Akhir Dari Sebuah Perjalanan

 

Siang hari ini mentari bersinar cukup terik, tak ada sedikit pun awan di langit. Angin sepoi-sepoi bertiup membelai rambutku, membawa serta aroma bangkai manusia. Aroma yang sangat sesuai dengan pemandangan di hadapanku, bangkai kendaraan dan manusia berserakan di mana-mana, terkoyak dan terbengkalai. Ribuat lalat pun berdansa riang di antara mereka yang telah berhenti bernapas, seakan sedang bersyukuri akan limpahan makanan yang tiada habisnya.

 

Beberapa bulan yang lalu aku bahkan tak akan pernah memimpikan skenario seperti ini dapat terjadi di dunia nyata, sekarang pun aku masih agak kesulitan menerima kenyataannya. Bagaimana mungkin tidak? Mayat hidup ada di mana-mana, menyebar cepat seperti gosip perselingkuhan anggota dewan, dan membuat hidupku benar-benar berubah seperti karakter game Resident Evil. Hanya saja negara terkutuk ini tidak memperjualbelikan senjata api dengan bebas, dan tentu saja ini mengakibatkanku harus bertahan hidup hanya dengan perlengkapan yang benar-benar seadanya.

 

Pada mulanya aku hanya memakai batu bata sebagai senjataku, kugunakan dengan cara menghantamkan sekeras mungkin ke kepala mereka. Setelah itu aku mulai menggunakan pipa besi dan balok kayu, sampai saat aku menemukan sebilah pedang katana dari sebuah rumah yang kelihatannya milik seorang kolektor senjata tajam, dan kini aku terus menggunakan pedang itu sebagai senjataku.

 

Oh, dan tidak seperti dalam film-film samurai yang dalam satu tebasan dapat memenggal lawannya, pada kenyataannya, berat pedang katana memperlambat ayunan dan memangkas tenaga sabetanku. Dua tebasan, dalam dua tebasan biasanya aku baru dapat memenggal kepala mereka. Itulah mengapa aku lebih memutuskan untuk menghindari mereka. Karena kalau jumlah mereka terlalu banyak, itu sama saja aku bunuh diri.

 

Selama beberapa bulan terakhir, aku telah banyak melihat orang-orang berubah menjadi salah satu dari mereka. Awalnya memang sulit untuk menghabisi mayat-mayat hidup tersebut, bukan karena mereka jago berkelahi atau semacamnya, tetapi karena aku mengenal sebagian besar dari mereka sebelumnya. Sekarang aku tak mengalami konflik moral lagi saat menghabisi mereka, toh mereka memang sudah seharusnya mati, dan aku hanya memastikan mereka tetap mati seperti sebelumnya.

 

Untuk saat ini hanya satu tujuanku, yaitu dapat menemukan orang lain yang berhasil bertahan hidup di luar sana, dan mengumpulkan mereka. Walaupun sama sekali tidak ada jaminan, tetapi siapa tahu saja di kota ini masih ada harapan. Aku memang tak tahu apa-apa soal apapun yang terjadi di kota ini maupun kota-kota lainnya, karena semua jalur komunikasi terputus sejak mimpi buruk ini dimulai. Radio, televisi, dan bahkan internet pun telah terputus.

 

Kini kembali fokus pada apa yang sedang kulakukan sebelumnya, kuatur napasku lalu mengendap-endap di dekat sebuah toserba yang hancur. Dari sisi gang tempatku berjongkok, terlihat berbagai macam benda berserakan di depan toserba itu. Mulai dari makanan, mainan, sampai tumpukan bangkai manusia. Dari sini agak sulit membedakan antara mana yang benar-benar bangkai, dan mana yang merupakan mayat hidup. Karena mayat hidup yang sudah lebih dari 2 bulan biasanya memang jarang bergerak, dan hanya akan mengejar mangsa yang berada di dekat mereka.

 

Kuambil sebuah batu kerikil, lalu kulemparkan ke arah sebuah tong besi. Itu adalah satu-satunya cara untuk mengetahui bila di antara mayat-mayat tersebut terdapat yang masih aktif, karena pendengaran adalah satu-satunya indra mereka yang masih berfungsi. Namun cara ini memiliki kelemahan fatal, kini semua mayat hidup dalam radius sekitar 200 meter akan bergerak ke tempat ini.

 

Tidak ada yang bergerak, waktuku hanya ada sekitar satu atau dua menit sebelum mayat hidup terdekat mendeteksi keberadaanku. Aku pun segera berlari menuju toserba itu, mengacak-acak bagian makanan kaleng, mencari beberapa yang masih utuh.  Ya, selain mencari orang-orang yang berhasil selamat dari bencana ini, aku juga harus mengumpulkan bahan makanan seadanya.

 

Setelahnya dengan tas punggung yang penuh dengan makanan kaleng dan minuman, aku kembali berlari menjauh, lalu mengendap-endap lagi menghindari beberapa mayat hidup yang sedang bergerak menuju toserba barusan. Aku berhasil menghindari konflik tidak perlu dengan mereka, setidaknya untuk saat ini.

 

Untuk mengintai sebuah toserba barusan saja memakan waktu beberapa jam, dan karena terlalu berbahaya untuk melanjutkan perjalanan, aku harus mencari tempat untuk bermalam. Untung saja setelah dua jam berjalan aku menemukan sebuah gedung kosong. Kusebut kosong karena aku sama sekali tak mencium keberadaan mereka di sini, dan percayalah, setiap manusia yang masih hidup akan segera mengetahui keberadaan mereka dari baunya.

 

Seperti seekor anjing pelacak, aku mengendus-endus di setiap ruangan yang kulewati di gedung itu. Bukan tidak mungkin kalau ventilasi gedung dapat membuat bau mereka jadi tidak tersebar ke setiap ruangan, dan aku tidak ingin mengambil risiko yang tidak perlu. Sesekali sambil beristirahat, aku meneguk air mineral dari tasku. Lantai demi lantai kusisir, sampai akhirnya aku tiba di lantai terakhir. Sekilas dari salah satu ruangan, tercium bau yang sangat familier, bau yang selalu kuhindari.

 

Bau bangkai…

 

Aku tak menyukai ini. Aku benar-benar tak menyukai ini. Seharusnya aku langsung saja pergi meninggalkan gedung sialan ini, namun entah mengapa rasa penasaranku kali ini lebih kuat dari logikaku. Terus saja aku berjalan melalui koridor gedung yang sepertinya bekas perkantoran, terus bergerak dan memeriksa tiap ruangan dengan seksama.

 

Sayup-sayup dapat kudengar suara geraman dari ruangan terakhir di lantai ini, suara salah satu dari mereka. Ruangan dengan dua pintu yang kelihatannya cukup luas, sepertinya itu adalah ruang pertemuan atau rapat staff kantor.

 

Perasaanku luar biasa tidak tenang, tetapi bukan karena aku akan bertemu salah satu dari mereka. Pertama, selain suara geraman, sesekali aku juga mendengar suara isak tangis. Memang sih tidak terlalu keras dan frekuensinya juga tidak terlalu sering, hingga tidak akan sampai memancing mereka lebih banyak lagi. Dan kedua, bau busuk ini terlalu menyengat untuk hanya satu mayat hidup saja, ada kemungkinan banyak mayat hidup pasif yang sedang menunggu mangsa di ruangan sekitar sini.

 

Baiklah, sekarang waktunya menimbang situasiku saat ini. Apa yang harus kulakukan, dan apa dampak terburuk dari tindakanku selanjutnya?

 

Anggap saja kalau masih banyak orang-orang yang selamat di luar sana, dan menunggu ada yang datang menyelamatkan mereka. Apakah layak aku mempertaruhkan diriku untuk menyelamatkan satu orang ini? Bukankah lebih baik kalau aku menyelamatkan orang lain yang risikonya lebih kecil?

 

Baiklah, sudah kuputuskan!

 

Dengan langkah sunyi kudekati ruangan tersebut, lalu perlahan-lahan kubuka pintunya. Benar dugaanku, ada satu mayat hidup sedang memutari sebuah meja lonjong di tengah ruangan. Ia berjalan terseok-seok mencoba mencari sumber suara isak tangis itu, beberapa kali ia membentur meja mencoba berjalan ke tengah. Dari arah pintu masuk, aku berjongkok dan mencoba melihat ke bagian bawah meja lonjong tersebut.

 

Nampak seorang gadis muda meringkuk di sana, ia memakai kemeja putih kecokelatan dan rok hitam yang sangat dekil, rambut hitamnya yang panjang pun sudah terlihat nyaris gimbal. Entah sudah berapa lama ia seorang diri mencoba bertahan hidup di kota ini, penampilannya benar-benar lusuh. Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas, karena wajahnya terbenam di antara kedua telapak tangan dan ia terlihat seperti sedang menahan isak tangisnya.

 

Sialan!

 

Melalui pintu beberapa ruangan di sekitar yang terbuka, aku melihat cukup banyak mayat bergelimpangan. Entah mereka itu benar-benar mayat atau mayat hidup yang sedang pasif, dan aku tak ingin mencari tahu atau ingin tahu. Satu hal yang aku ingin tahu, bagaimana gadis itu bisa berada di sini dan tahu-tahu saja sedang berusaha menjadi santapan salah satu dari mereka. Salah satu tindakan saja di sini, maka aku akan segera mengetahui seberapa banyak mayat hidup yang ada di dalam gedung terkutuk ini.

 

Baiklah, persetan dengan semua itu!

 

Kuambil beberapa langkah mendekati zombie di tengah ruangan tersebut, lalu dengan satu gerakan cepat kutebaskan pedangku ke kepalanya. Bukannya terpotong, bilah pedang yang sudah semakin tumpul itu malah menghancurkan kepalanya, seakan yang baru saja kuhantamkan adalah sebuah pipa besi. Sialnya lagi, tubuh mayat hidup itu jatuh tergeletak di dekat meja, dan tepat menghadap ke gadis itu.

 

Ah, tentu saja gadis itu berteriak, gadis mana yang tidak?

 

***

 

“Jangan berhenti, terus lari!” hardikku kepada gadis yang terseok-seok di belakangku. Sambil terus menarik lengannya, kusabet-sabetkan pedang untuk membuka jalan di hadapanku. Tak peduli bagian mana dari mereka yang terkena sabetan, dan tak peduli bila banyak dari mereka yang kembali bangkit untuk mengejar kami.

 

Sambil terus berlari menuju tangga, aku hanya dapat berharap tidak ada zombie yang menunggu kami di lantai bawah. Tetapi sepertinya aku terlalu berharap, karena tangga turun bukan jalan keluar yang bagus lagi. Di sana tingkat kepadatannya sudah melebihi konser boyband.

 

Sementara itu kerumunan mayat hidup di belakang sudah menyusul kami, dengan tubuh yang sudah tidak utuh dan nampak tercabik, mereka terus mencoba menggapai-gapai. Sambil mendorong gadis itu agar terus naik menuju atap gedung, aku sebisanya mencoba menghalau mereka yang sudah mendekat. Namun baru beberapa anak tangga kulalui, dapat kurasakan ada yang mencengkeram lalu menarikku kembali turun.

 

“Naik, terus naik sampai ke atap!” teriakku kepada gadis di depanku, seraya mencoba mempertahankan diriku dari serangan mayat hidup yang mulai mengerubungiku.

 

Walau agak lama, akhirnya aku berhasil lolos dari mereka. Toh mereka sangat lamban, dan hanya bergerak berdasarkan insting. Sesegera mungkin aku pun menyusul gadis barusan menuju ke bagian atap gedung. Rupanya kami juga agak beruntung pintu menuju atap tidak terkunci, karena akan sangat mustahil untuk dapat membuka paksa pintu baja setebal sepuluh centimeter.

 

Hal kedua yang membuatku merasa sangat beruntung adalah, pintu baja tersebut dibuka ke arah bagian dalam gedung. Itu berarti saat pintu tertutup para mayat hidup itu tak akan dapat melaluinya hanya dengan mendorong. Setidaknya kami akan tenang sampai pagi tiba, dan memikirkan tindakan yang harus diambil esok hari.

 

Saat ini kegelapan sudah mulai menyelimuti kota, dan aku mulai mengutuki diriku sendiri yang lupa membawa satupun alat penerangan. Kegelapan ditambah dengan kencangnya tiupan angin di atap gedung bertingkat lima ini membuatku semakin tidak tenang, mungkin karena aku memang tak pernah terbiasa dengan kegelapan. Ditambah lagi kini bukan hanya diriku yang harus kukhawatirkan, tetapi juga keadaan gadis yang sebelumnya kuselamatkan.

 

Dari dalam tas punggung yang kubawa kukeluarkan sekaleng sarden dan sebuah pembuka kaleng, lalu ditambah sebotol air mineral kuberikan semuanya kepadanya. Namun gadis itu melirik pun tidak, padahal aku yakin benar kalau gadis benar-benar membutuhkannya. Tetap diam lalu beringsut menjauh, hanya itu reaksinya kepada niat baikku barusan.

 

Ketika sedang menyalakan sebatang rokok, barulah aku mengerti mengapa gadis itu seakan selalu ketakutan di dekatku. Lengan kiriku sedikit terkoyak, sepertinya pertarunganku dengan para mayat hidup sebelumnya telah menimbulkan luka ini. Mau bagaimana lagi, aku memang tak merasakannya. Tetapi bukan berarti aku juga akan membiarkan luka tersebut, lalu dengan kain dan perban seadanya yang kubawa, kubalut lukaku agar tak lebih banyak darah terbuang.

 

“Jangan khawatir,” kataku seraya menelan beberapa pil yang kuambil dari saku kemejaku. “Aku tak akan berubah menjadi salah satu dari mereka.”

 

Gadis itu adalah satu-satunya orang yang berhasil kutemui setelah beberapa hari menyisir hampir seperdelapan bagian kota ini, dan aku benar-benar tak ingin menakutinya hingga ia menjadikan bunuh diri sebagai salah satu pilihan jalan keluarnya.

 

Kulemparkan bilah pedang yang sejak tadi kupegang. “Kalau memang aku akan berubah menjadi salah satu dari mereka, pastikan kau hantamkan benda itu dengan keras di sini,” saranku seraya menunjuk-nunjuk kepalaku, gadis itu pun langsung menggenggam erat senjata tersebut.

 

“Siapa namamu?” tanyaku berusaha memecah keheningan di antara kami.

 

“Dina.”
 

Hanya satu kata itu yang kudapatkan. Setelahnya gadis itu kembali tak bersuara, namun dalam sunyinya ia terus mengawasiku dengan seksama. Pada akhirnya tak satupun di antara kami yang bisa beristirahat dengan tenang malam itu, dan tak terasa cahaya di timur cakrawala pun kembali untuk menghangatkan pagi.

 

Di saat aku beringsut menuju tas punggung milikku di dekatnya, Dina menjadi waspada lalu mengarahkan katana yang dipegangnya kepadaku. Sialnya lagi reflekku menepis bilah pedang tersebut, putuslah jari kelingking kiriku terkena bilah pedang tersebut.

 

“Jangan takut, aku hanya ingin mengambil benda ini,” kataku seraya menunjukkan sebuah pistol suar, lalu dengan sisa perban dan kain yang kumiliki, kubalut luka baru tersebut.

 

Dapat kulihat kalau gadis itu semakin ketakutan dengan reaksiku barusan yang seakan tak peduli, dan aku pun dapah memahami alasan di balik ketakutannya tersebut. Manusia normal pasti akan teriak saat ada anggota tubuhnya yang terpotong seperti barusan, tetapi bukan aku, karena aku sudah bukan sepenuhnya manusia lagi.

 

Kutembakkan suar tersebut ke langit fajar yang masih terlihat kebiruan, lalu sinar merahnya pun mulai berpendar menodai pagi. Sebuah tanda bahwa aku telah menemukan seseorang yang masih hidup di kota ini.

 

“Sebentar lagi akan ada helikopter SAR yang menjemputmu, bawa makanan yang telah kukumpulkan ini, lalu pergilah bersama mereka,” perintahku sambil menyerahkan sebagian isi tas punggungku kepada Dina.

 

“Lalu apa yang akan Om lakukan?”

 

“Apa yang akan aku lakukan?” ulangku lagi akan pertanyaan gadis itu. “Sama seperti sebelumnya, mengumpulkan makanan dan mencari orang-orang sepertimu yang masih hidup. Yah, setidaknya sampai waktunya aku mati.”

 

Saat ini PBB sedang berusaha mengumpulkan semua makhluk hidup yang tersisa di muka bumi, mengumpulkan mereka di satu tempat yang dinamakan “Bahtera Nuh” sampai bencana ini reda dengan sendirinya. Mereka juga sebenarnya sudah menciptakan antivirus satu bulan setelah bencana ini dimulai, namun obat tersebut memiliki efek samping pada orang yang terkena virus tersebut sepertiku.

 

Mengenai diriku sendiri, aku pun masih agak kurang mengerti. Beberapa hal yang kutahu, selain membangkitkan mayat, pada dasarnya virus tersebut juga akan membunuh manusia yang masih hidup. Jadi tiap manusia yang terinfeksi, pada akhirnya akan dibunuh oleh virus tersebut sebelum dibangkitkan kembali, namun efek samping dari obat yang diciptakan para dokter mencegahnya. Akibatnya virus tersebut hanya mampu melumpuhkan saraf rasa sakit pada tubuh manusia yang terkena, mereka menyebutnya sebagai setengah zombie.

 

Itulah aku, manusia yang tak lagi dapat merasakan sakit. Namun walau tak dapat lagi merasakan sakit, aku masih dapat mati karena luka-luka di tubuhku ini.

 

Mati, akhir dari perjalanan yang menantiku. Entah apakah aku masih bisa mati selagi aku masih manusia?

 

Sayup-sayup dapat kudengar deru mesin heli yang akan menjemput Dina. Sementara untukku, aku masih harus menjalankan tugasku sampai akhir dari hidupku, dan membuat hidupku sedikit berguna untuk kemanusiaan. Akan kusisir kembali bagian demi bagian kota ini, sampai tak ada lagi manusia yang kutemukan, atau sampai hilang napasku.

 

Saat helikopter SAR berhasil mengevakuasi Dina dengan selamat, aku pun menuruni gedung terkutuk itu melalui tangga darurat di sisinya. Dengan langkah yang agak terhuyung, kulanjutkan lagi perjalananku menyisir kota ini.

 

Ah, sepertinya akhir waktuku sudah tak lama lagi…

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
red_rackham at Akhir Dari Sebuah Perjalanan (6 years 22 weeks ago)
50

Hmm...entah kenapa bagi saia ini rasanya agak datar. Meskipun alurnya mengalir rapih, trus karakterisasinya ga
kaku2 amat en plotnya sebenarnya menarik, tapi kok rasanya tidak ada klimaks yang bener2 menggigit.
.
AH~! Baru inget,
hubungan antar karakter dalam cerpen ini tidak tergali! Ini kayaknya yang bikin cerpen ini terasa hambar, kurang ada konflik antara si MC dan Dina. Kalau saja ada konflik moral yang lebih dalam, pastinya ini jadi asik deh :D

Penulis Grande_Samael
Grande_Samael at Akhir Dari Sebuah Perjalanan (6 years 22 weeks ago)
100

Wuah, awalnya aku bingung si om ini ngapain sih keliling-keliling ga jelas gitu, tapi mendekati akhir tiba-tiba saya merasa 'si om keren banget'!!! Berjuang sendirian mencari survivor di kota yang penuh zombie.
.
Hum, hum...
.
Nice zombie!

Penulis nagabenang
nagabenang at Akhir Dari Sebuah Perjalanan (6 years 22 weeks ago)
90

untuk sebuah cerpen deadline, kerapiannya pantas dapat pujian tersendiri. *tepuk tangan*
.
saran tambahan ak cuma ini: keadaan si Om kurang mengenaskan untuk di akhir cerita, dia tahu-tahu mengatakan akhir waktunya tidak lama lagi. kulit lengannya sobek dan kelingkingnya putus ... rasanya kurang cukup untuk membuatnya mati kehabisan darah. mungkin bisa ditambahkan daftar luka-luka lama yang fatal sebelum ia bertemu Dina.
.
thanks for this delightful story :)

Penulis anggra_t
anggra_t at Akhir Dari Sebuah Perjalanan (6 years 22 weeks ago)
100

Hoaa.. bagus ini.
Ga orisinil banget sih, tapi cukup sederhana dan mudah dimengerti. Kurasa, bisa sedikit dipanjangin, menjelaskan siapa si om-om ini.

Penulis dorarossi46
dorarossi46 at Akhir Dari Sebuah Perjalanan (6 years 23 weeks ago)
100

bagus, banget!

Penulis heinz
heinz at Akhir Dari Sebuah Perjalanan (6 years 24 weeks ago)
100

Salam bro zoel dari sesama zombie-er

Penulis ryandachna
ryandachna at Akhir Dari Sebuah Perjalanan (6 years 24 weeks ago)
80

emang konser boyband sepadat apa sih?? :))
nice story.

makkie at Akhir Dari Sebuah Perjalanan (6 years 24 weeks ago)
100

braaaaaiiiiiiin....

Penulis luna.love
luna.love at Akhir Dari Sebuah Perjalanan (6 years 24 weeks ago)
2550

Keren kak.
Typo dikit. ^-^
be first