu makan makanan khas Pontianak.” Cat menarik Rudy dan Kenz yang asyik bermain. Sementara aku, mau tidak mau mengikuti langkah kakinya yang terburu-buru.

 

Dua mangkuk bubur padas, dua mangkuk bakmie kepiting serta satu piring kuetiaw goreng tersedia di meja. Setelah mencoba bubur padas dan bakmie kepiting, aku kekenyangan. “Full banget! Enaknya langsung tidur.”

Cat melotot tak percaya. “Baru aja bangun tidur, uda mau tidur lagi!” teriaknya.

“Bangun tidur, tidur lagi. Banguuun tidur lagi,” Kenz menyanyikan lagu yang baru dipelajarinya dari anak-anak pengamen tadi. Rudy juga ikut-ikutan menyanyi, alhasil kami memanggil pengamen kecil itu untuk mini konser lagi dengan suaranya yang cempreng pas-pasan.

 

“Cat, ini serius!” ucapku. Pikiranku tidak pernah lepas dari Sun.

“Hem, ini bener-bener serius,” sahut Cat sambil mengutak-ngatik ponselnya.

“Cat! Sibuk update status aja!” Aku kesal dan Rudy hanya senyum-senyum.

“Sudah biasa,” sahut Rudy. Aku mengeleng tak percaya.

 

“Yah, ada apa sih? Serius bener? Eh kamu sudah mau pulang ke jakarta kan. Aku bawa makan durian sambil nongkrong di pinggir jalan, yuk.” Dia tidak mempedulikan wajahku yang kusut.

“Aku bener-bener seriu. Aku bertemu Sun,” ucapku.

“Ah, tiap hari Sun emang bersinar dengan cerah kok.” Cat mengodaku.

“Bukan sun yang artinya Matahari! Sun, gadis bunga jam sembilan.” Wajah Cat langsung berubah serius.

 

“Sun? Apa hubungannya dengan bunga jam sembilan pagi?” tanya Cat penasaran.

“Sun adalah nama gadis yang dibakar di taman. Dia menanti Yusuf, kekasih yang tidak juga menepati janji menemuinya di pagi hari saat bunga jam sembilan pagi mekar sempurna.” Aku menjelaskan mengenai pertemuanku dengan Sun di dalam alam mimpi. Yah, aku menyebutnya mimpi.

 

“Ayo ikut aku.” Cat membayar makanan lalu  tergesa-gesa menuju mobil sementara aku, Rudy dan Kenz hanya mengeleng-geleng.

“Ayo! Kita akan pergi ke klenteng!” teriaknya lagi.

 

Suasana klenteng Dewi Kwan Im sangat besar dan megah. Gerbangnya tinggi dan terdapat dua patung barongsai penjaga. Di dalam klenteng tersusun dengan rapi hio dan kertas sembayang. Cat mengambil seikat hio dan kertas yang telah disediakan.

 

Aku sedikit penasaran, apa yang dilakukan Cat setelah berdoa. Cat bilang dia sedang mengocok Chiam shi. Setelah dikocok, salah satu batang kayu melompat keluar dari tabung bambu. Cat kemudian mengambil dua buah kayu kecil yang berbentuk seperti setengah lingkaran yang ditumpukkan menjadi satu. Setelah berdoa sesaat, Cat melempar dan kayu tersebut terjatuh di lantai. Satu buah potongan setengah lingkaran merah itu terbuka menghadap ke atas, yang lainnya menelungkup. Cat tersenyum puas.

 

Kami duduk di mobil sambil membicarakan perkataan pembaca garis tangan yang mengambilkan kertas chiam shi tadi. Pak Tua tadi mengatakan kami harus berdoa untuk arwah Sun. Karena itu saat ini kami dalam perjalanan menuju taman bunga jam sembilan pagi.

 

Sesampainya di hotel, Cat dan aku segera menuju taman. Sementara Kenz dan Rudy menunggu di kamarku. Cat mengeluarkan hio dan kertas sembayang, juga menaruh bunga serta buah lima macam. Dia mulai berdoa dan menancapkan sebuah hio di sudut taman tempat aku menunjuk. Aku yakin di sanalah Sun terbakar  hidup-hidup.

 

==

 

Pagi ini aku bangun dengan wajah yang segar. Tidak ada lagi mimpi tentang Sun. Aku menatap ke taman bunga dan kuncup-kuncup berwarna-warni itu masih menutup. Namun saat aku menatap dengan seksama. Kusadari kuncup-kuncup itu mulai mekar dengan perlahan. Jam di dinding serta arlojiku masih pukul tujuh pagi. “Jangan melupakan janji pada dia yang setia menunggumu,” bisikan suara Sun terdengar saat angin mengoyangkan bunga jam sembilan.

 

Semua orang di hotel membicarakan bunga jam sembilan yang mekar pada pukul tujuh pagi. Sementara aku berdiri di depan hamparan bunga tanda janji Sun. Mengabadikan dalam kameraku.

 

Mas Irwan menarik tanganku. “Ayo!” Aku masih enggan pergi. Rasa penasaran pada bunga jam sembilan pagi masih menghantuiku. Namun Mas Irwan mendesak, “Pesawat tidak akan menunggu kita.”

Dari balik jendela inova perak aku menatap taman jam sembilan sekali lagi. Kali ini Sun tersenyum padaku. Aku yakin, Sun sedang duduk di antara hamparan bunga jam sembilan sambil terus menunggu, menunggu pria yang tidak menepati janji untuk kembali diingatkan.

 

Aku berjanji padamu bunga jam sembilan pagi, aku akan kembali suatu saat nanti.

 

 

 

Foot note :

Hio                         :               dupa/setangi untuk sembahyang.

Chiam si               :               - tabung bambu yang berisi batangan kecil seperti sumpit kayu yang tertulis angka-angka. Yang digunakan untuk meramal nasib. Angka-angka yang berada di dalam bilah kayu akan ditukarkan dengan sebuah kertas berisi semacam puisi. Puisi tersebutlah yang menjadi ramalan. Biasanya akan ada seorang yang bertugas membacakan dan mengartikan hasil (kertas).

 

 

 

===========

 

info lomba :

 

 

Say with flower. Yup, kita sering mendengar ungakapan itu bukan. Saat mo ngapelin pacar, bawain bunga. Pas valentin hadiahkan mawar ke pasangan. Ada juga yang pas ulang tahun kirimin 100 mawar ke pacar. Nah pas merit pun ada buket bunga yang dipegang ma pengantin wanita dan nantinya akan dilempar pas acara berakhir. So bunga dan kisah cinta sulit dipisahkan.

 

Tiap bunga ada arti masing-masing. Yang kita kenal dengan bahasa bunga. Dalam bunga juga ada ceritanya sendiri. Dan ada begitu banyak kisah pula yang berawal ataupun berakhir dengan bunga. Baik itu dengan akhir bahagia maupun sedih.

 

Nah, karena itu HoR akan mengadakan event menulis Cerpen yang mengusung tema Bunga. "Say with flower" HoR bekerja sama dengan GGG (Gunawan Green Glory) mengulirkan event kecil-kecilan dengan maksud memacu kreativitas penulis, menghijaukan lingkungan serta menyebar cinta.

 

Adapun ketentuan-ketentuannya sbb :

 

1. Cerpen yang dikirim harus sesuai dengan pilihan tema "Say with flower". Cerpen harus menggunakan bunga. Bunga yang dipakai di dalam cerpen harus merupakan salah satu bunga yang berada di page GGG (http://m.facebook.com/GunawanGreenGlory?ref=stream&refid=46).

2. Boleh menggabungkan unsur romance dengan genre lain (bebas)

3. Naskah cerpen rapi, enak dibaca, memperhatikan EYD dan kaidah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar

4. Tidak mengandung pornografi atau menyinggung SARA

5. Naskah adalah karya sendiri, memberikan pernyataan bahwa naskah tersebut karya sendiri, bukan plagiat. Pernyataan tersebut ditulis di halaman terpisah di dalam file naskah cerpen.

6. Harus "Like" page GGG (http://m.facebook.com/GunawanGreenGlory?ref=stream&refid=46)

7. "Share" foto bunga yang digunakan di dalam cerpen yang terdapat di page GGG.

Contoh salah satu bunga

GGG (Gunawan Green Glory)

Kode : F034

Carnation Double Mix

30 biji

Rp.32.500,-

(http://m.facebook.com/photo.php?fbid=509037392441807&id=508574272488119&set=a.508646649147548.123248.508574272488119&refid=56&ref=stream)

8. Cerpen tidak sedang diikutsertakan dalam event kepenulisan yang lainnya.

PROSEDUR PENGIRIMAN NASKAH CERPEN :

1. Ditulis dalam file MS Word, font Times New Roman, spasi 1 ½

2. Jumlah kata minimal 1.000 kata, maksimal 3013 kata

3. Kirim naskah dalam attachment ke alamat e-mail : romance.hor@gmail.com dengan subject : Say With Flower (judul - nama penulis)

4. Tuliskan nama lengkap, ID fb, alamat lengkap, dan nomor ponsel di body text e-mail

5. Cerita di post di Note kemudian tag Harry Gunawan, GGG dan Juri.

Dengan format judul : Say With Flower (Judul : jenis bunga) - GGG.

6. Sertakan informasi lomba ini di bagian bawah cerpen.

7. Sertakan gambar bunga yang kalian gunakan dalam cerpen.

8. Cerpen boleh di post di situs-situs kepenulisan dengan diberi catatan bahwa sedang diikutsertakan dalam lomba Say with Flower : House of Romance.- Gunawan Green Glory.

PROSEDUR PENJURIAN :

1. Jangka waktu pengiriman naskah adalah 1 January – 7 Febuary 2013

2. Pengumuman pemenang tanggal 14 Febuary 2013.

HADIAH :

Juara I mendapatkan paket benih tanaman senilai Rp. 100.000,-

Juara II mendapatkan paket benih tanaman senilai Rp. 75.000,-

Juara III mendapatkan paket benih tanaman senilai Rp. 50.000,-

Bila para pemenang pernah berbelanja di page GGG maka nilai paket hadiah akan bertambah Rp. 50.000,-

Cerita dengan jumlah like terbanyak akan mendapatkan voucher berbelanja buku senilai Rp. 25.000,- di HoR.

DAFTAR JURI

1. Glenn Alexei

(Penulis Novel Cinta di atas awan, Second Chance dan Kumcer Before The Last Day)

2. Artha Amalia

(freelance editor, layouter, kontributor Curhat Move On Gradien dan beberapa antologi indie)

3. Harry Gunawan (Penulis dan pencinta tanaman)

Hadiah-hadiah disponsori oleh

1. GGG (http://m.facebook.com/GunawanGreenGlory?ref=stream&refid=46) like page ini.

2. HoR

3. Chibi Publisher(http://m.facebook.com/chibi.publisher.9?refid=46&ref=stream) like page ini untuk mendapatkan informasi buku-buku terbitan Chibi Publisher serta event-eventnya.

4. Elf Books (Kunjungi dan LIKE fanpage ELF Books untuk mendapatkan info buku-buku terbitan ELF Books https://www.facebook.com/pages/Elf-Books/191129120971005 serta website http://www.elfbooks.net/ untuk mengirimkan naskah dan bergabung menjadi penulis di ELF Books)

Catatan : Dilarang melakukan komunikasi/korespondensi dalam rangka proofread, permintaan pendapat dan masukan, komentar, pencabean dan semacamnya pada juri-juri tersebut di atas untuk karya yang dikirimkan, selama audisi berlangsung. No exception

Oke, sekian pengumuman event House of Romance kali ini. Kami tunggu naskah-naskah romance-nya. Silakan bersiap dan selamat mengikuti HoR : Say With Flower.

With love,

Admins.

Read previous post:  
135
points
(3711 words) posted by cat 7 years 30 weeks ago
84.375
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | bunga | cat | dadun | sun plant | sunflowers
Read next post:  
Be the first person to continue this post

Nah loh tante Cat ini gmn...dikirim buat event tapi pov nya ada ganjal nih,,, di sini pake pov 1 kan, tapi knapa ada ini
“Kita padamkan api dulu. Baru kita cari Yusuf-mu yang tidak menepati janji itu,” rutuk Dudun kesal.
“Tidak perlu. Api ini sudah lama padam berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hanya aku yang terus menunggu, menanti dirimu pada saat yang kita janjikan. Setiap pagi ketika bunga kembang tabuh delapan yang  kamu berikan mekar, maka kita akan bertemu di kebun sayur ini. Bersenda gurau sesaat kemudian kembali menjadi orang asing lagi. Aku tahu pasti kita tidak akan pernah bersama. Namun menunggumu seperti bunga kembang tabuh delapan yang setia mekar setiap pagi adalah janjiku padamu,” ucap Sun.
 
“Setidaknya janji itu akan terus kulakukan. Menunggumu setiap hari, sepanjang musim hingga kamu melupakanku lagi.”
“Dia telah mengkhianati dirimu.”Dadun mengambil beberapa karung yg telah dicelupkan ke air untuk memadamkan api, namun  sia-sia.

Itu aja siy tan,#maafkanlah hehe

Iyaaaa. Huhuhuhu kenapa bisa salah di sono yak.

Huhuhuhu. Tengkiu Titikecil