Team Elite

“Kondisinya bagus. Tuan-tuan…” Kapten Reij, pria berkumis putih panjang sebelah dan berjenggot hitam itu menoleh ke kami berempat.

                “Nona juga, Kapten.” Perempuan muda di sebelahku tidak terima.

                “Terserah, Luz. Kita bergerak sekarang!”

                Kapten Reij sudah berjalan, tapi kutunggu Kawerd memasang kembali teropong itu ke sabuk besarnya. “Ayo.” Kami lalu mengikuti Kapten Reij, menyusuri ladang yang menguning di pinggir kota.

                Kami berlima, termasuk Kapten, adalah salah satu tim elit yang dikirim ke kota Llockhrerdazlm, yang beberapa hari yang lalu direbut oleh sekelompok monster aneh. Mereka seperti manusia, yang sudah mati tapi hidup kembali, atau mungkin mereka memang manusia yang kembali dari kematian. Tubuh mereka sebagian besar terkoyak, hingga tampak daging dan organ dalamnya. Sebagian juga kehilangan satu atau dua bagian tubuhnya. Mereka bodoh dan bisa sangat agresif, meraung-raung dan mengamuk seperti binatang buas.

                Intel kami percaya bahwa semua ini disebabkan karena sebuah artifak yang disebut Stoun ov Laif. Sebuah benda yang ternyata bisa menghidupkan kembali orang yang mati. Benda itu barang kuno sebenarnya, tapi selama ini tidak ada yang tahu cara menggunakannya, hingga sekarang. Ya, kadang ilmu menyakitkan.

                Tadi malam kami melihat ada cahaya biru aneh di tengah kota. Mata-mata kami yakin cahaya itu berasal dari gedung perguruan tinggi di tengah kota, dan mereka yakin benda itu beserta siapa pun yang mampu menggunakannya ada di sana. Dan kesanalah kami berangkat.

                Kami berlari menembus tanaman yang sudah meninggi ini menuju tembok kota. Bahkan aku yang bukan petani saja tahu bahwa tanaman-tanaman ini sudah saatnya dipanen, tapi tempat ini sepi sekali.

                Ada sebuah rumah di depan. Beberapa jendelanya rusak, dan kami juga melihat pintu depan yang hanya disokong satu engsel di bawah. Kami berhenti sejenak di rumah itu. Aku bisa melihat ada tanda perlawanan, atau hanya sekedar kerusakan. Perabotan kayu yang patah berserakan.Tapi anehnya, tidak ada mayat di sekitar sini, bahkan bau busuknya juga tidak tercium. Padahal, kudengar tidak ada yang selamat.

                “Sejauh ini bagus. Kalian siap untuk terbang!” Kapten Reij mengamati tembok kota sudah dekat.

                “Aku melihat gerakan, Kapten,” kata Wied, prajurit berbadan terkecil di antara kami, sembari memicingkan matanya. “di atas sana, di menara gerbang sebelah utara.” Ia menunjuk tempat yang ia maksud.

                “Kita sebaiknya jangan menarik perhatian terlalu dini.” Tembok yang akan kami lewati memanjang dari utara ke selatan sedangkan kami datang dari arah timur. Dan ya, ini masih pagi, sinar matahari akan membuat kami terlalu kelihatan. “Luz!”

                “Dengan senang hati, Kapten.” Penembak terbaik kami itu maju ke depan dan mengambil posisi di dekat jendela dan bersiap untuk beraksi.

                Ini dia bagian yang kusuka, saatnya melihat performa senjata baru kami, tongkat senapan B 747-8i. Sebenarnya bukan benar-benar produk baru, hanya upgrade dari seri sebelumnya.

                Senjata mengagumkan ini mempunyai sejarah tentang bagaimana ia bisa menjadi secanggih ini. Kau mau mendengarkannya? Tidak? Sayang sekali kalau begitu, karena aku akan tetap menceritakannya. Jangan khawatir, tidak terlalu panjang kok.

                Setiap manusia memiliki kekuatan ajaib alami, tapi dulu sebagian besar bahkan tak tahu kekuatan ini ada. Beberapa ada yang berhasil menguasainya dengan teknik sulit tertentu, dan menamakannya tenaga dalam, sihir, atau semacamnya. Tapi semenjak ditemukannya batu-batu ajaib, yang diberi sebutan “stoun”, semua orang bisa menggunakan kekuatan mereka dengan mudah. Kau hanya perlu bersentuhan dengan sebuah stoun, atau terhubung dengannya melalui tongkat atau pedang, dan puff, keluarlah kekuatanmu. Ya, sebenarnya yang sungguh-sungguh berperan adalah stoun itu sendiri, kekuatan ajaib manusia hanya mengaktifkannya saja. Stoun itu ibarat minyak, dan kekuatan manusia ibarat api yang menyalakannya.

                Ada beragam jenis stoun di dunia ini, sebagian besar berkekuatan elemental. Erh stoun berelemen tanah, fayer stoun berelemen api, ater stoun berelemen air, win stoun berelemen angin, dan tander stoun berelemen petir. Ada juga fors stoun, yang tidak berwarna dan dengannya seseorang bisa memindahkan benda apa pun. Ada juga dag stoun yang langka, yang dapat mempengaruhi jiwa manusia. Dan yang lebih langka lagi, perpel stoun, yang dapat memunculkan dan menghilangkan benda mirip logam dengan seketika.

                Selama bertahun-tahun, seiring berkembangnya pemahaman manusia akan stoun, desain senjata berubah-ubah. Ya, dalam kurun waktu itu stoun biasa digunakan untuk agresi. Tapi maraknya penggunaan stoun untuk penyerangan membuat sebagian orang berusaha memanfaatkannya untuk pertahanan, dan ditemukanlah cara untuk membuat perisai elemental menggunakan stoun.

                Sementara jurus agresif stoun tak banyak berubah, perisai stoun berkembang cukup pesat. Pencapaian terhebatnya adalah ditemukannya perisai stoun komposit, gabungan dari perisai keras dari erh dan perisai elastis dari ater. Perisai stoun komposit ini bisa melindungi dari serangan apa pun, dan tak terkalahkan selama berpuluh-puluh tahun, hingga adanya penemuan terbaru.

                Senapan pertama akhirnya ditemukan, cikal bakal senapan baru kami. Senjata ini mengumpulkan energi api dari fayer stoun hingga tingkat tertentu, dan melepaskannya secara seketika dalam bentuk ledakan untuk mendorong peluru keras dengan kecepatan tinggi. Pelurunya memang kecil, tapi dengan momentum yang besar, segala jenis pertahanan bisa ditembus, termasuk perisai stoun komposit.

                Dari segi bentuk, tak banyak yang berubah. Sekilas terlihat seperti tongkat biasa, panjang dengan stoun di salah satu ujung untuk menyalurkan kekuatan ajaib, hanya bahannya yang berbeda, yaitu besi. Amati lebih dekat dan akan tampak bahwa tongkat ini berongga hampir dari ujung ke pangkal.

Segala macam senapan, termasuk yang pertama kali ditemukan memiliki setidaknya dua komponen, Sumber dan Penahan. Sumber terletak di dasar rongga, dan biasanya terdiri dari fayer stoun dan erh stoun. Fayer sebagai sumber ledakan, dan erh sebagai sumber peluru. Tapi di senjata baru kami, terdapat ruang untuk satu stoun lain yaitu tander stoun, agar tembakan kami lebih menyengat dan merusak.

Agak lebih ke ujung dari Sumber, terdapat Penahan yang terdiri dari serentetan fors stoun. Sesuai namanya, komponen ini akan menahan kekuatan yang muncul hingga sangat kuat sebelum melepaskannya. Prinsip kerjanya seperti bendungan di sungai, bendungan itu akan menahan air sungai hingga sangat banyak. Dan seandainya bendungannya dihancurkan, banjir yang dihasilkan akan luar biasa.

Ada satu komponen terakhir, yang baru ditemukan belum lama ini, Peredam. Tepat di ujung senapan terdapat fors stoun berbentuk cincin. Stoun ini akan membuat sebuah medan gaya yang akan menyerap getaran apa pun yang mengenainya. Dengan Peredam ini, sedahsyat apa pun tembakanmu, hanya sedikit suara yang dihasilkan.

Tiga bagian berbeda, dengan fungsi yang berbeda, dalam satu senjata. Tidak terlalu buruk, sayangnya manusia tidak bisa mengaktifkan beragam stoun secara bersamaan. Bisa, tapi sangat sulit. Dan kesulitan itulah yang membuat para ilmuwan terus berpikir hingga menemukan satu fitur yang sangat membantu, Master. Master berupa fors stoun yang terletak di belakang Sumber. Selain mendorong dan memindahkan benda, fors stoun juga memiliki kemampuan untuk mengaktifkan stoun yang lain. Dalam senapan yang rumit ini, termasuk pula senapan kami, adalah tugas Masterlah untuk mengaktivasi ketiga komponen lainnya. Sementara si penembak cukup mengaktifkan Master. Dengan teknologi ini, semua orang bisa dengan mudah menggunakan senapan, jika mereka mampu membelinya.

Baiklah, kembali ke misi. Luz menarik tuas yg ada di dekat pangkal senapannya hingga tegak lurus. Tuas ini akan membantunya menjaga agar senapannya tetap di tempat saat menembak. Luz meletakkan pangkal senapan ke bahunya, dan mulai membidik sasaran. Dari sakunya ia keluarkan sebuah teropong kecil dan ia pasang tepat di depan matanya. “Sasaran didapat.”

“Bagus, jatuhkan dia!”

Terdengar suara desisan, dan terlihat kilatan biru yang melesat dari senapan Luz ke menara gerbang. “Beres, Kapten.”

“Bagus!” Kapten Reij segera keluar dari rumah ini. Kami pun mengikuti.

Gerbang kota sangat dekat, tapi kami menduga pasti terkunci. Jadi, kami memutuskan untuk melompati temboknya.

“Biar aku duluan!” Kapten Reij menyiapkan senjatanya. Di belakang bagian Master terpasang beberapa stoun lain, salah satunya perpel stoun. Ia aktifkan stoun tersebut, sehingga muncullah kabut-kabut ungu yang membentuk belati panjang. Kabut itu berpendar, dan dalam sekejap menghilang, berubah menjadi benda mengkilap seperti logam. B 747-8i bukan sekedar senapan, melainkan senjata multifungsi. Dan kali ini, Kapten Reij menggunakannya sebagai tombak. “Untuk berjaga-jaga.” katanya.

Kapten Reij siap, dan ia pun segera terbang. Tidak tidak, ia tidak mengepakkan tangannya. Baiklah, mungkin lebih tepat disebut melayang. Kapten Reij mendarat di atas tembok, melihat sekitar dan memberi tanda bagi kami untuk segera mengikuti.

Di balik baju pelindung kami ini ada… ya, baju dalam. Tapi selain itu ada lagi, baju khusus yang membantu kami untuk melayang. Prinsipnya adalah, ketika seseorang berdiri di sebuah papan, lalu ia menerbangkan papan itu, orang itu akan ikut terbang… jika dia tidak jatuh duluan. Dan itulah yang tadi dilakukan Kapten Reij, yang juga akan kami lakukan tidak lama lagi. Kami hanya perlu menerbangkan fors stoun yang tertempel di bagian punggung baju khusus kami, dan kami akan ikut terangkat. Pakaian khusus ini tentunya harus terbuat dari bahan yang kuat dan didesain agak lentur dan ketat agar lebih nyaman.

Tembok lama ini tidak terlalu tinggi, cuma beberapa meter. Hanya perlu beberapa detik bagi kami untuk sampai di atas, tapi itu tadi bukan sesuatu yang ringan. Aku mengambil nafas sejenak, lalu mendekat ke Kapten Reij.

Dari atas sini tampak jalanan kota yang sepi dan berantakan, dan lagi-lagi tidak ada mayat. Seolah penduduk kota menghilang begitu saja. Oh, rupanya ada yang berpatroli. Sepasang monster berjalan pelan sepanjang jalan di bawah kami. Keduanya memakai baju besi dan membawa senjata layaknya prajurit. Tak jauh dari mereka berdua, ada sepasang monster lain dengan peralatan usang yang sama dan sedang bermain… eh, catur?

“Luz, kau dan aku urusi yang patroli. Wied dan Leit, kalian berdua urusi yang satunya.” Kapten Reij membagi tugas.

“Dan apa yang harus kulakukan, Kapten?” tanya Kawerd.

“Yang biasa kau lakukan.” Kapten Reij mulai membidik.

“Maksudmu cuti?”

“Ah, terserah.”

Seperti yang diperintahkan Kapten Reij, kami mengarahkan senjata kami ke kedua monster yang duduk menghadap sebuah meja, yang di atasnya ada papan hitam putih yang di atasnya lagi ada bidak dan semacamnya. “Menurutmu mereka benar bermain catur? Kupikir mereka seharusnya bodoh.”

Wied sudah menempelkan matanya ke teropong senapan, meski sebenarnya jaraknya terlalu dekat untuk menggunakan teropong. “Mereka memang bodoh, dia seharusnya menggerakkan kudanya ke G6. Dengan begitu, di langkah berikutnya dia bisa skakmat!”

“Oh… terserah katamu lah.” Kuharap laporan mata-mata kami sepenuhnya akurat. “Aku akan tembak yang sebelah kiri.”

“Haha, hukum dia karena memundurkan bidak, Leit. Dalam hitungan ketiga, satu… dua…” Peluru ditembakkan, dan tamatlah kedua monster itu.

“Sebelum melanjutkan, mari lihat dulu situasi jalan. Ikuti aku!” Kapten Reij berjalan menuju menara. Di sana ia menyuruh Kawerd melihat-lihat menggunakan teropongnya.

“Laporkan, Prajurit!”

“Ada banyak sekali di alun-alun, Kapten.”

“Bagus, intel kita benar. Apa lagi?”

“Beberapa patroli di jalan, tapi cukup jauh.”

“Ya, mereka cukup jauh. Kita tetap pada rencana awal. Ayo!” Kapten Reij melompat, kami juga. Sesaat sebelum mencapai tanah, kami gunakan baju terbang kami untuk mengurangi kecepatan jatuh dan mendarat dengan lebih lembut. Kami lalu berlari mendekati tujuan melewati halaman-halaman, melompati pagar-pagar, termasuk merusak beberapa jika situasi kurang mendukung. Kami belok di gang sempit pertama, menjauhi jalan utama. Setelah cukup jauh, baru belok kembali ke tujuan. Tapi tentu saja, masih banyak jalan-jalan besar lain yang harus kami seberangi.

“Sebelah kanan bersih, Kapten!”

“Sebelah kiri kotor, Kapten! Tapi tak ada musuh.”

“Baiklah, ayo jalan! Tetap awasi sekitar!”

Untuk meminimalkan risiko ketahuan, kami berusaha sedekat mungkin dengan bangunan agar terlindungi oleh bayangannya. Kami juga berlari dengan agak membungkuk, terutama saat melewati jendela atau pagar yang rendah.

“Berhenti!” Tiba-tiba Kapten mengangkat salah satu tangannya. Saat ini kami berada di dekat sebuah bangunan. Dan kami jongkok karena ada jendela tepat di atas kami. “Aku mendengar sesuatu.”

Kapten Reij benar, sekarang aku juga mendengar sesuatu. Omelan dan derap langkah mendekat. Kapten Reij mengisyaratkan pada kami untuk lebih menempel ke dinding.

Tiba-tiba kaca jendela pecah, seorang monster terlempar dan jatuh persis di samping kami. Kami kaget bukan main, ini kali pertama kami melihat monster itu dalam jarak sedekat ini. Iuh, sekujur tubuhnya terlihat gelap atau setidaknya pucat, kulitnya, dagingnya, tulangnya. Seperti yang lain, tubuh bagian atasnya tertutup baju besi, tapi tubuh bagian bawahnya hampir telanjang. Celananya sobek-sobek, begitu pula kulitnya.

Oh, apa yang harus kulakukan? Aku hampir panik. Aku pun menoleh ke Kapten Reij.

Kapten masih dalam raut terkejutnya; matanya terbelalak, mulutnya terbuka, giginya terlihat ompong dua. Dia hanya meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya sambil menggeleng pelan.

Monster itu berusaha bangkit, sambil terus menggerutu tak jelas. Tapi ternyata ada monster lain di dekat kami. Ia persis berada di jendela, menjulurkan tangannya dan mengacungkan jari tengahnya, atau satu-satunya jarinya yang tersisa. Mereka saling beradu mulut selama beberapa saat, sebelum akhirnya menunduk dan menyadari kehadiran kami.

Kapten Reij bergerak cepat. Ia langsung berdiri, mengaktifkan perpel stounnya dan memenggal si monster di luar dan menusuk monster satunya tepat di lehernya. Kedua monster itu pun jatuh terkulai. Raut Kapten berubah, ia terlihat lega, tapi tak lama. Terdengar teriakan serak mendekat dari dalam gedung. Kapten Reij kini menggunakan senjatanya sebagai senapan, mengarahkannya ke dalam, dan melepaskan tembakan. Suara teriakan itu menghilang, tapi tampaknya suasananya belum berubah.“Lari!”

Tanpa pikir panjang, kami angkat kaki.

“Berlindung di balik pagar itu!”

Oh, kelihatannya akan ada tembak-menembak. Kami melompati pagar yang dimaksud, dan mengarahkan senjata kami ke jendela tadi. Satu per satu monster itu keluar, meraung-raung seperti kerasukan setan lalu berlari ke arah kami. Mereka tak hanya mengenakan baju besi, tapi juga membawa senjata tajam. Namun itu takkan membantu, mereka akan tertembak duluan sebelum menjangkau kami. Tapi lama-lama jumlah mereka semakin banyak, seperti tak ada habisnya. Jika begini terus, mereka bisa mencapai kami.

“Mereka terlalu banyak, Kapten!” Aku sempat ragu.

“Sudah tembak saja, prajurit!”

Kapten Reij begitu percaya diri. Aku harus memantapkan diriku, lagipula rekan-rekanku juga masih bertahan.

Luz sama sekali tidak panik. “Aku tembak yang itu saja ah, yang tampan…”

Kawerd masih semangat. “Delapan belas… sembilan bebas… dua belas… dua belas satu…”

Dan Wied juga masih menembak. “Kita menembak dengan kecepatan dua tembakan per detik. Mereka datang dengan kecepatan tiga per, oh tidak, empat per detik. Dengan variabel seperti ini, mereka akan mencapai kita dalam lima… empat… tiga…” Oh sial, padahal aku sudah berharap dia mengatakan sesuatu yang membangkitkan semangat.

“Wied benar.” Oh, Kapten sepakat. “Kalau begitu, kita tidak punya pilihan lain…” Kapten Reij menurunkan senjatanya, dan memegangnya layaknya tongkat. “Mode belati!”

Seorang monster melompat tinggi, siap menerkam Kapten. Monster ini bersenjatakan tombak, dan ia sudah menghunuskannya. Hanya saja, dia memegangnya terbalik, bilahnya ada di belakang.

Kapten Reij langsung bereaksi. Ia aktifkan perpel stounnya, dan ia tusuk monster itu di dadanya. Tombaknya yang tajam dapat dengan mudah menembus baju besi yang dipakai si monster. Belatinya menembus cukup dalam, sehingga seandainya saja Kapten memakai tombak biasa, ia harus bersusah payah mencabutnya. Tapi dengan senjata B 747-8i, kasusnya berbeda. Kapten Reij mengaktifkan kembali perpel stoun, menyebabkan belati tombaknya bersinar lalu menghilang. Monster yang ditikamnya pun jatuh ke tanah. Dan ketika perpel stoun diaktifkan kembali, bilah baru muncul lagi, dan siap digunakan. Dan karena banyak lagi petarung di luar sana yang sering kesulitan menarik pedangnya yang salah tusuk, teknologi ini sangat berguna, tapi mahal.

Monster-monster lain sudah mencapai pagar dan melompatinya. Benar kata Kapten, saatnya bermain pedang. Kami aktifkan perpel stoun kami dan mulai bertarung semampu kami. Rata-rata mereka memang bodoh, memegang senjata saja tidak becus. Tapi dengan jumlah sebanyak ini, mereka tak perlu kecerdasan.

Aku lebih sering berlatih menembak, jadi serangan tombakku hanya sedikit lebih baik dari serangan para monster itu. Mereka mengenaiku beberapa kali, tapi untunglah serangan itu tidak mempan melawan baju pelindungku. Aku bisa bertahan cukup lama, begitu juga ketiga rekanku. Tapi aku merasa aneh, aku merasa jumlah mereka tak sebanyak yang kukira. Tanpa kusadari aku sudah menebas monster terakhir yang menyerangku, yang sepertinya aku mengenali wajahnya. Hmm, dia seorang artis kalau tidak salah, tapi entahlah, tidak penting. Kulihat sekeliling, syukurlah ketiga rekanku selamat, tunggu… dimana Kapten?

Oh, ternyata Kapten menyerang sambil maju ke depan sana… atau mungkin, kamilah yang mundur sampai sejauh ini. Kapten masih di sana, di dekat pagar tempat kami tadi berlindung, sendirian tapi tampaknya ia bisa mengatasinya. Wow, ia mengayunkan tombaknya dengan sangat gesit. Ia menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya secara efektif. Tak hanya menusuk-nusuk secara repetitive seperti kami, tapi kadang ia menendang, memukul, menembak, termasuk bergaya dan berpose sebelum akhirnya melancarkan serangan penutup. Ia membuat kami terpukau, hingga lupa menolongnya.

“Wah, Kapten hebat!” Luz bersorak sambil tepuk tangan.

“Hyah, terima ini!” Untunglah tidak ada monster lagi yang keluar, dan Kapten sudah menghabisi yang terakhir. Kapten Reij terengah-engah, keringatnya bercucuran, tapi selebihnya ia terlihat baik-baik saja. “Lihat kan, kita bisa melakukannya.” Baru beberapa langkah menuruni tumpukan mayat monster yang baru ia taklukkan, Kapten Reij tiba-tiba jatuh pada lututnya.

“Kapten!” Kami pun bergegas menghampiri dan membantunya.

“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, kok. Hanya sedikit haus, pegal, gatal-gatal di punggung, agak terkilir, dan… pilek.”

“Mungkin kau perlu istirahat sebentar, Kapten.”

“Tidak tidak tidak, jangan di sini!”

“Oh, kau benar.” Entah bagaimana aku bisa lupa, ada begitu banyak mayat di sini.

“Ayo!” Hanya dalam beberapa saat, Kapten sudah membaik, dan kembali memimpin kami.

Kami teruskan perjalanan sembunyi-sembunyi kami. Masih ada beberapa monster yang harus kami tembak, tapi kali ini kami lebih beruntung. Kata Kapten, bangunan tempat kami ketahuan adalah gudang senjata. Ia yakin monster-monster itu sedang mempersenjatai diri mereka, bersiap untuk memulai perang, mungkin. Syukurlah, tidak ada gudang senjata lain di jalur kami.

“Jalannya aman, Kapten!” Akhirnya kami sampai. Kini kami bersembunyi di semak-semak yang terpotong rapi dan berfungsi sebagai pagar.

“Ini buruk.” Kata Kapten setelah mengamati medan. “Di antara kita dan gedung itu adalah taman luas yang agak kosong, hanya ada pohon-pohon kecil dan kolam. Sementara ada cukup banyak monster yang berpatroli. Kupikir, kita tidak bisa menembak tanpa menyiagakan yang lain. Ada ide?”

Hmm, semak-semak ini memberiku sedikit ide. “Kita bisa gunakan semak-semak ini untuk menyamar sambil pelan-pelan berjalan ke sana.”

Keempat rekanku memandangku dengan tatapan aneh, kemudian Wied berkomentar, “Itu… hanya bekerja untuk orang bodoh. Tapi aku sepakat, ayo!”

“Ya sudah, kita pakai rencanamu, Leit. Semuanya, potong dan ambil semak ini!”

Kami aktifkan belati kami dan mulai memotong pagar semak di dekat kami. Setelah itu kami bersembunyi di dalamnya dan mulai bergerak. Terlihat bodoh memang, lima semak-semak perlahan bergerak di tengah taman.

“Awas tembok!” Setelah cukup lama merangkak sambil memegangi semak di punggung kami, akhirnya sampai juga. Gedung ini cukup luas, dan kami tidak tahu harus mulai mencari dari mana. Tapi belum lama semenjak kami tiba, kami melihat ada sepasang monster membawa sebuah kotak. Kami putuskan untuk mengikuti mereka berdua. Jika kami beruntung, mereka akan menuntun kami ke tempat dimana stoun ov laif berada.

Baru mengikuti sebentar, kami sadar bahwa ternyata kedua monster itu mengikuti tanda-tanda panah yang tertempel di dinding lorong. Petunjuk tersebut akhirnya membawa kami ke ruang perpustakaan.

Tempat ini masih cukup rapi. Hanya beberapa buku yang tergeletak, mungkin sedang dibaca ketika monster-monster ini menyerang kota. Rak-rak bukunya juga terlihat tak tersentuh, kecuali satu. Di rak yang satu ini hanya ada satu buku, mencurigakan memang. Selain itu terdapat tanda panah yang menunjuk ke rak itu. Tapi anehnya, kedua monster itu tampaknya tak mengerti. Mereka menabrakkan diri mereka ke rak itu berkali-kali sambil menggerutu.

Cukup lama mereka mengulang perbuatan bodoh itu, hingga kami memutuskan untuk menembaknya. Satu saja tembakan menyengat di kepala, dan mereka berdua tak berdaya. Sebenarnya aku ingin tahu barang apa yang ada di dalam kotak itu, tapi apa daya, kotak besi ini terkunci rapat.

Kami pun mendekati rak dengan hanya satu buku mencurigakan padanya. Kapten menarik buku itu, dan puff, sesuai dugaanku, buku itu adalah sebuah tuas. Rak tersebut berbunyi, lalu terbuka seperti pintu, menampakkan tangga rahasia di baliknya. Dan seperti dugaan Wied, masih terdapat tanda-tanda panah di sini.

Kami turuni tangga itu hingga mencapai sebuah lorong sempit. Dan di ujung lorong pendek ini adalah sebuah ruangan yang luas, sangat luas untuk ukuran ruang bawah tanah.

Di tengah ruangan, terdapat beberapa pilar penyangga dan juga seseorang, atau mungkin sesuatu. Ada sepasang meja dan kursi yang membelakangi kami, dan kursi itu diduduki oleh sese… sesuatu yang terlihat seperti balon. Dan di meja ada sebuah jam dan piring, entah apa maksudnya.

“Aargh, mana mereka? Lama sekali!” Sebuah suara cempreng terdengar dari kursi itu. Sesuatu itu bertambah tinggi sedikit, bergeser ke samping hingga kami bisa melihatnya lalu menendang kerikil sebagai pelampiasan. “Aargh, mana pengantar makan siangku?”

Makhluk itu terlihat mirip monster-monster yang lain, kulitnya gelap namun tubuhnya masih utuh. Dan postur tubuhnya menggelikan, dia pendek tapi kepalanya besar sekali, seperti karikatur. Di dahi kanannya terdapat plester silang. Dia juga memakai jas putih kotor dan kacamata tebal.

“Mereka sudah mati. Kau berikutnya!” Kapten Reij mendekat dan membidiknya.

Si aneh itu berbalik, dan terperanjat. “Waa, kalian!!”

“Katakan siapa kau, dan dimana stoun ov laifnya!” Kapten Reij terus mendekat. Kami mengikuti di belakang Kapten dengan lagak sok keren.

“Ow, uh, anu… Namaku Doktor Zombob Hafpents, tapi biasa dipanggil Zombie… ehm, jadi kalian mencari stoun ov laif? Sebentar, biar kuambilkan.” Si Zombie berbalik dan mendekati salah satu pilar.

Hmm, rasanya terlalu mudah.

Zombie memegang sebuah tuas di pilar, “Rasakan ini!” ia lalu menariknya.

Terdengar suara logam terjatuh. Zombie tertawa keras sementara kami gugup. Semoga saja ini hanya gertakan.

Tapi rupanya tidak. Dari balik kegelapan muncul sosok yang besar, tingginya setidaknya dua kali lipat tinggi kami. Semakin mendekati kami, semakin jelas bentuknya. Makhluk ini seperti gorilla raksasa tanpa bulu dan berkepala manusia. Kulitnya gelap seperti yang lain, dan banyak bekas tusukan serta jahitan di sekujur tubuhnya. Makhluk ini telanjang, tentunya karena tidak ada baju dengan ukuran yang cocok untuknya. Dia terus mendekat, dan berhenti tak jauh di depan kami.

Zombie masih tertawa tanpa henti, hingga si makhluk besar bosan dan mendengus. “Oh, kau sudah sampai ya?” Dia lalu menatap kami. “Perkenalkan, pasukan elitku, Big Boss. Aku membuatnya sendiri lho, hebat kan?”

Aku membatu, tak tahu apa yang harus kukatakan. Begitu pula yang lain.

Sementara itu Zombie terus mengoceh. “Aku sadar mereka tak bisa menggunakan stoun, makanya mereka kubuat kuat secara fisik dengan injeksi hormon-hormon pertumbuhan, tiroid, testosterone, dan obat-obatan lain yang tidak akan kusebut mereknya karena mereka menolak mensponsoriku, grrr!”

Aku masih tak tahu apa yang harus kulakukan.

“Tentu saja ada efek sampingnya, antara lain amnesia, halusinasi, hiperseksualitas, impotensi, dan… uh… kematian! Ya, kematian! Tapi apa peduliku, aku punya stoun ov laif. Tiap kali dia mati, tinggal kuhidupkan kembali dan kulanjutkan terapinya hingga seperti ini!”

Aku bergeser mendekat ke Kapten, dengan mataku tetap waspada pada Big Boss. “Kita akan kalah, Kapten. Kita harus merencanakan pelarian!” bisikku.

“Tidak! Rencana hanya untuk kemenangan!” Kapten masih optimis tampaknya, tapi aku tetap khawatir.

Si Zombie masih cerewet saja. “Tapi seperti yang kalian lihat, dia bukan lagi manusia. Jadi, apa pun yang kulakukan padanya tidak melanggar kode etik blablabla… blablabla…”

“Tapi lihat dia, kita akan kalah!” Kali ini aku setengah berteriak.

“Kalau begitu, kita improvisasi.”

Sebuah suara desisan tembakan mengagetkan kami berdua.

“Maaf, Kapten, aku panik!” teriak Kawerd.

“Aargh… uh…” Tubuh mungil Zombie kini berlubang satu. “Dia belum… selesai. Masih kurang… sedikit penstimuli otak…”

Suara tembakan terdengar lagi. “Maaf, Kapten, aku juga panik! teriak Wied.

“Jangan khawatir, Kapten. Aku tidak akan panik.” kata Luz sambil tersenyum pamer.

“Bisakah kalian berhenti menembak!” Zombie tiba-tiba bisa bicara normal, aneh. “Aku ini karakter penting tahu, meski sekarat aku tidak akan mati sebelum menyelesaikan kata-kataku!” Setengah detik kemudian dia mati.

Big Boss yang sedari tadi bengong, kini sadar tuannya tiada. Dia terlihat terkejut. Ia memandang mayat si Zombie, memastikan barangkali. Ia lalu berganti menatap kami, lalu menatap Zombie lagi, lalu menatap kami lagi, lalu menatap Zombie, lalu menggaruk kepala, lalu menatap kami lagi, dan menggeram. Kupikir dia masih bodoh, tapi dia berhasil berpikir bahwa kami adalah musuh.

“Uh, Kapten?”

“Lari!”

Tanpa pikir panjang kami ambil langkah seribu. Setidaknya kami akan lebih aman saat mencapai lorong sempit di sana. Tapi Kapten masih belum beranjak, ia masih memegang senjatanya sambil membidik Big Boss. Jika percobaan si Zombie memang berhasil, akan butuh banyak sekali tembakan untuk menjatuhkan monster itu. Jika Kapten berpikir dia bisa mengalahkan Big Boss, berarti dia sudah gila. Tapi kulihat Kapten menembak kaki Big Boss, cerdas. Setelahnya, ia baru lari.

Syukurlah, kami semua selamat hingga ke ruang perpustakaan. Di sana kami bertemu Tim Dua, tim elit lain yang juga dikirim dengan misi sama. “Kalian terihat kacau, kalian baik-baik saja?” tanya kapten mereka.

“Kami baik-baik saja.” jawab Kapten Reij.

Terdengar raungan keras Big Boss yang mengagetkan kami semua.

“Apa itu?” Pastinya Tim Dua sangat penasaran.

“Singkat cerita… kami tidak menemukan stoun ov laif, kami malah menemukan monster besar, kami juga membunuh seorang yang kami yakini adalah otak dari semua ini.” jelas Kapten Reij.

“Oh, bagus, kami malah belum apa-apa.”

“Dan kurasa kami sudah cukup untuk hari ini.” Aku sependapat dengan Kapten.

“Jangan khawatir, kami akan lanjutkan pencarian. Kalian bisa keluar kota ini melewati…”

Tiba-tiba raungan Big Boss terdengar lagi, kali ini semakin keras dan diiringi suara runtuhan.

“Eh, bisa tidak kita bicara di luar saja?!”

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
red_rackham at Team Elite (6 years 22 weeks ago)
80

Ini cerita yang...aneh :D Soalnya ada bagian yang bikin saia malas baca(kayak infodump techno di awal cerita) atau bagian yang bikin saia semangat baca (yaitu ketika karakter2nya berdialog, itu seru dan asik :D ).
.
Kurang lebih cerita ini enjoyable sekali walaupun pacenya terasa cepat-lambat-cepat-lambat dan klimaksnya agak...well...gaje. Pokoknya kelebihan cerpen ini ada di karakter2nya yang masing2 unik dan itu terlihat jelas dari cara mereka bicara dan cara mereka bertindak.
.
Well done (o__<)b

Penulis musthaf9
musthaf9 at Team Elite (6 years 22 weeks ago)

alright, I'm getting confused here...
ya baguslah kalo karakterisasinya kerasa :)
.
infonya emang kurang termanage, dan klilmaks juga ga gitu maks hehe. tapi setidaknya masih enjoyable kan? :D

Penulis Grande_Samael
Grande_Samael at Team Elite (6 years 23 weeks ago)
100

Bah, ini cerita yang bikin saya galau! Kadang baca ini bikin saya bosan, tapi kadang juga bikin saya ketawa-ketiwi... ^^ Tim elitnya juga ga elit banget, tapi mungkin emang maksudmu begitu ya, hahahaha
.
Cuman klo menurutku sih, sebaiknya bagian penjelasan tentang senjata dan peralatan itu tidak perlu, coz ga penting banget gitu loh, ahahaha. Trus perjalanannya dibuat ala 'Dora The Explorer', jadi di awal dikasi tahu tempat2 mana aja yang mau ditempuh, jadi pembaca (saya maksudnya) bisa memperkirakan kapan tim elit itu akan sampai di tujuan.
.
Itu aja ah, Salam zombie!

Penulis musthaf9
musthaf9 at Team Elite (6 years 22 weeks ago)

wa, maaf udah bikin galau :D
waduh, justru sbenernya ke"elit"annya yang mau saya tonjolin, baik dari sisi manusia dan zombienya (yg zombie fail, kejedut batas kata)
.
itu repot-repot saya jelasin soalnya biar agak sci-fi dikit gitu, tapi kayaknya distribusinya yang kurang bagus.
dan seandainya scene briefingnya ada, ya bakal saya ceritain juga mo lewat mana. tapi kalo ini udah action tapi baru mbahas rencana, menurut saya aneh, begichiu hehe
.
thanx cabenya ^^

Penulis nagabenang
nagabenang at Team Elite (6 years 23 weeks ago)
70

dialog ketiga tidak jelas siapa yang bicara. saran: tambah keterangan pembicara, seperti dialog sebelumnya.
.
Kawerd ini ak kurang tahu cara baca tepatnya gimana .. tapi setelah kusuarain, jadinya seperti "coward" yang disuarain oleh orang Jerman.
.
Stoun ov Laif = Stone of Life? y'know what? ISTILAHNYA SANGAT KURANG KEREN. kalau artifak kuno dan langka, saranku, cobalah beri nama yang bernuansa "suku kuno banget", seperti Mayan atau Egyptian. tidak usah sama persis, (bahkan boleh ajaib sekalian) tapi yang penting unik, dapat terbaca, dan kesan "plesetan dari bahasa Inggris" itu bisa hilang dari nama artifaknya.
.
paragraf tujuh: "benda itu" apa? I know ... it's the Stoun ov Laif. tapi kurasa mending di paragraf ini jangan pakai istilah "benda itu", tapi tetaplah tulis sebagai Stoun ov Laif.
tapi mungkin aku saja yang merasa seperti, though, jadi ada baiknya kamu coba tanya pendapat ke orang lain yang baca cerita ini.
.
paragraf delapan: hapus seluruh kalimat kedua, gabung sisanya dengan paragraf sembilan. why? you know why :V
.
penjelasan soal penggunaan stoun itu bisa digabung dengan adegan action. biar tambah greget. #maddogmememodeon*
.
... I wanna read a story about zombies, not some magic stick's mechanical :v ini tantangan zombi apoc., bukan tantangan desain senjata yang fantasiyah.
.
hmmm, lelucon soal monster main catur dan unsur humor dialognya boleh juga nih.
.
... ini nuansa ceritanya enggak jelas fokusnya. mau komedi, atau action, atau fantasiyah?
.
repetitive = repetitif, padanannya dalam bahasa Indonesia.
.
...
.
...
.
... ... ...
.
TERNYATA INI MEMANG CERITA KOMEDI 8V
.
...
.
saran:
.
- perbanyak dialog/narasi deadpan/sarkasme. punya dikau udah lumayan bagus, tinggal dibanyakin dan ditempatin di titik-titik yang tepat.
.
- penjelasan soal stoun2 itu bikin nuansa komedinya hilang. dan kayak kata bu dokter, itu info dump. klo ini tantangan desain senjata fantasiyah, ak enggak akan protes. tpi ini tantangan zombi. ak mau lihat zombi, bukan mekanisme senjata fantasiyah. eh? aku ngomong gini tadi? ... ah, sudahlah. anggap aja penekanan tambahan biar saran ak makin mudah kmu ingat. #plakh
.
- stoun2 dan baju penerbang itu bisa dipake untuk cerita dikau yg genrenya memang fantasi asli
.
- lain kali endingnya lebih grandiose ya, biar penutupannya lebih berkesan.
.
.
and ... I guess that's all, thank you for writing this story for Tantangan Zombie Apocalypse! :D
.
nb: karena bentuknya masih draft yg perlu banyak sekali perbaikan, poinnya terpaksa ane kurangi dua >_< maaf ..

Penulis musthaf9
musthaf9 at Team Elite (6 years 23 weeks ago)

wew, banyak beud, but thanks udah mau komen sebanyak ini :D
.
itu plesetan inggris emg mau nyatir cerita-cerita dengan istilah belang bahasa inggris sih
.
ah iya, infonya terlalu banyak ngumpul di satu tempat yak
.
well, sbenernya ini mau saya bikin komendi, fantasi, dan sdikit-dikit sci-fi. tapi sci-fi nya kayaknya fail nih >.<
.
sbenernya yang mau saya tekankan di sini bukan cuman desain peralatan timnya Reij, tapi juga kisah upgrade si Big Boss jugak. tapi karna word management saya gagal total juga, pas bagiannya njelasin big boss jatah katanya tinggal dikit. endingnya jadi gak keren juga deh T_T
.
untuk saran nambah komedinya... saya ambil sparo aja ya, hehe. saya bukan tipe yg prefer full comedy, just to make sure i don't overdo it :)
.
aaaaahhh, kurang duaaa! but thanks anyway ^^

Penulis anggra_t
anggra_t at Team Elite (6 years 23 weeks ago)
100

Selain karakterisasi (seperti katamu XD), info dump nya nihh!
Cerita ini bagusan dari awal udah dibuat komedi, kalau mau diakhiri dengan gaya komedi begini, imo.
.
Semangat, mumus! Kip writing!

Penulis musthaf9
musthaf9 at Team Elite (6 years 23 weeks ago)

hehe, kebanyakan scene, bebrapa dialog terpaksa diapus, efeknya gedhe juga padahal >.<
itu saya pengin agak scientific juga, jadinya info sengaja agak banyak. yg Big Boss jugak pengin dibanyakin but again, kebentur batasan kata T_T
.
anyway, makasih tante! :D

Penulis anggra_t
anggra_t at Team Elite (6 years 24 weeks ago)
100

Mumus, dipromo dong. Jadi ga sepi begini -_-

Penulis musthaf9
musthaf9 at Team Elite (6 years 23 weeks ago)

oops, you're right.
saya udah melakukan survey kecil-kecilan sih, "view" cerita saya perbedaannya ga gitu signifikan dengan yg laen. mungkin karena punya saya 4000 kata, jadinya yg mbaca hingga selesai, let alone give comment, jadi minim sekali, haha
tapi emang saya blm promo sana-sini sih