Kiamat Terindah

Kiamat Terindah

oleh Amarillo Heinz & Shao An

 

 

 

Teddy, aku takut.

 

Semalam aku bermimpi buruk lagi. Mimpi yang sama. Tentang dunia yang seluruhnya gelap. Entah karena matahari padam atau kedua mataku terbutakan. Tapi hitamnya semakin pekat. Suasananya pun semakin sunyi. Tidak ada Ayah, Ibu, atau siapapun. Seperti inikah namanya kiamat?

 

“Jadi apa rencanamu hari ini? Menjarah supermarket lagi?”

 

“Mengapa sinis seperti itu? Aku melakukannya demi kita semua. Hanya ini satu-satunya cara untuk tetap bertahan.”

 

“Sampai kapan?”

 

“Aku pasti akan menemukan cara. Aku berjanji.”

 

“Jangan berjanji tentang sesuatu yang tidak bisa kaupenuhi! Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi tinggal lebih lama di sini.”

 

“Bukankah kita sudah berulang kali membicarakannya? Kau juga tahu, kita tidak mempunyai perbekalan apapun. Situasi di luar sana juga masih sangat berbahaya. Saatnya belum tepat. Kita masih harus sabar menunggu sambil bersiap-siap.”

 

“Seharusnya aku tidak menuruti kata-katamu sewaktu itu. Seharusnya aku membawa mobilku dan segera pergi keluar kota. Kalaupun pada akhirnya aku tetap akan mati, tapi setidaknya aku tidak perlu merasa terjebak, kelaparan, dan sekarat seperti saat ini.”

 

“Kumohon, berhentilah berkata-kata seperti itu. Itu tidak baik.”

 

“Aku lelah dengan janji-janji kosongmu. Aku menyesal. Aku benar-benar menyesal.”

 

Kututup rapat kedua telingaku. Seperti biasa, Ayah dan Ibu bertengkar lagi. Dan seperti biasa, selalu hal itu-itu saja yang diributkan. Teddy, katakanlah padaku apakah kau punya ide untuk mendamaikan mereka? Ah, tapi syukurlah, ternyata kegaduhan pagi ini tidak berlangsung lama.

 

Pintu kamarku berderit terbuka perlahan. Seperti biasa, Ayah berpamitan padaku sebelum pergi. “Hei,” Ayah menyapa lembut. “Apakah aku membangunkanmu?”

 

Aku menggeleng perlahan. “Ayah sudah hendak pergi sepagi ini?”

 

Ayah mendekat dan duduk di tepian ranjang tepat di sampingku. Sambil membelai rambutku, ia menjawab, “Tidakkah gurumu mengajari di sekolah? Orang rajin itu diberkati Tuhan.”

 

Ayah memang selalu punya cara untuk menegaskan bahwa semuanya baik-baik saja. Air mukanya teduh dan kata-katanya selalu tenang. Padahal aku juga tahu segala kekuatirannya. Manusia-manusia terinfeksi semakin banyak berkeliaran di jalanan sehingga ia harus selalu waspada dan bersiaga. Belum lagi ia juga harus bersaing dengan para penjarah lain.

 

Sebenarnya aku tidak pernah berharap Ayah pergi setiap pagi dan menempuh segala resiko berbahaya seorang diri. Aku tidak ingin sepanjang hari terus menunggu cemas apakah Ayah pulang sore nanti atau tidak. Aku ingin Ayah selalu berada di sini. Bermain, membaca dongeng, menyanyi, belajar, apapun. Tertawa bersama.

 

“Aku minta maaf. Pastilah kau terbangun karena kami berbicara terlalu keras.” Sejenak Ayah menghela nafas panjang lalu melanjutkan perkataannya, “Ini memang berat untukmu. Tapi aku ingin kau mengerti. Akhir-akhir ini keadaannya memang serba sulit sehingga setiap orang menjadi mudah kesal dan marah.”

 

Kudengarkan setiap patah kata Ayah baik-baik.

 

“Tapi kau juga harus tahu, meski sering berbeda pendapat, hubungan kami baik-baik saja. Janji sejati tidak akan pernah dilanggar.” Ayah menjulurkan kelingking kanannya padaku. “Aku, kau, Ibu, dan Teddy, kita selalu bersama.”

 

Senyumku melebar sambil kutautkan kelingking kananku. “Karena bersama, kita tidak terkalahkan.”

 

Ayah tersenyum lalu memelukku erat. “Berjanjilah bahwa kau akan selalu kuat dan tabah,” bisiknya di dekat telingaku. “Percayalah bahwa segalanya akan baik-baik saja. Karena Tuhan selalu beserta kita. Ia akan menuntun ciptaannya keluar dari lembah kekelaman.”

 

Aku balas memeluk Ayah erat. “Aku berjanji, Ayah. Aku berjanji.”

 

Cukup lama ayah memelukku sambil mengucap doa. Setiap saat sangatlah berharga. Setiap saat mungkin adalah yang terakhir. Tapi bagaimanapun juga sebagai kepala, Ayah mempunyai kewajiban untuk menjaga kelangsungan hidupku dan Ibu.

 

“Teddy, jaga baik-baik malaikat kecilku,” kata Ayah pada boneka beruang cokelatku. “Ingatkan agar ia tidak nakal dan selalu mematuhi kata-kata Ibunya.”

 

Ayah mengecup keningku sekali lagi sebelum pergi. Ia mengenakan masker dan memanggul ransel hitamnya. Selanjutnya ia menyelinap keluar dari jendela dapur, meniti pijakan yang lebarnya tepat setapak kaki, merayap dan mengitari tembok gedung apartemen setinggi delapan lantai, hingga akhirnya mencapai tangga darurat.

 

Aku menghela nafas lega. Tapi saat melihat kerumunan manusia-manusia terinfeksi di setiap sudut jalan di bawah sana, bulu kudukku merinding. Lepas satu masalah, datang masalah lain yang lebih gawat. Andai saja aku diperbolehkan membantu ayah mengatasi rintangan-rintangan ganas di bawah sana. Tapi memangnya apa yang bisa kulakukan? Aku hanyalah seorang anak perempuan yang belum genap sembilan tahun dengan badan kurus dan kaki tangan yang kecil.

 

Maka yang bisa kulakukan hanyalah berdoa dan berdoa.

 

Sejujurnya aku tidak pernah mengerti darimana asal wabah penyakit ini. Ada yang mengatakan dari monyet termutasi. Ada juga yang mengatakan kebocoran senjata biologis. Serangan makhluk luar angkasa. Kemurkaan Tuhan. Tidak tahu mana yang benar. Yang pasti, tiba-tiba saja orang-orang sakit, menjadi kanibal gila, dan menularkan melalui gigitan. Hanya dalam sekejap saja, seluruh kota kacau-balau.

 

Tapi seperti kata Ayah, semua ini hanyalah sekedar bencana biasa. Ia pernah bercerita bahwa di masa lalu, bencana heboh yang sejenis pun pernah terjadi, yaitu Kematian Hitam yang memusnahkan nyaris separuh penduduk bumi dan konyolnya, hanya disebabkan oleh tikus. Kemudian ada pula malaria, kolera, Ebola, AIDS, flu burung, dan sebagainya. Penyebabnya macam-macam. Bisa hewan, serangga, perubahan cuaca, kecerobohan manusia. Namun ada pula segelintir yang memang terjadi tanpa alasan masuk akal. Tapi yang pasti, pada akhirnya semua bencana itu selesai begitu saja.

 

Ayah sangat percaya, kejadian kali ini pun akan seperti itu. Kejadian ini bukanlah kiamat yang menjadi akhir dari segala-galanya. Meski berat, kejadian ini pasti akan berlalu pada akhirnya. Maka itu, tidak ada yang perlu ditakutkan. Yang terpenting adalah tetap bertahan, saling menguatkan, dan tidak kehilangan iman. Karena Tuhan tidak pernah mencobai umatnya melebihi dari apa yang dapat ditanggung.

 

Terkadang aku masih terkekeh sendiri saat memikirkan bahwa kata-kata itu meluncur dari seorang yang selalu tertidur saat kebaktian pagi di gereja. Ayah juga bukanlah seorang yang pandai. Nilainya semasa sekolah biasa-biasa saja. Pekerjaannya pun hanyalah salesman peralatan listrik. Tapi Ayah sangatlah sabar dan rajin. Setelah bencana ini usai, aku akan mendorong Ayah keluar kursi jemaat menuju mimbar. Biarlah semua orang tahu Ayah sangat hebat dan membanggakan.

 

Kemudian aku terbatuk-batuk. Selama beberapa saat, sekujur tubuhku menggigil. Seperti ada sesuatu yang menjalar di bawah kulit. Segera kugulung kain kaki celana piyamaku. Luka bengkak di betis kanan sudah mengempis meski masih berbekas pucat kebiruan. Sejenak kupijit-pijit luka itu dan kulit di sekitarnya. Terasa agak hangat tapi tidak sakit. Mungkin sekedar perasaanku saja. Toh, hanya luka gigitan serangga biasa.

 

Lalu aku berjalan menuju meja dapur. Ada beberapa keping biskuit di atas piring dan segelas susu. Saat mencelupkan biskuit ke dalam susu, kulihat Ibu berdiri memojok di dekat jendela di ruang tengah. Ekspresi wajahnya kusut. Tatapan matanya sayu. Tapi entah kenapa, meski dalam situasi sesulit ini pun, Ibu masih saja terlihat cantik. Rambut hitam sebahunya selalu tersisir rapi. Tubuhnya langsing. Aku selalu ingin menjadi secantik Ibu saat dewasa nanti.

 

Sekonyong-konyong Ibu bereaksi. Ia mengeluarkan sebuah lampu senter dari saku celananya. Lampu senter itu diarahkan pada jendela dan kemudian dinyala-padamkan. Aneh. Maka kusibakkan tirai jendela untuk mencari tahu apa yang dilihat Ibu di luar sana. Ternyata dari suatu jendela apartemen di gedung seberang, muncul sinar balasan yang berkedip-kedip.

 

“Apa yang sedang Ibu lakukan?”

 

Ibu melonjak terkejut. Tubuhnya berbalik padaku sementara lampu senter itu disembunyikan di balik punggung. “Berhentilah datang mengendap-endap seperti itu!”

 

“Siapakah yang berada di gedung seberang sana?”

 

Seketika wajah Ibu memerah padam. “Bukan urusanmu! Masuk ke kamarmu!”

 

Dibentak seperti itu, aku terhenyak dan sakit hati. Padahal dulu Ibu sangatlah ramah dan periang. Sepertinya kesulitan terus-menerus selama ini sangat melelahkannya. Bertolak belakang dengan Ayah, Ibu memang lebih banyak menimbang dan berpikir jauh ke depan. Ibu juga bukan seorang yang suka berdiam diri di rumah. Mungkin karena itulah, ia menjadi sangat pencemas dan lekas marah. Maka kuputuskan untuk patuh tanpa membantah. Kutundukkan kepalaku dalam-dalam dan berjalan kembali ke kamar. Tapi akhir-akhir ini memang terlalu sering Ibu bersikap ganjil. Terutama ketika Ayah sedang tidak ada di rumah. Ada sesuatu yang direncanakannya. Ada sesuatu yang dirahasiakannya.

 

Sekujur tubuhku menggigil lagi. Berbagai prasangka datang berseliweran. Lalu tiba-tiba saja suatu hasrat aneh menyeruak. Tidak, tidak, tidak. Aku segera memejamkan mata dan menenangkan pikiran untuk meredamnya.

 

Tapi aku tidak bisa tinggal diam. Teddy, kau harus membantuku mencari tahu.

 

***

 

Malam itu, kami duduk mengelilingi meja dan bersantap hanya diterangi cahaya lilin temaram.

 

“Besok aku akan pergi ke supermarket di daerah utara,” kata Ayah sambil mengedipkan sebelah mata padaku. “Siapa tahu, aku akan menemukan cokelat kesukaanmu.”

 

Sejenak Ayah menoleh pada Ibu. Tapi Ibu bergeming. Sedari tadi, belum ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibirnya. Wajahnya selalu murung. Sepertinya Ayah mengira sikap itu dikarenakan ia hanya berhasil membawa sekaleng jagung dan kacang polong untuk makan malam. Ayah menghela nafas. Ia memilih diam. Ia memilih menghindari pertengkaran yang tidak perlu.

 

Tapi aku tidak yakin sikap Ibu itu hanya dikarenakan oleh makanan. Ada hal lain. Mungkin yang berkaitan dengan lampu senter. Sebenarnya aku ingin membicarakan tentang hal itu dengan Ayah. Tapi dipikir-pikir lagi, aku tidak mempunyai bukti atau petunjuk apapun. Aku takut mereka malah akan bertengkar dan salah paham. Lagipula ayah terlihat sangat lelah.

 

Ya, mungkin lain kali.

 

Pagi harinya, seusai berpamitan denganku, Ayah pergi seperti biasanya. Tak lama setelah itu, Ibu kembali ke pojok dekat jendela dan mulai memainkan lampu senternya. Tapi kali ini tidak lama. Lalu ia jalan bergegas menuju kamarku. Lekas-lekas kuhentikan kegiatan mengintipku, melompat ke atas tempat tidur, bersembunyi di bawah selimut, memeluk Teddy, dan berpura-pura tidur.

 

“Bangunlah,” Ibu menegurku nyaring. “Kita akan segera pergi.”

 

Aku terkejut dan seketika melonjak bangun. “Pergi ke mana?”

 

“Pergi dari tempat ini.” Ibu sama sekali tidak menoleh. Ia membuka lemari dan memasukkan baju-bajuku ke dalam sebuah tas jinjing dengan terburu-buru. “Pergi dari kota ini.”

 

“Pergi?” Aku mulai panik. “Tapi bagaimana dengan Ayah?”

 

“Ia akan menyusul nanti,” Ibu menjawab singkat.

 

“Tapi-tapi….Bukankah kata Ayah, kita harus selalu melakukan segalanya bersama?”

 

“Sudah tidak ada waktu lagi,” Ibu mendesah. “Paman Ben akan segera datang menjemput.”

 

Dadaku mencelos. Nama itu bukanlah nama baru bagiku. Paman Ben adalah teman dekat Ibu semasa sekolah dan mereka berdua sama-sama pernah bergabung dalam kesatuan pecinta alam. Kini aku mengerti maksud dari permainan lampu senter itu. Sandi Morse, begitu Ibu pernah menyebutnya. Paman Ben pernah datang bertamu beberapa kali. Orangnya tinggi besar, sikapnya sombong, suaranya kasar, rambutnya panjang gimbal, dan tubuhnya penuh tato tengkorak menyeramkan. Aku tidak begitu menyukainya. Dan aku sering menemukan nama lelaki ini berada di deretan teratas pada daftar panggilan masuk telepon genggam Ibu

 

“Kita tidak boleh meninggalkan Ayah. Tidak boleh.”

 

Ibu menghampiri dan membungkuk tepat di hadapan wajahku. Amarah, sendu, dan bimbang saling bercampur aduk pada air mukanya. “Aku juga tidak ingin melakukannya seperti ini. Tapi ayahmu tidak pernah mau mengerti. Ia selalu takut untuk meninggalkan tempat ini. Ia tidak berani mengambil resiko,” tuturnya. “Keluar, itulah jalan terbaik untuk tetap bertahan hidup pada saat ini. Bukannya bertahan di sini dan terus mengharapkan sesuatu yang tidak jelas.”

 

Aku mulai menangis terisak. Aku tidak bisa membayangkan melakukan semua ini tanpa Ayah.

 

“Ayahmu adalah seorang yang kuat,” lanjut Ibu. “Aku sudah meninggalkan sepucuk surat untuknya. Kita akan bertemu lagi di titik pertemuan sesuai yang tertera pada surat itu.”

 

Ibu terdiam sejenak. Kedua matanya memerah. Ia tampak berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak menitik. “Aku percaya dan kau juga harus percaya, meski seorang diri, ia pasti akan baik-baik saja,” ucapnya parau dengan bibir yang gemetar. “Kita akan berkumpul lagi. Itu pasti. Dan setelah itu, tidak ada lagi yang perlu dicemaskan. Kehidupan akan lebih baik dan tenang.”

 

“Tidak! Aku tidak akan meninggalkan rumah ini!” aku menjerit. “Tidak tanpa Ayah!”

 

Bersamaan dengan itu, pintu diketuk keras. Ibu lekas menggeser lemari dan rak-rak lain yang menghalangi pintu. Ketika pintu terbuka, kedua mataku terbelakak. Dadaku sesak. Hal pertama yang dilakukan lelaki gimbal itu saat melangkah masuk adalah merangkul Ibu tepat di pinggang.

 

“Jangan, Ben,” Ibu mengalihkan wajahnya dan melangkah mundur.

 

Paman Ben terbahak. Ia menoleh padaku sambil menyeringai. “Maaf, aku lupa. Aku terlalu terbawa suasana.”

 

Rasanya ingin berteriak sekuat-kuatnya tetapi entah kenapa suaraku tertahan di leher.

 

“Lain waktu saja, ya?” ucap Ben sambil mengedipkan sebelah mata pada Ibu. “Sekarang kita harus segera berangkat sebelum mayat-mayat busuk itu memenuhi jalan.”

 

Ibu tidak menanggapi. Ia hanya mengangguk perlahan sambil menepuk-nepuk bahuku.

 

“Dan kau, tikus kecil, berhentilah menatapku seperti itu,” hardik Paman Ben. “Aku ini penyelamatmu. Jadi jangan bertingkah macam-macam. Jangan menangis. Jangan merengek-rengek. Dan terutama, jangan kausebut-sebut nama ayahmu si pengecut plin-plan itu.”

 

“Ayah tidak pengecut!” protesku sengit. “Ia juga tidak plin-plan!”

 

Paman Ben terbahak lagi. Sambil menatapku sinis, ia berkata, “Anak yang baik memang selalu membela ayahnya. Tapi asal kau tahu, aku bukan ayahmu. Kursi di trukku sudah penuh sesak. Mudah saja bagiku untuk melemparmu keluar.”

 

“Sudahlah, Ben,” Ibu melerai. “Ia masih kecil. Hal ini tidaklah mudah baginya.”

 

Selama beberapa saat, tatapan mata kami masih saling beradu. “Huh, ayo, ikutlah denganku,” dengus Paman Ben. “Lewat sini.”

 

Sedari tadi kukepalkan kedua tanganku erat-erat. Sementara tubuhku mulai menggigil lagi. Hasrat aneh itu muncul lagi. Hasrat buas. Seolah-olah aku mencabik dada si penjahat gimbal itu dan menoreh keluar isi dadanya. Namun kilasan angan itu teralihkan oleh sesuatu yang mengalir hangat dari genggaman tanganku. Darah. Sebegitu eratkah aku mengepal tanganku sendiri? Namun saat melihat rona merah itu, bulu kudukku terasa mendesir. Tiba-tiba saja muncul suatu dorongan untuk mendekatkannya ke bibir.

 

Lidahku hanya menjilat sebercak. Tapi rasanya benar-benar tidak terlukiskan.

 

Namun tarikan Ibu pada pergelangan tanganku membuyarkan segalanya. Saat ini, kami sedang berlari menyusuri koridor dan kemudian menuruni tangga apartemen. Selantai demi selantai. Hingga akhirnya, saat di pertengahan anak tangga menuju lantai dasar, langkah kami terhenti.

 

“Brengsek,” gerutu Paman Ben sambil menyiagakan pistolnya. “Tadi sewaktu datang makhluk-makhluk terkutuk itu tidak ada.”

 

Aku melongokkan kepala melalui celah tangga. Kutemukan sejumlah orang terinfeksi dengan tubuh terkoyak berkeliaran di sekitar pintu keluar lantai dasar. Mendadak suatu ide melintas. Kedua tanganku memang kecil. Tubuhku kurus dan lemah. Aku bukanlah apa-apa dibandingkan lelaki tinggi kekar di depanku ini. Tapi mungkin orang-orang di bawah sana bisa membantuku. Sejenak aku menoleh pada Teddy. Sepasang mata hitam kancing itu balik menatapku polos.

 

Maafkan aku, Teddy.

 

“Ah?!” Aku memekik keras, berpura-pura terkejut saat melihat kumpulan orang terinfeksi itu.

 

“Teddy!” Aku memekik lagi saat Teddy melayang jatuh.

 

Berhasil. Serentak orang-orang terinfeksi di bawah sana mendongakkan kepala ke arahku.

 

“Dasar anak sialan!” Paman Ben membentak. “Apa yang kaulakukan?!”

 

“Ben, hentikan!” Ibu balik menghardik. Sepertinya Ibu bermaksud menahan tamparan Paman Ben. Tapi tamparan itu terlanjur mendarat telak di pipiku.

 

Aku jatuh terjengkang. Pipiku berdenyut ngilu. Kedua mataku berkunang-kunang. Telingaku mendenging. Tidak jelas apa yang sedang diributkan Ibu dan Paman Ben. Sejujurnya aku takut. Benar-benar takut. Seumur hidup tidak pernah kurasakan pukulan sekeras ini. Tapi kemudian aku merasakan sesuatu amis memnuhi rongga mulutku.

 

Darah.

 

Seketika tubuhku mengigil. Hasrat itu menyeruak lagi. Berbagai kilasan segera silih berganti mengisi kepala. Kilasan-kilasan buas yang tidak pantas. Bengis. Sadis. Iblis.

 

Tidak akan pernah kulupakan janjiku pada Ayah. Bahwa aku akan tabah. Bahwa aku akan kuat. Maka kukumpulkan segenap keberanian. Kubiarkan hasrat itu meluap dan menguasaiku. Jikalau menjadi iblis adalah satu-satunya cara untuk berteguh pada janji, maka biarlah itu yang terjadi.

 

Maka tidak kutakutkan lagi bentakan kasarnya. Tidak lagi kutakutkan pukulan kerasnya. Tidak lagi kutakutkan pistol besarnya. Tidak ada lagi yang kutakutkan.

 

Kulontarkan diri sekencang-kencangnya. Kau tidak akan merayu Ibu lagi!

 

Kurangkul dan kudorong sekuat-kuatnya. Kau tidak akan menghina Ayah lagi!

 

Kugigit dan kucabik sebuas-buasnya. Kau tidak akan mencerai-beraikan kami lagi!

 

TIDAK AKAN LAGI!!!

 

Selama beberapa saat, kurasakan tubuhku melayang ringan sebelum jatuh berguling-guling menuruni anak tangga. Berulang kali kepalaku terbentur. Tapi herannya, aku sama sekali tidak merasakan sakit atau apapun. Sepertinya hasrat buas itu telah sepenuhnya mengambil alih kendali atas tubuhku.

 

Sayup-sayup kudengar jeritan-jeritan histeris saling bersahutan. Samar-samar kulihat siluet-siluet menapak tertatih-tatih.

 

Bala bantuan telah datang.

 

Aku sempat berdoa semoga Tuhan melindungi Ibu dan Ayah. Aku juga berdoa semoga Tuhan memaafkan segala kesalahanku.

 

Setelah itu, semuanya gelap.

 

***

 

Aku bermimpi lagi. Tapi kali ini mimpinya agak berbeda. Masih tentang dunia asing yang sunyi. Tapi kini langitnya tidak lagi gelap. Cahaya matahari berangsur-angsur mengurai kekelaman menjadi terang benderang. Tubuhku terasa ringan. Sama sekali tidak terasa apapun. Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih hidup atau mati. Dan sejujurnya aku juga tidak begitu yakin apakah ini mimpi atau kenyataan.

 

Sesaat kemudian, aku mendengar suara lazim yang memanggil-manggil. Ayah! Betapa bahagianya aku. Aku tidak lagi seorang diri.

 

Tapi reaksi Ayah tidak wajar. Raut wajahnya sangat tegang sementara kedua tangannya mengangkat kapak. Maka aku segera berjalan mendekat. Akan kujelaskan segalanya.

 

Sekonyong-konyong sikap Ayah melunak. Kapak itu diturunkannya. Tubuhnya jatuh bersimpuh. Kedua matanya berkaca-kaca.

 

Ayah, mengapa kau malah menangis sedih?

 

Ini aku, malaikat kecilmu. Aku tidak pernah berubah. Aku selalu menyayangimu.

 

Perlahan senyum itu terulas. Kedua tangan kokoh dan bahu bidang itu terbentang lebar. Bahagia, aku langsung melompat dan menelusup masuk. Kudekatkan bibirku ke lehernya.

 

Enyahlah segala beban berat itu. Tidak akan ada lagi sakit, lelah, lapar, atau apapun. Tidak ada lagi yang perlu dicemaskan. Dan setelah menemukan Ibu dan Teddy, maka segalanya akan sempurna.

 

Bergandengan tangan, kita akan kembali ke masa-masa liburan di pondok putih kakek musim panas lalu. Saat mentari cerah menyinari padang ilalang. Aku tertawa memangku Teddy di atas papan ayunan. Di belakangku, Ibu mendorong riang sementara rambut hitam dan rok panjangnya melambai-lambai diterpa angin semilir. Dan Ayah, kau berdiri tidak jauh dariku dan memperhatikan segalanya tanpa pernah putus tersenyum.

 

Tidak terpisahkan. Bersama selamanya.

 

Tidak akan pernah berhenti aku bersyukur atas segala kebaikan dan penyertaan Tuhan.

 

Dan juga atas kiamat-Nya yang begitu indah.

 

***

 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
red_rackham at Kiamat Terindah (6 years 23 weeks ago)
50

Wow~! Cerita kolab~! :D
.
*cough*
.
Ini menarik, tapi yah...memang cara si anak mengungkapkan pikiran dan perasaannya rasanya terlalu dewasa untuk anak SD.
.
Konflik moralnya bagus, serius, dan entah kenapa saia suka sikap dan perasaan si anak waktu pertama kali jilat darah...kesannya...innocent outside but devilish inside *evil grin*
.
Anyway...ini cerita bagus dan sad endingnya menyentuh banget.

Writer Grande_Samael
Grande_Samael at Kiamat Terindah (6 years 23 weeks ago)
100

Prahara keluarga di antara wabah zombie yang tengah merajalela.
.
Idenya asik.
.
Hanya saja senada dengan komen di bawah, anak kecilnya terlalu dewasa. Kurang terasa kebingungan seorang anak yang berada di dunia yang dipenuhi zombie juga menghadapi ibu yang hendak berselingkuh.
.
Fuh, bye the waw, Keep zombie!

Writer nagabenang
nagabenang at Kiamat Terindah (6 years 23 weeks ago)
80

hmmm, ini cerpen kolaborasi dua orang ya?
.
secara konsep cerita, ini cerpen zombie paling menarik yang kubaca sejauh ini. kudos untuk pemilihan sudut pandang protagonisnya (y).
.
namun sayang ... narasinya bikin ak lumayan terganggu. beberapa kali dalam cerita aku terpaksa berhenti sebentar untuk berpikir: apa ada anak kecil berumur 9 tahun (yang berarti kurang lebih 4 SD) yang jalan pikirannya (atau cara berbicaranya) seperti ini?
well, mungkin memang ada, cuma jarang banget, sehingga ak enggak begitu bisa connect dengan cara anak ini berpikir dan bercerita ..
.
saran: ganti cerita ini ke POV orang ketiga. mungkin dengan itu, penulis bisa menambahkan porsi deskripsi yang berisi tindak-tanduk protagonisnya, dan mengurangi isi pikiran si protagonis yang sejauh kudapat di cerpen ini, lumayan beresiko kena OOCA (Out Of Character's Age).
.
tapi selain daripada itu ... cerpen ini memiliki tokoh yang paling kusukai dari cerita-cerita zombie lain yang sudah kubaca sejauh ini.
keep on writing! (y)

Writer anggra_t
anggra_t at Kiamat Terindah (6 years 23 weeks ago)
100

Kata kunci saia tahu ini sisi lain dari cerpennya Shao An di FF11 kemarin adalah nama "Shao An", dan keluarga yang suami-istrinya ribut.
.
Setting oke. Gambaran dalam rumah itu lebih mudah terbayang.
Narasinya juga oke. Khasnya Pak Guru Heinz lah. Cuma yaaa... itu, cara bicara si anak itu kenapa kayaknya kaya anak yang udah ga main boneka lagi? Tau apa itu "kiamat", bisa tahu kata "hasrat menyeruak?" errr..... o__o;;;
.
Mengenai karakter. Daripada si Ben, aku lebih ga suka si Mama.
Anak dianiaya di depan matanya kok malah dibiarin aja. (ngomong kasar depan anak kecil juga masuk penganiayaan verbal kan) Makanya, aku merasa karakter si Mama ini jadi kurang nyata. Sekalipun dalam keadaan panik mau keluar cepat-cepat, kesannya dia ga peduli dengan anaknya itu. Dan ini kontroversial dengan tindakan dia ngajak si anak yang menandakan dia peduli.
.
Sip deh :)

Writer panglimaub
panglimaub at Kiamat Terindah (6 years 25 weeks ago)
80

Ini keren, kecuali pada akhirnya. Endingnya anaknya mati ya? :/

Writer heinz
heinz at Kiamat Terindah (6 years 25 weeks ago)

Jadi jombi

Writer ryandachna
ryandachna at Kiamat Terindah (6 years 25 weeks ago)
70

wew, kau berhasil membuat aku membenci dua orang yang sama sekali aku ga kenal. memanfaatkan sebuah bencana sebagai kesempatan untuk melepaskan diri dari sebuah ikatan itu keangkuhan yang paling, for lack of a better term, hiji (hina dan keji. maksa ya?)!

yang aku justru ngerasa ga asik tu karakter anak sembilan tahunnya. aku merasa karakternya belum mantap secara konsep. lebih "masuk" kalau dia sudah remaja. ga ada ortu yang mau cerita ke anaknya tentang the great mortality. ortu akan cenderung mengalihkan perhatian si anak (yang umurnya masi segitu) dari keburukan yang terjadi daripada membandingkannya dengan kejadian lain, so she wouldn't know about that. dan satu-satunya hal innocent tentang si anak adalah kenyataan bahwa dia ngomong sama teddy-nya.

all in all it was a good story.

Writer heinz
heinz at Kiamat Terindah (6 years 25 weeks ago)

Thx for comment.

Hm, benernya sih bajingan di sini tuh cuma si Ben. Mamanya sih udah terlalu stres pengen keluar, so dia menghalalkan segala cara. Toh benernya dia masih memperhatikan suaminya juga.

Kalau tentang si anak, ini emang dilema sulit buatku. Narasinya agak berat karena awalnya emang diset untuk anak 12 tahun, awal remaja. Tapi kupikir-pikir lagi anak 12 taun pastinya udah gak polos lagi, apalagi di era modern. Jadilah kuambil umur 9-10 yang kutimbang paling pas buat anak yang masih polos tapi udah agak bisa mikir.

Lagipula anakku yang baru berumur 5 tahun udah sering ngobrol tentang surga dan Tuhan karena diajarin di sekola. Udah sering ngobrolin bencana pula lagi. Jadi yah semoga 9 tahun udah lebih mudeng gitu. Haha, ngeles mode on.

But in some way, you're right. Memang ada peralihan konsep di sini. Kalo mo dipolosin, semua narasi harus diganti. Itu bakal melelahkan sementara waktu menipis. Sementara kalo mo dijadiin remaja, ending akhirnya gak masuk. Dan karena alasan subjektif, aku gak rela endingnya diganti. Jadilah kuambil jalan tengah. Haha.

Again thx for comment.

makkie at Kiamat Terindah (6 years 25 weeks ago)
100

braaaaaiiiiiiin....