Yang Tersisa

 

Terima kasih untuk segalanya

 

Kau akan pergi?

 

…besok

 

Apa kau tidak ingin tinggal bersamaku, meski hanya untuk sehari lagi?

 

 

Kalau kau tidak keberatan… maukah kau menonton kembang api bersamaku, besok malam?

 

…baiklah… untuk melunasi hutangku padamu

 

Aha ha ha…

 

Kenapa?

 

Hutangmu padaku tidak ada lagi… yang tersisa

***

 

 

Di tengah hutan lebat yang terpisah dari peradaban manusia, terdapat sebuah bangunan berdesain arsitektur negeri timur. Bangunan itu adalah kediaman seorang gadis muda yang hidup seorang diri, tanpa ditemani oleh siapa pun… sampai hari ini.

Di salah satu kamar bangunan itu berbaring seorang pemuda—di sebuah futon lengkap dengan selimutnya. Dia berambut pirang pendek dengan wajah oval. Pemuda itu sedang tertidur, namun bukan karena ia lelah… melainkan karena ia jatuh pingsan. Seseorang membawanya ke kamar itu selagi ia tidak sadarkan diri.

Sekejap kemudian akhirnya pemuda itu membuka matanya perlahan. Lalu untuk pertama kalinya, ia berkata, “Ugh… aku… masih hidup?”

Masih berbaring, ia mengedarkan pandangan kesekelilingnya. Dia sama sekali tidak mengenali tempat itu. Namun akhirnya ia mengarahkan kedua matanya kepada sebuah benda. Benda yang ia kenali, di tempat yang asing baginya itu. Benda itu berada di sisinya, berbaring sejajar dengan dirinya, sebuah pedang bermata dua yang disarungkan dalam sebuah  sarung pedang yang indah.

            “Kuro… mizu,” ucap pemuda itu.

Pintu kamar tempat pemuda itu berada tiba-tiba bergeser terbuka. Dan dari baliknya, seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang dikuncir di belakang, melangkah masuk membawa sebuah nampan dengan sebuah mangkuk dan segelas air di atasnya. Gadis itu sangat anggun dan cantik meskipun ia hanya mengenakan sebuah yukata yang sederhana.

            “Ah, kau sudah sadar?” kata gadis itu dengan lembut.

            “Dimana… aku?” tanya pemuda itu sembari berusah untuk membangkitkan dirinya. Dia terlihat kesakitan saat melakukannya. Namun rasa sakit itu tidak menghentikannya sama sekali.

            “Ahh, sebaiknya kau terus berbaring untuk sementara,” kata gadis itu sontak. Ia segera menaruh nampan yang ia bawa di sebuah meja kecil lalu dengan cepat berjalan menuju sang pemuda untuk menopang punggung pemuda itu. “Jangan memaksakan diri. Lukamu sangat parah.”

Pemuda itu kemudian sadar kalau tubuhnya berbalut perban. Dari balik yukata yang ia kenakan terlihat perban dengan sedikit noda darah yang menembus. Ia kemudian mengarahkan tangannya ke dahinya, dan disana ia juga merasakan sebuah perban melilit kepalanya.

            “Apa kau yang menolongku?” tanya pemuda itu.

            “Aku menemukanmu di pinggir sungai. Kau tidak sadarkan diri waktu itu, jadi tanpa pikir panjang aku membawamu kemari,” jawab gadis itu.

Sang pemuda memejamkan matanya. Dia mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum dia pingsan. Namun apa yang muncul di benaknya hanya membuatnya menghela napas. Kemudian sang pemuda menatap kedua mata sang gadis. Pemuda itu berusaha menilai diri sang gadis dari kedua matanya.

            “Terima kasih telah menolongku,” kata sang pemuda. “Aku berhutang padamu.”

            “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya,” jawab sang gadis.

            “Namaku Marez Hoffman,” kata pemuda yang bernama Marez itu memperkenalkan diri.  “Kalau kau tidak keberatan, bolehkah aku mengetahui siapa namamu?”

            “Tsubaki, namaku Tsubaki Aoi.”

            “Nona Tsubaki, kalau begitu? Kalau aku boleh tahu dimana sebenarnya aku sekarang?”

            “Sekarang kau ada di belahan timur pulau ini. Tuan Marez pasti berasal dari belahan barat, bukan?”

            “Ah, kau pasti mengira itu dari warna rambutku dan namaku. Tapi sebenarnya aku lahir di belahan timur.”

            “Benarkah? Kalau begitu maafkan aku karena sudah sembarangan mengira.”

            “Tidak, kau tidak perlu minta maaf. Memang diriku ini sering membuat kesalah pahaman untuk orang lain,” kata Marez dengan senyum kecil.

Lalu sejenak kesunyian menyelimuti kedua ruangan tempat kedua insan itu berada. Hanya dentingan lembut bel angin yang terdengar sesekali. Kedua insan itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

            “Anu, maaf, Tuan Marez. Tapi… apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu?” tanya Tsubaki memecah keheningan diantara mereka berdua.

            “Tentu saja, apa yang ingin penyelamatku ketahui dariku?”

            “Apa kau seorang… Pemburu Vampir?”

***

 

Beberapa hari berlalu sejak Tsubaki menolong Marez. Marez tinggal untuk sementara untuk memulihkan luka-lukanya. Tsubaki yang sejatinya tinggal sendiri sama sekali tidak keberatan dengan kehadiran Marez di rumahnya. Malah, ia merasa senang karena selama ini sebenarnya ia agak kesepian dengan gaya hidupnya itu.

Di suatu senja Tsubaki sedang menemani anak-anak kecil dari kota terdekat bermain. Setelah seharian bermain di halaman rumah Tsubaki, akhirnya Tsubaki meminta mereka untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Meski dengan berat hati, anak-anak itu menuruti permintaan Tsubaki.

            “Sepertinya mereka menyukaimu,” kata Marez yang sedari tadi memerhatikan Tsubaki dan anak-anak itu bermain. Dia sedang berdiri di teras rumah Tsubaki.

            “Aha ha, mungkin mereka hanya kemari karena ingin jauh dari pengawasan orang tua mereka,” jawab Tsubaki tersenyum kecil. Dia berjalan menuju tempat Marez berada, lalu duduk di sebelah Marez yang sedang berdiri. “Tidak ada dari diriku yang bisa membuat anak-anak itu tertarik padaku.”

            “Kau baik hati dan lembut. Kurasa mereka merasakan kehangatan darimu dengan bermain denganmu,” kata Marez seraya duduk bersila.

            “I-Itu tidak benar,” kata Tsubaki tersipu

            “Dan kau juga rendah hati.”

            “Ah~, berhenti menggodaku Tuan Marez!” bentak sedikit Tsubaki.

Marez hanya tertawa melihat respon dari Tsubaki. Namun kenyataannya adalah Marez sama sekali tidak bermaksud menggoda Tsubaki. Faktanya Marez memang menilai Tsubaki seperti apa yang dikatakannya barusan.

Dan meski Tsubaki terlihat kesal, sebenarnya dia bahagia. Lagipula ini adalah pertama kalinya seorang pemuda yang seumuran dengannya memujinya. Tidak mungkin ia mampu menyembunyikan perasaan bahagianya itu.

            “Da-Daripada itu, Tuan Marez!” kata Tsubaki memulai pembicaraan kembali.

            “Ada apa?”

            “A-Apa kau tidak merasa terganggu dengan keberadaanku?” tanya Tsubaki.

            “Kenapa kau berpikiran begitu?”

            “Ma-Maksudku, aku tidak menyenangkan untuk diajak bicara. Aku membosankan dan kaku. Dan aku juga ketinggalan jaman…,” kata Tsubaki lirih.

            “Ha ha, kau pasti bercanda. Berbicara denganmu merupakan sebuah kehormatan bagiku,” kata Marez.

            “Kau berlebihan….”

            “Kau sangat cantik dan lembut. Gadis sepertimu sudah sangat jarang di jaman ini. Kalau kau merasa aku terganggu dengan keberadaamu mungkin karena aku gugup,” ujar Marez. Lalu Marez menjatuhkan pandangannya ke lantai kemudian berkata, “Malah aku yang berpikir kalau diriku ini yang mengganggumu.”

            “Itu tidak benar!” ujar Tsubaki serius. “Kau banyak membantuku. Sudah banyak hal kulakukan yang telah membuatmu kerepotan.”

            “Aku hanya membayar hutangku padamu.”

            “Se-Selain kau juga… sangat baik padaku…,” kata Tsubaki lirih. “Aku… senang bisa bertemu denganmu.”

Marez sedikit terkejut mendengar ucapan Tsubaki. Namun dia tidak berkomentar apa-apa dan hanya tersenyum seraya memejamkan matanya. Tapi kemudian Marez memasang raut sedih. Kemudian ia menatap jauh ke langit lalu berkata, “Sayang aku tidak bisa disini selamanya.”

Tsubaki terkejut lalu sontak memasang ekspresi sedih di wajahnya. Dia menggigit sedikit bibirnya. Tsubaki bisa merasakan kalau jantungnya berdegup kencang. Namun dia sendiri, tidak tahu apa penyebabnya.

Tapi kemudian Tsubaki mengumpulkan seluruh keberaniannya. Meskipun masih ragu-ragu akhirnya ia berkata, “Apa karena aku seorang Vampir?”

***

 

Di suatu malam, Marez berada di kamarnya di rumah Tsubaki. Saat ini dia sedang bersimpuh menghadap pedangnya yang melintang dari dirinya. Dia hanya diam, membiarkan waktu dan udara terus berputar di sekitarnya. Mengosongkan pikiran, untuk membulatkan sebuah keputusan yang telah dia buat.

Pintu kamarnya perlahan bergeser terbuka. Tsubaki lah, yang membuka pintu kamarnya itu. Tsubaki yang melihat Marez sedang bersimpuh dalam diam, tak berusaha mengucapkan sepatah katapun. Niat yang membawanya ke kamar Marez pun ia urungkan.

            “Terima kasih untuk segalanya,” kata Marez tiba-tiba.

            “Kau akan pergi?” respon Tsubaki.

            “…besok.”

Jawaban Marez membuat Tsubaki terdiam. Dia sadar kalau dia sebenarnya ingin agar Marez tetap tinggal. Namun disaat yang sama, ia juga sadar kalau hal itu mustahil. Baik bagi Marez, maupun bagi dirinya.

            “Apa kau tidak ingin tinggal bersamaku, meski hanya untuk sehari lagi?” kata Tsubaki.

            “…”

Bungkamnya Marez membuat Tsubaki bersedih. Namun ia tidak memperlihatkannya sama sekali. Malahan, Tsubaki menyadari kalau waktu yang ia miliki semakin berkurang. Akhirnya ia membulatkan tekadnya. Sebelum akhirnya berkata…

            “Kalau kau tidak keberatan… maukah kau menonton kembang api bersamaku, besok malam?”

Mendengar permintaan Tsubaki, Marez menjadi ragu dengan keputusannya. Namun tidak butuh waktu lama baginya untuk menjawab permintaan Tsubaki. Karena dia tahu kalau dia akan melakukan apapun yang diminta oleh Tsubaki, selain untuk tinggal bersamanya selamanya.

            “…baiklah… untuk melunasi hutangku padamu,” jawab Marez seraya membangkitkan dirinya lalu berpaling ke arah Tsubaki.

            “Aha ha ha,” tawa Tsubaki tiba-tiba.

            “Kenapa?” tanya Marez penasaran.

            “Hutangmu padaku tidak ada lagi… yang tersisa,” jawab Tsubaki dengan senyum.

***

 

Malam yang dijanjikan pun tiba. Tsubaki dan Marez sekarang berada di sebuah bukit yang mana hanya Tsubaki yang tahu jalan menuju ke sana. Berdua, mereka menatap langit malam yang saat ini berhiaskan dengan cahaya kembang api yang berubah warna silih-berganti.

Tsubaki menundukkan kepalanya. Ia sedang berusaha untuk membulatkan tekadnya akan sesuatu. Letupan-letupan kembang api tak lagi terdengar baginya. Dia hanya tertunduk diam, bermandikan cahaya warna-warni kembang api.

Sekejap kemudian akhirnya Tsubaki menaikkan wajahnya. Saat ini dia terlihat sangat bertekad dan percaya diri. Dia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk melakukan apa yang sebenarnya ia ingin lakukan dengan mengajak Marez menonton pertunjukan kembang api ini.

            “Anu… Tuan Marez?” ujar Tsubaki memulai. “Maukah kau mendengarkan sedikit ocehan egoisku?”

            “Aha ha ha, jangankan sedikit, aku bersedia untuk mendengarkan semua yang ingin kau katakan. Kumohon, kau penyelamatku. Aku pasti akan melakukan apa saja yang kau ingin aku lakukan.”

            “Terima kasih, tapi hanya sedikit yang ingin kukatakan. Dan aku harap kau bisa memaafkanku setelah aku selesai menyampaikan apa yang ingin kukatakan padamu.”

Mendengar itu Marez menjadi sedikit tertegun. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang sebenarnya ingin Tsubaki katakan padanya. Kenapa Tsubaki berharap agar Marez mau memaafkan dirinya setelah Tsubaki menyampaikannya. Namun karena dia tidak ingin mengganggu permintaan dari Tsubaki, akhirnya ia memutuskan untuk menganggukkan kepalanya perlahan.

            “Entah sejak kapan aku merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada diriku,” kata Tsubaki memulai. “Awalnya, aku sama sekali tidak mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi. Namun setelah kupikirkan untuk beberapa waktu… akhirnya aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

            “Apa maksudmu?”

            “Tuan Marez, aku… mencintaimu,” kata Tsubaki dengan wajah sedih. Marez yang mendengarnya pun sontak terkejut lalu turut memasang raut sedih pada wajahnya. Dan alasan kenapa mereka berdua bersedih… mereka sendiri tahu apa sebabnya.

            “Tsubaki… aku-.”

            “Aku tahu,” sela Tsubaki. “Aku tahu kalau sebenarnya apa yang kukatakan ini adalah sebuah kekonyolan. Kita berdua tahu kalau kita ini bagaikan air dan minyak. Apa pun yang terjadi pada dunia ini, kita tidak akan pernah bisa bersatu.”

            “Karena… diri kita, ya?”

Tsubaki mengangguk. “Tapi meski begitu, perasaanku ini nyata dan sungguhan! Perasaanku ini juga apa yang membentuk diriku, apa yang membuktikan identitasku! Aku… benar-benar mencintaimu.”

Marez terus memasang wajah sedihnya. Dia tidak tahu reaksi seperti apa yang harus dia lakukan untuk menanggapi pernyataan dari Tsubaki. Bahkan jika sebenarnya dia sendiri… mungkin… memiliki perasaan yang sama terhadap gadis yang saat ini ada di hadapannya itu.

            “Karena itu… Tuan Marez… kalau kau tidak keberatan…,” kata Tsubaki lirih. Dia menatap Marez dengan penuh keseriusan. Lalu dengan mantap ia berkata, “Tolong… bunuhlah aku.”

Sontak Marez terkejut setengah mati mendengar permintaan Tsubaki. Awalnya ia meragukan pendengarannya sendiri. Tapi wajah serius Tsubaki menghilangkan keraguannya itu dan yakin kalau Tsubaki memang dengan mulutnya sendiri, dengan keinginannya sendiri, meminta Marez untuk membunuh dirinya.

Marez menggeratakkan giginya. Ia mendadak menjadi emosi. Lalu ia berkata, “Jangan bercanda!! Kenapa?! Kenapa kau ingin membuang hidupmu seperti itu?! Aku tidak mengerti!? Kenapa kau menyatakan perasaanmu padaku, tapi kemudian kau memintaku untuk membunuhmu?! A-Aku… tidak mengerti!!”

Tsubaki hanya diam dan memejamkan matanya mendengar ledakan emosi Marez. Dia tahu kalau ini akan terjadi. Karena itu dia tetap tenang, dan menerimanya apa adanya. Namun dia tahu kalau dia harus memberikan jawaban untuk Marez. Dia tidak ingin Marez terus kebingungan karena permintaan dirinya.

            “Supaya aku bisa mencintaimu,” jawab Tsubaki.

            “Hah?”

            “Aku ingin kau membunuhku… supaya aku bisa mencintaimu, dengan tulus,” kata Tsubaki.

            “I-Itu tidak masuk akal! Bagaimana kau bisa mencintaiku kalau kau-.”

            “Tapi tidak ada cara lain,” Tsubaki menyela. “Sama sepertimu yang memiliki masa lalu yang buruk dengan Vampir, aku juga memiliki kenangan yang buruk… dengan Pemburu Vampir.”

            “Pa-Pasti ada cara lain! Pasti ada cara supaya kita bisa ber-.“

            “Tuan Marez,” panggil Tsubaki untuk menyela Marez, lagi. Lalu dengan senyum ia berkata, “Tidak masalah kalau kau ingin berbohong kepada orang lain. Tapi jangan pernah, meski sekali pun, kau membohongi dirimu sendiri.”

            “Aku-!”

            “Aku tidak menjadi vampir, Tuan Marez,” kata Tsubaki melanjutkan. “Aku terlahir sebagai vampir. Kebencian terhadap Pemburu Vampir sudah ada di dalam darahku. Meskipun aku mencintaimu… kebencian ini… aku takut kalau suatu saat akan melakukan hal yang akan kusesali seumur hidupku.”

Marez terdiam. Dia bisa merasakan apa yang Tsubaki rasakan. Marez pun terlahir sebagai Pemburu Vampir. Ia tidak memilih untuk menjadi Pemburu Vampir. Sudah ada di dalam darahnya, untuk menghabisi setiap vampir yang ia temui. Kali ini ia bisa menahan diri untuk tidak membunuh Tsubaki hanya karena ia berhutang nyawa padanya. Kalau saja ia bertemu dengan Tsubaki dengan cara lain… entah bagaimana nasib Tsubaki.

Namun dia tahu, di sudut hatinya yang sedang gundah saat ini. Kalau dia mencintai vampir yang saat ini berada di hadapannya. Tapi meskipun itu benar… vampir sudah banyak mengakibatkan luka yang dalam di hati Marez. Dia tidak yakin, kalau dia bisa menahan diri untuk tidak membunuh Tsubaki suatu saat nanti. Dia takut… kalau suatu hari nanti ia akan kehilangan akal lalu melakukan apa yang seharusnya Pemburu Vampir lakukan jika bertemu dengan Vampir. Karena itulah… ia memutuskan untuk pergi.

Setelah beberapa kembang api menyala di tengah keheningan yang muncul di antara Marez dan Tsubaki, akhirnya Marez menghunuskan pedangnya. Dia mengarahkannya tepat ke arah Tsubaki. Wajahnya terlihat penuh dengan keseriusan, namun tubuhnya berkata lain. Dia gemetar, tangannya yang mengarahkan pedangnya ke arah Tsubaki berkeringat hebat. Marez masih ragu untuk melakukan permintaan Tsubaki.

Tsubaki yang melihat keraguan Marez, tersenyum dan memejamkan matanya. Dia saat ini bahagia, karena keraguan Marez untuk membunuhnya… membuktikan kalau Marez juga mencintai dirinya, meski Marez tidak mengatakannya. Meski di hadapan kematian, ia merasakan kehangatan di hatinya.

Lalu tiba-tiba, Tsubaki melesat ke arah pedang yang dihunuskan Marez ke arahnya. Dalam sekejap itu pula, Marez menarik pedangnya karena ia menyadari apa yang Tsubaki ingin lakukan. Tapi sekejap kemudian, Marez menyadari… kalau semua sudah terlambat.

Pedang Marez sudah bermandikan darah. Ujung pedangnya yang bersinar di tengah kegelapan malam, bisa terlihat menembus tubuh Tsubaki. Dan Tsubaki sendiri, dengan darah mengalir dari mulutnya, mencium bibir Marez. Dia memejamkan matanya, membiarkan rasa lembut yang ia rasakan dari bibir Marez, mengalir ke tubuhnya, dan juga… ke hatinya.

Tsubaki akhirnya melepaskan kecupannya. Marez terlihat sangat kacau. Ia membelalakkan matanya dengan raut kesedihan menghiasi wajahnya. Tsubaki, tersenyum, memiliki ekspresi yang jauh berlawanan dengan Marez. Ia terlihat damai dan sangat bahagia.

           “Kau tidak membunuhku,” kata Tsubaki perlahan. “Yang kau bunuh, adalah vampir yang ada di dalam diriku. Aku bisa merasakannya…, sekarang… aku bisa mencintaimu tanpa sedikit pun kebencian di hatiku.”

Marez yang melihat senyuman tulus Tsubaki, tidak bisa berkata apa-apa. Air mata mulai membanjiri kedua matanya. Dia masih belum bisa menerima… apa yang sedang terjadi saat ini.

 

“Sekarang vampir yang ada di dalam diriku sudah tidak ada lagi… yang tersisa… hanyalah… diriku… yang mencintaimu dengan sepenuh hatiku.”

 

Dan dengan kalimat terakhirnya itu, Tsubaki perlahan berubah menjadi abu. Angin malam yang lembut perlahan menghapus dirinya dari hadapan Marez. Dan di sanalah, sendirian, Marez… membeku di bawah siraman sinar bulan.

Marez, meski dengan air mata mengaliri wajahnya, ia tertawa pelan. Ia melemaskan lengannya yang menggengam pedangnya, dan lengannya yang lain menutup kedua matanya. Ia tertawa, mengarahkan wajahnya ke langit, dan berharap… kalau semua ini hanya mimpi.

            “Ha ha ha, kau curang… bagaimana bisa kau mengatakan kalau kau mencintaiku lalu pergi begitu saja?” kata Marez. “Lalu apa yang harus kulakukan dengan perasaanku ini? Apa yang harus kulakukan… dengan Pemburu Vampir yang ada di dalam diriku ini?”

Marez kemudian membulatkan tekadnya. Ia menghapus air matanya lalu menatap tajam ke langit. Marez sepertinya sudah menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri. Jawaban yang sebenarnya mungkin bukan jawaban yang Tsubaki akan berikan padanya, tapi meskipun begitu, itu adalah pilihannya sendiri.

Ia mengarahkan pedangnya ke jantungnya sendiri. Ia menggenggam pedangnya dengan ke dua tangannya. Lalu hanya dalam sekejap mata, ia menghujamkan pedangnya… ke jantungnya sendiri. Tanpa keraguan… tanpa penyesalan sedikitpun.

            “Ugh!” erang Marez seraya memuntahkan darah. Lalu dengan tawa ia berkata, “Ha ha ha… jadi seperti ini rasanya. Apa yang kau rasakan… ketika kau bilang kalau kau bisa mencintaiku tanpa kebencian di hatimu… ini sungguh… perasaan yang menyenangkan.”

Lalu ia terjatuh. Tergeletak di tanah dengan pedangnya masih menancap di tubuhnya. Ia menatap ke bulan yang seakan menjadi saksi dari apa yang terjadi pada kedua insan itu. Dan Marez, tersenyum bahagia.

            “Aku… tidak membunuh diriku sendiri,” ujarnya. “Yang aku habisi… adalah Pemburu Vampir yang ada di dalam diriku. Dan sekarang….”

 

“Yang tersisa… hanyalah diriku yang telah kehilanganmu yang kucintai.”

 

~End~

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer cat
cat at Yang Tersisa (6 years 20 weeks ago)
70

aku sukaa.

ceritanya perlahan, lembut dan manis di ending. (yak sebut diriku gila karena mengatakan adegan bunuh-bunuhan sbg manis)

Writer herjuno
herjuno at Yang Tersisa (6 years 25 weeks ago)
90

Cliffhanger di setiap section-nya menonjol. I mean, kalau dilihat sepintas tidak terasa, tapi kalau dilihat secara big picture, lain cerita. Pemilihan adegan baik, cuma sayang kembang apinya agak kurang ngefek somehow.
.
Agak beda dengan gaya yang lain. Yang ini tone-nya lebih berat, sementara yang lain lebih light. ^^