Nusantara Berbadai : Side Lore - Petaka Mayat Kesetanan di Ekuator.

 

Suara itu menggelegar. Sulit untuk diketahui dari mana arahnya berasal. Di tengah-tengah hutan ini seakan-akan setiap rerumputan dan pepohonan bersama-sama menyuarakannya. Sepertinya yang baru saja dilontarkan itu adalah sebuah kalimat pertanyaan jika dinilai dari intonasinya. Namun Charqa tidak mampu mengerti bahasa itu. Beberapa saat kemudian, Charga hanya terduduk sembari bersiaga waspada, mendengarkan suara itu mengulang-ulang pertanyaannya dalam berbagai bahasa yang ia tidak mengerti. Sampai akhirnya suara itu mengucapkannya dalam bahasa Charqa.

 

“Siapakah gerangan engkau, wahai wanita berambut salju yang hanya berbusana luka-luka?”

 

Reflek, Charqa segera bangkit. Menghabiskan napasnya untuk menjerit-jeritkan penjelasannya dengan berapi-api.

 

“Aku turut berduka kepada engkau, wahai wanita malang dari selatan terusan. Jika engkau mau, temukanlah pintu rumahku untuk sedikit kesepakatan dan bantuan yang hendak kutawarkan. Dengan satu cara, satu syarat, lekat-lekatlah engkau tutup bola mata yang indah itu, lalu ikuti ke mana suaraku bersenandung.”

 

Cukup lama Charqa hanya terduduk lama di tempat dengan kebingungan. Namun di saat ia mulai mengantuk dan nyaris tertidur karena terlalu lama menutup mata, sebuah senandung sumbang yang bergetar sendu nan mengerikan terdengar dari arah belakangnya. Selain merinding karena efek suara itu yang membuat dirinya ngilu-ngilu, Charqa juga bingung karena arah suara itu berasal adalah arah menuju pantai, dan sebelum sampai ke sini ia baru saja dari sana.

 

Kebingungan Charqa semakin menjadi-jadi ketika jalan yang ia tempuh yang ia kira menuju pantai itu justru semakin lama semakin menanjak dan curam, juga penuh ilalang setinggi hidungnya. Satu lagi yang ia perhatikan dalam perjalanan itu adalah, dirinya tidak pernah sekalipun tersandung sesuatu meski matanya tertutup. Kebingungan berubah menjadi kekaguman ketika semakin lama mengikuti dan memerhatikannya, suara itu perlahan berubah dari sangat sumbang, kasar, kering, mengerikan, menjadi lembut dan menyenangkan hati. Sepanjang perjalanan setelah suara itu berubah, Charqa turut bersenandung.

 

Menjelang akhir perjalanan, Charqa menyadari sesuatu, bahwa lagu-lagu yang disenandungkan suara itu dari tadi adalah lagu-lagu rakyat dari daerah asalnya. Hal ini membuatnya tersentuh namun juga sangat sedih mengingat apa yang belum lama ini terjadi kepada kampung halamannya itu, serta bagaimana ia bisa sampai di sini sekarang. Keserakahan manusia akan pengakuan, ketakutan manusia akan keberagaman, menjadi landasan besar bagi hasrat-hasrat busuk berpura-pura menjadi kebajikan yang memaksakan kebenaran.

 

***

 

Di tempat asal pertama kali mendengar suara itu menggelegar, Charqa terbangun dari lelap yang panjang. Ia berlama-lama termenung menatap jemarinya yang sudah tidak lagi memar demi meyakinkan diri bahwa segala hal yang ia alami barusan bukanlah mimpi belaka. Ketika tiba-tiba angin dingin menjilat tengkuknya, dengan reflek Charqa menarik kerudung jaketnya; sekarang ia sudah berbusana, semuanya bukan mimpi! Matanya yang beriris hijau berbinar basah dan melayangkan pandang bahagia ke arah pantai. Ia melihat sebuah titik kecil di kejauhan yang semakin lama semakin membesar. Napasnya memburu sembari menanti, menebak, lambang bendera yang berkibar.

 

Menurut informasi yang ia dapat dari pengalaman yang seperti mimpi itu, jika lambang kapal yang datang bergambar buah apel tertancap anak panah, maka itu adalah kapal para ksatria dari barat yang datang untuk berlatih memburu setan sekaligus mencari kebenaran atas misteri pulau ini. Sementara jika bergambar tengkorak dan keju, maka itu adalah kapal perompak yang sering singgah untuk bersembunyi di gua rahasia pulau ini. Charqa berharap itu adalah kapal perompak, karena dengan dengan mereka ia bisa menawarkan rencana balas dendam yang menguntungkan bagi perompak itu, dan tentunya akan merugikan para manusia dari ekuator yang telah menodai kampung halamannya.

 

Lambang bendera kapal yang datang itu bukanlah apel tertancap anak panah atau juga tengkorak dan keju, melainkan bendera hitam dengan bintik-bintik putih berkilau; perumpamaan malam yang malah nampak seperti ketombe pada rambut. Ia tidak pernah menyangka bahwa kapal para manusia ekuator itu berani singgah di pulau yang terkenal karena dipenuhi setan ini. Rupanya kepercayaan orang-orang itu kepada Tuhan Satu mereka memang begitu kuat, sehingga tidak hanya berani memerangi orang-orang bertuhan banyak seperti Charqa, namun juga berani memerangi setan. Namun mereka masih pemula pada urusan setan ini, para ksatria dari barat saja sampai sekarang tidak mampu berbuat banyak.

 

Benar saja, setelah memerhatikan mereka dari jauh seharian, nampaknya para pemaksa kebenaran dari ekuator itu tampaknya frustrasi, dan dilihat dari jumlah tentara yang berangkat tadi pagi, kini yang kembali berkumpul ke pantai hanyalah setengahnya. Sebelum meninggalkan pulau ini tanpa hasil, mereka mencoba membakar hutan namun hujan deras turun menggagalkan upaya tersebut. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk bersiap benar-benar pergi. Charqa bimbang, apakah akan melepaskan kesempatan ini untuk menanti kapal perompak. Atau nekat menyerahkan diri supaya ditangkap kembali? Perlu ada banyak adaptasi terhadap rencana balas dendamnya jika hal ini yang ia pilih.

 

***

 

Pada perang di daerah selatan terusan, di mana orang-orang bertuhan banyak yang ditumpas untuk dicekoki kebenaran baru yang tunggal. Terjadilah penangkapan-penangkapan tawanan perang.  Salah satu rombongan tawanan ini adalah anak-anak perempuan putri dari para pemimpin di selatan. Rombongan tawanan ini khusus ditujukan kepada para sahabatnya raja ekuator demi mempererat kekuatan politiknya.

 

Jadi sesungguhnya mereka ini adalah tawanan yang berharga dan harus dijaga dengan baik. Namun, apa daya jika penjaga kerangkeng tidak mampu menahan diri ketika salah satu tawanan justru memberikan bahasa tubuh yang menyebabkan kelelakiannya bergelora. Dengan memanfaatkan itulah, waktu itu Charqa berhasil kabur dari kapal tawanan dan terdampar di pulau setan sebelum dirinya mampus di tengah laut. Kini ia kembali berada di atas kapal milik orang-orang ekuator yang dekil, pendek, dan berperangai kurang ajar itu.

 

Sesampainya Charqa putri Ruriqa pemimpin bangsa Beruang Angsa, di negeri ekuator, pejabat pengurus tawanan perang segera mengenalinya. Segera ia ditindak atas pelariannya dalam pengadilan. Pada pengadilan itu Charqa membela diri dengan menceritakan kejadian terkait penjaga kerangkeng, dengan fakta yang tentu saja ia balik, yang setelah diselidiki oleh pihak pengadil, Charqa memiliki keunggulan posisi dibanding penjaga kerangkeng itu. Penjaga kerangkeng itu divonis mati bulan depan pada bulan suci supaya diampuni Tuhan, sementara Charqa divonis hukum cambuk. Namun sebelum hukuman dilakukan, Charqa kembali memohon pengampunan dengan alasan, bahwa alasan dia kembali menyerahkan diri setelah kabur adalah untuk memeluk kepercayaan Tuhan Satu dengan tulus. Charqa bahkan berjanji akan memelajari ilmu-ilmu kepercayaan itu untuk kemudian membantu menyebarkannya di kampung halamannya.

 

Kebetulan seorang pejabat tinggi yang menghadiri pengadilan sedang menonton dan menyetujui hal itu, bahkan secara langsung melapor raja. Hal itu menyebabkan pelaksanaan hukuman ditunda. Pejabat tinggi itu sendiri yang melakukan perundingan. Akhirnya Charqa mendapatkan kesempatan, ia diberi waktu sesekali keluar dari tahanan untuk belajar ke perpustakaan dengan pengawasan; ia harus membuktikan bahwa dirinya memiliki kompetensi untuk menguasai ilmu demi menjadi duta penyebar kebenaran. Pertama-tama ia harus belajar bahasa ekuator untuk mampu membaca ilmu-ilmu Tuhan Satu dari gulungan-gulungan suci tanpa harus selalu merepotkan ahli alih bahasa yang selama ini ditugaskan mendampinginya. Kemudian, ia mulai mencoba untuk meminta memraktekan salah satu ilmunya, yaitu memandikan dan mendoakan jenazah, kebetulan penjaga kerangkeng baru saja mengalami hukum gantungnya.

 

Pada suatu hari, raja sendiri datang untuk mengetahui perkembangan ilmu calon duta penyebar kebenarannya. Selama ini raja belum pernah bertemu dengan wanita ini secara langsung, ia hanya mendengar desas desus kenekatan, keberanian, kepintaran, dan kecantikan Charqa. Ketika akhirnya bertemu dengan langsung, raja sungguh menyesal. Raja menyesal bahwa dahulu ia sempat berniat mengirim Charqa kepada sahabatnya sewaktu wanita itu masih ditawan bersama para putri pemimpin orang selatan lainnya. Raja juga menyesal belum pernah menemuinya secara langsung selama berbulan-bulan ini. Menurut prinsipnya, jika air liur tak terbendung ketika menatap seorang wanita, entah siapapun dia, balita atau janda tua, apalagi kali ini adalah seorang wanita cerdas bertubuh segar dan tinggi, haruslah dinikahinya, dikuasainya. Karena ia adalah raja. Pembawa kebenaran yang satu, yang berkuasa, yang perkasa.  

 

Biarpun raja, ia tetap mencoba menjaga pencitraan dirinya. Setelah menggunakan politik dan demi kelancaran penyebaran kebenaran sebagai alasan, barulah ia membebaskan Charqa sepenuhnya dari tahanan, meresmikannya sebagai duta penyebar kebenaran, lantas kemudian memperistrinya. Kemudian diadakan sebuah pesta pernikahan yang meriah, sekaligus juga sebagai perayaan peresmian duta.  Seluruh sahabat kerabat raja, pejabat-pejabat tinggi, dan para pemegang kepentingan di negeri-negeri ekuator berkumpul bersenang-senang. Pada hari ini raja memberikan pengecualian terhadap peraturan suci larangan untuk bersenang-senang.

 

Sayang sekali, tidak lama lagi, mereka akan menjadi mayat hidup.

Semua berasal dari satu kebangkitan.

Satu gigitan mematikan.

 

***

 

Mengapa pulau itu disebut pulau setan? Apakah sesungguhnya setan yang dimaksud ada di pulau itu? Ksatria-ksatria barat pertama kali singgah di pulau itu dahulu untuk memburu perompak, namun rupanya mereka menemukan mainan yang lebih menarik. Mayat-mayat hidup yang nyaris tidak bisa dijatuhkan, meski sudah dipenggal lehernya, dibelah dadanya, dipotong kakinya. Selama masih ada sesuatu yang bisa digerakkan untuk menyakiti, mayat itu tidak akan berhenti. Walaupun mengerikan, jumlah mereka sedikit dan sulit dicari, sehingga memburu mereka terasa menyenangkan lagi menegangkan. Biarpun sedikit, satu hal yang ganjil adalah, jumlah mereka seakan tidak terbatas, dan mayat-mayat yang jelas-jelas memiliki wajah dan identitas yang baru. Dari manakah mereka?

 

Seharusnya Charqa bisa disebut sangat tidak mujur terdampar di pulau itu setelah terombang-ambing di lautan nyaris mampus. Beruntung Charqa, karena saat itu Dukun Sang Pemerbudak Setan memang sedang tertarik merencanakan percobaan baru. Maka, dituntunlah Charqa putri Ruriqa menuju kediamannya yang tersembunyi. Di sana Charqa dirawat sampai sehat. Tidak lupa juga ia mengajarkan ilmu-ilmu kesetanan kepadanya. Yang tentu saja, ada hal-hal yang harus dilakukan Charqa untuk membalas jasa dukun itu. Mudah saja, dan hal itu sangat sejalan dengan keinginan Charqa. Yaitu, sekadar memulai, sekaligus mengukur, seberapa besar dampak petaka akibat wabah satu butir telur setan.

 

Pada awalnya, Charqa merencanakan akan melaksanakan rencana itu dengan bantuan perompak, namun ternyata situasi kondisi menuntunnya ke arah yang lebih baik.

 

***

 

Jenazah yang suci? Telah dimandikan dan didoakan? Justru pada saat melaksanakan ritual itulah Charqa menyelipkan butiran telur setan.

 

Bayangkan tubuh mayat penjaga kerangkeng itu adalah wadah yang rusak, yang memiliki karakteristik mati, tidak hidup, tidak mampu hidup. Wadah itu kosong. Tidak memiliki kesadaran, tidak ada kesinambungan mekanisme yang utuh untuk disebut hidup. Wadah rusak, yang kosong.

 

Lalu butir telur setan itu adalah koleksi, usaha keras pemadatan, penangkapan, terhadap jiwa-jiwa sakti, tersiksa, yang berhasil melarikan diri dari neraka ketika terjadinya peristiwa awal nusantara mulai berbadai dahulu. Bayangkan mereka sebagai cairan kental, yang hidup, bergairah, menyebarkan hasrat kehidupan.

 

Ketika hasrat itu memenuhi ruang wadah yang rusak. Akan terjadi reaksi. Lubang-lubang, retak-retak, cacat-cacat, luka-luka, penyakit-penyakit, karakteristik orang mati pada wadah itu akan dipaksa hilang dari permukaan wadah, ditarik ke dalam konsentrasi hasrat setan-setan yang saling baku hantam satu sama lain berebut kendali wadah rusak demi mencoba merasakan kembali menjadi manusia.

 

Mayat kesetanan ini kemudian bisa bangkit. Hilang sebagian sifat-sifat disfungsi mereka sebagai mayat. Mereka mulai bisa bernafas, mencerna, bermetabolisme dengan organ-organ yang rusak. Hal itu dibantu paksa oleh kesaktian setan yang terus berebut merasakan kehidupan di dalamnya. Hal-hal yang dirasakan oleh wadah rusak yang dipaksa berfungsi itu tentu saja luar biasa mendesak. Sudah berapa lama dikubur? Berapa lama perut kosong? Haus? Lapar? Gairah berkembang biak? Kebutuhan sosialisasi? Kedinginan? Kedengkian? Kebanggaan karena mampu hidup lagi? Amarah? Sungguh meledak-ledak keinginan pada mayat yang baru saja hidup lagi itu. Namun karena saking meledak-ledaknya, koordinasi tubuh menjadi berantakan dan sulit melakukan hal yang membutuhkan keakuratan tinggi. Itulah mayat kesetanan.

 

Lalu apakah yang terjadi ketika mayat kesetanan penjaga kerangkeng itu menyerang seorang penjaga kuburan hingga mati? Tidak. Tidak hanya sekadar hingga sampai mati. Namun sampai puas. Samppai amarah, lapar, dan hasrat meledak-ledak mayat hidup itu sudah cukup dilampiaskan. Mayat hidup itu akan berhenti mengoyak, menggigit, dan menertawakan, memarahi, mengencingi, dan melakukan hal-hal tidak waras lainnya sampai ketika ia sadar bahwa, sebagian setan telah tertular dan mulai mengisi wadah korban.

 

Tidak menarik lagi pelampiasan hasrat mayat hidup itu jika dilakukan terhadap sesama wadah rusak berisi konsentrasi jiwa busuk. Ya, korban itu, penjaga kubur, telah menjadi wadah rusak, dan memang butuh beberapa waktu sampai wadah itu dipaksa berfungsi lagi oleh sebagian setan yang menyelinap ke dalamnya melalui kontak fisik. Dan ketika akhirnya pak penjaga kubur itu bangun, ia juga akan segera merasakan tuntutan hasrat meledak-ledak di dalam dirinya. Setan yang berebut ingin merasakan kehidupan melalui orang mati, yang dalam pelampiasannya, terus menularkan setan-setan kepada korban selanjutnya.

 

SELANJUTNYA.

 

SELANJUTNYA.

 

SELANJUTNYA.

 

SETERUSNYA.

 

***

 

Sementara itu di dalam kamar pengantin. Dengan kedua tangan dan kedua kaki telah buntung dipotong oleh Charqa, raja sedang menangis dengan mulut disumpal. Charqa sendiri menahan tawa sambil sesekali menorehkan luka pada selangkangan raja. Setelah memotong zakar raja, Charqa berbisik dalam bahasa ekuator.

 

“Anda berpikir saya benar-benar terpesona dengan sistem kepercayaan anda? Tidak mungkin. Bahkan setelah memelajari gulungan-gulungan suci itu, saya berkesimpulan bahwa sistem kepercayaan kami jauh lebih baik secara filosofis. Tuhan kami banyak, dan karena banyak, mereka memiliki pembagian tanggung jawab, dan terjadilah sistem pengawasan ke dalam, saling kontrol. Tidak seperti punya anda, yang satu untuk segalanya, sehingga tidak memiliki sistem pengawasan ke dalam dan tidak ada yang memiliki posisi setara untuk menegur Tuhan anda jika dia mulai pelupa dan bodoh. Ah, saya ingat, di depan istana anda ada sebuah tiang bendera yang besar dan kokoh. Biarlah nanti saya gantung anda tinggi-tinggi di sana. Supaya anda bisa tetap selamat dari terkaman mayat hidup, dan terus dapat mengembuskan napas kehidupan menyaksikan punyamu yang satu itu kini telah pelupa dan bodoh, melupakanmu, dan dibodohi oleh aku yang rupanya sedang didukung oleh banyak Tuhan, bahkan setan!”

 

***

 

Malam itu peradaban negeri ekuator runtuh. Semua petinggi dan penopang pemerintahan yang bersenang-senang di pesta itu telah berubah menjadi mayat kesetanan yang lanjut menebar teror. Sementara Charqa tetap tinggal di sana melakukan pencatatan dan pengamatan yang ditugaskan oleh pak dukun. Ia telah dibekali cukup pengetahuan untuk mampu bertahan di situasi petaka kesetanan ini. Sehingga ia mampu bertahan hidup dan berhasil mendapatkan data memadai ketika 5 tahun kemudian petaka ini mereda. Sementara itu banyak warga ekuator yang tidak berdosa turut menderita karena dosa pemimpin mereka dan ketidakbelaskasihan dendam kesumat Charqa.

 

Charqa puas melakukan pembalasan.

Dukun puas mendapat data.

Namun tentu saja, para setan tidak akan pernah puas. 

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
100

selamat dah menang kak *telat* xD
awalnya agak bingung sih apa hubunganya sama zombie, ternyata akhirnya kereeen :D

90

(O___O)
.
Gaya narasinya...literer~! SAIA NGIRI~!!
*cough!*
Oke, jujur cerita ini unik terutama dari segi gaya narasinya, walaupun mungkin bagi kebanyakan pembaca gaya ini terasa agak kurang nyaman untuk dibaca. Nilai plus untuk metafora dan pesan terselubung dalam cerpen ini dan saia suka sekali cara penggambaran sosok zombie dan alasan kenapa mereka buas. Bagian yang bikin saia merinding dan ngilu itu bagian akhirnya...serius...saia ngeri baca adegan Chaqa dan si raja.
.
Good one~! (o__<)b

100

Wuah, cerita dengan nuansa smith... Tiap kali membaca gaya bahasa smith, selalu saja terlintas 2 hal ini : suka dan ga suka. Unik sih tapi sekaligus bingung. >.<
.
Tapi klo dari segi ceritanya sih menarik, ngebangkitin zombinya pake dukun-dukunan.
.
Zombie mania, mantap!

acquired taste :P

90

ak kurangi satu poin karena bentuk ceritanya ini masih draft. banyak keluputan tata kalimat di beberapa temapat. kalau sudah rapi, ini cerita pantas dapat nilai penuh.
.
konsep setan-setannya menarik. bikin ak jadi penasaran hubungan setan-setan di sini dengan kisah inti Nusantara Berbadai.
.
.
beberapa hal teknik:
- pada dialog kedua (as in, paragraf ke empat), aku salah mengira yang bicara itu adalah Charqa. mungkin bisa disiasati dengan menulis kalimat tambahan seperti ini pada paragraf sebelumnya: "Kembali suara itu berbicara pada Charqa" atau semacamnya.
.
- "kerudung jaket" .. secara deskripsi umum, memang tidak salah, tetapi menurutku (dan mungkin saja salah), "jaket" itu istilah yang terlalu modern untuk nuansa setting cerita ini (aku jadi membayangkan Charqa memakai mantel tebal ala orang2 Eropa abad 19 sehabis baca deskripsi itu). saran ak, (kecuali ak memang salah) coba diganti saja istilah jaket itu dengan kata-kata yang agak berkesan tradisionil. seperti "jubah" atau semacamnya.
.
- ini rasanya ga penting2 amat .. tapi karena kepikiran sama ak, jadi yeah, ak tambahin di sini:
menurut informasi dari Bang Zoel, kalau cowo buah zakarnya dipotong, dia bisa mati dalam hitungan menit. jadi itu raja kemungkinan lagi shock pas Charqa balas dendam ke dia, dan udah koit sebelum digantung ke tiang bendera. saran ak, biar suspense of believability-nya nambah, sisipin dialog yg menunjukkan bahwa Charqa tahu sisa hidup si raja tinggal sedikit lagi, tapi dia akan berusaha agar si raja cepat-cepat digantung di tiang bendera agar dia punya waktu untuk melihat kemegahan kotanya yang sebentar lagi akan musnah.
... atau sesuatu semacam itu. still, ini preferensiku saja sih. kalau orang lain enggak ada yg merasa begitu, mungkin tidak perlu dikau ubah bagian itu.
.
.
kekny udah semua, thanks for this delighting story :)
(iya, memang delighting. my taste does kind of skewed)

dia kan raja, fisiknya sangat kuat, jadi gak langsung mati :P *cari alesan*

100

Mimit, plotnya ini maju mundur membingungkan. Kerasa ada gap di beberapa tempat. IMO, cobalah di bagian awal dan akhir per bagian itu dikasih penyambung supaya ga kerasa gapnya.

100

Hm, masih ada hubungan ama universe nusantara berbadai ya?
Btw, salam sesama zombie-er

yup, sebenernya inti cerita nusantara berbadai, yang mau digarap adalah tentang setannya XD

90

penggunaan bahasanya keren.
sayang tokoh utama kurang bijaksana, harus melibatkan rakyat kecil demi pelampiasan cinta buta kepada sang raja.
tapi sisi gelap manusia tak bisa disalahkan

Biar rusak semua sekalian XD

90

dukun mengumpulkan data dengan meminta pertolongan orang lain? aih... belajar menerawang dong, pak dukun. :p

Dukunnya sibuk lagi nulis disertasi >:D

90

Mereda itu bukan usai sepenuhnya lho ya XD, cuma, 'biang'nya aja mulai melemah, lagipula fresh meatnya sudah jarang :P